
Iza merapihkan kemeja batik yang dikenakan Nick. Hari ini akan digelar resepsi pernikahan Ridho dan Meta. Resepsi sendiri diadakan di halaman masjid yang ada di dekat kediaman Meta. Halaman masjid yang cukup luas memungkinkan menggelar pesta secara outdoor. Semua persiapan dilakukan oleh Mina dan Lina, juga dibantu oleh pihak WO.
Kondisi Nick sudah lebih tenang. Rico menghubungi Diah dua hari lalu dan mengabarkan keadaan Edo yang baik-baik saja. Dia sekarang sedang menghabiskan waktu bersama anak perempuannya dan berjanji akan datang ke Bandung secepatnya.
Halaman masjid mulai didatangi tamu undangan, pasangan pengantin beserta kedua orang tua sudah berada di panggung pelaminan. Semua sahabat Nick juga ikut datang, termasuk Fahrul, namun Maira tak bisa ikut karena tak bisa meninggalkan bayinya. Nick dan Iza juga turut mengundang Bila serta Kyai Ahmad, dan seperti biasa duo Apep dan Jamal juga turut serta. Iza juga mengundang dokter Rega untuk datang.
Seorang pemuda yang tak lain adalah Rivan, datang membawakan souvenir untuk tamu undangan. Setelah meletakkan di dekat meja penerima tamu, dia segera berbaur dengan para tamu. Kemudian matanya menangkap sosok Nick tengah bersama Iza dan para sahabatnya. Rivan memang sudah diberitahu perihal Nick yang masih hidup, tentu saja dia senang mendengarnya. Dengan cepat pemuda itu menghampiri Nick.
“Bro Nick!”
Nick menolehkan kepalanya saat Rivan memanggilnya. Dia terkejut ketika tiba-tiba Rivan melompat naik ke tubuhnya. Pemuda itu juga berteriak kesenangan, menarik perhatian beberapa tamu yang ada di sana. Iza menepuk punggung Rivan, menyuruhnya untuk turun.
“Udah kaya monyet aja lo, main nangkring di badan orang,” sembur Arnav.
“Tuan Takur!! Buset kangen gue.”
Rivan juga memeluk Arnav, dia bahkan bergelantungan di tubuh pria itu dengan kedua tangannya bertumpu di leher Arnav.
“Turun oii!! Buset nih beruk satu.”
Dengan cepat Rivan turun, sambil dirinya tak berhenti tergelak. Walau sering beradu mulut, tapi dia memang merindukan Arnav, mantan murid mengajinya. Nick memandangi Rivan dengan seksama. Dia merasakan situasi yang tak asing, namun tidak bisa mengingat siapa Rivan.
“Mas.. ini Rivan, sepupuku. Dulu dia yang mengajarimu mengaji,” jelas Iza.
“Bro… beneran amnesia ya?” tanya Rivan.
“Iya, Van,” jawab Iza.
“Yah.. berarti kita ngga ceesan lagi ya,” wajah Rivan terlihat sendu.
Senyum Nick terbit melihat wajah Rivan seperti orang yang sedang patah hati. Dia mendekati Rivan lalu merangkul bahu pemuda itu.
“Kita kan bisa kenalan lagi. Biar aku ngga ingat kamu, tapi aku tetap bisa ngerasa kalau kita tuh akrab dulunya.”
“Bener bang, sekalinya bestie tetap akan menjadi bestie selamanya. Kaya si tuan Takur noh, kesannya aja jutek ama gue, padahal aslinya sayang banget ama gue.”
Sebuah toyoran mendarat di kepala Rivan, pelakunya sudah pasti Arnav. Rivan malah tergelak, dia senang bisa bertemu lagi dengan Arnav dan pastinya Nick. Di dalam hati, Arnav pun mengakui apa yang dikatakan Rivan barusan. Sesungguhnya dia memang menyayangi Rivan seperti adiknya sendiri. Di saat dirinya terpuruk mengetahui kenyataan Meta telah menikah, Rivan selalu memberinya support.
“Bang.. kapan mau nyusul kak Meta?” celetuk Rivan namun tak dijawab oleh Arnav.
“Dia lagi nunggu ada perempuan khilaf yang mau nerima dia,” celetuk Abe.
“Tenang aja, Van. Kalau dia belum laku sampe akhir tahun, gue daftarin ke biro jodoh,” sahut Denis.
“Udah ada calonnya dia mah. Noh yang lagi ngobrol sama mommy.”
