
Suasana D’Light Coffee sore ini cukup ramai, bukan ramai oleh pengunjung tapi oleh celotehan dan juga gelak tawa para sahabat Nick. Hari ini mereka sengaja mengunjungi Nick yang tengah belajar menjadi barista di coffee shop milik temannya, Wayan. Wayan memang membuka kursus untuk orang-orang yang ingin menjadi barista. Pagi sampai sore, coffee shopnya diperuntukkan untuk belajar. Sedang jam bukanya dimulai pukul 7 malam sampai pukul 3 pagi.
Bukan hanya sahabat Nick, tapi Iza, Meta dan jangan lupakan Rivan juga datang ke sana. Bahkan Rivan ikut mencoba meracik kopi. Sudah seminggu ini Nick memulai kursusnya sebagai barista. Sudah banyak hal yang dipelajarinya. Mulai dari mengenali jenis-jenis kopi, cara meracik yang benar sampai latte art.
Nick telah selesai meracik kopi buatannya, lalu memberikannya pada para sahabat. Namun khusus untuk Arnav, diberikan racikan Rivan. Sedang untuk Iza, Nick memberikan kopi dengan latte art. Nick membawakan secangkir cappucino lalu memberikannya langsung pada Iza. Keduanya memilih duduk di meja terpisah dari yang lain.
“Special for you, princess.”
“Masya Allah, bagus banget Nick.”
Iza memandangi cangkir kopi di depannya. Nick melukis tulisan I ❤️ YOU di atas kopi. Baru seminggu belajar, tapi Nick sudah menguasai teknik ini, membuat Iza benar-benar kagum akan sosok calon imamnya ini. Nick menarik kursi di depan Iza, membuyarkan lamunan Iza yang tengah melihat lukisan Nick.
“Diminum dong.”
“Cantik banget, jadi ngga tega minumnya,” Nick terkekeh mendengarnya.
“Kalau kamu ngga minum, kamu ngga tahu rasa kopi buatanku dong.”
“Bentar ya.”
Iza mengambil ponselnya lalu mengabadikan latte art buatan Nick dengan kamera ponselnya. Untuk sesaat Iza memandangi hasil jepretannya kemudian menjadikan gambar tersebut sebagai wallpaper ponselnya. Setelah itu Iza mengambil cangkir kemudian menyeruputnya perlahan.
“Gimana? Enak ngga?”
“Hmm... sinca mashita,” ucap Iza menirukan gaya Lee Min Ho di salah satu iklan produk kopi instan ternama.
“Rasanya enak, tampilannya juga cantik,” Iza kembali memuji.
“Cantik seperti yang minum.”
Semburat merah langsung menghiasi pipi Iza. Nick selalu sukses membuat pipinya bersemu merah lewat kata-kata manisnya. Dan Nick begitu menikmati saat melihat pipi Iza yang kemerahan.
Sementara itu di meja lain, semua sahabat Nick termasuk Meta tengah menikmati kopi buatan Nick. Semua memuji hasil racikan Nick yang sudah seperti barista profesional saja. Namun lain dengan Arnav, dia sampai mengeluarkan lidahnya saat mencicipi rasa kopi yang jauh dari kata nikmat.
“Kenapa lo?” tanya Abe.
“Buset si Nick bikin kopinya ngga enak gini.”
“Masa sih? Yang punya gue enak loh,” seru Abe.
“Punya gue juga,” sambar Denis.
“Iya, enak nih,” sahut Fahrul.
Tak percaya dengan ucapan ketiga sahabatnya, Arnav mencicipi kopi mereka satu per satu. Benar saja, rasanya jauh berbeda dengan miliknya. Bahkan Meta juga mengatakan hal yang sama. Rivan hanya terkikik geli melihat kebingungan Arnav.
“Aneh, kopi lo enak semua rasanya, kenapa yang gue ngga ya? Gue punya dosa apa sama si Nick, nih kopi rasanya kaya racun,” Arnav melirik ke arah Nick yang masih asik mengobrol dengan Iza.
“Itu bukan kopi buatan bro Nick,” celetuk Rivan sambil berusaha menahan tawa.
