
Pemindahan Nick berlangsung lancar. Dokter Steven, dokter saraf yang direkomendasikan oleh dokter Irawan langsung memeriksa kondisi Nick. Walau pria itu masih belum tersadar dari komanya, namun secara fisik kondisinya cukup stabil. Dokter Steven menempatkan Nick di ruang inap, bukan lagi ICU.
Bryan meminta Nick dirawat di ruangan VVIP. Dia ingin sang anak mendapatkan perawatan dan perhatian lebih. Di ruangan ini, baik dirinya, Diah dan para sahabat Nick bisa menunggui dengan lebih nyaman.
Suasana tenang meliputi ruang perawatan VVIP. Tempat untuk menunggu dan ruang perawatan terhalang dinding kaca. Bed untuk pasien memang berada di ruangan terpisah, ini sengaja agar pasien tidak terganggu. Ruangan tunggu bagi keluarga pasien juga cukup luas, dilengkapi dengan sofa, meja, kamar mandi dan juga kulkas mini.
Bryan juga menyewa sebuah kamar yang ada di lantai paling atas rumah sakit ini untuk Diah beristirahat. Rumah sakit bertaraf internasional ini juga menyediakan fasilitas kamar inap untuk keluarga pasien sekelas kamar hotel. Tentu saja harga yang dibayarkan tidaklah murah. Ditambah ruang perawatan VVIP, Bryan harus merogoh koceknya lebih dalam. Namun itu bukanlah masalah, asalkan sang anak bisa kembali pulih.
Fahrul datang dengan membawakan bermacam makanan. Sejak pagi, mereka memang belum mengisi perut karena sibuk mengurus kepindahan Nick. Pria itu memberikan kotak nasi pada Diah. Dia sengaja membelikan makanan kesukaan Diah. Sejak kemarin wanita itu kehilangan selera makannya.
“Makan dulu mom. Ini aku beli makanan kesukaan mommy.”
“Nanti aja, Rul. Mommy belum lapar.”
“Ayo makan mom. Menjaga Nick juga perlu tenaga. Kalau mommy ikutan sakit gimana? Biar sedikit mommy harus makan,” bujuk Denis.
Atas bujukan Denis, Diah meraih kotak nasi yang dibelikan Fahrul kemudian membukanya. Di antara yang lain, Denis memang yang paling pintar membujuk. Diah memandangi nasi, ayam bumbu hijau dan tumisan sayur yang ada di dalam kotak. Pelan-pelan dia mulai memakan makanannya.
“Om..” Fahrul mendorong kotak nasi pada Bryan.
“Maaf om, aku ngga tahu makanan kesukaan om,” ucap Fahrul.
“Apa aja saya suka.”
“Om makan nasi juga kan?” tanya Abe.
“Iya, saya suka masakan Indonesia.”
“Pantes bahasa Indonesianya lancar bener.”
Arnav menoyor kepala Abe begitu mendengar ucapan konyolnya. Bryan terkekeh melihat keempat sahabat anaknya ini. Di masa terberatnya ini, mereka bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa.
“Maaf karena panik, saya belum sempat berkenalan. Nama saya Bryan.”
“Saya Abe, ini Fahrul, Denis dan yang kaya tuan takur itu, Arnav. Mereka semua mantan teh celup, om.”
Toyoran dan tepakan hinggap bertubi-tubi di kepala Abe. Diah mengulum senyum melihat kelakuan mereka. Bryan kembali terkekeh. Bisa dibayangkan, Nick pasti bahagia mempunyai sahabat seperti mereka.
“Kamu kemana aja Den, kenapa baru kelihatan?” tanya Diah.
“Maaf mom. Sebenarnya aku mau kasih kejutan buat kalian, terutama Nick. Alhamdulillah aku udah jadi mualaf mom.”
"Alhamdulillah," jawab Diah dan yang lainnya.
“Pantesan si kampret tadi ikutan shalat. Gue kirain dia ikut-ikutan doang biar ngga gabut. Berarti lo udah sunat dong,” celetuk Arnav.
