The Nick's Life

The Nick's Life
Masa Tenang



Mendengar kabar kehamilan Iza, Mina merasa begitu bahagia. Dengan cepat dia menuju kediaman Diah membawakan banyak makanan untuk putrinya. Kedatangannya disambut Iza penuh suka cita. Di masa awal kehamilannya ini, wanita itu menjadi sedikit lebih manja.


“Akhirnya ummi bakalan punya cucu. Ngarepin dari abang kamu kelamaan. Makasih ya Nick, Iza, ummi benar-benar bahagia.”


“Aku juga bahagia, ummi,” Iza memeluk ummi.


“Ayo kita makan dulu, kepiting saos padang pesanan Iza sudah siap.”


Diah datang bergabung di ruang tengah setelah berkutat di dapur membuatkan keinginan sang menantu. Mendengar kepiting saos padang, air liur Iza seperti hendak menetes. Wanita itu bergegas menuju ruang makan. Wangi harum daun jeruk dan warna merah dari cabai serta saos begitu menggodanya. Diah mengambilkan satu buah kepiting dan menaruhnya di piring Iza.


“Nick.. bantu istrimu,” titah Diah.


“Iya mom.”


“Maaf ya mba.. kalau Iza merepotkan.”


“Jangan bilang begitu. Iza itu menantuku, berarti dia anakku juga. Apalagi sekarang dia sedang mengandung cucuku, aku senang melakukan ini. Aku hanya punya Nick, it'slike a dream come true (seperti mimpi jadi kenyataan) melihat dia menikah dan akan mempunyai anak. Dulu dia itu ngga pernah bawa satu perempuan pun buat dikenalkan. Cuma teman laki-lakinya saja yang bolak-balik ke sini. Sampai aku sempat ngira anakku itu gay,” Diah terkikik geli.


“Mom..” protes Nick.


“Sekalinya punya langsung tancap gas ya,” timpal Mina.


“Iya, dan terbukti anakku ternyata lelaki tulen.”


Diah tak dapat menahan tawanya melihat wajah Nick yang sudah memerah. Sebisa mungkin dia mengabaikan perbincangan absurd dua calon nenek itu. Pria itu fokus saja membukakan kepiting untuk sang istri.


Usai makan, keempatnya berpindah duduk di ruang tengah. Mina tersenyum melihat sang anak yang begitu manja pada Nick. Iza tak mau berada jauh dari suaminya itu, walau mereka masih berada di bawah atap yang sama.


“Ummi.. kabar abi gimana?”


Iza penasaran juga dengan keadaan sang ayah. Pasalnya selama dua minggu ke belakang, tak ada pergerakan sama sekali dari pria itu. Keadaan tenang-tenang saja dan itu membuat Iza senang sekaligus was-was.


“Abimu baik-baik saja. Sekarang dia lagi ada di Makassar. Abi diminta jadi dosen tamu di sana selama dua bulan. Baru dua minggu berjalan, masih enam minggu lagi abimu di sana.”


“Kata Syehan abi punya mata-mata.”


“Urusan mata-mata beres. Ummi udah sogok dia buat kasih laporan palsu ke abimu.”


“Makasih ummi. Maaf karena aku, ummi harus menentang suami sendiri.”


Iza memeluk tubuh ibunya. Mina memeluk punggung sang anak seraya mengusapnya pelan. Akhir-akhir ini hubungannya dengan Rahardi memang merenggang karena sang anak. Namun semua dilakukan demi kebahagiaan anaknya.


“Ummi baik-baik aja. Tapi ummi kangen sama kamu,” Mina mencium puncak kepala Iza.


“Mba.. apa boleh Iza menginap di rumah selama abinya tidak ada?” tanya Mina pada Diah.


“Kalau aku ngga keberatan. Bagaimana dengan kamu, Nick?”


“Aku juga ngga keberatan, ummi.”


“Terima kasih Nick. Kamu memang anak yang baik.”


Mina mengusap lengan menantunya itu. Nick beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar. Dia segera menyiapkan pakaian yang akan dibawanya. Tak berapa lama Iza menyusul masuk. Wanita itu membantu suaminya berkemas.


“Makasih ya mas, mau mengabulkan permintaan ummi. Sebenarnya aku juga kangen sama ummi.”