Rivan memutar tubuhnya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Fahrul. Di sana terlihat Diah tengah berbicara dengan Bila. Arnav juga mengikuti arah telunjuk Fahrul.
“Najong, mending jomblo dari pada sama dia,” gerutu Arnav.
“Hahahaha.. fix ini mereka jodoh,” timpal Abe.
“Benci tapi sayang eaaa…” sambung Denis.
“Cantik loh bang. Udah embat aja, dari pada jomblo,” Rivan ikut mengompori. Arnav hanya mendengus kesal mendengar celotehan para sahabatnya.
“Zi…”
Iza menolehkan kepalanya saat sebuah suara memanggilnya. Seorang gadis seusia dengannya datang menghampiri. Dengan senang Iza menyambut kedatangan Rina, sepupunya, anak bungsu abah Rahman. Kedua wanita itu berpelukan erat.
“Zi.. kamu udah bisa lihat?”
“Iya, Rin. Alhamdulillah..”
“Alhamdulillah, ya Allah aku seneng banget. Eh, Nick.. apa kabar? Aku, Rina, sepupunya Iza.”
“Kita pernah ketemu ya? Wajah kamu ngga asing soalnya.”
“Iya, dulu kamu pernah ke rumahku bareng artis Korea hihihi..”
“Ehem!!”
Denis berdehem mendengar ucapan Rina. Gadis itu menoleh ke arah Denis, dia segera mendekati Denis. Pria itu lalu mengenalkan Ayura pada Rina. Dia juga mengenalkan Rina pada Fahrul, Abe, Sansan dan juga Arnav.
“Mana suami kamu?” tanya Denis.
“Ngeledek,” jawab Rina.
“Dih, siapa yang ngeledek. Kan waktu itu kamu bilang mau nikah.”
“Iya, Rin. Sama siapa tuh, aku lupa,” timpal Iza.
“Ngga jadi, Zi. Ngga jodoh kali. Dia keburu dinikahin sama cewek pilihan orang tuanya.”
“Ya ampun kok nasibnya bisa sama kaya tuan Takur sih, kak. Gimana kalau kalian jadian aja,” usul Rivan.
“Jangan.. kan Arnav udah sama dokter Bila,” sela Iza sambil terkikik, Arnav mendelik kesal padanya.
“Kamu aku kenalin sama dokter Rega aja, ya. Dia dokter mataku, masih jomblo, ganteng juga.”
“Ehem!”
Kali ini Nick yang berdehem. Pria itu tak suka istrinya memuji lelaki lain. Iza hanya tertawa kecil, Nick masih sering cemburu kalau dirinya membicarakan soal dokter Rega. Bahkan selalu bersikap posesif jika bertemu dengan Rega. Nick sempat mengusulkan untuk berganti dokter saja, karena selama setahun Iza masih harus bertemu dokter tampan itu untuk kontrol mata.
Pucuk dicita, ulam pun tiba. Panjang umur, sosok yang dibicarakan datang menghampiri. Nick langsung menarik pinggang Iza dan tak melepaskannya. Arnav hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap posesif Nick. Kedatangan Rega, langsung dimanfaatkan Iza untuk mengenalkannya pada Rina.
“Dokter datang sama siapa?” tanya Iza basa-basi.
“Sendiri.”
“Oh iya, kenalin ini sepupu aku, Rina. Rin, ini dokter mata yang aku ceritain tadi.”
Rina melihat ke arah Rega. Dia menangkupkan kedua tangan seraya melemparkan senyuman. Benar apa yang dikatakan Iza, dokter Rega memang tampan. Rega ikut menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda perkenalan, tak lupa dia juga melemparkan senyuman yang semakin membuatnya terlihat tampan. Selain tampan dan ramah, Rega juga orang yang supel. Dengan cepat dia bisa berbaur dengan semua orang di dekatnya.
Arnav yang merasakan tenggorokannya terasa kering, berjalan menuju stand yang memajang aneka minuman. Di saat yang sama, Bila juga datang ke stand yang sama. Mereka tiba bersamaan dan hampir mengambil gelas yang sama. Namun Arnav mengurungkan niatnya mengambil gelas yang dipilih Bila.
“Ngapain kamu ke sini? Kenal sama pengantinnya juga ngga,” ketus Arnav.
“Aku diundang Nick sama Iza, ya. Bisa ngga sih, ngga julid jadi orang,” balas Bila.
