The Nick's Life

The Nick's Life
Melepas Kerinduan



Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana di kediaman Ridho sudah dalam keadaan sepi. Semua penghuni sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Nick membantu Iza berbaring, setelah mengantarnya ke kamar mandi tadi. Kemudian dia merangkak naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh di samping Iza.


Nick memiringkan posisi tubuhnya menghadap pada Iza. Tangannya menarik pinggang Iza, hingga posisi istrinya itu menghadap ke arahnya. Netra coklat Nick memandangi wajah Iza yang tak pernah bosan dilihatnya. Untuk kedua kalinya pria ini jatuh cinta pada sang istri. Kehilangan ingatan tak lantas menyurutkan rasa cinta dan sayangnya pada wanita yang telah berhasil membuat hidupnya berarti.


Punggung tangan Nick mengusap pelan pipi Iza. Matanya terpejam, mencoba meresapi perasaan hangat yang menerpa. Dia mendekatkan wajahnya lalu menciumi setiap inci wajah cantik Iza. Dari mulai kening, alis, mata, pipi, hidung, dagu dan terakhir, Nick memagut bibir Iza. Dengan lembut dan penuh perasaan pria itu mel*mat bibir yang begitu dirindukannya.


Jantung Iza berdebar, dirinya seperti terlempar pada masa pertama kali Nick menyentuhnya. Kelembutan pria itu dalam setiap sentuhannya sama sekali tidak berubah. Nick meraih tangan Iza lalu menaruh di lehernya. Tangannya pun menelusup ke belakang tengkuk Iza. Dirinya mulai memperdalam ciuman mereka. Sebuah sesapan di bibir bawah Iza mengakhiri ciuman panjang mereka.


“Belum mengantuk?” tanya Nick.


“Aku takut untuk tidur.”


“Kenapa?”


“Aku takut kalau aku tidur dan bangun keesokan harinya, mas sudah tidak ada di sampingku lagi. Aku takut kalau semua ini hanya mimpi. Aku takut kehilanganmu lagi.”


“Ini bukan mimpi, sayang. Ciuman ini juga nyata,” Nick kembali mencium bibir Iza.


“Mas janji ngga akan tinggalin aku lagi?”


“Iya sayang. Aku janji akan selalu di sampingmu.”


Tangan Iza meraih pinggang Nick lalu merapatkan tubuhnya. Wanita itu menelusupkan kepalanya ke dada bidang sang suami. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Nick yang selalu bisa menenangkannya.


“Zi.. besok kita ketemu dokter Rega. Kata bang Ridho, ada donor mata untukmu.”


“Benarkah? Alhamdulillah.”


“Besok aku juga harus bertemu dengan dokter Rafli. Aku ada jadwal konseling besok.”


“Konseling?”


“Iya. Semenjak sadar dari koma, aku harus menjalani konseling. Itu membantuku untuk beradaptasi dengan keadaanku sekarang. Awalnya aku sangat frustrasi dengan kondisiku. Tidak bisa mengingat apapun, bahkan tidak bisa mengingat diriku sendiri. Aku diarahkan untuk bisa mengendalikan emosiku jika sebuah ingatan muncul di kepalaku. Aku dilatih untuk mempertajam intuisiku untuk mengingat orang-orang di sekelilingku. Sampai aku menemukanmu.”


“Terima kasih mas, tidak menyerah untuk mengingatku. Terima kasih mas tidak tergoda dengan perempuan lain.”


“Siapa?”


“Perempuan yang waktu itu di rumah sakit, yang menolongmu.”


“Bila? Dia itu asisten dokter Rafli. Dia dokter residen yang diminta dokter Rafli untuk membantuku.”


“Apa dia cantik?”


“Kenapa kamu tanya begitu? Apa kamu cemburu?”


“Apa aku tidak boleh cemburu? Dia pasti cantik, seorang dokter juga, fisiknya sempurna, sepertinya dia suka sama mas. Apa mas benar ngga ada rasa sama dia?”


Iza menunggu jawaban dari Nick, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibir suaminya. Dia terjengit saat merasakan tangan Nick tengah beraksi membuka kancing piyamanya satu demi satu.


“Mas..”


“Dari pada membicarakan Bila. Bagaimana kalau aku melaksanakan kewajibanku dulu yang sudah beberapa bulan tidak kujalankan.”


“Kewajiban apa mas?”


“Memberimu nafkah batin,” bisik Nick di telinga Iza.


