
Maira tengah merapihkan hasil tugas menggambar anak-anak ketika salah satu rekan kerjanya, yang juga sahabat barunya datang menghampiri. Ayura, wanita cantik berusia 28 tahun adalah janda dengan seorang anak. Anaknya juga bersekolah di tempatnya mengajar.
Ayura menarik kursi di samping Maira. Walau baru mengenal selama dua bulan, namun keduanya sudah akrab. Mereka mudah dekat satu sama lain, bahkan berbagi cerita tentang masalah yang dialaminya. Ayura memang memiliki masalah yang hampir sama dengan Maira. Suaminya berselingkuh, namun demi tidak membagi harta gono gini, sang mantan suami malah balik memfitnahnya di pengadilan. Didukung keterangan dan saksi palsu dari pihak mertua, Ayura sukses menyandang status janda yang dicerai suaminya karena ketahuan selingkuh.
“Mai.. kamu masih tinggal di rumah teman kamu?”
“Iya Ay.. aku mau tinggal di mana lagi? Kebetulan juga rumah itu kosong, hitung-hitung aku ngerawat rumahnya.”
“Alhamdulillah, kamu beruntung Mai. Di saat tersulit ada orang yang mau menolongmu dengan ikhlas. Malah orang itu teman suami kamu. Biasanya mereka menutupi dan menolong temannya sendiri, tapi dia malah membela kamu. Aku salut sama dia, kapan-kapan kenalin sama aku ya.”
Maira tersenyum mendengar ucapan Ayura. Semua yang dikatakan temannya itu memang benar adanya. Sudah dua minggu lebih Maira tinggal di rumah orang tua Denis. Sejak meminta Maira tinggal di sana, Denis tak pernah datang. Dia hanya menghubungi via whats app saja untuk mengetahui keadaan Maira.
“Takut kamu naksir nanti kalau dikenalin sama dia.”
“Hilih.. aku apa kamu yang udah mulai klepek-klepek sama perhatiannya.”
“Mana ada Ay. Sampai saat ini aku masih istrinya Fahrul. Berdosa banget kalau sampai aku punya perasaan suka sama lelaki lain.”
“Andai dia berpikiran sama sepertimu Mai. Sabar ya.”
Ayura memeluk Maira untuk memberikan dukungan. Pelukan mereka terurai ketika Azka, anak Ayura datang. Maira yang memang menyukai anak kecil dan sudah menyayangi Azka seperti anaknya sendiri, langsung mengangkat Azka lalu mendudukkan di pangkuannya.
“Mama.. Aka mau ais kelim,” ucap Azka yang masih belum jelas cara bicaranya. Usianya baru saja menginjak lima tahun, seminggu yang lalu.
“Ibu yang belikan, mau?” tanya Maira.
Azka melihat sejenak ke arah Ayura untuk meminta ijin sang mama. Melihat Ayura mengangguk, Azka pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Maira menurunkan Azka, kemudian mengambil tasnya. Bersama dengan Azka juga Ayura, dia keluar dari ruangan guru. Sambil membelikan es krim, Maira memutuskan untuk pulang karena jam sekolah telah usai.
🍂🍂🍂
Maira baru saja sampai di rumah. Dia meletakkan tas di dalam kamar kemudian bergegas menuju dapur untuk membantu bu Sarni. Wanita paruh baya yang dipekerjakan Denis untuk mengurus rumah juga membantu Maira tengah memasak makan siang.
“Masak apa bu?”
“Sayur bayam sama ayam dan tempe goreng. Mau bikin sambel ngga mba?”
“Boleh bu. Kalau ngga ada sambel, kurang asik ya bu makannya.”
“Iya mba. Obat nafsu makan itu.”
