The Nick's Life

The Nick's Life
Bad Situation



Denis terlonjak ketika mendapat kabar dari Abe kalau ayah Abe telah menemukan keberadaan Nick. Buru-buru dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pria itu tak berlama-lama di sana, sepuluh menit kemudian dia keluar lalu berpakaian. Dihampirinya Azka yang tengah menikmati sarapan sambil menonton televisi.


“Azka...”


Denis mengangkat tubuh Azka, menciumi wajahnya bertubi-tubi lalu memutar-mutar tubuh anak itu. Azka berteriak-teriak senang sekaligus takut. Ayura yang tengah berada di dapur segera menghampiri.


“Ada apa ini?”


Diturunkannya Azka lalu mendudukkannya di tempat semula. Kemudian Denis menghampiri Ayura. Kini giliran istrinya itu yang digendong dan diajak berputar-putar. Ayura menjerit saat Denis melakukannya. Dia memeluk erat leher suaminya itu. Denis menurunkan Ayura kemudian mengecup bibirnya berkali-kali. Lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.


“Nick sudah ketemu. Dia sudah ketemu, Ay..”


“Alhamdulillah. Di mana dia?”


“Dia dirawat di rumah sakit Ibnu Sina.”


“Di mana itu?”


“Di Bandung. Kita ke Bandung hari ini. Kamu siap-siap ya, sebentar lagi Abe jemput. Azka mau jalan-jalan ke Bandung?” Denis menoleh ke arah Azka.


“Mau pa.. yeee.. jalan-jalan..”


Anak itu bersorak senang. Ayura tersenyum melihatnya, lalu menarik tangan Denis ke meja makan, dia sudah menyiapkan sarapan. Kemudian Ayura masuk ke dalam kamar. Wanita itu perlu menyiapkan pakaian dan barang-barang untuk dibawa ke Bandung.


Saat tengah menyiapkan barang bawaan, terdengar bel di pintu. Ayura bergegas keluar kamar lalu membukakan pintu untuknya. Dalam pikirannya pasti Abe yang datang untuk menjemput. Benar saja, nampak Abe dan Sansan berdiri di depan pintu. Ayura segera mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Tak berselang lama bel kembali berbunyi. Lagi, Ayura membukakan pintu. Wanita itu terkejut melihat dua orang pria berseragam coklat berdiri di depan pintu unit apartemen. Sejenak dia terpaku melihat dua petugas polisi mengunjungi apartemen suaminya.


“Selamat pagi, bu. Bapak Denis Bramastanya ada?”


“A.. ada. Ada keperluan apa ya?”


“Siapa Ay?”


Denis yang curiga melihat Ayura hanya terpaku di depan pintu, segera menghampirinya. Pria itu terkejut melihat polisi mendatanginya sepagi ini. Seingatnya dia tak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.


“Dengan bapak Denis Bramasta?”


“Iya saya sendiri. Ada apa ya?”


“Bapak kami tangkap atas laporan pelecehan seksual pada saudari Reisa Indriani,” petugas itu memperlihatkan surat penangkapan pada Denis.


“Tunggu.. tunggu.. pelecehan seksual? Saya ngga pernah melakukannya pak.”


“Berikan keterangan bapak di kantor saja. Sekarang, silahkan ikut kami.”


“Pak.. suami saya ngga bersalah. Ini pasti salah paham.”


Ayura berusaha menahan petugas tersebut untuk membawa suaminya. Abe yang penasaran menghampiri sahabatnya. Dia terkejut dua orang polisi berusaha membawa Denis pergi.


“Sebentar.. sebentar pak, ada apa ini? Kenapa bapak mau membawa teman saya?”


“Kami mendapat laporan kalau bapak Denis telah melakukan pelecehan seksual pada saudari Reisa Indriani. Mohon kerjasamanya, silahkan ikut ke kantor.”


“Ini salah paham. Itu tuduhan palsu, teman saya ngga akan melakukan itu, saya berani jamin.”


“Pelapor sudah memberikan bukti juga saksi. Silahkan bapak datang ke kantor untuk memastikan. Untuk saat ini pak Denis harus ikut bersama kami.”


“Den..”


“Gue ngga apa-apa, gue akan ikut mereka. Lo ke Bandung aja, pastiin kalau itu bener Nick. Jangan pikirin gue dulu. Tolong bawa Ayura sama Azka sekalian. Gue takut kalau mereka sendirian di sini.”


“Mari pak.”


