
Hari masih siang saat Ayura dan Azka sampai di rumah. Sepulang sekolah, wanita itu mengajak anaknya berbelanja kebutuhan sehari-hari dahulu. Ayura terkejut melihat Arif sudah ada di depan rumahnya. Pasalnya dia tak pernah memberitahu di mana dirinya tinggal setelah pindah dari kediaman orang tuanya.
Tanpa mempedulikan Arif, Ayura membuka pintu. Dengan cepat dia menarik Azka masuk. Namun saat dirinya akan menutup pintu, tangan Arif menahannya. Ayura meminta Azka untuk masuk ke dalam kamar. Anak itu menuruti ucapan mamanya, sebelum masuk kamar, dia mengambil ponsel milik Ayura.
“Mau apa kamu ke sini?” Ayura berusaha mendorong Arif menjauh dari pintu.
“Yu.. ayo kita bicara.”
“Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi.”
“Ayolah Yu..”
Melihat Arif yang begitu bersikeras, Ayura tak punya pilihan selain mengikuti keinginan pria itu. Dia meminta Arif berbicara di teras saja. Ayura takut jika Azka sampai melihatnya bertengkar dengan Arif. Anaknya itu masih trauma dengan kekasaran Arif saat mereka masih menikah dulu. Keduanya lalu duduk di kursi bambu yang tersedia di sana.
“Ada apa?”
“Ayo kita rujuk.”
“Aku udah bilang ngga mau. Kenapa ngga kamu ajak nikah aja selingkuhanmu itu.”
“Aku cuma mau sama kamu. Aku sadar sudah melakukan kesalahan. Aku memang bodoh menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu. Ayo kita rujuk, aku janji akan memperbaiki kesalahanku. Mari kita buka lembaran baru.”
“Cih.. mudah sekali mulutmu mengatakan itu. Apa kamu lupa apa yang telah kamu lakukan dulu? Sekarang tanpa beban kamu bilang ingin rujuk. Apa otakmu waras?”
Arif terdiam, memang dulu dia melakukan kesalahan fatal. Bukan hanya berselingkuh, dia juga telah membuat Ayura keguguran dan kehilangan calon anak mereka. Namun Arif telah menyesalinya, dia berniat kembali menjalin rumah tangga dengan mantan istrinya itu.
“Yu.. tolong kasih aku kesempatan.”
Arif menggenggam tangan Ayura. Dengan cepat wanita itu menarik tangannya. Dia sudah terlalu muak pada lelaki yang pernah menyandang status sebagai suaminya. Ayura berdiri dan hendak masuk kembali ke dalam rumah. Tapi Arif tak membiarkannya, lelaki itu menarik tangan Ayura dan mencengkeramnya dengan kuat.
“Lepas!”
“Kita belum selesai bicara.”
“Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi. Sampai kapan pun aku ngga mau rujuk denganmu. Lebih baik kamu pergi.”
“Aku ngga akan pergi sampai kamu mau rujuk denganku!”
“Dasar gila!”
“Iya.. aku gila. Aku gila sudah melepaskanmu. Aku gila melihatmu dekat dengan lelaki lain. Ayo kita rujuk Yu.”
“Never!!”
Kesal mendengar jawaban Ayura, Arif mendorong tubuh mantan istrinya itu hingga punggungnya menempel di pintu. Matanya nampak memerah, Ayura dapat mencium bau alkohol dari mulut pria itu. Sepertinya Arif baru saja mengkonsumsi minuman beralkohol. Pria itu merapatkan tubuhnya ke arah Ayura, bermaksud untuk menciumnya. Sebisa mungkin Ayura berontak. Dengan kedua tangannya dia menahan tubuh Arif yang semakin merapat.
Tiba-tiba sebuah lengan menarik paksa bahu Arif lalu melayangkan tinju ke arah pria itu. Arif jatuh tersungkur, tapi kemudian dia kembali bangun lalu melihat dengan nyalang ke arah orang yang sudah memukulnya.
