
Dua orang lelaki dengan perbedaan usia cukup jauh tengah duduk di atas kasur sambil menyandarkan punggung mereka ke headboard ranjang. Bagian bawah mereka tertutup sarung dengan motif yang sama. Tangan keduanya masing-masing memegang ponsel, jari mereka bergerak memainkan sesuatu di layar pipih tersebut. Sesekali terdengar ocehan keduanya.
“Om.. gamenya ngga seru, ganti dong,” ucap Azka sambil menarik-narik kaos Denis dan hal tersebut sukses membuyarkan konsentrasi pria itu saat bermain game online.
“Ngga seru apa Azka ngga bisa mainnya?”
“Dua-duanya hehehe...”
“Ya udah sini om cariin game yang lain. Mau game apa?”
“Yang kaya temen Azka mainin om. Yang lari-lari ngambil koin terus loncat-loncat kalau ada bis.”
“Oh yang itu. Sini om download dulu.”
Denis mengambil ponsel Ayura yang dimainkan oleh Azka. Sejenak dia memandangi wallpaper ponsel yang menampilkan gambar Ayura dengan Azka. Kemudian jarinya mengetuk layar, mencari aplikasi untuk mendownload game yang dimaksud Azka. Selesai mendownload, Denis memberikan kembali ponsel pada Azka.
Sudah seminggu ini Denis tinggal di kediaman paman Ayura. Seperti usulan Ayura, dia akhirnya mau juga dikhitan bersama dengan Azka. Awalnya Azka banyak bertanya kenapa dirinya baru disunat. Karena tak tahu harus menjawab apa, dia menyerahkan seluruh jawaban pada Ayura. Entah apa yang dikatakan wanita itu hingga akhirnya Azka berhenti bertanya.
Klinik khitan milik paman Ayura cukup besar dan juga menyediakan berbagai teknik khitan sesuai dengan keinginan orang yang akan dikhitan. Mereka bisa memilih khitan dengan cara tradisional, atau dengan cara modern seperti laser atau klamp. Namun untuk kasus Denis, sang paman menyarankan pria itu menggunakan metode stapler, hal ini untuk mengurangi pendarahan saat proses khitan. Namun biaya yang dikenakan juga lebih mahal. Dan Denis memilih prosedur ini dengan berbagai pertimbangan.
Setiap harinya ada seorang petugas dari klinik khitan yang membantu Denis membersihkan dan merawat lukanya. Pria itu juga membantu Azka, karena keduanya tidur di kamar yang sama. Azka tidak mau berada jauh dari Denis dan Ayura mengalah tidur di kamar lain.
Tak ada satu pun sahabat Denis yang tahu dengan khitanan yang dilakukan pria itu. Dia sengaja merahasiakan hal tersebut karena ingin memberikan kejutan pada mereka semua. Rencananya menjadi mualaf juga meminta bantuan paman Ayura. Denis ingin pada saat bertemu dengan para sahabatnya nanti, dia sudah menjadi manusia baru yang siap menapaki kehidupan dengan jalan yang lebih baik.
Tiga hari yang lalu Denis sempat akan pulang ke Jakarta setelah mendengar kejadian yang menimpa Abe. Namun Ayura berhasil mencegahnya karena kondisi Denis yang belum memungkinkan untuk bepergian. Akhirnya pria itu hanya bisa bertukar kabar melalui ponsel.
Terdengar ketukan di pintu, Ayura masuk dengan membawa nampan berisi dua buah piring. Wanita itu meletakkan nampan di atas nakas lalu kembali keluar kamar. Tak lama dia datang lagi dengan membawa dua gelas berisi air putih.
“Makan dulu ya, Azka.”
“Om Denis ngga ma?”
“Iya, om Denis juga.”
Ayura memberikan piring berisi nasi dan lauknya pada Denis. Kemudian wanita itu naik ke atas kasur dan mulai menyuapi Azka. Sambil makan, Azka tetap bermain ponsel. Ayura tersenyum melihat Azka yang tidak pernah mengeluh pasca dikhitan. Namun dia juga sedih karena tak bisa mengadakan syukuran untuk anak tunggalnya ini. Ayura khawatir Arif akan datang dan membuat kekacauan. Jadi dia hanya membuat syukuran dengan memberikan nasi kotak dan juga angpao untuk akan yatim piatu yang ada di lingkungan rumah pamannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Denis.
“Den, kapan kamu mau berikrar? Syarat administratifnya sudah lengkap kan?”
“Aku udah serahin semua sama Ali. Katanya begitu lukaku udah kering dan sudah bisa beraktivitas normal, aku diminta datang ke masjid untuk berikrar.”
