The Nick's Life

The Nick's Life
We Are Married



Matahari sudah bergeser sedikit menjauh dari arah timur. Sinarnya sudah mulai menebarkan kehangatan. Sepasang suami istri masih betah berbaring sambil berpelukan di atas kasur berukuran king size. Ini hari kedua, Nick dan Iza menghabiskan waktunya di kamar hotel. Tak ada niatan dari keduanya untuk berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung atau berburu kuliner. Mereka lebih senang menghabiskan waktu berdua di kamar dengan berbincang dan tentu saja bercinta.


Suara kecupan terdengar ketika Nick terus mendaratkan ciuman di seluruh wajah sang istri, mulai dari kening, mata, hidung, bibir, dagu hingga leher. Tangannya bergerak menelusuri tubuh mulus Iza yang hanya terbalut selimut. Iza meraba dada bidang Nick kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher kekar itu.


Nick menjeda ciumannya. Netranya menatap dalam ke arah manik hitam sang istri. Tangan Iza menarik leher Nick hingga wajah pria itu mendekat kemudian mencium bibir yang kini semakin membuatnya candu. Nick membiarkan Iza memimpin ciuman mereka. Istrinya itu sekarang sudah mulai lihai membalas ciumannya. Iza melepaskan tautan bibir mereka saat pasokan oksigen sudah dirasa mulai berkurang.


“Zi.. apa benar kamu ingin cepat mempunyai anak?”


“Kenapa? Apa mas ngga mau?”


“Tentu saja aku mau, Zi. But, is it okay to have a baby now? (apa tidak apa-apa memiliki bayi sekarang?).”


“Kehadiran anak akan semakin mempererat hubungan kita. Aku benci mengatakan ini, tapi dengan adanya anak di antara kita, abi tidak akan berbuat macam-macam lagi. Dia tidak mungkin memisahkan anak dari ayahnya kan?”


“I don’t know, Zi. Abi is unpredictable (aku ngga tahu, Zi. Abi itu sulit ditebak).”


“Hentikan membicarakan abi. Lebih baik kita bicarakan yang lain.”


“Soal apa?”


Nick mengangkat tubuh Zi, hingga wanita itu kini berada di atasnya. Iza merebahkan kepalanya di dada Nick, sedang jemarinya menelusuri dada suaminya yang sedikit berbulu.


“Apa mas tidak mau pindah?”


“Kemana? Ke Bandung?”


“Hmm.. aku suka berada di kota ini. Udaranya sejuk, walaupun terkadang panas tapi tak sepanas di Jakarta. Aku merasa hidup di kota ini lebih tenang. Dan yang pastinya tidak ada abi.”


“Kalau kamu suka di sini, ayo kita pindah.”


“Mas serius?”


“Hmm.. setelah kamu menyelesaikan kuliahmu, ayo kita pindah.”


“Bagaimana dengan kedai?”


“Kita bisa buka cabang di sini. Atau menjualnya dan kita buka yang baru di sini.”


“Berarti harus merintis lagi.”


“Ngga masalah. Asal kamu bahagia dan selalu ada di sampingku.”


Senyum Iza terbit mendengarnya. Bibirnya mendaratkan ciuman bertubi di wajah suaminya. Nick menegakkan tubuhnya dengan Iza masih ada di atasnya. Kini dirinya kembali memberikan cumbuan pada sang istri. Selimut yang tadi menutupi tubuh mereka sudah terhempas ke lantai.


“Let’s make a baby,” bisik Nick.


“Again? (lagi?).”


“Hmm.. but.. this time you lead the game (tapi kali ini kamu yang memimpin permainan).”


“Teach me (ajari aku).”


“My pleasure (dengan senang hati).”


Nick kembali mencium bibir Iza, cumbuannya kembali berlanjut. Iza tetap berada di atas sang suami, perlahan Nick membimbingnya melakukan gaya percintaan yang banyak disukai kaum hawa, woman on top.