“Brengsek!! Siapa kamu.”
“Siapa gue ngga penting. Pergi lo dari sini!!”
Kesal urusannya dicampuri, Arif merangsek maju sambil melayangkan pukulan namun meleset. Justru dirinya yang kembali terkena bogeman pria itu. Ayura berteriak melihat perkelahian yang terjadi. Dia memeluk pinggang penolongnya dari belakang lalu menariknya menjauh dari Arif.
“Denis udah.. udah..”
Melihat Ayura yang ketakutan, Denis berhenti memukuli Arif. Dia berdiri melindungi Ayura. Susah payah Arif bangun sambil menyeka mulutnya yang berdarah akibat pukulan Denis.
“Siapa dia, Yu? Aku akan melaporkannya ke polisi karena sudah menganiayaku.”
“Silahkan, aku tidak takut. Ini namanya pembelaan diri, bodoh. Kamu yang datang ke sini dan membuat keributan. Aku hanya melindunginya.”
“Lebih baik kamu pergi. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
“Aku hanya ingin rujuk denganmu!”
“Dia tidak akan pernah rujuk denganmu. Dia calon istriku, sebentar lagi kami akan menikah. Jadi lebih baik kamu pergi sebelum aku menghajarmu lagi.”
Baik Arif maupun Ayura terkejut mendengar penuturan Denis. Tapi demi mengusir sang mantan, Ayura mengikuti permainan Denis. Dia memeluk lengan Denis lalu melihat pada Arif.
“Lebih baik kamu pergi dan jangan ganggu kami lagi. Denis memang calon suamiku. Pergi sebelum aku memanggil warga lain,” ancam Ayura.
Dengan kesal Arif pergi dari kediaman Ayura. Dia masih belum percaya kalau Denis adalah calon suami mantan istrinya. Pria itu sudah mengikuti Ayura selama tiga bulan ke belakang. Dia tak pernah melihat Denis bersama dengan Ayura sebelumnya.
“Kamu ngga apa-apa?”
“Ngga, makasih sudah menolongku. Bagaimana kamu bisa ke sini?”
“Azka yang menelponku. Dia bilang tolong mama om.”
“Astaghfirullah, Azka.”
Ayura segera masuk ke dalam. Karena masalah Arif, dia sampai melupakan anaknya. Denis mengikutinya dalam belakang. Ayura membuka pintu kamar Azka. Terlihat anak itu tengah duduk di pojok kamar dengan kepala menunduk dan kedua tangan menutup telinganya. Perlahan wanita itu mendekati anaknya.
“Azka.. ini mama sayang.”
“Huhuhu... Azka takut ma.”
“Jangan takut sayang. Ini mama..”
Azka bergeming, Ayura masih belum bisa membujuk sang anak yang masih shock. Denis maju lalu berjongkok di depan Azka.
“Azka.. ini om,” Denis memegang bahu Azka. Perlahan Azka mengangkat kepalanya.
“Om...”
“Iya, ini om. Jangan takut, ada om sekarang.”
Azka langsung memeluk Denis. Anak itu membenamkan wajahnya ke ceruk leher Denis. Tangan Denis memeluk punggung Azka yang bergetar. Kentara sekali kalau anak itu dilanda ketakutan yang begitu hebat. Dia berdiri lalu melihat ke arah Ayura.
“Kenapa Azka begitu takut? Apa laki-laki itu pernah menyakitinya?”
Tak ada jawaban dari Ayura. Wanita itu hanya mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya. Salah satu alasannya berpisah dan tak mau kembali pada Arif karena Azka. Pria itu tak pernah bersikap baik pada Azka. Rahang Denis mengeras melihat anggukan Ayura.
“Malam ini kalian menginap saja di tempatku. Dia bisa kembali lagi.”
“Tapi Den...”
“Lihat Azka, Ay. Dia ketakutan. Ayo, bereskan pakaian kalian. Kita pergi sekarang.”
