
Setelah berbicara dengan Syehan, Nick masuk ke dalam kamar. Iza yang masih menunggu dengan cemas, segera menghampiri suaminya itu. Sejenak dipandanginya wajah sang istri yang terlihat cemas.
“Mas.. gimana?”
“Ayo pulang Zi.”
“Pulang kemana?”
“Ke rumahmu.”
“Ngga.. aku ngga mau.”
Iza menggelengkan kepalanya dengan kencang. nick sudah menduga sang istri akan bereaksi seperti ini. Dengan lembut dia memegang kedua bahu Iza. Dia sedikit menundukkan tubuhnya untuk mensejajarkan wajah mereka.
“Untuk sekarang kamu pulang dulu ke rumah. Aku sudah bicara dengan Syehan. Ini yang terbaik untuk saat. Kamu pulang bersama Syehan.”
“Apa? Aku ngga mau. Kalau aku pulang, maka abi akan memisahkan kita lagi. Apa mas ngga sadar, laki-laki di depan sana yang akan dijodohkan abi. Bisa-bisanya mas minta aku pulang bersamanya. Aku istrimu mas, kamu meminta aku pulang dengan laki-laki yang bukan muhrimku dan orang itu juga yang akan memisahkan kita.”
“He is on our side, Zi (dia ada di pihak kita).”
“Aku ngga percaya. Apapun rencananya atau rencana mas, aku ngga mau pulang. Di sana bukan rumah tapi neraka untukku!”
Tangis Iza mulai pecah. Rasa kecewa seketika menderanya, suaminya lebih memilih mengikuti kemauan Syehan dari pada mempertahankan kebersamaan mereka. Nick menarik Iza ke dalam pelukannya.
“Aku tahu ini berat untukmu, untukku juga. Tapi Zi.. mungkin ini adalah langkah terbaik yang harus kita ambil sekarang. Tujuan kita sedari awal menikah adalah untuk menghindari abi memisahkan kita dan memperoleh restunya. Biar bagaimana pun dia ayahmu, lewat restunya, hidup kita akan lebih bahagia. Aku juga ngga mau jadi jurang pemisah antara kamu dengan abi. Ayo sayang kita ikuti dulu rencana Syehan, kamu harus berteman dengan Syehan dan bersikap lunak pada abi, supaya kita tahu apa yang abi rencanakan ke depannya.”
Nick terus memeluk Iza, mengusap punggungnya pelan seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Iza sudah mulai tenang, tangisnya pun sudah mulai berhenti, namun hatinya masih belum bisa menerima usulan Nick.
“Aku ngga percaya Syehan.”
“Aku juga Zi. Tapi ngga ada salahnya kita ikuti dulu permaianannya. Apa dia benar tulus mau membantu kita.”
“Bagaimana kalau ternyata ini cuma akal-akalan dia aja?”
“Aku yang akan membuat perhitungan dengannya. Lagi pula dia sudah tahu soal pernikahan kita. Sebagai lelaki yang mengerti agama, dia pasti tahu hukum menginginkan istri seseorang apalagi berusaha merebutnya. Kamu mau melakukannya kan sayang?”
Nick mengurai pelukannya dan sedikit memberi jarak di antara mereka. Kedua tangannya menangkup wajah sang istri lalu mendaratkan kecupan di bibirnya. Walau berat melepas Iza kembali ke rumahnya, namun usulan Syehan patut dicoba dan semoga saja ini adalah jalan terbaik untuk memperoleh restu Rahardi.
Setelah keadaan Iza sedikit tenang, Nick segera membawa istrinya keluar kamar. Syehan masih setia menunggu di tempatnya tadi. Sekilas dia melihat mata Iza yang memerah. Pria itu segera berdiri begitu pasangan itu sampai di dekatnya.
“Bisa kita pergi sekarang?”
“Hmm.. Iza pergi denganku.”
Syehan hanya menganggukkan kepalanya kemudian mendahului keduanya keluar dari kedai. Nick memastikan terlebih dulu semua jendela sudah tertutup, dia mengecek pintu belakang juga, baru kemudian mematikan lampu dan mengunci pintu depan. Bersama Iza, dia masuk ke dalam mobil.
