The Nick's Life

The Nick's Life
Dissapeared



Flashback On


Rahman keluar dari kamar begitu Iza mengatakan minta dinikahkan dengan Nick. Pria itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi sang adik. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilannya terjawab.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Di.. Iza ada di tempatku.”


“Benarkah? Alhamdulillah.. dia kabur dari rumah. Apa dia datang sendiri atau bersama seorang laki-laki?”


“Dia datang sendiri. Dan sekarang Nick ada di sini.”


“Aku akan menjemputnya...”


“Di.. dengarkan aku dulu.”


Rahman segera memotong ucapan adiknya. Pria itu kemudian mengatakan kalau dirinya akan menikahkan Iza dan Nick. Awalnya Rahardi menolak mentah-mentah ide itu. Bagaimana mungkin sang kakak akan menikahkan mereka di saat dirinya mati-matian memisahkan.


“Aku ngga setuju. Aku ini ayahnya, pernikahan mereka tidak akan sah tanpa restu dariku.”


“Aku tahu. Makanya aku mengatakan ini padamu. Restui mereka, apa kekurangan Nick? Dia pria baik dan bertanggung jawab, dia juga paham ilmu agama, apalagi kurangnya?”


“Apa akang tahu bagaimana keluarganya? Ibunya itu perempuan simpanan!”


“Dulu... tapi sekarang sudah tidak. Iza dan Nick sudah menceritakan semuanya padaku. Kenapa kamu keras kepala seperti ini? Apa kamu tidak ingin melihat putrimu bahagia? Kamu harusnya bersyukur Iza datang padaku dan memintaku menikahkan mereka. Bisa saja mereka melakukan hal lain, hal yang terlarang oleh agama. Berhentilah bersikap keras kepala, restui mereka. Kalau aku tidak menikahkan mereka, bukan tidak mungkin Iza akan mencari orang lain untuk menikahkan mereka atau bisa jadi berbuat nekad. Jika mereka sampai melakukan perbuatan dosa, maka kamu ikut bertanggung jawab atas dosa mereka. Restui mereka, jangan sampai kamu menyesal nantinya.”


Tak ada jawaban dari Rahardi. Lelaki itu sepertinya tengah mempertimbangkan apa yang dikatakan sang kakak. Rahman masih setia menunggu jawaban adiknya. Dia perlu melakukan ini agar pernikahan keponakannya sah.


“Baiklah kang. Aku mengijinkan akang menikahkan Iza dengan Nick. Tapi tolong jangan katakan kalau aku yang memberimu ijin. Aku masih ingin melihat seberapa serius Nick memperoleh restuku dan menunjukkan diri kalau dirinya layak menjadi menantuku.”


Takut sang anak berbuat nekad, Rahardi pun memberikan restunya. Untuk saat ini dia terpaksa mengalah, tapi dirinya akan terus mencari celah untuk membuat mereka berpisah. Baginya, Nick tetap bukan sosok yang baik sebagai imam sang anak.


Flashback Off


“Keterlaluan!! Bener-benar keterlaluan kamu, mas!!”


“Mina... aku..”


“Apa??!! Apalagi yang mau kamu katakan?! Kamu memberi ijin kang Rahman menikahkan Iza, kamu tahu kalau Nick adalah menantumu tapi kamu juga yang berusaha memisahkannya. Kamu bahkan menjodohkan Iza dengan Syehan di saat anakmu sudah menikah dengan ijinmu!!”


Mina tak henti memegangi kepalanya. Dirinya seakan baru saja terhantam batu besar. Kekecewaan dan kemarahannya kini mulai berubah menjadi benci. Tangis wanita itu mulai pecah. Winny mendekat kemudian memeluk adik iparnya ini.


“Abi sudah tahu soal pernikahanku?”


