
Nick menolehkan kepalanya ketika sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya. Diah menghampiri sang anak yang tengah sibuk menyusun peralatan coffee makernya. Ditariknya sebuah kursi, lalu wanita itu mendudukkan diri di dekat sang anak.
“Nick.. maafkan mommy kalau ada banyak hal yang mommy tutupi darimu. Tapi kamu harus tahu, mommy melakukan semua itu demi kebaikanmu.”
“*I*t’s okay, mom.”
Nick meneruskan pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun pada Diah. Seorang pegawai yang nantinya akan membantu Nick mengelola kedai kopi miliknya datang . Nick menerangkan menu kopi apa saja yang nanti akan mereka jual. Pegawai tersebut hanya menganggukkan kepalanya. Dia harus cepat belajar, karena kedai kopi akan dibuka dalam waktu dekat.
“Mommy akan ceritakan apa yang mau kamu dengar,” ujar Diah ketika pegawai tersebut meninggalkan mereka.
“Ngga perlu mom.”
“Azizah.. kamu mau tahu soal dia?”
Perhatian Nick langsung teralihkan ketika Diah menyebut nama itu. Dadanya seketika berdesir, hanya dengan mendengar namanya, hatinya langsung tak karuan. Nick yakin nama itu berkaitan erat dengan kehidupannya dulu. Nick menyandarkan bokongnya ke table work di belakangnya. Matanya menatap serius ke arah Diah.
“Azizah... dia wanita yang kamu cintai, dulu. Kalian berencana menikah tapi gagal karena orang tuanya tidak setuju karena masa lalu mommy. Kamu begitu mencintainya, tapi dia membalas cintamu dengan pengkhianatan. Begitu mendengar tentang masa lalu mommy, sikapnya berubah 180 derajat. Bahkan dia menerima lamaran laki-laki yang dijodohkan ayahnya dan menikah dengannya tanpa memberi tahu padamu. Keadaanmu kacau dan begitu terpuruk. Kamu sampai keluar dari pekerjaanmu karena tak fokus bekerja. Lalu datang seseorang yang baru. Seseorang yang mampu membawamu keluar dari kegelapan, seseorang yang mengobati luka hatimu. Kalian berencana menikah, tapi sebelum itu terjadi, kamu mengalami kecelakaan.”
“Siapa orang itu?”
“Bila.”
“Bila? Maksud mommy, dokter Bila asisten dokter Rafli?”
“Iya.”
Diah mengangguk pelan. Nick nampak tercenung memikirkan kata-kata Diah. Tangannya meraba pelan dadany, tak ada desiran saat Diah menyebut nama Bila. Baik hati atau pikirannya tak bisa mengingat sosok dokter residen tersebut.
“Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Maksudku, perasaanku, aku tak merasakan apapun saat berbicara atau dekat dengannya. Berbeda dengan Azizah, hanya mendengar namanya saja sudah membuatku berdebar.”
“Itu hal yang wajar. Terkadang orang yang telah memberikan luka terdalam memberikan ingatan yang lebih kuat. Kamu sudah berhubungan lama dengan Azizah, jadi wajar kalau kamu lebih mengingatnya. Bila.. baru satu tahun kalian berhubungan.”
“Mommy tidak sedang membohongiku kan?”
“Coba kamu tanyakan padanya, di mana kamu ditemukan setelah pergi dari rumah sakit? Kamu pergi ke pesantren milik ayahnya. Itu karena kamu ingin bertemu dengan Bila. Lalu tanyakan siapa yang bertanggung jawab saat kamu akan dioperasi? Bila dan ayahnya yg melakukannya. Apa kamu pikir mereka mau melakukannya kalau kamu hanyalah orang asing? Lalu tanyakan apakah dia mengenalmu? Pasti dia akan menjawab tidak, karena dia takut sesuatu yang buruk padamu. Bayangkan bagaimana perasaannya, dia harus berpura-pura tak mengenal lelaki yang dicintainya demi keselamatan pria itu. Bayangkan bagaimana sakitnya dia, kamu justru lebih mengingat wanita yang pernah menyakitimu. Pikirkan itu Nick, kamu boleh percaya atau tidak. Tapi itu kenyataannya.”
