
“Nick masih hidup. Dia ada di Bandung sekarang.”
Ucapan Meta sukses menarik perhatian Ridho, hingga pria itu menghentikan langkahnya dan mulai menanggapi ucapan Meta.
“Jangan bohong kamu.”
“Aku ngga bohong. Nick masih hidup tapi dia kehilangan ingatannya. Kondisinya masih belum stabil, itulah yang buat mommy-nya mengatakan kalau Nick sudah mati. Abang boleh tanya ummi kalau tidak percaya. Aku mau ikut ke Bandung karena aku mau membantu Iza bertemu dengan Nick. Jadi aku mohon bantu aku ya, bang.”
“Terima kasih buat infonya. Tapi sekali lagi aku bilang, Iza bukan tanggung jawab kamu. Biar aku yang akan membawa Iza menemui Nick.”
“Apa abang pikir dengan membawa Iza ke hadapan Nick udah cukup? Situasinya ngga semudah itu. Apa abang pikir abang bisa menyatukan mereka kembali dengan sikap kaku dan wajah abang yang tanpa ekspresi itu?”
Mata Ridho membulat mendengar semua ucapan Meta. Gadis ini semakin berani saja mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat hatinya dongkol.
“Pokoknya aku bakal bantu Iza ketemu Nick. Aku ngga akan nyusahin abang, aku ngga akan minta makan sama abang. Cukup carikan aku pekerjaan dan tempat tinggal. Selebihnya biar aku urus sendiri. Terima kasih.”
Tak ada jawaban dari Ridho, pria itu meneruskan langkahnya menuju kamarnya. Bukan hanya terkejut mendengar Nick masih hidup, tapi dirinya juga kesal, keberadaan Nick ditutupi dari sang adik. Tapi mendengar Mina juga telah mengetahuinya, Ridho mencoba meredam kekesalan dan akan berbicara dengan ibunya besok.
Meta menghentakkan kakinya dengan kesal. Ternyata berbicara panjang dengan Ridho itu bisa menyebabkan sesak nafas. Pantas saja belum ada perempuan yang mau menjadi istrinya. Siapa juga perempuan yang tahan dengan sikapnya yang menyebalkan plus wajah kakunya.
🍂🍂🍂
Suasana sore hari di rumah Iza yang tadinya tenang berubah tegang begitu Mina mendapat telepon dari pihak kepolisian. Mobil yang dikendarai suaminya tertabrak sebuah mobil box. Rahardi dilarikan ke rumah sakit sedang supir yang menabraknya melarikan diri. Yang lebih mengejutkan kejadian penabrakan tepat di lokasi Iza dan nick mengalami kecelakaan.
Mina bergegas berganti pakaian untuk melihat keadaan suaminya. Begitu pula dengan Ridho. Iza minta Meta membantunya berganti pakaian, dia juga ingin ikut ke rumah sakit. Sebelumnya Iza menyempatkan diri mengabari Rahman, kebetulan juga kakak dari Rahardi itu tengah berada di Jakarta untuk suatu urusan. Mendengar kabar dari Iza, pria itu juga bergegas ke rumah sakit.
Taksi online yang dipesan Mina tiba di depan rumah. Bersama dengan Ridho, Iza dan Meta, wanita itu bergegas ke rumah sakit. Berulang kali Mina mengucapkan istighfar dalam hati, hatinya berdoa semoga saja sang suami diberikan keselamatan. Walau dia kecewa akan sikap Rahardi, namun jauh di dalam lubuk hatinya, Mina masih mencintai suaminya itu. Wajah Ridho dan Iza juga terlihat tegang. Seburuk apapun sikap Rahardi, pria itu tetap ayah mereka.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lebih, taksi yang ditumpangi akhirnya tiba di rumah sakit. Semuanya bergegas menuju IGD. Mina langsung bertanya kepada suster sesampainya di IGD. Seorang petugas polisi yang membawa Rahardi ke rumah sakit segera menghampiri wanita itu.
“Dengan ibu Rahardi?”
“Iya betul pak. Ada apa dengan suami saya?”
“Dari rekaman cctv terlihat kalau kendaraan bapak tengah melintasi perempatan ketika sebuah mobil box menerobos lampu merah dan menabrak mobil pak Rahardi. Kendaraan itu terus melaju setelah menabrak. Kami menemukan kendaraannya 2 kilometer dari lokasi tapi supirnya sudah tidak ada. Setelah diselediki ternyata itu mobil curian. Besar kemungkinan pelaku adalah spesialis curanmor. Kami akan terus mencari pelakunya.”