“Biasa aja ngomongnya, nyet,” Denis menoyor kepala Abe.
“Gimana? Alot ngga pas disunat hahaha,” Fahrul tak dapat menahan tawanya.
“Pastinya alot. Kebayang tenaga yang harus dikeluarin tuh bengkong,” sambung Abe.
“Buset bengkong!”
Suara gelak tawa kembali terdengar. Fahrul sampai terbatuk karena terus tertawa membayangkan sahabatnya ini menjalani ritual khitan di saat usianya seperempat abad. Bryan juga tak bisa menahan tawanya. Dia seperti ikut tersindir juga oleh ucapan mereka.
“By the way, om ini siapanya mommy?”
Denis langsung mengalihkan pembicaraan ke arah Bryan. Dia tak mau terus menjadi bulan-bulanan sahabat durjananya ini. Mata Abe, Fahrul dan Arnav langsung tertuju pada Bryan. Diah hanya menundukkan kepalanya. Membiarkan pria itu yang menjawab pertanyaan.
“Kepo lo,” sahut Abe.
“Bryan ini daddy-nya Nick,” akhirnya Diah yang menjawab karena Bryan tak kunjung membuka suaranya.
“Maksud mommy, om ini daddy yang suka Nick ceritain ke kita-kita?” tanya Abe.
“Iya.”
“Alhamdulillah, akhirnya mommy bisa ketemu lagi. Maaf om kalau kita SKSD, tapi Nick emang suka cerita soal om.”
“Nick cerita apa aja?”
“Dia bilang kalau kangen banget sama om dan pengen banget ketemu sama om. Dia bahkan punya tabungan khusus yang uangnya nanti mau dipakai buat nyari om. Rencananya dia mau ke Chicago sama Iza dan anak mereka nanti.”
Wajah Arnav nampak sendu ketika mengatakan hal tersebut. Semua yang ada di ruangan terdiam. Kesedihan tiba-tiba menyeruak di antara mereka. Mata Diah kembali berkaca-kaca.
“Kalian sudah lama berteman dengan Nick?” Bryan mengganti topik pembicaraan begitu melihat Diah hampir menangis.
“Kalau aku sama Denis dari SMP, om. Kalau Fahrul sama Abe kenal pas kuliah.”
“Sudah lama juga ya.”
“Alhamdulillah, om. Kita berteman dari jaman jahiliyah sampai hijrah bareng-bareng. Mommy juga udah seperti ibu sendiri. Boleh dibilang kita ini keluarga, om,” tutur Fahrul.
“Kalau Topan?”
“Topan juga teman kuliah, om. Cuma dia lulus duluan,” jawab Denis.
“Iya om, dia kuliah cuma dua tahun udah lulus aja. Dekan langsung yang memberikan kelulusan, ngga pake sidang skripsi lagi,” sahut Abe.
“Alias DO hahaha,” jelas Arnav.
Tak ayal Bryan ikut tertawa mendengarnya. Berbicara dengan anak-anak di depannya ini memang sangat menghibur. Dia melirik ke arah Diah yang wajahnya sudah kembali terlihat ceria.
“Kalau kalian panggil Diah dengan sebutan mommy. Saya harap kalian mau memberikan panggilan daddy untuk saya.”
“Oh pasti bisa om. Kan om, itu daddy-nya Nick,” celetuk Arnav.
“Jangan-jangan om eh daddy mau balikan ya sama mommy?” selidik Fahrul.
“Widih cinta lama belum kelar nih judulnya,” goda Abe. Wajah Diah langsung bersemu merah.
“Kita dukung mom, dad. Ayo kita ketemu penghulu sekarang,” Denis mulai mengompori.
“Betul tuh. Gimana kalau kalian nikah aja dulu. Jadi nanti begitu Nick sadar, bakal jadi kejutan manis buat dia.”
Diah dan Bryan saling berpandangan. Sepertinya mereka harus memikirkan usulan Abe. Nick pasti bahagia ketika sadar nanti mengetahui dua orang yang begitu disayanginya kembali bersatu dalam ikatan pernikahan.
