
Sebulan setelah Meta melahirkan, Ayura juga melahirkan anak pertamanya. Denis dan Azka senang bukan main menyambut bayi lelaki tampan yang wajahnya lebih banyak didominasi oleh Denis. Ayura melahiran di bidan yang tempat praktenya di dekat rumah. Jadi Ayura bisa langsung pulang ke rumah setelah sang bidan memastikan keadaannya baik-baik saja.
Semua sahabat Denis beserta para istri langsung menengok ke rumah. Mereka penasaran ingin melihat cebong Denis akan mengambil rupa Indonesia atau oppa Korea. Tak lupa juga membawa buah tangan untuk keponakan baru mereka. Ridho yang hubungannya semakin dekat dengan sahabat adik iparnya juga ikut menjenguk. Meta tidak ikut serta karena masih belum berani membawa anaknya yang baru berusia empat minggu bepergian.
“Wah.. anak lo mirip oppa Korea, kirain mirip entong,” celetuk Arnav.
“Kapan si Entong nyumbang cebong, dasar PEA,” seru Denis seraya menepak belakang kepala Arnav.
“Namanya siapa?” tanya Ridho.
“Kim Fardan Alteza,” jawab Denis.
Denis tetap menyematkan marga ibunya di depan nama anaknya. Pria itu sama sekali tidak tertarik menggunakan nama keluarga dari pihak sang ayah yang sampai saat ini tak kunjung menemui atau menanyakan kabarnya. Terakhir atas bujukan Ayura, Denis mau mengunjungi ayahnya bersama dengan Ayura dan Azka. Namun sambutan dingin ayahnya serta ibu dan saudara tirinya, membuat pria itu enggan menginjakkan lagi kakinya di sana.
“Panggilannya apa nih? Far… Dan.. Al.. apa Teza?” Abe memenggal nama anak sahabatnya menjadi beberapa suku kata.
“Suka-suka elo aja, kampret.”
“Hahahaha…”
“Kalian berdua kapan nyusul?” tanya Ridho pada Arnav dan Abe.
“Santuy bang.. kita lagi menikmati masa pacaran dulu,” ujar Abe.
“Buruan bikin adonan. Anak bang Ridho, anak Denis ama calon anaknya Nick kan cowok. Nah lo berdua bikin anak cewek, biar anak gue ada temennya,” seru Fahrul.
“Lo pikir bikin anak kaya beli pizza, bisa request topping apa aja, dasar dudul,” sewot Arnav.
“Kan bisa diprogram tuh. Kalau mau punya anak cewek, Rina harus banyak makan daging-dagingan kata dokter Boyke,” ujar Nick.
“Lah terus gue makan apa?”
“Jadi kambing lo, makan daun-daunan hahaha,” jawab Denis sambil terpingkal.
“Dasar PEA!!”
“Itu resep dokter Boyke, loh. Coba aja,” sahut Ridho.
“Bener. Rina banyakin makan daging, lo banyakin makan sayuran. Sama satu lagi sih, biar afdol dan hasilnya lebih akurat lo harus....” Nick sengaja menggantung kalimatnya.
“Harus apa?” tanya Abe tak sabar.
“Mangkal di lampu merah dandan kaya cewek jadi-jadian sambil bawa kecrekan hahahaha…” Nick terpingkal sendiri, yang tentu saja ditambah gelak tawa yang lainnya. Ridho sampai memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa. Bergabung bersama Nick dan para sahabatnya membuat otaknya sedikit oleng.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam.”
Perbincangan mereka terjeda ketika Rivan datang. Pemuda itu sekarang juga tinggal di Bandung. Rivan diterima dan sudah terdaftar sebagai mahasiswa aktif di kampus terbesar di Asia Tenggara sejak tahun lalu. Dia tinggal bersama Diah, karena Bryan melarangnya tinggal di kost-an.
“Wah anaknya bang Denis caem gini, calon K-Pop Idol ini mah,” celetuk Rivan saat melihat bayi mungil yang usianya belum genap sehari.
“Untung anak gue cowok, jadi ngga bakalan diembat ama nih bocah kalo udah gede. Hati-hati Rul, anak lo kan cewek, tar diembat ama dia. Kan ngga lucu kalau judulnya menikahi om-om PEA, hahaha..”
“Buset.. emang gue pedofil, apa?” sewot Rivan.
“Ya kali lo mau ngikutin jejak syekh Puji,” kekeh Abe.
“Teh.. tuh perut belum kembung-kembung? Si tuan Takur payah nih, masa cebongnya belum ada yang nyangkut,” ledek Rivan.
“Den.. lo ada popok bekas ngga?” tanya Arnav.
“Buat apaan?”
“Nyumpel mulut nih bocah.”
“Hahaha..”
