
Nick tampak berkutat di dapur membuatkan sarapan untuk sang istri. Sesudah shalat shubuh berjamaah, Iza memilih kembali tidur karena merasa tak enak badan. Sedang Nick melakukan rutinitasnya setiap pagi, mengolah tubuh di gym yang ada di gedung apartemen.
Dengan membawa nampan berisi sepiring sandwich beserta dua gelas berisi susu dan air putih, Nick masuk ke dalam kamar. Diletakkan nampan di atas meja, kemudian dia mendudukkan diri di sisi ranjang. Punggung tangannya mengusap pipi Iza. Namun pria itu terkejut saat merasakan suhu tubuh sang istri sedikit panas.
“Zi.. sayang..”
Mendengar suara Nick memanggilnya, perlahan Iza membuka membuka matanya. Dengan bantuan suaminya, wanita itu bangun dari tidurnya kemudian duduk menyandar di headboard ranjang. Wajah cantiknya terlihat sedikit pucat, dan pandangan matanya nampak sayu. Nick kembali menempelkan punggung tangannya ke kening juga leher Iza.
“Zi.. kamu demam. Sepertinya gara-gara kehujanan semalam.”
“Sekarang jam berapa?”
“Jam tujuh. Kamu sarapan dulu ya, terus minum obat.”
Nick mengambil piring berisi sandwich, kemudian memberikannya pada Iza. Tangan Iza bergerak mengambil sepotong sandwich lalu mulai memakannya. Nick beranjak dari duduknya, kakinya melangkah keluar kamar. Tak lama dia kembali dengan membawa kotak obat di tangannya.
“Satu lagi Zi, sandwichnya habisin.”
“Ngga ah. Kenyang.”
“Kalau gitu, minum susunya.”
Iza mengambil gelas susu dari tangan Nick kemudian meneguknya sampai habis setengah. Diletakkan kembali gelas ke atas nampan. Nick membukakan obat untuk sang istri kemudian memberikan padanya.
“Mas udah sarapan?”
“Belum.”
“Sarapan dulu, nanti sakit.”
Segurat senyum nampak di wajah tampan Nick. Dia lalu mengambil sepotong sandwich yang tersisa kemudian memakannya. Iza memperhatikan suami yang duduk berhadapan dengannya. Rasanya masih tak percaya dirinya dengan Nick telah sampai ke tahap ini. Walau pernikahannya telah dilangsungkan hampir sebulan yang lalu, namun baru sekarang dia merasakan kehidupan pernikahan yang sebenarnya.
“Kamu istirahat aja lagi. Aku mau telepon ummi.”
“Iya mas.”
Nick membantu Iza berbaring, kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya sampai ke batas dada. Setelah mendaratkan kecupan di keningnya, Nick keluar kamar dengan nampan yang tadi dibawanya. Dia lalu mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Mina untuk memberitahukan keberadaan Iza.
🍂🍂🍂
Kehebohan terjadi di kediaman Iza. Rahardi nampak geram begitu mengetahui sang putri ternyata berhasil kabur semalam. Mina yang baru mengetahui hal tersebut tentu saja menjadi kalang kabut. Untuk kedua kalinya Iza pergi dari rumah. Wanita itu memandang suaminya penuh curiga. Dia yakin sekali kalau sang suamilah penyebab putrinya pergi dari rumah.
“Apa yang terjadi bi? Kenapa Iza bisa kabur lagi.”
“Abi ngga tau. Anak itu semakin lama semakin membangkang. Ini semua gara-gara Nick.”
“Berhenti menyalahkan orang lain. Ummi yakin, pasti abi yang sudah menyebabkan Iza pergi dari rumah.”
“Abi ngga melakukan apa-apa.”
Mina kesal, suaminya itu terus saja mengelak. Kemudian pandangannya tertuju pada anak kunci yang tergantung di pintu bagian depan bukan di bagian dalam kamar. Amarah Mina tak dapat dibendung lagi.
“Kenapa kunci ini tergantung di luar? Apa abi sudah mengurung Iza di kamar?”
“Abi terpaksa melakukannya karena Iza bersikeras ingin keluar rumah.”
“Iza seperti itu pasti karena abi sudah memaksanya melakukan sesuatu. Apa lagi yang abi lakukan? Tidak cukupkah abi menyiksa anakku lagi??!!”