🍂🍂🍂
Airmata Mina bercucuran melihat sang putri yang terbaring lemah. Sepertinya Tuhan tengah menguji dirinya. Baru saja dia kehilangan wanita yang selama ini menjadi pengganti ibunya, kini sang putri dan menantunya juga tengah berjuang melawan maut.
Digenggamnya tangan Iza dengan kedua tangannya. Netranya terus menatap wajah pucat Iza. Mata anaknya itu masih setia terpejam, Iza seakan enggan untuk bangun. Mungkin saja dia tahu begitu tersadar, kenyataan pahit sudah menantinya.
“Zi.. sayang.. bangun nak. Ini ummi. Bangunlah sayang, ummi percaya kamu anak yang kuat. Ummi berjanji akan berjuang lebih keras lagi untuk membuatmu bahagia.”
Mina mencium punggung tangan Iza kemudian membawa ke pipinya. Seorang suster masuk dan meminta Mina keluar karena waktunya sudah habis. Dengan berat hati wanita itu meninggalkan ruang perawatan intensif tersebut. Dia kembali menuju ruang tunggu yang ada di bagian luar ruang ICU kemudian mendudukkan diri di samping Rahardi.
Semenjak datang, Mina belum berbicara sepatah kata pun pada suaminya itu. Entah mengapa, hatinya yakin kalau suaminyalah penyebab Iza dan Nick kecelakaan. Apalagi ketika Rivan mengatakan kalau Nick terpaksa dipindahkan ke rumah sakit lain karena peralatan di sini tidak memadai, semakin membuat perasaan kecewa wanita itu menumpuk.
Tak berapa lama, datang seorang pemuda yang tak lain Gunadi. Pemuda itu masih dirundung perasaan bersalah. Secara tidak langsung, dirinya juga menjadi penyebab kecelakaan. Melihat Mina, dia segera menghampiri istri dari dosen pembimbingnya.
“Ibu.. tolong maafkan saya.”
Kepala Mina terangakat melihat seorang pemuda berjongkok di depannya. Sejenak wanita itu hanya memandangi Gunadi. Dia tak mengengal Gunadi dan belum pernah berjumpa dengannya.
“Kamu siapa?”
“Nama saya, Gunadi, bu. Saya berada di lokasi kecelakaan putri ibu. Saya..”
“Gun.. pulanglah. Kamu sudah tidak ada urusan lagi di sini,” sela Rahardi.
“Tapi pak..”
“Pulanglah. Apa yang terjadi bukan kesalahanmu, tapi kesalahan saya. Pulanglah..”
Rahardi berdiri dari duduknya lalu menarik Gunadi untuk berdiri. Dia menepuk pelan pundak pemuda itu dan kembali menyuruhnya pulang. Akhirnya Gunadi menuruti perkataan Rahardi. Setelah berpamitan dengan Mina, pemuda itu berlalu. Rahardi menoleh pada Mina yang masih belum bereaksi apapun. Kemudian pria itu menjatuhkan diri, duduk bersimpuh di depan sang istri.
“Ummi.. maafkan abi... ini semua kesalahan abi. Apa yang terjadi pada Iza juga Nick karena abi. Maafkan abi.”
Hati Mina mencelos mendengar perkataan suaminya. Ternyata dugaannya benar, pria di hadapannya inilah penyebab kecelakaan yang menimpa putrinya. Kedua tangannya mengepal, mencoba menahan emosi yang membuncah di dalam dada.
“Ceritakan,” suara Mina terdengar bergetar.
Tangan Mina semakin terkepal erat mendengar cerita sang suami. Airmatanya kembali mengalir membasahi pipinya. Bukan hanya Mina, namun Anton dan Winny yang turut mendengarkan juga dibuat terkejut. Mereka tak menyangka Rahardi akan berbuat sejauh itu. Tangan Rahardi terulur meraih tangan sang istri.
“Jangan sentuh aku!” Mina menarik tangannya dengan cepat.
