
Lutut Diah lemas begitu mendapat kabar dari Rivan kalau Nick dan Iza mengalami kecelakaan. Ponsel di tangannya terlepas begitu saja. Bryan menangkap tubuh Diah yang hampir terjatuh. Niat wanita itu memberikan kejutan untuk Nick, justru dirinya yang dikejutkan dengan berita kecelakaan sang anak.
“Ada apa?”
“Nick.. Nick kecelakaan.”
“Apa? Sekarang di mana dia?”
“Di rumah sakit Mitra Harapan.”
“Ayo kita ke sana.”
Bryan mengambil ponsel Diah lalu membimbingnya kembali ke lift. Mereka sebenarnya baru saja tiba di apartemen tapi langsung kembali keluar begitu mendengar perihal Nick. Selama dalam perjalanan, Diah menghubungi semua sahabat Nick. Mendapat kabar dari Diah, semua langsung menuju rumah sakit, termasuk Denis.
Sambil berlari Diah memasuki gedung rumah sakit. Bergegas dia memasuki lift untuk sampai di lantai lima, di mana ruang operasi berada. Wanita itu terlihat tak sabar melihat layar di atas lift yang menunjukkan angka lantai yang dilewati kotak besi tersebut.
TING
Diah segera menghambur keluar begitu pintu terbuka. Dengan langkah panjang dia menuju ruang tunggu operasi. Nampak Rivan, mamanya, Rahardi dan Gunadi sudah berada di sana.
“Rivan..”
“Mom..”
“Nick.. di mana Nick?”
“Bang Nick masih di operasi mom.”
“Iza?”
“Sama mom.”
Tangan Diah memegang tembok di sampingnya untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Bryan terus berada di sisinya, berjaga-jaga kalau wanita itu kembali terjatuh. Mata Diah kemudian menangkap Rahardi yang tengah duduk sambil menundukkan kepalanya. Perlahan dia mendekati pria itu.
“Kamu.. apa kamu penyebab kecelakaan mereka?”
Rahardi mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Diah yang tengah melihatnya dengan tatapan sengit. Tak ada reaksi dari pria itu. Dia kembali menundukkan kepalanya. Diah bertambah geram, melihat reaksi Rahardi, dia yakin kalau pria itu ada dibalik kecelakaan sang anak.
“Kalau sesuatu terjadi pada anakku. Aku akan membuat perhitungan denganmu, camkan itu!!”
Bryan segera membawa pergi Diah dari hadapan Rahardi. Dia mendudukkan wanita itu di kursi lain yang jaraknya sedikit jauh. Beberapa saat kemudian Fahrul datang disusul, Abe, Arnav dan Meta. Di belakang mereka muncul Denis yang hampir sebulan menghilang. Dia langsung meninggalkan rumah belajar Mualaf Center Indonesia begitu mendengar kabar tentang sahabatnya.
“Mom.. bagaimana Nick?” tanya Fahrul.
“Belum tahu. Masih di ruang operasi.”
“Bagaimana Nick bisa kecelakaan?” sambar Abe.
Diah hanya menggelengkan kepalanya. Fahrul dan yang lainnya mendudukkan diri di samping Diah. Mereka hanya bisa menunggu jalannya operasi sampai selesai sambil terus berdoa dalam hati, memohon keselamatan untuk Nick juga Iza.
🍂🍂🍂
Suara adzan terdengar dari ponsel Bryan. Tak terasa waktu sudah memasuki waktu ashar. Operasi masih belum berakhir. Bryan mengajak Diah dan yang lainnya untuk menunaikan shalat terlebih dulu. Ajakan Bryan diiyakan oleh Diah, Fahrul dan yang lainnya. Mereka bergegas menuju mushola yang ada di bagian luar rumah sakit.
Rahadi masih bertahan di tempatnya. Kepalanya menyandar ke dinding di belakangnya. Sedari tadi pria itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Berjuta penyesalan menyergapnya, bukan hal seperti ini yang diinginkannya.
“Mina akan langsung pulang setelah pemakaman. Aku harap kamu bisa menjelaskan nanti, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Iza dan Nick sampai mengalami kecelakaan,” ujar Winny, mama Rivan.
Masih tak ada jawaban dari Rahardi. Gunadi yang mendengar penuturan Winny hanya menundukkan kepalanya. Dia turut menyesal atas kejadian yang menimpa anak dosennya. Secara tidak langsung dirinya juga menjadi penyebab kecelakaan itu terjadi.
“Om.. mending kita shalat dulu,” ajak Rivan.