Bibir Nick kembali menyapa bibir ranum sang istri, menyesapnya bergantian bagian atas dan bawahnya. Kemudian melesakkan bibirnya memasuki rongga mulut Iza, mencari lidah lawan kemudian menarik dan membelitnya, membuat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut.


Sudah sejak sore tadi Nick mencoba menahan diri. Melihat wajah cantik sang istri, berada dekat dengannya, menghidu aroma parfum yang bercampur dengan aroma tubuhnya sungguh membuat Nick tak bisa mengendalikan hasratnya. Keinginan untuk menyentuh Iza begitu kuat. Dan malam ini, dia sudah tak bisa menahannya lagi.


“Apa dulu kita sering melakukannya?”


“Hmm..” Iza mengeratkan pelukannya di leher Nick.


“Seberapa sering?”


“Kenapa mas tanya soal itu?”


“Aku mau tau, bagaimana dulu kita berhubungan.”


Iza tak menjawab. Dia malu sendiri kalau harus menjawab jujur. Suaminya yang kadang tak bisa menahan diri jika berdekatan dengannya. Pria itu bisa setiap malam meminta jatah darinya. Apalagi jika dirinya selesai datang bulan, Nick bisa meminta jatah dua kali lipat. Mengingat itu sukses membuat pipi Iza merona.


“Kenapa pipimu merah hmm..”


“Ng.. ngga apa-apa.”


“Kamu belum jawab pertanyaanku.”


“Pertanyaan yang ma..na…”


Iza terbata ketika Nick mulai menciumi lehernya. Sebuah des*han lolos dari bibirnya ketika tangan sang suami mulai meremat salah satu bukit kembarnya. Tak dapat dipungkiri dirinya begitu merindukan momen ini. Kadang Iza membayangkan kalau Nick masih hidup dan tengah menyentuh dirinya. Dan sekarang, apa yang terjadi bukanlah mimpi atau angannya semata. Suaminya tengah mencumbui dirinya. Tanpa dapat ditahan buliran bening mengalir dari sudut matanya.


“Kenapa sayang? Kenapa menangis?” Nick menyeka airmata di pipi Iza.


“Aku hanya merindukanmu. Aku rindu kebersamaan kita.”


“Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu.”


Nick membenamkan bibirnya di leher Iza kemudian menyesapnya pelan. Tangannya menelusup ke belakang punggung sang istri kemudian membuka kaitan penutup bukit kembarnya. Perlahan, Nick melepaskan pakaian yang dikenakan Iza hingga tubuh bagian atasnya tak tertutup apapun. Kepala Iza terdongak ke atas ketika Nick mulai menciumi dan menyesap bukit kembarnya.


Pria itu menegakkan tubuhnya sebentar untuk melepaskan kaos yang membungkus tubuhnya. Diraihnya tangan Iza kemudian membawa ke dadanya. Telapak tangan Iza menelusuri dada bidang suaminya. Kemudian tangannya bergerak melingkari leher Nick. Dengan leher sang suami sebagai tumpuan, Iza mengangkat tubuhnya sedikit kemudian menciumi dada Nick.


“Sayang…”


Hasrat Nick semakin membara seiring dengan ciuman yang diberikan Iza di dadanya. Dia mengecupi belakang telinga sang istri lalu memberikan gigitan kecil di cuping telinganya. Lidahnya juga menelusuri leher, bahu hingga dada Iza. Ciuman Nick terus turun menelusuri tubuh mulus di bawahnya. Beberapa kali pria itu mengecup perut rata istrinya.


Tubuh Iza menggelinjang saat sang suami bermain di bawah sana. Tangannya meremat erat ujung bantal, kepalanya terdongak beberapa kali. Dirinya seperti tersengat aliran listrik saat Nick terus menerus memberikan sentuhan untuknya. Tak lama kemudian tubuhnya bergetar hebat saat gelombang hangat menghantamnya.


Udara di sekitar kamar Iza kian terasa panas akibat aktivitas dua insan yang tengah bergelung dengan kenikmatan. Nick terus bergerak demi memberikan kepuasan untuk sang istri. Dirinya juga berusaha menggapai puncak surgawi yang sebentar lagi akan diraihnya. Titik peluh memenuhi punggungnya seiring dengan pergerakannya yang semakin cepat dan akhirnya diakhir lenguhan panjang Iza dan erangan Nick.


“I love you, Zi.. love you so much..” Nick menciumi wajah Iza yang bersimbah keringat.


“I love you too mas,” jawab Iza dengan nafas tersengal.