Ayura tak punya pilihan selain menuruti ucapan Denis. Dia juga tak mungkin tinggal di rumah orang tuanya. Arif pasti akan menyusulnya ke sana dan membuat keributan. Dia tak mau ambil resiko ayahnya terkena serangan jantung karena Arif.
Denis terus menggendong Azka sambil terus menenangkannya. Dia membawa Azka keluar lalu mendudukkan di atas motornya. Diterangkan apa saja yang ada di atas motornya demi mengalihkan perhatian anak itu dan berhasil. Anak itu kembali ceria. Dia meletakkan kedua tangannya di atas stang.
Beberapa saat kemudian Ayura keluar dari rumah dengan sebuah traveling bag di tangannya. Setelah mengunci pintu dan mengambil sendal Azka, dia bergegas menghampiri Denis.
“Ayo.”
Denis memakaikan sendal di kaki Azka lalu naik ke atas tunggangannya. Ayura menyusul duduk di belakangnya dengan posisi menyamping sambil memangku tas di atas pahanya. Denis menolehkan kepalanya ke belakang.
“Pegangan, nanti kamu jatuh.”
Ayura mencengkeram jaket Denis. Tak lama kendaraan roda dua itu mulai melaju. Ayura kesulitan menjaga keseimbangan dengan sebelah tangan memegang traveling bag. Saat laju motor semakin kencang, Ayura tak punya pilihan selain memeluk pinggang Denis agar dirinya tak terjatuh.
Setelah berputar-putar keluar masuk jalan kecil dan gang demi menghindari polisi, akhirnya motor yang dikendarai Denis memasuki parkiran gedung apartemen. Dia terus melajukan motor memasuki basement lalu berhenti dia area parkir khusus motor. Ayura turun dari motor agar Denis lebih mudah memarkirkan motornya. Tak lama Denis mengajak Ayura dan Azka masuk ke dalam lift.
Mata Azka memandangi unit apartemen Denis yang ukurannya tidak terlalu besar. Pria itu hanya menyewa apartemen ukuran studio, yang hanya memiliki satu buah kamar, dapur dan ruang tamu merangkap ruang tengah. Unit ini baru disewanya tiga bulan lalu setelah Denis putus dari Teresa. Dia meninggalkan unit apartemen yang diberikan Teresa untuknya dan pindah ke tempat lain yang harganya terjangkau dengan koceknya.
“Kamu dan Azka bisa tidur di sini.”
Denis membukakan pintu kamarnya, mempersilahkan Ayura dan Azka untuk masuk. Pria itu terpaksa membawa Ayura dan Azka ke unit apartemennya. Dia sengaja tak membawa mereka ke rumah orang tuanya karena tak ingin mengganggu Fahrul dan Maira yang tengah berusaha rujuk.
“Lalu kamu tidur di mana?”
“Aku bisa tidur di sofa.”
“Santai aja.”
Denis keluar dari kamar lalu menuju ruang tengah dan menghempaskan bokongnya ke sofa. Tangannya meraih remote kemudian menyalakan layar datar di depannya. Tayangan pertama yang tampil adalah program infotainment. Tayangan gosip tersebut memberitakan tentang Helmi Irawan, seorang pengusaha batu bara yang terkenal bercerai dari istrinya Alfi Amara. Penyebab perceraian diduga adanya orang ketiga. Alfi terpergok suaminya ketika tengah bermesraan dengan seorang pria muda.
Senyum tipis mengembang di wajah Denis. Sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Beruntung dia sudah lepas dari wanita itu dan bukan dirinya yang bersama dengan Alfi saat terpergok. Lamunan Denis buyar ketika Ayura keluar dari kamar beserta Azka.
“Azka mau makan. Aku boleh masak di dapurmu?”
“Boleh aja sih. Tapi.. ngga ada apa-apa di kulkas hehe..”