Mobil yang dikendarai Nick melaju dengan kecepatan sedang. Dia mengikuti kendaraan Syehan dari belakang. Sepanjang perjalanan, Iza hanya menutup mulutnya. Sesekali dia mengusap airmata yang kembali mengalir. Nick meraih tangan sang istri lalu mencium punggung tangannya.
Kendaraan Nick dan Syehan berhenti di depan sekolah. Syehan keluar dari mobil dan menunggu Iza juga Nick yang masih berdiam diri di mobil. Nick melihat ke arah Iza yang masih enggan turun. Dia melepas sabuk pengaman kemudian melepaskan seat belt di tubuh istrinya.
“Ayo sayang,” Nick menghapus airmata di wajah Iza.
“Aku takut.”
“Jangan takut. Ada ummi di sana yang akan menjagamu. Dan jika terjadi sesuatu, kamu bisa langsung menghubungiku. Aku akan segera menjemputmu.”
“Promise?”
“Hmm.. promise.”
Iza melingkarkan tangannya ke leher Nick kemudian memagut bibir pria di hadapannya. Nick menyangga tengkuk Iza dengan tangannya lalu membalas ciuman sang istri. Dia mengakhiri ciumannya sebelum dirinya kehilangan kendali. Diusapnya sisa saliva yang menempel di bibir Iza, kemudian tangannya bergerak membukakan handle pintu.
Dengan langkah pelan Iza berjalan menuju Syehan yang masih menunggu. Pria itu menyandakan punggungnya ke bodi mobil. Matanya terus menatap pasangan di depannya.
“Aku titip Iza padamu. Dan tepati janjimu tadi.”
“Tenang aja. Aku melakukan ini semua juga demi kepentinganku. Ayo masuk, Zi.”
Syehan menggerakkan kepalanya. Iza bergeming, dia masih enggan memasuki mobil berjenis sedan itu. Nick membukakan pintu mobil untuk Iza. Untuk sesaat wanita itu terpaku di depan pintu mobil, lalu dengan cepat membalikkan badannya dan memeluk Nick.
“Everythings gonna be ok (semua akan baik-baik saja).”
Iza mengurai pelukannya, tangan Nick bergerak merapihkan rambut Iza yang tertiup angin lalu mencium keningnya. Iza berjinjit kemudian me**mat bibir Nick sebentar. Syehan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Setelah Iza masuk ke dalam mobil, pria itu pun naik dan duduk di belakang kemudi. Nick menyusul masuk ke dalam mobilnya kemudian mengikuti kendaraan Syehan yang sudah mulai bergerak.
Nick menghentikan mobilnya beberapa meter dari kediaman Iza. Matanya terus mengawasi Syehan yang mengantar Iza memasuki rumah. Nampak Rahardi keluar dan menyambut kedatangan mereka. Bohong kalau hati Nick tak sakit melihat pemandangan di depannya. Sang mertua lebih bersikap baik pada lelaki lain dari pada dirinya yang sudah menyandang status sebagai menantunya.
🍂🍂🍂
Seorang wanita bergaya anggun masuk ke dalam cafe. Kacamata hitam yang bertengger di wajahnya dan suara ketukan high heels yang dikenakannya sukses membuat para pengunjung mengalihkan pandangan ke arahnya. Dia terus berjalan menuju salah satu meja yang terletak di bagian paling sudut. Seorang pria yang tak lain adalah Topan, menunggu kedatangan wanita itu sambil menyeruput minumannya.
“Maaf mommy terlambat.”
“Ngga apa-apa mom.”
Diah menarik kursi di depan Topan lalu mendudukkan dirinya di sana. Mendengar masalah yang menimpa Nick, Diah memutuskan untuk campur tangan. Dia sengaja meminta bertemu dengan Topan untuk membantunya memberi pelajaran pada Amelia dan juga ibunya. Wanita itu yakin, dibalik sikap frontal Amelia, ada campur tangan Widya di dalamnya.