“Ummi..”
“Ridho sedang dalam perjalanan pulang. Setelah kondisi Iza membaik, kita berpisah. Aku dan Ridho yang akan mengurus Iza.”
“Mina.. maafkan aku..”
“Kamu sudah membuat putriku menderita. Bukan hanya Iza, tapi juga Nick, menantumu sendiri. Bahkan kamu sudah membunuh calon cucuku. Maaf seperti apa lagi yang kamu inginkan dariku.”
“Maafkan aku.. aku benar-benar menyesal,” Rahardi mulai menangis.
“Jika kamu benar-benar menyesal, maka lepaskan aku. Biarkan kami bahagia tanpa dirimu.”
“Tolong Mina.. aku tak bisa hidup tanpa kalian.”
“Kamu membutuhkan kami, tapi apa pernah kamu peduli dengan kebahagiaan putrimu? Pernahkan kamu peduli dengan keluhanku akan sikap keras kepalamu? Kamu tidak peduli apapun selain dirimu. Jadi, ada tidaknya kami tidak ada pengaruhnya untukmu.”
Mina berdiri kemudian pergi dari hadapan Rahardi. Winny bergegas menyusul adik iparnya itu. Sebagai wanita, dia tahu betul apa yang dirasakan Mina. Winny menghampiri Mina yang terduduk di salah satu ruang tunggu yang sepi. Dia mendudukkan diri di samping Mina kemudian memeluknya.
Tangis Mina semakin pecah dalam pelukan kakak iparnya. Bukan keputusan yang mudah untuk berpisah dengan suami yang telah mendampinginya lebih dari dua puluh tahun. Tadinya dia masih berharap Rahardi akan kembali seperti dulu, menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka. Tapi harapannya sia-sia belaka, harta dan tahta telah mengubah hati pria itu menjadi batu.
🍂🍂🍂
Perawat segera memanggil dokter Bisma begitu melihat Iza terbangun dari komanya. Melihat dokter Bisma yang datang tergesa ke ruang ICU, Rahardi, Mina dan yang lainnya langsung menegang. Mereka takut sesuatu yang buruk menimpa Iza. Mina memeluk Winny erat, ketakutan begitu melandanya. Selang sepuluh menit kemudian, dokter Bisma keluar dari ruang ICU.
“Dokter.. bagaimana keadaan anak saya?” tanya Rahardi.
“Pasien sudah sadar. Kita masih harus memantaunya sebentar lagi. Kalau kondisinya benar-benar sudah stabil, kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap.”
“Kami boleh melihatnya dok?”
“Maaf, demi ketenangan pasien, kalian belum boleh masuk. Tunggu sampai kami memindahkannya.”
“Baik dok.”
Dokter Bisma menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi. Mina tak henti mengucapkan syukur dalam hati. Mereka kembali ke ruang tunggu. Beberapa kali Rahardi melirik ke arah istrinya. Sejak Mina mengatakan ingin berpisah, wanita itu sudah tak mempedulikannya lagi.
🍂🍂🍂
Setelah kondisi Iza stabil, dokter Bisma memindahkannya ke ruang rawat inap. Dokter itu juga meminta dokter Rega untuk memeriksa mata Iza nanti. Mina terus duduk di samping bed Iza, menunggu putrinya terbangun.
Tidur Mina terusik begitu merasakan gerakan tangan Iza. Kepala Mina terangkat, nampak Iza mulai sadar. Tangan Mina bergerak memijit tombol untuk memanggil perawat. Rahardi, Anton dan Winny langsung menghampiri bed Iza.
Usai memeriksa kondisi Iza, suster yang bertugas keluar dari kamar. Sesuai perintah dokter Bisma, begitu pasien tersadar, dia harus memanggil dokter Rega. Namun dokter spesialis mata itu tak bisa langsung memeriksa Iza, karena tengah berada di ruang operasi.
“Zi.. sayang.. alhamdulillah kamu sudah sadar, nak.”
“Ummi.. aku ada di mana?”