“Ngga usah berterima kasih, aku ngerti, Zi. Ngga masalah di manapun kita tinggal, asal kita selalu bersama.”


Nick menangkup wajah Iza kemudian mengecup bibirnya. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai, dia keluar dengan membawa travel bag di tangannya seraya memeluk pinggang sang istri.


“Kita pergi sekarang, ummi? Mumpung belum terlalu malam.”


Mina menganggukkan kepalanya. Dia segera bersiap-siap untuk pulang. Nick menghampiri Diah. Wanita itu sudah terbiasa ditinggal Nick. Saat bekerja di hotel, Nick jarang pulang dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya.


“Mom.. ngga apa-apa kan aku tinggal?”


“Iya.. mommy bukan anak kecil.”


“Mba bisa datang ke rumah kapan saja. Kalau perlu menginap.”


“Hmm.. iya. Nanti kapan-kapan aku main ke rumah. Tapi pastikan dulu suamimu tidak ada di sana.”


Mina tertawa kecil mendengarnya. Iza berpamitan pada Diah. Diciumnya punggung tangan mertuanya itu. Sesaat Diah memeluk Iza, wanita sumber kebahagiaan anaknya. Setelah itu dia melepas anak juga menantunya pergi bersama sang besan.


🍂🍂🍂


Nick memandangi sekeliling kamar Iza. Ini pertama kalinya menginjakkan kaki di kamar istrinya itu. Dipandanginya satu per satu foto yang terpajang di dinding atau meja belajar Iza. Lalu dia mendudukkan diri di sisi ranjang sambil memandangi sang istri yang masih menata pakaiannya di dalam lemari.


Usai dengan pekerjaannya, Nick meminta Iza mendekat. Saat akan mendudukkan diri di samping suaminya, Nick menarik Iza hingga duduk di pangkuannya. Tangan Nick melingkari perut sang istri, membuat pergerakannya terkunci.


“Akhirnya aku bisa juga masuk ke kamar ini. Di kasur ini kamu biasa tidur sambil mikirin aku, ya.”


“Ish.. narsis.”


Nick tergelak, pelukannya di pinggang sang istri bertambah erat. Dia lalu menciumi wajah Iza mulai dari kening hingga bibir. Tangan Iza melingkari leher Nick, menatap dalam pupil coklat milik suaminya itu.


“Waktu kamu kabur dari rumah, bagaimana kamu melakukannya?”


“Aku membuat tali dari seprai, selimut dan beberapa pasmina lalu aku ikat di pagar balkon. Dengan itu aku turun ke bawah.”


“Itu bahaya sayang.”


“Aku terpaksa. Lagi pula, mas kan udah pernah ngajarin aku pas kita wall climbing dulu.”


“Jangan lakukan hal berbahaya lagi.”


“Iya mas.”


“Aku mencintaimu, Zi. Aku ngga bisa ngebayangin kalau terjadi sesuatu denganmu. Jadi aku minta, kamu harus berhati-hati mulai sekarang. Apalagi ada calon anak kita di sini,” Nick mengusap perut Iza.


“Iya mas.”


Iza memeluk erat punggung Nick. Dalam hatinya bersyukur, Tuhan telah berbaik hati memberikan Nick sebagai jodohnya. Dan kini dia tengah mengandung buah cinta mereka. Hanya tinggal satu yang diinginkannya, memperoleh restu sang ayah.


🍂🍂🍂


Setelah dua hari bermalas-malasan, akhirnya Iza kembali ke kampus. Bagaimana pun juga, dia harus menyelesaikan studi yang sudah dimulainya. Setelah mengantar sang istri ke kampus, Nick langsung menuju kedai. Dua hari belakangan ini, pria itu menyerahkan urusan kedai pada pegawainya.


Menurut laporan Rasyid, jumlah pengunjung kedai semakin meningkat tiap harinya. Tentu saja Nick senang mendengarnya. Sepertinya ini adalah rejeki yang dibawa sang anak. Rasyid juga mengatakan kalau banyak pelanggan yang menanyakannya, terutama kaum hawa. Untuk yang satu ini, Nick meminta Rasyid tak mengatakannya pada Iza. Ibu hamil itu bisa berubah menjadi singa jika mendengarnya.