Diah bangun dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Nick yang masih merenungi ucapannya. Bergegas pria itu membereskan peralatan yang masih berserakan di atas meja, lalu menitipkan sisanya pada pegawainya. Nick keluar dari kedai kemudian melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Dia perlu menanyakan semua yang dikatakan Diah pada Bila.
Bila baru saja selesai berkonsultasi dengan Rafli ketika Nick berdiri di hadapannya. Gadis itu tak percaya Nick sengaja datang ke rumah sakit untuk menemuinya. Dia lalu mengajak Nick berbicara di kantin. Setelah memesan minuman, keduanya duduk menunggu di salah satu meja.
“Ada yang mau kutanyakan kepadamu,” ujar Nick tanpa basa basi.
“Apa?”
“Apa benar waktu itu aku ke pesantren milik ayahmu? Waktu aku kabur dari rumah sakit di Jakarta.”
“Iya. Kamu ikut di mobil kang Apep dan kang Jaya.”
“Kamu dan ayahmu juga yang bertanggung jawab saat aku akan dioperasi?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Apa itu salah?”
“Apa kita saling mengenal sebelumnya?”
“Tidak.”
“Apa kita pernah punya hubungan sebelumnya?”
“Tidak.”
Bila bingung dengan serentetan pertanyaan yang diajukan oleh Nick. Dipandanginya wajah Nick yang terlihat bingung. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya terinterupsi dengan kedatangan pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
“Nick.. apa ada yang kamu ingat?”
“Belum.. aku hanya mencari tahu apa yang kurasakan.”
“Jangan berpikir terlalu keras. Ikuti saja perasaanmu, pertajam intuisimu. Aku yakin, cepat atau lambat kamu akan menemukan jawabannya. Seperti yang dokter Rafli bilang, ingatanmu tersimpan rapih dalam alam bawah sadarmu. Biarkan itu menuntunmu mengingat semua yang terjadi dulu.”
“Terima kasih. Kamu perempuan yang baik, maaf kalau selama ini sikapku kasar padamu.”
“Tidak apa-apa. Tak kenal maka tak sayang. Kita bisa saling mengenal mulai sekarang. Apa kamu mau menjadi temanku?”
“Hmm..”
Tangan Bila merogoh saku jas snelinya ketika merasakan getaran dari ponselnya. Sebuah pesan masuk berasal dari dokter Rafli yang memintanya segera ke ruangan. Gadis itu menghabiskan minuman pesanannya.
“Maaf ya Nick. Aku harus pergi, ada panggilan darurat.”
“Iya. Maaf udah ganggu waktumu.”
“It’s okay. Kamu bisa bertemu denganku kapan pun kamu mau. Kita sudah berteman sekarang.”
“Terima kasih. Minumannya biar aku yang bayar.”
“Terima kasih juga,” Bila merogoh kembali saku jasnya kemudian mengeluarkan sebuah permen lollipop dari dalamnya.
“Kalau pikiran lagi pusing, coba konsumsi yang manis-manis. Ini hadiah dariku. Itu permen spesial, rasanya manis dan dibuat dari bahan-bahan pilihan.”
Bila melemparkan senyum manisnya seraya meletakkan permen di atas meja. Setelah itu dia bergegas menuju ruangan dokter Rafli. Nick mengambil permen pemberian Bila lalu menatapnya lekat. Sepertinya dia pernah mendengar seseorang mengatakan istilah permen padanya. Apakah itu Bila? Hatinya mulai bertanya-tanya.
🍂🍂🍂
“Nick!”
