The Nick's Life

The Nick's Life
Pria Misterius



“Nick..”


Denis langsung menghambur ke arah sahabatnya itu. Mendengar Nick kembali ke Jakarta, Denis yang telah dicabut masa tahanan rumahnya bergegas menuju kediaman Diah.Sebuah pelukan erat diberikan pria itu. Nick yang awalnya terkejut membalas pelukan pria berwajah oriental itu. Sama seperti para sahabatnya yang lain, keberadaan Denis juga tak asing untuknya.


Nick baru saja sampai di apartemen yang dulu ditinggalinya, bersama dengan Bryan, Diah dan dua sahabatnya yang lain. Fahrul akan menyusul begitu Maira diperbolehkan pulang. Selain mereka, Bila juga ikut. Diah sengaja mengajak Bila, takut jika terjadi sesuatu pada Nick. Jakarta mempunyai banyak kenangan untuk Nick. Diah tak mau keadaan sang anak kembali drop.


“Nick.. kenalin ini istri gue, Ayura dan ini anak gue, Azka.”


“Bukannya lo baru nikah ya? Kok anak lo udah segede gini? Lo udah DP duluan ya, terus dicicil berapa tahun baru dibikin sah.”


“Sembarangan lo!” sewot Denis.


Yang lain hanya tergelak mendengarnya. Sebenarnya Abe sudah menceritakan tentang dengan siapa Denis menikah. Hanya saja Nick sepertinya sengaja menggoda pria itu. semenjak kehilangan ingatannya, tingkat kejahilan Nick serta selera humornya semakin bertambah.


“Ini siapa?” tanya Denis sambil menunjuk Bila.


“Ini dokter hmm.. psikiater yang dampingi Nick selama proses konseling, namanya Salsabila,” Abe memperkenalkan Bila pada Denis.


“Panggil aja Bila. Dan aku masih asisten dokter Rafli, masih dokter residen, belum sepenuhnya jadi psikiater,” Bila menyambut uluran tangan Denis.


“Udah perkenalan sama kangen-kangenannya. Sekarang kita makan dulu ya. Mommy udah pesan makanan banyak.”


Semua langsung menuju ruang tengah. Abe dan Arnav menggeser sofa, sedang Denis menggelar karpet. Ayura membantu Diah membawakan makanan ke ruang tengah. Bila hanya tertegun saja menyaksikan keakraban mereka semua. Diah mengajak Bila duduk di dekatnya.


Suasana ruang tengah langsung ramai dengan perbincangan mereka. Nick juga terlihat sangat menikmati momen ini, tak ada kecanggungan sama sekali. Orang-orang di sekelilingnya, tempat dan suasananya tak asing untuknya. Pria itu benar-benar mengandalkan intuisinya. Satu per satu Bila memperhatikan sahabat Nick yang memiliki wajah campuran selain Abe dan juga Fahrul. Lalu pandangannya tertuju pada Arnav. Pria yang baru ditemuinya hari ini sedikit lebih pendiam dari yang lain.


“Nick.. sorry nih, gue cuma ngingetin aja, soalnya kan lo lagi amnesia. Lo tuh masih punya utang sama Denis,” celetuk Abe. Denis yang tahu maksud pembicaraan Abe langsung melotot ke arah pria itu.


“Utang apaan?”


“Lo janji bakal nyewa sisingaan sama ondel-ondel buat ngarak dia keliling Jakarta kalau dia udah sunat. Nah sekarang kan dia udah sunat, udah jadi mualaf juga. Dari pada nanti di akhirat lo ditagih, lebih baik sekarang lo lunasin janji lo. Ngaraknya nanti aja bareng pas nikahan gue, kan ajib tuh.”


“Bangk* lo Be!” sewot Denis.


“Hahahaha....” Abe dan Arnav tak bisa menahan tawanya. Begitu pula Ayura, tak bisa dibayangkan suaminya diarak keliling Jakarta menaiki sisingaan dan didampingi dua ondel-ondel.


