The Nick's Life

The Nick's Life
Pertemuan



Pontang panting Fahrul berangkat dari rumahnya menuju rumah sakit. Pria itu melajukan kendaraannya seperti orang kesetanan. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Maira dan calon anaknya. Reni mengabarkan kalau air ketuban Maira pecah, istrinya itu juga mengalami pendarahan.


Sepanjang jalan Fahrul terus bertanya-tanya apa yang menyebabkan istrinya seperti itu. Kemarin keadaan Maira baik-baik saja. Dia terlihat bersemangat memilih berbagai pernak-pernik untuk kebutuhan calon bayi yang sedianya akan lahir sekitar enam minggu lagi menurut perkiraan dokter.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Fahrul bergegas memasuki IGD. Namun petugas di sana mengatakan kalau istrinya sudah dibawa ke lantai tiga. Alih-alih menggunakan elevator, pria itu memilih menggunakan tangga ke lantai tiga. Kecemasannya sudah berada di level tertinggi saat ini.


Dokter yang menangani Maira keluar dari ruang tindakan kemudian menemui Surya dan Reni yang tengah menunggu dengan cemas. Dokter wanita itu mulai menerangkan kondisi Maira.


“Kondisi ibu Maira tidak baik, air ketubannya sudah banyak keluar dan plasenta menutupi jalan lahir. Kami harus segera melakukan operasi. Di mana suaminya? Saya perlu surat persetujuan darinya.”


“Biar saya saja dok,” ucap Surya.


“Maaf pak. Hanya suami bu Maira yang boleh memberikan persetujuan.”


“Dia sedang dalam perjalanan dok,” sahut Reni.


“Ummi.”


Semua menolehkan kepalanya ke arah Fahrul yang muncul dari tangga darurat. Pria itu segera mendekat. Dia menekukkan lututnya sedikit dan menumpukkan kedua tangannya di sana. Untuk sejenak Fahrul menarik nafas beberapa kali untuk mengembalikan ritme pernafasannya.


“Bagaimana keadaan istri saya, dok?” tanya Fahrul setelah sedikit tenang.


“Istri bapak harus segera dioperasi. Kami membutuhkan persetujuan bapak.”


“Baik dok.”


Fahrul segera mengikuti sang dokter untuk menyelesaikan proses administrasi. Seorang suster memberikan lembar persetujuan operasi pada pria itu. Dengan cepat dia menanda tanganinya.


“Apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya, dok? Kemarin dia baik-baik saja.”


“Saya sudah katakan sebelumnya, kondisi kandungan ibu Maira lemah. Kehamilannya rentan akan resiko seperti ini. Dari kasus yang terjadi pada bu Maira, saya curiga karena dipicu stress yang berlebihan.”


Fahrul terhenyak mendengar penuturan sang dokter. Pria itu hanya terpaku ketika sang dokter berpamitan dan meninggalkan dirinya. Sepertinya kejadian kemarin kembali membebani Maira. Dengan langkah gontai, pria itu berjalan mendekati mertuanya.


“Lihat keadaan Mai. Ini semua karenamu!” seru Surya.


“Maafkan aku, pak.”


“Sudah berulang kali kukatakan, jauhi Mai. Kamu hanya membawa pengaruh buruk untuknya! Aku juga tak bisa membiarkan cucuku berada dekat denganmu. Ceraikan Mai setelah dia melahirkan.”


Tak ada tanggapan yang keluar dari mulut Fahrul. Pria itu menerima saja apa yang dilontarkan mertuanya. Mungkin ini adalah balasan atas perbuatannya dulu pada Maira. Perhatian Fahrul teralihkan ketika melihat beberapa suster keluar masuk ruang operasi. Bergegas pria itu mendekati salah satu suster.


“Ada apa sus? Apa terjadi sesuatu dengan istri saya?”


