The Nick's Life

The Nick's Life
Rewind



Nick mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk begitu mendengar bunyi lonceng yang digantung di atas pintu. Seorang pria asing yang telah berumur namun tubuhnya masih tegap masuk lalu mendudukkan diri di table bar. Nick melayangkan senyuman ke arah pria tersebut.


“Can I help you, sir?” tanya Nick.


“Saya pesan double espresso.”


“Ternyata anda bisa berbahasa Indonesia.”


“I love Indonesia, makanya saya belajar Bahasa.”


“Good for you.”


Nick segera membuatkan kopi pesanan. Pria yang ternyata adalah Edo melayangkan pandangannya ke seluruh kedai. Belum banyak pengunjung yang datang siang ini. Di bagian sisi kiri, para sahabat Nick nampak berkumpul. Kemudian di sofa yang ada di sudut ruangan, ada Bryan dan Diah.


Sejenak Edo memperhatikan kemesraan mantan istrinya itu bersama suami barunya. Pria itu teringat akan almarhum istri keduanya, Emilia. Seandainya Emilia masih hidup, tentu mereka juga akan terlihat mesra. Mengingat Emilia, membuat Edo merindukannya. Lamunan Edo buyar saat Nick menaruh cangkir kopi di depannya.


“Terima kasih.”


Nick hanya menganggukkan kepala seraya melayangkan senyuman. Pintu masuk kembali terbuka. Kini Fahrul yang datang ke kedainya. Ada seorang wanita dengan perut buncit ikut masuk bersamanya. Maira menoleh ke arah Nick. Fahrul mendekati sahabatnya dulu sebelum bergabung dengan yang lain.


“Nick.. kenalin, ini Mai, istri gue.”


Maira menangkupkan kedua tangannya ke arah Nick. Fahrul sudah menceritakan kondisi Nick padanya. Untuk sesaat Nick terdiam memandangi Maira, tepatnya memandang ke arah perut buncitnya. Ini kedua kalinya dia merasakan sesuatu saat melihat wanita hamil.


“Kandunganmu berapa bulan?”


“Jalan delapan bulan.”


“Berarti sebentar lagi ya.”


“Iya.”


“Semoga lancar.”


“Aamiin..”


“Nick.. gue ke sana dulu, ya.”


Melihat anggukan kepala Nick, Fahrul melanjutkan langkahnya menuju meja di mana terdapat para sahabatnya bersama pasangannya, kecuali Arnav. Pria itu menarik kursi untuk istrinya dan membantunya duduk. Kemudian dia mendaratkan bokongnya di kursi sebelah.


“Tumben sama Mai,” celetuk Abe.


“Abis gue culik,” jawab Fahrul sambil terkekeh.


“Baek-baek lo, nanti dilaporin ke polisi,” ledek Denis.


Ayura yang baru kembali dari toilet terkejut melihat sahabatnya. Dengan senang dia menghampiri Maira lalu bercipika-cipiki. Wanita itu mengusap perut Maira yang membuncit, hasil tembakan Fahrul dalam sekali percobaan.


“Berapa bulan Mai?”


“Jalan delapan.”


“Ya ampun, ngga kerasa ya. Debaynya perempuan apa laki-laki?”


“In Syaa Allah, perempuan.”


“Alhamdulillah.”


“Kamu belum isi?” tanya Fahrul.


“Alhamdulillah belum.”


“Ck.. kaga tokcer lo. Perlu gue ajarin?”


“Kaga usah. Udah mahir gue,” jawab Denis yang disambut tawa yang lain.


Tawa mereka terhenti ketika dari arah pintu masuk Ridho. Dia hanya datang seorang diri, padahal jantung Arnav sudah dag dig dug, menyangka pria itu akan datang bersama istrinya. Mantan wanita terindah Arnav yang masih setia mengisi sudut hatinya sampai saat ini.


Ridho menarik kursi di dekat Edo lalu mendudukkan dirinya di sana. Sejak pria itu masuk, Nick tak pernah melepaskan pandangan darinya. Menyadari pandangan Nick ke arahnya, Ridho pun balas menatap Nick.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tak asing,” ujar Nick.


