The Nick's Life

The Nick's Life
Perjodohan



Jari-jari Sansan mengetuk meja dengan tangan satunya menopang dagu. Wajahnya terlihat cemberut. Beberapa kali terdengar helaan nafasnya, matanya memandang kesal ke arah kedua orang tua juga sang kakak. Hari ini mereka akan bertemu dengan keluarga calon besan. Walau Sansan sudah mencoba berbagai macam cara untuk menolaknya, namun sang papa bergeming, bahkan usahanya untuk kabur kerap digagalkan oleh papa juga kakaknya. Alhasil di sinilah dia sekarang, di sebuah restoran bintang lima, usaha milik keluarganya.



Dalam hati gadis itu terus berdoa, semoga saja ada keajaiban yang membuat keluarga calon suaminya gagal datang. Semoga saja kendaraan yang ditumpangi mereka mogok di tempat yang sepi. Keempat bannya bocor dan jauh dari bengkel. Atau calon suaminya itu terkena diare akut yang membuatnya harus masuk rumah sakit.


Namun harapan tinggalah harapan. Nyatanya orang yang tidak diharapkan kedatangannya nampak memasuki pintu masuk restoran. Sansan buru-buru menundukkan kepalanya. Beni, papa Sansan langsung berdiri untuk menyambut kedatangan calon besan. Dia cukup terkejut mengetahui orang yang ditunggunya ternyata teman masa kuliahnya dulu.


Hal yang sama juga terjadi pada pria paruh baya yang kini telah berdiri di hadapan Beni. Matanya membulat melihat teman masa kuliahnya dulu. Keduanya bersalaman kemudian berpelukan ala lelaki. Sejak menyelesaikan kuliah masternya, mereka memang sempat kehilangan kontak. Kini setelah memiliki anak, mereka justru dipertemukan kembali dengan rencana perjodohan anak-anak mereka.


Beni segera mengenalkan Syarif kepada istrinya, Tina. Begitu juga Syarif mengenalkan sang istri, Eni kepada temannya. Beni lalu melirik ke arah Sansan, dengan gerakan mata dia meminta anak gadisnya itu berdiri.


“Kenalkan ini anak gadisku, Sandrina atau biasa dipanggil Sansan. Sansan, ayo salaman sama calon mertuamu.”


Dengan memasang senyum yang dipaksakan, Sansan meraih tangan Syarif juga Eni lalu mencium punggung tangannya bergantian. Dia lalu memandang pada lelaki yang sedianya akan menjadi calon suaminya. Lelaki itu nampak cuek dan memilih sibuk dengan ponselnya. Eni menyenggol lengan anak lelakinya itu, membuatnya mengangkat kepalanya.


“Elo!!” teriaknya.



“Heh.. yang sopan dong,” tegur Eni.


“Ma.. yang bener aja, masa aku mau dijodohin sama anak ingusan ini.”


“Hellow.. lo pikir gue mau gitu dijodohin ama om-om kaya elo,” balas Sansan kesal.


“Om... om... gue belum setua itu buat lo panggil om.”


“Gue juga udah gede, jadi jangan bilang gue anak ingsusan.”


"Sudah.. sudah.. ayo duduk dulu.”


Eni segera melerai pertengkaran Sansan dengan anak bungsunya. Dengan kesal Sansan kembali duduk di kursinya. Dia melihat ke arah lelaki di depannya seraya menyebikkan bibirnya. Beni dan Syarif hanya tertawa melihat reaksi anak-anak mereka. Sepertinya usulan Bagas untuk menjodohkan mereka adalah keputusan tepat.


“Maafkan anak saya ya, Ben.”


“Ngga apa-apa. Maafkan anak saya juga.”


“Kenalkan ini anak kami, Ahmad Baihaqi Erlangga atau biasa dipanggil Abe,” terang Eni pada keluarga calon besan. Abe hanya menganggukkan kepalanya pada Beni juga Tina.


