The Nick's Life

The Nick's Life
Kembali Berjuang



“Nyari Iza. Iza kabur dari rumah.”


“Iza kabur? Kemana?”


“Mana gue tahu. Kalau gue tahu berarti namanya dia lagi piknik bukan kabur.”


Nick beranjak dari duduknya lalu mengambil ponsel yang tak disentuhnya akhir-akhir ini. Terlihat pesan dari Iza yang memang dibiarkannya tanpa terbaca. Nick mencoba menghubungi Iza, namun ponselnya tak aktif.


“Lo sebenernya ada masalah apa sih sama Iza?”


Nick masih belum menjawab pertanyaan Denis. Dia kembali mencoba menghubungi Iza yang lagi-lagi terhubung pada kotak suara. Pria itu kemudian menghubungi Rivan, namun tak banyak informasi yang didapatnya. Begitu pula dengan Meta yang tak tahu menahu perihal kepergian sahabatnya itu.


Perasaan Nick tak menentu, menyesal rasanya sempat mengabaikan Iza. Dia lalu masuk ke dalam kamar. Denis mengkuti sahabatnya itu, nampak Nick tengah mengepak barang-barangnya.


“Mau kemana lo?”


“Nyari Iza.”


“Besok aja, capek gue,” Denis merebahkan punggungnya di kasur.


“Biar gue yang nyetir.”


“Bukan masalah itu, tapi coba lo pikir. Lo mau cari Iza kemana?” Denis kembali menegakkan tubuhnya.


“Rivan sama Meta ngga tahu di mana dia. Lo mau datengin bokapnya gitu? Malah tambah masalah jadinya. Udah mending besok aja kita perginya, sambil cari informasi soal dia. Kalau lo panik ngga jelas gini, yang ada malah masalah tambah runyam.”


Nick menghentikan kegiatannya, apa yang dikatakan Denis memang benar kalau tak mungkin juga mencari Iza tanpa tahu kemana harus mencarinya. Apalagi hari telah malam.


“Mending lo telepon mommy. Btw gue laper, lo ada makanan ngga?”


“Ada mie instan sama telor.”


“Mayanlah dari pada ngga ada.”


Denis bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju dapur. Dengan cepat dia merebus air, untuk membuat mie instan rebus. Tak butuh waktu lama baginya menyelesaikan masakan paling populer di kalangan mahasiswa dan anak kost. Denis meletakkan mangkok yang masih mengepul uapnya di atas meja. Hanya mencium aromanya saja sudah membuat perutnya berdendang.


Denis menarik kursi seraya meletakkan gelas berisi air putih kemudian dia mulai menikmati mie instan rasa ayam bawang hasil buatannya. Tak lama Nick datang menghampiri setelah mengabarkan keberadaannya pada Diah.


“Lo sebenernya ada masalah apa sama Iza?” Denis kembali bertanya karena sedari tadi pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Nick.


“Bukan sama Iza, tapi sama bokapnya. Gue kesel dia ngehina mommy. Gue ngga tahu dia dapet info dari mana soal mommy. Yang jelas dia tahu kalau mommy pernah jadi perempuan simpanan tiga orang sekaligus.”


“Nah terus hubungannya sama Iza apa? Kan bokapnya yang ngomong bukan Iza. Lagian Iza juga ngga permasalahin soal status mommy. Bahkan dia juga keliatan akrab dan sayang sama mommy. Lo tuh nikahnya sama Iza bukan bokapnya, cuekin ajalah.”


“Ya ngga bisa gitu juga. Gue ngga suka bokapnya Iza seenak jidatnya ngehina mommy murahan. Dia ngga berhak nge-judge mommy karena dia ngga tahu pengorbanan mommy buat besarin gue. Dan gue putusin untuk mengakhiri semuanya. Gue udah ngga bisa tolerir lagi sikap bokapnya Iza yang arogan dan sok suci itu.”