“Kita memang penah bertemu, tapi secara tidak langsung.”


“Maksudnya? Maaf sebelumnya, aku mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatanku. Maaf kalau tidak bisa mengingatmu.”


“It’s okay. Kita juga belum berkenalan secara langsung, aku Ridho.”


Ridho mengulurkan tangannya ke arah Nick. Dengan cepat Nick membalas uluran tangan Ridho seraya menyebutkan namanya. Dia tertegun melihat wajah Ridho yang sepertinya agak mirip dengan seseorang namun entah siapa.


“Waktu itu kita berkenalan lewat sambungan video call,” terang Ridho.


“Apa kita rekan kerja atau rekan bisnis?”


“Bukan. Ada seseorang yang mengenalkanku padamu.”


“Oh ya? Siapa?”


“Adikku.”


“Adikmu? Siapa?”


“Hmm.. Noor namanya.”


“Noor? Ehm.. maaf aku tidak ingat.”


“It’s okay. Asal kamu tidak lupa menanyakan pesananku.”


“Maaf.. maaf.. mau pesan apa?”


“Espresso.”


“Double?”


“No.”


“Ok.”


Jempol Nick terangkat ke arah Ridho. Kemudian dengan cepat dia membuatkan pesanan pengunjung kedainya itu. Interaksi Nick dan Ridho tak luput dari perhatian para sahabatnya. Ini kali kedua bagi Fahrul, Denis dan Abe melihat kakak ipar sahabatnya itu.


“Aura kakaknya Iza bukan kaleng-kaleng ya. Berwibawa gitu,” celetuk Abe.


“Hmm.. beda banget ama yang onoh,” Denis menunjuk Arnav dengan kata-katanya. Pria itu terkekeh melihat reaksi Arnav yang nampak kesal.


“Wajar sih kalo Meta lebih milih dia,” sambung Fahrul.


“Bangk* lo!” Arnav menendang kaki Fahrul.


"Duh sakit tak berdarah," sahut Abe seraya memegangi dadanya.


“Kalian tuh jahat banget. Jangan gitu dong sama bang Arnav,” bela Sansan seraya mengasongkan tisu ke arah Arnav.


“Buat apaan?” tanya Arnav bingung.


“Buat ngelap airmata abang sama ingus juga.”


“Hahahaha..”


Tawa membahana langsung terdengar membuat orang-orang yang berada di kedai mengalihkan pandangan ke arah mereka, termasuk Ridho. Arnav mendengus sebal, kalau Sansan bukan istri dari sahabatnya, sudah dimasukkan ke tong sampah wanita bertubuh mungil itu lalu menggelindingkannya ke jalan raya.


Pintu lagi-lagi terbuka, Arnav segera melayangkan pandangannya, berharap Iza dan Meta yang datang. Namun pria itu hanya melengos saat melihat Bila yang masuk. Calon psikiater itu menyapa Nick sebentar untuk memesan kopi lalu menuju meja tempat Bryan dan Diah berada. Arnav berdecih melihat Bila yang gayanya sudah seperti menantu Bryan dan Diah saja.


Ridho menolehkan kepalanya ke arah pintu yang ada di belakangnya ketika telinganya mendengar suara lonceng berbunyi. Senyumnya mengembang saat melihat Iza dan Meta masuk ke dalam kedai. Nick terpaku melihat Iza yang datang bersama seorang wanita muda. Dia pun merasa tak asing akan sosok Meta. Kedua wanita itu berjalan menghampiri Ridho.


“Siapa dia?” tanya Nick pelan.


“Dia istriku,” jawab Ridho.


“Hah?”


Entah mengapa Nick merasa kecewa sekaligus cemburu saat mendengar Ridho mengatakan istriku. Meta dan Iza semakin mendekat lalu berhenti di samping Ridho. Meta meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya. Hati Arnav berdarah menyaksikan pemandangan seperti itu. Harusnya punggung tangannya yang dicium oleh Meta.


“Nick.. kenalkan, ini istriku, Meta.”


