
Iza terduduk diam di balkon kamarnya. Matanya menatap kosong ke arah depannya. Sudah seminggu berlalu sejak perpisahannya dengan Nick. Gadis itu tak punya keberanian untuk menghubungi lelaki itu. Kata-katanya yang mengtakan mungkin mereka tak berjodoh, melekat kuat dalam ingatannya.
Mata Iza berembun mengingat bagaimana perjalanan kisah cintanya. Dulu saat mencoba merajut mimpi dengan Anang, dia juga dikecewakan. Pria itu begitu saja meninggalkannya tanpa mengucapkan perpisahan atau kata maaf. Dan kini dengan Nick, walau sempat ada kata maaf yang terucap namun tetap saja menyakitkan. Bahkan rasa sakit itu lebih dalam lagi.
Lamunan Iza terusik saat mendengar ponselnya berdering. Hati kecilnya berharap kalau Nick yang menghubunginya. Iza bergegas mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Harapannya tak terkabul, bukan Nick yang menghubungi, melainkan Ridho kakaknya. Gadis itu menggeser ikon hijau di layar.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam adik abang yang cantik. Gimana kabarnya?”
Mendengar suara Ridho, Iza tak bisa menahan tangisnya. Ridho terkejut saat bukan jawaban yang terdengar dari sang adik, tapi justru isak tangisnya.
“Zi.. kamu kenapa?”
“A..bang.. hiks.. hiks..”
Iza kembali menangis. Ridho membiarkan saja adiknya itu menangis sampai puas. Walau tanpa bercerita, dirinya bisa menebak kalau penyebab tangis sang adik adalah abinya sendiri.
Setelah puas menangis, Iza mulai menceritakan apa yang terjadi padanya. Dia memang telah menceritakan perihal Nick pada kakak laki-lakinya. Ridho memang mendukung hubungan Iza dengan Nick. Entah mengapa pria itu yakin kalau Nick bisa membahagiakan adiknya.
“Aku ngga kuat bang.. hiks.. abi ngga pernah berubah.. hiks..”
“Kamu sabar Zi. Sebentar lagi abang pulang. Abang akan bawa kamu pergi dari abi. Bagaimana dengan Nick?”
“Aku ngga tau bang, udah seminggu ini ngga ada kabar. Aku juga takut hubungi dia lebih dulu. Dia marah banget bang hiks.. hiks..”
“Wajar sih, anak mana yang ngga marah mendengar ibunya dihina. Tapi abang yakin, dia pasti akan kembali padamu. Dia hanya perlu menenangkan diri saja. Kalau dia benar mencintaimu, dia akan kembali dan terus memperjuangkanmu.”
“Semoga aja bang.”
“Dengar Zi.. abang minta kamu bertahan bagaimana pun caranya. Tunggu abang pulang, abang akan bantu kamu dan Nick.”
“Iya bang, makasih.”
“Jangan nangis lagi. Kamu harus kuat. Kalau kamu lemah, kamu ngga akan bisa menghadapi abi. Tunjukkan kalau kamu tidak mudah terintimidasi oleh abi. Ada ummi yang akan mendukungmu.”
“Iya bang.”
“Jaga diri baik-baik. In Syaa Allah dua bulan lagi abang pulang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan berakhir, perasaannya sedikit lega setelah berbicara dengan sang kakak. Iza duduk di ranjang sambil memandangi ponselnya. Setelah memantapkan hati, gadis itu membuka aplikasi whatsapp kemudian mengirimkan pesan pada Nick
To My Beloved Nick :
Assalamu’alaikum. Nick, apa kabar?
Kamu baik-baik aja kan?
Maaf...
Iza terus memandangi ponselnya setelah mengirimkan pesan pada Nick. Tanda yang awalnya centang satu sudah menjadi dua, namun warnanya masih abu. Iza berbaring di kasur dengan ponsel tetap ada di dekatnya. Dia mencoba berpikiran positif, kalau Nick sedang sibuk dan belum sempat membaca pesannya.