“Kamu di rumah sakit sayang.”
Iza mencoba mengumpulkan semua kesadarannya. Matanya mencoba memandang sekeliling, namun hanya kegelapan saja yang di dapatnya. Tangannya bergerak memegang kedua netranya yang tertutup perban putih.
“Kenapa mataku diperban ummi..”
Iza berusaha melepas perban yang menutupi matanya, namun dengan cepat Mina menanahannya. Sebisa mungkin wanita itu menahan tangis yang sedari tadi hendak keluar.
“Apa yang terjadi padaku, ummi?”
“Kamu.. mengalami kecelakaan,” Mina menjawab dengan suara tersendat.
Iza terdiam sejenak. Dia berusaha mengumpulkan kembali ingatannya yang masih bersepihan. Sedikit demi sedikit wanita itu bisa merangkai kembali kejadian yang menimpanya. Dirinya dengan Nick sedang berada di dalam mobil. Mereka tengah berusaha kabur dari kejaran Rahardi. Kemudian sebuah kendaraan menghantam mereka tanpa sempat menghindar. Ingatannya berhenti sampai di situ.
“Nick.. bagaimana keadaan Nick? Dia baik-baik aja kan ummi?” Iza mulai terlihat cemas.
“Dia masih dalam perawatan dokter. Iya.. dia baik-baik saja, hanya masih membutuhkan istirahat.”
Mina menutup mulut dengan tangannya, saat tangisnya hampir saja keluar. Kemudian Iza meraba perutnya. Benturan keras yang menghantamnya membuatnya bertanya-tanya juga akan keadaan anak yang di kandungnya.
“Anakku... bagaimana dengan anakku? Dia baik-baik aja kan ummi?”
Tak ada kekuatan dari Mina untuk menjawab pertanyaan Iza kali ini. Wanita itu hanya menggenggam erat tangan sang putri dengan airmata bercucuran. Winny pun tak sanggup melihat keadaan keponakannya. Dia menangis dalam pelukan suaminya.
“Ummi.. bagaimana dengan anakku? Dia baik-baik aja kan? Ummi..”
“Anakmu...” Mina tak sanggup meneruskan ucapannya.
“Kenapa dengan anakku ummi? Kenapa ummi?”
“Anakmu tidak bisa diselamatkan.”
“Bohong! Abi bohong kan ummi. Anakku baik-baik aja kan? Abi bohong kan ummi..”
“Zi..”
Mina berdiri dan langsung memeluknya. Iza yang belum percaya apa yang dikatakan Rahardi masih terus menyangkal. Mina semakin mengeratkan pelukannya saat Iza terus saja menyangkal kebenaran yang didengarnya.
“Anakku masih hidup kan, ummi? Dia baik-baik aja kan? Abi bohong ummi. Abi memang tak menginginkan anakku, jadi abi berbohong. Iya kan?”
“Yang sabar sayang.. Allah lebih sayang anakmu.”
“Ummi bohong.. anakku baik-baik aja. DIA BAIK-BAIK AJA!!!”
Iza berteriak keras diiringi isak tangisnya. Sebisa mungkin Mina menenangkan anaknya, namun kekecewaan, kesedihan dan kemarahan yang menghantam bersamaan, membuat Iza kehilangan kendali. Dia terus berteriak dan semakin histeris.
“INI SEMUA KARENA ABI!!! ABI TIDAK MENGINGINKAN ANAKKU!! KEMBALIKAN ANAKKU!!”
Kondisi Iza semakin histeris. Anton bergegas memanggil suster. Melihat keadaan pasien yang histeris, suster memanggil dokter jaga yang bertugas. Sang dokter memerintahkan memberikan obat penenang.
Tubuh Iza terkulai, tak lama setelah perawat menyuntikkan cairan benzodiazepin ke dalam tubuhnya. Mina membenarkan letak kepala Iza. Anak perempuannya ini kembali tertidur, namun Mina tak berani membayangkan reaksinya bila terjaga lagi. Apakah Iza bisa menerima kenyataan, atau kembali histeris.