“Ibu Maira mengalami pendarahan hebat. Kami harus segera menghentikannya. Kami membutuhkan darah untuk proses operasinya. Tapi kami kekurangan stok. Apa bapak bisa bantu mengambilkan stok darah di PMI. Kami sudah menghubungi petugas di sana.”


“Bisa sus.”


Suster tersebut memanggil temannya dan menerangkan apa yang harus dilakukan, lalu dia bergegas masuk kembali ke ruang operasi. Suster yang bersama dengan Fahrul memberikan sebuah box.


“Ini boxnya tolong dibawa pak.”


“Iya sus.”


Setelah menerima box untuk membawa kantung darah, Fahrul bergegas pergi. Jarak kantor Palang Merah Indonesia dengan rumah sakit ini tidaklah terlau jauh. Pria itu kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


🍂🍂🍂


Para sahabat Fahrul segera menuju rumah sakit begitu mendengar kabar tentang Maira. Nick dan Iza juga memutuskan melihat keadaan Maira terlebih dulu, sebelumnya mereka telah menghubungi dokter masing-masing. Dokter Rega sendiri baru bisa memeriksa Iza pada siang hari karena memiliki beberapa jadwal operasi.


Begitu pula dengan Denis, baru saja kemarin pria itu pulang ke Jakarta, hari ini dia dan Ayura kembali ke Bandung. Mereka terpaksa menitipkan Azka di rumah orang tua Ayura. Sepanjang perjalanan, Ayura tak berhenti menangis karena mencemaskan keadaan sahabatnya. Apalagi tadi Fahrul mengatakan Maira mengalami pendarahan hebat.


Di rumah sakit, Fahrul masih menunggu harap-harap cemas didampingi oleh para sahabatnya. Bayinya lahir prematur dan langsung dibawa ke ruangan NICU. Sedang Maira masih belum keluar dari ruang operasi, dokter masih berusaha menghentikan pendarahan yang wanita itu alami.


Tiga puluh menit berselang, dokter keluar dan tak lama kemudian blankar yang membawa tubuh Maira menyusul di belakangnya. Fahrul bergegas menghampiri sang dokter. Sekilas dia melihat wajah Maira begitu pucat. Ketakutan melanda pria itu, takut kalau sang istri pergi meninggalkannya untuk selamanya.


“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”


“Operasinya berhasil, kami berhasil menghentikan pendarahannya. Untuk sementara ibu Maira akan ditempatkan di ruang ICU. Kami akan terus memantau keadaannya sampai membaik dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa.”


“Ya Allah, Mai,” Fahrul menggenggam tangan Maira. Pria itu mengikuti kemana para suster membawa blankar istrinya. Dia terus ikut sampai blankar berhenti di depan pintu masuk ruang ICU.


“Mai.. kamu harus kuat sayang, demi anak kita.”


Fahrul mencium punggung tangan Maira. Matanya terus menatap ke arah blankar yang terus masuk ke dalam ruangan. Airmata mengalir membasahi pipinya. Istrinya berada di ICU dan anaknya berada di NICU. Dua orang yang begitu disayanginya tengah berjuang untuk hidup. Tak sanggup menahan kesedihan, pria itu berjongkok dan menangis tersedu. Arnav yang sedari tadi mengikutinya, mendekati sahabatnya itu lalu membantunya berdiri. Didudukkannya Fahrul di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.


“Rul.. lo harus sabar, kuat. Maira dan anak lo butuh elo.”


“Ini salah gue. Kalau aja kemarin gue ngga ajak dia pergi, mungkin gue ngga akan ribut sama abah. Mai pasti kepikiran soal itu.”


“Berhenti nyalahin diri lo sendiri. Dasar orang tua egois. Kenapa cuma keburukan elo yang diingat, usaha elo untuk berusaha memperbaiki diri ngga ada harganya sama sekali. Brengsek banget tuh orang.”