Sementara itu di bawah, Mina tengah kedatangan kakaknya, Anton dan juga istrinya Winny. Ketiganya tengah berbicara di ruang makan sambil menikmati risoles juga singkong kukus. Mina mengeluarkan uneg-unegnya tentang kejadian seminggu yang lalu. Anton dan Winny mendengarkan dengan seksama.
“Kata Iza dan Nick, ibunya Nick sudah tobat. Terus masalahnya di mana?” Winny menanggapi cerita adik iparnya.
“Nah itu dia, mba. Aku ngga ngerti dengan jalan pikirannya. Kalau ibunya mau bertobat berarti ibunya itu wanita baik yang peduli dengan kebahagiaan anaknya. Ini kok ya ngeyel terus, gemes aku mba. Akhir-akhir ini aku diemin aja dia, biar mikir maksudnya. Eh dianya malah anteng-anteng aja, mungkin dipikirnya akhirnya aku setuju sama keputusannya.”
“Hahahaha... suamimu kan memang begitu. Keras kepala kaya batok kelapa,” sambar Anton.
Perbincangan mereka terjeda sejenak ketika Iza datang menghampiri. Dia mencium punggung tangan Anton dan Winny bergantian, lalu menarik kursi di samping umminya. Tangannya meraih risoles yang masih terasa hangatnya.
“Gimana kabarmu Zi?”
“Buruk om.”
“Sabar ya, Zi. Berdoa pada Allah, minta dilembutkan hati abimu,” Winny mengusap puncak kepala Iza.
“Padahal om suka loh sama Nick. Dia itu lelaki yang teguh pendiriannya, bertanggung jawab dan yang lebih penting, dia mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Dia ngga malu belajar sama Rivan yang usianya lebih muda dari dia. Om ngga ngerti apa yang membuat abimu ngga suka sama dia.”
Iza tak menanggapi perkataan pamanya. Dia hanya menikmati saja risoles buatan ummi. Perutnya memang lapar karena sedari malam tidak terisi apa pun. Selesai dengan risoles, Iza mengambil singkong kukus kemudian memakannya setelah mencocolnya ke sambal teri favoritnya.
“Abinya Iza itu matanya ketutupan kabut gunung Semeru.”
Ucapan Mina langsung disambut tawa oleh Anton juga Winny. Iza hanya tersenyum samar, hatinya kembali gundah mengingat Nick belum juga membaca pesan darinya. Mendadak selera makannya hilang. Dia mengambil segelas air putih untuk mendorong makanan yang terasa menyangkut di tenggorokannya.
Suasana hati Iza bertambah buruk ketika Rahardi datang. Pria itu langsung bergabung di meja makan. Pembicaraan kembali berlanjut, namun topik pembicaraan berubah, tak ada lagi pembahasan tentang Nick. Iza yang merasa bosan bangun dari duduknya. Baru saja kakinya akan melangkah, terdengar suara Rahardi memanggilnya.
“Zi... ke perpustakaan sebentar ya. Ada yang mau abi bicarakan.”
Iza tak menjawab dan tak merespon, dia meneruskan langkahnya menuju lantai atas. Walau enggan, Iza melangkahkan kakinya juga menuju ruang perpustakaan. Setelah menunggu lima menit, Rahardi masuk ke dalam ruangan. Pria itu duduk di hadapannya anaknya.
“Besok keluarganya om Faisal akan ke sini. Abi dan juga om Faisal akan menjodohkanmu dengan Syehan. Dia anak yang baik dan juga sudah memiliki pekerjaan yang bagus. Kamu akan bahagia bersamanya.”
“Udah bi, itu aja?”
“Apa pendapatmu tentang perjodohan ini?”
“Apa penting pendapatku bi? Percuma aja aku berpendapat kalau tidak pernah didengarkan. Semua berjalan sesuai keinginan abi. Ngga ada demokrasi di rumah ini.”
