The Nick's Life

The Nick's Life
SAH



Seorang pria mengenakan jas berwarna hitam nampak berdiri dengan gelisah. Sedari tadi dia tak enak diam. Kadang duduk, berdiri lalu duduk kembali. Abe menghampiri sahabatnya yang tengah gelisah. Dia menarik Denis untuk duduk di dekatnya. Tangannya kemudian menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.


Keberadaan Abe di sampingnya, cukup membuatnya sedikit tenang. Pria itu memperhatikan lalu lalang orang di depannya menyiapkan acara pernikahan. Sebenarnya dia dan Ayura sudah sepakat hanya mengadakan akad nikah saja plus syukuran seadanya untuk kerabat dan tetangga dekat. Namun ternyata cukup banyak juga yang harus disiapkan.


Sejenak Denis tertegun, di hari paling penting ini tak ada satu pun anggota keluarga yang menemaninya. Dia memang sudah memutuskan hubungan dengan ayah beserta keluarga besarnya. Dirinya sudah dicap manusia laknat, pendosa dan berbagai julukan lain yang menyudutkannya. Denis tak peduli, baginya lebih baik hidup sebatang kara dari pada harus tinggal satu atap dengan pria pengkhianat seperti papanya.


Lamunan Denis buyar ketika mendengar suara ayah Ayura menyambut kedatangan penghulu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Momen sakral dalam hidupnya sebentar lagi akan dimulai. Dia memandangi Abe dan Arnav yang sejak pagi sudah menemaninya. Di tengah kebahagiaan, ada kesedihan menyelip dalam hatinya. Dua sahabatnya yang lain tak bisa menyaksikan dirinya mengikat janji suci dengan wanita yang dicintainya.


Meskipun Fahrul sudah mengataka akan melakukan video call saat akad berlangsung, namun tetap saja kehadirannya secara langsung akan lebih terasa berbeda. Dan Nick, Denis tak bisa mengungkapkan lagi betapa sedih perasaannya. Dirinya seakan menjadi manusia paling egois di dunia. Saat sahabatnya masih belum diketahui keberadaannya, dia justru melangsungkan pernikahan. Itulah sebabnya Denis tak memberi tahu Diah dan Bryan.


“Bagaimana? Pengantin dan para saksi sudah siap?” tanya sang penghulu.


“Sudah pak.”


“Ayo, kalau begitu, kita mulai saja sekarang.”


“Maaf kami terlambat.”


Denis menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Diah. Sontak dia melihat ke arah sahabatnya. Arnav dan Abe hanya mengendikkan bahunya saja. Arnav memang mengatakan perihal pernikahan Denis dengan Ayura pada Diah. Walau tak mengatakannya, namun Arnav tahu kalau Denis sangat menginginkan kehadiran orang tua Nick pada pernikahannya hanya saja pria itu sungkan untuk mengatakan.


“Mom..”


“Keterlaluan kamu, Den. Kenapa kamu ngga bilang akan menikah?” Diah menjewer telinga Denis dengan gemas.


“Aduh.. sakit mom. Maaf.. aku ngga enak menikah saat kita belum tahu kabar tentang Nick.”


“Nick memang belum ditemukan, tapi bukan berarti kehidupan kalian berhenti. Life must go on. Lagi pula kamu juga anak kami, bagaimana kami mengabaikanmu di hari sepenting ini.”


“Makasih dad.”


Denis begitu terharu mendengar ucapan Bryan. Mata pria itu nampak berkaca-kaca. Bryan memeluk Denis seraya menepuk pelan punggung pemuda itu. Kemudian dia mengurai pelukan setelah mendapat panggilan dari penghulu.


Seraya mengucapkan basmallah dalam hati, Denis berjalan menuju meja akad kemudian mengambil tempat di depan ayah Ayura. Di samping kanannya duduk Bryan yang bertindak sebagai saksi dari pihaknya. Sedang saksi dari pihak Ayura, diwakili oleh ketua RW setempat. Ayah Ayura menggenggam erat tangan Denis.


“Ananda Kim Denis Bramasta, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Ayura Fadilah binti Muhammad Fajar dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Ayura Fadilah binti Muhammad Fajar dengan mas kawin tersebut, tunai!”