Denis mengangguk kemudian mengikuti kedua petugas tersebut. Karena kooperatif, mereka tak harus memborgol tangan Denis. Baru beberapa langkah berjalan terdengar teriakan Azka memanggilnya.


“Papa!! Papa!!”


Denis menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya. Lewat tatapannya dia meminta ijin pada petugas untuk menghampiri sang anak. Petugas itu hanya menganggukkan kepalanya. Denis berlari ke arah Azka lalu berjongkok seraya memeluknya.


“Papa mau kemana? Katanya papa mau ke Bandung sama Azka.”


“Papa ada pekerjaan dulu. Azka sama mama dan om Abe dulu, ya.”


“Kenapa papa pergi sama pak polisi?”


“Pak polisi minta tolong sama papa. Jadi papa harus pergi sama mereka. Azka jangan nakal selama papa pergi.”


“Katanya papa ngga akan tinggalin Azka.”


“Papa cuma pergi sebentar sayang. Nanti papa pulang lagi. Azka percaya papa?”


Azka menganggukkan kepalanya. Denis mencium kening Azka lalu memeluknya lagi. Ayura menghampiri suami dan anaknya. Denis berdiri kemudian memeluk Ayura erat. Baru saja kebahagiaan menghampiri mereka, sudah ada badai lagi yang menerjang.


“Aku pergi dulu. Jaga diri kalian dengan baik.”


“Iya.”


“Ay.. kamu percaya aku kan?”


“Aku percaya. Buktikan kalau kamu tidak bersalah.”


Denis mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri. Perlahan dia melepaskan pelukannya. Sebelum pergi pria itu mendaratkan ciuman di kening Ayura. Setelah itu Denis berbalik dan mengikuti petugas polisi yang masih menunggunya. Ayura membawa Azka ke dalam gendongannya. Mata Azka terus memandangi punggung Denis yang menghilang dibalik pintu lift.


🍂🍂🍂


Berita penangkapan Denis tentu saja mengejutkan orang-orang yang mengenalnya. Apalagi berita itu sudah tayang di infotainment. Agensi tempat Denis bekerja langsung memutuskan kontrak kerja secara sepihak karena tak mau ikut terkena imbas pemberitaan miring tentang director of photography yang tengah menanjak namanya.


Setelah berhasil merusak rumah tangga Fahrul, kini Reisa mengincar Denis. Karena pria itu yang menyebabkan hubungannya dengan Fahrul kandas. Wanita tersebut membalaskan dendamnya dengan menyebarkan fitnah keji kalau dirinya menjadi korban pelecehan seksual Denis. Simpati pun banyak berdatangan pada artis muda itu, sedang Denis menuai hujatan banyak orang.


Diah dan Bryan masih bertahan di apartemennya. Baru saja mereka akan berangkat ke Bandung ketika Diah melihat berita Denis di televisi. Keduanya tengah menunggu Abe juga Arnav. Bahkan tadi Topan menghubungi dan mengatakan akan datang juga ke apartemen. Bryan pun langsung menghubungi pengacara kenalannya untuk membantu proses hukum Denis.


Diah bergegas membukakan pintu, Abe, Arnav dan Topan datang bersamaan. Kemudian matanya menangkap Ayura dan Azka yang berdiri di samping Sansan. Wanita itu menghampiri Ayura kemudian memeluknya.


“Sabar Ayura.. mommy yakin Denis tidak melakukannya. Kamu harus percaya suamimu.”


“Iya mom.”


Mommy mengajak Ayura masuk, dia menggandeng tangan Azka. Anak laki-laki itu nampak muram. Rencana pergi bersama harus gagal karena Denis tiba-tiba harus pergi ke kantor polisi. Sansan mengajak Azka bermain game di balkon, di saat para orang dewasa tengah membicarakan perihal Denis.


“Daddy sudah kirim pengacara untuk mendampingi Denis di kantor polisi. Kita harus membuktikan kalau tuduhan Reisa tidak benar.”


“Mommy sama daddy berangkat aja ke Bandung. Lo juga Be, bawa Ayura sama Azka seperti pesan Denis. Biar gue sama Topan yang ngurus masalah Denis di sini. Jangan kasih tahu Fahrul dulu,” tutur Arnav.


“Biar ngga gue kasih tahu, dia juga bakalan tau. Ngga lihat lo beritanya viral banget di tv sama medsos. Rese banget tuh cewek,” geram Abe.


“Si Denis masih punya bukti rekaman suara Reisa ngga waktu itu?” tanya Topan.