Semua mata langsung mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Rahardi terkejut melihat Iza ternyata ikut mendengarkan apa yang terjadi tadi. Meta langsung memegangi tangan Iza, begitu wanita itu bergerak menuruni sisa anak tangga. Ridho berdiri kemudian mengulurkan tangannya ke arah Iza.


“Abi tahu aku sudah menikah tapi abi masih berusaha memisahkanku dengan Nick. Bahkan Abi menjodohkanku dengan Syehan. Kenapa bi? Kenapa? Apa aku bukan anak kandung abi sampai abi begitu membenciku?”


“Ngga Zi.. abi sayang kamu, nak.”


“Sayang? Kalau abi sayang padaku, abi pasti mendukungku. Kalau abi sayang padaku, abi tidak akan memisahkan anakku dari ayahnya. Kalau abi sayang padaku, abi tidak akan membawaku pergi dari Nick. Bahkan abi menyebut anakku anak haram padahal abi tahu hubunganku dengan Nick adalah hubungan yang halal. Kenapa bi? KENAPA?!!”


“Zi.. maafkan abi. Abi memang bersalah, abi khilaf..”


“Khilaf? Begitu mudahnya abi mengatakan khilaf saat semuanya sudah terjadi. Aku kehilangan anakku, kehilangan penghilahatanku dan aku juga kehilangan suamiku. Semua karena abi!! Sekarang abi sudah berhasil memisahkanku dengan Nick, SELAMANYA. APA ABI PUAS??!! PUASS???!!”


“Sabar Zi..” Ridho mendekati Iza kemudian mengusap punggung adiknya itu.


“Kenapa aku harus hidup? Kenapa aku tidak menyusul saja anak dan suamiku!!” tangis Iza mulai pecah.


“Zi.. jangan berkata seperti itu nak,” seru Mina.


“Zi.. maafkan abi..”


“AKU MEMBENCIMU!! MEMBENCIMUUU!!! AAARRRGGGHHH!!!”


Iza berteriak histeris mengeluarkan semua kemarahannya. Sekali lagi sang ayah telah mempermainkannya. Dadanya terasa sesak, kenyataan pahit terus saja menghantamnya secara beruntun. Tiba-tiba saja Iza tak dapat menopang tubuhnya lagi lalu jatuh terkulai. Dengan sigap Ridho menangkap tubuh adiknya. Karena terlalu shock, Iza kembali tak sadarkan diri. Rahardi langsung berlari ke arah Iza begitu melihat sang putri pingsan.


“JANGAN SENTUH ADIKKU!!”


Rahardi terkesiap mendengar teriakan Ridho. Hatinya mencelos melihat putranya menatap penuh kebencian padanya.


“Jangan pernah dekati adikku lagi! Mulai sekarang Iza adalah tanggung jawabku! Menjauhlah darinya!!”


Ridho mengangkat tubuh Iza kemudian membopongnya menuju kamar. Rina dan Meta bergegas mengikuti dari belakang. Rahardi menjatuhkan dirinya di lantai, tangisnya langsung pecah. Anak dan istrinya kini membencinya.


“Aku sudah tidak bisa hidup denganmu lagi. Mari kita bercerai!”


Mina berjalan melewati Rahardi yang masih duduk bersimpuh di lantai. Tak dipedulikannya sedu sedan sang suami. Hatinya sudah mengeras dan tak akan mencair lagi hanya karena isak tangis pria itu. Dia terus berjalan menuju kamar anaknya di lantai atas.


Rahman dan yang lainnya hanya mampu terdiam melihat bahtera rumah tangga adiknya hancur seketika. Keluarga yang dulunya harmonis kita sudah pecah seperti kapal yang terkena ombak besar dan sebentar lagi kapal tersebut akan karam sampai ke dasar.


🍂🍂🍂


Diah memasuki ruang inap Nick. Dia baru saja mengantarkan kedua orang tua serta adiknya yang pulang ke Bandung. Sudah empat hari mereka tinggal di Jakarta. Selain untuk menjenguk Nick, mereka juga datang untuk menikahkan Diah dengan Bryan. Pernikahan dilakukan di kantor KUA yang berada di wilayah di mana Diah tinggal.