Sejatinya Arnav bukanlah orang yang suka memaki atau menghakimi orang. Walau hidupnya dulu terkesan ugal-ugalan namun dia selalu bersikap hormat pada orang tua. Namun melihat sikap Rahardi juga Surya sedikit merubah pikirannya akan para orang tua. Untung saja ada Bryan yang bisa dijadikan panutan olehnya.


“Ar, bokap sama nyokap lo jadi pulang ke Jakarta?”


“Ngga. Mereka mau netap aja di Lahore. Gue udah ngga dianggap anak juga sama mereka,” Arnav tertawa sumbang. Sudah sejak kuliah Arnav memang hidup sendiri di Jakarta, jauh dari kedua orang tuanya yang menetap di Lahore, kota kelahiran ayahnya.


“Setidaknya gue masih punya kalian,” lanjutnya.


“Gue doain lo dapet mertua yang baik. Yang bisa sayang sama elo, seperti anak sendiri. Ngga seperti gue sama Nick,” ujar Fahrul dengan wajah sendu.


“Emang gue kenapa? Mertua gue kenapa?”


Arnav dan Fahrul terkejut melihat Nick sudah berada di dekat mereka. Keduanya langsung mengatupkan mulutnya. Baru saja Nick akan berkata lagi, Abe datang dan mengalihkan pembicaraan.


“Rul.. lo dicariin suster. Katanya kalo mau lihat anak lo udah bisa.”


“Serius?”


“Iya.”


Dengan bersemangat, Fahrul berdiri dari duduknya lalu bergegas menuju ruang NICU. Abe merangkul bahu Nick kemudian mengajaknya duduk di samping Arnav. Untung saja dirinya datang tepat waktu dan menghentikan Nick menanyakan perihal mertuanya.


“Iza mana?”


“Lagi sama Meta. Dia kelihatan sedih, kenapa ya? Kalian tahu ngga kenapa Iza tiba-tiba kelihatan sedih? Padahal tadi di rumah dia baik-baik aja. Kita juga abis dapet kabar gembira karena udah dapet donor mata buat Iza.”


“Oh ya? Alhamdulillah.. gue doain donornya cocok, operasinya berhasil dan Iza bisa melihat lagi.”


“Aamiin,” Nick dan Arnav mengaminkan doa Abe.


"Tapi Iza. Ada apa ya sama dia."


"Dia sedih lihat Mai. Mereka kan lumayan dekat," jawab Arnav agar Nick tak terus bertanya.


Sementara itu, Meta dan Sansan membawa Iza ke kantin. Adik iparnya itu tak berhenti menangis saat melihat suster membawa bayi Maira ke ruang Nicu. Wanita itu teringat akan anaknya tak sempat melihat dunia.


“Zi.. jangan nangis lagi. Nanti Nick curiga dan tanya-tanya sama kamu.”


Iza menarik nafas beberapa kali untuk meredakan tangisnya. Sansan menyodorkan tisu di tangannya. Abe sudah menceritakan apa yang terjadi pada Iza. Sebagai wanita, dia mengerti bagaimana penderitaan Iza. Jika dirinya berada di posisi Iza, mungkin tidak akan sanggup.


“Seandainya aku ngga keguguran, mungkin aku sebentar lagi melahirkan. Iya kan, Met?”


“Sabar Zi. Dia akan jadi tabungan kamu di akhirat nanti. In Syaa Allah, nanti akan ada gantinya. Kalian bisa punya anak lagi, Zi.”


“Zi..”


Jantung Meta berdetak kencang mendengar suara Nick. Dia takut kalau pria itu mendengar apa yang dikatakannya barusan. Pelan-pelan wanita itu menolehkan wajahnya. Meta menghembuskan nafas lega, sepertinya Nick tak mendengar apapun. Dia langsung menundukkan pandangannya ketika melihat Arnav terus menatap ke arahnya.


“Bila telepon, katanya aku harus ke rumah sakit sekarang. Ayo.”