“Bagaimana para saksi? Sah?”


“SAH!”


“Alhamdulillahirrobbil’aalamiin..”


Semua yang hadir turut mengucapkan kalimat hamdallah ketika mempelai pria menyelesaikan ijab kabul dengan sukses. Dari dalam kamar, muncul Ayura didampingi ibundanya dan tentu saja Azka. Dibantu sang mama, Ayura duduk di samping kursi Denis. Sejenak Denis terpana melihat kecantikan istrinya.


Kekaguman Denis akan kecantikan Ayura terhenti ketika Arnav menyodorkan kotak berisi cincin pernikahan pada pria itu. Denis membuka kotak lalu menyematkan sebuah cincin sederhana yang terbuat dari emas putih ke jari manis Ayura. Begitu pula Ayura, dia mengambil cincin lain yang terbuat dari perak kemudian memakaikannya ke jari manis Denis.


Ayura meraih tangan Denis kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim. Dengan gerakan lembut, Denis memegang kedua bahu Ayura lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Dada Ayura bergetar saat bibir Denis menyentuh dahinya.


Setelah acara pemasangan cincin, tiba-tiba Azka melompat ke pangkuan Denis. Sambil memangku Azka, Denis bersama dengan Ayura mendengarkan nasehat pernikahan yang disampaikan sang penghulu.


Ucapan selamat pada pasangan pengantin berdatangan dari keluarga, kerabat, sahabat dan juga tetangga dekat. Fahrul juga memberikan ucapan selamatnya melalui sambungan video call. Pria itu bisa menyaksikan janji suci sahabatnya secara langsung berkat kecanggihan teknologi.


Maira yang ada di samping Fahrul juga turut menyaksikan momen sakral itu. Ucapan selamat sekaligus doa diberikan oleh ibu hamil tersebut. Dia senang sang sahabat mengakhiri kesendiriannya. Apalagi pria yang menikahi Ayura adalah sahabat baik suaminya, pria yang selalu membantunya di masa-masa tersulitnya.


Usai melakukan panggilan video, Denis menghampiri ayah mertuanya. Pria paruh baya itu memang tidak banyak bicara, namun rona kebahagiaan terlihat di wajahnya. Akhirnya ada seorang pria baik yang akan menjaga anak dan cucunya tersayang. Dengan penuh kasih sayang dia memeluk Denis.


“Bapak titip Ayura juga Azka padamu. Jika istrimu melakukan kesalahan, tegurlah dengan baik dan bimbing dia dengan penuh kasih sayang. Bapak juga titip Azka, semoga kamu bisa mendidiknya dengan baik.”


“In Syaa Allah, pak. Saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Ayura dan ayah yang dapat dibanggakan oleh Azka.”


“Bapak percaya padamu. Bapak juga ibu akan selalu mendoakan kalian.”


Perhatian Denis teralihkan ketika Azka menarik-narik jasnya. Pria itu menunduk kemudian mengangkat tubuh anak sambungnya itu. Seperti biasa, Azka memeluk leher Denis kemudian bermanja dalam gendongan pria itu.


“Om.. Azka mau es krim.”


“Azka.. sekarang panggilnya jangan om lagi, tapi papa,” ujar sang kakek.


“Emang om Denis udah jadi papa Azka sekarang?”


“Iya. Sekarang om Denis sudah jadi papa Azka.”


“Hore... Azka punya papa. Papa Denis jangan tinggalin Azka ya.”


“Iya.. papa ngga akan tinggalin Azka. Papa sayang Azka.”


Denis menyatukan keningnya dengan kening Azka kemudian menggesek-gesekkan hidung mereka satu sama lain. Ayura menatap pemandangan paling membahagiakan dalam hidupnya. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya, hanya buliran bening yang membasahi pipinya, sebagai ungkapan kebahagiaannya.


“Mantep si Denis, buy one get one free,” celetuk Abe.


“Kalo elo apa, Be?” tanya Arnav.


“Buy one get shock hahaha..”