Terdengar tawa kedua wanita itu. Bu Sarni memindahkan ayam yang sudah selesai diungkep ke dalam wadah. Maira juga ikut membantu memasak sayur bayam. Dia menyisir jagung yang akan ditambahkan sebagai pelengkap sayur nantinya. Saat keduanya tengah asik dengan kegiatan memasaknya, terdengar suara ketukan di pintu, disusul oleh suara salam. Maira bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
Wajah pak Dadi, ketua RT di mana Maira tinggal terlihat ketika Maira membuka pintu. wanita itu mempersilahkan pria yang masih berusia tiga puluhan itu masuk ke dalam rumah. Di tangan pria itu terdapat beberapa berkas.
“Maaf ya mba Maira, mengganggu waktunya.”
“Ngga apa-apa pak. Ada masalah apa?”
“Begini, saya mau menanyakan soal pembayaran PBB saja. Biasanya mas Denis selalu membayar secara kolektif melalui RT. Apa sekarang mau kolektif juga?”
“Oh sebentar ya pak. Saya hubungi Denisnya dulu.”
“Silahkan mba.”
Maira beranjak dari duduknya bersamaan dengan kedatangan bu Sarni yang membawakan minuman untuk Dadi. Maira masuk ke dalam kamar, kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia segera mendial nomor Denis.
“Halo..” terdengar suara Denis dari seberang.
“Halo Den.. maaf nih ganggu. Ada pak RT ke sini nanya soal pembayaran PBB mau dikolektif atau bagaimana?”
“Oh iya aku lupa, udah waktunya bayar PBB lagi ya. Sebentar lagi aku ke sana Mai. Aku bayar kolektif aja biar gampang.”
“Ok Den.”
Maira mengakhiri panggilannya kemudian kembali ke ruang tamu. Di sana, Dadi masih menunggu sambil menyeruput orange juice yang disuguhkan bu Sarni. Maira duduk di tempatnya semula.
“Pembayarannya kolektif saja pak katanya. Denis mau ke sini, tapi saya ngga tau pasti jam berapanya.”
“Oh ngga apa-apa mba, yang penting sudah ada keputusan kalau mau ikut pembayaran secara kolektif. Nanti tolong minta Denis ke rumah saya aja ya mba. Kalau saya tidak ada di rumah, bisa dititipkan ke istri saya nantinya.”
“Baik pak, In Syaa Allah nanti saya sampaikan.”
Dadi menghabiskan orange juice-nya kemudian bangun dari duduknya diikuti Maira. Wanita itu mengantarkan Dadi sampai ke depan teras. Pria itu berpamitan kemudian meninggalkan kediaman Denis. Maira kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acara memasaknya.
🍂🍂🍂
Fahrul mengaduk-aduk minumannya tak bersemangat. Abe dan Arnav hanya diam memandangi sahabatnya yang sejak ditinggalkan Maira mukanya selalu kusut. Arnav menyenderkan punggungnya di kursi kemudian menyalakan sebatang rokok. Abe menyomot sebatang rokok milik Arnav kemudian ikut membakarnya. Seketika kepulan asap mengelilingi mereka bertiga.
“Lo masih belum nemuin Mai?” tanya Arnav setelah menghembuskan asap rokok.
“Belum. Gue udah nyuruh pegawai gue ngikutin Denus tapi nihil semua. Dia cuma pergi ke tempat kerjaannya atau ke rumah tantenya terus balik lagi ke apartemennya.”
“Dia ngga ada di apartemen Denis?” tanya Abe.
“Ya ngga mungkinlah Mai ada di apartemen Denis. Secara Mai itu sama seperti yayang Meta, seorang muslimah yang taat. Mana mungkin dia mau tinggal berdua dengan lelaki yang bukan muhrimnya.”
“Tumben Ar, otak lo ngga geser,” ledek Abe.
“Gue lagi menjemput hidayah, Be.”
“Hidayah pala lo peyang. Bilang aja lagi pedekate ama Meta, bukannya hidayah itu mah tapi modus hahaha...”
“Astaghfirullah, maafkan dosa teman hamba ya Allah,” Arnav mengangkat kedua tangannya yang langsung dibalas toyoran oleh Abe. Fahrul tak dapat menahan senyum melihat kelakuan kedua temannya.
