
Nick mengantar keluar seorang pria dari kedai kopi miliknya. Pria yang bernama Hasan itu dulunya adalah klien yang kerap memakai jasa hotel Ambrossia Hills. Kini dia membantu Nick mencarikan supplier untuk keperluan kedai kopinya. Nick memang tetap menjalin hubungan baik dengan semua klien yang pernah bekerja sama dengannya saat di hotel. Lewat mereka, Nick berhasil mendapatkan beberapa kebutuhan untuk kedainya dengan harga yang cukup terjangkau.
Hasan menjabat tangan Nick sebelum dirinya masuk ke dalam mobil. Nick tetap berdiri di tempatnya sampai mobil yang dikendarai Hasan pergi meninggalkannya. Kemudian pria itu kembali masuk ke dalam kedai.
Tanpa Nick sadari, sedari tadi ada yang terus memperhatikannya. Dari balik kemudi, Amelia terus saja mengawasi gerak-gerik Nick. Hatinya geram melihat Hasan, baru saja keluar dari kedai kopi Nick. Pria itu telah membatalkan kerjasama dengan Ambrossia Hills, membuat hotel tersebut kehilangan keuntungan yang cukup besar.
Melihat kebersamaan pria itu dengan Nick, semakin menguatkan dugaannya kalau Nick yang telah membuat Hasan membatalkan kerjasamanya. Selain Hasan, masih ada beberapa klien yang ikut membatalkan kerjasama. Dari hasil pengintaiannya beberapa hari ini, ada beberapa klien yang bertemu dengan Nick setelah pembatalan. Kemarahan dan kebencian wanita itu pada Nick semakin berkobar saja.
Terlebih hari ini dia baru saja mendapat kabar buruk. Dewan direksi memutuskan mencopot dirinya dari jabatan direktur. Amelia dinilai tak becus mengurus hotel dan digantikan oleh orang pilihan yang dirasa lebih mampu. Sakurta pun tak dapat berbuat banyak untuk membantu anaknya.
Amelia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia sudah bertekad untuk membalas perbuatan Nick padanya. Wanita tersebut sudah merancang beberapa rencana untuk membuat hidup pria itu menderita. Amelia menempelkan benda pipih persegi ke telinganya.
“Halo.”
“Segera jalankan rencana yang kubicarakan kemarin.”
“Siap bos.”
Amelia mengakhiri panggilannya. Sambil menyeringai licik, dia terus saja menatap ke arah kedai Nick yang sebentar lagi rampung.
“Lihat saja Nick, sebentar lagi aku akan melihat kehancuranmu,” gumam Amelia pelan.
🍂🍂🍂
Nick menatap tak percaya bangunan kedai kopi miliknya terlihat porak poranda. Begitu banyak kaca jendela berserakan, sedang di bagian lain yang masih utuh terdapat banyak coretan pylox. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya memasuki kedai. Menurut laporan orang yang berjaga, ada beberapa peralatan yang hilang.
Melihat kehadiran Nick, penjaga yang tadi melapor pada Nick bergegas menghampiri, meninggalkan para pekerja yang tengah membereskan kekacauan. Nick memandangi seisi kedai, otaknya mulai menghitung berapa kerugian yang dialaminya.
“Pagi pak Nick.”
“Pagi pak.”
“Maaf pak. Sekali lagi saya minta maaf. Kejadiannya saat saya tengah shalat shubuh di masjid.”
“Bagaimana dengan rekaman cctv?”
“CCTV di depan sudah dirusak pak. Tapi yang ada di tempat tersembunyi masih aman. Saya sudah merekamnya,” penjaga itu menyerahkan sebuah usb pada Nick.
“Apa bapak akan membuat laporan ke polisi?” tanya penjaga itu lagi.
“Iya pak. Saya akan membuat laporan sekalian menyerahkan bukti ini. Bapak juga ikut ya.”
“Iya pak.”
Penjaga tersebut segera mengikuti langkah Nick keluar dari kedai. Pria itu akan segera melaporkan peristiwa ini pada pihak berwajib.
🍂🍂🍂
Dua gelas minuman dingin diletakkan di atas meja. Meta kemudian mendudukkan diri di samping Iza. Sahabatnya itu baru saja datang. Di hari libur ini dia sengaja berkunjung ke kediaman Meta. Nanti dia akan menghubungi Nick untuk menyusulnya ke sini. Iza ingin bersantai di Situ Gintung bersama Nick.
“Eh beneran Arnav bilang suka sama kamu?” Iza penasaran, sahabatnya itu baru sedikit bercerita tentang Arnav padanya.
“Ya ngga secara langsung sih. Dia cuma bilang minta dikasih kesempatan, gitu aja. Dia bilang ingin berubah jadi lebih baik.”