Nick meraih tangan Iza lalu membantunya berdiri. Meta juga ikut berdiri, dia akan ikut Iza ke rumah sakit. Setelah mengajar nanti Ridho akan menyusul ke rumah sakit. Rahardi dan Mina masih dalam perjalanan. Nick berpamitan pada Arnav dan Abe yang memilih menemani Fahrul.


🍂🍂🍂


Nick membantu Iza duduk di depan meja kerja dokter Rafli. Nick memang sengaja mengajak Iza masuk, supaya bisa ikut mendengarkan bagaimana perkembangan dirinya. Bila hanya bisa menahan perasaannya melihat Nick memperlakukan Iza. Sebisa mungkin dia mengusir rasa cemburu yang mulai merayapi hatinya.


“Wah.. siapa ini, Nick?” tanya dokter Rafli.


“Kenalkan dok, ini istri saya, Azizah.”


“Jadi wanita yang selalu kamu bicarakan itu adalah istrimu?”


“Alhamdulillah. Walau ingatanmu belum kembali tapi hatimu yang menuntunmu padanya.”


“Iya dok, alhamdulillah.”


Iza mengulum senyum mendengar pembicaraan Nick dan dokter Rafli. Sosok dokter yang ramah, pantas saja Nick nyaman berkonsultasi dengannya. Dari suaranya, Iza menebak kalau usia dokter Rafli mungkin sepantar dengan abinya.


“Bagaimana perasaanmu hari ini?”


“Alhamdulillah baik, dok. Sangat baik dan bahagia tentunya.”


Dokter Rafli senang mendengar jawaban Nick. Sejak awal menangani pria itu, baru kali ini dia melihat Nick begitu bersemangat. Wajahnya juga memancarkan keceriaan dan kebahagiaan.


“Nick.. maaf sebelumnya kalau saya harus menyampaikan kabar yang tidak terlalu bagus.”


“Apa itu dok?”


“Saya sudah melihat hasil pemeriksaanmu yang terakhir. Setelah berdiskusi dengan dokter Sudirman juga dokter Reyhan, melihat dari luka di kepalamu, sepertinya akan sulit bagimu untuk mendapatkan ingatanmu lagi. Tapi ini hanyalah prediksi, tidak ada yang tahu jika nanti kamu bisa mengingat kembali. Ini hanyalah pendapat kami secara medis. Tapi yang mempunyai kuasa tetaplah Allah. Jika Allah berkehendak ingatanmu kembali, pasti kamu akan mendapatkan ingatanmu lagi. Saya harap kamu tidak berkecil hati.”


“Buat saya tidak masalah kalau ingatan saya tidak kembali. Yang penting wanita yang saya cintai sudah kembali. Keluarga dan sahabat-sahabat saya juga masih berada di samping saya. Apa yang harus saya sesali? Seperti kata dokter, saya bisa membentuk ingatan baru yang lebih indah.”


“Syukurlah kalau kamu bisa menerimanya. Melihat perkembanganmu, sepertinya ini akan menjadi sesi konseling terakhir kita.”


“Terima kasih dok sudah membantu saya selama ini. Begitu juga dengan dokter Bila, terima kasih.”


Nick melihat ke arah Bila. Dokter muda itu berusaha menampilkan senyuman dibalik kesedihan yang dirasakan. Walau sulit dia harus menyingkirkan perasaan yang baru saja tumbuh, jangan sampai berkembang semakin dalam dan luas karena hanya rasa sakit yang akan didapatnya. Melihat Nick yang begitu mencintainya istrinya, tak mungkin rasanya pria itu akan berpaling pada perempuan lain.


Usai berkonsultasi dengan dokter Rafli, keduanya lalu menuju ruangan dokter Rega. Asisten dokter spesialis mata tersebut mengatakan dokter Rega telah menunggu di ruangannya. Nick merangkul pinggang Iza menuju lift yang ada di dekat meja perawat. Mereka akan menuju lantai dua, di mana ruang praktek dokter Rega berada.