“Ini adek lo?” tanya Abe pada Bagas.


Bagas hanya menganggukkan kepalanya. Dia sebisa mungkin menahan tawanya melihat kekesalan temannya. Bagas dan Abe adalah rekan kerja, hubungan keduanya cukup dekat. Kalau saja sang mama tak mengancamnya dengan aksi mogok makan, tentu saja pria itu enggan dijodohkan seperti ini.


Walau pun sering membangkang, namun Abe sangat menyayangi mamanya. Oleh karenanya dia berprinsip tidak akan mempermainkan atau meniduri perempuan yang bukan istrinya. Sikap ketusnya pada perempuan yang mendekati, semata-mata karena ingin menjaga jarak dan tak ingin memberikan harapan palsu. Tapi kalau bersenang-senang dengan wanita penghibur di klub malam, dia tak sungkan. Namun hanya sebatas berciuman saja, tak ada hal lebih.


Acara makan malam berjalan dengan lancar. Pembicaraan lebih banyak didominasi mengenang masa-masa Deni dan Syarif saat kuliah dulu. Sedangkan pasangan yang hendak dicalonkan hanya saling melirik lengkap dengan wajah sinisnya.


“Jadi gimana? Kapan rencananya pernikahannya?” tanya Syarif setelah acara makan malam selesai.


Sontak Abe juga Sansan menatap ke arah pria itu. Namun Syarif seakan tak peduli. Bagas mengambil kesempatan untuk mengompori agar pernikahan segera dilangsungkan yang diamini oleh Deni juga.


“Pa, aku sama Sansan wawa ini baru juga ketemu masa udah langsung disuruh nikah. Ngga mau!”


“Aku juga ngga mau ya, catet!!” timpal Sansan.


“Bener-bener cocok nih berdua. Udah percepat aja pernikahannya,” Bagas memanasi.


“Gas! Bener-bener lo, ya,” kesal Abe.


“Biarkan mereka saling mengenal dulu. Tak kenal maka tak sayang, bagaimana?” Tina menengahi perbincangan.


“Nah boleh tuh ma, ide bagus. Pedekate aja dulu biar tumbuh benih-benih cinta.”


Abe hanya mendengus kesal. Bagas memang terkenal usil di kantor. Namun tak menyangka kalau keusilan temannya itu akhirnya mampir pula pada dirinya. Wajah Sansan semakin cemberut, dia sungguh tak ingin menikah muda. Dirinya masih ingin hidup bebas tanpa terikat pernikahan dan aturan suami.


“Saya juga setuju,” timpal Eni.


“Gimana kalau sebagai awal pedekate, lo anterin adek gue pulang ke rumah,” usul Bagas.


Abe melotot ke arah Bagas, Sansan menggerak-gerakkan tangannya tanda tak setuju. Tapi semua setuju dengan usulan Bagas. Akhirnya dengan terpaksa Abe setuju untuk mengantar Sansan pulang.


Makan malam berakhir, semua keluar dari restoran bintang lima itu kemudian menuju kendaraannya masing-masing. Abe yang tidak tinggal bersama orang tuanya lagi, membawa kendaraan sendiri. Dia bergegas menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Dengan malas Sansan mengikuti langkah lelaki itu.


Sansan masuk ke dalam mobil. Dia segera memasang sabuk pengaman. Matanya terus menatap ke arah depan dengan kedua tangan disilangkan di dada. Abe juga melajukan kendaraan tanpa melihat ke arah gadis yang duduk di sampingnya.


“Pikirin caranya supaya perjodohan ini batal,” akhirnya Abe membuka suara juga.


“Om aja yang pikirin.”


“Sekali lagi panggil om, gue turunin lo di tempat sepi.”


“Iya.. iya.. maaf kak.”


“Kamu udah punya pacar?”


“Belum tapi gebetan sih ada.”


“Nah pepet terus tuh gebetan terus tinggal bilang ama bokap lo. Pernikahan kita batal, beres kan.”