“Lah terus buatan siapa?”
“Buatan gue huahahaha..”
“Dasar PEA pantesan nih rasa kopi kaya air comberan,” kesal Arnav.
Bukannya meminta maaf, Rivan malah semakin terbahak. Pemuda itu sampai memegangi perutnya, senang sekali bisa mengerjai Arnav. Abe, Denis dan Fahrul pun tak bisa menahan tawanya. Melihat Arnav dan Rivan yang selalu bertengkar seperti anjing dan kucing selalu sukses menggelitik perut mereka.
Saking kencangnya tawa mereka, membuat Nick juga Iza menolehkan kepalanya ke arah meja sebelah. Tapi kemudian mereka kembali serius berbincang. Nick menceritakan tentang keberhasilannya memulihkan nama baiknya.
“Alhamdulillah semua kebenaran sudah terungkap.”
“Iya Zi. Tolong sampaikan ke abi ya.”
“Pasti Nick. Aku bangga sama kamu. Kamu berusaha keras untuk memenuhi semua persyaratan Abi. Tapi aku, kadang aku berpikir apa aku emang layak untuk diperjuangkan olehmu.”
“Kamu lebih dari layak Zi. Kamu penyemangat hidupku, sejak bertemu denganmu, hidupku jadi lebih berarti.”
“Makasih Nick. Kamu juga banyak memberikan hal positif buatku.”
“Mudah-mudahan kebersamaan kita bisa membawa kebaikan buat kita dan orang-orang di sekeliling kita.”
“Aamiin.”
Iza mengambil lagi cangkir kopi kemudian menyeruputnya kembali. Nick tersenyum melihat Iza menikmati kopi buatannya. Rencananya setelah sebulan kursus, Nick akan mulai bersiap membuka kedai kopi impiannya.
🍂🍂🍂
Jam tujuh kurang lima menit, semua teman Nick membubarkan diri karena coffee shop akan segera dibuka. Nick juga ikut bersama mereka, sambil mengantarkan Iza pulang. Sebelum pulang, mereka berkumpul di tempat parkir. Fahrul menyerahkan kunci mobil pada Nick. Kemarin sahabatnya itu membeli sebuah mobil second di dealernya dan tadi anak buahnya baru saja mengantarkan.
“Van, kamu ikut pulang bareng aku?” tawar Nick.
“Ngga bro, gue bareng kak Meta soalnya gue ngga percaya sama nih kadal buluk,” Rivan menunjuk ke arah Arnav yang langsung dibalas pelototan pria itu.
“Be.. lo mau langsung pulang?” tanya Denis.
“Gue harus jemput si bola bekel di kampusnya.”
“Cieee... udah ada kemajuan nih,” goda Arnav.
“Kemajuan pala lu peyang. Gue sama dia lagi cara cara buat batalin perjodohan. Lagian tuh anak udah punya gebetan di kampusnya.”
“Lo ngga nyesel nolak si Sansan? Cantik loh,” seru Denis.
“Bengek yang ada.”
Jawaban Abe sontak mendapat sambutan tawa dari semua orang. Namun tawa mereka terhenti ketika seorang wanita yang tak diundang datang menghampiri. Dengan santainya wanita yang ternyata Reisa memeluk lengan Fahrul. Iza dan Meta menatap ke arah Reisa dengan pandangan tak suka. Denis melihat sinis ke arah Reisa juga Fahrul.
“Lepas Cha,” Fahrul melepaskan pelukan Reisa karena tak enak dengan Iza dan Meta.
“Fahrul itu suami seseorang, rasanya ngga pantas deh kalau kamu bersikap seperti itu,” ketus Iza.
Nick cukup terkejut mendengar penuturan Iza. Tak biasanya gadis itu berbicara dengan nada menusuk seperti itu. Namun kali ini, gadis itu memperlihatkan ketidaksukaan akan sikap Reisa juga Fahrul secara blak-blakan. Denis tersenyum simpul mendengar tanggapan Iza.
“Biasa aja keles, ngga usah sewot. Yang gue peluk kan Fahrul, bukan Nick,” balas Reisa tak kalah ketus.
