
Denis masih bertahan di atas sepeda motornya. Dari balik helm. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan dua orang yang dikenalnya. Pilihannya untuk mengikuti Fahrul ternyata adalah keputusan yang tepat. Secara insting, dia tak percaya kalau Reisa akan dengan mudahnya melepaskan Fahrul.
Pria itu terlihat begitu kesal saat melihat Fahrul bersama Reisa memasuki hotel. Denis terdiam sejenak, kemudian membuka helmnya. Dia turun dari kendaraan roda duanya kemudian menyebrangi jalan untuk sampai ke depan hotel. Baru saja dirinya akan memasuki lobi, terdengar ponselnya berdering. Melihat nama Sarni, Denis segera menjawab panggilannya.
“Halo.”
“Halo mas Denis. Maaf ganggu, saya cuma mau kasih tahu kalau mba Mai sakit.”
“Mai sakit? Sakit apa bu?” nada Denis terdengar panik.
“Tadi mba Mai ngeluh perutnya sakit, malah sampai pingsan. Saya dengan pak Dadi langsung bawa mba Mai ke rumah sakit.”
“Di rumah sakit mana?”
“Mitra Medika.”
“Ok bu. Saya titip Mai sebentar.”
“Baik mas.”
Bu Sarni mengakhiri panggilannya. Denis memasukkan ponsel ke saku jaketnya, setengah berlari pria itu kembali menyebrangi jalan. Dengan cepat pria itu naik ke atas tunggangannya, namun dia urung memakai helmnya. Tangannya meraih ponsel dari saku jaketnya.
Sementara itu, Fahrul dengan tergesa membuka pintu kamar hotel. Reisa terus saja me**mat bibirnya dengan agresif. Bahkan kini perempuan itu sudah loncat ke dalam pelukannya. Sambil tak melepaskan tautan bibir, mereka masuk ke dalam kamar. Fahrul menurunkan Reisa. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut.
Jari Reisa bergerak cepat membuka kancing kemeja Fahrul kemudian melepaskan dari tubuh pria itu. Dia juga melepaskan dress dan semua sisa pakaian yang melekat di tubuhnya. Fahrul menelan ludahnya kelat melihat tubuh molek Reisa. Sudah sebulan lebih dirinya tak menyentuhnya. Tepatnya setelah Maira pergi meninggalkan kediamannya.
Fahrul mendorong pelan tubuh Reisa hingga terhempas ke kasur berukuran queen size. Kemudian dia merangkak naik ke atas perempuan itu. Bibir Fahrul mulai menelusuri leher, bahu juga dada Reisa. Fahrul sedikit terganggu ketika mendengar deringan ponselnya, namun pria itu mengabaikannya.
Ponsel tak henti berbunyi, membuat konsentrasi Fahrul buyar. Dengan kesal, diambilnya ponsel yang masih ada di saku celananya. Matanya menangkap nama Denis di layar. Dengan enggan Fahrul mengusap ikon hijau di ponselnya.
“Halo.”
“Mai sakit,” Denis berbicara to the point.
“Mau lo apa gue yang ke rumah sakit?” lanjut Denis.
“Kalau lo masih mau melanjutkan percintaan kalian, biar gue yang nemenin Mai. Tapi inget, lo ngga bakalan bisa ketemu dia lagi. Dan besok gue bakalan cabut ke Bandung buat mendaftarkan perceraian kalian. Semua dokumen berikut bukti perselingkuhan lo udah ada di gue,” Denis kembali berbicara karena Fahrul tak kunjung menjawab.
“Di rumah sakit mana?”
“Mitra Medika.”
“Gue ke sana sekarang.”
Fahrul segera memutuskan sambungan. Dia beranjak dari kasur lalu dengan tergesa memakai lagi kemejanya. Reisa yang sudah naik hasratnya, melihat kesal ke arah Fahrul.
“Kakak mau kemana?”
“Maaf sayang, Mai sakit. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”
“Aku ngga peduli! Kakak ngga boleh pergi. kita harus menyelesaikan apa yang kita mulai. Kakak tega sama aku.”
Nada suara Reisa terdengar memelas. Namun kemudian dia ganti memasang wajah menggoda sambil memainkan miliknya. Fahrul menghembuskan nafas panjang. Dirinya benar-benar frustrasi. Ada kenikmatan di depan mata, namun di saat bersamaan, masa depannya sedang dipertaruhkan.
“Maaf sayang, aku harus pergi. Aku janji begitu Mai sembuh, kita akan liburan dan ngga akan ada yang ganggu kita.”