Nick tergagap saat mendengar suara Ridho. Sedari tadi dia hanya menatap Iza saja. Pria itu menangkupkan kedua tangannya ke arah Meta yang dibalas sama oleh wanita itu. Kemudian pandangannya kembali beralih pada Iza yang terlihat berdiri tenang di samping Meta. Padahal setengah mati Iza menahan debaran jantungnya yang sedari tadi berdetak dua kali lebih cepat.


Edo terus memperhatikan pemandangan di dekatnya. Diah sudah mengatakan padanya akan mempertemukan Iza dengan Nick hari ini. Itulah yang membuatnya mendatangi kedai kopi Nick. Dia menunggu bagaimana reaksi Nick.


“Lalu dia? Apa dia juga istrimu?” Nick menunjuk pada Iza.


“Hahaha… bukan. Dia adikku."


“Adikmu yang bernama Noor?”


“Iya.”


“Yang mengenalkanmu padaku?”


“Iya.”


“Halo Noor..”


Nick mengulurkan tangannya. Saat Iza mengangkat tangannya, dengan cepat Nick menyambar tangan itu. Pria itu terdiam sejenak saat tangan mereka bersentuhan. Berbagai perasaan menghantamnya. Dirinya seolah terlempar ke masa lalu, namun entah apa. Dia tak bisa mengingat hanya bisa merasakan. Ada banyak situasi yang tak asing bersama wanita itu.


Semua yang ada di sana menegang ketika Nick kembali merasakan sakit di kepalanya. Sebelah tangan Nick memegangi kepalanya dan sebelahnya lagi masih menggenggam tangan Iza. Bila yang terkejut segera berdiri dan hendak menghampiri Nick, namun Arnav bergerak cepat menghalangi langkah gadis itu.


“Mau kemana?”


“Diam saja. Jangan lakukan apapun!”


“Apa kamu gila? Nick kesakitan!”


“Aku tahu. Tapi kamu ngga usah khawatir, dia sudah menemukan obatnya.”


“Apa wanita itu maksudmu? Justru karena dia, Nick selalu kesakitan.”


“Tutup mulutmu kalau tidak tahu apa-apa. Duduk, diam dan perhatikan!”


Arnav mendorong tubuh Bila hingga mendekati meja, kemudian menekan pundaknya hingga terduduk di kursi. Dia tak melepaskan tangannya di pundak Bila, membuat gadis itu tak bisa kemana-mana.


Sementara itu, Nick masih berkutat dengan rasa sakitnya. Kepalanya tertunduk dengan tangannya masih memegang erat tangan Iza. Ridho mengusap punggung Iza, memberi dukungan untuk adiknya.


“Nick.. kamu tidak apa-apa? Tarik nafas dalam-dalam Nick, hembuskan perlahan. Ayo Nick, lakukan. Tenangkan pikiranmu.”


Suara Iza seperti sebuah hipnotis untuk Nick. Pria itu melakukan apa yang dikatakan oleh Iza. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Terus dia melakukan itu sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Iza seraya memejamkan matanya. Aroma tubuh wanita itu membuatnya rileks ditambah dengan suara lembutnya. Perlahan rasa sakit di kepalanya berangsur menghilang.


“Aku mohon teruslah bicara,” pinta Nick.


“Bicara apa?”


“Apa saja. Aku suka mendengar suaramu.”


“Aku harus bicara apa? Kalau menyanyi aku ngga bisa, suaraku jelek bisa dibilang sember. Aku takut kamu sakit perut kalau mendengar nyanyianku.”


Terdengar kekehan Nick mendengar ocehan Iza. Pria itu membuka matanya. Dia hanya bisa terpaku melihat wajah cantik di hadapannya. Matanya menelusuri wajah Iza, dimulai dari kening, alis, mata, hidung dan berakhir di bibir yang hanya dipoles lipgloss. Nick menggelengkan kepalanya ketika rasa sakit di kepala berganti dengan keinginan mencium bibir itu. Dia bingung kenapa dirinya tiba-tiba menjadi mesum tanpa sebab.


“Apa sudah baikan?” tanya Iza cemas.


“Iya. Keadaanku sudah lebih baik, karenamu. Terima kasih hmm.. Noor, benar itu namamu?”


“Iya.”


“Siapa nama lengkapmu?”