“Kalau kamu berani peluk Nick, saya patahin tangan kamu!”
“Ayo kak, kita pulang,” Reisa menarik tangan Fahrul untuk pergi.
“Berani lo pergi sama dia, gue bakal bawa pergi Mai dan gue jamin lo ngga bakalan bisa nemuin dia. Lo cuma perlu tunggu surat gugatan cerai darinya datang,” ancam Denis.
Melihat keseriusan Denis, Fahrul pun mengurungkan langkahnya pergi bersama Reisa. Pria itu meminta kekasih gelapnya itu untuk pergi tanpa dirinya. Reisa terlihat kesal dengan sikap Fahrul yang takut akan ancaman Denis. Dengan hati dongkol, perempuan itu segera pergi dari sana.
“Rul.. aku harap kamu buka mata kamu lebar-lebar. Jangan sampai kamu kehilangan berlian hanya demi batu kerikil. Maira itu perempuan baik-baik, dia ngga pantas mendapatkan perlakuan buruk dari kamu. Pikirkan apa selama menikah dia pernah melakukan kesalahan padamu, apa dia pernah mengabaikan tugasnya sebagai istri? Bahkan dia masih menutup mulutnya atas perselingkuhan kamu. Pikirkan baik-baik, menyesal kemudian ngga ada gunanya karena penyesalan selalu datang di akhir,” Iza mengakhiri kalimat panjangnya.
“Tul bro.. kalau di awal namanya pendaftaran,” sahut Rivan.
Tanpa menunggu reaksi Fahrul, Iza segera mengajak Nick untuk pulang. Salah satu hal yang membuat gadis itu masih bersikap baik pada Fahrul hanya karena menghargai Nick. Fahrul sendiri hanya terdiam memandangi punggung Iza yang semakin menjauh. Sungguh pria itu merasa tertohok dengan ucapan tajam Iza.
Nick membukakan pintu untuk Iza kemudian pria itu mengelilingi bodi mobil dan naik ke kursi pengemudi. Setelah memasan sabuk pengaman, toyota Avanza silver itu mulai meluncur pergi.
Iza yang masih kesal dengan Fahrul, hanya diam saja selama perjalanan. Sesekali Nick melirik ke arah gadis di sebelahnya. Kemudian tangannya menyalakan audio mobil agar suasana tak terlalu sepi. Sebuah lagu lawas milik Mr. Big menyapa gendang telinga mereka. Nick yang memang menyukai lagu-lagu rock tahun 90-an mulai bersenandung. Di bagian reffrain dia ikut bernyanyi.
“I’m the one who wants to be with you. Deep inside I hope, you feel it. Waited on a line of greens and blues. Just to be the next to be with you. Why be alone, when we can be together baby? You can make my life worthwhile and I can make you start to.. smileeee...”
Nick melirik ke arah iza saat menyanyikan lirik terakhir. Senyum Iza tersungging di bibirnya membuat Nick pun tersenyum lebar. Dia kembali meneruskan nyanyiannya sampai selesai. Iza begitu menikmati suara Nick yang memang cukup merdu. Suasana sepi yang tadi meliputi mereka berdua mulai terpecahkan.
Setelah sempat terhenti beberapa kali di lampu merah, akhirnya Toyota Avanza milik Nick berhenti di depan rumah Iza. Gadis itu dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya. Nick terus memperhatikan dari tempat duduknya.
“Aku antar sampai ke dalam.”
“Ngga usah.”
“Besok aku jemput kuliah.”
“Ok. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Iza meraih tasnya kemudian tangannya membuka handle pintu. Sebelum turun, gadis itu kembali menoleh ke arah pria di sampingnya. Nick masih terus memperhatikan dirinya.
“Nick..”
“Hmm..”
“I love you..”
Setelah mengucapkan tiga kata ajaib itu, Iza bergegas turun dari mobil. Wajahnya jangan ditanya lagi bagaimana warnanya. Walau malu, namun entah mengapa Iza ingin mengucapkan kata cinta itu pada Nick. Harus diakui semakin hari perasaannya pada Nick semakin bertambah dalam saja.
