
“Dokter Bila…”
Bila menghentikan langkahnya ketika mendengar suara dokter Rega. Dia menunggu sampai dokter muda itu mendekat padanya.
“Bisa kita bicara sebentar?”
“Boleh dok.”
Kedua orang tersebut kemudian melangkah menuju taman yang ada di samping kanan gedung. Mereka mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada di sana. Walau bekerja di rumah sakit yang sama, Rega dan Bila belum mengenal satu sama lain. Mungkin karena Rega baru bergabung dan mereka berada di bagian yang berbeda.
“Begini.. adik dari teman saya kecanduan alkohol dan dia butuh psikiater untuk membantunya. Apa dokter Rafli bisa membantunya? Maaf, saya belum mengenal dokter Rafli, jadi atas saran Iza, saya diminta berbicara dengan dokter Bila.”
“Boleh, dok. Nanti saya akan bicarakan dengan dokter Rafli. Pasiennya perempuan atau laki-laki?”
“Laki-laki. Awalnya dia hanya coba-coba tapi malah kecanduan dan merusak hidupnya. Dia dipecat dari pekerjaan dan diputuskan tunangannya. Dia sempat depresi dan kakaknya menyarankan untuk berkonsultasi ke psikiater. Untungnya dia mau.”
“Oh begitu. Bilang saja sama temannya dokter untuk datang Kamis depan. Jadwal dokter Rafli, ngga terlalu penuh hari itu.”
“Terima kasih ya, dok.”
“Sama-sama.”
Untuk sejenak keduanya terdiam. Bila jadi canggung sendiri, mau langsung pergi tidak enak tapi kalau tetap tinggal juga tidak ada pembicaraan. Rega memperhatikan dokter wanita itu, kemudian pandangannya tertuju pada bross yang dikenakan gadis itu. Dia sangat familiar dengan desain bross itu.
“Maaf.. di mana dokter beli bross itu?”
“Ini?” Bila menunjukkan bross yang tersemat di hijabnya.
“Iya.”
“Ini pemberian kakak kelas saya waktu di SMA. Salah satu sahabat terbaik saya. Dia cantik, pintar dan sangat baik. Setelah lulus kuliah dia pindah ke Jakarta tapi kami masih berhubungan baik. Saat aku lulus menjadi dokter, dia memberikan bross ini sebagai hadiah. Katanya ini adalah desainnya sendiri. Tapi tiga tahun lalu dia meninggal karena kecelakaan.”
“Apa pemberi bross ini adalah Ambar?”
“Bagaimana dokter tahu?”
Rega tersenyum tipis. Akhirnya dia bisa bertemu dengan gadis yang selalu diceritakan oleh Ambar, tunangannya yang meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan. Mobil yang dikendarainya menabrak sebuah pohon besar saat mencoba menghindari anak kecil yang tiba-tiba menyeberang. Ambar meninggal setelah dirawat seminggu akibat pendarahan di kepala.
“Berarti kamu Salsabila anaknya Kyai Ahmad. Ambar sering menceritakan tentangmu. Dia adalah tunanganku. Tiga bulan sebelum pernikahan kami, dia mengalami kecelakaan.”
Bila tergugu mendengar penuturan Rega. Ambar memang kerap bercerita tentang Rega, namun belum pernah melihat fotonya. Mata gadis itu berkaca-kaca ketika mengingat kembali kakak kelas sekaligus sahabat yang disayanginya. Dan sekarang dia bertemu dengan pria yang begitu dicintai almarhumah Ambar.
“Kak Ambar orang yang baik. Waktu kak Ambar kecelakaan, aku sedang ikut abah umroh, jadi tidak sempat datang ke pemakamannya. Begitu pulang, aku langsung ke rumahnya bersama dengan abah dan ummi.”
Bila menyusut buliran bening yang mengalir di pipinya. Mengenang Ambar selalu membuatnya bersedih. Sosok wanita cantik, lemah lembut dan menyenangkan. Rega merogoh saku celananya lalu memberikan sapu tangan pada Bila.
“Maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih.”
“Ngga apa-apa dok. Aku selalu melow kalau ingat kak Ambar. Pasti saat itu sangat sulit buat dokter.”