“Noor Azizah Rukhansa.”


Nick terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Iza. Nama yang sama pernah dikatakan oleh Diah. Hanya saja dia tak percaya kalau wanita ini telah menyakiti hatinya. Justru dia sangat bahagia ada di dekatnya. Bahkan Nick seperti merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Namamu bagus. Bagaimana aku harus memanggilmu?”


“Kamu boleh memanggilku apa saja yang kamu sukai.”


“Bagaimana kalau sweety?”


“Aku bukan p*pok bayi,” Nick terkekeh.


“Kalau begitu honey.”


“Aku bukan madu.”


“Tapi kamu manis, seperti madu.”


Iza mengulum senyumnya, pipinya bersemu merah padahal Nick pernah mengatakan gombalan itu sebelumnya, namun tetap saja wajahnya merona. Ridho ternganga melihat Nick, tak menyangka adik iparnya itu bisa menggombal juga. Meta menarik tangan suaminya beranjak dari bar table. Ridho mengajak Meta duduk bersama para sahabat Nick.


Begitu pula dengan Edo, sambil menggelengkan kepala, pria itu membawa cangkir kopinya kemudian menuju meja yang ditempati oleh Diah dan Bryan. Dia tak ingin mengganggu momen bahagia anaknya. Sementara itu Nick masih melancarkan gombalannya.


“Lalu aku harus memanggilmu apa?”


“Panggil saja namaku. Kamu sudah mendengarnya tadi, nama lengkapku.”


“Hmm.. aku tidak suka memanggilmu Noor. Aku juga tidak suka memanggilmu Rukhansa. Aku lebih suka Azizah, tapi terlalu panjang. Bagaimana kalau aku memanggilmu Iza, atau Zi..”


Suasana di antara keduanya hening sejenak. Hanya mendengar satu kata singkat itu, mereka seakan terlempar ke masa lalu. Genggaman Nick masih belum terlepaskan, bahkan bertambah erat. Matanya menatap dalam ke arah Iza. Pria itu tahu pasti kalau dirinya begitu mencintai wanita di hadapannya.


“Zi..”


“Ya.”


“Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Karena itu yang kurasakan padamu sekarang.”


“Gombal.”


“Bukan, itu suara hatiku. Asal kamu mau memberiku kesempatan, aku akan membuktikan itu bukanlah gombalan.”


“Apa kamu selalu mengatakan semua itu pada semua perempuan yang kamu temui?”


“Only you. The one and only (hanya kamu. Satu-satunya).”


“Boleh aku meraba wajahmu? Aku ingin memastikan apakah kamu tampan atau tidak? Kalau kamu tidak tampan, aku ngga mau memberimu kesempatan.”


Nick membawa tangan Iza ke wajahnya. Perlahan jari jemari Iza menelusuri wajah Nick. Sambil meraba wajah di depannya, Iza membayangkan kembali wajah Nick, suami tercintanya. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan keharuan dan kebahagiaan yang datang bersamaan.


“Kenapa menangis? Apa wajahku begitu menyeramkan dalam bayanganmu?” Nick mengusap buliran bening yang jatuh dari mata Iza dengan ibu jarinya.


“Iya.. wajahmu sangat mengerikan,” kelakar Iza masih dengan airmata yang berderai.


“Jangan menangis.. aku hanya ingin melihatmu tersenyum, bukan menangis.”


Iza tak dapat menahan perasaannya lagi. Wanita itu terisak mendengar kata-kata Nick barusan. Kata-kata yang sering diucapkan pria itu dulu ketika dirinya menangis. Nick menarik pelan kepala Iza lalu menyatukan kening mereka.


“Jangan menangis sayang,” ucapnya tanpa sadar.


Iza menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri. Dia harus berhenti menangis, supaya Nick tak bersedih. Dia tak ingin suaminya itu kesakitan lagi. Nick masih belum melepaskan tautan kening mereka. Dia masih belum ingin mengakhiri momen yang begitu dirindukannya.


“Maaf sudah membuatmu bersedih.” ujar Nick.


“Aku sedih karena kamu belum membuatkanku kopi.”