Nick masih berada di atas Iza. Tangannya mengusap peluh di wajah sang istri, kemudian mengakhiri penyatuan mereka barusan dengan sebuah ciuman panjang.


🍂🍂🍂


Ridho memandangi ponselnya setelah selesai berbalas pesan dengan Mina. Dia mengabarkan perihal rencana operasi mata yang akan dijalani Iza dalam dua hari ke depan. Pria itu tercenung saat Mina mengabarkan kalau abinya akan ikut serta ke Bandung. Masih ada keengganan dalam diri Ridho bertemu dengan ayahnya itu. Terlebih Nick juga sudah kembali bersama Iza. Entah bagaimana reaksi Rahardi nanti.


Meta masuk ke dalam kamar dengan secangkir teh hangat di tangannya. Ditaruhnya dulu cangkir teh di atas nakas sebelum wanita itu mendudukkan diri di samping suaminya. Ridho terjengit saat Meta menyentuh tangannya.


“Ada apa bang?”


“Abang baru kasih kabar ke ummi soal operasi Iza. Ummi bilang, abi juga mau datang.”


“Apa abang masih marah sama abi?”


“Jujur.. iya, abang masih kecewa sama abi. Kalau saja abi tidak keras kepala, semua hal buruk tidak akan terjadi. Mungkin saat ini Iza dan nick sedang menunggu kelahiran anak mereka.”


Meta memeluk tubuh suaminya dari samping. Dia bisa memahami kekecewaan yang dirasakan suaminya. Seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung anaknya justru menyebabkan petaka. Meta tahu betul bagaimana kecewanya Ridho.


“Di mata abi, mungkin abang adalah anak durhaka.”


“Aku yakin, abi sudah menyadari kesalahannya. abi juga memahami kekecewaan abang padanya. Dengan membiarkan ummi kembali pada abi, itu menunjukkan kalau masih ada rasa sayang dan peduli di hati abang untuk abi. Abi pasti berterima kasih pada abang karena sudah mengambil alih tugasnya menjaga Iza dan memberinya perlindungan.”


“Apa abang salah kalau masih belum bisa menerima kehadiran abi sepenuhnya?”


“Aku percaya, abang akan mampu berbesar hati memaafkan abi. Abang hanya masih membutuhkan waktu untuk menyingkirkan kekecewaan.”


“Karena suamiku orang yang baik. Suamiku bukan orang yang akan terus berkubang dalam kekecewaan dan kebencian. Suamiku, dingin di luar tapi hangat di dalam.”


“Ucapanmu begitu ambigu.”


“Ambigu bagaimana?”


“Dingin di luar tapi hangat di dalam. Kenapa aku mengartikan lain dari perkataanmu itu.”


Meta yang menyadari arah pembicaraan suaminya buru-buru melepaskan pelukannya. Wanita itu berdiri kemudian berjalan menuju nakas tempatnya menaruh cangkir teh. Ridho terkekeh melihat Meta yang nampak gugup, membuatnya semakin senang menggodanya. Pria itu berdiri kemudian menghampiri sang istri. Meta berbalik tepat ketika Ridho sampai di dekatnya.


“Minum dulu tehnya, bang,” Meta menyodorkan cangkir teh pada Ridho.


“Nanti saja, masih panas. Biarkan dingin sebentar.”


Ridho kembali menaruh cangkir teh di atas nakas. Meta menahan nafas saat tubuh Ridho merapat padanya demi bisa mencapai nakas di belakangnya. Hanya dengan menghirup aroma tubuh Ridho saja sudah membuat Meta kehilangan akal sehatnya. Dia selalu berharap Ridho menyentuhnya. Apalagi sudah empat hari ini Ridho tak menyentuhnya. Sungguh wanita itu begitu mendamba sang suami membuatnya melayang. Namun dirinya juga tak berani dan malu untuk meminta lebih dulu.


“Sudah malam. Ayo kita tidur,” ajak Ridho.


“Tapi tehnya bang.”


“Masih panas.”


“Ya nanti kalau abang ketiduran, malah ngga keminum, mubazir.”


“Ya udah tunggu 5 menit cukup kan?”


“Cukup. Tapi abang jangan tiduran, nanti malah ketiduran beneran. Say… mmpphhh..”


Kata-kata Meta terputus begitu saja saat Ridho menyambar bibirnya. Walau terkejut namun tak ayal Meta membalas ciuman suaminya. Kini wanita itu sudah tak malu lagi dalam beradu bibir. Lidah Ridho masuk lalu beradu dengan lidah Meta, saling menarik, membelit dan berbagi saliva.