Rahardi membuka matanya kemudian berdiri dari tempatnya duduk. Baru saja pria itu akan melangkah pergi. Pintu ruang masuk operasi terbuka, seorang dokter keluar dari dalamnya. Rahardi mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih menghampiri sang dokter.
“Bagaimana keadaan anak saya dok?”
“Anak bapak yang mana? Karena di dalam ada tiga pasien yang dioperasi.”
“Yang perempuan dok.”
“Dia masih dioperasi.”
Pintu kembali terbuka, seorang suster keluar sambil mendorong blankar. Rahardi menatap pasien yang baru saja dibawa keluar. Sepertinya itu adalah pengemudi mobil box yang tadi menabrak mobil Nick. Di belakang suster tersebut kembali keluar seorang dokter.
“Keluarga Noor Azizah..”
“Iya saya dok. Bagaimana keadaan anak saya?”
“Operasinya berhasil, sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Bapak tolong ikut ke ruangan saya, ada yang perlu saya bicarakan dengan bapak.”
Rahardi menganggukkan kepalanya. Baru berjalan beberapa langkah, kepalanya menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Seorang suster keluar sambil mendorong blankar di mana terdapat Iza di atasnya. Mata anak perempuannya itu tertutup perban putih. Airmata Rahardi kembali mengalir melihat keadaan sang putri.
Dokter yang tadi mengoperasi Iza mempersilahkan Rahardi untuk duduk. Dada pria itu berdebar menanti penjelasan apa yang akan dikatan oleh sang dokter. Hatinya terus berharap tak ada hal serius yang menimpa putrinya.
“Maaf sebelumnya, saya tidak bisa menyelamatkan kandungan anak bapak. Benturan hebat yang terjadi membuat saudari Noor mengalami keguguran. Kondisinya tadi sempat drop karena kehilangan banyak darah.”
“Ya Allah Iza...”
“Luka di tubuhnya sudah berhasil diobati. Pendarahan juga sudah berhasil kami hentikan. Tapi luka di bagian matanya cukup fatal. Mata anak bapak terkena serpihan kaca dan itu cukup banyak. Serpihan kaca mengoyak bagian kornea dan lukanya cukup dalam. Nanti jika kondisinya sudah stabil, perban sudah bisa dibuka, baru kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut apakah ada masalah dengan penglihatannya atau tidak.”
“Saya harap anak saya baik-baik saja dok.”
“Iya, saya harap juga begitu. Tapi dilihat dari lukanya, kemungkinan anak bapak akan mengalami gangguan penglihatan bahkan mungkin kedua matanya tidak bisa berfungsi lagi dengan baik. Saya mengatakan ini supaya bapak bisa mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.”
Rahardi terhenyak mendengar penuturan dokter yang usianya lebih muda darinya. Dirinya Sungguh tak berani membayangkan seandainya sang putri sampai kehilangan penglihatannya. Dengan langkah lunglai, pria itu keluar dari ruangan dokter.
🍂🍂🍂
Diah dan yang lainnya kembali dari mushola. Wanita itu terlihat bingung melihat tak ada Rahardi dan yang lainnya di sana. Wanita itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Rivan. Dia harus menunggu beberapa saat sebelum Rivan menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Van, kamu di mana? Apa operasinya sudah selesai?”
“Operasi kak Zi sudah selesai, mom. Kak Zi juga sudah dipindahkan ke ruang intensif. Kalau bang Nick belum.”
“Bagaimana kondisi Iza?”
“Aku belum tahu mom. Om Hadi lagi ketemu dokter yang operasi kak Zi. Mom.. kalau operasi bang Nick selesai, kasih tau aku ya mom.”
“Iya.”
Diah mengakhiri panggilannya, kemudian kembali mendudukkan diri di kursi tunggu. Meta yang mendengar kalau operasi Iza sudah selesai, meminta ijin untuk melihat sahabatnya dulu. Gadis itu mengirimkan pesan pada Rivan menanyakan di mana ruangan Iza kemudian bergegas pergi.
Satu jam berlalu namun operasi Nick masih belum juga selesai. Diah semakin bertambah cemas. Wanita itu merebahkan kepalanya di bahu Abe. Beberapa kali dia menyusut airmata yang mengalir di wajahnya. Bryan sendiri lebih banyak tertunduk, sedari tadi pria itu tak berhenti berdoa untuk keselamatan sang anak.
Dua puluh menit kemudian, pintu ruang masuk operasi terbuka. Seorang dokter berseragam hijau keluar seraya melepas penutup kepalanya. Kelelahan terlihat di wajahnya yang sudah berumur. Diah segera bangun dari duduknya kemudian menghampiri dokter tersebut.