Baru saja Nick turun dari kendaraannya ketika Apep memanggilnya. Dia terkejut melihat Apep, Jaya dan Kyai Ahmad sudah berada di kedai kopi miliknya. Dengan langkah panjang, dihampirinya ketiga orang tersebut. Nick mencium punggung tangan kyai Ahmad dan menyalami Apep juga Jaya.
“Pak Kyai datang ngga kasih kabar, mari silahkan masuk.”
“Pak Kyai cuma mau ketemu sama calon mantunya,” Apep terkekeh. Kyai Ahmad hanya menggelengkan kepalanya seraya mengikuti langkah Nick. Apep dan Jaya selalu mengatakan padanya untuk menjodohkan Nick dengan Bila.
“Silahkan duduk pak Kyai. Maaf masih berantakan.”
“Kapan rencananya kedai ini buka?”
“In Syaa Allah dua hari lagi. Masih ada peralatan yang aku cari. Pak Kyai mau minum apa?”
“Kopi hitam saja, yang kental dan jangan terlalu banyak gulanya.”
“Kalau kang Apep sama kang Jaya?”
“Saya mah mau kopi yang kaya di café-café itu.. yang ada ice-icenya..” jawab Apep.
“Yang ada cinonya,” sambung Jaya.
“Iced cappuccino?”
“Tah eta.”
Nick mengulum senyumnya. Dia lalu menuju table work tempat peralatan kopinya berada. Dikenakannya apron untuk menutupi pakaiannya dari cipratan kopi kemudian mulai menakar kopi yang akan dibuatnya. Apep dan Jaya yang penasaran, segera menghampiri Nick. Mereka berdecak kagum melihat kepiawaian Nick menyajikan kopi.
“Kang kalau yang digambar-gambar kaya di tv bisa?” tanya Jaya.
“Bisa. Akang mau digambar apa?”
“Apa aja.”
Nick menuangkan krim ke dalam cangkir kopi kemudian tangannya mulai bergerak melukis di atas kopi. Jaya dan Apep terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Nick. Sesekali terdengar pujian dari mulut mereka.
“Selesai..”
“Euleuh.. euleuh.. geulis pisan, asa lebar rek nginumna oge (aduh cantik banget. Jadi sayang mau diminumnya juga).”
“Poto heula atuh.”
Jaya mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar kopi yang baru dibuat Nick. Kembali Nick dibuat tertegun. Kata-kata dan adegan di depan matanya terasa tak asing. Hanya saja suara seorang wanita yang diingatnya dulu, apakah itu Azizah atau Bila? Gumam Nick dalam hati.
“Nick.. kapan atuh mau ngelamar neng Bila,” Apep berbicara dengan suara pelan, takut didengar pak kyai.
“Melamar Bila?”
“Iya kang, melamar. Kalian tuh udah cocok, yang satu cantik, yang satu ganteng. Buruan ke KUA."
Nick menumpukan kedua tangannya pada table work di depannya. Dua hari ini dia dibuat ragu dengan apa yang dirasakannya. Awalnya dia begitu yakin kalau wanita bernama Azizah itu adalah kekasih atau mungkin istrinya. Tapi ucapan Diah, jawaban Bila membuatnya sedikit meragu. Ditambah dengan sikap Apep dan Jaya yang selalu saja mengarahkan dirinya pada Bila.
🍂🍂🍂
“Nick.”
Bryan mendudukkan dirinya di samping Nick. Sepulang dari kedai diperhatikannya Nick lebih banyak melamun. Karena tak merespon panggilannya, Bryan menepuk pundak Nick pelan.
“Dad..” lamunan Nick buyar.
“Ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Aku hanya bingung.”
“Soal?”
Nick menceritakan apa yang menjadi beban pikirannya hari ini. Sikap Bryan yang selalu terbuka padanya, membuat pria itu lebih mempercayai Bryan untuk bertukar pikiran dibanding Diah. Bryan terkejut mendengar apa yang dikatakan Diah pada Nick. Namun sebisa mungkin dia bersikap biasa agar Nick tidak curiga.