Ayura yang tak percaya, berjalan menuju dapur. Dibukanya pintu kulkas, benar saja hanya ada tiga buah botol air mineral saja di dalamnya. Ayura menggelengkan kepalanya. Dia menutup kembali pintu kulkas.
“Pesen aja Ay.”
“Bagaimana kalau kita belanja? Aku akan masak, lebih irit dan sehat.”
“Boleh. Di sebelah gedung apartemen ada supermarket. Kita belanja di sana aja.”
Denis berdiri lalu menggandeng tangan Azka. Ayura mengikuti dari belakang, ketiganya keluar dari unit apartemen. Karena letak supermarket berdekatan dengan gedung apartemen, mereka memilih berjalan kaki untuk sampai ke sana.
🍂🍂🍂
Usai menidurkan Azka, Ayura keluar dari kamar. Wanita itu duduk di sofa melihat Denis yang tengah mengedit foto dengan laptopnya sambil duduk di lantai. Untuk beberapa saat dia hanya diam memandangi Denis yang tengah serius bekerja. Ayura kagum dengan foto hasil jepretan pria itu yang terlihat indah.
Selesai dengan pekerjaannya, Denis mematikan laptopnya lalu berpindah duduk di sofa. Ada hal yang ingin ditanyakannya sedari tadi, namun ditundanya karena Azka masih terjaga.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Denis membuka pembicaraan.
“Silahkan.”
“Laki-laki yang tadi siapa?”
“Dia Arif, mantan suamiku.”
“Apa yang dia inginkan?”
“Rujuk.”
“Kamu mau?”
“Cih.. aku sudah gila kalau mau rujuk dengannya.”
“Kalau kamu mau cerita, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Dengan memahami posisimu, mungkin aku bisa membantumu.”
Ayura terdiam sejenak memikirkan perkataan Denis. Sejak bercerai dengan Arif, dia tak pernah berhubungan dekat dengan pria lain. Hanya kedua orang tuanya juga Maira yang tahu tentang penyebab perceraiannya dengan Arif. Melihat ketulusan Denis, wanita itu merasa tak ada salahnya jika berbagi cerita dengannya. Setidaknya ini bisa mengurangi sedikit bebannya. Setelah menarik nafas panjang, mulailah mengalir cerita hidupnya yang tak indah.
Ayura adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya Nikita, menikah dengan Tomi, pria yang sudah dipacarinya selama dua tahun. Pernikahan mereka berlangsung bahagia dan harmonis. Enam bulan menikah, Nikita hamil. Kebahagiaan keduanya semakin lengkap. Namun musibah terjadi ketika kehamilan Nikita menginjak bulan terakhirnya. Saat akan memeriksakan kehamilan, mereka mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka dikendarai ditabrak oleh truk yang melaju kencang karena remnya blong.
Keduanya segera dilarikan ke rumah sakit. Anak dari perut Nikita dapat dikeluarkan dengan selamat namun Nikita harus meregang nyawa karena kehilangan banyak darah. Tomi koma selama tiga bulan, saat sadar dia shock mengetahui istrinya telah meninggal dunia. Ayura dan kedua orang tuanya membantu Tomi mengurus anaknya. Ayah Ayura menamai cucu pertamanya, Muhammad Azka Pratama.
Begitu keluar dari rumah sakit, Tomi dibawa ke rumah orang tua Ayura karena Tomi sudah tak mempunyai orang tua dan saudaranya tinggal jauh di luar pulau Jawa. Kondisi Tomi pasca kecelakaan tidak sepenuhnya pulih. Benturan di kepala menyebabkan pria itu kehilangan sebagian kemampuannya untuk bergerak dan mengontrol tubuhnya.
Demi menghindari gunjingan tetangga dan juga demi Azka, kedua orang tua Ayura meminta anak bungsunya menikah dengan Tomi. Didorong rasa sayang pada Azka, Ayura menyetujui permintaan orang tuanya. Selama menikah, mereka tak pernah berhubungan badan karena kondisi Tomi yang tak memungkinkan. Pernikahan mereka hanya bertahan enam bulan karena Tomi meninggal dunia.