“Ya ampun, maaf..” perlahan Nick melepaskan tautan kening mereka. Jarinya masih mengusap sisa airmata di wajah Iza.


“Kamu mau minum apa?” baru saja Iza akan berbicara tapi Nick sudah memotongnya lagi.


“Aah aku tahu cappuccino latte dengan gambar bunga di atasnya, benar?”


“Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Ada malaikat yang membisikiku.”


Senyum manis tercetak di wajah cantik Iza, membuat hati Nick semakin cenat-cenut dibuatnya. Dia bergegas membuatkan kopi untuk wanita cantiknya itu. Iza meraba kursi di dekatnya lalu mendudukkan diri di sana.


Diah, Bryan dan juga Edo menatap haru melihat adegan yang tersaji di depan mereka. Diah menggenggam tangan Bryan erat. Benar apa yang dikatakan suaminya, kondisi Nick akan lebih baik dengan kehadiran Iza. Ini yang seharusnya dilakukannya sejak dulu, menyatukan mereka, bukan memisahkannya.


Di meja lain, para sahabat Nick juga ikut terharu melihat interaksi Iza dan Nick. Bukan hanya pasangan itu, tapi mereka juga seakan terlempar ke masa lalu. Masa di mana keduanya selalu terlihat mesra. Sansan bahkan menatap tak berkedip pada pasangan itu tadi.


“Ya ampun, aku seperti nonton drakor tapi live,” celetuk Sansan.


“Iya. Sweet banget ngga sih,” timpal Ayura.


“Banget. Andai suamiku seromantis kak Nick.”


“Aku denger ya, San,” sahut Abe.


“Emang sengaja.”


Sansan meringis saat abe menghadiahi sentilan di kening istrinya itu, namun kemudian mendaratkan ciuman di kening sebagai penawarnya. Denis terbatuk melihat aksi Abe, begitu pula Fahrul yang pura-pura bersin. Maira dan Ayura hanya mengulum senyum saja melihat tingkah suaminya.


“Apa Nick selalu mengeluarkan gombalan dan bersikap manis seperti itu?” tanya Ridho.


“Yap!” jawab Fahrul, Denis dan Abe berbarengan membuat Ridho terkekeh.


“Pantes adikku jatuh cinta padanya.”


“Nick emang romantis, ngga kaya kakak iparnya,” sindir Meta.


Ridho tertawa pelan mendengar sindiran sang istri. Diraihnya tangan Meta lalu digenggamnya erat. Meta menatap suaminya yang tengah tersenyum, sepertinya Tuhan telah mengalihkan perasaannya itu pada sang suami.


Tak jauh dari meja mereka, Arnav menatap sendu pada Meta. Dari cara Meta melihat Ridho, dia tahu sudah ada cinta di hati wanita itu untuk suaminya. Keadaan yang sama juga terjadi pada Bila. Hatinya sakit melihat keromantisan Nick dengan Iza. Perasaan cinta yang baru saja tumbuh luluh lantak terkena badai.


“Siapa perempuan itu?” tanya Bila dengan suara lirih.


“Dia Iza, wanita yang sangat dicintai Nick dan sudah menyandang status sebagai istrinya. Aku peringatkan padamu, jauhi Nick. Jangan pernah berpikir merebutnya dari Iza. Aku yakin kamu ngga mau menambar gelar pelakor di belakang namamu,” jawab Arnav.


“Tenang saja, aku bukan perempuan seperti itu.”


“Baguslah kalau kamu tahu diri.”


“Kamu juga harus tahu diri. Wanita yang sedari tadi kamu pandangi itu sudah menjadi istri orang. Jangan berharap lagi padanya. Kamu pasti tidak ingin menambah gelar pebinor di belakang namamu,” balas Bila.


Arnav menolehkan kepalanya ke arah Bila. Matanya menatap tajam pada gadis di sebelahnya itu. Bila tak mempedulikan tatapan Arnav, hatinya cukup puas bisa membalas pria di sebelahnya yang kerap berkata dan bersikap kasar padanya.


🍂🍂🍂


**Eaa..jodohin aja yuk Arnav ama Bila🤣


Nick yang jatuh cinta lagi ama Iza**



Izanya cantik sih