Tawa Abe berubah menjadi ringisan ketika Sansan yang duduk di sampingnya mencubit pinggangnya. Arnav buru-buru menyingkir, tak ingin terkena imbas celotehan Sansan yang sudah seperti petasan perepet.


“Jadi gitu ya, nikah sama aku bikin kakak shock,” Sansan memanyunkan bibirnya ke arah Abe.


“Biasa aja tuh bibir jangan dimanyun-manyunin.”


“Biarin, abis kak Abe nyebelin,” Sansan terus saja memanyunkan bibirnya. Dengan gemas Abe menarik bibir Sansan dengan ibu jari dan telunjuknya.


“Ini kita belum nikah, makanya aku tarik bibir kamu pake tangan.”


“Emang kalau udah nikah mau tarik bibirku pake apa? Pake tang?”


“Ya pake bibir. Aku ngga bakalan lepas bibir kamu sampe dower.”


Sansan menutupi bibir dengan kedua tangannya. Abe hanya terkekeh melihat reaksi calon istrinya itu. Sayang mereka belum halal, kalau sudah, pasti dia tidak akan pikir panjang untuk memeluk dan membungkam bibir Sansan dengan bibirnya.


🍂🍂🍂


Usai acara syukuran pernikahan, Denis langsung memboyong Ayura juga Azka ke apartemennya. Azka tak mau lepas dari Denis. Anak itu begitu bahagia bisa memiliki seorang papa. Kini dia tidak akan malu lagi jika ada temannya yang bertanya di mana papanya.


Semenjak sampai di apartemen ada saja yang dilakukan ayah dan anak itu. Mereka shalat bersama, nonton televisi bersama dan bermain game bersama. Azka juga tak berhenti bercerita pada Denis. Ada saja hal yang menjadi bahan perbincangan mereka. Dan kini bocah lima tahun itu sudah tertidur pulas. Denis mencium kening Azka kemudian pelan-pelan turun dari ranjang.


Pria itu membuka pintu lemari kemudian mengambil selimut tipis dari dalamnya. Lalu tangannya mengambil bantal juga guling dan berjalan keluar kamar. Ayura yang baru keluar dari kamar mandi, bingung melihat Denis keluar membawa sambil peralatan tidurnya. Dia pun bergegas menyusul suaminya itu.


“Den..”


Denis menaruh semua bawaannya di atas sofa kemudian membalikkan tubuhnya saat mendengar Ayura memanggilnya. Kembali dia dibuat terpana melihat penampilan sang istri. Rambut hitam Ayura tergerai begitu saja tanpa penutup di kepalanya. Dada Denis berdesir melihat lekuk tubuh Ayura yang hanya dibalut baby doll lengan pendek.


“Den.. buat apa itu?” Ayura menunjuk bantal dan kawan-kawan yang ada di sofa.


“Aku tidur di sini. Kamu sama Azka di kamar.”


“Kenapa? Kita kan udah nikah, kamu tidur di kamar aja bareng aku dan Azka.”


“Ay.. aku ini laki-laki normal. Aku ngga yakin ngga akan menyentuhmu kalau kita tidur bersama. Jadi lebih baik kita tidur terpisah. Aku sudah janji tidak akan menyentuhmu.”


“Apa aku yang memintamu berjanji? Apa aku pernah mengatakan setuju akan perkataanmu waktu itu? Aku memutuskan menikah dengamu bukan hanya demi Azka, tapi juga demi diriku. Aku merasa aman, nyaman dan terlindungi jika di dekatmu. Aku menyukaimu, Den. Aku ingin kita hidup layaknya pasangan normal lainnya. Masing-masing menjalankan kewajiban dan menerima haknya.”


Denis tergugu mendengar penuturan Ayura. Ada perasaan bahagia meletup-letup dalam hatinya begitu mendengar Ayura juga menyukainya. Dengan langkah pelan Denis berjalan menuju Ayura kemudian berhenti di dekat istrinya itu.


“Apa benar Ay? Apa benar kamu menyukaiku?”


“Iya.. aku menyukaimu, bahkan mungkin aku sudah jatuh cinta padamu.”


“Kamu boleh melakukan lebih dari itu.”


