
“Kalau kamu tidak bisa diminta dengan cara baik-baik. Maka aku akan menyeretmu pulang!”
Fahrul menarik tangan Maira dengan paksa hingga wanita itu mengaduh kesakitan. Namun Fahrul menulikan telinganya dan terus menarik Maira keluar dari rumah. Sekuat tenaga Maira berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia belaka. Bu Sarni pun tak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu hanya memandang dengan cemas.
Di saat genting tersebut, sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah, tepat di depan pasangan suami istri tersebut. Denis segera turun dari tunggangannya. Masih mengenakan helmnya, dia melepaskan paksa pegangan Fahrul dari Maira kemudian menyembunyikan wanita itu dibalik tubuhnya. Denis membuka helmnya, wajahnya nampak kesal.
“Jangan berani sentuh Mai lagi!”
“Mai istri gue!! Gue berhak atas dia!!”
“Kalau lo udah bisa jadi suami yang baik buat dia, baru lo boleh bilang gitu. Mending lo pergi sekarang!”
“Gue ngga akan pergi tanpa Mai!”
“Dan gue ngga akan lepasin Mai!”
Kedua lelaki itu berhadapan dengan emosi yang sudah berkobar. Melihat situasi semakin tak kondusif, bu Sarni bergegas mencari bala bantuan. Tak lama dia datang bersama beberapa orang, termasuk Dadi.
“Ada apa ini mas Denis? Ada keributan apa?”
“Maaf pak Dadi, tidak ada apa-apa. Ini suami saya, dia hanya sedang datang menengok saya di sini,” Maira berusaha meredam suasana panas yang terjadi.
“Apa benar mas Denis?”
“Iya, dia memang suami Mai. Tapi sebentar lagi dia akan pergi, karena masih ada urusan penting untuk dikerjakan. Bukan begitu Rul?”
Fahrul yang merasa terpojok, akhirnya memilih untuk pergi. Yang penting dirinya sudah menemukan keberadaan Maira. Kerumunan orang akhirnya bubar setelah kepergian Fahrul. Maira, Denis dan bu Sarni kembali masuk ke dalam rumah. Denis dan Maira duduk bersama di ruang tamu.
“Apa dia menyakitimu?”
“Ngga Den, untuk kamu cepat datang. Makasih.”
“Sepertinya kamu harus pindah lagi. Dia sudah tahu keberadaanmu.”
“Ngga usah Den. Di mana pun aku sembunyi, suatu saat kami pasti akan bertemu lagi. Lagi pula aku tinggal di sini bukan untuk bersembunyi tapi untuk menenangkan diri.”
“Bagaimana kalau dia datang lagi ke sini?”
“Aku akan menghadapinya. Tenang saja Den, aku tidak selemah itu. Terima kasih atas perhatianmu.”
“Malam ini aku akan tidur di sini. Aku takut kalau dia akan kembali.”
“Tapi Den..”
“Tenang saja. Bu Sarni juga akan menginap di sini, jangan khawatir.”
Maira menganggukkan kepalanya. Denis kemudian berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Direbahkan tubuhnya yang terasa letih di atas kasur. Selain sibuk dengan pekerjaannya, pria itu juga sibuk melayani hasrat Alfi dan Teresa. Tubuhnya serasa remuk redam karena kedua wanita itu terus saja ingin dipuaskan olehnya. Perlahan Denis menutup matanya.
🍂🍂🍂
Malam mulai turun menyelimuti bumi. Maira dan bu Sarni tengah menyiapkan makan malam. Sesuai permintaan Denis, bu Sarni menginap untuk menemani Maira malam ini. Setelah semua makanan tertata di atas meja, Maira menuju kamar Denis. Sejak datang siang tadi, Denis tidak keluar dari kamarnya. Perlahan Maira mengetuk pintu kamar yang tertutup.
TOK
TOK
TOK
“Den... Denis,” panggil Maira, namun tak ada jawaban dari dalam. Maira kembali mengetuk pintu.
TOK
TOK
TOK
“Den.. makan dulu yuk.”
Masih tak ada jawaban, Maira memanggil bu Sarni. Setelah berdiskusi sebentar, Maira memutuskan masuk ke dalam kamar ditemani bu Sarni. Digerakkannya handle pintu yang tak terkunci. Suasana kamar begitu gelap, Maira menyalakan lampu kamar. Nampak Denis berbaring di ranjang. Perlahan wanita itu mendekat.
“Den.. bangun Den, ayo makan dulu.”