Ciuman terjeda sejenak demi mengisi rongga paru-paru mereka. Keduanya kembali melanjutkan pertautan bibir. Semakin lama, Meta semakin lihai melayani permainan bibir suaminya. Tangannya memeluk erat leher Ridho, membuat ciuman mereka bertambah dalam. Ridho mengakhiri ciumannya dengan sebuah kecupan ringan.


Ridho meraih cangkir teh seraya mendudukkan diri di sisi ranjang. Ditariknya Meta hingga duduk di pangkuannya. Perlahan pria itu menyesap teh yang masih terasa hangat, kemudian mengarahkan cangkir bekas bibirnya pada Meta. Sambil menatap netra suaminya, Meta menyeruput teh hangat itu.


Setelah berbagi minuman dan menghabiskannya, mereka naik ke atas kasur, bersiap untuk tidur. Meta merapatkan tubuhnya pada Ridho kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami. Ridho membenahi rambut Meta yang sedikit acak-acakan karena ulahnya tadi.


“Apa kondisimu sudah baikan? Apa masih lemas?”


“Alhamdulillah udah baikan, bang. Kemarin aku masuk angin kayanya.”


“Syukurlah. Jangan terlalu capek. Kamu cari orang saja yang bisa membantumu mengurus rumah.”


“Rumah kita ngga besar, bang. Aku masih mampu mengurusnya sendiri.”


“Kamu yakin?”


“Huum.. lebih baik uangnya ditabung untuk calon anak kita nanti.”


Ridho mengangkat tubuhnya kemudian menyingkap piyama yang dikenakan sang istri. Tiga buah kecupan diberikan di perut Meta yang masih rata disusul dengan usapan tangannya.


“Semoga buah hati kita segera hadir.”


“Aamiin..”


Ridho kembali membaringkan tubuhnya ke posisi semula. Meta sedikit kecewa, dipikirnya tadi Ridho akan mencumbu dirinya. Tanpa sadar Meta memberengut dan itu tertangkap oleh Ridho.


“Kenapa? Kok manyun.”


“Ngga. Biasa aja kok. Kalo manyun tuh kaya gini,” Meta memajukan bibirnya membuat Ridho tergelak.


“Sayang..”


“Hmm..”


“Ibadah yuk.”


Ajakan Ridho membuat mata Meta berbinar. Wanita itu tahu betul ibadah yang dimaksud sang suami. Kepalanya mengangguk penuh semangat dan itu sukses membuat Ridho tercengang.


“Semangat banget. Nungguin ya,” goda Ridho.


“Kan udah empat hari, bang. Tumben aja, gitu.”


“Kemarin-kemarin kamunya sakit. Abang ngga tega mau ngajak ibadah. Padahal kalau mau, bilang aja, sayang.”


“Malu, bang,” Meta menelusupkan kepalanya di dada Ridho.


“Kenapa harus malu? Abang malah seneng kalau kamu minta duluan.”


Ridho menyentuh dagu Meta lalu mengarahkan wajah istrinya itu menghadapnya. Kemudian pria itu menempelkan bibirnya seraya memasukkan lidahnya. Dengan cepat Meta menyambut lidah Ridho kemudian menariknya. Ciuman panas pun kembali tercipta di antara keduanya.


Tubuh Meta tak berhenti bergerak saat merasakan sentuhan suaminya yang bermula dari atas sampai ke bagian bawahnya. Permainan suaminya semakin liar saja dan membuat dirinya seakan dilemparkan ke awang-awang. Des*han dan lenguhan tak henti keluar dari bibirnya. Tangannya meremat rambut sang suami, sebisa mungkin menahan gelanyar-gelanyar aneh yang membuatnya tak enak diam.


Kehangatan di kamar sebelah sepertinya menular ke kamar ini. Pasangan suami istri ini juga tak mau kalah dengan pasangan CLBK di sebelah. Mereka juga ikut berbagi keringat dan kenikmatan. Menguarkan udara panas ke sekeliling kamar dan membuat dinding kamar menyerap des*han serta deru nafas mereka.


Ungkapan cinta Meta tadi sore membuat Ridho semakin bersemangat menggarap sawah istrinya. Tenaganya seakan bertambah dua kali lipat, ditambah sudah empat hari dia tak berkunjung ke gua hangat tempat benda pusakanya biasa terparkir. Meta tak kuasa menghentikan racauannya ketika Ridho terus menerus memberikan kenikmatan padanya. Bahkan suaminya itu juga sudah mulai mencoba gaya lain dalam bercinta. Tidak hanya menggunakan gaya klasik saja, seperti sebelumnya.