Suara Mina mulai meninggi. Pikirannya kalut, tahu Iza pergi malam hari di mana terjadi hujan deras semalam, membuat wanita itu was-was. Dia bergegas meninggalkan sang suami kemudian menuju kamarnya. Mina segera menghubungi Rahman, namun ternyata sang anak tidak ada di sana. Dia lalu menghubungi Anton, tapi hasilnya nihil. Begitu pula dengan Meta.
Mina terdiam sebentar, kemudian dia teringat akan Nick. Wanita itu segera mencari nomor pria itu dan saat bersamaan, sebuah panggilan dari Nick masuk. Dengan cepat Mina menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Maaf ummi mengganggu pagi-pagi.”
“Nick.. apa Iza ada bersamamu?”
“Iya, ummi. Semalam Iza datang ke apartemenku.”
“Mana Iza? Ummi mau bicara.”
“Maaf ummi, Iza sedang tidur. Iza demam, sepertinya gara-gara kehujanan semalam.”
“Ya Allah, Iza.”
“Ummi, kalau boleh bisa tolong bawakan pakaian Iza? Maaf ummi kalau saya lancang meminta ummi mengantarkan pakaian. Tapi kalau ummi ngga bersedia, biar saya yang ke rumah.”
“Jangan.. jangan.. biar ummi yang ke sana. Tolong jaga Iza sebelum ummi datang.”
“Iya ummi.”
“Terima kasih sudah mengabari ummi. Sebentar lagi ummi ke sana. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan pun berakhir, dan tak lama kemudian sebuah notifikasi pesan masuk. Nick mengirimkan lokasi apartemennya berada. Mina bergegas menuju kamar Iza. Rahardi yang baru saja turun, memutar kembali langkahnya lalu menyusul sang istri. Sadar diikuti suaminya, Mina memilih membereskan seprai, selimut serta pasmina yang digunakan Iza untuk kabur kemudian lanjut dengan membereskan kamar.
Melihat itu, Rahardi memilih keluar kamar. Mina langsung membuka lemari pakaian dan memasukkan beberapa potong pakaian serta yang lainnya ke dalam paper bag. Setelah memastikan Rahardi tak ada di sekitarnya, Mina bergegas turun dan menyembunyikan paper bag di dekat pintu pagar.
Mina kembali lagi ke kamarnya lalu bersiap untuk pergi. Rahardi ikut masuk ke dalam kamar. Memperhatikan sang istri seperti yang tengah terburu-buru, pria itu curiga kalau Mina sudah tahu keberadaan Iza.
“Iza di mana?”
Mina tak menjawab pertanyaan Rahardi. Dia terus melakukan kegiatannya, memoles wajahnya kemudian memakai hijab. Kemudian Mina mengambil tasnya, memasukkan dompet dan memesan taksi online.
“Kalau kamu mau menjemput Iza, ayo kita pergi bersama.”
“Tidak perlu. Iza tidak akan pulang, ummi menyuruhnya untuk menenangkan diri lebih dulu. Ummi mau ke butik.”
“Iza pasti sedang bersama Nick, iya kan?”
“Apa abi ngga bosan selalu menuduh Nick?”
“Karena pasti dia yang menyembunyikan Iza.”
“Nick tidak menyembunyikan Iza. Justru abi yang sudah membuat anak kita pergi dari rumah. Kalau Iza pergi dan memilih bersama dengan Nick, itu semua karena abi tidak bisa memberikan kenyamanan sebagai orang tua. Selama ini Iza tidak pernah membangkang, tapi abi ngga pernah berhenti menekannya. Iza sudah sampai di titik jenuh, makanya dia mulai memberontak. Ummi harap abi mau introspeksi diri dan berhenti menyalahkan orang lain. Ummi pergi dulu, assalamu’laikum.”
“Waalaikumsalam.”
Mina bergegas keluar dari kamar, dia bahkan tidak mencium punggung tangan Rahardi. Hatinya masih dongkol pada suaminya itu. Taksi online yang dipesannya sudah tiba. Mina menyambar paper bag yang tadi disembunyikannya, kemudian naik ke dalam mobil.
Melihat kepergian sang istri, Rahardi bergegas mengunci pintu rumah kemudian mengeluarkan mobilnya. Dia segera menyusul kendaraan yang dinaiki Mina. Pria itu yakin kalau istrinya bermaksud bertemu dengan Iza.
Mina curiga melihat supir taksi yang terus melihat ke arah kaca spion. Dia pun menolehkan kepalanya ke arah belakang. Nampak mobil milik suaminya tengah mengikuti taksi yang dikendarainya.
“Pak, maaf. Apa bisa ganti lokasi tujuan?”