“Syukur deh. Kayanya sebentar lagi lukamu kering.”
“Masa? Tahu dari mana? Emangnya kamu pernah lihat?”
Mata Ayura membulat lengkap dengan wajahnya yang memerah mendengar ucapan frontal Denis barusan. Pria itu hanya terkekeh melihat Ayura yang salah tingkah. Wanita itu terus menyuapi anaknya sambil mengajaknya berbicara untuk mengalihkan kegugupannya.
“Orang tua kamu udah tahu kalau Azka disunat di sini?”
“Udah. Tapi mereka ngga bisa dateng. Bapak kan harus kontrol ke rumah sakit. Lagi pula mama takut kalau Arif mengikuti mereka. Soalnya udah beberapa hari ini dia keliatan sering nongkrong di dekat rumah.”
“Dasar gila tuh orang, minta rujuk sampai segitunya.”
“Aku juga ngga habis pikir. Kenapa dia ngotot mau rujuk sama aku. Aku juga bingung harus gimana.”
“Aku punya solusi buat kamu.”
“Apa?”
“Nikah. Kalau kamu udah nikah sama orang lain, dia ngga bakalan ngejar kamu lagi.”
“Ngaco kamu Den. Aku mau nikah sama siapa?”
“Emang kamu ngga punya temen laki apa?”
“Ada tapi mereka rata-rata udah nikah. Yang masih bujang juga ada sih tapi mereka pasti mikir-mikir nikah sama janda dua kali plus udah punya satu anak. Kalau pun mereka mau, belum tentu keluarganya setuju. Lagi pula, aku ngga bisa asal ngajak laki-laki menikah. Aku juga harus mikirin Azka, aku mau menikah dengan laki-laki yang menyayangi Azka juga. Cukup Arif saja yang jadi pengalaman buruk untuk kami.”
Denis tak menanggapi lagi perkataan Ayura. Pria itu menghabiskan makanannya sambil sesekali melihat pada Azka yang masih asik bermain game. Sebenarnya ada keinginan dirinya menawarkan diri untuk menikahi Ayura. Namun mengingat masa lalunya yang buruk, dia mengurungkan niatnya. Rasanya tak pantas saja menjadi pendamping Ayura yang baik. Dirinya juga belum sepenuhnya mengetahui apa saja yang harus dilakukannya sebagai imam rumah tangga. Sang ayah tak pernah memberikan contoh baik untuknya.
🍂🍂🍂
Semua orang yang berkepentingan sudah berkumpul di masjid Ash-Shoffat. Dedi, paman Ayura sudah datang bersama dengan Ade, pegawai di klinik khitan yang selama ini membantu Denis pasca khitan. Sepuluh hari setelah pria itu menjalani salah satu syarat menjadi mualaf, akhirnya kini waktu yang ditunggu telah tiba.
Sedianya Dedi dan Ade akan menjadi saksi ketika Denis mengucapkan dua kalimat syahadat. Haji Engkus yang akan membimbing pria itu mengikrarkan janji tersebut. Selain mereka, hadir pula Ko Steven, ketua Mualaf Center Indonesia. Dia dan juga rekan-rekan lainnya yang nantinya akan membantu Denis mempelajari tentang Islam. Ayura juga Azka ikut hadir di sana.
Haji Engkus mempersilahkan Denis untuk mengambil wudhu terlebih dulu. Dengan diantar Ade, pria itu menuju tempat berwudhu. Didampingi Ade, Denis memulai ritual wudhunya. Dia memang sudah hafal rukun dan urutan berwudhu. Selesai membersihkan diri dari hadast kecil, Denis kembali ke dalam masjid. Haji Engkus bersiap untuk membimbing Denis mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Asyhadu alla ilaahailallah..”
“Asyhadu alla ilaahailallah..”
“Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..”
“Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..”
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah.”
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah.”
“Alhamdulillah.. sekarang kamu sudah resmi memeluk agama Islam.”
“Ahamdulillah..”
Terdengar ucapan hamdalah Denis juga yang lain. Rasa haru menyeruak dalam hati pria ini. Dari Ko Steven dia mendengar bahwa Allah telah berjanji, setiap orang yang dengan bersungguh-sungguh menjadi menjadi mualaf, maka dosa-dosanya di masa lalu dihapuskan dan dirinya menjadi selembar kertas putih yang belum ternoda. Mata Denis tergenang airmata bahagia. Kini dirinya siap menapaki hidup baru sebagai seorang muslim.