Tentu saja pernikahan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Nick. Mereka sepakat menutupi cerita kelam mereka dan memulai lembaran baru bersama Nick. Jika memang ingatan Nick tidak akan kembali selamanya, maka biarkanlah pria itu menganggap kalau hidupnya sama seperti anak dari keluarga normal lainnya.


Diah mendudukkan diri di sofa. Matanya tertuju ke ruangan Nick. Di sana anaknya itu tengah bercengkerama dengan keempat sahabatnya. Kondisi Nick sudah lebih baik sekarang. Setelah melakukan konsultasi dengan psikiater, pria itu jarang mengeluh sakit di bagian kepalanya. Diah sungguh berharap kondisi Nick akan pulih secepatnya.


Mata Diah kemudian tertuju pada cincin pernikahan yang melingkari jari manisnya. Seutas senyum tercetak di wajahnya. Tak dipungkiri hatinya merasa bahagia, setelah melalui jalan berliku dan terjal, akhirnya dia bisa kembali bersama dengan Bryan. Lelaki yang begitu mencintainya juga Nick.


Karena mengantuk, Diah membaringkan tubuhnya di sofa. Beberapa hari ini dia selalu tidur larut malam karena terlalu asik bercengkerama dengan keluarganya. Tak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk terlelap.


“Ok Nick.. kita tes lagi. Lo udah inget kan nama kita-kita,” seru Fahrul.


“Fahrul,” menunjuk pada Denis.


“Abe,” menunjuk pada Arnav.


“Denis,” menunjuk pada Abe.


“Arnav,” menunjuk pada Fahrul.


“Salah Nick. Gue Fahrul, ini Abe, itu Denis nah yang sejenis Shah Rukh Khan tuh Arnav.”


“Ok.. Fahrul, Abe, Denis, Arnav.”


Nick mengulangi nama-nama sahabatnya sesuai urutan yang Fahrul katakan tadi tapi menunjuk pada orang yang salah. Fahrul menatap kesal pada Nick, dia baru sadar kalau sedari tadi hanya dikerjai oleh pria itu. Nick tertawa melihat wajah Fahrul yang sudah memasang wajah perang.


“Lo tuh ya.. biar lagi amnesia tetep aja ngeselin,” kelutus Fahrul.


“Lo nya aja yang mau dibegoin ama dia hahaha,” sambung Denis.


“Sorry.. sorry abis muka lo tegang banget, udah kaya orang kebelet,” Nick terkekeh.


Fahrul menggelengkan kepalanya. Dia lalu naik ke atas bed kemudian berbaring di sana. Ukuran bed yang cukup besar memang memungkinkan pria itu ikut berbaring di sana. Abe mengambil bantal lalu memukulkannya ke arah Fahrul tapi pria itu bergeming.


“Gue temenan sama kalian dari kapan?”


“Kalau sama gue and Denis dari SMP. Tapi kalau sama nih curut dua, pas kuliah. Sama kaya Topan,” terang Arnav.


“Lo berdua produk oplosan ya.”


“Buset dikira bensin kali, oplosan,” celetuk Denis.


“Hooh.. mereka berdua emang produk oplosan,” timpal Fahrul.


“Arnav turunan tuan Takur pasti.”


“Gue turunan Pakistan ya bukan India.”


“Sama aja beda tipis. Yang jelas yang banyak bulunya sebadan-badan kaya beruk.”


“Hahahaha...”


Fahrul dan Abe tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Nick. Berbeda dengan Denis dan Arnav, mereka nampak termenung. Nick pernah mengatakan hal itu sebelumnya saat mereka masih duduk di bangku SMA. Sepertinya tanpa sadar pria itu mengulangi apa yang pernah dilakukannya.