Sedang Nick masih terpaku di tempatnya. Dirinya masih belum percaya kalau Iza akhirnya mengucapkan kalimat cinta untuknya. Kesadarannya kembali ketika mendengar suara pintu tertutup. Dari balik kemudinya, dia terus memperhatikan calon makmumnya masuk ke dalam rumah.
“YESS!!!”
Teriaknya kencang sambil mengepalkan tangannya ke udara. Tiga kata yang selalu dinantikan akhirnya keluar juga dari mulut Iza. Sambil bersiul senang, Nick menjalankan kendaraannya. Hatinya jangan ditanya lagi betapa bahagianya. Secara resmi cintanya berbalas juga.
Masih dengan wajah tersenyum, Iza masuk ke dalam rumah. Terdengar suara Rahardi menjawab salam anak gadisnya. Dia sengaja menunggu Iza pulang dari kampus. Saat sang anak melintas di depannya, Rahardi langsung memintanya duduk.
“Dari mana?”
“Kampus.”
“Sekarang jam berapa? Bukannya kuliah kamu selesainya jam 4?”
“Tadi aku mampir dulu ke tempat kursus Nick. Dia lagi kursus menjadi barista.”
“Dari pada dia membuang uang dan waktu untuk kursus, lebih baik dia mencari pekerjaan. Senang sekali menyandang status pengangguran.”
“Nick mau membuka usaha sendiri. Dia mau menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain. Abi harusnya bangga.”
“Wirausaha itu tidak gampang. Penghasilannya juga tidak pasti, kadang untung, kadang rugi. Bagaimana dia bisa menghidupimu kalau belum memiliki pekerjaan tetap.”
“Yang penting tetap berpenghasilan kan bi? Rejeki sudah ada yang ngatur, tinggal bagaimana kita menjemput rejeki itu. Harusnya abi mendukung bukan selalu menyudutkan dan meremehkannya.”
“Sudah berani membantah kamu sekarang.”
“Aku mau istirahat dulu bi, aku capek.”
Iza berdiri dari duduknya kemudian segera melangkah menuju lantai atas. Berdebat dengan sang ayah tak ada habisnya. Oleh karenanya Iza memilih untuk menyingkir. Dia tak ingin merusak momen bahagianya dengan perdebatan.
Rahardi meraih ponselnya yang ada di atas meja begitu melihat Iza sudah menghilang. Dia segera menghubungi salah satu temannya. Untuk beberapa saat pria itu masih menunggu panggilannya terhubung. Tak lama terdengar sebuah suara menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, tumben pak Dosen menghubungi. Ada apa?”
“Bagaimana kabar Syehan?”
“Alhamdulillah baik.”
“Kapan kamu mau datang ke rumah bersama Syehan? Katanya kamu mau menjodohkan Syehan dengan Iza.”
Terdengar tawa Faisal dari seberang. Dia dan Rahardi memang pernah berencana menjodohkan Syehan, anaknya dengan Iza. Syehan memang sudah menyukai Iza sejak lama, namun sikap gadis itu yang terlihat tak peduli membuat Syehan ragu untuk maju. Namun kini Rahardi telah membuka peluang untuk anaknya.
“Memangnya Iza mau dengan Syehan?”
“Apa yang kurang dari Syehan? Tampan, pintar, bahkan sekarang sudah menjadi PNS di departemen Agama. Kriteria menantu idaman.”
“Hahaha.. bisa saja pak dosen. In Syaa Allah, akhir minggu ini kami akan berkunjung.”
“Baik.. baik.. saya dan keluarga menunggu. Sampaikan salam untuk Syehan juga istrimu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rahardi mengakhiri panggilannya. Wajahnya tersenyum puas setelah mendapat keputusan kapan temannya akan berkunjung. Dia harus bergerak cepat menjodohkan Iza dengan Syehan, sebelum Nick datang dan melamar Iza secara resmi. Bagaimana pun juga, pria itu masih belum rela kalau Nick yang menjadi pendamping hidup anak gadisnya.
🍂🍂🍂
**Wah pak Rahardi minta ditampol pake pete sekebon nih.
Sorry ya baru up neeh, maklum daku sibuk mencari sesuap berlian😎**