“Serius gue janji kaya gitu? Ya udah deh. Dad.. bisa bantu aku kan sewa sisingaan sama ondel-ondel?”


“Jangan dad!!! Nick.. jangan macem-macem lo!”


“Itu utang loh, harus dibayar biar ngga jadi beban gue.”


“Ngga usah kampret! Utang dan janji lo gue anggap lunas!!”


“Hahahaha...”


Gelak tawa kembali terdengar. Diam-diam Bila tersenyum, melihat Nick bisa tertawa lepas dan sebahagia ini, gadis itu pun merasa senang. Dadanya tiba-tiba berdesir ketika Nick menolehkan kepala ke arahnya dengan senyum di wajahnya. Arnav melirik Bila dari sudut matanya, perasaannya mengatakan kalau Bila mulai menyukai Nick.


Keceriaan mereka sirna ketika ponsel Abe berdering, sebuah panggilan dari mamanya. Eni mengabarkan kalau baru saja ada surat panggilan dari kepolisian untuk Abe. Thomas mengajukan tuntutan karena Abe telah menghajarnya tempo hari.


“Kenapa Be?” tanya Arnav.


“Gue dilaporin ke polisi sama si b*nci gara-gara gue hajar,” geram Abe.


“B*nci siapa?” tanya Nick bingung.


“Kakak ipar gue yang bentar lagi jadi mantan. Si brengsek itu bukan cuma selingkuh tapi juga KDRT selama ini.”


“Brengsek banget tuh orang!” Denis ikutan berang, tangannya mengepal keras.


“Gue cabut dulu, Nick.”


“Gue ikut!” seru Denis.


“Ngga usah macem-macem lo. Urusan lo juga belum kelar. Biar gue yang temenin Abe,” sahut Arnav.


“Gue ikut,” sambung Nick.


“No.. kamu diam aja di sini,” Diah langsung menginterupsi pembicaraan.


“Aku ikut mom!” tegas Nick.


“Nick..”


“Biarkan saja. Aku yang akan mendampinginya,” Bryan menengahi.


Diah akhirnya mengalah, membiarkan anaknya pergi menemani Abe. Ada Bryan yang mendampingi, membuat Diah sedikit tenang. Semuanya langsung bubar jalan, termasuk Denis. Ayura mengajak Denis pulang karena tak ingin suaminya kembali terlibat masalah. Bila juga bersiap, gadis itu bermaksud ikut bersama Nick.


“Kamu mau kemana?” tanya Arnav seraya menghalangi langkah Bila.


“Aku mau ikut.”


“Ini urusan cowok. Kamu di sini aja.”


“Aku harus ikut. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Nick?”


“Tidak akan terjadi apa-apa dengannya. Aku yang jamin!”


Bila mengurungkan niatnya mengikuti Nick begitu melihat tatapan tajam Arnav padanya. Pria ini tak seramah Abe dan Fahrul. Arnav bergegas keluar unit apartemen menyusul yang lain.


🍂🍂🍂


Syarif bergegas menuju ruang rawat inap untuk menemui Thomas, menantunya. Tak disangka, dua hari menjelang pernikahan, Thomas justru melaporkan sang anak ke kantor polisi. Sepertinya pria itu sengaja ingin menggagalkan pernikahan Abe.


BRAK!


Dengan kasar Syarif membuka pintu ruangan, Ambar yang sedang berada di ruangan bersama dengan Thomas tentu saja terkejut. Bukan hanya mereka, Syarif juga terkejut melihat Ambar yang tengah duduk bersimpuh di dekat ranjang. Anaknya itu sepertinya tengah memohon pada suaminya untuk mencabut laporan.


“Bangun!” seru Syarif pada Ambar. Perlahan Ambar berdiri.


“Dasar tidak tahu diri! Ini yang kamu berikan setelah aku membantumu menjadi anggota dewan?!” geram Syarif, tapi Thomas justru tertawa mengejek.


“Jangan lupa. Kamu mendapatkan banyak dukungan juga dariku. Kalau bukan karenaku, kamu tidak akan mendapatkan sponsor untuk kampanyemu.