Fahrul mendekati Reisa kemudian mendaratkan ciuman di kening kekasih gelapnya itu. Bergegas pria itu keluar dari kamar hotel. Dia harus secepatnya sampai di rumah sakit sebelum Denis menjalankan ancamannya. Fahrul tahu betul kalau sahabatnya itu tak pernah main-main dengan ucapannya.
Honda City milik Fahrul meluncur pergi meninggalkan basement hotel. Dari arah sebrang, mata Denis terus mengikuti kendaraan sahabatnya itu. Kemudian jarinya bergerak mendial nomor ponsel. Pria itu mendekatkan benda pipih tersebut ke telinganya.
“Halo.”
“Halo bro.”
“Gue tunggu di hotel Anggrek sekarang. Ada job buat elo.”
“Ok bos.”
Denis mengakhiri panggilannya. Tercetak senyum licik di wajah tampannya. Pria itu memakai helmnya kemudian menjalankan kendaraan roda duanya. Beberapa meter kemudian, motor milik Denis putar balik. Dia melajukan motornya memasuki area parkir hotel Anggrek.
🍂🍂🍂
Dengan langkah panjang Fahrul memasuki Instalasi Gawat Darurat rumah sakit Mitra Medika. Melihat kedatangan Fahrul, bu Sarni segera mendekati pria itu. Denis memang telah menghubunginya dan mengatakan kalau Fahrul yang akan mengurus Maira.
“Mana Mai?” tanya Fahrul begitu bu Sarni sampai di dekatnya.
“Di sana,” bu Sarni menunjuk bilik nomor tiga.
Bergegas Fahrul menuju ke sana diikuti bu Sarni dari belakang. Tangannya menyibak tirai yang menutupi bilik. Terlihat Maira tengah tertidur di atas blankar. Di tangannya terpasang infusan.
“Dia sakit apa?”
“Maag. Tadi mba Mai pingsan, makanya saya cepat bawa ke sini.”
“Kenapa dia sampai kena maag? Apa Denis ngga pernah kasih dia makan?”
“Maaf mas Fahrul. Penyakit maag itu bukan hanya disebabkan karena telat makan atau konsumsi makanan pedas. Tapi penyebab utama orang terkena maag karena pikiran. Mba Mai itu strees, walau tidak pernah memperlihatkan, tapi saya tahu mba Mai itu tertekan karena masalah yang dihadapinya. Sebagai suami, mana tanggung jawab mas?”
Tanpa takut bu Sarni mengeluarkan semua kejengkelan dalam hatinya pada Fahrul. Pengalaman hidup yang sama, membuat wanita itu tak menyukai pria di hadapannya. Tanpa mempedulikan ucapan bu Sarni, Fahrul mendekati blankar Maira. Ditariknya kursi kemudian mendudukkan diri di sana.
“Ibu pulang saja, biar saya yang menjaganya.”
“Yakin mau jaga mba Mai? Bukan mau membunuhnya kan?”
Fahrul membulatkan matanya mendengar ucapan sarkas bu Sarni. Wanita itu balas menatap Fahrul tanpa rasa takut. Tak lama Dadi datang menghampiri mereka.
“Bu Sarni, gimana mas Denis sudah dihubungi? Suster minta diurus administrasi dulu sebelum mba Mai dipindahkan ke ruangan.”
“Tuh ada suaminya. Suruh aja suaminya yang urus,” bu Sarni menunjuk ke arah Fahrul.
“Oalah ada suaminya toh. Mas, bisa diselesaikan dulu administrasinya biar mba Mai langsung dipindahkan ke kamar.”
Tanpa menjawab Fahrul bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju meja pendaftaran. Dia tertegun saat harus mengisi data pasien, ternyata tak ada satu hal pun yang diketahui tentang istrinya ini. Fahrul kembali ke bilik kemudian menghampiri bu Sarni.
“Bu.. bawa KTP Mai ngga?”
“Buat apa?”
“Saya butuh buat administrasi.”
Bu Sarni membuka tasnya kemudian mengeluarkan KTP Maira dari dalam dompetnya. Wanita itu berjaga-jaga membawa identitas Maira jika dibutuhkan. Fahrul mengambil KTP Maira kemudian kembali ke meja pendaftaran.
Pria itu kembali tercenung ketika melihat tanggal lahir sang istri. Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Maira. Setelah mengisi biodata pasien dan membayar deposito perawatan, Fahrul kembali ke tempat Maira. Tak lama dua orang perawat datang untuk memindahkan Maira ke ruang rawat inap.