“Kamu tuh dokter, calon psikiater tapi judesnya minta ampun. Dijamin pasien yang konsultasi sama kamu kabur semua.”
“Kalau pasiennya ngeselin kaya kamu, ngga masalah kabur juga.”
“Euleuh ieu neng Bila sareng Shah Rukh Khan unggal panggih pasea wae (Ini neng Bila sama Shah Rukh Khan tiap ketemu ribut saja).”
Apep yang ada di dekat mereka ikutan nimbrung, menyela perdebatan kedua orang ini. Bila memang sering menceritakan soal Arnav, sahabat Nick yang menyebalkan padanya. Sejatinya Apep malah berharap Bila berjodoh dengan Arnav, karena kalau dengan Nick sudah tidak mungkin.
“Amit-amit jabang bayi,” seru Bila.
“Kaya ngga ada cewek lain aja di dunia,” sahut Arnav.
“Ah cocok ieu mah. Biasa dari benci timbul cinta. Pak Kyai, ieu neng Bila tos aya jodohna!!”
Mata Bila melotot mendengar ucapan Apep. Buru-buru dia pergi meninggalkan Arnav dan Apep. Berada dekat dengan Arnav memang selalu membuatnya naik darah, ditambah Apep yang ikut-ikut menjodohkan dirinya. Bila memilih menyingkir sebelum Apep semakin menjadi-jadi.
Sementara itu di pelaminan, pasangan pengantin sedari tadi tak henti mengumbar senyum kebahagiaan. Ridho tak menyangka, sebelum resepsi pernikahannya digelar, masalah yang menimpa sang adik sudah bisa selesai. Iza sudah berkumpul kembali dengan Nick, sudah bisa melihat lagi dan hubungan kedua keluarga semakin membaik. Dan yang paling membuatnya bahagia, perasaan di antara dirinya juga Meta sudah berkembang dengan baik. Siapa yang menyangka, Allah mencodongkan hati keduanya dan menumbuhkan perasaan cinta dengan cepat.
Kedua pengantin dipersilahkan beristirahat oleh sang pembawa acara. Meta bisa bernafas lega, karena kakinya sudah pegal, sedari tadi terus berdiri. Wanita itu mendudukkan diri di kursi pelaminan seraya melonjorkan kedua kakinya. Ridho yang duduk di sampingnya, memperhatikan sang istri yang nampak kelelahan.
“Cape ya?”
“Pegel, bang.”
“Nanti habis acara, abang pijetin.”
“Beneran ya, no PHP.”
“Iya, ngga.”
Senyum Meta terbit. Sikap Ridho sudah tak sekaku saat awal pernikahan dulu. Kini pria itu tak sungkan menunjukkan perasaan sayangnya, bahkan memanjakannya. Tak ada penyesalan sedikit pun dalam hatinya telah memilih kakak dari sahabatnya sebagai suami. Dan dia percaya, Arnav akan mendapatkan perempuan lain yang bisa membahagiakan pria itu.
“Bang..”
“Hmm..”
Ridho melihat ke arah stand puding. Tak jauh dari sana duduk seorang wanita yang memang tengah melihat ke arah mereka. Pria itu hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan istrinya. Wanita itu adalah tetangga rumahnya. Sudah sejak dulu dia memang menyukai Ridho. Bahkan sebelum pria itu berangkat ke Kairo, dia menyatakan rasa sukanya secara terang-terangan, namun Ridho tak pernah menanggapinya.
“Siapa dia, bang?” suara Meta membuyarkan lamunan Ridho.
“Dia tetanggaku, cuma beda tiga rumah aja.”
“Dia kayanya suka sama abang.”
“Kok tau?"
“Ya taulah. Feeling seorang perempuan itu jarang salah. Cara dia ngelihat abang udah kaya mau makan abang aja.”
“Kamu cemburu?”
“Emang aku ngga boleh cemburu?”
“Boleh, asal jangan berlebihan. Abang cuma sayang dan cinta sama kamu, itu yang perlu kamu tahu.”
Wajah Meta bersemu merah mendengar pengakuan suaminya. Ridho meraih tangan Meta kemudian mencium punggung tangan istrinya itu. Hal tersebut sukses membuat wajah Meta semakin memerah. Kedua pengantin itu terus saja mengirimkan sinyal-sinyal cinta lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang terluka namun tak berdarah saat menyaksikan semua.
“Jangan diliatin terus, gimana kamu bisa move on kalau gitu,” sindir Bila yang ternyata ada di sebelah Arnav.