🍂🍂🍂
Pelan-pelan Mina dan Winny memberi pengertian pada Iza, begitu wanita itu terbangun. Walau masih belum bisa menerima sepenuhnya, namun kondisi Iza sudah lebih tenang. Tak dipungkiri dirinya begitu sedih, anak yang tengah dinantikannya bersama dengan Nick ternyata tak bisa melihat dunia.
Mina dan Winny bergantian menenangkan Iza. Meta yang langsung datang begitu mendengar sahabatnya telah siuman juga ikut menenangkan wanita itu. Perlahan namun pasti, kondisi Iza mulai tenang.
“Selamat sore.”
Semua yang yang ada di ruangan menolehkan wajahnya ke arah seorang pria berusia tiga puluh tahun dengan snelli yang melekat di tubuhnya dan stetoskop tergantung di lehernya. Dokter tampan itu mendekati bed Iza diikuti seorang suster di belakangnya.
“Perkenalkan, nama saya Rega. Saya adalah dokter spesialis mata. Mulai sekarang saya yang akan pasien,” dokter ramah itu memperkenalkan dirinya pada Iza dan semua orang yang ada di ruangan.
“Kita periksa keadaan matanya dulu ya. Suster... tolong dibuka perbannya.”
Suster yang bersama dokter Rega mendekat kemudian mulai melepaskan perban yang menutupi kedua mata Iza. Jantung Rahardi berdetak kencang, menanti detik-detik terbukanya perban tersebut. Hatinya terus berdoa, semoga apa yang dikatakan dokter Bisma beberapa waktu lalu tidak menjadi kenyataan. Semoga penglihatan Iza baik-baik saja.
“Ok.. sekarang coba buka matanya pelan-pelan.”
Sesuai intruksi dokter, Iza pelan-pelan membuka matanya. Mata Iza mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bisa terbuka dengan sempurna. Wanita itu menolehkan wajahnya ke kanan dan kiri, namun tak ada satupun yang terlihat di depan matanya. Keadaannya masih sama seperti matanya tertutup tadi, gelap.
“Kenapa gelap dok. Apa listriknya mati? Kenapa saya tidak bisa melihat apa-apa?”
Mina menutup mulut dengan kedua tangannya. Kenyataan pahit kembali menghantamnya. Dengan tenang dokter Rega mendekat, dia merogoh saku jasnya kemudian mengeluarkan sebuah senter kecil. Dia mengarahkan senter ke arah mata Iza, menggerakkannya ke kiri dan kanan. Melihat tak ada reaksi dari Iza, dokter Rega mengakhiri pemeriksaan.
“Besok kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada ibu...” dokter Rega melihat data pasien di tangan suster yang mendampinginya.
“Ibu Noor. Kami akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan keadaan ibu. Sepertinya serpihan kaca yang mengenai mata, melukai bagian dalam mata. Tapi untuk lebih jelasnya kita lihat besok. Sekarang ibu Noor istirahat saja, jangan pikirkan apapun dan jangan lupa terus berdoa.”
Dokter Rega menyentuh pelan bahu Iza untuk memberikan dukungannya. Dokter itu kemudian pamit pergi seraya melemparkan senyuman. Mina segera menghampiri anaknya.
“Semua akan baik-baik saja. In Syaa Allah semua akan baik-baik saja. Allah tidak akan memberikan cobaan melebih batas kemampuan hamba-Nya, percayalah Zi.”
Mina kembali memeluk putrinya. Iza hanya mampu terdiam. Dalam hatinya terus berdoa kalau ini hanyalah sementara. Dia pernah mendengar korban kecelakaan mengalami kebutaan sementara. Namun kondisinya kembali normal setelah perawatan. Dirinya berharap bisa seperti itu. Kalau tidak, dia tak berani bertemu dengan Nick. Iza tak ingin Nick susah memiliki seorang istri yang cacat. Airmata kembali mengalir dari kedua matanya.
🍂🍂🍂
Indonesia masuk final Thomas cup, yess😁