“Masih kayanya. Tapi gue ngga tahu dia simpen di mana.”


“Bukannya ada rekaman video juga? Sekalian sama rekaman videonya. Buat membuktikan kalau tuduhan Reisa ngga benar.”


“Video apa?”


Semua langsung bungkam mendengar pertanyaan Ayura. Mereka lupa kalau Denis sudah menikah dengan Ayura. Arnav nampak berdehem beberapa kali, Abe hanya menundukkan kepalanya. Sedang Topan pura-pura tak mendengar, dia merutuki dirinya sendiri yang salah bicara saking emosinya.


“Video apa? Kalau itu bisa membuktikan Denis ngga bersalah, aku akan bantu cari.”


“Ngga usah Yu.. Gue lupa kalau video itu udah ngga ada,” jawab Topan.


“Kita berangkat sekarang aja, mom. Mumpung masih pagi, kalau benar itu Nick, satu masalah udah selesai. Kita bisa fokus urus masalah Denis,” Abe mencoba mengalihkan perhatian.


“Iya kamu benar, kita berangkat sekarang aja.”


“Aku ngga ikut. Aku di sini aja, aku mau nengok Denis ke kantor polisi,” seru Ayura.


“Denis minta kamu ikut. Dia cemas kalau kamu sendirian.”


“Ada Arnav dan Topan yang akan jaga aku, iyakan?”


Ayura menatap ke arah Arnav dan Topan, kedua pria itu saling berpandangan dan kemudian menganggukkan kepalanya. Abe tak bisa membujuk Ayura lagi. Dia lalu memanggil Sansan.


“San, ayo kita berangkat.”


“Kak Ayu ngga ikut?”


“Ngga San.”


“Mama ayo,” ajak Azka.


“Ngga sayang kita di sini aja. Nanti ke Bandungnya bareng papa, ya.”


“Mommy pergi, Yu. Kamu sama Azka di sini saja. Mommy akan menitipkanmu ke petugas keamanan.”


“Iya mom.”


Diah bersama yang lainnya meninggalkan apartemen. Tak lama Topan pun berpamitan. Dia harus bergerak cepat untuk menemukan bukti untuk menolong temannya. Arnav menghubungi Fahrul untuk memberitahu perihal Nick. Hanya tinggal Fahrul yang belum diberi kabar. Setelah mengabari Fahrul, Arnav pun pamit pergi. Kini hanya tinggal Ayura dan Azka saja di sana.


🍂🍂🍂


Fahrul segera memutar balik kendaraannya begitu mendapat kabar dari Arnav. Rencananya pagi ini dia akan mengunjungi perkebunan Bryan. Tapi pria itu langsung membatalkannya begitu Arnav mengatakan Nick tengah dirawat di rumah sakit Ibnu Sina. Dirinya tak menyangka kalau Nick ternyata berada cukup dekat darinya. Jarak rumah sakit tempat Maira dirawat tidaklah terlalu jauh.


Kaki Fahrul terus menekan pedal gas, menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di tempat tujuan. Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan sahabatnya. Beberapa kali dia membunyikan klakson saat beberapa angkot berhenti cukup lama di depannya.


Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarainya memasuki area parkir rumah sakit internasional Ibnu Sina. Setelah memarkirkan kendaraannya, pria itu bergegas memasuki lobi rumah sakit. Saat yang bersamaan kyai Ahmad juga datang bersama dengan Apep dan Jaya. Bila mengabarkan kalau David alias Nick sudah bangun dari komanya. Bahkan pria itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.


Kyai Ahmad masuk ke dalam lift diikuti Apep dan Jaya dari belakang. Saat pintu lift akan menutup, tangan Fahrul menahannya. Pria itu lalu masuk ke dalamnya. Dia melemparkan senyuman ke arah kyai Ahmad lalu berdiri di samping pria bersahaja itu.


“Pak kyai, leres kitu si kasep teh tos sadar? (bener gitu kalau si ganteng udah sadar?),” tanya Apep.


“Alhamdulillah tadi Bila bilang begitu. David sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa.”


“Abi mah asa kurang sreg nganggo ngaran David mah. Asa cocok Ronaldo (saya ngga sreg pake nama Ronaldo. Kayanya lebih cocok Ronaldo),” seru Apep.


“Mending ge Messi atawa Karim Benzema,” timpal Jaya.