“Kasih nasehat itu buat diri kamu sendiri. Kamu juga masih aja suka lihat-lihat Nick. Mereka berdua ngga akan bisa dipisahkan,” balas Arnav.
Kata-kata Arnav sukses membuat Bila bungkam. Memang benar kalau dirinya sesekali masih melihat ke arah Nick. Walau Bila sudah rela melepas Nick dan tidak meneruskan upayanya untuk mendekati pria itu. Namun bukan berarti perasaan dalam dirinya sudah sepenuhnya hilang.
“Gimana cara kamu menerima kenyataan kalau Meta bukan jodohmu?”
Arnav menolehkan kepalanya pada Bila. Ini pertama kalinya gadis itu bertanya dengan nada lembut padanya. Sejenak Arnav terdiam, bertanya-tanya pada dirinya apakah benar dia sudah bisa menerima kenyataan akan pernikahan Meta dan Ridho.
“Tahu dari mana kamu kalau aku sudah bisa menerima kenyataan?”
“Kamu mungkin belum bisa melupakan perasaan yang tertinggal. Tapi sikap kamu ketika berada di dekatnya, sikapmu pada suaminya, menunjukkan kalau kamu sudah bisa menerima kenyataan.”
“Karena aku tahu, Ridho pria yang baik. Dia memang lebih pantas mendampingi Meta daripada aku.”
“Lalu aku juga harus berpikir seperti kamu? Kalau Iza memang lebih baik dariku?”
“Iza datang lebih dulu dalam kehidupan Nick. Dia juga wanita pertama yang sudah membuat Nick jatuh cinta. Dia sudah merubah Nick menjadi sosok yang sekarang. Aku mau tanya, kalau kamu berada di posisi Iza. Mengalami kecelakaan, kehilangan calon anak, kehilangan penglihatan dan suamimu mengalami amnesia, apakah kamu bisa menerimanya?”
Bila tak bisa menjawab kata-kata Arnav. Sebenarnya dia cukup terkejut mendengar apa yang terjadi pada Iza. Gadis itu melayangkan pandangannya ke arah Iza, nampak wanita itu tengah asik berbincang dengan Sansan dan Ayura. Di sampingnya, Nick sedari tadi tak melepas genggaman tangannya.
“Kamu pernah bersikap kasar pada Iza, mencemburui dan memusuhi tanpa sebab. Menganggap dia penghalang hubunganmu dengan Nick. Bagaimana kalau posisinya dibalik? Kamu yang menjadi Iza, apa kamu akan tinggal diam?”
“Tentu saja tidak.”
“Tapi Iza tidak pernah bersikap kasar padamu. Bahkan setelah dia tahu kamu memiliki perasaan padanya, dia juga masih bersikap baik, bukan? Sekarang nilailah dirimu sendiri, apa kamu lebih baik dari Iza atau sebaliknya?”
Arnav beranjak dari duduknya kemudian meninggalkan Bila sendiri. Pria itu memilih menghampiri Rivan. Daripada berbincang dengan Bila, dia lebih senang mendengar celotehan Rivan, walau absurd namun setidaknya bisa membuat hatinya terhibur.
Di sisi lain, Rina nampak tengah berbincang dengan Rega. Sifat keduanya yang sama-sama supel membuat mereka bisa akrab lebih cepat. Kepribadian Rina yang ceria membuat Rega betah berlama-lama dengan gadis itu. Ada saja hal yang mereka bicarakan. Rina memang lebih aktif berbicara dibanding Iza. Tak ayal Rega sering tertawa mendengar celotehan Rina.
“Dokter Rega teh suka ya sama Iza?” tanya Rina di sela-sela pembicaraan.
“Jangan panggil dokter terus, kita ngga lagi di rumah sakit. Panggil nama aja.”
“Ih ngga sopan atuh. Gimana kalau akang? Akang Rega,” Rina terkikik.
“Boleh juga, dari pada dok.. dok.. kaya kodok,” kekeh Rega.
“Kodok ngorok.. kodok ngorok.. ngorok pinggir kali hahaha..”
Rina malah bernyanyi, namun hal itu sukses mengundang tawa Rega. Suasana perbincangan keduanya semakin menyenangkan saja.
“Eh, akang belum jawab pertanyaanku. Akang suka ya sama Iza?”
“Iya, dulu. Sebelum aku tahu kalau suaminya masih hidup. Kalau sekarang, ya aku sudah bisa merelakan. Bisa melihat Iza tersenyum bahagia aja, aku udah bersyukur kok.”