Semakin siang, pengunjung kedai bertambah ramai. Kini di kedainya, Nick menambahkan menu baru yang bisa dinikmati. Ada beberapa makanan berat yang disediakan olehnya. Seorang koki rekomendasi dari Arnav sudah mulai bekerja mulai kemarin. Dan itu membuat kedainya ramai pengunjung.


Dua orang pelanggan tengah memperhatikan Nick yang sedang meracik kopi pesanan mereka. Dua gadis muda itu sengaja memilih duduk di bar table demi bisa melihat aksi Nick meracik minuman berkafein. Selain itu, tentu saja mereka bisa memandangi wajah tampan sang pemilik kedai.


“Kakak kemana aja dua hari kemarin ngga kelihatan?” tanya salah seorang di antara mereka.


“Ada, tapi ngga full time. Cuma ngecek aja. Ini lattenya mau digambar apa?”


“Gambar love aja kak. Anggap aja itu tanda cinta dari kakak,” gadis itu terkikik geli.


Nick hanya mengulas senyum tipis. Tangannya mulai bergerak menuangkan krim kemudian membentuk gambar yang diminta pelanggannya. Gadis itu mengambil ponselnya lalu merekam apa yang dilakukan Nick.


“Kakak udah punya pacar?” kini temannya yang bertanya. Nick menghentikan kegiatannya sejenak. Dia melihat ke arah sang penanya.


“Pacar? Saya ngga punya pacar,” Nick kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Wah.. berarti masih ada peluang ya kak.”


Nick tak menjawabnya, dia terus menggambar di atas coffee latte pesanan kedua gadis di depannya. Perhatiannya teralihkan ketika mendengar pintu kedai terbuka. Senyumnya mengembang melihat seorang wanita cantik yang tak lain istrinya, masuk ke dalam. Iza tak langsung menghampiri Nick, melainkan memilih duduk di bar table, di samping dua gadis tadi.


“Mau pesan apa?” tanya nick.


“Pesan yang punya kedai bisa?”


Kedua gadis yang ada di samping Iza langsung menolehkan wajah ke arah wanita itu, kemudian melayangkan pandangan kembali ke Nick. Pria itu melemparkan senyuman semanis madu pada Iza. Senyuman yang tak pernah diberikan pada mereka.


“Mau susu?” tanya Nick lagi.


“Boleh. Tapi aku yang buat.”


“Sini.”


Iza mengambil tasnya lalu turun dari kursi dengan sedikit meloncat karena kursi yang didudukinya memang sedikit tinggi. Dan itu sukses mengejutkan Nick.


“Hati-hati!”


Kedua gadis tadi kembali dibuat bingung dengan interaksi Iza dan Nick. Sambil menyampirkan tasnya di bahu, Iza masuk ke belakang bar table lalu berdiri di samping suaminya. Nick mengambil tas Iza lalu menaruhnya di bawah meja. Tangannya kemudian meraih gelas lalu memberikannya pada Iza.


“Katanya ngga punya pacar.”


“Kalau pacar saya emang ngga punya.”


“Itu,” gadis itu menunjuk pada Iza.


“Ooh.. istrinya. Halo kak,” kedua gadis itu menyalami Iza.


“Jangan bosen datang ke kedai ini ya,” ucap Iza.


“Ngga akan kak. Soalnya pemilik kedainya ramah.”


“Dan ganteng hihihi..” sahut yang satunya.


Iza hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua gadis di hadapannya. Nick berjongkok lalu mencium perut sang istri, membuat Iza terjengit.


“Apa kabar anaknya papa?”


“Alhamdulillah baik pa,” jawab Iza dengan suara menirukan anak kecil.


“Ngga nyusahin mama kan?”


“Ngga dong. Aku soleh pa.”


Nick tersenyum lalu berdiri, diraihnya bahu Iza kemudian mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Kedua gadis penggemar Nick hanya bisa memandangi kemesraan keduanya dengan pandangan iri. Iza yang dicium, mereka yang cenat-cenut.


“Kamu istirahat aja di kamar, pasti cape.”


Nick mengambil tas Iza lalu menggandeng istrinya naik ke lantai dua. Iza mendudukkan diri di sisi ranjang begitu masuk ke kamar. Tubuhnya memang terasa letih, padahal hanya dua jam berada di kampus.


