
Nick keluar dari ruangan dokter Rafli. Pria itu baru saja menyelesaikan sesi konselingnya. Nabila yang baru saja datang segera menghampiri Nick. Dokter muda itu ditugaskan dokter Rafli untuk mendampingi Nick, apalagi sudah tiga hari ini Nick tinggal di pesantren abahnya. Sayang, sikap pria itu masih saja dingin padanya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Sudah selesai konselingnya?”
“Hmm..”
“Mau pulang ke pesantren?”
“Ngga. Aku mau pulang ke rumah.”
“Aku boleh ikut ke rumahmu? Ada yang harus kutanyakan padamu, tugas dari dokter Rafli.”
“Silahkan.”
“Aku selesai setengah jam lagi. Mau menunggu?”
“Hmm.. hubungi saja aku kalau sudah selesai.”
Nick kemudian melangkah menuju lift. Sambil menunggu Bila, dia ingin bersantai di taman rumah sakit yang ada di rooftop. Bila menghembuskan nafas panjang, sulit sekali mendekati Nick. Pria itu lebih terbuka berbicara dengan Apep dan Jaya dari pada dengannya.
Hembusan angin terasa ketika Nick menapakkan kakinya di rooftop rumah sakit. Rooftop ini sudah disulap menjadi taman yang indah. Selain bangku, terdapat juga gazeebo untuk bersantai. Sore ini tak banyak orang yang berada di sana. Sudut mata Nick menangkap dokter Reyhan tengah duduk santai di salah satu bangku. Dia pun melangkahkan kakinya ke sana.
“Sore dok.”
“Hai Nick.”
Dokter Reyhan menggeser duduknya, memberikan Nick ruang untuk duduk bersamanya. Nick mendaratkan bokongnya di samping dokter Reyhan. Selain dengan dokter Rafli, Nick juga sering berkonsultasi dengan dokter tampan di sebelahnya ini. Pria itu selalu bisa memberikan nasehat dan masukan yang membuat hatinya tenang.
“Bagaimana konsutasimu? Apa semuanya lancar?”
“Alhamdulillah dok. Hanya saja di sini terasa kosong,” Nick mengetukkan jari di kepalanya.
“Suatu yang wajar. Ketika kita tidak bisa mengingat sesuatu, pasti terasa janggal dan aneh. Tapi nanti kamu akan terbiasa juga.”
“Kadang mengganggu dok. Kadang juga aku frustrasi tidak bisa tahu siapa diriku, bagaimana orang-orang di sekitarku, apa yang kusukai. Hal-hal seperti itu selalu menggangguku.”
“Coba lihat semua yang terjadi padamu dari sisi baiknya. Setelah kecelakaan parah, kondisimu bisa pulih dengan cepat. Semua organmu masih bisa berfungsi dengan baik. Walau mengalami cedera parah di kepala, tapi secara keseluruhan, sistem sarafmu masih bisa bekerja dengan normal. Panca indramu masih berfungsi dengan baik, anggota tubuhmu masih bisa dikntrol dengan baik, kamu masih bisa mengingat kejadian pasca operasi dan fungsi kognitif dan afektifmu masih bekerja dengan baik.
Hanya ingatan sebelum kecelakaan yang hilang. Kamu bisa membentuk ingatan baru, keluarga dan teman-temanmu bisa membantumu mendapatkan informasi tentang dirimu. Banyak orang yang mengalami hal yang lebih parah darimu setelah kecelakaan hebat. Singkatnya, kondisimu masih jauh lebih baik.”
“Iya.. dokter benar. Sekarang aku hanya bisa mengandalkan intuisi untuk mengingat siapa diriku.”
“Hmm.. pertajam intuisimu. Itu akan membantumu kembali pada dirimu yang dulu.”
Nick hanya menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan dokter Reyhan benar adanya. Sejenak kedua pria itu terdiam, mereka menikmati pemandangan di depan ditemani semilir angin. Tiba-tiba datang seorang wanita cantik menghampiri mereka.
“Mas..”
“Ay..”
Dokter Reyhan berdiri, wanita itu meraih tangannya kemudian mencium punggung tangannya yang dibalas kecupan oleh dokter tampan itu. Dia lalu melihat ke arah Nick yang memperhatikan mereka.