“Iya pak, terima kasih.”
Iza tercekat mendengar cerita dari petugas polisi. Selain peristiwa penabrakan beradi lokasi yang sama saat dirinya kecelakaan, kronologinya juga hampir sama. Seketika perasaannya dilanda kecemasan, takut ayahnya bernasib sama seperti Nick.
“Keadaan abi saya bagaimana pak?”
“Soal itu, sebaiknya tanyakan pada dokter yang menanganinya. Saya permisi dulu.”
Mina menatap sendu pada putrinya. Setelah apa yang dilakukan Rahardi padanya, Iza masih tetap mencemaskan keadaan lelaki itu. Direngkuhnya tubuh Iza, buliran bening membasahi pipinya. Pelukan Mina terurai ketika melihat seorang dokter mendekat padanya.
“Dok.. bagaimana keadaan suami saya?”
“Suami ibu cedera parah di bagian kaki akibat terjepit bodi mobil. Kami harus melakukan tindakan operasi. Apa ibu setuju untuk melakukan operasi?”
“Tentu saja dok.”
“Baiklah. Setelah ibu menandatangi surat persetujuan, kami akan segera mengeoperasi pasien.”
Wanita paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya. Seorang suster datang lalu memberikan surat yang harus ditandatangani. Dengan cepat Mina menandatangani surat tersebut, sedang Ridho bersama dengan Rahman segera ke bagian administrasi untuk melakukan pendaftaran dan membayar deposit.
Blankar yang membawa tubuh Rahardi keluar dari bilik IGD. Dua orang perawat membawanya ke ruang operasi. Mina, bersama dengan Iza dan Meta mengikuti dari belakang. Hati Mina mencelos melihat suaminya yang terbaring lemah. Terdapat beberapa luka di bagian wajahnya, namun yang paling parah adalah bagian kaki.
Ketiga wanita itu duduk menunggu di ruang tunggu operasi. Tak berapa lama Rahman dan Ridho datang. Meta memilih untuk menyingkir sejenak melihat Rahman yang sepertinya hendak membicarakan hal serius. Gadis itu memilih ke kantin untuk membeli minuman dan beberapa camilan. Seperginya Meta, Rahman mulai berbicara.
“Mina.. aku tahu kalau ini terdengar egois. Tapi melihat kondisi Hardi sekarang, apa tidak bisa kamu memikirkan kembali soal perceraian? Aku tahu dia sudah melakukan banyak kesalahan, tapi bolehkan kalau aku memintamu memberinya kesempatan kedua? Dia pernah menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Bisakah kalian memberinya kesempatan untuk dirinya kembali seperti dulu?” Rahman melihat pada Mina, Iza juga Ridho bergantian.
Tak ada jawaban baik dari Mina maupun Ridho. Kedua orang itu masih saja mengatupkan mulutnya. Melihat reaksi keduanya, bohong kalau Rahman tidak merasa kecewa, bagaimana pun juga Rahardi adalah adiknya. Namun pria itu juga tidak bisa memaksa, kesalahan memang terletak pada sang adik.
“Abah benar, ummi. Ngga ada salahnya ummi memberi kesempatan kedua pada abi. Anggap saja abi sedang tersesat dan ummi yang harus menjadi penunjuk arah bagi abi agar bisa kembali ke arah yang benar.”
“Zi...” Mina tak bisa meneruskan ucapannya. Tenggorokannya serasa tercekat.
“Kalau bukan ummi, siapa yang akan merawat abi? Ummi di sini saja bersama dengan abi. Abang setuju kan?”
Iza mengarahkan pandangannya ke arah kanan, posisi di mana Ridho duduk. Pria itu hanya berdehem saja. Tangan Iza terangkat, mencoba mencari keberadaan sang kakak. Ridho menyambut tangan Iza kemudian memegang dengan kedua tangannya.
“Semua aku serahkan pada ummi. Aku akan mendukung apapun keputusan ummi. Tapi aku akan tetap membawa Iza bersamaku ke Bandung. Ummi tahu sendiri, minggu depan aku mulai mengajar. Apapun keputusan ummi tentang abi, hubunganku dengan abi tidaklah berubah. Dia tetap ayahku, seburuk apapun dirinya. Tapi ummi, ummi berhak menentukan apakah masih ingin berada di samping abi atau tidak. Kalau ummi memilih untuk kembali pada abi, aku tetap mendukung. Tapi maaf kalau untuk saat ini aku masih belum ingin bertemu dengan abi. Mungkin kalau Iza sudah sepenuhnya pulih dan mau memafkan abi, aku juga akan memaafkannya.”