“Wajar sih kalau lo marah, gue mungkin bahkan ngehajar orang itu kalau dengar langsung. Tapi jangan sampai lo nyerah gitu aja, itu yang bokapnya Iza mau. Lo udah berjalan sejauh ini, udah banyak hal positif yang lo capai selama bersama Iza. Apa lo rela penyemangat hidup lo, penerang jalan lo akhirnya jadi milik orang lain? Apa lo bisa lihat dia bersama laki-laki lain? Tanya itu ke diri lo sebelum lo mutusin berpisah sama dia,” Denis menunjuk dada Nick.


Nick terdiam merenungi ucapan sahabatnya. Suasana sejenak menjadi hening, hanya terdengar seruputan Denis saat menghabiskan mie instannya. Kesunyian mereka terhenti ketika ponsel Denis berdering. Sekilas pria itu melirik ke benda persegi itu, terlihat nama tante Alfi di layar ponsel. Dengan malas Denis menjawab panggilan tersebut.


“Halo.”


“Halo sayang. Tante kangen nih. Bisa ketemu kan malam ini?”


“Maaf tante, aku lagi di vila.”


“Hmm.. besok aja gimana? Sekalian aja kita ketemu di puncak.”


“Duh maaf tante ngga bisa. Besok aku ada keperluan yang ngga bisa ditinggal. Lain kali aja ya tante.”


“Yah.. kamu tuh, padahal tante kangen loh. Tante udah lama ngga dipuasin kamu.”


“Maaf tante, maaf ya.”


Tanpa mengatakan apapun lagi, Alfi langsung memutuskan panggilan. Terlihat sekali kalau wanita itu kecewa dengan penolakan Denis. Namun Denis malah mengabaikannya, akhir-akhir ini dia sudah mulai jenuh dengan aktivitasnya memuaskan tante-tante kesepian seperti Alfi juga Teresa.


“Tante Alfi?” tanya Nick.


“Hmm..”


“Kalau lo mau ketemuan, ngga apa-apa. Besok gue bisa cari Iza sendiri.”


“Ngga lah. Lagi males gue. Kayanya gue bakalan berhenti jadi simpanan mereka, jenuh dan udah muak juga gue jadi budak **** mereka.”


“Lo sehat kan? Ngga lagi kesambet jin di jalan tadi?” Nick memegang kening Denis yang langsung ditepis pria itu.


“Apaan sih lo! Gue serius ini. Ngelihat elo, mommy, gue jadi pengen berubah juga. Bahkan Arnav aja rela berubah demi Meta. Abe juga bentar lagi bakalan nikah, Fahrul kayanya udah menyesal dan bakal balikan sama Mai. Masa gue gini-gini aja. Gue juga pengen kaya kalian, punya pasangan, berjuang dapetin cewek.”


“Alhamdulillah.. akhirnya sahabat gue insyaf juga. Emangnya sekarang lo udah punya inceran? Jangan bilang lo naksir sama Mai.”


“Gila lo! Ya ngga lah. Gue cuma simpati aja sama dia. Ngelihat dia ngingetin gue sama almarhum nyokap. Gue beneran cuma pengen bantu doang, ngga lebih. Malah gue pengen ngelihat Mai balikan sama Fahrul. Tuh si bahlul kan sebenernya baik, cuma kemarin lagi kesambet setan Reisa aja.”


“Iya juga sih. Tapi lo beneran belum punya inceran gitu?”


“Belum.. makanya pengen nyari juga sih. Bosen gue sama tante-tante mulu, hahaha..”


“Mudah-mudahan sih lo bakal nemuin cewek yang cocok dan bisa nerima lo apa adanya.”


“Sebenernya itu juga sih yang gue takutin. Apa bakal ada cewek yang mau nerima semua masa lalu gue yang hitam.”


“Pasti ada, cuma lo belum nemu orangnya aja sekarang. Yang penting sekarang lo berubah aja dulu jadi pribadi yang lebih baik. Putusin semua hubungan lo sama para tante itu.”


“Iya sih.. kalau tante Tere, orangnya santai. Berapa kali dia juga dia bilang bakal mundur kalau gue udah punya cewek. Cuma nih tante Alfi yang bikin gue puyeng. Dia tuh nempel mulu kaya permen karet.”