“Iya. Makanya waktu saya merawat Iza, saya dapat merasakan apa yang dirasakannya saat keluarganya mengatakan kalau suaminya sudah meninggal. Saya salut dengannya, bisa bertahan di saat cobaan demi cobaan bertubi-tubi menerpanya. Dulu, saya sempat vakum selama enam bulan demi mengobati kesedihan karena ditinggal Ambar.”
Bila menundukkan kepalanya. Dia merasa tertohok mendengar apa yang dikatakan dokter tersebut. Kalau saja Arnav tidak mengingatkan dan menghalanginya, mungkin perasaan cintanya akan terus berkembang. Bukan tak mungkin dia akan menjadi perebut suami orang. Gadis itu bersykur, Tuhan masih menjaga hatinya.
“Syukurlan sekarang Iza sudah bisa melihat dan berkumpul kembali dengan Nick,” ujar Bila tulus.
“Iya.”
“Dokter sendiri bagaimana? Apa sudah menikah?”
“Belum. Sepertinya belum ada wanita yang mau denganku.”
Tawa kecil Bila terdengar saat mendengarnya. Rasanya tak mungkin pria setampan dan semapan Rega tidak ada yang berminat. Dengan profesinya sebagai dokter, sepertinya dengan mudah dia bisa mendapatkan seorang wanita. Rega tertegun melihat Bila tertawa. Tawa itu mengingatkannya akan sosok Ambar.
“Kenapa dok?” tanya Bila ketika menyadari tatapan sang dokter mata itu padanya.
“Ngga. Hanya saja kamu selintas mirip dengan Ambar kalau sedang tertawa.”
“Selamat, dokter orang kesekian yang bilang gitu.”
Kini giliran Rega yang tersenyum dan Bila terpaku melihat senyum pria itu yang semakin menambah ketampanannya. Pembicaraan keduanya terus berlanjut. Rega banyak menanyakan tentang dokter yang bekerja di rumah sakit ini. Kedekatan keduanya langsung terjalin begitu saja. Perbincangan keduanya lebih banyak diselingi tawa kecil.
🍂🍂🍂
Nick bergegas membukakan pintu, begitu mendengar suara bel. Nampak sahabatnya yang kerap dipanggil dengan sebutan tuan Takur berdiri di depan pintu. Nick segera mempersilahkan pria itu masuk. Dia sengaja mengajak Arnav makan malam bersama. Sahabatnya itu tadi mengeluh karena Denis, Abe atau Fahrul tak ada yang mau diajak makan malam bersama. Mereka sibuk dengan pasangannya masing-masing.
“Hai Ar, sama siapa?” sapa Iza.
“Sendiri, emang mau sama siapa?”
“Dokter Bila mungkin.”
“Please deh, Zi.”
Terdengar tawa kecil Iza begitu mendengar protesan Arnav. Dia langsung mengajak sahabat suaminya itu ke ruang makan. Mata Arnav memandangi hidangan yang tersaji di atas meja. Pria itu antara percaya dan tak percaya kalau Iza yang menyiapkan semua. Setahunya, Iza tidak bisa memasak.
“Ini semua kamu yang masak, Zi?”
“Iya, kenapa? Ngga percaya?”
“Iya.”
“Emang bukan hahaha… aku bantuin motong-motong aja.”
“Terus chefnya siapa?” tanya Arnav seraya mencomot tempe bacem dari piring.
“Ehmm.. enak Zi. Jadi makin laper.”
“Ini dia chef-nya.”
Iza mengarahkan tangannya ketika Rina muncul dari dapur dengan mangkok berisi iga asam manis. Perut Arnav langsung berbunyi, tanda minta diisi begitu melihat hidangan terakhir datang. Dengan cepat pria itu menarik kursi di samping Nick, tepat berhadapan dengan Rina.
Dengan cekatan Iza mengambilkan nasi serta lauk untuk suaminya. Terlihat tatapan iri Arnav saat melihat adegan tersebut. Dia juga ingin secepatnya mengakhiri masa lajangnya. Rina yang menangkap ekspresi Arnav, berbaik hati mengambilkan makanan lalu memberikannya pada pria itu.
“Eh.. makasih.”