Keharuan pun dirasakan oleh Ayura. Wanita itu mengusap airmata di sudut matanya. Perasaannya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Menjadi saksi peristiwa penting dari lelaki yang menjadi penolongnya, merupakan kebahagiaan sendiri untuknya.
Denis menyalami satu per satu semua orang yang ada di sana. Tak ada para sahabat yang biasa menemaninya selama ini. Namun itu sudah menjadi keputusannya, memberikan kejutan bahagia untuk orang-orang yang disayanginya termasuk pada Nick. Pria yang menjadi motivasi terbesarnya untuk berubah.
Setelah resmi memeluk agama Islam, seperti yang telah direncanakannya, Denis sementara akan ikut bersama Ko Steven. Dia akan tinggal sementara waktu di rumah tinggal yang disediakan Mualaf Center Indonesia bagi para mualaf yang ingin mempelajari Islam. Ayura membantu Denis bersiap.
“Ay.. aku ngga akan lama tinggal di sana. Paling lama dua minggu. Aku belajar hal pokok aja seperti shalat dan mengaji, sedang pelajaran yang lain akan kupelajari sambil jalan aja. Kamu dan Azka tetap tinggal di apartemen ya. Takutnya Arif masih mengganggumu.”
“Aku pulang aja ke rumah.”
“Tapi bagaimana kalau dia datang dan mengganggumu lagi? Apa kamu ngga kasihan sama Azka?”
“Untuk sementara Azka akan tinggal bersama mama. Aku ngga bisa menghindari Arif terus-terusan. Aku harus menghadapinya untuk menyelesaikan semuanya supaya dia tidak mengganggu lagi.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Ok... tapi kalau ada apa-apa kamu harus cepat hubungi aku.
“Iya. Kamu ngga usah khawatir. Kamu belajar aja dengan tenang, supaya kamu bisa kasih kejutan manis buat sahabatmu.”
Denis menganggukkan kepalanya seraya mengulum senyum. Rasanya dia ingin secepatnya belajar dan kembali pada para sahabatnya. Pria itu ingin datang dan menunjukkan sisinya yang baru. Denis benar-benar bersemangat menapaki kehidupan barunya mulai sekarang.
🍂🍂🍂
Aneka hidangan sudah tersedia di meja makan. Tina sengaja menyiapkan banyak makanan malam ini. Bagas beserta istrinya datang berkunjung dan ingin makan malam bersama. Sansan bantu membawakan piring dan gelas lalu menatanya di meja makan. Begitu semua siap, Tina segera memanggil suami, anak dan menantunya.
Makan malam berlangsung dengan tenang. Hanya pembicaraan ringan saja yang terjadi. Bagas sengaja menunda pembicaraan sampai makan malam berlangsung. Sang istri yang tahu maksud dan tujuan suaminya makan malam bersama keluarga, tak banyak berbicara. Sebenarnya dia juga kecewa dengan sikap Sansan.
Bagas memperhatikan mama dan papanya yang sudah menghabiskan makan malamnya. Sang papa tengah menyeruput teh hangat tawar kesukaannya. Lalu matanya melihat ke arah Sansan yang juga telah menyelesaikan makannya. Pria itu merasa ini adalah saat yang tepat untuk memulai pembicaraan.
“Gimana kabarnya Vicky?” Bagas membuka pembicaraan.
Sansan cukup terkejut mendengar pertanyaan sang kakak. Pasalnya sejak dia mengenalkan Vicky sebagai kekasihnya, gadis itu tak pernah membicarakan pemuda itu lagi. Setelah kejadian di acara ulang tahun temannya, Sansan memutuskan mengakhiri hubungan dengan Vicky.
“Eh iya, udah lama dia ngga ke sini, San?” sambung Tina.
“Ck.. ngapain juga ke sini,” sahut Beni.
Pria itu memang tidak menyukai Vicky dan menentang hubungan sang anak dengan pemuda itu. Dia bersikeras menjodohkan Sansan dengan Abe dan akhirnya Sansan memutuskan membuka sepak terjang Abe demi membatalkan rencana pernikahan. Beni sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kebiasaan Abe. Menurutnya itu sesuatu yang masih bisa dirubah. Namun reaksi sang istri yang ikut menilai buruk Abe, membuat pria itu mengalah.
“Kamu masih pacaran sama Vicky?” akhirnya Mila, istri Bagas membuka suaranya juga. Dia sengaja membuka jalan untuk sang suami menuju topik yang sebenarnya.
“Udah putus.”
“Kenapa?” tanya Mila lagi.