Dengan cepat Denis merengkuh tubuh Ayura kemudian memeluknya erat. Perlahan tangan Ayura bergerak memeluk punggung kokoh Denis. Mata Denis terpejam menikmati momen ini, hidungnya terus menghisap aroma memabukkan yang menguar dari tubuh Ayura. Perlahan dia melepaskan pelukannya kemudian mengajak sang istri duduk di sofa.


Tangan Denis bergerak memijit tombol remote. Seketika layar datar di depannya menyala. Dia sengaja menyalakan televisi demi membunuh suasana canggung di antara mereka. Walau sudah sering berduaan dengan Teresa juga Alfi, namun baru kali Denis berada dalam posisi yang begitu dekat dengan Ayura. Dan ini tentu saja membuatnya sedikit gugup. Seumur hidupnya baru kali ini dia merasa berdebar berdekatan dengan lawan jenis.


“Aku baru tahu kalau margamu, Kim,” suara Ayura memecah keheningan di antara mereka.


“Kim itu marga ibuku. Sejak memutuskan keluar dari rumah papaku, aku memutuskan menggunakan marga ibuku. Aku mengajukan penambahan nama ke kantor catatan sipil. Dan sejak itu kata Kim ada di depan namaku.”


“Apa kamu tidak mau bertemu dengan papamu?”


“Aku ngga penting untuknya. Buat apa bertemu dengannya.”


“Apa kamu punya saudara?”


“Aku punya dua adik tiri. Satu perempuan dan satu laki-laki. Papaku lebih menyayangi mereka, karena mereka adalah sosok yang bisa dibanggakan. Sedangkan aku, hanya melempar kotoran ke wajahnya.”


“Tapi kamu papa yang baik untuk Azka.”


“Mudah-mudahan untuk seterusnya aku bisa menjadi papa yang baik untuknya. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama yang papaku lakukan. Aku tahu selama ini aku tidak punya gambran bagaimana menjadi ayah yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Azka dan anak-anak kita kelak.”


“Aamiin..”


Malu-malu, Ayura menyandarkan kepalanya ke dada Denis. Dirinya tak menyangka, lelaki yang usianya masih 25 tahun ini, ternyata memiliki pemikiran yang dewasa. Sepertinya pengalaman hidup yang pahit telah menempanya menjadi pria yang berpikiran matang.


Tanpa sadar Ayura membandingkan Denis dengan Arif. Walau usia Arif lebih tua darinya, namun sifat Arif begitu kekanakan. Dalam perjalanan rumah tangga mereka dulu, Ayura lebih sering mengalah untuk menghindari pertengkaran yang selalu hadir di tengah-tengah mereka. Belum lagi penolakannya pada Azka, membuat Ayura tak pernah merasakan kebahagiaan dalam pernikahannya terdahulu.


“Kata ibuku, menjadi seorang istri, wanita harus bisa melakukan apapun. Dia harus bisa memasak, bisa mengurus rumah, bisa menjadi penenang saat sang suami tengah gundah, bisa menjaga diri dengan baik jika tengah ditinggal dan menjadi pel*cur yang bisa memusakan suaminya. Kamu tahu apa penyebab aku bercerai?”


“Karena Arif berselingkuh.”


“Ya.. dia berselingkuh saat aku tengah mengandung anaknya. Dan yang paling menyakitkan, alasannya berselingkuh karena aku tidak bisa memuaskan hasratnya. Aku tidak bisa membuatnya puas di atas ranjang. Jujur.. sejak saat itu aku takut menjalin hubungan dengan laki-laki apalagi menikah lagi. Karena aku takut dikecewakan lagi, aku takut dianggap wanita yang tidak bisa memuaskan suaminya.”


Denis menguraikan pelukannya ketika merasakan kaos yang dikenakannya basah. Jarinya bergerak mengusap airmata di wajah cantik Ayura. Denis menangkup wajah Ayura dengan kedua tangannya.


“Itu hanyalah masa lalu. Jangan kamu ingat-ingat lagi. Kita buka lembaran baru, menjalani kehidupan rumah tangga kita dengan lebih baik dan bahagia.”


“Bisakah kamu mengajariku?”