Kyai Ahmad hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar perdebatan dua karyawannya ini. Mereka masih saja meributkan nama sementara untuk orang asing yang mereka temukan dua minggu lalu. Fahrul yang sedari tadi mendengarkan, tergelitik rasa ingin tahunya ketika pria di sampingnya menyebut nama David. Nama yang sama yang Arnav sebutkan untuk identitas Nick di rumah sakit ini.


“Maaf pak kyai. Kalau saya boleh tahu, apa pak kyai mau menjenguk pasien yang bernama David.”


“Iya betul,” kyai Ahmad menoleh ke arah Fahrul.


“Di mana kalian menemukannya?”


“David terbawa mobil pick up pegawai saya. Waktu itu mereka baru saja mengambil barang-barang dari donatur kami di Jakarta.”


“Sumuhun a. Sumpah abi mah teu terang aya jalmi dina bak tukang. (betul a. Sumpah saya ngga tahu kalau ada orang di bak belakang).”


“Bagaimana rupanya?”


“Kasep kang, jiga bule.”


Mendengar keterangan dari Apep semakin meyakinkan Fahrul kalau orang yang bernama David itu adalah Nick. Dia mengambil ponsel dari saku celananya kemudian mencari foto Nick. Diperlihatkan gambar Nick pada Apep.


“Apa ini orangnya?”


“Betul kang. Ai akang sahana?”


“Alhamdulillah ya Allah. Saya Fahrul, dia sahabat saya. Kami sudah mencarinya kemana-mana. Terima kasih pak kyai sudah membantu sahabat saya.”


“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menemukan keberadaan keluarganya.”


“Bagaimana keadaannya pak kyai?”


“Nanti saja kita tanyakan pada dokter yang merawatnya.”


Fahrul hanya menganggukkan kepalanya. Hatinya benar-benar bahagia, akhirnya Nick bisa ditemukan juga. Dia berharap keadaan Nick jauh lebih baik sekarang ini. Matanya terus melihat ke arah panel di atas pintu. Tinggal dua lantai lagi, mereka akan tiba di tempat Nick dirawat.


“Punten kang, temennya akang teh siapa namanya? Ronaldo sanes?” tanya Apep penarasan.


“Bukan. Namanya Nick. Nickolas Armando Littrell. Kami biasa memanggilnya Nick.”


“Tuh.. Nick.. lain Messi komo Karim Benzema,” seru Apep pada Jaya.


“Komo maneh, meni jauh Ronaldo,” balas Jaya tak mau kalah.


Fahrul terkekeh mendengar perdebatan keduanya. Senyum kembali menghiasi wajah kyai Ahmad. Kedua pegawainya ini memang kerap beradu mulut. Sehari tidak mendengar perdebatan keduanya seperti sayur tanpa garam.


TING


Lift yang mereka naiki tiba di lantai 9. Fahrul mempersilahkan kyai Ahmad keluar lebih dulu baru kemudian menyusul. Dia terus mengikuti langkah kyai Ahmad sampai masuk ke kamar yang terletak di bagian paling ujung. Kedatangan mereka langsung disambut oleh Bila. Nick sendiri masih menjalani pemeriksaan oleh dr. Reyhan dan dr. Sudirman.


“Bagaimana keadaannya?” tanya kyai Ahmad pada putrinya.


“Masih diperiksa dokter. Mudah-mudahan semuanya baik.”


“Aamiin.”


Bila kemudian menatap ke arah Fahrul. Melihat itu, kyai Ahmad langsung memperkenalkan Fahrul pada Bila. Gadis itu juga senang ternyata ada orang yang mengenal David.


“Jadi kamu temannya David?”


“Nick.. namanya Nick.”


“Oh.. maaf. Aku ngga tau namanya, makanya aku mendaftarkannya menggunakan nama David. Rasanya lebih bagus dari pada Ronaldo atau Messi,” Bila melirik pada Apep dan Jaya. Fahrul hanya mengulum senyum saja.


Kedua dokter spesialis yang menangani Nick telah selesai memeriksa keadaan Nick. Mereka mempersilahkan kyai Ahmad dan yang lainnya mendekati bed. Fahrul langsung maju ke depan. Dia sudah tak sabar ingin melihat sahabatnya.


“Nick..” panggil Fahrul.


Nick melihat ke arah Fahrul. Tatapan matanya kosong, dia memandang Fahrul seolah baru pertama kali melihatnya. Tak ada tanggapan dari Nick, Fahrul semakin mendekat.


“Nick.. gimana keadaan lo?”


“Kamu... siapa? Siapa Nick?”