“Nick.. kenalkan ini istriku, Ayunda.”
Wanita bernama Ayunda itu mengulurkan tangannya ke arah Nick seraya melemparkan senyuman. Nick tertegun sejenak melihat senyum itu, sekilas berkelebat bayangan seorang wanita yang wajahnya samar. Dia lalu menjabat tangan Ayunda seraya menyebutkan namanya.
“Mau periksa sekarang?” tanya dokter Reyhan pada istrinya.
“Iya mas. Sisa pasien tinggal dua lagi.”
“Nick.. Saya tinggal ya. Kami harus menemui dokter kandungan.”
“Istri dokter sedang hamil?”
“Iya. Dia sedang hamil anak ketiga,” Reyhan mengusap perut istrinya yang masih rata.
Lagi Nick tertegun, tanpa sadar dia meraba dadanya. Perasaan ini seperti familiar untuknya. Melihat kebahagiaan Reyhan saat mengatakan istrinya tengah hamil bagai sebuah dejavu untuknya.
“Kenapa Nick?”
“Ngga apa-apa dok. Hanya saja.. saya seperti familiar dengan situasi ini.”
“Maksudnya?”
“Entahlah dok. Saya seperti pernah merasakan bagaimana bahagianya menjadi calon ayah.”
“Oh ya? Hmm.. mungkin ini sebuah petunjuk untukmu. Cobalah tanyakan pada orang tuamu. Tapi ingat, jangan memaksakan diri untuk mengingatnya. Minta saja informasi dari orang-orang di sekelilingmu.”
“Iya dok, terima kasih.”
“Saya tinggal dulu ya.”
Sambil merangkul pinggang sang istri, dokter Reyhan beranjak pergi dari rooftop. Nick masih bertahan di sana, sekali lagi diraba dadanya, dia tak salah mengenali perasaan ini. Nick yakin dia pernah berada di situasi yang sama seperti Reyhan. Lamunan Nick buyar ketika ponselnya berdering, tertera nama dokter Bila di sana. Pria itu mengangkat panggilannya seraya melangkah keluar dari rooftop.
🍂🍂🍂
Pak Dwi, supir yang dipekerjakan oleh Bryan untuk mengantar Nick menghentikan kendaraannya di depan rumah bercat abu-abu. Bryan memang belum membolehkan Nick membawa kendaraan sendiri sebelum kondisinya benar-benar pulih. Nick keluar dari mobil disusul oleh Bila. Seraya mengucapkan salam, keduanya masuk ke dalam rumah.
Suasana rumah Bryan tak sesepi biasanya. Sudah beberapa hari ini Fahrul dan Abe tinggal di sana. Setelah mengantarkan Sansan pulang ke Jakarta, Abe memang kembali lagi ke Bandung. Dia dan Fahrul mulai merintis koperasi yang diusulkan oleh Bryan. Denis masih belum bisa berkunjung karena masih menjalani tahanan rumah. Sedang Arnav akan tiba sore ini.
Kedatangan Nick disambut sukacita oleh Diah. Wanita itu senang karena Nick memutuskan tinggal bersama dengan mereka. Dia juga menyambut Bila dengan ramah. Kedua wanita itu memang sudah mulai akrab semenjak Bila ditugaskan untuk mendampingi dan memantau keadaan Nick oleh dokter Rafli.
“Anak mommy akhirnya mau pulang juga.”
Diah memeluk Nick lalu membawanya ke ruang tengah. Di sana Fahrul, Abe dan Bryan tengah berbincang. Nick menghampiri Bryan lalu mencium punggung tangannya. Pria itu sudah tahu siapa Bryan dan apa hubungannya dengan pria itu. Bryan menceritakan tentang semua yang terjadi di masa lalu, termasuk pernikahannya dengan Diah akhir-akhir ini. Awalnya Diah menentang, namun suaminya itu memutuskan untuk membuka semuanya. Dia yakin itu lebih baik dari pada menutupi yang akhirnya hanya akan menimbulkan kecurigaan dan memicu rasa penasaran Nick.
Mata Nick tertumbu pada peralatan yang ada di dekat dapur bersih. Nick berjalan mendekat, memperhatikan sederetan alat di depannya. Nick mengenali peralatan tersebut. Di sudut juga terdapat dua karung kecil biji kopi utuh. Nick berjongkok lalu meraup beberapa biji kopi kemudian menciumnya
“Nick.. bisa buatkan daddy kopi?”