“Mana berani kak.”


“Kenapa? Jangan-jangan lo naksir suami orang ya. Parah lo, pengen jadi pelakor.”


“Sembarangan. Gue masih waras, ngapain naksir suami orang.”


“Nah terus apa masalahnya?”


Sansan hanya diam mengingat Vicky, sosok seniornya di SMA dan kini satu kampus dengannya. Sejak di sekolah Sansan sudah menyukai Vicky, namun lelaki itu tak pernah tahu perasaannya. Sampai saat ini, Sansan hanya sebagai pengagum rahasia saja.


“Woi.. ditanya diem aja.”


“Berisik!! Kakak aja yang cari solusinya, kenapa harus aku.”


Sansan mengalihkan pandangannya ke jendela samping. Hatinya benar-benar dongkol. Sejak pertama bertemu sampai sekarang, Abe selalu sukses membuatnya naik darah. Gadis itu tak bisa membayangkan kalau sampai menikah dengan pria itu.


🍂🍂🍂


Abe dan Denis tengah menikmati kopi di salah satu kedai kopi ternama di Indonesia. Berhubung Nick, Fahrul dan Arnav tengah disibukkan dengan pekerjaan, Abe hanya bisa menghubungi Denis untuk berbagi keluh kesahnya. Sudah sejam lamanya mereka duduk bersama. Denis juga dengan setia mendengarkan kegalauan sang sahabat yang tengah bingung menghadapi perjodohan.


“Biasanya juga lo bisa menghindar dari situasi seperti ini. Kenapa sekarang malah bingung.”


“Masalahnya nyokap gue pakai ngancem segala sekarang. Gue nyerah lah kalau udah urusan ama nyokap.”


“Ya udah terima aja perjodohannya, beres.”


“Gue tahu? Siapa sih?”


“Lo inget ngga cewek yang nonton bareng ama kita? Dia tuh yang dijodohin sama gue. Amsyong gue dapet model kuda lumping kaya dia.”


“Hahahaha...”


Tawa Denis pecah seketika begitu mengetahui siapa yang akan dijodohkan dengan Abe. Bisa dibayangkan kalau kedua orang itu menikah, dapat dipastikan akan terjadi perang Barata Yudha setiap harinya.


“Ngga usah ketawa Nyet, bukannya bantuin gue.”


“Terus gue harus bantu gimana? Udah terima aja. Susu kuda liar kolaborasi sama kuda lumping cocok banget tuh hahahaha...”


Abe mengeplak kepala Denis saking kesalnya. Namun Denis terus saja tertawa, sampai mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Tawanya baru berhenti ketika mendengar suara dering ponselnya. Dia segera menjawab panggilan begitu melihat nama Tante Teresa yang memanggil. Setelah berbicara sebentar, Denis bersiap untuk pergi.


“Mau kemana lo?”


“Sorry.. ada kerjaan mendadak. Cuan nih cuan. Gue cabut dulu ya,” Denis menepuk pundak Abe lalu bergegas keluar dari cafe. Tak berapa lama Abe pun menyusul pergi.


🍂🍂🍂


TING


Denis keluar dari lift begitu kotak besi itu berhenti di lantai sembilan. Tempat di mana unit apartemen tante Teresa berada. Sambil bersiul, pria itu berjalan menuju unit yang terletak di paling ujung. Jarinya pun memencet bel yang terletak di samping pintu. Tak berapa lama pintu unit terbuka. Nampak Teresa, wanita yang menjadikan Denis sebagai simpanannya berdiri di balik pintu.



Denis segera masuk seraya mencium pipi kanan dan kiri wanita yang tahun ini genap berusia 45 tahun. Teresa adalah salah satu desainer ternama di Indonesia, suaminya adalah pengusaha batu bara. Dia memiliki seorang anak laki-laki yang kini tengah menyelesaikan studinya di Amerika.