🍂🍂🍂


Sepulangnya dari Bandung, Nick kembali fokus membenahi kedainya. Targetnya akhir minggu ini, kedai kopi miliknya sudah dibuka. Barang yang dipesannya pun sudah datang, lebih cepat dari dugaannya. Kini hanya tinggal membenahi bangunan yang mengalami kerusakan. Dua orang pegawai yang akan membantunya juga sudah mulai bekerja. Di kedai ini, Nick hanya mempekerjakan pegawai laki-laki saja.


Hari ini terhitung lima hari sudah Iza tinggal bersama Nick. Belum ada niatan dirinya kembali pulang. Sebenarnya dia juga bingung, mengapa Rahardi tak mencarinya. Apakah ummi berhasil membuat pria itu tenang atau ada hal lain yang direncanakan olehnya. Seperti yang Nick katakan, abinya itu tidak bisa diprediksi.


Pintu kedai terbuka, nampak Abe, Fahrul dan Denis masuk. Ketiganya langsung menuju meja yang biasa mereka tempati. Nick tersenyum menyambut kedatangan para sahabatnya. Dia segera meracik kopi untuk mereka. Tak berselang lama Arnav beserta Meta datang bergabung.


Iza keluar dari arah dapur membawakan camilan untuk para sahabat Nick, juga Meta yang sengaja diundang datang. Rencananya hari ini, Nick dan Iza akan mengatakan tentang pernikahan mereka. Setelah meletakkan dua buah piring berisi aneka snack, Iza menghampiri Nick. Matanya terus memperhatikan Nick yang tengah melukis di atas kopi.


“Mau coba?” tanya Nick.


“Boleh.”


“Sini.”


Nick menarik tangan Iza untuk berdiri di depannya. Lalu dia meminta Iza memegang wadah krim dan menuangkannya perlahan ke atas kopi. Nick bantu memegang wadah tersebut, setelah itu sambil menggenggam tangan Iza, dia menggerakkan tangan sang istri menarik garis-garis dari tetesan krim tadi. Sebelah tangannya memeluk pinggang Iza dan meletakkan dagu di bahunya.


Semua sahabat Nick termasuk Meta terus memperhatikan interaksi pasangan tersebut. Dalam kepalanya bertanya-tanya melihat keintiman mereka. Apalagi mereka melakukannya di tempat terbuka dan tanpa merasa malu. Denis tersenyum tipis melihat itu semua. Lalu melirik ke arah Meta yang nampak shock.


“Gue ngga salah lihat kan?” tanya Fahrul.


“Gue juga bingung. Setahu gue, Iza itu untouchable dan Nick juga selalu nahan diri, tapi sekarang...” Arnav hanya menggelengkan kepalanya, dia tak ingin berspekulasi.


“Met.. kamu tahu ada apa dengan mereka?” tanya Abe.


“Ngga,” Meta pun cukup bingung dengan perubahan sikap Iza.


Semuanya langsung terdiam begitu melihat Iza dan Nick berjalan ke arah mereka. Setelah meletakkan tujuh cangkir kopi di atas meja, Nick menarik kursi untuk dirinya juga Iza. Nick memandangi wajah sahabatnya satu per satu, jelas terlihat ada yang ingin mereka ketahui namun tetap berusaha menyembunyikannya. Pria itu lalu menoleh ke arah Iza, diraihnya tangan istrinya itu lalu menggenggamnya erat.


“Guys.. ada yang mau gue sampaikan sama kalian. Mungkin kalian bertanya-tanya soal hubungan gue dan Iza akhir-akhir ini. Sebelumnya gue minta maaf kalau menutupi ini semua. Gue sama Iza sebenarnya sudah menikah.”


“What?” Arnav.


“Serius?” Fahrul.


“Aje gile,” Abe.


“Akhirnya ngaku juga,” Denis.


Semua langsung melihat ke arah Denis. Pria itu hanya mengangkat bahunya cuek seraya mengambil cangkir kopinya. Meta yang mendengar pengakuan Nick tentu saja terkejut tapi sekaligus lega. Dia percaya kalau sahabatnya tidak akan melakukan hal yang melanggar norma agama.


“Kapan lo nikah?” tanya Abe.