“Sama-sama.”
Acara makan malam pun dimulai. Sesekali terdengar protesan Rina karena Nick kerap bersikap mesra pada Iza di hadapan jomblo korban patah hati. Arnav juga ikutan protes, keduanya sangat kompak sekali malam ini.
“Ya ampun pasukan penjaga jodoh orang protes,” ledek Iza.
“Ya ampun Zi, omongan kamu tuh ngena banget. Sakitnya tuh di sini,” Rina menunjuk ke arah dadanya yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Udahlah kalian nikah aja, kayanya udah cocok,” goda Nick.
“Ya ampun, tetanggaku pasti langsung heboh. Rina dapet jodoh Shah Rukh Khan kw,” Rina menyambung ucapannya dengan tawa. Arnav pun tak kuasa menahan senyumnya. Pria itu terus memandangi wajah cantik Rina.
“Uhuk.. menatap lebih dari tiga detik, kena penalty,” ledek Nick.
“Kampret,” umpat Arnav yang hanya dibalas tawa saja oleh Nick.
Usai makan malam, Iza dan Rina membereskan peralatan kotor yang dipakai. Namun Arnav berinisiatif membantu dan meminta Iza duduk manis saja. Karuan saja Nick senang mendengarnya. Dia mengajak sang istri ke ruang tengah. Membiarkan Arnav dan Rina yang membereskan meja dan mencuci semua perabotan kotor.
Setelah mencuci piring, Rina dan Arnav memilih berbincang di halaman belakang sambil memberi makan ikan yang ada di kolam. Nick dan Iza memilih tak bergabung, membiarkan kedua orang itu mengenal satu sama lain. Ada keinginan dalam hati Iza, bisa melihat sepupunya bersama dengan Arnav.
“Aku udah dengar loh, soal kamu sama Meta. Terima kasih ya, kamu mau mengalah dan merelakan Meta untuk bang Ridho.”
“Ya.. walau terdengar klise, tapi mencintai kan ngga selalu harus memiliki.”
“Benar. Kalau kamu sendiri gimana?”
“Ya gitu deh. Aku udah kenal sama dia lama. Walau kita ngga pacaran, tapi masing-masing dari kita udah saling tahu perasaan masing-masing dan berniat serius sampai menikah. Tapi ternyata orang tuanya udah punya pilihan sendiri. Aku bisa apa? Cuma bisa mengikhlaskan dan mendoakan yang terbaik untuknya dan untukku.”
Diam-diam Arnav mengangumi ketegaran Rina. Tak mudah melepaskan orang yang dicintai demi orang lain, seperti yang dirasakannya. Namun gadis itu bisa melewatinya dengan baik dan tetap optimis menjalani hidup. Sepertinya tidak sulit untunya menemukan calon pendamping baru, selain cantik, Rina juga ramah, supel dan pintar memasak.
“Kamu lama tinggal di sini?”
“Sepertinya, aku belum siap pulang dalam waktu dekat. Terkadang saat kita menderita, bukan hanya dukungan yang kita terima, tapi juga ledekan. Calonku dulu itu termasuk most wanted male. Dia punya banyak penggemar. Dan saat aku ditinggal nikah, otomatis aku jadi bulan-bulanan mereka. Kayanya mereka puas banget lihat aku menderita.”
“Ngga usah didengerin komentar ngga guna gitu. Tapi bagus juga kalau kamu mau agak lama di sini. Jadi kamu bisa ngajarin Iza masak.”
Rina tertawa mendengar penuturan Arnav. Mata Arnav memandang tak berkedip pada wanita itu. Semakin dilihat, gadis itu semakin terlihat cantik di matanya. Arnav segera mengalihkan pandangan ke arah lain ketika Rina menatap ke arahnya.
“By the way, masakan kamu enak loh. Kenapa ngga buka usaha kuliner?”
“Belum pede.”
“Buka kecil-kecilan aja dulu. Gimana kalau sebagai permulaan, aku pesan makan siang sama kamu. Nanti aku promo ke teman-teman di kantor.”
“Serius?”
“Iya.”
“Ya ampun kamu baik banget sih. Kamu mau menu apa?”