“Kalau lo.. pasti turunan Korea....” menunjuk pada Denis.


“Tul..” sambar Denis.


“Utara,” Nick melanjutkan ucapannya yang terpotong Denis tadi.


“Lo kira gue keturunan Kim Jong Un apa,” sewot Denis.


Nick kembali terkekeh. Dia begitu menikmati momen ini. Berbincang bersama empat orang yang mengaku sebagai sahabatnya membuat moodnya membaik. Sejenak dia melupakan kesedihannya karena masih belum bisa mengingat dirinya sendiri.


“Kalian udah pada nikah?”


“Pacar?”


Denis hanya menggeleng, Abe mengangkat bahunya sedang Arnav hanya diam. Hubungannya dengan Meta seakan berhenti di tengah jalan. Dia masih belum sanggup bertemu dengan gadis itu setelah kebohongan yang dilakukannya.


“Terus gue juga jomblo kaya kalian?”


Walau ragu, namun ketiganya menganggukkan kepala. Nick menggaruk kepalanya sejenak. Dipikirnya dia sudah mempunyai kekasih atau istri karena terkadang dia mendapat kelebatan ingatan seorang wanita atau seperti mendengar suara seorang wanita memanggil namanya.


“Serius gue jomblo? Kok bisa? Padahal gue ganteng gini.”


“Narsis,” ketus Abe.


“Pede gila,” rutuk Denis.


“Songong,” celetuk Arnav.


“Kumat,” sambung Fahrul.


Nick kembali tergelak melihat reaksi para sahabatnya. Pembicaraan mereka terus berlangsung. Nick terus menggali informasi dirinya dari keempat orang tersebut. Berharap ada perkataan mereka yang bisa mengingatkannya akan sesuatu. Namun nihil, tak ada satu pun yang diingatnya. Hanya situasi yang dialaminya saat ini serasa familiar untuknya.


🍂🍂🍂


Selepas maghrib, Fahrul dan Abe berpamitan karena harus bertemu dengan pak Dewa membicarakan proses pembayaran dealer yang harus tertunda beberapa hari. Begitu juga Arnav yang harus meninjau kegiatan promo yang diadakan kantornya. Denis ikutan pamit, dia ingin menengok Ayura dan Azka.


Bryan baru saja datang setelah seharian mengurus pengalihan kedai kopi Nick. Diah memintanya melakukan hal tersebut. Wanita itu tak mau Nick bersentuhan atau berhubungan dengan hal-hal yang akan mengingatkannya pada Iza. Diah benar-benar ingin memulai dunia baru untuk Nick. Dunia di mana tanpa Iza di dalamnya.


Pria itu kemudian menghampiri Nick yang tengah berbaring menonton televisi. Dia menarik kursi ke samping bed kemudian mendudukkan diri di sana. Beberapa kali Nick mengganti channel televisi, mencari saluran yang menarik perhatiannya. Tangan Nick berhenti memijit remote ketika melihat sebuah berita tentang kecelakaan mobil. Dengan cepat Bryan mengambil remote kemudian mematikan televisi.


“Dad..”


“Ada yang mau daddy bicarakan.”


“Soal apa?”


“Setelah keluar dari rumah sakit, apa yang mau kamu lakukan?”


“Apa aku tidak bekerja sebelumnya?”


“Kamu bekerja sebagai manager MPR di Ambrossia Hills. Tapi seminggu sebelum kecelakaan, kamu sudah mengundurkan diri. Kamu bilang ingin membuka usaha sendiri.”


“Usaha apa?”


“Daddy ngga tahu karena kamu belum mengatakannya.”


“Nanti biar aku pikirkan lagi, dad.”


“Hmm.. ayo siap-siap. Sebentar lagi isya, kita shalat jamaah.”


Nick menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Situasi kebersamaan Bryan dan Diah terasa asing untuknya, tidak seperti saat bersama para sahabatnya. Walau asing, tapi Nick tetap


merasa bahagia.