“Bisa bu, tapi ada biaya tambahan.”
“Ngga masalah. Tolong ganti tujuan saja.”
“Baik bu, silahkan ibu buka kembali aplikasinya.”
Dengan cepat Mina membuka ponselnya kemudian mengganti lokasi tujuan. Awalnya Mina akan langsung menuju apartemen Nick. Namun karena Rahardi mengikutinya, dia terpaksa mengganti tujuan ke butik miliknya.
Lima belas menit kemudian, Mina sampai di butiknya. Dengan cepat dia masuk ke dalam butik yang belum dibuka. Dua orang pegawainya yang telah tiba terkejut melihat Mina yang datang sepagi ini.
“Ni, suamimu sudah narik belum?”
“Tadi sih lagi narik penumpang bu. Kenapa?”
“Bisa ngga suruh suamimu ke sini. Ibu mau pergi tapi pakai mobil suamimu aja. Nanti ibu bayar lebih. Jemputnya di pintu belakang ya."
“Oh boleh bu.”
Neni segera menghubungi suaminya. Suami Neni memang driver taksi online. Setelah kehilangan pekerjaan, dia meminjam mobil sang kakak untuk digunakan sebagai taksi online dengan sistem bagi hasil. Tak berapa lama suami Neni tiba. Mina segera menuju pintu belakang butik kemudian naik ke dalam mobil. Wanita itu bernafas lega bisa pergi menemui Iza tanpa diikuti oleh Rahardi.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Rahardi turun dari mobilnya. Pria itu bergegas masuk ke dalam butik. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui sang istri ternyata sudah pergi lagi. Setengah berlari dia kembali ke mobilnya. Dia yakin sekali kalau Mina akan menemui Iza di apartemen Nick. Baru saja pria itu akan menyalakan kendaraannya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Maaf prof, cuma mau mengingatkan. Setengah jam lagi, rapat dengan rektor dan ketua yayasan akan dimulai.”
“Oh iya-iya. Saya dalam perjalanan ke kampus.”
Rahrdi langsung memutuskan panggilan. Gara-gara menghilangnya Iza, dia lupa kalau harus menghadiri rapat penting perihal pengangkatan dirinya sebagai direktur program pasca sarjana. Pria itu segera memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menuju kampusnya yang ada di bilangan Kuningan.
🍂🍂🍂
Mina segera masuk ke kamar begitu sampai di apartemen Nick. Saat yag bersamaan, Iza juga baru bangun dari tidurnya. Wanita itu segera menghambur ke arah Iza. Direngkuhnya tubuh sang anak ke dalam pelukannya.
“Maafin Zi, ummi. Maaf..”
Iza menangis dalam pelukan Mina. Perlahan Mina mengurai pelukannya kemudian mengusap airmata Iza. Nick hanya diam melihat pemandangan di depannya. Mina mengedarkan pandangannya dan menyadari kamar yang ditiduri anaknya adalah kamar Nick.
“Mommy-mu mana Nick?”
“Mommy sedang ke Bandung, ummi. Sedang nengok kakek yang lagi sakit.”
“Ummi.. maafkan aku,” ucap Nick.
“Maaf.. untuk ap..pa?”
“Ummi.. aku dan Nick sudah menikah.”
Untuk kedua kali Mina dibuat terkejut. Dia menatap Iza dan Nick bergantian. Iza meraih kedua tangan Mina lalu mencium punggung tangannya. Airmatanya mengalir, dirinya merasa bersalah karena sudah membohongi umminya.
“Maaf ummi. Sebenarnya waktu aku kabur ke rumah abah, sebelum pulang, abah sudah menikahkan kami. Tolong jangan salahkan, abah. Aku yang memaksa abah melakukan itu semua.”
“Maafkan kami ummi. Bukan maksud kami menyembunyikan pernikahan ini. Tadinya kami akan mengatakannya kalau abi sudah merestui kami. Tapi ternyata kenyataan tak berjalan sesuai harapan. Maafkan aku ummi,” sambung Nick.
Untuk sesaat Mina terdiam, dia cukup terkejut mengetahui kenyataan kalau sang putri sudah menikah diam-diam di belakangnya. Iza hanya bisa menangis, dan Nick pasrah menerima kemarahan mertuanya ini.
“Kenapa kalian melakukan ini?”