Tanpa mendengarkan jawaban Rahardi, Iza segera keluar dari perpustakaan. Rahardi cukup terkejut sekaligus tertohok mendengar ucapan sang putri. Namun dia menganggap kalau saat ini Iza masih marah padanya. Dan kemarahannya akan hilang seiring berjalannya waktu.
Iza masuk ke dalam kamar. Perasaannya bertambah kacau setelah berbicara dengan Rahardi. Rupanya abinya itu serius hendak menjodohkan dirinya dengan anak dari temannya. Iza mengambil ponsel di atas nakas kemudian melihat kembali pesan yang dikirimkan pada Nick. Gadis itu menghembuskan nafas panjang saat centang abu tak kunjung berubah menjadi biru.
Apa kamu benar akan mengakhiri hubungan kita? Apa kamu benar menyerah, Nick?
🍂🍂🍂
Pelan-pelan Iza membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Dengan terburu dia mengenakan sepatu ketsnya lalu membuka pintu pagar perlahan. Gadis itu menghembuskan nafas lega berhasil keluar dari rumah. Kemudian dengan cepat Iza berlari meninggalkan rumah.
Dengan nafas terengah dia sampai di depan sekolah. Di sana ojeg pesanannya telah menunggu. Gadis itu segera naik di belakang pengemudi. Tak lama kendaraan roda dua itu meluncur pergi.
Iza nekad kabur dari rumah demi menghindari pertemuan dengan keluarga Faisal. Sesuai pesan dari Ridho, dia harus bertahan bagaimana pun caranya. Dia memilih pergi dari rumah sementara waktu, sambil memikirkan jalan keluar dan menunggu sang kakak kembali.
Rahardi masuk ke dalam rumah setelah mengikuti kultum di masid. Pria itu langsung masuk ke kamar. Nampak Mina baru saja membereskan peralatan shalatnya. Rahardi segera mengajak sang istri duduk di sisi ranjang.
“Ummi hari ini masak yang enak ya.”
“Ada apa emang?”
“Teman abi, Faisal dengan keluarganya mau ke sini.”
“Cuma berkunjung atau ada maksud lain?”
Mina memicingkan matanya, menatap curiga ke arah sang suami. Rahardi hanya terkekeh melihat tingkah sang istri. Dia melepas kopeahnya, kemudian melihat ke arah wanita yang sudah dinikahinya selama dua puluh delapan tahun.
“Abi bermaksud menjodohkan Iza dengan Syehan.”
Karuan saja Mina terkejut mendengar penuturan suaminya. baru saja pria itu melukai hati sang anak dengan memisahkannya dari Nick. Sekarang Rahardi berniat menjodohkan Iza dengan anak temannya. Mina tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. hatinya bertambah geram saja.
“Abi tuh keterlaluan.”
“Keterlaluan gimana? Ini demi kebaikan Iza.”
“Kebaikan Iza apa kebaikan abi? Abi sudah tahu apa yang diinginkan Iza.”
“Apa yang diinginkan belum tentu baik untuknya.”
“Lalu menjodohkannya dengan Syehan adalah hal yang baik? Iza bukan anak kecil, dia bisa menimbang mana yang baik, mana yang tidak untuknya. Jika dia memilih Nick, maka dia tahu dan yakin kalau Nick adalah yang terbaik untuknya.”
“Lingkungan mempengaruhi baik buruknya seseorang. Ummi tahu sendiri bagaimana kelakuan ibunya. Belum lagi temannya yang tukang selingkuh. Bagaimana anak itu bisa baik dengan lingkungan seperti itu.”
“Terserah abi saja. Abi boleh teguh dengan pendirian abi, begitu pula ummi.”