Hanya isak yang keluar dari mulut Mina. Ridho berpindah duduk di samping Mina lalu memeluknya. Iza meraba lengan Mina lalu ikut memeluknya. Rahman memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menyeka genangan air di sudut matanya.
“Ummi titip Iza padamu, Dho. Doakan ummi supaya bisa membawa abimu yang dulu. Semoga saja dia bisa menjadi ayah yang baik lagi untuk kalian berdua.”
Ridho hanya menganggukkan kepalanya saja sambil terus memeluk ibunya. Dirinya sungguh berharap ini adalah keputusan yang benar. Semoga saja Allah membukakan pintu hati sang ayah. Rahman tak bisa berkata apa-apa selain mengucap syukur dalam hati.
Kamu lihat, Di. Bagaimana istri dan anak-anakmu masih menyayangimu. Aku harap kamu bisa mengambil hikmah dari kejadian ini dan merubah semua sifat burukmu.
Meta kembali dari kantin, sejenak dia mengamati situasi. Setelah dirasa Iza dan yang lain sudah selesai berbicara, gadis itu berjalan mendekat. Ditaruhnya kantong belanjaan yang berisi minuman dan camilan di kursi, sedang dirinya mendudukkan bokongnya di samping sang sahabat.
“Kapan kamu akan berangkat ke Bandung?” tanya Rahman.
“In Syaa Allah tiga hari lagi.”
“Iza akan langsung ikut bersamamu?”
“Iya, abah.”
“Lalu siapa nanti yang akan membantu Iza di sana?”
“Tenang saja, aku akan mencari orang yang bisa menemani Iza selama aku mengajar.”
Meta terkejut mendengar penuturan Ridho, dia melihat ke arah Ridho juga Mina bergantian. Gadis itu menebak Mina tidak jadi ikut pindah ke Bandung karena kecelakaan yang menimpa abi Iza. Dengan memberanikan diri, gadis itu mengajak Ridho untuk berbicara berdua.
“Bang.. bisa kita bicara?”
“Soal apa? Bicara di sini aja.”
Meta menggelengkan kepalanya. Dengan isyarat mata dan juga mimik wajah, dia meminta pria itu ikut dengannya. Dengan malas Ridho berdiri kemudian mengikuti langkah Meta dari belakang. Meta mencari tempat yang cukup jauh untuk berbicara. Keduanya berhenti di ujung koridor, tepat di depan jendela besar yang menghadap jalan.
“Mau ngomong apa?” tanya Ridho tanpa basa basi.
“Abang beneran mau pindah ke Bandung berdua aja tanpa ummi?”
“Iya.”
“Kenapa ngga tunggu keadaan abi sampai pulih baru abang ajak Iza? Siapa yang menemani Iza kalau ummi ngga ikut?”
“Kamu sendiri yang bilang kalau Nick masih hiduo dan ada di Bandung. Aku harus secepatnya membawa Iza ke sana. Aku akan mencari orang untuk menemani dan mengurus Iza selama aki kerja. Lagi pula ummi tidak akan bisa pindah ke Bandung. Ummi akan tetap di sini bersama abi.”
“Kalau gitu, biar aku yang ikut gantiin ummi. Aku bisa tinggal sama kalian, abang ngga usah cari orang buat jaga Iza.”
“Jangan gila kamu.”
“Bang.. please,” Meta menarik ujung lengan T-Shirt Ridho, membuat pria itu menghentikan langkahnya.
“Lepas!”
Meta melepaskan pegangannya di baju Ridho. Tanpa sadar gadis itu mengerucutkan bibirnya karena kesal keinginannya tak pernah ditanggapi oleh Ridho. Terdengar helaan nafas panjang Ridho. Pria itu membalikkan tubuhnya kemudian menatap Meta dengan wajah tanpa ekspresinya.
“Jadi.. apa mau kamu?”
“Aku mau ikut ke Bandung. Aku jadi bisa jagain Iza.”
“Ngga bisa!” Ridho segera melanjutkan ucapannya begitu melihat mulut Meta terbuka.
“Satu... kalau kamu jagain Iza, kamu ngga bisa kerja. Dua.. Iza tanggung jawabku, bukan tanggung jawabmu. Tiga.. aku ngga mau kamu mengabaikan hidupmu karena Iza. Empat.. aku ngga bisa mengijinkanmu tinggal bersama kami karena kita bukan muhrim. Walaupun ada Iza, tetap saja itu tidak benar. Lima... apa tanggapan orang tuamu kalau kamu sibuk memikirkan Iza. Aku ngga mau dinilai kakak yang tidak bertanggung jawab pada adiknya. Paham??”