“Sekitar sebulan yang lalu. Waktu gue jemput Iza ke rumah abah Rahman. Sebelum pulang, abah menikahkan kita dulu.”


“Dan lo ngga kasih tau kita-kita, tapi lo kasih tau nih kunyuk satu,” Fahrul menunjuk ke arah Denis.


“Lo lupa kalau gue yang jemput Nick ke vila dan nganter dia ke rumah abah? Bukan Nick kasih tau gue, lebih tepatnya gue jadi saksi pernikahan mereka.”


“Terus kenapa lo nutupin semua ini? Ini tuh kabar bahagia dan lo tutupin ini dari kita semua?” Arnav masih kesal pada Nick.


“Sorry. Bukan maksud gue nutupin ini semua. Sebenernya gue mau kasih tahu kalian begitu gue sama Iza udah dapet restu dari abinya Iza. Tapi ternyata rencana ngga berjalan sesuai kenyataan. Dan kita memutuskan untuk membuka soal pernikahan ini dan mulai menjalani kehidupan seperti suami istri.”


“Sampai sekarang bokapnya Iza belum ngerestuin kalian?” Nick menggeleng lemah.


“Dia udah tahu soal pernikahan kalian?”


Nick kembali menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Arnav. Wajah sepasang suami istri itu nampak sendu. Meta bangun dari duduknya kemudian menghampiri sahabatnya. Iza berdiri kemudian memeluk Meta, tanpa sadar airmatanya mengalir saat mendapat pelukan hangat dari sahabat baiknya itu.


“Selamat Zi.. mungkin ini memang yang terbaik untuk kalian. Aku doakan pernikahan kalian sakinah, mawaddah warrohmah dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah.”


“Aamiin.. makasih Met.”


Meta mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata di wajah sahabatnya. Setelah itu dia kembali ke kursinya yang berada di samping Arnav.


“Selamat buat kalian. Semoga pernikahan kalian baik-baik aja. Buat lo Nick, jangan melakukan kesalahan yang sama kaya gue.”


“Thanks, Rul.”


“Selamat buat kalian. Zi.. kamu mau kado apa?” tanya Arnav.


“Zi doang yang ditanya. Gue ngga?”


“Heleh buat elo, cukup gue kasih torpedo aja hahahaha..”


“Bangk*!” rutuk Nick.


“Ck.. Nick kaga butuh yang begituan. Yakin gue, dia lebih ganas kalau urusan ranjang. Noh lihat aja lehernya Iza ada stempel si Nick,” seru Denis.


“Soal yang ngerusak kedai, lo udah tahu siapa dalangnya?” tanya Fahrul.


Sepeninggal Meta, kelima pria itu mulai serius berbicara. Kedatangan mereka selain karena undangan Nick, juga untuk membahas perihal perusakan kedai kopi Nick beberapa waktu lalu.


“Amelia.”


“Amelia anaknya om Sakurta?” tanya Denis.


“Iya.”


“Tuh orang ngga ada matinya gangguin lo terus. Sakit jiwa kayanya,” rutuk Abe.


“Lo tau dari mana kalau dalangnya dia?” selidik Denis.


Nick akhirnya menceritakan awal mula kecurigaannya pada Amelia. Karena ulah Amelia juga, akhirnya Nick dan Iza memutuskan untuk memulai rumah tangga mereka lebih cepat dari rencana semula.


“Terus rencana lo apa? Lo ngga usah turun tangan, fokus aja sama pembukaan kedai dan Iza. Tinggal bilang aja, biar kita-kita yang urus,” tutur Fahrul.


“Jujur.. gue buntu. Belum kepikiran sama sekali. Seperti yang lo bilang, saat ini gue emang lagi fokus sama urusan kedai, juga Iza.”


“Ya udah, biar tuh cewek gila biar jadi urusan kita-kita. Lo juga Rul, kaga usah ikut ngurusin. Lo fokus aja sama Mai.”


Wajah Fahrul berubah sendu mendengar Denis menyebut nama istrinya. Sampai saat ini, Maira masih belum bisa memaafkannya. Semua pesannya hanya dibaca, teleponnya tak pernah diangkat, bahkan jika dia berkunjung, Maira sama sekali tidak mau menemuinya. Hati wanita itu sepertinya sudah membeku.