“Menurut daddy, tetap ikuti intuisimu. Bukan hanya orang yang menorehkan rasa sakit saja yang bisa meninggalkan ingatan kuat. Tapi orang yang sangat berharga dalam hidup kita, akan selamanya menempel di sini dan di sini,” Bryan menunjuk kepala dan dadanya.
“Seperti daddy. Selama apapun kita berpisah, ingatan dan kenangan akan dirimu masih tetap ada. Sekali lagi, ikuti intuisimu, karena hati tak pernah salah mengenali.”
Bryan menepuk pundak Nick pelan kemudian beranjak meninggalkannya. Pria itu langsung masuk ke dalam kamarnya. Ditariknya Diah yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Dia membawa istrinya itu ke teras di depan kamarnya.
“Apa yang kamu lakukan pada Nick? Apa kamu mencoba memanipulasi ingatannya?”
“Sudah kubilang, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya.”
“Menutupi masa lalunya? Menjauhkan dirinya dari Iza? Menggiringnya pada Bila? Kamu bilang itu yang terbaik untuknya?”
“Apa kamu mau Nick kembali pada Iza? Apa kamu mau meihat putramu kembali menerima perlakuan buruk dan hinaan dari mertuanya? Aku ngga mau! Kecelakaan mereka, ingatan Nick yang hilang, itu semua menunjukkan kalau Nick dan Iza tidak berjodoh. Aku hanya ingin melihat anakku hidup tenang dan bahagia. Walau aku harus memanipulasi ingatannya.”
“Kita lihat saja, Di. Ingatan palsu yang kamu tanamkan padanya atau hatinya yang akan membawanya menuju cintanya. Dan aku akan pastikan Nick akan kembali ke tempatnya semula, cam kan itu!”
Bryan masuk kembali ke dalam kamar. diambilnya bantal dan guling lalu membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam kamar. Diah menghela nafas panjang, hubungannya dengan Bryan semakin menegang dan berjarak saja.
🍂🍂🍂
Terdengar bunyi berdenting, sebuah pesan dari Rivan masuk ke ponsel Ridho. Pria itu menanyakan nomor Arnav yang dijanjikan Meta. Sudah dua hari Ridho menunggu namun Meta belum juga memberinya nomor Arnav. Akhirnya dia sendiri yang melakukannya. Dan betapa terkejutnya dia saat Rivan mengatakan sudah memberikan nomor Arnav pada Meta kemarin.
Meta nampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Ridho terus menanyakan nomor Arnav padanya. Sebenarnya dia sudah mendapatkannya dari Rivan. Tapi dia juga terkejut mengetahui Arnav sudah pindah ke Bandung. Jika dia menghubungi Arnav, bukan tidak mungkin pria itu akan meminta untuk bertemu. Atau yang lebih parah lagi, dia akan bertemu dengan Ridho.
“Met..” Meta terjengit saat mendengar suara Ridho di belakangnya.
“I.. iya bang.”
“Nomor Arnav, sudah ada?”
“Be.. belum bang.”
“Abang udah dapet dari Rivan. Coba kamu hubungi.”
“A.. aku bang?”
“Iya. Kamu kan yang kenal Arnav. Kalau aku yang hubungi, belum tentu dia mau angkat.”
“I..Iya bang.”
Dengan tangan bergetar, Meta menyalin nomor Arnav dari ponsel Ridho lalu mendialnya. Sudut mata Ridho menangkap nama Arnav tertera di ponsel Meta. Berarti istrinya itu sudah menyimpan nomor tersebut. Melihat gelagat Meta yang mencurigakan, Ridho jadi curiga. Dia mulai bertanya-tanya ada hubungan apa antara Meta dengan Arnav.
“Ngga diangkat, bang,” ucapan Meta menghentikan lamunan Ridho.