Awalnya Teresa adalah istri yang setia. Namun begitu mengetahui perselingkuhan suaminya, wanita itu melampiaskan sakit hatinya dengan mencari pria muda yang bisa mengalihkan kesedihannya. Awalnya Denis hanya sebagai teman curhatnya saja, namun lama-lama Teresa juga ingin merasakan kehebatan Denis di ranjang. Akhirnya hubungan mereka bukan hanya sebagai teman bicara tapi juga teman di ranjang.


Hubungan Denis dan Teresa sudah berjalan selama dua tahun. Dari Teresa, Denis selalu mendapatkan tunjangan tiap bulannya. Jika Denis diminta datang di luar jadwal pertemuan mereka, maka Teresa akan mengirimkan sejumlah uang sebagai bonusnya. Teresa juga tahu kalau Denis memiliki hubungan dengan Alfi, namun perempuan itu tak mempermasalahkannya. Yang penting Denis akan selalu ada setiap dia membutuhkannya.


“Apa kabar tante? Gimana fashion shownya di Paris?”


“Lancar sweat heart. Tante juga bawa oleh-oleh buat kamu.”


Teresa memeluk pinggang Denis lalu membawanya ke sofa. Wanita itu memberikan kotak persegi berwarna hitam pada berondong simpanannya. Denis membuka kotak tersebut, nampak sebuah jam tangan merk ternama keluaran terbaru di dalamnya. Harganya diprediksi ratusan juta rupiah.


“Ini buat aku tante?”


“Iya dong.”


“Tapi ini mahal banget tan.”


“Harga ngga masalah kalau buat kamu sayang.”


Teresa memainkan jarinya di rambut Denis. Kemudian mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan ciuman bertubi di wajah Denis. Pria itu tahu apa yang diinginkan sang tante. Dengan senang hati Denis melayani keinginan wanita itu. Kebetulan sudah seminggu juniornya tidak bekerja. Dengan cepat dia menyambar bibir Teresa, pertautan bibir menggelora pun segera terjadi.


Terdengar de**han dan lenguhan Teresa saat keduanya bergumul di atas kasur. Denis selalu bisa memberikan kepuasan untuknya. Selain mahir menggunakan berbagai macam gaya bercinta, Denis juga kuat di ranjang. Dia bisa bermain lebih dari satu jam non stop, dan membuat Teresa pelepasan berkali-kali.


Teresa meremat rambut Denis kencang saat pria itu lagi-lagi membuatnya pelepasan untuk ketiga kalinya. Denis membalikkan tubuh Teresa kemudian kembali memompanya dari belakang. Teresa kembali men**sah sambil meneriakkan nama Denis berkali-kali. Racauannya semakin terdengar saat Denis memainkan bukit kembarnya sambil terus memaju mundurkan pinggulnya.


Wanita itu kembali memekik saat sampai di puncaknya. Demikian juga dengan Denis, saat merasakan dirinya sudah hampir ke ujungnya, dia mencabut juniornya kemudian mengeluarkan cairan kentalnya di bokong Teresa. Keduanya terkulai lemas di ranjang. Di sela-sela helaan nafasnya Teresa tersenyum, Denis selalu bisa memuaskannya.


🍂🍂🍂


Maira melangkahkan kakinya memasuki lobi apartemen The Emerald. Dia menuju sofa yang ada di lobi, menunggu seseorang yang hendak ditemuinya. Tak lama datang seorang pria seumuran dirinya kemudian duduk berhadapan dengannya. Di tangan pria itu terdapat amplop coklat. Dada Maira berdebar menatap amplop tersebut.


Hampir dua bulan lamanya, Maira menikah dengan Fahrul dan selama itu sang suami tak pernah menyentuh dirinya. Sebagai seorang istri, Maira curiga kalau Fahrul memiliki wanita idaman lain di belakangnya. Selain sikap Fahrul yang dingin kepadanya, dia kerap mencium aroma parfum wanita di pakaian suaminya.