“Kamu bisanya masak apa aja? Coba tulis masakan yang kamu bisa, kita susun daftar menunya dari situ.”
Rina bangun dari duduknya. Dia bergegas masuk ke dalam kamar, kemudian tak berapa lama kembali dengan membawa buku dan pulpen di tangannya. Gadis itu kembali duduk di samping Arnav. Keduanya mulai tenggelam mendiskusikan ide usaha yang dicetuskan Arnav barusan.
🍂🍂🍂
Mata Ridho terus memandangi titik kecil yang terdapat di layar ketika dokter kandungan menggerakkan probe di perut Meta. Dia tengah mengantarkan istrinya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Mina menyarankan hal tersebut setelah mendengar cerita anaknya akan kondisi menantunya.
Pria itu membantu istrinya turun setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan USG. Pasangan itu kemudian kembali duduk berhadapan dengan dokter. Dengan seksama keduanya mendengarkan apa yang harus dilakukan pada kehamilan di trimester pertama. Dokter wanita itu juga menuliskan resep vitamin dan obat penambah darah untuk Meta.
Saat sedang menunggu obat di apotik yang ada di rumah sakit. Ponsel Ridho berdering, pria itu berjalan sedikit menjauh, mencari tempat yang sedikit sepi untuk menjawab panggilan. Tak lama dia kembali dan mendudukkan diri di samping suaminya lagi.
“Siapa bang?”
“Pak Randu. Katanya ada beberapa mahasiswa bimbingannya yang dialihkan ke abang. Rencananya minggu depan dia mau berangkat umroh. Kebetulan ada bimbingannya yang sudah memiliki jadwal seminar draft.”
“Abang mau ke kampus?”
“Iya, tapi ngga lama. Kamu ikut aja ya, sayang.”
“Iya bang.”
Ridho segera berdiri kemudian menuju loket apotik ketika mendengar nama istrinya disebut. Setelah apoteker memberikan obat dan menerangkan aturan minumnya, pria itu segera keluar gedung rumah sakit seraya menggandeng tangan sang istri. Tak lupa dia juga membukakan pintu mobil untuk Meta.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Ridho terus menggenggam tangan Meta. Hatinya benar-benar bahagia diberi kepercayaan untuk memiliki momongan lebih cepat. Meta pun tak kalah gembiranya, dia akan segera menjadi seorang ibu. Hatinya tak henti mengucapkan syukur karena keluarganya dilimpahi kebahagiaan berturut-turut.
🍂🍂🍂
Meta mulai merasa bosan setelah hampir setengah jam lebih, Ridho masih memberikan bimbingannya pada mahasiswi bimbingan pak Randu. Entah memang mahasiswi itu belum paham, atau hanya berpura-pura agar bisa lebih lama berbicara dengan suaminya. Sungguh Meta merasa cemburu melihat bagaimana bahasa tubuh gadis itu saat berbicara dengan suaminya.
“Tolong ditambah teori untuk variabel X-nya. Ini untuk lebih menguatkan variabel yang kamu pilih. Metode samplingnya juga harus dirubah. Metode sampling yang kamu pilih ngga cocok buat penelitian kamu. Sampel yang dipilih ngga bisa mewakili keseluruhan populasi nantinya. Mengerti sampai di sini?” tanya Ridho setelah menjelaskan panjang lebar.
Mahasiswi itu tergagap saat mendengar pertanyaan Ridho. Sedari tadi dia tak menyimak apa yang dikatakan dosen pembimbingnya itu. Gadis itu hanya terpaku memandangi dosen tampan yang memiliki banyak penggemar, walau baru satu bulan mengajar di kampus ini.
Semua interaksi dosen dan mahasiswi itu tertangkap oleh Meta. Melihat gaya sang mahasiswi yang seperti tengah berusaha menarik perhatian Ridho, tentu saja membuatnya jengkel. Dengan suara keras, Meta sengaja berdehem, sehingga perhatian Ridho beralih padanya.
“Bagaimana sudah jelas?” tanya Ridho lagi.
“Saya tunggu revisinya dalam tiga hari bisa?” lanjutnya.
“Bisa pak. Tapi kalau hari Kamis kan, bapak ngga ada jadwal ngajar, boleh saya bimbingan ke rumah?”