Ayura melanjutkan hidup dengan menyandang status janda satu anak. Pada orang-orang dia mengatakan kalau Azka adalah anaknya bersama Tomi. Tiga tahun berlalu, Ayura bertemu dengan Arif. Baru berhubungan selama enam bulan, Arif mengajaknya menikah. Awalnya Ayura ragu, namun pria itu berhasil meyakinkannya. Mereka pun menikah.
Bukan kebahagiaan, justru penderitaan yang didapat oleh Ayura. Setelah Arif tahu kalau Azka bukan anak kandung Ayura, dia mulai bersikap kasar pada Azka. Pria itu juga meminta pengasuhan Azka diserahkan pada orang tua Ayura atau mereka bercerai. Tak ingin melihat anaknya menjadi janda lagi, ibu Ayura menyetujuinya. Dengan sangat terpaksa Ayura berpisah dengan Azka.
Tetapi setelahnya, sikap Arif tidak berubah. Pria itu sejatinya hanyalah seorang lelaki brengsek. Tujuh bulan setelah memisahkan Ayura dengan Azka, dia berselingkuh dengan rekan bisnisnya. Ayura tak mengetahui perselingkuhan Arif sampai akhirnya dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri saat sang suami tengah bercinta di kamar mereka.
Shock dengan kenyataan yang terjadi ditambah sikap kasar Arif yang lebih membela selingkuhannya, Ayura yang saat itu tengah hamil tiga bulan mengalami keguguran. Menyesal karena kehilangan calon anaknya, Arif meminta maaf dan berjanji tidak akan berselingkuh lagi. Namun Ayura yang terlanjur kecewa dan marah memilih bercerai.
Tak ingin membagi harta gono gini, keluarga Arif turun tangan. Padahal usaha rumah makan yang dirintis Arif, merupakan usaha bersama dengan Ayura. Mereka membantu sang anak saat sidang di pengadilan. Orang tua dan juga saudara Arif bersaksi di pengadilan kalau Ayura berselingkuh dan anak yang dikandungnya saat itu adalah anak hasil perselingkuhannya.
Putusan talak keluar dari pengadilan agama. Selain tak menerima harta gono gini, nama baik Ayura juga tercemar karena keluarga Arif menyebarkan berita tentang perselingkuhannya. Namun Ayura tak mempedulikan hal tersebut, dia bersyukur bisa lepas dari Arif dan melanjutkan hidupnya. Dan yang terpenting, Ayura bisa kembali bersama dengan Azka.
Ayura menyusut genangan di sudut matanya setelah mengakhiri ceritanya. Denis memandangi wanita di hadapannya. Dia kagum dengan Ayura yang begitu tegar menghadapi cobaan hidup yang begitu berat. Wanita itu juga tulus menyayangi Azka yang notabene hanyalah keponakannya saja.
“Sekarang apa rencanamu? Arif pasti tidak akan berhenti untuk mengganggumu.”
“Aku tahu. Itu juga alasanku keluar dari rumah orang tuaku. Ayahku sakit, kondisi jantungnya tidak stabil. Aku takut ayah akan terkena serangan jantung kalau Arif datang dan membuat keributan.”
“Memangnya kamu sudah bercerai berapa lama dengan Arif?”
“Bulan ini tepat setahun.”
“Kenapa baru sekarang dia mau rujuk denganmu?”
“Entahlah aku juga ngga ngerti. Yang pasti aku tidak akan pernah rujuk dengannya.”
Suasana hening sejenak. Ayura melihat ke arah Denis yang sepertinya tengah berpikir tentang masalahnya. Kemudian terbersit keinginan untuk mengetahui tentang pria di hadapannya ini.