“Karena dia laki-laki ngga baik, brengsek,” jawab Bagas.
Sansan melihat sang kakak. Dirinya langsung menebak pasti Abe yang telah menceritakan perihal Vicky pada Bagas. Gadis itu bertambah kesal pada Abe. Sansan yakin Bagas pasti akan memojokkannya karena kakaknya itu pendukung garis keras Abe.
“Maksud kamu apa, Gas?” tanya sang mama.
“Emang Sansan ngga cerita kalau si Vicky coba kasih obat penenang ke minuman Sansan. Coba kalau berhasil, apa mama yakin anak mama bakalan baik-baik aja?”
“Kak!!”
“Apa? Kamu menyembunyikan kebusukan Vicky tapi mengumbar aib Abe supaya pernikahan kalian batal. Kamu juga menyembunyikan fakta kalau Abe yang sudah menolongmu waktu itu. Kalau Abe ngga datang, mungkin Vicky sudah membawa kamu ke hotel.”
Baik Beni maupun Tina terkejut mendengar ucapan anak sulungnya. Keduanya langsung melihat ke arah Sansan. Anak gadisnya itu masih mengatupkan mulutnya. Bagas berdecih melihat sikap sang adik.
“Apa benar itu San?” tanya Beni.
“Iya pa.”
“Kenapa kamu ngga bilang? Dan kenapa kamu ngga cerita kalau Abe yang udah nolong kamu?”
“Karena papa pasti akan menentang aku membatalkan pernikahan. Walau dia pernah menolongku tapi ngga menghapus kenyataan kalau dia itu laki-laki brengsek. Bayangkan aja barang haram yang masuk ke dalam tubuhnya. Sudah pasti sikapnya pun ngga akan jauh dari keburukan.”
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu merasa sudah menjadi orang baik. Bahkan bersikap baik pada orang yang sudah menolongmu saja kamu tidak mau. Apa itu mencerminkan akhlak yang baik?”
“Gas.”
Tina menegur anak lelakinya ini. Wanita itu berusaha meredam suasana panas yang mulai tercipta di ruang makan ini. Mila mengusap punggung tangan suaminya yang terlihat emosional.
“Apa kamu tahu kalau seminggu ini Abe dirawat di rumah sakit?”
“Penting gitu aku harus tahu.”
“Kamu harus tahu karena kamu penyebab dia masuk rumah sakit.”
“Maksud kakak apa?”
“Dia sudah menolongmu dari gangguan para preman. Apa kamu tahu kalau dia terkena tusukan saat menolongmu? Dan kamu pergi begitu saja tanpa mengecek keadaannya lebih dulu.”
“Yang bener Gas? Bagaimana keadaan Abe sekarang?”
“Alhamdulillah kondisinya udah baikan ma.”
“Hilih lebay, paling kegores aja.”
BRAK!!
Sansan terkejut saat Bagas menggebrak meja makan. Pria itu benar-benar tak dapat menahan diri lagi melihat sikap sang adik. Mila langsung menenangkan suaminya. Beni berdehem kencang untuk meredakan konflik yang mulai memanas. Sansan sendiri tampak tak peduli. Semakin dirinya dipojokkan, semakin dia membenci Abe.
“Bagaimana keadaan Abe?” kini Beni yang bertanya.
“Seperti yang kubilang pa. Kondisinya sudah membaik sekarang. Memang luka tusukannya ngga dalam tapi mengenai pembuluh darah jadi dia kehilangan banyak darah. Sedikit saja teman Abe terlambat menemukannya, nyawa Abe mungkin sudah melayang. Dan anak papa yang ngga tahu diri ini ngga ada itikad baik sama sekali menanyakan keadaan Abe.”
“Aku kan ngga tau kak,” Sansan membela diri.
“Makanya bertanya kalau kamu merasa berhutang budi. Minimal kamu lihat keadaannya bukannya langsung pergi begitu saja malam itu!”
“Sudah.. sudah.. Sansan, besok ikut mama sama papa menjenguk Abe.”
“Mama sama papa aja.”
“Tuh lihat kelakuan anak mama. Sebenarnya siapa yang brengsek di sini? Abe yang sekarang sudah berusaha menjadi pribadi yang baik dan sudah menyelamatkan kamu dua kali. Atau kamu yang tidak tahu berterima kasih pada orang yang sudah menolongmu? Kamu juga menyebar aibnya demi kepentingan kamu sendiri.”