“Eh.. kenapa ngga lo datengin tempat kerjanya Mai. Dia kerja kan?” usul Abe.
“Gue ngga tau dia kerja di sana.”
“Ya salam.. temen gue ngga peka banget jadi suami, astaghfirullah,” Arnav menggelengkan kepala seraya mengelus dadanya.
“Iya bener, keterlaluan banget sih lo, Rul. Masa tempat istri kerja ngga tau sama sekali. Selama dua bulan kalian nikah, kalian ngapain aja? Jangan-jangan ngobrol juga ngga pernah. Parah lo,” sahut Abe.
Fahrul tak membantah ucapan kedua sahabatnya. Memang benar selama menikah dengan Maira, tak ada satu pun yang dia ketahui tentang sang istri. Lebih tepatnya pria itu memilih menutup mata dan telinganya tentang segala hal yang berkaitan dengan istrinya.
Mata Fahrul menerawang mengingat bagaimana perjalanan rumah tangganya selama ini. Sikapnya yang selalu tak peduli, menganggap Maira hanya orang asing yang berbagi atap dengannya. Sebaliknya Maira, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri walau tak pernah ditanggapi oleh Fahrul.
Terdengar pria itu mengesah panjang. Dalam lubuk hatinya, dia menyesali semua tindakannya. Memang benar kalau sebagai suami, Fahrul tak pernah bersikap baik sekali pun pada Maira. Ketakutan mulai menghinggapinya, takut kalau Maira akan menuntut cerai darinya. Tak dapat dibayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya nanti.
“Terus rencana lo sekarang apa Rul? Lo ngga bisa kaya gini terus. Kasihan Maira kalau selalu digantung sama elo kaya gini. Kalau emang lo ngga bisa melanjutkan pernikahan dengan Mai, ya lepasin aja. Dia masih muda, biar dia ngejar kebahagiaannya sendiri. Lo ngga boleh egois, Rul.”
Ucapan Abe sukses membuyarkan lamunan pria itu. Fahrul menatap kesal pada Abe, namun tak dapat dipungkiri apa yang dikatakan sahabatnya itu benar adanya. Dia meremat rambut dengan kasar. Semua masalah ini membuat kepalanya ingin meledak saja. Apalagi dua hari yang lalu sang mama menghubungi dan menanyakan kabar menantunya.
“Bener kata Abe, lo harus cepet ambil keputusan. Kasihan Mai, jangan gantungin anak orang, lo. Dapet kurma sekontainer baru rasa lo.”
“Lo mah dibikin ribet. Tinggalin Reisa atau ceraikan Mai, gitu aja repot,” kesal Abe.
“Mana bisa gue tinggalin Reisa. Gue cinta sama dia.”
“Ya kalau gitu ceraikan Mai. Lo jangan egois dong.”
“Gue penasaran, apa sih yang lo bikin segitunya ngga bisa ninggalin Reisa? Karena pelayanan di ranjangnya? Lo udah rasain Mai belum? Kata orang-orang lebih nikmat berhubungan dengan yang halal dari pada yang haram. Coba lo rasain dulu si Mai terus bandingin ama Reisa, feelnya lebih dapet yang mana.”
“Sekate-kate lo kalau ngomong. Emangnya nikah cuma urusan ranjang doang. Emang ya, otak lo isinya gituan semua. Sana cuci dulu pake bayclin biar bersih,” Abe menoyor kepala Arnav.
“Anjaayyy sok alim banget lo, nyet. Kaya lo kaga pernah aja,” balas Arnav.
“Emang kaga pernah PA. Kalau ******* doang mah sering, tapi buat masukin uler cobra gue, sorry ya gue milih yang halal.”
“Sarangnya si kuda lumping ya huahahaha...”
“Dasar monyet!”
Fahrul memandangi kedua sahabatnya dengan frustrasi. Keduanya malah sibuk berdebat sendiri tanpa memikirkan dirinya yang sudah seperti benang kusut. Tak tahu di mana ujungnya agar bisa mengurai benang tersebut. Fahrul menyambar kunci mobil, bungkus rokok dan ziponya kemudian berdiri dari duduknya.