Masih tak ada reaksi dari Denis. Maira menatap curiga, dilihatnya terdapat titik-titik air di kening pria itu. Bu Sarni berinisiatif untuk meraba kening Denis. Wanita itu terkejut, tubuh Denis panas.
“Sepertinya mas Denis sakit. Badannya panas mba.”
“Aku beli obat dulu kalau gitu.”
“Biar saya aja yang beli mba. Lebih baik mba kompres mas Denis.”
Maira mengangguk, dia bergegas menuju dapur untuk mengambil baskom. Diisinya baskom dengan air hangat, kemudian mengambil handuk kecil untuk mengompres. Maira kembali ke kamar. Sebelum mengompres, dikeringkan dulu dahi Denis yang basah oleh keringat. Maira meletakkan handuk basah di atas kening Denis.
Wanita itu kemudian menuju dapur untuk membuatkan teh manis dan mengambilkan makanan. Tak berapa lama dia kembali ke kamar, diletakkan nampan berisi piring dan gelas di atas nakas. Denis yang merasakan benda basah menempel di keningnya, perlahan membuka matanya.
“Den..” panggil Maira.
“Apa ini?”
Denis meraba keningnya kemudian mengambil handuk kecil tersebut dari keningnya. Perlahan dia bangun lalu menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang. Maira mengambil handuk lalu menaruhnya ke dalam baskom.
“Kamu makan dulu ya Den. Badan kamu panas, habis makan langsung minum obat.”
Denis hanya menganggukkan kepalanya lemah. Maira mengambil piring, melihat kondisi Denis yang lemah, wanita itu berinisiatif menyuapinya. Denis membuka mulutnya, menerima suapan dari Maira.
“Kamu kecapean kayanya Den. Lebih baik besok ngga usah kerja, istirahat aja dulu.”
Denis hanya tersenyum tipis. Mulutnya kembali terbuka untuk menerima suapan. Sejak kepergian ibunya, tak ada yang merawat dirinya saat sakit. Ada perasaan bahagia menelusup dalam hati lelaki itu mendapatkan perhatian juga perawatan dari Maira.
Maira kembali menyuapkan makanan namun dibalas oleh gelengan Denis. Pria itu hanya sanggup menghabiskan setengah piring. Lidahnya terasa pahit, hingga tak ada kenikmatan saat makan. Maira menaruh piring di atas nakas lalu mengambilkan minuman untuk Denis.
Bu Sarni datang lalu memberikan obat yang tadi dibelinya. Maira membantu membukakan bungkus obat lalu memberikannya pada Denis. Sekali teguk, pria itu menelan obat yang diberikan.
“Sekarang kamu ganti baju dulu, sepertinya baju kamu basah karena keringat.”
Maira mengambil nampan kemudian keluar dari kamar seraya menutup pintunya. Denis beranjak dari tempat tidur kemudian membuka lemari pakaian. Dilepaskan kaos yang membungkus tubuhnya. Terlihat beberapa tanda merah di sekita dadanya, hasil karya Alfi juga Teresa. Setelah mengganti kaos juga celananya, Denis kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Baru saja pria itu hendak memejamkan mata, sebuah ketukan terdengar. Dengan suara pelan, Denis meminta masuk yang ada di luar. pintu terbuka, kemudian Maira masuk ke dalam. Tanpa bicara, Maira kembali mengompres kening Denis. Dia juga menyelimuti tubuh Denis. Karena lemas dan juga mengantuk, Denis kembali tertidur.
🍂🍂🍂
Cahaya matahari masuk melalui sela-sela jendela membuat sang empu mata yang masih menutup terganggu oleh sinarnya. Perlahan kelopak mata Denis terbuka, matanya memicing melihat sekeliling kamarnya. Pandangannya langsung terhenti di jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
Denis bangun dari tidurnya. Dirinya duduk sebentar di sisi ranjang untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang belum sepenuhnya kembali. Kemudian dia berdiri, diambilnya handuk dari dalam lemari kemudian melangkahkan kakinya keluar. Tak ada siapa pun di rumah, Denis segera masuk ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama bagi Denis untuk membersihkan diri. Dengan tubuh terbalut handuk sebatas pinggang, pria itu keluar dari kamar mandi. Untung saja kondisi rumah masih kosong, dia bergegas masuk ke dalam kamar.
Sambil mengusak rambutnya yang masih basah, Denis meraih ponsel yang ada di atas nakas. Tangannya membuka kode ponsel kemudian melihat deretan panggilan tak terjawab dan juga pesan yang menumpuk. Beberapa pesan berasal dari tempat kerjanya dan sisanya pesan dari Alfi juga Teresa.