Baru saja selesai berwudhu, terdengar suara adzan dari ponsel Bryan. Nick segera keluar dari ruangannya kemudian menghampiri mommy dan daddy-nya yang telah lebih dulu siap. Tak lama kemudian, mereka memulai shalat berjamaah.


🍂🍂🍂


Nick terbangun saat merasakan kerongkongannya kering. Dia meraih gelas di atas nakas kemudian meneguk isinya sampai habis. Pria itu kembali membaringkan tubuhnya, namun tak bisa memejamkan matanya lagi. Untuk mengisi kebosanan, dia menyalakan televisi.


Sama seperti tadi, Nick terus mengganti-ganti channel. Jarinya terus menekan tombol remote, mencari program yang menarik. Gerakan tangannya terhenti ketika melihat program yang menayangkan berita kecelakaan mobil. Tayangan yang tadi sempat dilihatnya namun dimatikan oleh Bryan.


Dengan serius Nick memperhatikan berita yang ditayangkan. Suara pembaca berita bergantian dengan suara petugas polisi serta saksi kecelakaan. Gambar juga memperlihatkan kondisi mobil pasca kecelakaan. Tiba-tiba saja sebuah bayangan berkelebat di kepalanya.


Nick memejamkan matanya. Dia mencoba untuk tenang, supaya bayangan tersebut dapat memberikan petunjuk untuknya. Usahanya berhasil, beberapa kali bayangan dirinya berada dalam kendaraan berkelebat. Dia juga melihat seorang wanita bersamanya, namun wajahnya samar. Hanya suara saja yang terngiang-ngiang di kepalanya.


“Abi mengejar kita..”


“Hati-hati mas..”


Ingatannya terhenti. Nick mencoba mengingatnya lagi. Dia harus tahu siapa wanita yang kerap keluar masuk ingatannya. Sekali lagi dia menarik nafas panjang kemudian berkonsentrasi. Lagi sebuah bayangan muncul di kepalanya. Bukan tentang kecelakaan tapi ingatan sebuah rumah. Nick terus memaksakan diri mengingat, karena rumah tersebut begitu familiar.


Come on Nick.. sedikit lagi..


Nick terus berkonsentrasi. Tanpa mempedulikan nasehat psikiater dia terus memaksa otaknya mengingat hal yang ingin diketahuinya. Kelebatan ingatan kembali muncul, rumah, sekolah, rel kereta api, deretan makam. Mata Nick langsung terbuka ketika ingatan tentang deretan makam muncul.


Tanah kusir. Itu pemakaman tanah kusir. Rumah siapa itu? Aku harus memastikannya.


Nick turun dari bed, kemudian mengganti pakaiannya. Dengan mengendap-endap, dia keluar dari ruangan. Nampak Denis tengah tertidur di sofa. Malam ini, giliran pria itu yang bertugas menemani Nick di rumah sakit.


Pelan-pelan tangan Nick membuka pintu. Kepalanya melihat ke arah meja perawat. Kebetulan sekali tak ada yang menjaga di sana. Sepertinya sang perawat tengah mengecek keadaan pasien di kamar lain. Sambil berlari kecil Nick menuju lift kemudian menekan tombol panah ke bawah. Tak berapa lama pintu lift terbuka. Pria itu bergegas masuk ke dalamnya.


Sekali tarik, Nick melepaskan gelang tanda pasien di pergelangan tangannya kemudian membuangnya ke tong sampah begitu pria itu keluar dari lift. Seraya menarik hoodie untuk menutupi kepalanya, dia berjalan keluar dari rumah sakit.


Suasana jalanan nampak sepi. Waktu memang sudah lewat tengah malam. Nick terus berjalan, mencari cara bagaimana agar bisa sampai ke tempat tujuan. Dirinya tak membawa uang sepeser pun. Saat sedang berjalan, telinganya menangkap sebuah lantunan lagu yang berasal dari salah satu kios rokok yang dilewatinya. Seketika itu pula kelebatan bayangan seorang wanita melintas.