Terdengar suara Bryan di dekatnya. Nick berdiri, ditatapnya sejenak untuk memastikan apa yang dikatakan tadi. Pria itu menggerakkan kepalanya, meminta Nick melakukan apa yang dimintanya. Walau tak yakin, Nick bergerak untuk membuatkan kopi untuk Bryan.
Diambilnya biji kopi yang masih utuh kemudian dimasukkan ke dalam alat untuk menggiling kopi. Kemudian pria itu memasukkan kopi yang telah digiling ke dalam mesin espreso. Secangkir kopi hitam sudah selesai dibuatnya. Kemudian pria itu menuangkan creamer ke atas kopi tersebut dan mulai melukis di atasnya. Tangan Nick bergerak-gerak di atas cangkir kopi. Dalam waktu singkat kopi dengan lukisan batik sudah tersedia.
Senyum Bryan mengembang melihat hasil karya sang anak. Dia memang sengaja membeli semua peralatan yang dipakai Nick di kedainya dulu. Itu untuk memicu ingatan konatif dan ternyata berhasil. Nick menatap tak percaya pada cangkir kopi di depannya.
“Dad.. kenapa aku bisa melakukan ini?”
“Karena itu pekerjaanmu.”
“Apa aku seorang barista?”
“Bukan. Lo punya kedai kopi. Dan elo kursus barista supaya bisa melayani pelanggan sendiri,” jelas Fahrul sambil mendekat ke arah sahabatnya.
“Nick.. gue juga mau dong. Gue kangen kopi buatan elo,” sambung Abe.
“Oke..”
Dengan semangat Nick mengulangi apa yang dilakukannya tadi. Bryan meraih cangkir kopi lalu menyeruputnya perlahan. Rasa kopi buatan sang anak memang sangat enak. Bila yang ikut mendekat, memperhatikan apa yang dilakukan Nick tanpa berkedip. Kekagumannya pada pria itu semakin bertambah.
“Nick.. apa kamu mau membuka kedai kopi lagi?”
“Tapi aku belum punya modal, dad.”
“Daddy menjual kedaimu di Jakarta. Uangnya bisa dipakai untuk itu. Daddy akan mencarikan tempat yang cocok dan strategis untukmu. Bagaimana?”
“Boleh, tapi jangan terlalu mahal dad. Takutnya ngga cukup modalnya.”
“Kamu tidak perlu memikirkan biaya untuk tempat usahamu. Daddy memberikannya untukmu, sebagai hadiah atas kepulihanmu. Kamu hanya perlu memikirkan nama untuk kedaimu itu. Bagaimana?”
Nick menganggukkan kepalanya antusias. Semangatnya untuk menjalani hidup semakin berkobar. Kembali terngiang kata-kata dokter Reyhan tadi. Dia memang harus bersyukur dan menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin, menciptakan ingatan baru yang lebih indah tentunya.
“Gimana kalo Abe coffie,” celetuk Abe.
“Jangan. Nama lo komersil kaga, bikin bangkrut iya,” sembur Fahrul.
“Bangk* lo!” Abe menoyor kepala Fahrul.
“Zicko...”
Semua orang menolehkan wajahnya ke arah Nick, termasuk Diah yang sedari tadi hanya menyimak. Nick menatap bingung karena semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kenapa? Jelek ya namanya?”
“Ngga, bagus bro. Dari pada Abe coffie,” jawab Fahrul.
“Iya.. itu nama yang bagus,” sahut Bryan.
Nick tersenyum senang, semua menyukai usulan namanya. Kata Zicko terlintas begitu saja di kepalanya. Entah mengapa dia merasa nama itu memiliki arti dan nilai sentimentil tersendiri.
🍂🍂🍂
“Saya terima nikah dan kawinnya Meta Anggaraini binti Efendi Waluya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!”
Penghulu kembali menegaskan bahwa ijab kabul yang diucapkan Ridho sah dan dia telah resmi menjadi suami dari Meta. Dari lantai atas, Lani dan Dena, kakak Meta menuntun pengantin wanita menuju meja akad. Dia lalu didudukkan di sisi Ridho. Pria berwajah kaku yang telah resmi menjadi suaminya menyematkan cincin pernikahan di jari manisnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Meta.