“Bagaiamana operasi anak saya dok?”
“Alhamdulillah operasinya berhasil. Untuk lebih jelasnya saya akan menerangkan di ruangan. Mari bu.”
Baru saja dokter melangkahkan kakinya ketika pintu kembali terbuka. Blankar yang membawa tubuh Nick keluar. Tangis Diah pecah melihat wajah pucat Nick. Kepalanya terbalut perban putih.
“Nick..”
“Anak ibu akan dipindahkan ke ruangan perawatan intensif. Mari bu, ada yang perlu saya bicarakan,” ujar sang dokter yang bernama Irawan.
“Mommy ke ruangan dokter aja. Biar kita yang antar Nick ke ruang ICU,” ucap Abe.
Bersama dengan Bryan, Diah berjalan mengikuti dokter senior yang lebih dulu pergi. Hatinya diliputi kecemasan, berharap tak ada hal buruk yang menimpa putra semata wayangnya.
Bryan menarik kursi di depan meja dokter untuk Diah kemudian dia mendudukkan diri di kursi samping. Sang dokter mendudukkan diri di kursi kerjanya.
“Operasi anak ibu berhasil, tapi dia masih belum melewati masa kritisnya. Kami masih harus memantau keadaannya. Saya berharap dia bisa bertahan malam ini,” ucap dokter Irawan
Tangis Diah kembali pecah. Setelah menunggu berjam-jam, kini dia kembali harus menunggu sang anak melewati masa krisis. Sang dokter memberikan tisu untuk wanita di depannya.
“Kepala anak ibu mengalami trauma akibat benturan keras saat kecelakaan. Beruntung tidak ada gumpalan darah, namun luka yang diakibatkan benturan cukup luas. Otak kecilnya mengalami cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi. Benturan tidak hanya melukai bagian otak kecil tapi juga otak tengah dan besar.”
“Apa artinya itu dok?” tanya Bryan.
“Kalau pasien berhasil melewati masa kritis dan sadar dari komanya, kemungkinan besar pasien akan mengalami amnesia. Melihat luasnya luka, bisa jadi pasien mengalami amnesia untuk jangka waktu lama atau bahkan permanen.”
Airmata Diah semakin deras bercucuran, mengapa di tengah kebahagian yang dia rasakan, justru sang anak mengalami musibah yang begitu berat. Bryan terhenyak mendengar penuturan sang dokter. Saat dirinya mempunyai kesempatan bertemu dengan anak yang selalu dirindukan, besar kemungkinan Nick justru tak akan mengingatnya.
“Ini masih dugaan. Saya sungguh berharap dugaan saya ini salah. Mari kita sama-sama berdoa. Yang terpenting pasien harus bisa melewati malam ini dengan baik. Dan ketika pasien berhasil melewati masa kritis, saya sarankan untuk memindahkannya ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya. Peralatan di rumah sakit ini belum memadai untuk merawat pasien. Saya akan merekomendasikan rumah sakit beserta dokter yang akan merawatnya nanti jika bapak dan ibu bersedia.”
“Iya dok, kami bersedia. Kami akan lakukan apapun yang terbaik untuknya,” jawab Bryan.
🍂🍂🍂
Mendengar malam ini adalah masa kritis Nick, para sahabatnya memutuskan untuk menginap di rumah sakit bersama dengan Diah dan Bryan. Arnav menggelar karpet plastik yang sengaja dibelinya tadi di salah satu sudut ruang tunggu yang berada di dekat ruang ICU. Mereka duduk bersama di sana.
Abe menepuk-nepuk bantal yang tadi dibawanya dari apartemen, kemudian meminta Diah untuk berbaring. Wanita itu nampak begitu lelah. Awalnya Diah menolak, namun Abe dan Denis terus membujuknya. Akhirnya dia membaringkan diri, karena memang tubuhnya terasa lelah. Abe kemudian menyelimuti tubuh Diah dengan selimut tipis.
Bryan memandang penuh haru. Para sahabat Nick begitu menyayangi Diah dan pastinya Nick. Mereka rela menghabiskan malam di sini untuk menunggui sang sahabat. Tak lupa mereka terus memanjatkan doa agar Nick dapat melewati masa kritis ini.
Lewat tengah malam mereka dikejutkan dengan kegaduhan yang terjadi di ruang ICU. Beberapa perawat berlari masuk ke dalam ruangan disusul oleh dokter jaga dan juga dokter yang mengoperasi Nick tadi. Diah bergegas bangun kemudian menuju ruang ICU. Sayang mereka hanya bisa menunggu di depan pintu.