“Coba lagi.”
“I.. Iya bang.”
Belum sempat Meta mendial kembali nomor Arnav, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ponsel di tangan Meta hampir saja terlempar melihat nama Arnav yang memanggilnya. Ridho mengambil ponsel lalu mengusap tombol hijau, dia juga mengaktifkan mode loud speaker. Pria itu memberi kode pada Meta untuk menjawab panggilan.
“A.. assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Kamu tadi telpon aku, Met?”
“I.. iya.”
“Ada apa?”
“A.. aku mau tanya alamat Nick tinggal.”
“Met.. aku kan udah bilang, tolong beri waktu sebentar lagi. Aku janji akan membantumu menyatukan Nick dengan Iza. Saatnya masih belum tepat. Lagian ngga bisa langsung juga kan kamu ke Bandung.”
“A.. aku dan Iza sudah pindah ke Bandung.”
Hening, tak ada jawaban dari Arnav. Pria itu terkejut, wanita yang dihindarinya justru berada satu kota lagi dengannya. Kediaman Arnav dan kegugupan Meta semakin menguatkan kecurigaan Ridho. Ada sesuatu di antara keduanya yang tidak diketahuinya.
“Aku kirimkan alamatnya. Tapi kalau kamu mau ke sana, tolong kabari aku. Bukan hal yang baik kalau kamu bertemu dengan mommy sendirian.”
“I.. iya. Mungkin aku akan pergi bersama bang Ridho.”
“Oh.. baguslah kalau begitu.”
“Terima kasih, Ar.”
“Sama-sama. Met..”
“Ya..”
“Selamat atas pernikahanmu. Aku harap kamu berbahagia. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, menjadi penerang jalanku. Walau hanya sesaat tapi meninggalkan kenangan indah, seperti pelangi.”
Meta melirik Ridho yang berdiri tepat di sampingnya. Dia tak bisa tahu bagaimana reaksi suaminya itu karena Ridho hanya bergeming di tempatnya. Wajahnya pun masih terlihat tenang.
“Aku akan mengirimkan alamatnya sekarang. Salam buat Iza. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Arnav mengakhiri panggilannya dan tak lama kemudian terdengar notifikasi pesan masuk. Arnav mengirimkan lokasi alamat tempat tinggal Nick. Meta memberikan ponselnya pada Ridho. Pria itu meneruskan lokasi ke ponselnya lalu mengembalikan milik Meta.
“Bang.. aku mau lihat Iza, dulu.”
Tak ada jawaban dari Ridho, wanita itu bergegas keluar dari kamar. Sesampainya di luar, dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya. Meta perlu mengisi rongga parunya yang terasa kosong. Melihat Iza hanyalah alasan yang dibuatnya. Meta lalu mendudukkan diri di kursi makan. Hatinya gelisah, dia tak tahu apa reaksi Ridho nanti kalau tahu soal hubungannya dengan Arnav.
Ridho sudah pernah menanyakan soal kedekatannya dengan lelaki lain sebelum menikah, dan Meta terpaksa berbohong saat itu. Tapi sekarang, mungkin suaminya itu curiga mendengar kata-kata Arnav barusan. Meta tak tahu bagaimana reaksi Ridho, pria itu terlalu sulit untuk dibaca jalan pikirannya.
“Met..”
“Astaghfirullah..”
Meta terkejut mendengar panggilan Ridho. Wanita itu semakin resah ketika merasakan pandangan Ridho begitu menusuk.
“Ayo masuk.”
“I.. iya bang.”
Dengan langkah berat Meta masuk ke dalam kamar. Ridho mendudukkan diri sisi ranjang, kemudian menepuk sisi kosong di sebelahnya, meminta sang istri untuk duduk. Meta berjalan mendekat lalu duduk di samping Ridho. Wanita itu meremat jemari tangannya, mencoba menghilangkan kegugupannya.