“Mau kemana lo?” tanya Arnav.
“Mau cari Mai. Pusing gue lihat kalian berdua. Kalian mending balik ke kantor, bentar lagi jam istrirahat selesai.”
Fahrul langsung pergi setelah itu. Arnav dan Abe kompak melihat jam di tangannya. Benar saja, waktu istirahat hanya tersisa lima belas menit lagi. Keduanya buru-buru menghabiskan minuman kemudian bergegas keluar dari cafe.
🍂🍂🍂
Fahrul menghentikan kendaraannya begitu lampu lalu lintas berganti merah. Dia bersender di jok mobil, sambil jarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Kemudian menolehkan pandangannya ke arah samping. Matanya membulat ketika melihat Denis dengan tunggangannya berada tak jauh dari mobilnya.
Lampu telah berubah hijau, semua kendaraan mulai bergerak maju. Fahrul memutuskan untuk mengikuti Denis. Mungkin saja kali ini dia bisa menemukan keberadaan Maira. Pria itu terus menjaga jarak aman mobilnya, mengikuti motor Denis yang melaju cukup kencang.
Kendaraan roda dua itu terus melaju memasuki daerah Rempoa. Fahrul tahu kalau ini adalah arah menuju rumah almarhumah ibu Denis. Dia terus mengikuti Denis sampai memasuki jajaran rumah warga, tempat di mana pria itu tinggal. Fahrul memarkirkan mobilnya di dekat gang, kemudian memutuskan untuk berjalan kaki.
Dadanya berdegup kencang ketika langkahnya semakin mendekati sebuah rumah sederhana. Motor Denis tampak terparkir di depannya. Fahrul memilih duduk di depan kios yang ada di dekat rumah itu. Matanya terus mengawasi ke arah sana.
Tak berapa lama Denis keluar lagi. Setelah menitipkan uang pembayaran PBB pada bu Sarni, pria itu memutuskan kembali ke tempat kerjanya. Fahrul tak melepaskan pandangannya sedikit pun, dia terus mengawasi seperti hewan yang tengah mengintai mangsanya.
Saat Denis baru menaiki tunggangannya, dari dalam rumah Maira keluar dengan tote bag di tangannya. wanita itu memberikan tas kain itu pada Denis. Untuk sesaat keduanya terlibat percakapan. Fahrul menggeram kesal ketika Maira terlihat tertawa lepas saat berbicara dengan Denis. Tanpa sadar tangannya mengepal sampai buku-bukunya memutih.
Setelah mengaitkan tote bag pada stang motor, Denis memakai helmnya. Tak lama pria itu kembali memacu kendaraannya. Maira segera masuk ke dalam rumah setelah Denis pergi. Fahrul pun bergerak menuju rumah tersebut.
TOK
TOK
TOK
Maira baru saja akan masuk ke kamar ketika terdengar pintu terketuk. Dia kembali menuju ruang tamu. Tanpa mengintip dari jendela, Maira langsung membukakan pintu. Dia terkejut melihat Fahrul telah berdiri di hadapannya.
“Halo Mai.. akhirnya ketemu juga kamu.”
“Mau apa kamu?”
“Apa kamu tidak mempersilahkan aku masuk?”
“Tidak ada siapa-siapa di rumah.”
“Ngga masalah, aku bukan orang lain. Aku suamimu kan.”
Tanpa menunggu persetujuan Maira, Fahrul menerobos masuk ke dalam rumah. Dengan santainya pria itu menghempaskan bokongnya di atas sofa. Dengan enggan Maira ikut di sana. Bu Sarni mengintip dari balik dapur. Dia mengambil ponselnya lalu membuka galeri foto. Wanita itu menyamakan Fahrul dengan foto yang pernah dikirimkan Denis padanya.
Benar ini suaminya mba Maira, yang dibilang mas Denis. Aku harus kasih tahu mas Denis.