Sedikit canggung, Meta meraih tangan Ridho lalu mencium punggung tangannya. Begitu pula dengan mempelai pria. Jantung Ridho berdegup kencang saat bibirnya menyentuh kening Meta. Ini adalah yang pertama kalinya pria itu menyentuh wanita selain Mina dan Iza.
Acara akad yang dilangsungkan sederhana pun selesai, setelah kedua orang tua memberikan wejangannya. Rahardi yang masih dirawat di rumah sakit tidak bisa menyaksikan pernikahan putra sulungnya. Kehadirannya digantikan oleh Rahman dan juga Anton. Rahardi sendiri tak berkomentar apapun tentang pernikahan Ridho yang begitu mendadak. Pria itu merasa tak punya hak lagi untuk mengatur hidup anaknya.
Efendi dan juga Lani tak mengundang banyak orang, hanya beberapa tetangga dekat yang diundang. Mereka baru akan mengundang banyak orang saat resepsi nanti. Iza memeluk sahabatnya erat, dirinya tak percaya keinginannya melihat sang kakak berjodoh dengan Meta menjadi kenyataan. Walau dia tahu ada yang harus Meta korbankan demi bisa bersanding dengan Ridho.
Di saat para tamu undangan tengah menikmati hidangan, Mina menarik tangan Ridho. Dibawanya sang anak ke teras. Di sana Rahman dan Anton sudah menunggunya. Setelah mendudukkan diri di kursi sebelah Anton, Mina mengeluarkan kunci mobil berikut surat-suratnya lalu diberikan kepada Ridho.
“Ummi.. apa ini?”
“Ini hadiah pernikahan dari ummi. Kamu membutuhkan ini untuk bekerja dan juga mengantar Iza jika harus kontrol ke rumah sakit. Ummi juga sudan mentransfer sejumlah uang untuk bekalmu di Bandung.”
“Ummi.. ngga usah repot-repot. Tabunganku masih ada.”
“Simpan tabunganmu. Sekarang kamu sudah menjadi suami, dan ada dua orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebelum Iza kembali pada Nick, kamu yang bertanggung jawab atas hidupnya. Ummi ngga mau kalian hidup susah. Ummi juga tahu kamu sudah menggunakan uang tabungan untuk membeli rumah. Jadi.. terima saja.”
Ridho memeluk Mina, rasa haru sekaligus malu menghentak bersamaan. Dirinya yang sudah sebesar ini masih saja menerima uang dari orang tua. Mina mengurai pelukannya, ditangkupnya wajah Ridho lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
“Akhirnya ummi bisa melihatmu menikah. Cepat kasih ummi momongan ya.”
Ridho hanya berdehem saja. Dia sendiri masih belum tahu kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan dijalaninya nanti. Apa mungkin dia bisa memberikan cucu secepatnya pada ummi.
“Ummi mau kembali ke rumah sakit.”
“Aku antar ummi.”
“Boleh. Ummi pamitan dulu ya.”
Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah. Ridho yang hendak menyusul ditahan oleh Rahman. Kakak dari Rahardi itu meminta Ridho tetap duduk. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya.
“Ada apa abah?”
“Kamu tahu dokter mata yang menangani Iza?”
“Dokter Rega maksud abah?”
“Iya. Kemarin abah dengar kalau dia juga pindah ke Bandung. Ada kemungkinan Iza akan meneruskan perawatan bersamanya. Abah curiga kalau dokter Rega menyukai Iza. Kamu tahu kalau Nick masih hidup, artinya Iza masih terikat tali pernikahan dengannya. Kamu harus menjaga Iza, jangan sampai dokter Rega semakin memperkeruh keadaan dan menghambat Iza bersatu dengan Nick lagi.”
“Iya abah. In Syaa Allah aku akan mengingatnya. Lagi pula abah ngga usah terlalu mengkhawatirkan soal dokter Rega. Aku yakin Iza ngga akan begitu mudah tertarik padanya. Ada bodyguard yang selalu ngawasin dia,” Ridho terkekeh.
“Meta maksudmu?”