Kesibukan terjadi di ruang perawatan Nick. Tiba-tiba saja layar monitor menunjukkan kondisi vital Nick menurun. Detak jantungnya melemah dan kini sudah menunjukkan tanda lurus. Seorang perawat segera menyiapkan defribilator.
Dokter jaga naik ke bed kemudian mulai melakukan kompresi. Dia turun ketika defribilator siap. Dokter Irawan menempelkan defribilator, tubuh Nick terlonjak ke atas begitu mendapat kejutan listrik. Tanda di layar monitor masih bergaris lurus.
“Suntikkan epinephrine! Naikkan 200 joule!” titah dokter Irawan.
Seorang suster menyuntikkan epinephrine ke tubuh Nick. Dokter jaga kembali naik ke atas bed lalu melakukan kompresi beberapa kali. Dia turun untuk memberikan ruang dokter Irawan melakukan kejutan. Tubuh Nick terlonjak lagi saat alat kejut jantung itu mengenainya.
Melihat detak jantung sang pasien belum kembali. Dokter Irawan menaruh defribilator lalu melakukan kompresi. Dokter tersebut terus melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) sambil sesekali melihat ke arah layar monitor. Sekuat tenaga dia mencoba membuat detak jantung Nick kembali.
“Biar saya gantikan dok,” ucap dokter jaga.
Dokter Irawan turun dari bed digantikan oleh dokter jaga. Dokter muda itu melakukan hal yang sama. Keringat bercucuran dari sela-sela rambutnya saat dirinya melakukan kompresi berkali-kali.
“Detaknya kembali dok!”
Teriak salah seorang perawat ketika melihat tanda di monitor sudah menunjukkan grafik naik turun. Dokter jaga tersebut turun dari bed, dokter Irawan menepuk bahunya sebagai tanda ucapan selamat. Tak ada yang membahagiakan seorang dokter selain dapat membawa kembali pasiennya dari kematian.
Sementara itu di luar, semua masih menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Diah berjalan mondar-mandir seraya meremat jari-jarinya. Perhatiannya teralihkan saat pintu ICU terbuka. Dia langsung menghambur ke arah sang dokter.
“Bagaimana anak saya dok?”
“Alhamdulillah, dia berhasil melewati masa kritisnya.”
“Alhamdulillah..” ucap yang lain.
“Saya permisi dulu, bu.”
“Terima kasih dok.”
Dokter Irawan hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi. Denis langsung memeluk Diah begitu mendengar sang sahabat lolos dari maut. Begitu pula Arnav, Fahrul dan Abe saling berpelukan menunjukkan kebahagiaan mereka. Bryan tersenyum seraya mengucap syukur dalam hati.
🍂🍂🍂
Keesokan harinya, sesuai anjuran dokter Irawan, mereka bersiap memindahkan Nick ke rumah sakit bertaraf internasional yang direkomendasikan oleh dokter tersebut. Bryan segera mengurus administrasi kepindahan. Jarak rumah sakit rekomendasi tidak terlalu jauh, hanya berkisar dua puluh menit saja.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Diah menyempatkan dirinya melihat keadaan Iza. Khawatir dengan keadaan Nick, dia sampai melupakan sang menantu. Setelah mengenakan pakaian steril, Diah masuk ke ruang ICU. Iza juga masih dalam pengawasan dokter di ruang intensif. Keadaan Iza masih belum sepenuhnya pulih karena kehilangan banyak darah.
Diah meraih tangan Iza yang terkulai lemah. Matanya nampak berkaca-kaca. Menantu yang kerap bersikap manja padanya kini terbaring lemah tak berdaya. Iza juga masih harus berjuang memulihkan dirinya pasca operasi. Dari dokter yang menangani, dia mendapat kabar kalau sang menantu kehilangan calon anaknya.
“Iza.. sayang.. mommy pergi dulu. Mommy janji akan menengokmu secepatnya. Mommy harap kamu sudah sadar nanti dan kita bisa berbicara banyak. I love you.”
Diah mengusap puncak kepala Iza kemudian mencium keningnya. Untuk sejenak dia masih memandangi menantu tersayangnya itu. Kemudian wanita itu melangkah keluar ruang ICU. Di ruang tunggu, Diah bertemu dengan Rahardi. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Dia sudah terlalu muak melihat wajah pria itu.
🍂🍂🍂
No comment🤐
Lagi khusyu' nonton badminton😁