Meta bungkam mendengar semua alasan yang disebutkan Ridho. Puas bisa membuat gadis di hadapannya terdiam, Ridho membalikkan tubuhnya kembali. Tapi lagi-lagi gadis itu mengucapkan kalimat yang membuatnya tercengang.
“Kalau begitu kita nikah aja. Abang lamar aku, kita nikah sebelum kalian pergi ke Bandung. Kalau kita nikah, aku bisa tinggal bersama kalian. Aku juga tidak perlu pusing mencari pekerjaan karena ada abang yang bertanggung jawab. Orang tuaku juga tidak akan marah.”
Ridho membalikkan tubuhnya dengan kesal. Dia mendekat ke arah Meta, membuat gadis itu bersingsut mundur. Langkahnya terhenti begitu tubuhnya membentur tembok di belakangnya. Ridho pun menghentikan langkahnya.
“Are you crazy? (apa kamu gila?). Bisa-bisanya kamu bicara pernikahan dengan entengnya. Sepertinya ada yang salah dengan otakmu!”
PLETAK
Ridho menyentil kening Meta cukup keras, membuat dahi gadis itu sedikit kemerahan. Tanpa mempedulikan ringisan Meta, pria itu berbalik kemudian meninggalkannya tanpa merasa bersalah sama sekali. Berbicara dengan Meta semakin membuat kepalanya pening.
Langkah Ridho terhenti ketika Meta menyusul lalu berhenti di depannya. Ridho berusaha tetap melangkah namun Meta terus saja menghalanginya. Ridho berhenti sambil memberikan tatapan tajam pada Meta. Tapi Meta tak gentar, dia balas menatap Ridho tak kalah sengit.
“Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia? Harus dengan bahasa apa lagi aku bicara denganmu!” suara Ridho terdengar sedikit meninggi.
“Tolong dengarkan alasanku. Abang boleh menolaknya setelah mendengar alasanku.”
“Apa?” Ridho melipat kedua tangannya di depan dada.
“Aku tahu bagaimana perasaan Iza saat ini, karena aku pernah mengalaminya juga. Aku pernah kehilangan orang yang kucintai. Tiga tahun yang lalu, aku juga kehilangan calon suamiku. Hidupku terasa hancur, aku bahkan sempat ingin bunuh diri, tapi Iza mencegahnya. Selama aku terpuruk, dia selalu ada di sampingku sampai akhirnya aku bisa melewati semua dan hidup normal kembali. Aku ingin melakukan hal yang sama untuknya. Aku ingin menyatukannya kembali dengan Nick. Selain itu, Iza juga pernah bilang kalau ingin menjodohkanku dengan abang. Tapi di luar semua itu, aku melakukannya karena aku sayang Iza.”
Meta menundukkan kepalanya setelah mengatakan itu semua. Mengingat kembali masa terpuruknya dahulu, membangkitkan lagi kesedihannya. Tak ada tanggapan dari Ridho. Pria itu hanya melihat ke arah Meta sejenak, setelah itu melangkah pergi. Meta mengangkat kepalanya, melihat punggung Ridho yang semakin menjauh. Terdengar tawa sumbangnya, setelah merendahkan diri sedemikian rupa, Ridho masih bergeming. Dengan langkah lunglai, gadis itu kembali ke tempat Iza menunggu.
Tepat ketika Ridho sampai di ruang tunggu, dokter yang mengoperasi Rahardi keluar. Dengan cepat Mina menghampiri sang dokter, disusul oleh Rahman. Iza hanya duduk menunggu sambil memasang telinga dengan baik.
“Bagaimana suami saya dok?”
“Operasinya berhasil. Tungkai kaki pasien bergeser akibat benturan dan terhimpit bodi mobil. Kami berhasil mengembalikan posisinya seperti semula, hanya saja panjang tungkai antara kaki kiri dan kanan menjadi berbeda.”
“Tapi tidak membahayakan dirinya kan dok?”
“Tidak. Tapi pasien tidak akan bisa berjalan normal lagi. Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Saya permisi dulu.”
Pintu masuk ruangan operasi kembali terbuka, dua orang perawat nampak mendorong blankar yang membawa tubuh Rahardi. Mina dan yang lainnya segera mengikuti sang perawat. Meta membantu Iza berdiri kemudian menuntunnya.