“Ummi pasti tahu alasannya. Abi selalu berusaha memisahkan aku dengan Nick. Apa salah Nick sampai abi selalu menolaknya, menghinanya dan merendahkannya? Selama ini aku selalu berusaha menjadi anak yang baik, mengikuti semua keinginan abi. Tapi sekarang aku udah ngga bisa lagi ummi. Sejak abi membohongi dan menutupi perihal pernikahan kang Anang, sejak saat itu aku sudah tidak bisa mempercayai abi lagi. Aku terpaksa menikah diam-diam supaya abi tidak bisa memisahkan kami lagi.”
“Jujur.. ummi kecewa kalian melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan ummi. Tapi ummi juga mengerti alasan kalian melakukan ini. Maafkan ummi yang tidak bisa melindungimu. Sebagai seorang istri, ummi terikat untuk mematuhi suami, abimu. Semua sudah terjadi, mungkin ini jalan yang sudah digariskan untuk kalian. Tadinya ummi berharap bisa melihatmu bersanding di pelaminan bersama dengan Nick.”
“Sekali lagi maafkan kami, ummi. Kalau abi sudah merestui kami, aku akan mewujudkan harapan ummi. Kami akan melangsungkan pesta pernikahan.”
Mina beralih menatap Nick. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala pria yang saat ini sudah sah menjadi menantunya. Sejak awal bertemu dengan Nick, wanita itu merasa kalau Nick adalah lelaki yang baik dan bisa membahagiakan putrinya.
“Itu bukan hal penting lagi. Sekarang yang terpenting adalah kalian menjalani pernikahan ini dengan baik. Walau hanya secara agama, namun kalian sudah sah sebagai suami istri. Sekarang Iza adalah tanggung jawabmu, dunia akhirat. Ummi harap kamu bisa menjaga anak ummi dan menyayanginya dengan tulus. Jika dia melakukan kesalahan, tolong tegur dengan lemah lembut, jangan berbuat kasar padanya. Walau ummi yakin, kamu tidak akan melakukannya. Tapi ummi tetap harus mengingatkanmu tentang ini.”
“Iya ummi. In Syaa Allah semua nasehat ummi akan aku ingat dan aku lakukan.”
“Begitu pula denganmu, Zi. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Wajib bagimu menghormati dan menuruti semua yang suamimu katakan. Belajarlah menjadi istri yang baik.”
“Iya ummi.”
Mina kembali memeluk Iza, dia juga menarik Nick ke dalam pelukannya. Airmata bahagia keluar dari kedua matanya. Hatinya cukup lega mengetahui sang anak akhirnya bisa bersama dengan orang yang dicintainya, walau dengan jalan sembunyi-sembunyi.
“Mommy-mu sudah tahu?”
“Sudah ummi.”
“Apa Ridho sudah tahu?”
“Belum ummi,” jawab Iza.
“Hubungi kakakmu. Katakan kabar bahagia ini. supaya dia bisa membantu kalian jika abimu berusaha memisahkan kalian lagi.”
“Iya ummi.”
Ummi memberikan ponselnya pada Iza. Sekilas Iza melihat waktu telah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Artinya di Kairo saat ini sekitar pukul lima shubuh. Iza mulai menghubungi Ridho, namun panggilannya tidak terjawab.
“Ngg dijawab ummi.”
“Mungkin masih di masjid.”
“Iya.”
Tak lama kemudian, ponsel Mina berdering. Sebuah panggilan dari Ridho masuk. Iza segera menjawab panggilan dan merubah panggilan ke dalam panggilan video. Seketika wajah Ridho memenuhi layar ponsel.
“Assalamu’alaikum.. ternyata adik abang yang cantik.”
“Waalaikumsalam abang.”
“Ummi mana?"
“Ada bang.”
“Kalian baik-baik aja kan? Muka kamu kenapa pucat?”
“Alhamdulillah aku baik-baik aja.”
Mina mengmbil ponsel dari Iza, senyum bahagia Ridho terbit melihat wajah ibu yang begitu dicintainya sekaligus dirindukannya. Mina merangkak naik ke atas kasur kemudian duduk di samping Iza. Kemudian dia mulai menceritakan perihal pernikahan Iza dengan Nick. Sepanjang itu, Iza hanya menundukkan pandangannya. Dia takut sang kakak marah atas keputusannya.
“Mana Nick?” tanya Ridho setelah mendengar cerita Mina.
Mendengar namanya disebut, Nick mendekat kemudian mendudukkan diri di samping Iza. Untuk sesaat kedua pria itu hanya saling memandang lewat perantara kamera ponsel.
“Assalamu’alaikum bang,” Nick membuka percakapan.