“Apa yang sudah kamu dapat soal Amelia juga Widya.”
“Well.. ternyata anak dan ibu itu sama brengseknya. Aku ngga heran sih kalau om Sakurta sampai lari ke pelukan perempuan lain.”
“Really? Wow.. interesting. Ceritakan.”
“Amelia selama menempuh pendidikan di luar negeri sering bergonta-ganti pasangan. Bahkan dia juga sudah mempunyai anak, hasil hubungan gelap dengan paman angkatnya. Saat ini anaknya diurus oleh asisten rumah tangga kepercayaan Widya. Anak itu tinggal di kampung dan hidupnya juga pas-pasan. Saat ini Amelia sedang menjalin hubungan dengan salah satu pengusaha muda dan berencana menikah dalam waktu dekat.”
“Lalu Widya?”
“Selama ini dia menjalankan perannya dengan baik. Tidak ada perselingkuhan, hanya saja dia selalu bersikap seenaknya pada suaminya karena merasa kekayaannya berada di atas sang suami. Tapi.. ada satu rahasia besar yang bisa menghancurkan hidupnya seketika.”
“Apa?”
“Amelia bukanlah anak kandung Sakurta. Dia anak dari supir Widya. Di awal pernikahannya, Widya sempat mabuk berat dan tanpa sadar melakukan hubungan intim dengan supirnya. Tokcer mom, sekali tusuk langsung melendung, hahahaha...”
Diah tak bisa menahan tawanya juga mendengar ucapan konyol teman anaknya ini. Dia juga cukup terkejut mengetahui informasi yang didapat dari Topan. Kemampuan Topan mendapatkan informasi memang patut diacungi jempol. Hanya saja dia harus merogoh kocek cukup dalam sebagai bayarannya.
“Apa kamu punya bukti?”
“Taraaaa..”
Topan mengeluarkan sebuah amplop putih dari balik saku jaketnya lalu memberikannya pada Diah. Dengan cepat wanita itu membuka amplop tersebut yang ternyata adalah hasil tes DNA Amelia dengan Sakurta.
“Di mana ayah kandung Amelia?”
“Ngga tau. Sejak kejadian itu, dia dipecat.”
“Widya.. Amelia.. kamu sudah bermain-main dengan orang yang salah. Bersiaplah akan kehancuran kalian. Kalian sudah berani mengusik Nick-ku, maka rasakan pembalasan dariku,” gumam Diah.
Topan tersenyum tipis mendengar gumaman wanita di depannya. Sebenarnya dia juga geram melihat sepak terjang Amelia yang selalu mengganggu temannya. Kalau saja Diah mengijinkannya untuk bertindak, mungkin dia sudah memberi pelajaran pada wanita itu.
“Mommy mau kamu lakukan satu hal lagi.”
“Bisa kamu cari keberadaan orang ini?”
Diah memberikan selembar foto pada Topan. Kening pria itu mengernyit melihat foto seorang pria bule. Usianya mungkin sudah mencapai 50 tahun. Dia melihat ke arah Diah yang tengah menyeruput minumannya. Mencoba menebak, apa hubungan Diah dengan pria di foto.
Flashback On
Yayan menghampiri Diah yang tengah duduk di teras menikmati udara pagi. Sebelum anaknya kembali ke Jakarta, pria itu ingin menyampaikan hal penting padanya. Yayan duduk di samping Diah.
“Apa kamu masih mengingatnya?”
Yayan menyerahkan selembar foto di tangannya pada sang anak. Diah terkejut melihat ayahnya memiliki foto terbaru Bryan. Untuk sesaat wanita itu memandangi foto wajah pria yang masih dicintainya sampai saat ini. Walau sudah tak muda lagi, namun pria itu masih terlihat tampan.
“Dari mana bapak dapat foto ini?”
“Setahun yang lalu dia datang ke sini. Dia bertanya keadaanmu juga Nick. Dan memberikan foto itu untuk Nick. Sampai saat ini, dia masih menyayangi anak itu. Dan ternyata dia sudah menetap di Indonesia cukup lama. Katanya dia juga sering memperhatikan kalian, tapi dia tak berani muncul karena takut kamu mengusirnya dan Nick tidak menerimanya lagi.”