Mina segera meninggalkan kamar, hatinya benar-benar kesal dengan sikap suaminya yang semakin lama semakin otoriter saja. Wanita itu kemudian naik ke lantai atas untuk menemui Iza. Mina mengetuk pintu kamar anaknya namun tak ada jawaban dari dalam. Dia membuka pintu kamar dan terkejut melihat kamar sang anak kosong.
Mina kemudian menuju kamar mandi, namun tak ada jejak Iza di sana. Didorong perasaan was-was, Mina membuka lemari baju. Dia memindai isi lemari dan menyadari kalau jumlah pakaian sang anak berkurang. Belum lagi kosmetik yang biasa dipakai Iza juga tidak ada di tempatnya.
Dengan langkah tergesa Mina menuruni tangga. Dia langsung menuju dapur untuk menanyakan pada asisten rumah tangganya tentang Iza. Namun wanita paruh baya itu juga tidak mengetahuinya. Rahardi yang mendengar ribut-ribut di dapur segera menghampiri.
“Ada apa ummi?”
“Iza ngga ada bi. Iza kabur dari rumah.”
“Yang bener?”
Rahardi yang panik mendengar putrinya kabur, bergegas naik ke lantai atas. Tak menemukan Iza di sana, dia kembali turun ke bawah. Pria itu memutari rumah untuk mencari jejak sang anak. Sepuluh menit kemudian dia kembali tanpa tahu kemana anaknya pergi.
“Ketemu bi?”
“Ngga. Ini pasti ulah Nick. Dia pasti yang udah bawa kabur anak kita.”
“Berhenti menyalahkan orang lain. Anak kita kabur karena abi. Karena abi yang selalu memaksakan kehendak. Iza pergi karena ngga mau dijodohkan dengan Syehan.”
“Ngga. Ini pasti karena Nick. Kemarin anak itu ngga menolak sama sekali.”
Rahardi segera masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Tak lama dia keluar kembali dengan kunci mobil di tangannya. Pria itu segera mengendarai mobil tanpa memanaskannya terlebih dulu.
🍂🍂🍂
Rivan baru saja mengeluarkan motornya ketika mobil Rahardi berhenti di depannya. Pemuda itu menyambut kedatangan pamannya dengan mencium punggung tangannya. Anton yang hendak berangkat kerja juga menghampiri adik iparnya itu.
“Ada apa Di, pagi-pagi ke sini.”
“Aku ada perlu dengan Rivan.”
“Ada apa om?”
“Kamu tahu di mana rumah Nick?”
“Tahu om, kenapa?” Rivan bingung kenapa tiba-tiba Rahardi menanyakan kediaman Nick.
“Antar om ke sana sekarang.”
“Mau ngapain om? Aku kan mau sekolah.”
“Iza hilang, dia pergi dari rumah. Sepertinya Nick yang sudah membawanya pergi.”
“Tapi kata bang Arnav, bang Nick pergi naik gunung.”
“Alasan itu. Dia mau buat alibi, padahal dia udah ada rencana mau bawa kabur Iza.”
“Astaghfirullahaladziim.. kamu jangan asal tuduh gitu, Di. Ya sudah Rivan, kamu antar saja om-mu ke rumah Nick. Biar dia percaya kalau bukan Nick yang sudah membawa pergi Iza.”
Rivan mengangguk, dia memasukkan kembali motornya. Setelah mencium punggung tangan papanya, dia masuk ke dalam mobil. Rahardi langsung melajukan kendaraannya menuju daerah pondok pinang. Tempat di mana apartemen Nick berada.
🍂🍂🍂
Diah meninggalkan pekerjaannya ketika terdengar bel berbunyi. Bunyi bel yang terus menerus, menandakan kalau sang tamu tidak sabaran. Wanita itu melepaskan celemeknya lalu buru-buru membukakan pintu. Wanita itu terkejut melihat pria yang tak dikenal langsung menerobos masuk.
“Mana Iza?”
🍂🍂🍂
Meneketehe om, sumpah bukan gue yang ngumpetin, suer takewer²✌️