Fahrul menarik kursi di samping bed. Matanya terus memandangi Maira yang masih tertidur. Sebelum dipindahkan, dokter yang memeriksa keadaan Maira mengatakan kalau lambung istrinya terluka hingga menyebabkan pembengkakkan. Dokter berasumsi jika penyakit Maira mungkin dikarenakan faktor stress.
Fahrul meraih tangan Maira kemudian mengecup punggung tangannya. Melihat keadaan sang istri yang terbaring lemah, sejuta penyesalan menghinggapi dirinya. Terbayang kembali bagaimana sikap Maira selama menjadi istrinya. Walau kerap diabaikan, namun wanita itu masih bersikap baik dan sopan kepadanya. Kemudian sikap Maira mulai berubah begitu mengetahui perselingkuhannya.
Jujur saja, Fahrul merindukan sosok Maira yang dulu. Salah satu alasan dirinya mengabaikan Reisa selama sebulan belakangan karena dia terlalu fokus memikirkan bagaimana cara membawa Maira kembali. Selain itu, tanpa disadari pria itu mulai merindukan kehadiran sang istri di dekatnya.
Fahrul menguap, rasa kantuk mulai menderanya. Perlahan pria itu merebahkan kepala di ranjang dengan kedua tangan sebagai penumpunya. Tak berapa lama kemudian, pria itu sudah terlelap.
🍂🍂🍂
Reisa yang kesal karena Fahrul meninggalkannya begitu saja saat sedang on fire, memakai kembali pakaiannya kemudian keluar dari kamar. Dia memilih menuju bar yang ada di hotel tersebut. Perempuan itu mendudukkan diri di depan meja bartender kemudian memesan salah satu minuman beralkohol.
Sudah tiga sloki vodka mengalir ke tenggorokannya. Kepala Reisa juga sudah mulai pening. Tapi perempuan itu masih ingin menambah minumannya. Saat bartender menyiapkan sloki keempat, Denis datang lalu duduk di samping Reisa.
“Gin satu,” ucap Denis.
Setelah memberikan minuman pada Reisa, bartender tersebut segera menyiapkan minuman untuk Denis. Reisa menoleh ke arah samping, samar-samar dilihatnya wajah Denis yang tengah duduk santai di sampingnya.
“Lo.. Denis kan?”
“Fahrul mana?”
“Si br*ngsek itu ninggalin gue gara-gara istrinya sakit. Sialan!”
Denis menerima gelas berisi minuman pesanannya kemudian meneguknya sampai habis. Reisa juga menghabiskan minuman di depannya. Kemudian dia kembali fokus pada Denis. Ditepuknya pundak pria itu lalu menggelayutkan tangan di lengannya. Kepalanya menyandar di bahu Denis.
“Si Fahrul br*ngsek.. dia ninggalin gue pas lagi on hiks.. gue butuh pelampiasan hiks..” Reisa yang sudah mabuk mulai mengalami cegukan.
“Terus?”
“Lo mau main sama gue?”
“Yakin lo mau sama gue?”
“Yakinlah.. gue tahu lo suka ngelayanin tante-tante kesepian. Gue juga pengen ngerasain kehebatan lo di ranjang hiks,” Reisa membelai rahang Denis.
Denis melihat sejenak ke arah Reisa. Kedua pipi perempuan itu nampak memerah, Reisa benar-benar sudah mabuk. Denis meraih tengkuk Reisa kemudian me**mat bibir perempuan itu dengan rakus. Reisa menyambut ciuman Denis, keduanya langsung terlibat ciuman panjang tanpa peduli dengan keadaan sekitar.
Dengan tubuh sempoyongan, Reisa mengikuti langkah Denis. Mereka bermaksud menuju kamar yang tadi telah dibooking oleh Fahrul. Sesampainya di kamar, Reisa menghempaskan tubuhnya ke kasur. Denis membuka jaket kemudian melepaskan kaos lengan pendek dari tubuhnya.
Reisa memandangi kulit putih Denis dan juga dada bidang serta perut kotak-kotak pria di hadapannya. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya. Reisa menegakkan tubuhnya kemudian melepaskan semua benang yang melekat di tubuhnya.
Denis menyeringai melihat kekasih gelap sahabatnya itu nampak begitu pasrah menyerahkan diri padanya. Perlahan pria itu mendekat kemudian merangkak naik ke atas tubuh Reisa. Mulutnya langsung melahap bulatan kenyal yang tampak menggoda. Kemudian bibirnya terus turun menelusuri perut, terus turun hingga sampai di gua lembab Reisa. Denis memainkan lidahnya di sana.