Jari Denis terus menscrooll deretan pesan yang dikirimkan oleh Teresa. Wanita itu mengatakan akan pergi ke Paris selama seminggu. Dia juga mengatakan telah mengirimkan vitamin penambah stamina ke apartemen Denis. Pria itu hanya tersenyum kecil membaca pesan dari Teresa.
Kemudian dia membaca pesan dari Alfi. Wanita itu terus menerus menanyakan keberadaannya. Berbeda dengan Teresa yang sangat mengerti dirinya, Alfi cenderung egois. Dia selalu menuntut untuk dipuaskan, kapan pun dan di mana pun wanita itu menginginkannya. Bahkan dia tak mempedulikan kondisi Denis apakah sedang fit atau tidak. Jari Denis bergerak membalas pesan Alfi yang menginginkan bertemu dengannya.
To Tante Alfi :
Maaf tan, aku lagi ngga enak badan. Aku mau istirahat hari ini.
From Tante Alfi :
Kamu di mana sekarang?
To Tante Alfi :
Tak ada balasan lagi dari Alfi. Denis meletakkan ponsel ke atas nakas kemudian dia beranjak keluar kamar. Perutnya sudah keroncongan menuntut untuk diisi sesuatu. Denis melangkahkan kakinya menuju dapur, di sana terlihat Maira tengah memindahkan makanan ke dalam wadah.
Melihat kehadiran Denis, wanita itu membawa mangkok berisi ketupat sayur yang dibelinya tadi lalu menaruhnya di meja makan. Denis menarik kursi makan lalu mendudukkan dirinya di sana.
“Sarapan dulu Den, tadi aku beli ketupat sayur.”
“Makasih Mai.”
Denis meraih mangkok berisi ketupat sayur lalu memakannya dengan lahap. Segelas teh manis hangat disodorkan Maira kepadanya. Maira kemudian ikut duduk di dekat Denis.
“Kamu ngga sarapan?”
“Udah tadi.”
“Bu Sarni mana?”
“Lagi ke pasar. Tukang sayur langganan ngga jualan, makanya ke pasar.”
Denis hanya manggut-manggut saja sambil melanjutkan makannya. Maira tersenyum melihat Denis yang makan begitu lahap. Melihat Denis mengingatkannya pada kakak pertamanya, Faqih. Sikap dan gaya bicara Denis mirip dengan Faqih, mungkin itu yang membuat Maira cepat akrab dengan Denis.
“Assalamu’alaikum.”
Lamunan Maira buyar ketika mendengar sebuah suara mengucapkan salam. Wanita itu berdiri kemudian berjalan menuju ruang tamu seraya menjawab salam. Senyumnya mengembang ketika pintu rumah terbuka. Nampak Ayura bersama Azka berdiri di depan pintu.
“Ya ampun Ay, aku pikir kamu bercanda bilang mau ke sini.”
“Beneran lah, aku kan mau lihat keadaan kamu.”
“Ayo masuk.”
Ayura masuk ke dalam rumah sambil menuntun Azka. Maira mempersilahkan temannya untuk duduk. Pagi tadi saat Maira meminta ijin untuk tidak mengajar, Ayura memang menanyakan alamat dia tinggal.
“Kamu sakit apa Mai?”
“Bukan aku, tapi Denis.”
“Ooohh..”
Azka menarik-narik jilbab yang dikenakan Ayura, membuat wanita itu menoleh ke arah sang anak. Bocah itu kemudian menyodorkan kantong plastik putih yang berisikan mainan yang baru saja dibelinya tadi.
“Buka,” pintanya pada Ayura.
Sang ibu pun menuruti keinginannya. Dengan senang Azka duduk di lantai sambil berusaha merangkai mainan mobil-mobilan yang baru dibelinya.
“Oh iya Mai, aku mau ngingetin, dua minggu lagi ada acara di sekolah. Acara family time gitu, kamu ikut ya temenin aku.”
“In Syaa Allah. Kaya anak kecil aja minta ditemenin.”
“Aku males dapet tatapan ngga enak plus nyinyiran orang tua murid. Mereka tuh kaya ketakutan kalau aku godain suami mereka. Emang ya punya status janda itu ngga enak banget. Serba salah deh.”
“Abis jandanya cantik kaya kamu ya wajarlah kalau mereka insecure,” Maira tertawa pelan.