Tubuh Meta mulai lelah melayani permainan suaminya, namun dia pun masih belum mau berhenti merasakan kenikmatan ini. Tangan Meta mencengkeram punggung Ridho erat saat dirinya kembali dihantam gelombang hangat. Ridho yang masih belum sampai ke puncaknya terus memompa miliknya.


Meta semakin dibuat gila dan melayang saat Ridho menggunakan gaya berbeda untuk memuaskannya. Deru nafas suaminya terdengar jelas seiring dengan pergerakannya yang semakin cepat. Akhirnya Ridho bisa mendapatkan kepuasannya bersamaan dengan pencapaian sang istri untuk yang ketiga kalinya.


Tubuh Ridho jatuh ke samping dengan nafas terengah. Percintaan malam ini sungguh menguras tenaganya namun juga sangat memuaskan. Bisa jadi karena satu beban dalam hidupnya sudah terangkat. Pria itu menoleh ke arah Meta yang masih berusaha mengatur nafasnya. Kulit sang istri yang putih bersih nampak kemerahan setelah pergulatan panas mereka.


Perlahan Ridho menegakkan tubuhnya. Dikenakannya kembali pakaian miliknya yang berceceran di lantai, begitu pula dengan Meta. Keduanya kemudian keluar kamar untuk membersihkan diri di kamar mandi yang ada di luar. Sepertinya Ridho harus membuat kamar mandi di dalam kamarnya. Posisi rumahnya yang ada di bagian ujung, membuatnya memiliki kelebihan tanah yang bisa digunakan untuk memperluas rumah.


🍂🍂🍂


Maira meringis merasakan sakit di bagian perutnya saat menegakkan diri setelah menunaikan ibadah shalat shubuh. Dengan tertatih dia menuju ranjang lalu mendudukkan diri di sisinya. Tangannya melipat mukena yang digunakan tadi lalu membaringkan tubuhnya.


Semalaman Maira tak bisa tidur karena rasa sakit yang terus menderanya. Dia bertahan karena tak ingin membuat ibunya cemas. Dipikirnya rasa sakit itu akan berangsur menghilang, namun nyatanya tidak. Tangannya meraba nakas di sebelahnya ketika mendengar ponselnya berdering.


Tangan Maira mengusap ikon hijau ketika melihat Fahrul yang melakukan panggilan. Seperti biasa, setiap habis shubuh, Fahrul selalu menghubunginya. Suaminya itu senantiasa membacakan ayat suci Al-Qur’an untuk calon buah hati mereka. Maira mendekatkan ponsel ke perutnya.


Selesai dengan tadarusnya, Fahrul mengganti panggilan dari panggilan suara menjadi panggilan video. Seketika wajahnya terlihat memenuhi layar ponsel. Pria itu terkejut melihat wajah pucat sang istri.


“Mai.. kenapa mukamu pucat begitu? Kamu sakit?”


“Ngga, a. Mungkin karena semalam aku ngga nyenyak tidurnya.”


“Kenapa? Apa perutmu sakit?”


“Ngga, aku ngga bisa tidur nyenyak karena kangen ingin tidur dalam pelukanmu,” bohong Maira. Dia tak ingin membuat suaminya khawatir. Jika Fahrul tahu kesakitan yang dirasakannya, suaminya itu pasti akan langsung datang. Dan pasti akan terjadi keributan antara Fahrul dengan abahnya.


“Aa juga merindukanmu. Sabar ya sayang. Aa akan terus berusaha meluluhkan hati abah. Tolong bantu dengan doa.”


“Iya, a.”


“Sekarang kamu tidur aja lagi. Kalau ada apa-apa, hubungi aa. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Maira meletakkan ponsel di samping bantalnya ketika panggilan berakhir. Dia berusaha untuk memejamkan matanya. Baru sebentar dia memejamkan mata ketika rasa sakit kembali menderanya. Kali ini rasa sakit diiringi dengan cairan yang merembes keluar dari bagian bawahnya.


Dengan susah payah Maira menegakkan tubuhnya. Mata wanita itu membelalak ketika melihat cairan bening bercampur lendir merah merembes keluar dari sela-sela kakinya membasahi seprai.


“Ummi.. UMMI!! UMMI!!”


Meta😱😱😱