Ambar mengepalkan tangannya keras. Bukan hanya sudah menyakiti fisik dan hatinya, Thomas kini sudah bersikap kurang ajar pada ayahnya. Disambarnya gelas yang ada di atas nakas lalu dipecahkan. Sambil memegang pecahan gelas, Ambar menghambur ke arah Thomas, bermaksud menusukkannya pada pria itu.


“Ambar!! Jangan nak!” cegah Syarif. Dengan cepat dia menahan sang putri yang hendak berbuat nekad.


“Lepas pa, lepas!! Biar kubunuh saja b*jingan ini!!”


Terdengar suara tawa Thomas semakin kencang. Pria itu nampak senang melihat tingkah anak dan ayah di depannya. Syarif merebut pecahan gelas di tangan Ambar lalu membuangnya asal ke lantai. Dia lalu menarik tangan Ambar keluar dari ruangan.


“Apa kamu sudah gila?”


“Iya aku sudah gila! Aku gila karena menikahi laki-laki brengsek itu!”


“Tenanglah. Papa sedang mengumpulkan bukti kejahatannya. Papa akan menjebloskannya ke penjara. Itulah kenapa papa menunda perceraianmu, supaya dia tidak curiga dan papa bisa mendapatkan bukti lebih banyak. Tapi Abe.. anak itu selalu saja bertindak gegabah.”


“Itu karena papa. Apa papa pernah mengajaknya bicara? Kalau sejak awal papa mengatakan rencana papa, dia tidak akan bertindak senekad itu dan aku juga akan bertahan sampai papa berhasil mendapatkan bukti kejahatannya!”


Syarif menyandarkan punggungnya ke tembok di belakangnya seraya meremat rambutnya. Semua memang salahnya, tidak mengatakan perihal rencananya menjebloskan Thomas ke penjara. Dia malah sibuk bertengkar dengan Abe yang tak pernah mau mengikuti keinginannya.


“Kak..”


Kepala Ambar menoleh ketika mendengar Abe memanggilnya. Dia menghambur ke arah sang adik lalu menangis dalam pelukannya. Abe melihat kesal ke arah sang ayah. Pria itu penyebab semua kekacauan dan penderitaan kakaknya.


“Apa papa puas sekarang?”


“Be.. aku mohon jangan bertengkar lagi,” Ambar mengurai pelukannya.


“Papa sedang mencari bukti untuk menjebloskan Thomas ke penjara. Tolong kalian jangan bertengkar lagi. Ini yang dia inginkan.”


Abe memilih untuk diam. Dia mendudukkan diri di kursi yang ada di koridor. Nick juga Arnav ikut duduk di sampingnya. Tiba-tiba seorang pria dengan setelan jas melintas di depan mereka lalu masuk ke kamar Thomas. Semua menyangka kalau itu adalah pengacara Thomas.


Pria itu masuk ke kamar inap Thomas lalu mengunci pintu dari dalam. Thomas terkejut melihat pria tak dikenal masuk dan menarik kursi di dekat bednya. Dengan santainya pria itu duduk di sana.


“Siapa kamu?”


“Tidak penting siapa saya. Tapi yang penting, kamu harus mencabut laporan soal Abe sekarang juga.”


“Apa kamu orang suruhan Abe? Aku tidak mau, suruh laki-laki itu datang langsung padaku dan berlutut di hadapanku, mungkin aku akan berubah pikiran.”


Thomas terkesiap ketika dengan cepat pria itu mendekat padanya kemudian mencengkeram leher pria itu dengan kuat. Mata pria itu nampak berkilat, sebuah seringai licik tercetak di wajahnya.


“Lakukan saja apa yang kusuruh atau ucapkan selamat tinggal pada kehidupanmu. Aku bisa dengan mudah membunuhmu, mencincang tubuhmu dan memberikannya pada kucing liar. Tidak akan ada yang bisa menemukanmu. Paham?” Thomas menganggukkan kepalanya.


“Jadi.. cabut laporanmu sekarang!”