“Gimana masalah lo sama Mai?” tanya Nick.


“Masih jalan di tempat. I don’t know Nick, gue ngerasa dia semakin jauh aja dari gue.”


“Sabar bro,” Abe menepuk pundak sahabatnya.


“Lo sendiri gimana sama Sansan?”


“Kayanya bentar lagi perjodohan gue bakal batal. Sansan bakal bawa Vicky ketemu orang tuanya akhir pekan ini.”


“Lo yakin mau ngelepas Sansan? Si Vicky tuh brengsek, tega lo sama dia?”


“Taulah Den, pusing gue.”


“Singkirin ego lo. Kasihan Sansan, dia harus tau seperti apa si Vicky itu. Jangan sampai lo korbanin hidup Sansan demi kepentingan elo. Masih banyak cara buat batalin perjodohan itu. Vicky bukan jawabannya.”


Abe terdiam merenungi ucapan Nick. Beberapa hari ini dia memang selalu memikirkan perihal hubungan Sansan dengan Vicky. Di satu sisi dia ingin membantu gadis itu, tapi jika dia melakukannya, maka dia harus mengatakan di mana mengenal Vicky yang artinya membongkar kebobrokannya sendiri. Abe tak ingin gadis itu menilai buruk dirinya.


“Lo sendiri gimana Ar? Kata Iza, lo udah ngomong ke Meta soal perasaan lo?”


“Yaaa.. gue masih berusaha berubah jadi lebih baik lagi. Malu aja gue seandainya nikah nanti, ilmu agama gue masih cetek.”


“Nikah.. nikah.. emang yakin bokapnya Meta ngerestuin elo? Siapa tahu bokapnya Meta lebih galak dari bokapnya Iza,” sambar Abe.


“Sembarangan lo. Bokapnya Meta tuh bijak banget. Gue udah beberapa kali ketemu dan ngobrol. Dia tahu gue lagi deketin Meta. Dia cuma bilang, berdoa dan berusaha saja. Kalau memang kalian berjodoh, ngga akan kemana.”


“Hidup emang ngga adil. Si teh celup dapet camer yang baik, tapi si Nick malah dapet singa padang pasir,” Denis menggelengkan kepalanya.


“Ngga usah mikirin gue. Lo sendiri gimana, udah ambil keputusan belum soal keyakinan?”


“Au ah.. puyeng gue. Sebenernya gue udah punya pilihan, tapi gue masih siapin mental dulu.”


“Heleh.. gue tahu lo pasti takut disunat hahaha..”


Ucapan Fahrul langsung disambut gelak tawa yang lainnya. Denis hanya memandang keki ke arah sahabatnya itu. Karena apa yang dikatakan Fahrul benar adanya. Yang membuatnya masih maju mundur memantapkan diri memeluk agama Islam, karena aturan yang mengharuskannya berkhitan. Rasanya malu saja, sudah setua ini dirinya belum juga disunat.


“Bulan depan kantor gue mau adain acara sunatan masal, tar gue daftarin deh. Biar lo ada temen pas disunat hahaha...” Denis langsung mengeplak kepala Abe.


“Tar gue nyecep lima juta buat elo,” sambung Fahrul.


“Gue sewa sisingaan sama ondel-ondel buat ngarak elo keliling Jakarta,” lanjut Nick.


“Hajatannya gue yang urus plus sewa orkes dangdut sekalian hahaha,” Arnav tertawa puas.


Denis hanya mendengus kesal mendengar komentar dari para sahabatnya yang minim akhlak. Bukannya menenangkan dirinya yang tengah gundah gulana perihal sunat menyunat. Mereka malah memborbardirnya dengan ucapan yang membuat telinganya panas. Namun tak ayal Denis ikut tersenyum, membayangkan dirinya menaiki sisingaan dan diarak keliling Jakarta dengan diapit dua ondel-ondel. Refleks bahunya bergidik membayangkan itu semua.