“Kok nyesek ya dengernya.”
“Hahaha… biasa aja. Kamu sendiri gimana? Masa gadis secantik kamu masih jomblo?”
“Dulu ngga jomblo, kang. Aku udah punya calon suami, eh taunya ngga jodoh. Aku cuma kebagian jagain jodohnya orang aja.”
“Ngga apa-apa, In Syaa Allah tetap dapat pahala kok.”
Terdengar tawa Rina disusul oleh Rega. Iza melirik ke arah keduanya. Diam-diam dia tersenyum melihat kedekatan Rina dengan Rega. Semoga saja mereka bisa berjodoh dan menyusul ke pelaminan. Bukan hanya Iza yang merasa senang, tapi Nick juga lega. Setidaknya di sudah tak perlu khawatir kalau Rega masih menginginkan istrinya.
🍂🍂🍂
Pesta resepsi akhirnya selesai juga. Sudah tak ada lagi tamu yang datang. Tenda, panggung dan peralatan lain sudah mulai dibereskan. Keluarga Ridho juga sudah kembali pulang, termasuk Nick dan Iza. Mereka memilih pulang ke kediaman Rahardi. Sedang pasangan pengantin menginap di rumah orang tua Meta.
Ridho membaringkan tubuhnya di atas kasur, meluruskan punggungnya yang terasa pegal. Meta masuk membawakan secangkir teh hijau hangat untuknya. Ridho menegakkan diri kemudian mengambil cangkir dari tangan sang istri. Perlahan pria itu menyesap teh yang masih terasa panas.
Meta mendudukkan diri di sisi Ridho, lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Ridho menaruh cangkir di atas nakas kemudian memeluk bahu sang istri dari samping. Wajah Meta terlihat sedikit pucat, mungkin saja wanita itu kelelahan setelah menerima ucapan selamat dari para tamu.
“Muka kamu pucat, sayang.”
“Lemes banget aku, bang.”
“Mau makan lagi?”
“Ngga, aku cuma mau tidur.”
“Ya udah, sini tidur.”
Ridho melepaskan pelukannya, lalu membantu Meta naik ke atas kasur. Ditepuknya bantal sebelum sang istri merebahkan kepalanya di sana. Ridho tak langsung berbaring, melainkan menghabiskan tehnya lebih dulu baru kemudian merebahkan tubuh di samping Meta.
“Abang..”
“Hmm..”
“Peluk.”
Meta mengangkat sedikit kepalanya, memberikan ruang untuk Ridho merentangkan lengannya, kemudian dia kembali merebahkan kepala di lengan suaminya. Meta menelusupkan kepala ke dada Ridho, tangannya memeluk pinggang sang suami dengan erat.
“Bang..”
“Hmm..”
“Usapin punggungku dong.”
Tanpa menunggu perintah datang dua kali, Ridho segera mengusap punggung istrinya. Sudah beberapa hari ini Meta begitu manja padanya. Kalau dirinya terlambat pulang dari kampus, maka Meta tak berhenti menghubunginya. Tapi dia justru senang dengan perubahan istrinya ini.
“Bang..”
“Apa sayang?”
“Seharian ini abang belum cium aku.”
Meta mendongakkan kepalanya. Wajahnya sudah seperti anak kecil yang menginginkan makanan kesukaan. Ridho terkekeh mendengar ucapan istrinya. Dirangkumnya wajah Meta kemudian mendaratkan ciuman di bibir manis itu. Meta langsung membalas ciuman Ridho, membuat pria itu terkejut dengan sikap agresif sang istri.
“Bang.. ibadah yuk.”
“Katanya cape.”
“Sekarang udah ngga.”
“Beneran?”
“Huum.”
Tentu saja Ridho sangat senang mendengar ajakan sang istri. Dia kembali memagut bibir Meta, mel*matnya dalam hingga keduanya berbagi saliva. Ridho juga mulai menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Meta, membuat istrinya itu mengeluarkan des*han dan lenguhan disertai gerakan tubuhnya. Setelah cukup memberikan pemanasan, Ridho pun bersiap untuk memasuki sang istri. Usai merapalkan doa, dia memulai penyatuannya. Bersama Meta, dia siap mengrungi surga dunia di malam indah ini.
🍂🍂🍂
Jadi pasangan move on bagusnya yang mana nih?
Arnav - Bila
Rega - Rina
Atau dibalik aja?