“Apa?”


“Ajari aku menjadi pel*cur yang bisa memuaskanmu di atas ranjang. Karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.”


“Kamu tidak perlu menjadi pel*cur. Kamu hanya perlu berada di sampingku. Mendampingiku di saat susah dan senang. Mencintai dan menyayangiku dengan tulus. Itu sudah cukup. Soal hubungan ****, bukan berapa hebatnya kamu di atas ranjang, tapi bagaimana itu bisa mempererat hubungan kita menguatkan cinta kita.”


“Apa aku menarik di matamu?”


“Sangat.”


Denis mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Ayura dengan lembut. Sebuah lum*tan pelan diberikan pria itu untuk istri tercinta. Ayura memejamkan matanya. Setelah sekian lama, akhirnya dia merasakan kembali debaran saat seorang pria menyentuhnya. Denis terus memperdalam ciumannya. Pelan-pelan dia membaringkan tubuh Ayura di sofa.


“Apa kamu mau melakukannya?”


“Di sini?”


“Kamu mau di kamar? Bagaimana kalau Azka terbangun?”


“Tapi di sini sempit.”


“Yang sempit itu lebih enak.”


“Hah?”


Belum sempat Ayura mencerna perkataan Denis, pria itu kembali membenamkan bibirnya. Kali ini ciuman Denis lebih dalam dan menuntut. Sebisa mungkin Ayura mengimbangi permainan bibir suaminya itu. Tangan Denis bergerak meremat bulatan kenyal milik Ayura. Kemudian jemarinya membuka kancing pakaian sang istri satu per satu.


Ayura semakin dibuat melayang ketika Denis terus mencumbu dirinya. Pikirannya berhamburan entah kemana saat Denis mencium dan menyesap bukit kembarnya. Tanpa sadar wanita itu mengeluarkan des*hannya. Denis mengangkat tubuhnya sejenak untuk melepaskan kaos yang dikenakannya. Dada Ayura berdebar kencang melihat tubuh atletis di depannya.


Denis yang memang sudah sangat ahli dalam urusan ranjang terus memanjakan sang istri lewat sentuhan-sentuhannya. Tubuh Ayura menggelinjang saat Denis bermain di area bawahnya. Wanita itu tak tahu sejak kapan pakaian yang melekat ditubuhnya sudah berpindah ke lantai. Begitu pula dengan Denis yang sudah tampil polos di hadapannya.


Terdengar Ayura memekik pelan saat senjata Denis memasuki inti tubuhnya. Bukan hal mudah untuk Denis melesakkan rudalnya. Walaupun seorang janda, namun milik Ayura sudah seperti perawan saja yang pertahanannya sulit dibobol. Tapi karena kepiawaiannya, pria itu berhasil menembus gawang dengan sukses.


Des*han dan lenguhan Ayura terdengar saat Denis memacu tubuhnya. Ternyata besar kecilnya tempat bercinta bukan masalah untuk pria itu. Terbukti, di sofa yang sempit, dia masih bisa membuat sang istri menjerit kenikmatan saat pinggulnya bergerak maju mundur.


Tak ingin Azka terbangun karena suara-suara yang dikeluarkan sang istri, Denis mempercepat tempo permainan. Ayura semakin dibuat menggila saat milik Denis menghujam semakin dalam dan cepat. Tangannya memeluk erat punggung suaminya yang lembab oleh keringat.


Gerakan Denis semakin cepat dan menghentak. Dia membungkam mulut Ayura dengan bibirnya untuk meredam lenguhan wanita itu. Ayura mencengkeram erat punggung Denis saat gelombang hangat kembali menghantamnya. Dan tak lama kemudian Denis menyusul. Tubuh pria itu mengejang beberapa kali saat menyemburkan lahar panas ke dalam rahim Ayura.


Denis menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka usai pergulatan panas tadi. Mereka masih berbaring di sofa. Denis mengeratkan pelukannya di bahu sang istri, kemudian menghadiahkan ciuman di keningnya. Tangan Ayura melingkari dada Denis. Dia cukup kelelahan melayani permainan Denis.