Dokter Rega bangun dari duduknya ketika mendengar pintu ruangannya terketuk. Pria itu menebak pasti Iza yang datang bersama dengan Meta atau Ridho. Namun senyum di wajahnya memudar ketika melihat seorang lelaki tampan yang datang bersama Iza. Dan Iza nampak nyaman berada dalam pelukannya.


“Halo Noor,” sapa dokter Rega.


“Halo, dok."


"Saya pikir kamu diantar Meta atau Ridho.”


“Mereka menunggu di depan. Oh iya dok, kenalkan ini suami saya. Mas, ini dokter Rega yang merawatku selama ini.”


Walau terkejut, dokter Rega tetap mengulurkan tangannya ke arah Nick. Kedua pria itu saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Sungguh Rega tak menyangka kalau ternyata suami Iza masih hidup. Dulu dia sempat mendengar kalau suami Iza meninggal setelah koma beberapa hari. Pria itu lalu mempersilahkan Iza dan Nick duduk.


“Bang Ridho bilang ada donor mata untuk saya. Apa benar dok?”


“Iya, Noor. Alhamdulillah saya menerima donor mata untukmu dan cocok.”


“Siapa yang sudah mendonorkan matanya untuk saya, dok?”


“Maaf Noor. Sesuai prosedur, saya tidak bisa membuka identitas pendonor. Hari ini kamu akan menjalani pemeriksaan. Kalau keadaanmu baik, operasi bisa dilakukan besok.”


“Bagaimana dengan tingkat keberhasilannya dok?” kali ini Nick yang bertanya.


“Kalau ukurannya cocok, saya pikir tidak ada kendala berarti. Noor bisa melihat kembali secara normal. Kami juga akan terus memantau apakah organ vital yang lain bisa menerima kornea baru. Mudah-mudahan semuanya lancar.”


“Aamiin.”


“Kalau begitu silahkan ikuti suster Weni.”


“Baik dok.”


Pintu ruangan terbuka, suster Weni masuk untuk membawa Iza ke ruang inap. Wanita itu sudah harus masuk ruang rawat inap. Nanti akan ada petugas yang akan mengambil sample darah untuk memeriksa kondisi Iza. Ridho dan Meta langsung menyambut Iza sekeluarnya dari ruangan. Mereka ikut mengantar Iza ke ruang perawatan VVIP yang telah dipesan oleh Edo. Pria itu juga sudah mendepositkan sejumlah uang untuk biaya operasi Iza.


🍂🍂🍂


Mobil yang ditumpangi Mina dan Rahardi berhenti di depan lobi rumah sakit Ibnu Sina. Selepas shubuh keduanya segera bertolak ke Bandung setelah mendapat kabar tentang operasi yang akan dijalani Iza. Dengan tongkat di tangannya, Rahardi berjalan di sisi sang istri. Sejak kecelakaan yang dialaminya, pria itu harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.


Mata Rahardi terus memandangi panel yang ada di bagian samping pintu lift. Rasanya tak sabar untuk bisa bertemu dengan putri bungsunya itu. Setelah kecelakaan yang menimpa Iza dan Ridho membawanya pergi, Rahardi menyadari kalau dirinya telah begitu menyakiti Iza. Bukan hanya Iza, tapi juga Ridho dan Mina. Dia berharap kedua anak dan istrinya mau memaafkannya. Walau Mina tetap berada di sisinya, namun pria itu tahu kalau sang istri belum benar-benar memaafkannya.


Iza meringis ketika suster menyuntikkan jarum ke tubuhnya. Perawat wanita itu harus mengambil darah Iza untuk diperiksa. Nick dengan setia mendampingi Iza. Dia duduk di dekat bed Iza. Jarinya menekan kasa yang diberikan suster di area bekas suntikan. Tangannya mengusap puncak kepala Iza lalu mencium keningnya.


“Sakit?”


“Sedikit.”