Pria itu melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar. Untuk sesaat Thomas terbatuk seraya memegangi lehernya yang terasa nyeri. Terlihat pria di depannya memberi isyarat. Dengan tangan bergetar Thomas mengambil ponselnya. Dia menghubungi pengacaranya, meminta untuk mencabut laporan.


“Bagus. Jaga sikapmu atau aku akan membunuhmu,” pria itu menepuk rahang Thomas dengan kencang lalu pergi meninggalkannya. Tanpa menoleh sedikit pun pada Abe dan yang lain pria itu melenggang pergi.


Pria misterius itu berdiri di depan lift. Matanya terus menatap ke arah panel yang menunjukkan keberadaan benda kotak persegi itu. Tak lama pintu lift terbuka. Dari arah lift keluar Topan. Pria itu bergegas menuju rumah sakit begitu mendengar kabar dari Denis perihal Abe. Kepalanya cukup pusing memikirkan masalah yang tak kunjung selesai. Saat melintasi pria di depannya, tangannya dicekal oleh pria tersebut.


“Kamu Topan?” tanyanya tanpa basa-basi.


Pria itu melepaskan cekalannya. Tangannya kemudian mengeluarkan amplop coklat dari balik jasnya lalu memberikannya pada Topan. Dengan bingung Topan menerima amplop tersebut.


“Ini apa?”


“Itu.. gunakan itu untuk menjatuhkan Reisa dan membebaskan temanmu. Itu senjata untuk menghancurkan wanita itu.”


“Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa tahu soal ini?”


“Jangan banyak bertanya. Lakukan saja apa yang kukatakan.”


Sambil mengenakan kacamata hitamnya, pria itu masuk ke dalam lift. Topan tertegun di tempatnya saat melihat pintu lift menutup. Lalu pandangannya beralih pada amplop coklat di hadapannya. Dirinya terus bertanya-tanya tentang lelaki berpenampilan perlente tersebut.


Sementara di dalam lift, pria misterius itu mengambil ponselnya. Dia menghubungi seseorang untuk memberikan laporan.


“Tugas sudah selesai”


“...”


“Baik.”


Pria itu mengakhiri panggilannya lalu melakukan panggilan lain. Cukup lama pria itu berbicara, sampai akhirnya panggilannya berakhir tepat sebelum pintu lift terbuka. Dengan langkah panjang, pria itu keluar dari lift.


Sementara itu, Syarif dibuat bingung ketika pengacaranya mengabarkan kalau Thomas telah mencabut laporannya. Padahal tadi menantunya itu masih bersikeras melanjutkan tuntutan. Syarif mencoba menemui Thomas tapi pria itu menolaknya.


“Kenapa pa?” tanya Ambar.


“Thomas, dia sudah menarik laporannya.”


“Kok bisa?”


“Papa juga ngga tahu.”


“Apa ada hubungannya sama cowok tadi ya?” celetuk Arnav.


“Cowok yang pake jas bukan?” tanya Topan.


“Iya.”


“Nah.. tuh orang juga ngasih ini tadi ke gue,” Topan memperlihatkan amplop coklat yang tadi diterimanya. Isinya hanya dua buah USB.


“Katanya ini bukti buat bebasin Denis.”


“Serius?”


“Iya.”


“Ya udah ngga usah pake lama. Kasihin ke pengacaranya.”


“Tar gue periksa dulu isinya. Siapa tahu ada yang bisa gue up load ke medsos. Biar hancur karirnya tuh cewek. Sumpah gedeg banget gue sama dia.”


“Serah elo deh. Yang penting Denis bebas.”


“Denis kenapa?” tanya Nick.


“Ah elah anak bayi diem dulu, ngga usah banyak nanya. Gue lagi mode emoji nih, males banyak bacot,” jawab Abe asal yang langsung dihadiahi tepukan di belakang kepalanya oleh Nick. Namun pria itu hanya terkekeh saja.


🍂🍂🍂


“Ananda Ahmad Baihaqi Erlangga, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Sandrina Oktavina binti Beni Sasongko dengan mas kawin uang tunai sebesar dua juta dua puluh dua ribu rupiah dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Sandrina Oktavina binti Beni Sasongko dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAH!”