Segurat senyum tercetak di wajah pria berwajah oriental itu. Bahagia rasanya memiliki istri solehah dan anak yang manis. Selain itu, ular cobranya tidak perlu berpuasa lagi dan telah menemukan wadah yang tepat untuk menyemburkan bisanya.


🍂🍂🍂


Fahrul berjalan memasuki gedung rumah sakit. Dia baru saja kembali dari mini market yang ada di seberangnya. Maira kehabisan susu hamil dan sebagai suami yang baik, tentu saja dia harus memenuhi semua kebutuhan sang istri yang tengah mengandung anaknya.


Sudah empat hari lamanya, Fahrul menemani Maira di rumah sakit. Istrinya itu sempat mengalami pendarahan saat terjatuh di kamar mandi. Untuk memulihkan kondisinya, Maira diminta beristirahat total. Dia belum diperbolehkan pulang sebelum keadaannya benar-benar membaik.


Bukan hal mudah bagi Fahrul bisa menemani sang istri. Dia harus bermain kucing-kucingan dengan ayah mertuanya. Pria itu baru bisa masuk ke kamar ketika sang mertua pulang. Beruntung ibu mertuanya berbaik hati mengijinkannya menjaga Maira. Bahkan dia sempat harus bersembunyi di kamar mandi hampir sejam lamanya karena ayah Maira tiba-tiba datang.


Bersama dengan pengunjung lain, Fahrul menunggu lift yang tengah bergerak turun menuju lantai dasar. Telinganya menangkap perbincangan dua orang pria yang berdiri tak jauh darinya.


“Jadi kumaha? Tos sadar teu acan? (jadi gimana? Sudah sadar belum?)” ujar salah satu pria.


“Teu acan. Saur dokter koma. (belum. Kata dokter koma).”


“Euleuh kumaha atuh. Mana teu apal namina saha, keluargana di mana. Karunya pisan nya. (terus gimana? Mana ngga tahu namanya siapa, keluarganya di mana. Kasihan banget.)”


Fahrul yang terkejut mendengar percakapan kedua pria itu langsung menginterupsi pembicaraan mereka. Dari keduanya Fahrul mendapatkan informasi, kalau keduanya menemukan korban yang tidak diketahui namanya dalam keadaan pingsan. Korban sempat tersadar sebentar sebelum akhirnya kembali pingsan. Kemudian mereka membawanya ke rumah sakit.


“Sekarang dia dirawat di mana?”


“Di ruang ICU, lantai 6.”


“Terima kasih.”


Di saat yang bersamaan, pintu lift terbuka. Fahrul bergegas masuk kemudian memijit angka 6. Sambil harap-harap cemas Fahrul terus melihat ke arah panel yang ada di atas pintu lift. Berdasarkan cerita yang dikatakan kedua orang tadi, Fahrul berharap kalau pria yang ditemukan tak sadarkan diri adalah Nick.


Lamunannya buyar ketika terdengar bunyi dentingan. Dia langsung menerobos keluar melewati beberapa pengunjung yang terdiam di tempatnya berdiri. Fahrul bergegas menuju ruangan ICU. Sejenak dia berbicara dengan perawat yang bertugas di sana.


“Maaf sus.. saya mau menjenguk pasien koma yang diantarkan beberapa hari lalu ke sini.”


“Bapak siapanya?”


“Saya temannya. Mungkin saja orang itu teman saya yang hilang.”


“Silahkan dipakai pakaian sterilnya.”


Fahrul menitipkan belanjaannya di meja perawat, kemudian dia mengenakan pakaian steril untuk membungkus tubuhnya. Dia juga membungkus kakinya dengan alas kaki khusus. Setelah memakai maskernya, pria itu masuk bersama seorang suster.


Dengan dada berdebar Fahrul berjalan mendekati bed. Suster yang bersamanya tadi menunjuk bed yang letaknya kedua dari ujung. Perlahan namun pasti Fahrul semakin mendekati bed. Dia terdiam saat melihat seorang pria terbaring di atasnya.


🍂🍂🍂


**Nick bukan?


Denis pagi² udah bikin readers travelotak, kaboorrr🏃🏃🏃**