“Met.. boleh aku bertanya?”
“So.. soal apa bang?”
“Arnav. Apa ada sesuatu antara kalian sebelum kita menikah?”
“Ng.. ngga ada bang.”
“Jangan bohong. Aku ngga bodoh. Melihat sikapmu, mendengar kata-katanya, pasti ada sesuatu di antara kalian. Bicaralah jujur, itu lebih baik dari pada aku tahu dari orang lain.”
“Maaf bang.. maaf..” Meta menundukkan kepalanya.
Bukannya menjawab, Meta justru menangis tersedu. Hal itu semakin membuat Ridho bingung. Diraihnya tangan Meta kemudian digenggamnya dengan lembut. Meta mengarahkan pandangannya, memberanikan diri menatap wajah Ridho.
“Apa aku menakutimu? Aku hanya bertanya, bukan marah,” Ridho mengusap buliran bening di wajah sang istri.
“Mukanya abang serem.”
Jawaban sang istri membuat Ridho terkekeh. Ditariknya bahu Meta kemudian memeluk wanita itu. Dengan penuh kelembutan dia mengusap punggung sang istri. Sepertinya dia harus banyak bersabar memiliki istri yang terlalu sensitif perasaannya.
“Maaf kalau sudah membuatmu takut,” Ridho mencium puncak kepala Meta.
“Mau bercerita?” lanjutnya lagi.
Meta menganggukkan kepalanya. Perlahan dia melepaskan diri dari pelukan Ridho. Dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya sebelum dirinya menceritakan soal Arnav. Harusnya tak ada lagi yang perlu ditakutkan, hubungannya dengan Arnav hanyalah masa lalu. Ridho juga sudah menjadi suaminya. Tak mungkin rasanya suaminya itu akan menceraikannya hanya karena masa lalu.
“Sebelumnya aku minta maaf kalau sudah bohong. Sebenarnya..”
Cerita Meta tentang Arnav mulai mengalir. Awal perkenalan mereka, hubungan yang mulai terjalin, lamaran Arnav sampai penolakan lamaran yang dilakukannya. Meta juga mengatakan alasannya menolak Arnav. Semua diceritakannya tanpa ada kebohongan dan tak ada yang ditutupi lagi.
Suasana hening sejenak. Sekali lagi Meta tak bisa mengetahui apa yang dipikirkan suaminya. Wajah Ridho selalu terlihat tenang dan tanpa ekspresi. Meta kembali menundukkan kepalanya.
“Apa kamu masih mencintainya?” Meta mengangkat kepalanya, menatap Ridho dalam.
“Apa kamu masih mencintainya?” tanyanya lagi.
“Aku.. aku ngga tahu bang.”
“Bagaimana denganku? Bagaimana perasaanmu padaku?”
“A.. aku juga ngga tahu. Tapi yang pasti aku nyaman bersama abang. Abang suami yang baik dan bertanggung jawab.”
“Terima kasih. Terima kasih sudah memilihku. Terima kasih untuk bertahan di samping Iza. Tidak masalah kalau kamu belum mencintaiku. Aku akan membuatmu mencintaiku dan melupakan perasaanmu pada Arnav.”
Ridho mengangkat tubuh Meta lalu mendudukkan di pangkuannya. Refleks Meta mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Jantungnya berdetak cepat akibat apa yang dilakukan Ridho. Hatinya juga menghangat mendengar ucapan suaminya itu. Ridho menarik tengkuk Meta lalu menempelkan bibirnya seraya melesakkan lidahnya ke rongga mulut sang istri. Dengan gerakan lembut dipagutnya bibir Meta. Bibir yang telah membuatnya candu dan ingin terus mencicipinya.
🍂🍂🍂
Adegan selanjutnya silahkan bayangkan sendiri.
Gimana ya kalau Iza & Nick ketemuan?
Gimana kalau Ridho & Arnav bertemu?
Gimana MP nya Abe?😂