“Cape banget, padahal cuma sebentar kuliahnya.”


“Makanya istirahat aja.”


“Hmm... aku ngantuk.”


“Tidur dulu.”


Nick merebahkan tubuh Iza, kemudian dia juga naik ke atas kasur. Sebelum kembali melayani pengunjung, dia memutuskan menemani Iza sampai tertidur. Sambil memeluk pinggang suaminya, Iza memejamkan mata.


🍂🍂🍂


BUGH


BUGH


Dua pukulan beruntun dilayangkan Denis pada seorang pria yang diduga hendak menjambret. Melihat temannya jatuh tersungkur, rekan satu profesinya datang membantu. Dengan cepat dia melayangkan pukulannya ke arah Denis.


BUGH


Karena tak siap, Denis jatuh tersungkur. Pria bertato itu mendekat lalu melayangkan pukulan lagi ke wajah pria berwajah oriental tersebut. Terdengar pekikan wanita yang hampir dijambret. Denis mengangkat kakinya lalu mendendang punggung pria itu. Dengan cepat dia bangun lalu balas menghajarnya.


Beberapa orang yang ada di sekitar langsung datang membantu. Melihat banyaknya orang yang berdatangan, kedua penjambret itu memilih langkah seribu. Denis menepuk-nepuk celananya yang sedikit kotor kemudian menghampiri wanita yang ditolongnya tadi.


“Kamu ngga apa-apa, Ay?” tanya Denis.


“Ngga. Makasih ya. Tapi itu bibir kamu berdarah.”


Wanita yang ternyata adalah Ayura segera mengambil tisu dari dalam tasnya lalu mengelap darah yang keluar dari sudut bibir Denis. Tangan Denis bergerak mengambil tisu, hingga membuat tangan keduanya bersentuhan. Dengan cepat Ayura menarik tangannya.


“Ke rumah mamaku dulu, yuk. Aku obatin luka kamu.”


“Ngga usah.”


“Udah ayo. Sebentar aja, aku sekalian jemput Azka.”


Akhirnya Denis mengikuti Ayura. Dia menuju motornya yang terparkir asal lalu mendorongnya, mengikuti langkah Ayura yang memasuki gang tak jauh dari jalan. Selang tiga rumah, Ayura berbelok memasuki rumah bercat hijau. Kedatangannya langsung disambut oleh Azka.


“Mama..”


“Eh sayangnya mama. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh ada om.....”


“Denis.”


Denis berjongkok di depan Azka. Anak itu meraih tangannya lalu mencium punggung tangannya. Dada Denis berdesir saat Azka melakukan hal tersebut. Pria itu mengusap puncak kepala Azka. Ayura memandangi interaksi anaknya dengan Denis. Biasanya Azka cukup sulit berinteraksi dengan orang baru. Tapi baru dua kali bertemu, Azka sudah terlihat akrab dengan pria itu.


Ayura mengambil kotak obat lalu mulai mengobati luka Denis. Dengan gerakan pelan Ayura mengoleskan gel di sudut bibir yang terluka. Mata Denis terus memandangi wanita di depannya yang jaraknya tak terlalu jauh darinya. Wajah cantik dan aroma tubuh wanita itu membuat Denis merasakan hal lain darinya. Bukan n*fsu, tapi lebih ke perasaan nyaman.


“Om Denis kenapa?” suara Azka menarik kembali kesadaran Denis.


“Om Denis dipukul orang jahat. Tadi mama diganggu orang jahat dan om Denis yang nolongin mama.”


“Wah om Denis hebat. Makacih om udah nolong mama Azka.”


“Sama-sama jagoan,” Denis mengusak puncak kepala Azka.


Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam rumah setelah Ayura selesai mengobati Denis. Kening wanita itu berkerut melihat lelaki yang wajahnya mirip aktor Korea berada di rumahnya. Setahunya, Ayura tidak memiliki teman pria. Apalagi setelah bercerai, anaknya itu cenderung menutup diri dari lelaki.


“Nenek.. nenek.. mama tadi digangguin orang jahat terus ditolong om Denis,” adu Azka pada sang nenek. Karuan saja hal tersebut membuatnya terkejut.


“Bener, Yu? Tapi kamu ngga apa-apa kan?”