Keramaian dan gelak tawa terus menggema di rumah type 36 itu. Ada saja bahan pembicaraan yang mengundang gelak tawa. Target pembully-an tak lain dan tak bukan adalah Rivan, yang paling muda di antara mereka. Suasana bertambah ramai saat Diah, Bryan dan Edo juga datang menjenguk cucu sambung mereka.
🍂🍂🍂
Waktu terus bergulir. Tak terasa kehamilan Iza telah memasuki usia tujuh bulan. Di kehamilan kedua ini, wanita itu juga tidak merasakan banyak kendala. Hanya saja sekarang dirinya lebih cemburuan dan posesif. Dia tak mengijinkan suaminya pergi tanpa dirinya. Bahkan untuk bertemu dengan klien pun, Iza ingin ikut serta. Selain mengelola kedai, Nick juga membantu Bryan memasarkan hasil perkebunannya.
Edo juga berencana untuk menetap dan menghabiskan masa tuanya di Bandung. Beberapa bulan ini, dia terus bolak-balik Bandung-Rio. Perlahan-lahan dia melepaskan bisnis yang sudah digeluti bertahun-tahun lalu. Nick memang meminta Edo berhenti dari bisnis gelapnya dan mencari uang dengan cara yang halal. Selain itu, Nick tidak mau ayahnya terus bergelut dengan dunia hitam yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawanya.
Hal itulah yang membuat dirinya masih harus ke Rio, menyerahkan urusannya pada wakil yang dipercaya dan memproklamirkan dirinya pensiun. Sambil mengurus kepindahan Leya setelah anak itu menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya. Awalnya Edo hendak menyerahkan bisnisnya pada Rico, namun asistennya itu menolak. Pria itu juga ingin pensiun dan menikah dengan Wulan.
Kemarin Edo baru saja kembali dari Rio setelah menjual saham miliknya. Selain bisnis ilegal, Edo juga mempunyai usaha sampingan sebagai makelar bangunan atau tanah. Komisi yang diterimanya sebagian ditabung dan dinvestasikan dalam bentuk saham juga emas. Uang dari pekerjaan legalnya ini yang digunakan untuk membiayai sekolah dan kehidupan Leya sehari-hari. Juga untuk membelikan Nick rumah dan membayar biaya operasi Iza. Sekarang dia berencana menginvestasikan uangnya pada Denis. Sahabat Nick itu berencana membuka Production House yang khusus memproduksi acara religi.
“Zi.. kamu mau periksa ke dokter sekarang?” tanya Edo ketika melihat menantunya itu sudah bersiap untuk pergi.
“Iya, papai.”
“Kalau Nick sibuk, biar papai yang antar.”
Baru saja Edo selesai bicara, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Tak lama Nick masuk. Tanpa perlu diingatkan pria itu sudah tahu kalau sore ini adalah jadwal sang istri menemui dokter kandungan.
“Itu, Nick sudah datang,” ujar Iza.
“Kenapa?” tanya Nick.
“Tadinya papai mau antar Iza kalau kamu sibuk,” jawab Edo.
“Biarpun sibuk, aku harus tetap memperhatikan istriku," Nick merangkul bahu Iza.
“Bagus itu.”
“Papai ikut aja,” ajak Iza.
“Ngga usah.”
“Ayolah papai,” bujuk Iza. Wanita itu tahu kalau ayah mertuanya ingin sekali bertemu dengan dokter kandungannya. Karena menantunya terus membujuk, akhirnya Edo bersedia untuk ikut.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu sedikit lama karena terjadi kemacetan di beberapa titik akibat adanya demo buruh. Ketiganya langsung menuju ke lantai dua, tempat ruangan praktek dokter Nurul berada.
Edo memilih duduk di ruang tunggu saat Iza dan Nick masuk untuk melakukan pemeriksaan.
Dokter Nurul yang baru kembali dari toilet melemparkan senyumannya pada Edo saat akan memasuki ruang prakteknya. Dokter berusia 37 tahun terlihat anggun dan cantik mengenakan sneli dengan hijab panjang yang menutupi kepala sampai sebatas dada.
Sejak pertama melihat dokter cantik itu, Edo merasakan sesuatu yang berbeda dengan dokter kandungan tersebut. Sikap dokter Nurul yang lemah lembut mengingatkan dirinya akan mendiang istrinya, Emily. Namun Edo harus meredam perasaannya karena tak mau mengganggu rumah tangga wanita itu.
Pernah Edo melihat Nurul bersama seorang pria juga seorang anak perempuan berusia 12 tahun di salah satu mall. Dalam sekali lihat, dia bisa tahu kalau pria itu adalah suami dari Nurul. Karena itu, Edo berusaha meredam perasaannya dan menjadi pengagum rahasia saja. Tapi nampaknya Iza menyadari hal tersebut.