“Kalau saya tidak ada, taruh saja di meja ini. Besoknya saya pasti langsung periksa.”
“Tapi lebih cepat kalau saya bimbingan ke rumah aja.”
“Saya tidak menerima bimbingan di rumah. Itu waktu untuk istri saya. Simpan saja berkas kamu di sini,” tegas Ridho.
Nampak gurat kekecewaan di wajah mahasiswa itu. Ternyata dosen pujaannya sudah beristri. Meta yang sempat mendengar ucapan gadis itu semakin kesal saja. Dia bangun dari duduknya, kemudian menghampiri sang suami.”
“Udah beres, bang?”
“Sebentar sayang. Ok, Dini. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya tunggu revisinya tiga hari lagi.”
“Iya pak.”
Mahasiswi yang bernama Dini itu segera bangun dari duduknya. Semangat bimbingannya yang tadi berkobar, seketika padam ketika mendengar Ridho menyebut kata sayang untuk wanita yang berdiri di sampingnya. Saat membalikkan tubuhnya, Dini terdiam sejenak menatap Meta. Ternyata istri dari dosen pujaannya itu berparas cantik. Seraya melemparkan senyum tipis, Dini segera keluar dari ruangan dosen.
“Lama ya? Maaf, sayang,” ujar Ridho sambil berdiri mendekati istrinya.
“Bukan masalah lamanya, bang. Aku gerah aja lihat anak tadi. kelihatan banget cari perhatiannya sama abang.”
“Kamu cemburu?”
“Iyalah.”
Ridho terkekeh mendengar jawaban sang istri yang disertai wajah cemberutnya. Sambil menghela pinggang sang istri, pria itu berjalan keluar dari ruangan dosen. Dengan santai dia berjalan dengan tangan tetap melingkar di pinggang sang istri. Melewati deretan mahasiwa yang tengah duduk santai sambil menunggu jam pergantian kuliah.
Terdengar bisikan beberapa mahasiswi membicarakan wanita yang bersama dengan Ridho. Tanpa mempedulikan itu semua, Ridho terus berjalan menuju area parkir. Meta langsung menyandarkan punggungnya di jok mobil begitu masuk ke dalamnya.
Ridho melirik ke arah sang istri yang masih cemberut. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Meta begitu melihat istrinya itu belum memasang sabuk pengaman. Ditariknya tali seatbelt kemudian memasangkannya ke tubuh Meta. Hati Meta menghangat ketika Ridho mengusap pipinya dengan lembut.
“Masih marah?”
“Siapa yang marah?”
“Abis itu cemberut aja. Cemburu?”
“Abang tuh ternyata banyak penggemarnya.”
“Ngga penting berapa banyak penggemar. Yang penting, perempuan yang abang cinta itu cuma satu, yaitu kamu. Calon ibu dari anak kita,” Ridho mengusap perut Meta yang masih rata.
“Tapi nanti kalau kandunganku semakin besar, aku bakalan tambah gendut, pipiku juga mungkin kaya bapao. Apa abang bakalan tetap sayang?”
“Justru abang harus makin sayang karena sebentar lagi anak kita akan hadir ke dunia. Itu artinya kamu akan berjuang antara hidup dan mati melahirkan buah hati kita. Abang akan selalu membantumu dengan doa. Semoga kehamilanmu lancar dan diberi kemudahan saat melahirkan nanti.”
“Aamiin..”
“Jangan cemberut lagi. Abang sayang kamu.”
Bibir Ridho mendarat di kening Meta kemudian berlanjut dengan memagut bibirnya. Meta memejamkan matanya menikmati ciuman sang suami sambil membalasnya. Lum*tan terus diberikan oleh pria itu sebelum dia mengakhirinya dengan sebuah kecupan. Ibu jarinya kemudian bergerak mengusap sisa saliva di bibir sang istri.
Senyum Meta terbit setelah mendapatkan ciuman manis dari suaminya. Ridho kembali ke posisi semula. Perlahan kendaraan roda empatnya mulai bergulir meninggalkan area kampus.
🍂🍂🍂
Ngga lama lagi harus saying goodbye sama cerita ini. Sedih juga ya mau berakhir🙈