Bagas bangun dari duduknya. Dia langsung berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pulang. Tujuannya makan malam sudah tercapai. Namun berbicara dengan Sansan malah membuat darahnya mendidih. Kini hanya tinggal Sansan beserta kedua orang tuanya yang tersisa di meja makan. Kepala gadis itu tertunduk dalam, sadar kalau kedua orang tuanya tengah merasakan kecewa padanya.
🍂🍂🍂
Keesokan harinya Beni beserta Tina dan Sansan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Abe. Kebetulan sekali Syarif dan Eni juga tengah berada di sana. Beni langsung menyampaikan ucapan terima kasihnya pada Abe di hadapan Syarif. Ayah dari Abe itu hanya terdiam begitu mengetahui peristiwa sebenarnya insiden penusukan yang menimpa Abe.
Tina meminta Sansan untuk mengucapkan terima kasih. Dengan malas-malasan, Sansan mengucapkan terima kasih pada Abe. Tak ada tanggapan dari Abe, walau tak pernah menanggapi sikap sinis Sansan, namun dia kesal juga melihat perilaku gadis itu. Tina terpaksa mengucapkan maaf atas nama sang anak.
Perbincangan panjang terjadi antara Syarif dan Beni. Sejatinya kedua orang itu masih menginginkan anak-anaknya bersatu dalam ikatan pernikahan. Namun Beni juga tak terlalu memaksa. Dia cukup malu hati melihat perilaku anak bungsunya. Sementara Sansan yang merasa jenuh memilih keluar dari kamar.
Di dekat lift Sansan berpapasan dengan Iza yang hendak menjenguk Abe. Melihat Sansan, Iza memutuskan mengajak berbicara dengan gadis itu. Setelah mendengar cerita Nick, Iza penasaran ingin melihat dan mendengar langsung tanggapan Sansan tentang Abe. Wanita itu mengajak Iza duduk di salah satu kursi tunggu.
“Habis jenguk Abe ya?”
“Hmm..”
“Katanya pernikahan kalian batal?”
“Emang udah seharusnya batal. Males aku nikah sama laki-laki yang kerjanya keluar masuk klub malam.”
“Dulu Abe dan yang lain memang sering ke klub malam. Tapi sekarang udah ngga kok. Mereka sudah berubah, ke arah yang lebih baik pastinya.”
“Tetap aja... tapi aku ngga heran sih kalau kak Abe kaya gitu. Mungkin karena terpengaruh lingkungan juga. Orang-orang di sekitarnya kan bukan orang baik-baik juga. Ada yang tukang selingkuh, peliharaan tante-tante, suka celup sana sini.”
Iza cukup terkejut mendengar penuturan Sansan. Selain itu juga dia tersinggung atas ucapan Sansan. Secara tidak langsung gadis itu juga menghina suaminya. Sansan sendiri nampak tak peduli apakah ucapannya menyinggung Iza atau tidak. Sebelum putus Vicky sempat membeberkan kelakuan Abe dan para sahabatnya. Ada seorang wanita yang sakit hati ditolak oleh Nick dan menyebarkan masa lalu buruk kelima pria itu. Vicky mempertemukan wanita itu dengan Sansan ketika gadis mengatakan akan membatalkan pernikahan dengan Abe.
“Orang-orang di sekeliling Abe, maksudmu para sahabatnya? Berarti termasuk suami aku dong yang memberikan pengaruh buruk,” sindir Iza. Sansan langsung terdiam saat sadar salah bicara.
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Yang penting adalah dia menyadari kesalahan itu dan tidak mengulanginya lagi. Mantan pendosa yang bertobat lebih baik dari dzikirnya orang alim tapi sombong. Jangan terlalu rendah menilai orang dan terlalu tinggi menilai diri sendiri. Kamu begitu menghujat Abe dan semua sahabatnya, tapi apa kamu yakin kalau kamu lebih baik dari mereka? Ucapan yang keluar dari mulut kita adalah cerminan diri kita. Menurutku ucapanmu tadi tidak mencerminkan hal yang baik. Aku sarankan kamu jangan terlalu lama berada di sini. Takut kamu terkontaminasi keburukan kami.”
Usai mengeluarkan kata-kata nan menusuk pada Sansan, Iza berdiri lalu meninggalkan gadis itu sendirian. Ibu hamil itu perlu menjauh dari mantan calon istri Abe yang begitu menyebalkan akhir-akhir ini. Iza takut tak bisa mengendalikan diri dan mencakar wajah gadis tersebut.
🍂🍂🍂
**Selamat ya Denis udah disunat dan jadi mualaf. Udah lamar aja Ayura. Gue dorong dari belakang sampe ngejengkang🤣
Sansan... kamu ter..la..lu**..