“Aku sudah menceritakan tentang hidupku. Apa kamu tidak mau berbagi kisah denganku juga?”
“Tak ada hal menarik dalam diriku yang harus kuceritakan.”
“Oh ya? Tidak ada atau tidak mau?”
“Hmm.. malu tepatnya. Karena aku ini such a jerk, you know (aku brengsek).”
“Try me (coba saja cerita).”
Denis menimbang-nimbang sejenak. Sepertinya tidak ada salahnya juga menceritakan tentang kehidupannya yang kelam. Toh saat ini dia tengah berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Ayura cukup kaget mendengar sepak terjang Denis dari mulai remaja sampai sekarang. Seperti pengakuannya, pria di hadapannya ini memang brengsek. Tapi di sisi lain, Denis mempunyai kepedulian tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama pada para sahabatnya. Tak heran kalau pria itu membantu Maira. Apa yang dilakukannya demi sang sahabat juga.
“Bagaimana? Benar-benar brengsek kan,” Denis tertawa sumbang.
“Iya.. brengsek. Tapi.. kamu setidaknya lebih baik dari Arif. Kamu tidak pernah kasar pada perempuan dan kamu menyayangi Azka. Hal yang tak pernah bajingan itu lakukan.”
“Well.. itu pesonaku.”
Ayura tertawa mendengarnya. Tak menyangka, berbicara dengan Denis semenyenangkan ini. Pria yang berusia tiga tahun di bawahnya ternyata cara berpikirnya lebih dewasa dari usianya. Jujur saja, walau brengsek, namun Ayura mengagumi kepribadian Denis.
“Brosur-brosur itu untuk apa?”
Ayura menunjuk ke arah brosur tentang klinik khitan yang tergeletak di atas meja. Denis hanya melayangkan senyum kikuknya seraya mengusap tengkuknya. Sebenarnya dia malu mengatakan ini, tapi jujur lebih baik. Siapa tahu Ayura bisa membantunya.
“Papaku muslim dan almarhum mamaku Budha. Sejak kecil aku tidak pernah diarahkan harus memeluk agama apa dan diajari ilmu agama. Singkatnya aku ini atheis. Tapi sekarang aku sudah memutuskan untuk memperbaiki diri. Dan hal pertama yang akan kulakukan adalah menentukan keyakinanku. Aku sudah memilih untuk menjadi mualaf. Tapi... aku masih menyiapkan diri untuk... kamu tahulah.”
Ayura masih terdiam untuk mencerna perkataan Denis. Dia melirik ke arah brosur dan mulai paham dengan maksud pria itu. Sebisa mungkin Ayura menahan tawanya. Sudah sebesar ini, namun Denis sepertinya takut untuk dikhitan.
“Ketawa aja jangan ditahan-tahan.”
“Hahaha.. maaf-maaf bukan aku bermaksud menertawakan.”
“Arnav udah kasih saran klinik mana yang bagus. Sepertinya aku akan mengikuti sarannya.”
“Hmm... Sebenarnya Azka sudah merengek minta disunat. Bagaimana kalau kalian disunat bareng? Azka pasti senang punya teman saat disunat nanti,” Ayura berusaha menahan tawanya.
“Seriously? Aku sunat bareng Azka?”
“Hmm.. iya. Sepupuku punya klinik khitan. Kalau kamu mau, sunat di sana saja. Nanti juga ada pegawai laki-laki yang bisa membantu mengurusmu pasca sunat. Dia juga sudah sering menangani pasien pria dewasa. Gimana?”
Denis berpikir sejenak, menimbang-nimbang tawaran Ayura. Sepertinya ide wanita itu tidak buruk juga. Tapi Denis tidak akan memberitahu para sahabatnya. Dia ingin menjadikan ini sebagai kejutan untuk mereka.
🍂🍂🍂
**Asik Denis nau disunat bareng Azka🤣🤣🤣
Harus sedia angpao ama permen lolipop nih dua😂**