Terdengar suara hamdallah dari semua yang menghadiri akad nikah Abe dan Sansan. Akhirnya Syarif memenuhi keinginan anaknya yang ingin melangsungkan pesta pernikahan secara sederhana saja. Akad dan resepsi diadakan di kediaman Beni. Undangan pun tak banyak disebar, hanya pada para tetangga serta teman-teman Sansan dan Abe serta beberapa kolega Beni. Syarif bahkan tidak mengundang teman-teman satu fraksinya.


Dada Sansan berdebar ketika Abe mencium keningnya setelah kedua pengantin saling menyematkan cincin pernikahan. Nick tercenung melihat kehidmatan acara akad nikah yang baru saja terjadi. Tangannya mengusap pelan dadanya, perasaan seperti pernah mengalaminya kembali muncul. Apa yang terjadi pada Nick tak luput dari pandangan Bila. Gadis itu tak melepaskan pandangannya dari Nick.


“Jaga pandanganmu. Seorang muslim tidak boleh menatap lawan jenis yang bukan muhrim terlalu lama. Kamu pasti tahu itu karena ayahmu itu seorang kyai plus pemilik pesantren.”


Bila memutar bola matanya malas. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Rasanya malas saja menanggapi Arnav. Entah apa yang salah dengan pria itu. Sejak awal bertemu, pria itu seperti tak menyukainya.


“Jaga baik-baik pandanganmu, atau aku akan memesan kacamata kuda untukmu.”


Arnav pergi begitu saja meninggalkan Bila dengan segala kedongkolannya. Terdengar hembusan panjang nafas Bila. Beberapa kali gadis itu memenuhi rongga paru-parunya demi menghilangkan kekesalan dalam hatinya. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju meja prasmanan. Lebih baik mengisi perutnya yang tiba-tiba terasa lapar setelah mendengar kata-kata ketus Arnav.


Nick yang penasaran dengan apa yang dirasakannya, segera mencari Diah. Dia perlu menanyakan hal yang mengganggunya. Akad pernikahan, perasaan seperti pernah mengalami menjadi calon ayah, terus berseliweran di otaknya. Nick menghampiri Diah yang tengah duduk bersama Bryan juga Eni.


“Mom.. bisa kita bicara?”


Diah bangun dari duduknya lalu mengikuti langkah Nick sedikit menjauh dari tempatnya duduk. Mereka memilih berbicara di deretan kursi yang kosong.


“Mom.. apa aku pernah menikah? Apa aku sudah mempunyai istri?”


Mimik wajah Diah berubah ketika Nick menanyakan hal tersebut, tapi wanita itu buru-buru merubahnya. Nick terus memandangi sang mommy yang masih belum menjawab pertanyaannya.


“Mom..”


“Belum pernah. Kamu belum pernah menikah.”


“Really? Tapi kenapa aku seperti pernah berada di situasi seperti Abe? Bahkan aku pernah merasakan bagaimana bahagianya menjadi calon ayah ketika meihat dokter Reyhan dan istrinya yang sedang mengandung.”


“Itu hanya perasaanmu saja. Kamu belum pernah menikah, Nick. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada para sahabatmu.”


“You know what, mom. I don’t trust you. There’s so many things that you hide from me. Too many secrets. (apa mommy tahu. Aku tidak percaya padamu. Terlalu banyak hal yang kamu sembunyikan dariku. Terlalu banyak rahasia). Aku yakin mommy juga sudah meminta semua sahabatku untuk tutup mulut. But it doesn’t matter. I’m gonna find out, no matter what (tapi itu bukan masalah. Aku akan mencari tahu, apapun itu).”


Nick membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menjauhi Diah. Kekecewaannya semakin bertambah pada wanita yang dipanggilnya mommy. Begitu banyak hal yang wanita itu sembunyikan darinya.


“Azizah!”


Sontak Nick menolehkan kepalanya begitu mendengar seseorang menyebutkan nama yang terasa tak asing di telinganya. Matanya menatap liar ke sekelilingnya, mencari orang yang bernama Azizah.