Tubuh Reisa menggelinjang hebat saat Denis terus memainkan miliknya. Terdengar de**han juga lenguhan perempuan itu saat merasakan geli sekaligus nikmat yang datang bersamaan. Hingga akhirnya tubuh Reisa bergetar hebat saat merasakan pelepasan pertamanya. Denis kembali naik ke atas ranjang kemudian mengungkungi tubuh Reisa.
“Kamu yakin mau bercinta denganku?”
“Uhum..”
“Tidak akan menyesal?”
“Aku akan menyesal kalau melewatkan kesempatan ini.”
“Bagaimana kalau Fahrul tahu?”
“Dia tidak akan tahu asal kita tutup mulut,” Reisa menaruh telunjuknya di bibir Denis.
“Apa kamu mencintai Fahrul?”
“Cinta? Hahaha... iya aku mencintainya, mencintai uangnya tepatnya. Dia itu ATM berjalanku, ssstttt,” Reisa menaruh telunjuk di depan bibirnya.
“Apa kamu pernah bercinta dengan lelaki lain selain Fahrul?”
“Tentu saja.”
“Dengan Adibal?”
Adibal adalah aktor yang namanya naik daun akhir-akhir ini. Selain kemampuan aktingnya yang mumpuni, pria itu juga berwajah tampan. Banyak kaum hawa yang menginginkan menjadi kekasihnya.
“Iyesss... dia itu pacar asliku. Aku cinta sama dia.”
“Kamu cinta Adibal tapi kamu mau bercinta denganku.”
Denis menarik tubuhnya dari atas Reisa kemudian duduk membelakanginya. Reisa bangun kemudian memeluk leher Denis dari belakang. Perempuan itu menciumi tengkuk dan juga punggung Denis yang putih bersih.
“Karena kamu mempesona. Sudah lama aku ingin merasakan kehebatanmu di ranjang.”
“Lalu Adibal?”
“Hei.. biarkan saja. Dia juga punya selingkuhan di belakangku, jadi anggap saja kalau kita impas.”
Denis membalikkan tubuhnya menghadap Reisa. Perempuan itu mengalungkan lengannya ke leher Denis. Sebagai pria normal, dihadapkan pada situasi ini, tentu saja membuat dirinya menginginkan lebih. Dia kembali meraup bibir Reisa, kemudian memagutnya sebentar.
“Kalau kamu tidak mencintai Fahrul kenapa kamu tidak meninggalkannya.”
“Nooo.. nooo.. sudah kubilang dia adalah ATM berjalanku.”
“Jadi hanya karena uang kamu bertahan bersamanya?”
“Yups.”
“Bagaimana dengaku? Apa yang kamu harapkan dariku?”
“Ini.”
Reisa meraba rudal milik Denis yang sudah mengeras kemudian merematnya, membuat pria itu mengerang. Kemudian Reisa membuka kancing juga resleting celana yang dikenakan Denis. Butuh beberapa detik untuk melepaskan celana berbahan jeans itu dari tubuh Denis.
Erangan Denis terdengar ketika Reisa memainkan miliknya. Walaupun usia Reisa terbilang belia, baru menginjak 18 tahun. Namun kemampuan bercinta perempuan itu patut diacungi jempol. Pantas saja Fahrul sampai tergila-gila padanya.
Denis mendorong tubuh Reisa hingga berbaring di kasur. Pria itu merangkak lalu memulai lagi cumbuannya. Sekali lagi Reisa dibuat melayang olehnya.
Reisa menatap Denis dengan mata yang sudah berkabut. Sahabat dari Fahrul ini benar-benar pemain profesional, hanya dalam waktu kurang dari lima menit sudah bisa membuatnya on fire. Denis berdiri dengan kedua lututnya di depan gua lembab Reisa yang terbuka lebar. Kemudian dengan sekali hentak dia memasukkan rudal ke dalam gua tersebut. Terdengar pekikan Reisa ketika rudal panjang dan berurat memasuki miliknya.
🍂🍂🍂
Widih Denis biasanya main sama tante² sekarang mainnya sama sugar baby. Gimana rasanya Den? Nanti kasih tau gue ya🤣
Bab ini gue up tadi malem, tapi sampe pagi masih review aja. Kesel gue, ini udah direview boss, jangan sampe ngga lolos😤