Mina duduk di sisi bed, matanya terus memandangi suaminya yang masih terpejam. Sudah dua jam yang lalu operasi selesai, namun Rahardi masih belum sadarkan diri. Rahman, Ridho, Iza dan Meta duduk di kursi yang ada di depan ruang rawat inap. Ridho melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah pukul setengah delapan malam.
“Zi.. kamu mau pulang sekarang?”
“Nanti aja bang. Aku mau nunggu sampai abi sadar.”
“Kalau begitu abang antar Meta pulang dulu. Abah, aku titip Iza sebentar. Boleh aku pinjam mobilnya, abah?”
“Boleh,” Rahman menyerahkan kunci mobil pada Ridho.
“Ayo,” ajak Ridho pada Meta.
Dengan enggan Meta bangun dari duduknya. Setelah berpamitan pada Rahman, Iza juga Mina, gadis itu keluar dari gedung rumah sakit bersama dengan Ridho. Keduanya menuju mobil Rahman yang terparkir di bagian selatan gedung. Setelah memasang sabuk pengaman, Ridho melajukan kendaraannya.
Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Meta terus menatap jendela di sampingnya, malas rasanya melihat pria berwajah kaku di sebelahnya. Dia juga merasa malu telah meminta pria itu untuk menikahinya dan ditolak. Meta melamun memikirkan cara bagaimana bisa pindah ke Bandung dan membantu Iza bertemu dengan Nick.
Karena asik melamun, Meta tak sadar kalau mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan rumah. Ridho membuka kunci mobil lalu mematikan mesin. Dia menoleh ke arah Meta yang masih diam di tempatnya.
“Ehem!!” Meta menolehkan kepalanya ke arah Ridho, saat mendengar deheman pria itu.
“Kamu ngga mau turun?”
Meta melihat ke arah luar jendela. Dia merutuki dirinya sendiri yang tak sadar telah sampai di depan rumahnya. Tangannya bergerak membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Gadis itu terus masuk ke dalam rumah. Tak disadarinya Ridho yang mengekor di belakangnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” terdengar jawaban dari dalam.
“Eh ada Ridho.”
Meta terjengit mendengar ucapan mamanya. Sontak dia menengok ke arah belakang. Ingin rasanya dia langsung mengusir pergi pria itu, tapi sang mama sudah lebih dulu mengajaknya masuk. Bukan hanya mamanya, ternyata papanya juga menyambut hangat kedatangan pria menyebalkan itu.
Efendi, ayah dari Meta mempesilahkan Ridho untuk duduk. Ibu dari Meta juga segera membuatkan minuman untuk tamunya itu. Dengan sangat terpaksa Meta ikut duduk di ruang tamu.
“Om dengar abimu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa keadaannya parah?”
“Alhamdulillah ngga om. Operasinya berhasil, abi cedera di bagian kakinya.”
“Syukurlah. Maaf om belum datang menjenguk. In Syaa Allah besok bersama dengan tante akan menjenguk. Apa om Anton sudah diberi tahu?”
“Sudah om.”
“Bagaimana Iza?”
“Alhamdulillah keadaan Iza sudah lebih baik. Terima kasih om sudah mengijinkan Meta membantu merawat Iza selama ini. Maaf kalau sudah merepotkan.”
“Tidak apa-apa. Mereka itu kan sahabat baik, sudah sepatutnya saling menolong. Dulu juga Iza banyak membantu Meta di saat tersulitnya.”
Ridho menyunggingkan senyuman tipis. Meta berdecih pelan. Andai saja Ridho bisa bersikap sebaik ini saat berbicara dengannya, mungkin dirinya tidak akan sekesal dan sedongkol ini. Ibu Meta datang membawakan minuman dan kue lalu meletakkannya di atas meja. Wanita paruh baya itu lalu mendudukkan diri di samping Meta.
“Ayo diminum dulu.”
“Iya tante, makasih.”
Ridho mengambil cangkir di depannya lalu menyesapnya perlahan. Diliriknya Meta yang masih memasang wajah kesalnya. Setelah meletakkan kembali cangkir di atas meja, Ridho melihat ke arah orang tua Meta.
“Om.. tante.. kedatangan saya kemari karena ada yang mau saya bicarakan.”
“Soal apa?”
“Begini om.. maaf sebelumnya kalau kedatangan saya mendadak dan di waktu yang kurang tepat. Saya bermaksud melamar Meta.”
🍂🍂🍂
Waduh... Arnav beneran patah hati ini..