“Ada apa Nick?” tanya Diah cemas.


“Azizah.. nama itu. Aku seperti mengenalnya. Siapa dia mom? Apa ada hubungannya denganku?”


“Azizah maksudmu anak kecil itu?”


Diah menunjuk asal pada seorang anak berusia enam tahun yang tengah mengambil es krim ditemani oleh ibunya. Kepala Nick menggeleng, bukan Azizah itu yang dimaksud.


“Azizah.. Azizah.. Iza.. aaarrrggghhh..”


“Nick!”


Semua perhatian langsung tertuju pada Diah saat wanita itu berteriak memanggil anaknya. Bila bergegas menghampiri begitu melihat Nick tengah berjongkok sambil menahan rasa sakit di kepalanya. Gadis itu berjongkok di depan Nick kemudian memegang kedua tangannya.


“Nick.. tenang Nick.. tarik nafas dalam-dalam.. tenangkan pikiranmu.”


Nick memejamkan kedua matanya. Perlahan dia mulai melakukan apa yang dikatakan Bila. Perlahan namun pasti, dirinya kembali tenang. Bila terus membimbing Nick untuk menarik dan mengeluarkan nafas pelan-pelan dengan kedua tangan masih menggenggam tangan Nick.


“Ehem!!”


Refleks Bila melepaskan pegangan tangannya begitu mendengar deheman keras dari arah belakangnya. Gadis itu menolehkan kepalanya. Nampak Arnav sudah berdiri di belakangnya dengan segelas air putih di tangan. Arnav menyodorkan gelas di tangannya pada Nick.


“Minum dulu, Nick.”


Nick mengambil gelas dari tangan Arnav lalu meneguknya sampai habis. Denis membantu Nick berdiri kemudian mendudukkan pria itu di salah kursi yang ada di dekat mereka. Dengan cemas, Diah menghampiri namun Nick mengangkat tangannya, meminta wanita itu tak mendekat. Bryan membawa Diah sedikit menjauh.


“Diah.. sudah kubilang, harusnya kamu tidak usah menutupi apa yang terjadi.”


“Lalu aku harus bagaimana? Mengatakan semuanya kalau dia sudah memiliki istri? Bahwa mertuanya yang brengsek itu berusaha memisahkan mereka sampai mereka mengalami kecelakaan? Kamu lihat sendiri bagaimana reaksinya begitu mendengar nama Azizah. Itu baru namanya yang terdengar, bagaimana kalau mereka bertemu. Aku ngga mau ambil resiko kehilangannya.”


“Belum tentu itu yang akan terjadi. Dia seperti itu karena kamu yang terus menutupi kebenaran darinya. Lihat bagaimana sikapnya padamu? Kalau kamu terus seperti ini, dia hanya akan semakin menjauh darimu.”


“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli Nick menjauhiku atau bahkan membenciku. Yang penting dia tetap hidup, itu sudah cukup untukku.”


“Aku harap kamu tidak keras kepala seperti ini. Nick berhak tahu soal Iza, mereka masih terikat tali pernikahan. Mungkin itu tak masalah untuk Nick, tapi Iza.. bagaimana hidupnya nanti? Dia bukan seorang janda tapi juga tak memiliki suami. Apa kamu pernah memikirkan hal itu?”


“Aku akan membuat Nick menceraikan Iza. Dia tidak boleh berhubungan lagi dengan Iza.”


“Diah..”


Tanpa mempedulikan protesan Bryan, Diah meninggalkan pria itu. Melihat Nick yang seperti tadi kembali membangkitkan kekhawatirannya. Apapun caranya dia akan membuang nama Iza dari hidup anaknya, selamanya. Kalau perlu dia akan menikahkan Nick dengan Bila. Agar Nick bisa memulai hidup yang lebih indah dan tenang tanpa kehadiran masa lalu yang hanya membawa penderitaan.


🍂🍂🍂


No comment🤐🤐🤐


Masih mode otak ngebul