Edo segera berdiri begitu melihat Iza dan Nick keluar dari ruang praktek dengan dokter Nurul menyusul di belakang mereka. Ternyata menantunya itu adalah pasien terakhir dokter kandungan tersebut. Seperti biasa, Edo selalu melayangkan senyuman manis pada wanita itu.
“Bagaimana keadaan menantu dan calon cucu saya, dok?”
“Alhamdulillah ibunya sehat, janinnya juga sehat.”
“Alhamdulillah.”
“Calon cucu pertama ya, pak Edo.”
“Benar. Rasanya ngga sabar menunggu cucu saya lahir.”
Nick terus memperhatikan interaksi kedua orang di dekatnya. Dari sorot mata Edo, Nick bisa melihat adanya ketertarikan pria itu pada wanita yang sedang diajak bicara olehnya.
“Saya permisi dulu pak Edo. Iza, bulan depan jangan lupa untuk kontrol ya.”
“Iya dok.”
“Papai suka ya sama dokter Nurul?” cecar Iza.
“Hanya kagum,” elak Edo.
“Kalau suka juga ngga apa-apa, papai. Dokter Nurul cantik, baik lagi.”
“Hush.. kamu tuh. Ngga enak kalau ada yang dengar, nanti papai disangka mau merebut istri orang.”
“Tenang aja, papai. Halal kok kalau papai suka sama dokter Nurul.”
“Jangan macam-macam ya, Zi. Papai pernah lihat suaminya.”
“Mantan suami, papai. Dokter Nurul sudah bercerai dengan suaminya tiga tahun lalu. Mantan suaminya juga kerja di sini, dia dokter spesialis jantung. Hubungan mereka tetap baik demi anak mereka, kaya papai sama mommy.”
Edo menatap tak percaya atas penjelasan menantunya itu. Hati kecilnya bersorak, berarti peluangnya untuk mendekati dokter kandungan itu terbuka lebar.
“Kamu tahu dari siapa, sayang?” tanya Nick.
“Dari suster yang bantuin dokter Nurul. Aku langsung cari info soal dokter Nurul buat papai.”
“Kamu tuh,” Edo mengusap tengkuknya, menahan malu karena menantunya mengetahui perasaan terpendamnya.
“Tunggu apa lagi papai. Mau aku yang lamarkan dokter Nurul untuk papai?” goda Nick.
“Ayo pulang, sudah mau maghrib.”
Edo segera meninggalkan anak dan menantu yang tak berhenti menggodanya. Saat menuruni tangga, dia berpapasan dengan dokter Nurul dan karuan membuat pria itu grogi. Nurul melemparkan senyuman saat melintasinya dan Edo hanya terpaku di tempatnya seperti orang bodoh saja. Nick dan Iza yang memperhatikan dari belakang hanya mengulum senyum saja.
🍂🍂🍂
Edo melangkahkan kaki memasuki sebuah restoran Sunda ternama di Bandung. Tiba-tiba saja Nick mengajaknya makan malam di luar. Pria itu terus melangkahkan kaki menuju salah satu saung yang telah dipesan oleh anaknya. Edo terkejut, karena selain Iza dan Nick, Bryan juga Diah juga ikut serta. Dan yang paling mengejutkan dokter Nurul juga ada di antara mereka.
Dengan kikuk Edo mendudukkan dirinya di tempat kosong tepat di samping Nurul. Karena memang hanya di situ ruang yang tersisa. Sepertinya semua memang telah mengaturnya sedemikian rupa. Seorang pelayan datang membawakan makanan yang sudah dipesan oleh Nick.
Makan di samping Nurul membuat Edo grogi. Dia sudah seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Mungkin efek menduda terlalu lama. Setelah ditinggal istri tercinta lima tahun lalu, Edo tak pernah berkencan dengan wanita lain. Hidup yang dijalani hanya untuk menjaga kedua anaknya sambil mencari cara membalas orang yang telah membunuh istrinya. Setelah bertemu Nick dan sang anak menerima keberadaan dirinya, Edo ingin menata hidupnya kembali.
“Dokter Nurul belum ada niatan memberikan papa baru untuk Syifa?”
Uhuk.. uhuk..
Pertanyaan Diah membuat Edo terbatuk. Refleks Nurul memberikan minuman pada Edo. Diah hanya mengulum senyum melihat tingkah Edo yang semakin salah tingkah.
“Kamu juga Do, kapan mau memberikan mama baru untuk Nick dan Leya,” sambung Diah lagi.
“Bukan urusanmu,” ketus Edo.
“Kalau sama-sama sendiri, ngga ada salahnya kan jadi pasangan duet,” Diah terus saja menggoda dua orang di depannya.
Ingin rasanya Edo menyumpal mulut mantan istrinya itu dengan ikan bakar yang tersaji di meja. Wanita itu secara terang-terangan ingin menjodohkan dirinya dengan Nurul. Mendengar ucapan frontal Diah, wajah Nurul jadi memerah. Dengan kesal Edo menyenggol kaki Diah, namun sialnya justru kaki Bryan yang terkena senggolannya.