Mata Diah memanas mendengar semuanya. Perlahan buliran bening mengalir dari kedua matanya. Tanpa sadar dia mendekap foto Bryan. Yayan melihat ke arah Diah, tanpa anaknya mengatakan pun dia sudah tahu kalau Diah masih sangat mencintai pria itu.
“Kamu masih mencintainya?”
Diah hanya menganggukkan kepalanya saja karena tak sanggup berkata-kata. Perlahan tangannya mengusap airmata yang terus saja membasahi pipinya. Yayan merangkul bahu anakknya kemudian mendekapnya.
“Apa Nick masih mengingatnya?”
“Dia selalu menanyakan Bryan padaku,” jawab Diah di sela-sela isaknya.
“Kalau begitu cari dia. Dia bercerita kalau merintis usaha di sini. Dia juga sudah menjadi seorang mualaf. Semua dia lakukan untukmu juga Nick.”
“Kalau dia tahu di mana kami berada, kenapa dia ngga datang menemui kami?”
“Apa kalau dia datang, kamu akan menerimanya? Bapak tahu kamu itu keras kepala, kamu juga lebih senang mempertahankan gengsimu dari pada perasaanmu. Kalau Wahyu ngga menyusulmu, mungkin kamu tidak akan pernah menemui bapak dan ibu lagi.”
“Bapak sudah mengusirku, kalau bapak lupa.”
“Itulah dirimu. Kamu tidak mau menurunkan sedikit egomu dan datang menemui kami. Sebagai orang tua, mana bisa kami membencimu. Bapak dan ibu hanya berharap kamu sadar akan kesalahanmu dan kembali pada kami.”
Tangis Diah semakin kencang, dipeluknya pinggang sang ayah. Momen seperti ini sudah lama sekali dirindukannya. Namun karena ego dan gengsinya, Diah menahan perasaan dan kerinduannya untuk datang menemui kedua orang tuanya. Yayan pun tak kuasa menahan kesedihannya. Airmatanya keluar membasahi pipinya yang sudah dipenuhi keriput.
“Cari Bryan, kejarlah kembali kebahagiaanmu. Berikan Nick keluarga yang utuh, seperti impiannya selama ini. Kamu berhak hidup bahagia, Diah. Dan bapak percaya, Bryan adalah kebahagiaanmu. Jika kamu sudah bertemu dengannya, bawalah dia ke sini. Bapak sendiri yang akan menikahkan kalian.”
Pelukan Diah di tubuh Yayan semakin erat seiring tangisnya yang semakin keras. Lelaki yang begitu dicintai dan dirindukannya, kini berada tak jauh darinya. Diah sungguh berharap bisa bertemu kembali dengan Bryan.
Flashback Off
“Namanya Bryan Thomas Littrell. Katanya dia mempunyai usaha di Indonesia, kamu bisa memulai pencarian di Bandung. Mommy akan bayar berapa pun kalau kamu bisa menemukannya.”
“Apa dia ayahnya Nick?”
“Bukan. Dia bukan ayah kandung Nick, tapi dia sangat menyayangi Nick juga mommy. Mommy berharap kamu bisa menemukannya. Mommy ingin memberikan hadiah terindah untuk Nick. Bertemu dengan Bryan adalah impian Nick.”
“Aku akan mencarinya mom. Aku akan mencarinya sampai ketemu, mommy tenang aja.”
Topan memegang tangan Diah. Mata wanita itu nampak berkaca-kaca. Beberapa kali dia menengadahkan kepalanya, menahan agar buliran bening itu tidak jatuh.
🍂🍂🍂
Dengan kencang Iza menutup pintu mobil ketika Syehan menjemputnya di kampus. Langit sudah mulai menggelap, sebentar lagi malam akan turun. Sudah hampir seminggu ini Syehan selalu mengantar jemput Iza ke kampus, di sela-sela waktu kerjanya. Dan selama itu pula, Iza belum bertemu lagi dengan Nick.