Nick mencium tangan Iza, tepatnya di tempat bekas suntikan tadi. wajah Iza merona mendapatkan perlakuan manis dari suaminya. Ridho hanya mengulum senyum melihat tingkat pasangan suami istri itu. Diliriknya Meta yang juga tengah memandangi keduanya. Lalu dengan cepat Ridho mengecup pipi istrinya.


CUP


“Abang..”


“Apa?”


“Malu tahu.”


“Mereka ngga lihat ini. Kan sama lagi sibuk juga,” Ridho terkekeh melihat pipi Meta yang memerah.


“Abang lagi belajar romantis,” ujarnya lagi dengan suara berbisik di dekat telinga Meta.


Kemesraan pasangan itu terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Senyum Ridho mengembang saat melihat Bryan dan Diah yang datang. Tak lama setelahnya menyusul Edo. Nick segera menghampiri kedua orang tuanya begitu melihat mereka datang. Keningnya mengernyit melihat Edo juga ikut datang.


“Nick.. kenalkan ini teman daddy. Dia yang membantu mencarikan donor mata untuk Iza. Namanya Eduardo.”


Nick mengulurkan tangannya ke arah Edo. Dengan cepat pria itu menyambut uluran tangan sang anak. Hatinya mengharu biru melihat ke arah Nick. Ingin rasanya dia langsung memeluk anaknya itu. Tapi dia harus menahannya.


“Terima kasih om. Saya ngga nyangka kalau om itu temannya daddy. Kapan-kapan kita ngopi bareng, om.”


“Boleh, asal kamu yang buatkan.”


“Tentu saja om.”


Ingin rasanya Edo berteriak dan mengatakan siapa dia sebenarnya, hingga Nick bisa memanggilnya dengan sebutan papai. Sungguh pria itu berharap Nick bisa memanggilnya seperti itu. Diah menatap sendu ke arah mantan suaminya itu. Dia tahu bagaimana perasaan Edo saat ini.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam.”


Semua menolehkan kepalanya ke arah pintu, nampak Mina berdiri di depan pintu. Meta segera menghambur menyambut ibu mertuanya. Begitu juga Diah, wanita itu segera menghampiri Mina.


“Mina.. bagaimana kabarmu?”


“Alhamdulillah baik. Bagaimana denganmu.”


“Aku baik. Maafkan aku Mina, maafkan.”


Diah memeluk Mina, kedua wanita itu untuk sesaat hanyut dalam keharuan. Mata Meta berkaca-kaca melihat mereka. Dua wanita hebat yang selama ini berjuang untuk kebahagiaan anak-anak mereka.


“Nick..” sapa Mina setelah melepaskan pelukannya.


“Nick.. ini umminya Iza. Ibu mertuamu,” ujar Bryan.


“Ummi..” Nick mencium punggung tangan Mina. Wanita itu menarik Nick ke dalam pelukannya. Akhirnya menantunya telah kembali. Airmatanya mengalir menandakan kebahagiaan yang dirasakannya.


“Nick.. kamu.. masih hidup.”


Rahardi yang baru saja masuk terpaku di tempatnya saat melihat Nick. Edo mengepalkan tangannya erat. Ingin rasanya melempar pria itu keluar dari sini, namun dia tak bisa melakukan itu. Bagaimana pun juga, Rahardi adalah ayah dari menantunya.


“Bapak…” ucapan Nick menggantung di udara. Sebuah perasaan tak nyaman tiba-tiba menyergapnya. Bukan hanya tak nyaman, namun juga sedih, kecewa dan marah.


“Dia.. abinya Iza,” ujar Diah pelan.


“Nick…”


Dengan tertatih Rahardi berjalan mendekati menantunya itu. Nick terus menatap ke arah Rahardi, semakin lama perasaan tadi terus menyerangnya. Kelebatan ingatan keluar masuk kepalanya. Ingatan yang tak jelas hanya rasa sakit yang terus menerjang hatinya.


“Aaaarrrgghhh,” Nick mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.


“Nick!!”


🍂🍂🍂


Waduh, musuhnya emak² nongol lagi🙈