“Alhamdulillah ma. Tadi emang ada jambret, tapi Denis nolong aku. Den, kenalkan ini mamaku. Ma, ini Denis, teman suaminya Maira.”


“Terima kasih ya nak Denis, sudah menolong anak ibu.”


“Sama-sama bu,” Denis menyalami ibu dari Ayura.


“Ma.. aku langsung pulang ya.”


“Iya.”


Wanita yang bernama Neni itu mengiyakan saja ucapan anaknya. Akhir-akhir ini kalau tidak ada keperluan, Ayura memang jarang berkunjung. Dia takut Arif, mantan suaminya kembali datang. Tiga bulan belakangan ini Arif gencar mendatanginya dan mengajaknya rujuk.


“Biar aku antar, Ay.”


“Ngga usah, Den. Makasih.”


“Mama.. Azka mau naik motor besar om Denis.”


Azka menarik-narik baju ibunya. Dia terus saja merajuk. Mendengar rengekan sang cucu, Neni menyuruh Ayura pulang bersama Denis. Wanita itu akhirnya menyetujui permintaan sang anak. Terdengar sorakan bahagia Azka ketika melihat Ayura menganggukkan kepalanya.


Sambil berlari anak itu keluar rumah lalu berhenti di depan motor besar bercat merah. Denis mengambil helm kemudian mengenakannya. Setelahnya dia segera naik ke atas tunggangannya. Alih-alih duduk di belakang, Azka malah memilih duduk di depan. Denis mengangkat tubuh Azka lalu didudukkan di depannya. Ayura duduk di belakang dengan posisi menyamping. Tak berapa lama kendaraan roda dua itu mulai bergerak.


Motor Denis melaju di jalan raya kemudian berbelok memasuki jalan kecil. Dia terpaksa mencari jalan tikus demi menghindari polisi karena Ayura tak mengenakan helm. Setelah melewati jalanan kecil yang banyak belokan, akhirnya motor Denis sampai di daerah di mana Ayura tinggal. Dia terus mengarahkan tunggangannya sesuai petunjuk Ayura.


Kuda besi Denis berhenti di depan rumah mungil bercat putih. Ayura segaja mengontrak rumah yang letaknya tak jauh dari sekolah tempatnya bekerja. Mereka hanya perlu berjalan kaki untuk sampai di sana. Ayura turun dari motor, lalu membantu sang anak turun.


“Om.. main dulu di rumah Azka,” ajak anak itu.


Denis melihat ke arah Ayura, wanita itu menganggukkan kepalanya pelan. Denis turun dari motornya lalu mengikuti Ayura masuk ke dalam rumah. Azka menarik tangan Denis agar masuk ke kamarnya. Ayura hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sang anak yang begitu akrab dengan Denis.


Satu jam lebih Denis menemani Azka bermain. Anak itu banyak bercerita tentang teman-teman di sekolahnya. Dia juga mengajak Denis bermain lego. Sepertinya anak lelaki itu benar-benar menyukai Denis.


Pelan-pelan Denis meninggalkan kamar setelah memindahkan Azka ke kasur. Anak itu tertidur saat menunggu Denis menggambar untuknya. Ayura meletakkan segelas air dingin di meja.


“Minum dulu Den. Maaf ya, cuma air putih.”


“Ngga apa-apa,” Denis mengambil gelas kemudian meneguk isinya.


“Azka tidur?”


“Iya. Cape ngobrol kali,” Denis terkekeh.


“Ngga biasanya loh dia cepet akrab sama orang. Padahal kalian baru dua kali bertemu, tapi udah akrab aja.”


“Maklum Ay, pesona seorang Denis bukan buat para wanita aja tapi anak-anak juga.”


“Narsis,” Denis tergelak mendengarnya.


“Aku pulang dulu.”


“Iya. Makasih Den, soal jambret tadi sama Azka juga.”


“Sama-sama.”


Denis melangkah keluar rumah. Ayura mengantar pria itu sampai ke depan teras. Denis menganggukkan kepalanya ke arah Ayura kemudian melajukan kendaraannya. Setelah motor Denis hilang dari pandangan, Ayura masuk ke dalam rumah.


🍂🍂🍂


Wah bakal ada pasangan baru nih😎


Masa tenang sebelum badai kayanya nih🚴🚴🚴🚴🚴