“Nick jangan bercanda deh. Ini gue Fahrul, sahabat lo. Udah deh ngga usah ngeprank. Gue ngga akan ketipu lagi.”


Nick terus memandangi Fahrul tanpa bereaksi apapun. Kemudian dia menoleh ke arah dokter dan juga Bila. Terlihat kebingungan di wajahnya. Bukan cuma Nick, Fahrul juga dibuat bingung dengan sikap sahabatnya.


“Kata kamu namaku David, terus dia bilang Nick. Yang mana yang benar?”


“Nick please jangan bercanda. Ngga lucu tau.”


“Beneran gue ngga tau siapa elo. Tapi..”


Nick menggantung ucapannya. Dia melihat ke arah Fahrul. Sungguh dirinya memang tak mengenal lelaki di hadapannya ini, namun wajah, suara dan suasana di antara mereka terkesan tak asing.


“Lo artis ya?”


Fahrul melongo mendengar ucapan Nick. Sontak dia melihat ke arah sang dokter. Melihat kebingungan di wajah Fahrul, dokter Reyhan mengajak pria itu keluar dari ruangan. Sedang dokter Sudirman mengajak kyai Ahmad berbicara.


“Dok.. ada apa dengan sahabat saya? Kenapa dia ngga kenal saya?”


“Sepertinya sahabat anda terkena amnesia. Pada saat dia dibawa ke sini, dia mengalami pendarahan di kepalanya. Apa dia korban kecelakaan? Saya menemukan luka bekas operasi di kepalanya.”


“Dia memang mengalami kecelakaan parah dok. Dia masih dirawat di rumah sakit di Jakarta waktu hilang tanpa jejak.”


“Hmm..” dokter Reyhan menganggukkan kepalanya.


“Jadi itu yang menyebabkan salah satu syaraf di otak kecilnya terhimpit. Syaraf yang terhimpit itu mengalami pendarahan karena ada pembuluh darah yang pecah. Kami berhasil menghentikan pendarahan dan menyedot darahnya.”


“Tapi kenapa dia lupa namanya lagi dok? Dia memang amnesia setelah sadar dari koma. Tapi sebelum hilang, dia sudah tahu siapa saya, keluarganya walau belum mengingat. Tapi kenapa sekarang ngga ingat sama sekali?”


“Itu karena pendarahan yang terjadi. Kondisinya saat ini tidak baik. Sepertinya pendarahan dipicu karena dia mencoba mengingat masa lalunya.”


“Dokter yang merawatnya memang mengatakan seperti itu. Dia tidak boleh memaksakan diri mengingat siapa dirinya. Karena bisa membahayakannya.”


“Ya.. dan terbukti. Dia hampir kehilangan nyawanya, tapi Alhamdulillah masih bisa diselamatkan. Dan efek dari itu adalah dia kehilangan lagi memori yang didapatnya pasca kecelakaan. Kalau dia terus memaksakan diri untuk terus mengingat, dia bisa kehilangan fungsi daya ingat. Dia akan melupakan kejadian yang dialaminya setiap hari dan kemungkinan terburuknya dia bisa meninggal dunia.”


Fahrul meremat rambutnya dengan kasar. Harapannya mendapati Nick dalam keadaan baik ternyata hanya khayalan saja. Justru kondisi sahabatnya ini menunjukkan penurunan. Dokter Reyhan menepuk pelan pundak Fahrul.


“Apa yang harus kami lakukan dok?”


“Dampingi dia. Jangan memaksanya untuk mengingat masa lalu. Dia juga harus melakukan konseling dengan psikiater. Dan yang terpenting, untuk saat ini dia harus berada di lingkungan yang tenang dan membuatnya nyaman. Itu bisa membantu proses pemulihannya. Di mana keluarganya?”


“Sedang dalam perjalanan dok.”


“Baiklah, saya pergi dulu. Nanti kalau keluarganya datang, tolong temui saya juga dokter Sudirman. Kami perlu memberitahu secara detil kondisi pasien dan apa saja yang harus dilakukan.”


“Iya dok.”


Dokter Reyhan menepuk pundak Fahrul sekali lagi kemudian beranjak pergi. Fahrul hanya mampu terdiam untuk beberapa saat. Dia masih bingung dengan situasi yang menimpa sahabatnya. Pria itu kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Nampak Nick tengah berbicara dengan Bila.


🍂🍂🍂


**Yang nyari dokter Rey yang ganteng bukan di sini tempatnya tapi di novel sebelah ya wakakakak...


By the way si Reisa enaknya diapain ya🤔**