“Perasaan kamu gimana?”
“Waktu Nick bilang mau berubah karena kamu, gimana perasaan kamu?”
“Seneng.”
“Sama, aku juga. Walau aku masih belum yakin perasaanku sama dia, tapi begitu tahu kalau aku yang menjadi pemicunya untuk berubah menjadi lebih baik, aku senang.”
“Hmm.. iya juga sih. Aku doain deh, siapa tahu Arnav bener jodoh kamu. Kan lumayan dapet blasteran,” Iza terkikik geli.
“Hilih kaya kamu ngga dapet blasteran aja,” Meta ikut tertawa.
“Padahal aku pengen jodohin kamu sama bang Ridho.”
“Bang Ridho yang jutek itu. Hiii.. serem, bisa mati berdiri aku.”
“Hahaha.. tapi bang Ridho baik kok, soleh, rajin menabung dan tidak sombong.”
“Tapi jutek.”
Terdengar tawa Iza juga Meta. Iza memang berniat menjodohkan Meta dengan kakaknya. Namun apa daya reputasi sang kakak yang terkenal dingin dan jutek membuat Meta melambaikan bendera putih lebih dulu.
Pembicaraan keduanya terhenti ketika ponsel Iza berdering. Melihat panggilan berasal dari Nick, gadis itu segera menjawabnya. Senyum di wajah Iza menghilang begitu mendengar apa yang Nick katakan. Setelah mengakhiri panggilannya, gadis itu segera berpamitan pada Meta.
“Aku pergi dulu ya, Met.”
“Mau kemana? Katanya mau main ke Situ Gintung.”
“Ada yang ngerusak kedai kopi Nick. Beberapa barangnya juga ada hilang.”
“Innalillahi, kok bisa?”
“Ngga tau, Met. Aku mau ke sana sekarang. Aku pergi dulu ya, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
🍂🍂🍂
Nick terus mengawasi para pekerja yang tengah membereskan kedainya. Hatinya kesal rencana pembukaan kedai harus mengalami kemunduran karena insiden ini. Belum lagi dia harus kembali memesan barang yang dicuri. Proses pengiriman barang sendiri memakan waktu sampai seminggu lamanya.
Para sahabat Nick langsung datang begitu mendengar musibah yang dialami sahabatnya itu. Mereka berkumpul di satu meja, membicarakan kemungkinan siapa dalang dibalik perusakan dan pencurian ini. Nick datang membawakan minuman untuk keempat sahabatnya.
“Lo udah lapor polisi, Nick?” tanya Abe.
“Udah.”
“Ah kelamaan lapor polisi. Mending cari sendiri aja pelakunya. Minta Topan cari tahu orang-orang ini,” Denis mengetuk layar ponsel yang tengah menampilkan rekaman cctv.
“Denis bener. Lebih cepet minta bantuan Topan,” dukung Arnav.
“Gue udah telpon dia. Bentar lagi sampe tuh anak,” ujar Fahrul.
“Kerugian lo berapa?” tanya Abe.
“Kurang lebih 25 jutaan.”
“Buset. Berkurang lagi tabungan buat modal nikah,” celetuk Arnav.
Nick tak ayal tertawa mendengar penuturan sahabatnya. Fahrul menoyor kepala pria yang sering mengaku lelaki paling ganteng se antero Jakarta. Denis memilih menyeruput iced cappucino dari pada menanggapi ucapan sahabatnya.
Dari arah jendela, Nick melihat Iza baru saja turun dari ojeg pesanannya. Dia segera berdiri kemudian keluar untuk menyambut kedatangan gadis cantik itu. Keduanya kemudian masuk ke dalam kedai. Iza langsung memeriksa barang-barang apa saja yang hilang. Dia cukup terkejut mengetahui barang yang dicuri adalah barang yang cukup mahal harganya.
“Kerugiannya berapa Nick?”
“Sekitar 25 juta.”
“Ya ampun, sebanyak itu. Terus gimana? Kamu masih punya dana?”
“Masih ada sisa dikit. Sebagian aku pinjem dulu dari tabungan buat pernikahan kita. Ngga apa-apa kan sayang?”
“Iya ngga apa-apa. Yang sabar ya Nick. In Syaa Allah akan dapat gantinya nanti.”
“Aamiin..”
Iza kembali melihat-lihat, takut kalau ada barang lain yang ikut hilang namun terlewat oleh Nick. Sedang Nick memilih mendudukkan diri di salah satu kursi di sana sambil matanya terus memperhatikan Iza. Bohong kalau dia tak merasa kesal, marah dan sedih. Tapi kehadiran para sahabat dan juga Iza sedikit mengurangi beban di hatinya. Iza menghampiri Nick yang nampak termenung.