“Hahaha... derita lo itu sih.”


“Sue lo!”


Tak ayal Denis ikut tertawa juga. Keduanya terus berbincang membicarakan banyak hal. Termasuk kemungkinan-kemungkinan kemana Iza pergi. Dan rencana apa yang akan mereka lakukan esok untuk mencari keberadaan Iza.


🍂🍂🍂


Nick memasukkan tas carriernya ke bagasi mobil. Pagi ini, dia dan Denis bersiap kembali ke Jakarta. Walau belum menemukan titik terang keberadaan Iza, namun mereka memutuskan untuk kembali lebih dulu. Bahkan Nick sempat menghubungi temannya yang menjadi dosen Iza, tapi pria itu tak mengetahui keberadaan mahasiswinya itu.


Nick baru saja menutup pintu bagasi ketika ponselnya berdering. Sejenak dia terdiam memandangi sederetan nomor yang menghubunginya, sebuah nomor tak dikenal. Dengan ragu, Nick menjawab panggilan tersebut.


“Assalamu’alaikum, Nick, ini dengan ummi.”


“Oh ummi, waalaikumsalam.”


“Apa kamu sudah dengar kabar soal Iza?”


“Iya ummi. Aku mau nyari keberadaan dia, maaf kalau aku baru tahu ummi.”


“Sekarang kamu di mana?”


“Aku lagi di Leuwiliang ummi.”


“Tolong jemput Iza ya. Dia lagi di rumah uwanya, di daerah Cisarua, tepatnya di Cilember.”


“Yang benar ummi? Kalau gitu biar aku jemput.”


“Tolong bujuk dia pulang ya. Nanti ummi kirimkan alamatnya. Makasih ya Nick, maaf merepotkan. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Hati Nick lega setelah berbicara dengan ummi. Dia bergegas memanggil Denis dan mengajaknya pergi. Sebuah pesan berisikan alamat di mana Iza sekarang berada masuk. Tanpa menunggu lama, Nick segera memacu kendaraan menuju daerah Cilember.


Setelah hampir dua jam berkendara, Nick sampai juga di daerah Cilember. Beberapa kali dia menanyakan letak alamat yang ditujunya. Berbekal nama Rahman yang diberikan ummi, pria itu berhasil mendapat informasi rumahnya. Nick menghentikan mobilnya di depan rumah berhalaman luas.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak lama seorang wanita paruh baya keluar menyambut mereka. Winny tertegun sesaat melihat dua pria tampan di depan rumahnya.


“Ada siapa ambu?”


Wanita itu terjengit ketika mendengar suara suaminya yang sudah ada di dekatnya. Nick dan Denis melemparkan senyum pada sepasang suami istri tersebut.


“Maaf.. dengan siapa ya? Apa kalian turis yang mau ke curug Cilember?” tanya Rahman.


“Iza? Oh.. pasti salah satu kalian ada yang namanya Nick. Kamu bukan?”


Rahman menunjuk pada Nick yang hanya dijawab dengan anggukan. Mengetahui Nick yang datang, pria itu menyambut hangat kedatangannya. Dia langsung meminta Nick dan Denis masuk. Winny juga segera membuatkan minuman dan membawakan makanan ringan untuk tamunya.


“Euleuh geningan calonna Iza meni kasep (ternyata calonnya Iza ganteng),” puji Winny seraya meletakkan bawaannya di atas meja.


“Upami nu ieu saha? Jiga artis Korea,” Winny menunjuk ke arah Denis.


“Kenalkan ini teman saya Denis.”


Denis mengulurkan tangan seraya menyebutkan namanya. Winny tak henti menatap Denis, pria itu sudah seperti aktor drama Korea yang kerap ditontonnya. Rahman menyenggol lengan sang istri yang tak berkedip menatap Denis.


“Udah atuh ummi ngelihatinnya, kan abah jadi cemburu,” seloroh Rahman.


“Iiih abah mah. Teu era ka budak ngora, make cemburu sagala (abah ngga malu sama anak muda, pake cemburu segala).”