🍂🍂🍂


Iza masih membereskan cangkir-cangkir bekas di meja. Para sahabat Nick, juga Meta sudah pamit pulang. Kini hanya tinggal dirinya, Nick dan kedua pegawainya saja yang masih membereskan beberapa hal. Seorang pegawai menghampiri kemudian membawa semua peralatan kotor ke dapur.


Baru saja Iza akan menyusul ke dapur, dirinya dikejutkan saat mendengar pintu terbuka. Wanita itu terkesiap melihat Syehan yang datang. Untuk sesaat Iza terpaku di tempatnya. Nick yang baru saja keluar juga terkejut melihat kehadiran Syehan di kedainya.


“Halo Nick, apa aku mengganggu?”


“Tidak. Ayo silahkan duduk.”


Syehan melangkahkan kakinya menuju salah satu meja lalu menarik kursi dan mendudukkan diri di sana. Tak lama Nick dan Iza menyusul. Wajah Iza nampak was-was, kehadiran Syehan di sini sudah pasti karena Rahardi.


“Ada keperluan apa menemuiku?” tanya Nick tanpa basa-basi.


“Untuk menjemput Iza.”


“Aku tidak mau pulang!”


Nick menggenggam tangan Iza, meminta istrinya itu untuk tenang. Syehan terus memperhatikan interaksi kedua orang di depannya. Sepertinya ada hubungan khusus antara Nick dan Iza. Hal yang telah dicurigainya semenjak pertama kali bertemu dengan Nick.


“Kamu tahu kedaiku dari mana?”


“Abinya Iza, tentu saja. Beliau juga yang memintaku menjemputnya.”


“Lebih baik kamu pergi. Aku tidak mau pulang.”


“Apa menurutmu pantas kamu berduaan dengan lelaki yang bukan muhrim? Terlebih kamu sudah mempunyai calon suami.”


“Pantas atau tidak bukan urusanmu. Dan satu lagi, aku bukan calon istrimu.”


“Abimu yang memberikanku gelar itu, kalau kamu lupa, Zi.”


“Kalau begitu kamu menikah saja dengan abi.”


“Zi.. lebih baik kamu tunggu di kamar. Biar aku yang bicara dengannya.”


“Tapi mas...”


Nick hanya menggelengkan kepalanya. Dengan berat hati, Iza menuruti keinginan sang suami. Dia beranjak dari duduknya kemudian menuju lantai dua. Syehan terus memperhatikan kedua orang tersebut. Melihat Iza yang begitu patuh pada Nick, semakin memperkuat kecurigaannya.


“Kamu tahu, kamu bisa dilaporkan ke polisi karena menyembunyikan keberadaan Iza.”


“Silahkan saja, aku tidak takut.”


“Jangan membuat masalah menjadi rumit. Serahkan Iza padaku dan aku akan mengantarkannya kembali ke rumah. Jangan berhubungan lagi dengannya, karena dia adalah calon istriku. Tidak etis bukan mendekati wanita yang sudah dilamar.”


Segurat senyum tipis tersungging di wajah tampan Nick. Pria itu meletakkan kedua lengannya di atas meja lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Syehan. Matanya menatap tajam ke arah netra pria di hadapannya.


“Harusnya itu yang aku katakan padamu. Tidak pantas bagimu mendekati Iza. Karena aku dan Iza sudah lebih dulu berhubungan. Kamu yang datang di antara kita.”


“Kedatanganku karena diundang oleh abinya Iza. Dan aku tahu beliau tak merestui hubungan kalian. Jadi, sebaiknya kamu menyingkir saja.”


“Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Justru kamu yang harus menyingkir, karena aku dan Iza sudah menikah.”


Syehan terkejut mendengar penuturan Nick. Ditatapnya lekat-lekat wajah pria berdarah blasteran ini, namun tak ada tanda-tanda kebohongan dari sorot matanya. Perlahan Syehan menyandarkan punggungnya. Kemudian dia tersenyum ke arah Nick.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”


🍂🍂🍂


Kira² mau buat kesepakatan apa tuh Syehan🤔