Aku mencintaimu..


Aku juga mencintaimu..


Tidak masalah di mana kita tinggal asal terus bersamamu..


Ayo kita lakukan..


Ingatan secara random terus berseliweran di kepala Nick. Ingatan tentang Iza, Rahardi, ummi, Diah keluar masuk ke kepalanya. Hanya bayangan dengan suara-suara yang terus berdengung di kepalanya.


Langkah Nick terhenti ketika merasakan sakit yang begitu hebat di bagian kepalanya. Sejenak dia mengistirahatkan diri sambil berpegangan pada sebuah tiang. Rasa sakit tidak berkurang sedikit pun, justru semakin menusuk kepalanya. Terdengar erangannya ketika rasa sakit semakin menjadi-jadi. Hidungnya mulai mengeluarkan darah.


Dengan langkah terhuyung Nick terus berjalan. Yang ada di pikirannya saat ini menemukan tempat untuk berbaring. Sambil menyusut darah yang terus keluar dari hidungnya, Nick melanjutkan perjalanan. Kemudian matanya menangkap sebuah mobil pick up terparkir beberapa meter di depannya.


Nick mempercepat langkahnya. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, pria itu naik ke bagian belakang mobil. Beberapa karung berisi sayuran juga beras ada di sana, namun masih menyisakan tempat untuknya bisa berbaring. Tak sanggup menahan sakit lebih lama, tubuh Nick ambruk. Pria itu tak sadarkan diri.


Dua orang pria berjalan mendekati mobil. Tanpa melihat ke arah belakang, mereka masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama kendaraan roda empat itu bergulir membelah jalanan ibu kota. Tanpa mereka sadari, ada penumpang lain yang ikut di belakang mereka.


🍂🍂🍂


Denis terbangun ketika alarm ponselnya berbunyi. Dengan malas dia mematikan alarm kemudian memejamkan matanya kembali. Lima menit berselang, alarm kembali berbunyi. Kali ini Denis memaksakan diri untuk bangun. Dengan mata memicing dia melihat ke jam digital yang ada di ponselnya. Pukul setengah lima lebih tujuh menit.


Denis menegakkan tubuhnya. Tangannya terentang untuk meregangkan otot-otot punggungnya. Setelah nyawanya terkumpul, pria itu bangun dari duduknya kemudian menuju ruangan Nick.


Pria itu terdiam sejenak saat tak mendapati sahabatnya di sana. Kemudian dia melangkah ke kamar mandi. Diketuknya pintu kamar mandi yang tertutup seraya memanggil nama sahabatnya.


TOK


TOK


TOK


“Nick.. Nick..”


TOK


TOK


TOK


Tak kunjung ada jawaban dari dalam, Denis membuka pintu kamar mandi. Ternyata tak ada siapa-siapa di dalam. Rasa kantuk Denis hilang seketika berganti dengan kepanikan. Apalagi ketika matanya melihat pakaian pasien yang teronggok di lantai. Dibukanya pintu lemari, susunan pakaian sedikit berantakan, seperti ada yang mengambil secara terburu-buru.


Bergegas Denis keluar dari ruang rawat. Matanya menyapu koridor lantai yang masih nampak sepi. Dia kembali ke kamar kemudian mengambil ponselnya. Dengan cepat dia menghubungi nomor Diah. Sampai deringan berakhir, wanita itu tak kunjung menjawab panggilannya. Denis kembali menghubungi dan kali ini panggilannya terjawab.


“Assalamu’alaiakum.”


“Waalaikumsalam. Mom..”


“Ada apa Den?”


“Nick.. mom.. Nick ngga ada.”


“Ngga ada gimana?”


“Nick hilang mom.”


“APA?!!”


🍂🍂🍂


Nick nyangkut di mobil bak, mom🏃🏃🏃