“Waalaikumsalam. Jadi ini yang namanya Nick? Pantas adik abang sampai klepek-klepek. Nicknya ganteng kaya gini,” goda Ridho.
“Abang iihh..”
Ridho terkekeh melihat wajah adiknya yang bersemu merah. Nick dapat bernafas lega melihat respon Ridho. Jujur saja, dia takut pria itu tidak menyukai dan menolaknya seperti Rahardi.
“Apapun itu, abang hargai keputusan kalian untuk kalian. Yang penting kalian menyadari kalau pernikahan yang kalian jalani bukanlah permainan. Abang harap kalian menyadari hak dan kewajiban masing-masing. Nick, abang titip Iza padamu. Dia memang masih manja dan kadang cengeng. Tapi abang yakin kalau dia bisa menjadi istri yang baik untukmu, begitu juga abang berharap kamu bisa membimbing Iza menjadi lebih baik lagi.”
“Iya bang, terima kasih untuk kepercayaannya.”
“Abi sudah tahu?”
“Belum bang.”
“Hmm.. kalian harus hati-hati dan bersiap akan reaksi abi. Kamu tahu sendiri Zi, bagaimana abi.”
“Kamu tenang aja, ada ummi yang akan membantu mereka. Kamu sendiri kapan?”
“In Syaa Allah bulan depan kalau ngga ada kendala, aku pulang ummi.”
“Bukan itu. Kapan kamu mau menikah?”
“Haahhh ummi, nanti kalau sudah ada jodohnya aku pasti nikah.”
“Jodoh itu dicari, bukan ditunggu. Terus coba kurangi sikap jutekmu itu, mana ada perempuan yang tahan dengan sikapmu itu.”
Iza hanya terkikik melihat abangnya yang dibuat mati kutu oleh ucapan Mina. Nampak pria itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Nick.. nanti kamu kenalin aku ke temen-temen kamu, siapa tahu ada yang jodoh.”
“Boleh bang. Tapi sahabatku laki semua.”
Nick tak bisa menahan tawanya saat mengatakan itu, begitu pula dengan Iza. Ridho hanya menepuk keningnya saja. Tak ingin terus-terusan merasa terpojok, Ridho pun mengakhiri panggilannya dengan alasan akan bersiap ke kampus.
“Bagaimana keadaanmu sekarang Zi?” tanya Mina setelah panggilan dengan Ridho berakhir.
“Sudah lebih baik ummi.”
“Saran ummi, lebih baik kalian jangan tinggal di sini dulu. Tadi ummi diikuti abimu. Bukan tidak mungkin nanti dia ke sini.”
“Bagaimana kalau kita ke Bandung?” Iza melihat ke arah Nick.
“Nah, ide bagus itu. Kalian ke sana aja. Sekalian perkenalkan Iza dengan keluarga ibumu.”
Nick terdiam sebentar, kemudian mengambil ponselnya. Dia menghubungi Diah untuk mengabarkan kedatangan mereka. Setelah berbicara sebentar, Nick mengakhiri panggilannya.
“Ayo kita ke Bandung, Zi. Kakek dan nenek mau ketemu kamu, katanya.”
“Lebih baik kalian bersiap. Dan Nick, salam buat mommy-mu. Kalau kalian kembali, tolong kabari ummi. Ummi mau bertemu dengan mommy-mu.”
“Iya ummi, In Syaa Allah.”
Nick segera bersiap, dia mengambil koper lalu memasukkan pakaian miliknya juga Iza yang dibawa Mina tadi. Mina juga membantu Iza untuk bersiap. Tak butuh waktu lama, mereka pun sudah siap untuk pergi.
Walau Mina menolak, namun Nick bersikeras mengantarkan ibu mertuanya itu ke butik. Mina dapat bernafas lega mengetahui mobil suaminya sudah tak ada di dekat butik miliknya.
“Kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut, Nick.”
“Iya ummi.”
“Ummi mau oleh-oleh apa?” tanya Iza.
“Cucu.”
Singkat, padat dan jelas jawaban yang diberikan Mina, namun sukses membuat pasangan suami istri itu bersemu merah. Mina turun dari mobil milik Nick. Dia masih bertahan di tempatnya, menunggu mobil yang membawa anak dan menantunya berlalu.
🍂🍂🍂
**Kerenlah ummi minta oleh²nya cucu. Pas banget ya, Bandung kan dingin apalagi ditambah hujan, cocok buat ngadon anak wakakakak...
Buat yang pengen tahu visual ummi sama Ridho, nih dia.
Ummi**
Ridho