“Tapi mereka bakal lebih insecure sama kamu kalau kamu jadi cerai. Kamu bakalan jadi janda tingting,” Ayura terkekeh sendiri mendengar ucapannya.
Denis yang masih menghabiskan sarapannya, mencuri dengar pembicaraan kedua wanita itu. Pembicaraan keduanya terhenti oleh rengekan Azka yang tak bisa merangkai mainannya. Denis berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
“Ehem..”
“Eh Den.. kenalin ini Ayura, temanku.”
Ayura yang tengah membantu Azka merangkai mainan mendongakkan kepalanya ke arah Denis. Dia menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum. Denis hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk di salah satu sofa kosong.
“Mama.. ini gimana?”
“Aduh mama juga ngga tau gimana caranya. Coba mama baca dulu.”
Ayura mengambil kardus pembungkus kemudian membaca bagaimana cara merangkai mobil mainan tersebut. Diambilnya satu per satu rangka mobil tersebut kemudian mencoba menyusunnya. Denis memperhatikan Ayura yang terlalu lama merangkai dan mendapat protesan Azka.
“Mau om bantu?” tawar Denis.
Azka mengangkat kepalanya melihat ke arah Denis kemudian menganggukkan kepalanya. Denis bangun dari duduknya kemudian mengambil mainan yang berserakan. Dia mengajak Azka menuju teras, mereka merangkai mainan di sana. Ayura kembali ke tempat duduknya.
“Jadi itu yang namanya Denis. Aku ngga nyangka kalau wajahnya mirip oppa-oppa Korea hihihi..”
“Emang aku belum pernah cerita ya. Tapi dia tipe kamu kan, kamu tuh penggemar drakor.”
“Apalagi kesibukan emak-emak kesepian kalau bukan nonton drakor,” Ayura kembali tertawa.
“Eh tumbenan Azka bisa langsung akrab sama orang yang baru dikenal.”
“Iya ya.. biasanya tuh anak suka susah kalau sama orang yang baru ketemu. Tapi sama Denis bisa langsung akrab gitu. Cieee.. kode alam nih,” goda Maira.
“Apa sih Mai, gaje banget sih kamu.”
“Eh mau minum apa?”
“Apa aja yang ada keluarin semua.”
Maira tertawa mendengar ucapan temannya itu. Dia segera beranjak menuju dapur untuk membuatkan minuman. Sementara itu, Ayura terus memperhatikan sang anak yang terlihat senang karena Denis berhasil merangkai mainan untuknya.
🍂🍂🍂
Nick menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Sudah sejak empat hari yang lalu dia sudah kembali bekerja. Hari ini semua karyawan dibuat repot dengan adanya rapat umum pemegang saham. Rencananya mereka akan mengganti direktur yang baru. Rumor yang beredar, jabatan akan diisi oleh anak perempuan Sakurta, pemilik saham terbesar di hotel ini.
Nick sendiri tak ambil pusing dengan adanya pergantian tahta kepemimpinan. Dia bukan tipe seorang penjilat yang bersedia melakukan apapun demi menaikkan posisinya. Baginya kemampuan dan keterampilannya bekerja adalah yang utama.
Lamunan Nick buyar ketika sebuah pesan dari Iza masuk. Kekasihnya itu mengabarkan kalau malam nanti Rahardi menunggunya di rumah. Hati Nick bersorak membaca pesan tersebut. Momen yang dinantikan akhirnya tiba juga. Rencana Nick melamar Iza sepulang dari rumah sakit harus tertunda karena Rahardi harus menghadiri seminar di luar kota selama tiga hari.
“Nick.. kamu dipanggil pak Hilman.”
Ucapan Ranti menarik Nick dari lamunannya. Dengan cepat dia berdiri kemudian bergegas menuju ruangan general manager. Setelah mengetuk pintu dan mendengar jawaban dari dalam, Nick masuk ke dalam ruangan. Dia menarik kursi di depan meja kerja Hilman.
“Bagaimana keadaanmu Nick?”
“Baik pak.”
“Hmm.. kamu pasti sudah mendengar kalau pak Hartono sudah digantikan oleh ibu Amelia sebagai direktur.”
“Iya pak.”
“Dan tugas pertama yang diberikan bu Amelia pada saya adalah memecatmu.”
🍂🍂🍂
**Waduh hidup lo ribet banget Nick, sabar yo bro.
Buat yang pengen tahu visual Ayura, nih gue kasih. Kira² Mai apa Ayura yang cocok buat gu😎**
Nih Denis yang wajahnya mirip oppa² Korea. Tapi masih gantengan gue sih😎