Sebisa mungkin Iza bersabar dan mengikuti semua arahan Syehan. Namun kali ini, dia tak bisa menahannya lagi. Hatinya bertambah kesal karena tidak bisa menghadiri pembukaan kedai kopi milik Nick.
“Antarkan aku ke kedai sekarang.”
“Maaf Zi, aku ngga bisa.”
“Kenapa? Karena abi selalu mengikuti kita? Apa kamu tidak ada alasan lain?! Karena mengikuti permainan konyolmu, aku tidak bisa bertemu dengan suamiku sendiri. Bahkan aku tidak bisa mendampinginya saat pembukaan kedai. APA YANG KAMU INGINKAN?!”
Dada Iza bergerak naik turun menahan emosi yang membuncah di dada. Syehan mengambil nafas panjang, wanita di sampingnya ini tampak begitu emosi. Dia melihat ke arah belakang, nampak mobil Rahardi masih setia mengikutinya. Syehan menepikan kendaraannya.
“Mungkin kamu tidak percaya yang kukatakan, tapi abi memang selalu mengikuti kita. Bahkan saat aku tidak bisa mengantar atau menjemputmu, dia mengirimkan mata-mata untuk terus mengawasimu.”
“Kalau begitu lakukan sesuatu!! Kamu itu sekutunya abi. Kalau benar kamu mau membantuku juga Nick, maka jauhkan abi dari kami!!”
Syehan menghela nafasnya. Dia membuka tali seat belt, lalu keluar dari mobil. Pria itu berjalan menuju mobil Rahardi yang ikut berhenti beberapa meter di belakangnya. Syehan mengetuk kaca jendela. Tak berapa lama Rahardi keluar dari kendaraannya.
“Sampai kapan om akan mengikuti kami? Apa om tidak percaya padaku?”
“Om percaya padamu tapi om tidak percaya pada Iza.”
“Berhenti mengikuti kami, om. Bagaimana aku bisa meyakinkan Iza kalau aku berada di pihak mereka. Percaya padaku, om. Kita akan menjalankan rencana yang sudah kita susun.”
“Iza itu nekad. Kalau tidak diawasi, dia pasti akan kabur lagi.”
“Ok kalau begitu aku keluar dari permainan ini. Aku juga akan katakan pada papa untuk membatalkan perjodohan ini. Permisi om.”
“Tunggu. Baik, om tidak akan mengikuti kalian lagi.”
“Tarik juga mata-mata om.”
“Baik, om akan lakukan itu juga. Tapi tolong, pastikan kamu memisahkan Iza dari Nick.”
“Aku akan melakukannya, kalau om mau mengikuti syaratku. Berhenti mengikutiku dan memata-matai kami.”
“Ok.. om percayakan masalah Iza dan Nick padamu.”
Tak ingin kehilangan sekutu, Rahardi terpaksa mengikuti keinginan Syehan. Pria itu masuk ke dalam mobilnya lalu meluncur pergi. Syehan kembali ke dalam mobilnya.
“Apa kamu puas sekarang?”
“Antarkan aku ke kedai.”
"Ngga sekarang, Zi."
“Ok kalau kamu ngga bisa.”
Iza melepaskan seat beltnya kemudian keluar dari mobil. Dia menyetop asal pengendara motor yang melintas di depannya. Seorang pengemudi berjaket hijau menghentikan motornya ketika melihat Iza melambaikan tangan.
“Antar saya ke Bintaro, pak. Ngga usah pake aplikasi, saya akan bayar lebih.”
Pria itu menganggukkan kepalanya. Iza segera naik ke belakang pria itu. Tak lama kendaraan roda dua tersebut melaju. Syehan hanya bisa memandangi kepergian Iza tanpa mampu berbuat apa-apa. Berada di antara Iza dan Rahardi sungguh membuat kepalanya pening.
🍂🍂🍂
**Kira² Syehan tuh beneran di pihak Nick dan Iza ngga ya🤔
Asik mommy mau CLBK ama Bryan**