“Hmm..”
Terdengar helaan nafas Nick yang terasa berat. Iza tahu, walau Nick mengatakan dirinya baik-baik saja, namun tetap keadaan pria itu jauh dari kata baik. Begitu banyak hal tak menyenangkan menimpanya di saat dirinya tengah berjuang untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
“Nick..”
Nick mendongakkan kepalanya, menatap wajah cantik Iza. Sorot mata dan senyumnya mampu menentramkan hati Nick. Untuk sesaat keduanya saling menatap tanpa mengedipkan mata.
“I need a hug.. (aku butuh pelukan),” lirih Nick.
Iza mendekat kemudian memeluk Nick yang masih dalam posisi duduk. Dia meletakkan kepalanya di atas kepala Nick. Tangan Nick bergerak memeluk pinggang Iza, dia membenamkan wajahnya di perut kekasih hatinya itu. Para sahabat Nick terkejut melihat pemandangan di depannya. Pasalnya ini pertama kali mereka melihat pasangan tersebut terlibat kontak fisik.
🍂🍂🍂
Rahardi baru saja menyelesaikan sesi kuliahnya. Pria itu membereskan buku-buku yang dipakainya untuk mengajar, kemudian keluar dari kelas. Matahari berada tepat di atas kepalanya ketika Rahardi berjalan menuju parkiran mobil. Saat dia tengah meletakkan tas dan juga buku-buku bawaannya, seseorang menghampiri dirinya.
“Dengan bapak Rahardi?”
Rahardi menarik tubuhnya kemudian melihat ke arah pria yang menegurnya. Kening Rahardi berkerut melihatnya. Pria yang mengenakan hoodie juga masker untuk menutupi wajahnya menyerahkan sebuah amplop coklat pada Rahardi.
“Ini ada paket untuk bapak.”
“Maaf, saya tidak tahu pak. Saya permisi dulu.”
Pria itu bergegas meninggalkan Rahardi. Sejenak Rahardi melihat amplop di tangannya, lalu dia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Sekali lagi pria itu memandangi amplop di tangannya. Baru saja dia akan membuka amplop ketika ponselnya berdering. Melihat nama Faisal tertera di layar ponsel, Rahardi bergegas menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, Di.. bagaimana kalau kita makan siang bersama?”
“Boleh.. boleh.. mau makan siang di mana?”
“Aku share lokasinya.”
“Ok.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rahardi memasukkan kembali ponsel ke saku kemejanya kemudian segera menyalakan mesin mobil. Pria itu sudah lupa dengan amplop coklat yang diterimanya tadi. Pikirannya hanya tertuju pada Fasial yang mengajaknya makan siang bersama. Pria itu terlihat bahagia, sebentar lagi tujuannya untuk menikahkan Iza dengan Syehan akan tercapai. Hanya tinggal selangkah lagi.
Mobil yang dikendarai Rahardi terus melaju di jalanan ibu kota. Pria itu terus memacu mobilnya menuju restoran yang dipilih Faisal. Setelah beberapa kali terhenti di lampu merah, akhirnya Rahardi tiba di tempat tujuan. Saat yang bersamaan, mobil Faisal baru saja memasuki area restoran.
Faisal memarkirkan kendaraan di dekat mobil Rahardi. Tak berapa lama pria itu turun. Kemudian keduanya segera masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan segera mengantar ke meja yang telah dipesan sebelumnya. Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan tersebut meninggalkan meja.
“Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik. Bagaimana Syehan?”
“Dia baik, alhamdulillah.”
“Syukurlah kalau calon mantuku baik-baik saja.”
Faisal tertawa mendengar ucapan temannya itu. Kedua pria itu memang telah sepakat untuk menjodohkan Iza dengan Syehan. Apalagi ternyata Syehan memang menaruh hati pada Iza. Hal itu tentu saja membuat Rahardi senang.
“Begini, Di. Jujur, aku mau tanya, apa Iza setuju dengan perjodohan ini.”
“Kamu tahu kan, kalau Iza itu anak yang baik. Dia tak pernah membantah keinginan orang tuanya, kamu ngga usah khawatir.”
“Tapi dia setuju kan?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, kapan aku bisa melamar Iza untuk Syehan?”
“Saat ini Iza sedang konsentrasi dengan ujian akhir semesternya. Bagaimana kalau bulan depan saja.”
Rahardi sengaja mengundur rencana lamaran hingga bulan depan. Dia akan memanfaatkan waktu itu untuk membujuk atau lebih tepatnya memaksa Iza menyetujui perjodohan ini.