Ridho hanya menjawab dengan anggukan disertai kekehannya. Anton pun tak dapat menahan senyumnya. Dia cukup paham bagaimana persahabatan Iza dan Meta.
“Kamu juga mulai sekarang harus belajar tersenyum, bicara lemah lembut sama perempuan. Kalau muka kamu kaku terus dan bicaramu ketus, jangankan kasih cucu, belah duren juga belum tentu dikasih kamu,” Anton tergelak mendengar ucapannya sendiri. Begitu pula dengan Rahman, sedang Ridho tak merespon apapun.
🍂🍂🍂
Usai mengantar Mina ke rumah sakit, Ridho kembali ke kediaman Efendi. Dia akan menjemput Iza juga Meta. Besok pagi mereka akan berangkat ke Bandung. Rumah yang dibelinya juga sudah siap huni. Hanya tinggal membeli perabotan dapur saja, dan itu akan menjadi tugas Meta nantinya.
“Pa, Ma.. aku pergi dulu,” pamit Ridho pada kedua orang tua Meta.
Lani memeluk anak bungsunya ini. Wanita itu antara rela dan tidak rela melepas Meta. kepindahan Meta ke Bandung mengikuti suaminya akan membuat dirinya jarang bertemu dengan sang anak. Namun Meta berjanji akan menyempatkan waktu menengok mamanya minimal tiga bulan sekali.
Ridho memasukkan dua buah koper Meta ke bagasi. Setelah itu membantu Iza naik ke dalam mobil. Sekali lagi Meta memeluk kedua orang tuanya, kemudian melangkahkan kakinya menuju mobil.
Rivan yang baru saja kembali setelah mengikuti kegiatan di sekolahnya terkejut saat mendengar Meta telah menikah dengan Ridho. Pemuda itu bergegas keluar dari rumah lalu menghampiri Meta yang hendak naik ke mobil. Melihat Rivan, Meta menundanya. Dihampirinya Rivan yang berdiri di belakang mobil.
“Van..”
“Kakak beneran udah nikah sama bang Ridho?”
“Iya.”
“Terus bang Arnav gimana?”
“Dia bukan jodohku.”
“Tapi kak..”
“Met!”
Ucapan Rivan terhenti begitu saja ketika mendengar Ridho memanggil istrinya. Meta mendekati Rivan lalu mengusak puncak kepala pemuda itu.
“Kakak pergi dulu ya. Jangan berhenti mengajari Arnav.”
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Rivan. Pemuda itu hanya diam memandangi Meta yang naik ke dalam mobil. Dan tak lama kemudian kendaraan roda empat itu meluncur pergi meninggalkan dirinya.
🍂🍂🍂
Kediaman Bryan bertambah ramai saja setelah kedatangan Arnav. Berkumpul kembali dengan para sahabatnya minus Denis, membuat suasana hati Arnav sedikit membaik. Sejak Meta menolak lamarannya, pria itu seperti kehilangan gairah hidup. Untung saja dia masih bertahan untuk tidak kembali terjerumus dalam kehidupan kelamnya.
Nick, Fahrul, Abe dan Arnav tengah duduk santai di teras yang ada di bagian samping rumah. Para pria itu sibuk bernostalgia menceritakan masa-masa kuliah mereka dulu. Tentu saja Nick hanya menjadi pendengar setia saja. Namun tak ayal tawanya pecah juga saat ketiga sahabatnya menceritakan peristiwa konyol yang mereka alami.
Selain bercerita, Fahrul juga memperlihatkan foto-foto mereka dulu. Banyak momen yang mereka abadikan dan tentu saja dijadikan kenangan manis oleh mereka. Nick memperhatikan foto-foto di tablet milik Fahrul. Foto saat mereka mendaki gunung, bermain climbing wall, bermain futsal, termasuk foto culun mereka saat masih berstatus murid SMA.
“Ini siapa namanya?” tanya Nick seraya menunjuk gambar Denis.
“Oh.. Kim Jong Un,” jawab Abe asal yang langsung dihadiahi toyoran oleh Fahrul.
“Lee Min Ho itu,” sahut Arnav.
“Salah lo semua. Dia itu Shinbi hahaha...” Fahrul tergelak.