“Aduh.. salahku apa, Do?”
Seru Bryan seraya menahan senyum membuat Edo bertambah malu. Nurul menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa malunya karena pasangan di depannya terus menggodanya.
“Nick, Iza, daddy dan mommy pulang duluan, ya. Kami mau ke vila.”
“Iya, dad,” jawab Iza.
Bryan dan Diah beranjak dari tempatnya kemudian segera pergi setelah berpamitan dengan Nurul. Tak lama Nick ikutan berdiri sambil membantu istrinya bangun.
“Papai.. tolong antarkan dokter Nurul pulang, ya. Aku dan Iza masih harus ke kedai. Maaf ya dokter Nurul, tidak bisa mengantar pulang. Biar sama papai saja.”
Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Nick segera mengajak Iza keluar dari saung tempat mereka makan. Sebelum meninggalkan restoran, pria itu lebih dulu membayar semua pesanan. Tinggal Edo dan Nurul yang masih berdiam diri di sana.
“Maafkan anak saya yang tidak bertanggung jawab mengantarkan dokter pulang,” Edo memberanikan diri membuka percakapan.
“Tidak apa.”
“Rumah dokter di mana?”
“Di Wastu Kencana. Tolong panggil Nurul saja, pak.”
“Kalau begitu panggil saya Edo saja.”
“Mana bisa begitu. Rasanya tidak sopan langsung memanggil nama.”
“Silahkan panggil apa saja yang membuat dok.. eh Nurul nyaman. Asal jangan panggil papai, saya jadi terlihat tua sekali,” Edo terkekeh.
“Panggil apa ya? Ehmm.. ma..s saja ya,” ucap Nurul ragu. Rasanya aneh memanggil pria berwajah bule dengan sebutan mas, namun akan lebih aneh lagi jika dipanggil akang.
Keduanya kembali terdiam, suasana canggung kembali menyeruak di antara keduanya. Namun begitu, mereka belum mau beranjak dari tempatnya sekarang, seakan tidak ingin momen kebersamaan ini berakhir dengan cepat.
“Ehmm.. mas..”
“Nurul,” ujar mereka bersamaan.
“Ladies first,” ucap Edo mempersilahkan Nurul bicara lebih dulu.
“Apa Nick anak mas dengan bu Diah,” Edo terkekeh mendengar Nurul menyebut dirinya mas, sedang memanggil Diah dengan sebutan ibu, seakan mantan istrinya itu jauh lebih tua darinya.
“Iya, dia istri pertama saya. Darinya saya mendapatkan Nick. Setelah berpisah, saya menikah lagi dengan Emily, darinya saya mendapat anak perempuan, Leya namanya.”
“Istri kedua mas di mana?” tanya Nurul basa-basi, padahal tadi dia jelas mendengar kalau Diah mengatakan Edo adalah single. Dia hanya ingin memastikan sendiri status pria itu.
“Emily sudah meninggal lima tahun yang lalu.”
“Oh.. maaf..”
“Tidak apa. Nurul sendiri bagaimana? Saya pernah melihatmu bersama seorang pria di mall.”
“Saya sudah bercerai tiga tahun yang lalu. Memang hubungan kami masih baik-baik saja, demi anak pastinya.”
“Hmm.. seperti saya dengan Diah, mungkin.”
“Iya, seperti itu.”
Suasana kembali hening, namun tak berlangsung lama karena tiba-tiba ponsel Edo berdering. Rico menghubungi, dia butuh saksi untuk menjadi saksi di pernikahannya minggu depan dan meminta Edo sebagai saksi dari pihaknya. Tentu saja Edo menerima permintaan mantan asistennya itu.
“Teman saya akan menikah minggu depan dan saya diminta menjadi saksinya. Apa Nurul mau ikut menemani saya?” tanya Edo begitu mengakhiri panggilan dengan Rico.
“Ehm.. acaranya di mana mas?”
“Di Bogor. Rencananya saya juga akan mengajak anak dan menantu saya. Kalau Nurul tidak keberatan, saya ingin mengajakmu. Anggap saja refreshing. Kalau perlu ajak juga anakmu, eng.. siapa namanya?”
“Syifa.”
“Iya, Syifa.”
“Ehm.. boleh mas. Nanti kabari lagi saja.”
Segurat senyum terbit di wajah Edo. Pria itu sudah mulai tancap gas melakukan pendekatan pada Nurul. Dia kemudian mengajak Nurul untuk pergi. Namun sebelum mengantarkan pulang, dia mengajak dokter cantik itu berkunjung ke kedai Nick.
🍂🍂🍂
Uhuk papai...
Aseekkk papai mau lepas status duda💃💃💃