Berbekal intuisinya sebagai istri, Maira meminta salah seorang temannya yang kebetulan tinggal di Jakarta untuk menyelidiki sang suami. Sudah dua minggu lamanya Sandi, teman Maira, mengikuti keseharian Fahrul. Dan sekarang pria itu akan melaporkan hasil penyelidikannya.


“Kamu tinggal di sini?” tanya Maira.


“Ngga lah Mai. Mana aku mampu, ini apartemen kelas atas. Tadi kebetulan aku ketemu calon klien di sini, jadi sekalian aja.”


Sandi meletakkan amplop coklat di atas meja. Maira memandangi sesaat, kemudian tangannya mulai bergerak mengambil amplop tersebut. Tepat sebelum Maira mengambilnya, Sandi menahan amplop dengan tangannya.


“Kamu yakin mau melihatnya?”


“Harus San. Aku harus tahu soal suamiku.”


“Be tough Mai (kamu harus kuat Mai).”


Setengah ragu Sandi mengangkat tangannya, membiarkan Maira mengambil amplop tersebut. Sebagai teman, dia tak tega melihat Maira menderita jika wanita itu tahu perbuatan sang suami di belakangnya. Namun dia juga tidak mau temannya hidup dalam kebohongan Fahrul.


“Mai.. gue pergi dulu ya.”


Ucapan Sandi menghentikan Maira saat akan membuka amplop. Wanita itu melihat sejenak ke arah Sandi kemudian membuka tasnya. Dia mengambil amplop coklat berisi uang imbalan atas kerja keras Sandi.


“Ini San.”


“Ngga usah Mai, aku ikhlas bantu kamu.”


“Ambil San, ini hak kamu.”


“Simpan saja Mai. Aku beneran ikhlas bantu kamu. Gunakan uang itu untuk keperluanmu saja. Aku pergi dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Maira memandangi Sandi yang pergi meninggalkan dirinya. Pria itu terus keluar dari gedung apartemen. Seperginya Sandi, perhatian Maira kembali tertuju pada amplop di tangannya. Dengan tangan bergetar Maira membuka tali amplop kemudian mengeluarkan lembaran foto dari dalamnya.


Jantung Maira seperti diremas saat melihat lembaran foto Fahrul bersama dengan Reisa. Maira tentu saja masih mengenali wanita yang bersama suaminya di foto, karena mereka telah bertemu saat resepsi pernikahan. Hati Maira semakin sakit ketika melihat foto Fahrul tengah berciuman di dalam mobil. Lalu foto keduanya saat memasuki hotel. Sudah bisa dipastikan kalau hubungan keduanya sudah sangat jauh.


Walau belum ada rasa cinta untuk Fahrul, namun bukan berarti wanita itu tak merasakan sakit hati. Istri mana yang tak sakit melihat sang suami lebih memilih melampiaskan hasratnya kepada perempuan lain, sedang dirinya diabaikan begitu saja.


Maira menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Dia memasukkan foto ke dalam amplop dengan asal kemudian bangkit dari duduknya. Akibat shock yang dirasakannya, tubuh Maira begitu lemas, kepalanya mendadak terasa pusing.


Dari arah lift, Denis berjalan keluar dari kotak besi tersebut. Matanya memicing saat melihat wanita yang berdiri tak jauh darinya. Dia segera mendekati wanita itu setelah yakin kalau itu adalah Maira, istri dari Fahrul.


Maira berjalan limbung dengan amplop di tangannya. Sedetik kemudian tubuhnya seperti kehilangan tenaga dan hampir terjatuh. Dengan sigap Denis menahan tubuh Maira. Amplop di tangannya terjatuh dan foto yang ada di dalamnya berhamburan.


“Mai.. kamu ngga apa-apa?”


“Denis..”


🍂🍂🍂


**Apa jadinya susu kuda liar berkolaborasi sama kuda lumping ya😂


Nah loh, Mai udah tahu kelakuan bejat Fahrul. Kira² apa yang bakal terjadi ya🤔**