PLAK
PLAK
PLAK
Nick memukul belakang kepala sahabatnya satu per satu. Jawaban mereka tidak ada yang masuk akal satu pun. Walau bukan penggemar drakor, tapi Nick tahu siapa itu Lee Min Ho, apalagi Kim Jong Un, pemimpin Korea Utara yang namanya terkenal seantero jagad. Dan Shinbi, itu adalah salah satu film kartun yang sering dilihatnya akhir-akhir ini.
“Namanya Denis. Dia baru aja married seminggu yang lalu,” jelas Abe.
“Dia udah nikah?”
“Iya. Makanya ngga bisa ke sini, lagi bulan madu,” sambung Fahrul.
“Lo, gue sama Denis, kita satu sekolah di international school,” terang Arnav.
Nick yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. wajah Denis tak asing untuknya. Hanya saja dia tak ingat siapa namanya. Tapi situasi bersama para sahabat tak asing untuknya.
“Oh iya, tiga hari lagi gue mau nikah. Lo dateng ya Nick,” seru Abe.
“Sama cewek yang kemarin bareng elo?”
“Iya. Sansan namanya. Lo bisa dateng kan?”
“Iya bisa.”
“Ya udah besok aja berangkatnya, gimana?” usul Abe antusias.
“Gue nyusul deh,” sahut Fahrul.
“Bolehlah,” jawab Nick.
“Ar.. lo beneran mau pindah ke Bandung?”
Semua mata kini tertuju pada Arnav. Sejak Meta menolak lamarannya, Arnav memang mengajukan diri pindah ke kantor Regional Sales Office yang ada di Bandung. Kebetulan di sana ada posisi kosong untuknya.
“Iya.. mungkin seminggu atau dua minggu lagi gue pindah. Pengajuan mutasi udah disetujui.”
“Terus Meta gimana?”
“Ya gimana lagi, dia kan udah nolak lamaran gue.”
“Meta siapa?” tanya Nick.
“Gebetannya. Dia udah ngelamar, awalnya diterima tapi terus ditolak,” jelas Abe.
“Loh kok bisa? Terus lo nyerah aja gitu?”
“Mungkin bukan jodoh gue kali.”
“Jangan pasrah gitu dong, berjuang bro,” Fahrul menepuk lengan Arnav.
“Kalau emang Meta jodoh gue, kita pasti bakalan bersatu. Tapi kalau bukan, segimana keras usaha gue juga ngga akan berhasil.”
Arnav menundukkan kepalanya. Jauh di lubuk hatinya dia berharap masih bisa kembali pada Meta. Hanya Meta yang diinginkan menjadi pendamping hidupnya. Wanita yang menjadi alasan perubahannya. Suasana mendadak menjadi hening dan keheningan itu pecah saat ponsel Arnav berdering.
Kening Arnav mengernyit melihat sang pemanggil adalah Rivan. Setahunya dia sudah mengatakan pada pemuda itu kalau pelajaran mengajinya libur dulu karena harus ke Bandung. Menjelang deringan akhir, pria itu menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Bang, lagi di mana?”
“Di Bandung. Kan gue udah bilang kemarin.”
“Bang, lo sama kak Meta udahan?”
Arnav mengesah pelan, lagi-lagi topik Meta yang menjadi bahan pembicaraan. Suasana hatinya yang tadi sempat membaik, kini kembali memburuk. Pria itu berdiri lalu berjalan sedikit menjauh dari para sahabatnya.
“Bang...”
“Iya. Gue sama Meta udahan.”
“Kak Meta baru aja nikah sama bang Ridho.”
“Hah?? Apa Van? Gue ngga salah denger kan?”
“Ngga bang. Kak Meta udah nikah sama bang Ridho, abangnya kak Iza, dua jam yang lalu.”
PRAK!!!
“Bang.. bang...”
Sambungan langsung terputus ketika ponsel di tangan Arnav jatuh begitu saja dan berhamburan di lantai. Sontak Nick, Fahrul dan Abe terkejut dibuatnya.
“Ar.. kenapa?” tanya Abe.
“Meta..."
"Meta kenapa?"
"Dia baru aja nikah.”
“Haaahh??!!”
🍂🍂🍂
No comment ah, takut ditegor lagi ama Kim Jong Un🏃🏃🏃🏃