“Ok, bulan depan aku akan melamar Iza. Syehan pasti senang mendengarnya.”
“Bukan cuma Syehan, Iza juga pasti senang.”
Faisal tertawa senang mendengarnya. Sejak pertama bertemu dengan Iza, dia memang sudah menyukai anak bungsu temannya itu. Rahardi tak kalah senang, akhirnya dia bisa memperoleh menantu yang sesuai dengan kriterianya.
Pelayan datang mengantarkan pesanan makanan mereka. Sambil terus berbincang, keduanya mulai menikmati makan siang. Mereka mulai membicarakan rencana pernikahan anak-anak mereka. Sesekali terdengar tawa mereka, saat membayangkan kedua anaknya memberikan cucu-cucu yang menggemaskan.
🍂🍂🍂
Hari beranjak sore, langit terlihat mulai menggelap. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Rahardi masih bertahan di perpustakaan pribadinya. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya memisahkan Iza dengan Nick. Terlebih dia hanya mempunyai waktu satu bulan saja, seperti yang dijanjikan tadi pada Faisal.
Rahardi menyandarkan punggung dan kepalanya ke sandaran kursi putar yang didudukinya. Sejenak pria itu memejamkan mata seraya memijat pelipisnya pelan. Saat matanya terbuka, pandangannya langsung tertuju pada amplop coklat yang tadi diberikan seseorang padanya.
Lengan Rahardi terulur mengambil amplop tersebut. Ditelitinya amplop di tangannya tak ada nama pengirim di sana, hanya namanya saja yang tercantum. Pria itu kemudian membuka amplop lalu mengeluarkan isinya. Mata Rahardi membelalak melihat beberapa lembar foto di tangannya.
Dipandangi dengan seksama wajah pria dalam foto tersebut. Itu adalah Nick, dia tengah tidur bersama dengan seorang wanita yang tak dikenalnya. Rahardi cukup geram melihat gambar tersebut.
“Nick... ternyata kamu sama bejatnya seperti ibumu. Kita lihat, apa komentar Iza jika dia melihat foto ini.”
Rahardi kembali melihat lembaran demi lembaran foto di tangannya. Beberapa pose Nick tengah berbaring di ranjang bersama seorang wanita diambil dari beberapa sudut. Tubuh mereka hanya terbalut selimut tipis, dan posisi keduanya terlihat begitu intim.
Walau kesal, namun tak dapat dipungkiri kalau Rahardi cukup senang juga. Akhirnya dia mempunyai senjata ampuh untuk memisahkan Iza dengan Nick. Bukti di tangannya sudah cukup kuat untuk membuat Iza meninggalkan pria itu. Bergegas Rahardi keluar dari ruang perpustakaan. Dia menuruni anak tangga dengan cepat kemudian duduk di ruang tengah, menunggu kepulangan putrinya.
🍂🍂🍂
Iza baru saja masuk ke dalam rumah ketika Rahardi memanggilnya. Dia menepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta sang anak duduk di sampingnya. Iza menuruti permintaan sang ayah tanpa menaruh curiga sedikit pun.
“Bagaimana kabar Nick?”
“Alhamdulillah baik, bi,” Iza cukup terkejut Rahardi menanyakan keadaan Nick.
“Bagaimana dengan kedai kopinya?”
“Sejauh ini baik. Tapi ada sedikit kendala hari ini, jadi mungkin pembukaannya sedikit mundur dari jadwal.”
“Iza.. lihat abi, nak.”
Rahardi memegang kedua bahu anaknya. Iza semakin dibuat bingung dengan sikap pria itu. Tak biasanya Rahardi berbicara lembut jika mengenai Nick. Hatinya bertanya-tanya apakah sang ayah telah merestui hubungannya.
“Abi sangat menyayangimu. Abi menginginkan yang terbaik sebagai pendampingmu. Semua yang abi lakukan hanya untukmu, untuk masa depanmu dan kebahagiaanmu. Untuk yang terakhir kalinya abi bertanya, apa kamu yakin akan menghabiskan seumur hidupmu bersama dengan Nick?”
“Abi tahu betul apa jawabanku. Untuk apa abi bertanya lagi.”
“Walau setelah melihat ini?”
Rahardi melepaskan pegangannya di bahu Iza, kemudian memberikan amplop coklat tadi pada anaknya. Iza menatap curiga pada amplop tersebut. Rahardi menggerakkan kepalanya, meminya sang anak untuk membukanya. Perlahan Iza membuka amplop lalu mengeluarkan isi di dalamnya.
🍂🍂🍂
**Kira² gimana reaksi Iza🤔
Rencana Rahardi berhasil ngga ya🤔
Buat yang mau tahu penampakan Rahardi, nih visualnya**.