Bu Sarni segera mengirimkan pesan pada Denis, sesuai amanat pria itu jika Fahrul sampai datang, maka dirinya harus diberi tahu. Bu Sarni kemudian berinisiatif membuatkan minuman.
Suasana masih hening ketika bu Sarni mengantarkan minuman untuk Fahrul. Diliriknya sepintas pria yang diketahui sebagai suami dari Maira. Kemudian wanita itu bergegas kembali ke dapur.
“Habiskan minumannya, lalu silahkan pergi,” suara Maira membuka pembicaraan.
“Kamu mengusir suamimu sendiri?”
“Sebentar lagi akan menjadi mantan.”
Fahrul karuan meradang mendengar ucapan Maira. Wajah Maira pun nampak serius saat mengatakannya. Tak ada senyuman di wajah cantik itu. Hanya wajah dinginnya yang tanpa ekspresi, berbeda sekali saat dia tadi berbicara dengan Denis.
“Mai.. ayo pulang. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Aku akui telah salah padamu, dan aku akan memperbaiki kesalahanku,” bujuk Fahrul. Dia berusaha menurunkan egonya demi bisa membawa Maira pulang.
“Lalu bagaimana dengan Reisa?”
“Aku tidak akan menemuinya lagi.”
“Benarkah? Kalau begitu buktikan dulu ucapanmu.”
“Apa maumu?”
“Kita temui Reisa bersama. Lalu katakan di depannya dan juga di depanku kalau kamu mengakhiri hubunganmu dengannya. Kamu memilihku dibanding dirinya dan minta dia tak mengganggu kamu lagi.”
Fahrul terhenyak, tentu saja dia tak dapat melakukan hal tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Reisa nanti. Bisa-bisa perempuan itu nekad membeberkan hubungan gelap mereka. Melihat reaksi Fahrul, Maira hanya berdecih di dalam hati. Ternyata suaminya masih belum bisa melepaskan kekasih gelapnya itu.
“Tenang saja, aku tidak akan memaksamu. Tapi keputusanku sudah bulat untuk berpisah denganmu. Tak ada gunanya meneruskan pernikahan ini, jika diteruskan hanya akan menjadi toxic buatku. Aku tidak mau menjadi perempuan bodoh yang terus terkungkung dalam ikatan pernikahan palsu. Segera ajukan gugatan ceraimu.”
“Bukan aku ngga mau meninggalkan Reisa. Tolong beri aku waktu sebentar lagi.”
“Sampai kapan? Sampai dia hamil, begitu? Sebelum keadaan semakin memburuk, lebih baik kita akhiri saja. Tolong mengerti dan pahami posisi dan perasaanku jika kamu benar-benar menyesal. Aku tidak akan membuka soal hubunganmu pada kedua orang tua kita. Tolong lepaskan saja aku secara baik-baik.”
“Apa kamu benar-benar tak ingin memulai semuanya lagi?”
“Apa gelas yang pecah bisa disatukan lagi? Kalau pun bisa, bekas pecahannya akan tetap ada dan mungkin akan menggores tangan. Jadi lupakan semua, kita jalani hidup kita masing-masing mulai sekarang. Terima kasih untuk tidak menyentuhku, setidaknya ada yang bisa kubanggakan dari status jandaku nanti.”
Fahrul kembali meradang mendengar ucapan Maira. Wanita itu berdiri kemudian dengan gerakan tangannya, dia mempersilahkan Fahrul untuk pergi. Fahrul berdiri namun bukan untuk pergi melainkan mencekal pergelangan tangan Maira.
“Kalau kamu tidak bisa diminta dengan cara baik-baik. Maka aku akan menyeretmu pulang!”
🍂🍂🍂
**Weh Fahrul cari mati ya. Tenang neng Mai, babang ganteng bakalan nolongin kamu😎
Yang nanyai Mai, udah gue keluarin ya. Lihat nih, cantik begini Mai-nya. Makanya gue kekepin terus😝**