Rahman langsung tergelak mendengar ucapan istrinya, begitu pula dengan Nick dan Denis yang sebenarnya tak terlalu mengerti bahasa Sunda, namun mereka bisa menangkap arti perkataan wanita paruh baya itu.


“Kamu tahu dari mana kalau Iza ada di sini?”


“Dari ummi.”


“Hmm.. sepertinya Mina menyukaimu ya, sampai dia mau memberitahu keberadaan anaknya.”


“Alhamdulillah, ummi percaya sama saya, om.”


“Jangan panggil om, panggil saja abah dan ambu.”


“Berasa kaya Kabayan manggil abah dan ambu,” celetuk Denis.


“Iya ya.. kalau Nick, Kabayan, berarti Iza, Nyie Iteungnya atuh hahaha..”


Gelak tawa semua terdengar begitu saja mendengar celotehan Rahman. Nick bersyukur karena sambutan Rahman padanya begitu hangat. Tadinya dia sempat khawatir kalau sikap Rahman akan sama seperti Rahardi.


“Izanya mana bah?”


“Iza lagi jalan-jalan ke curug sama Rina. Sebentar lagi pasti pulang.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panjang umur, orang yang dibicarakan tiba. Rina dan Iza yang baru pulang dari curug, langsung masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. Iza terkejut melihat keberadaan Nick dan Denis.


“Nick..”


“Zi..”


“Nick.. Denis, kenalkan ini Rina anak abah.”


Rina menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Nick dan Denis. Kemudian gadis itu duduk di samping Winny yang disusul oleh Iza. Suasana hening sejenak, Iza masih dilanda kebingungan, bagaimana Nick bisa sampai ke kediaman Rahman.


“Nah berhubung Izanya sudah datang. Silahkan kalian berbicara dan selesaikan masalah kalian baik-baik. Abah mau ke kebun dulu.”


“Ambu juga mau masak. Neng, kamu ajak temannya Nick jalan-jalan gih. Tapi awas jangan dibawa ke rumah temen kamu, nanti disangka artis Korea,” Winny terkikik geli.


“Akang mau jalan-jalan ke curug ngga?”


“Hmm.. boleh kalau ngga ngerepotin.”


“Ngga atuh, hayu kang. Kalau kelamaan di sini, kita cuma jadi pengharum ruangan aja.”


Denis terkekeh, lalu bangun dari duduknya. Dia mengikuti langkah Rina yang sudah lebih dulu keluar rumah. Begitu pula dengan ambu yang telah pergi ke dapur. Tinggalah Iza dan Nick di ruangan itu.


“Kita ngobrolnya di saung aja ya.”


Iza berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju halaman belakang. Tanpa bertanya, Nick mengikuti langkah gadis itu. Mereka kemudian mendudukkan diri di saung yang terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa. Suasana hening sejenak, baik Nick atau Iza tak tahu harus memulai percakapan dari mana.


“Zi.. kenapa kamu kabur dari rumah?” akhirnya Nick berinisiatif memulai percakapan.


“Aku kecewa sama abi. Aku udah ngga kuat hidup dalam aturan dan kekangan abi. Aku mutusin buat pergi. Kamu tahu dari mana aku di sini?”


“Ummi... tadi ummi telepon dan minta aku jemput kamu.”


“Maaf Nick, sudah merepotkanmu. Tapi aku ngga mau pulang, aku mau di sini sampai bang Ridho pulang. Abang udah janji mau bawa aku pergi dari rumah.”


“Zi.. kabur dari rumah seperti ini bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah baru.”


“Aku tahu, tapi aku tetap ngga mau pulang. Lebih baik kamu pergi Nick, maaf sudah membuatmu datang jauh-jauh ke sini. Maafkan ummi yang sudah merepotkanmu. Tapi aku baik-baik aja di sini, dan aku senang tinggal di sini. Lebih baik kamu pulang. Aku ngga mau abi kembali menyalahkanmu. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi kamu ngga punya kewajiban atau tanggung jawab padaku.”


Nick tertohok mendengar penuturan Iza. Memang salahnya mengakhiri begitu saja hubungan mereka karena emosi. Namun kini dia sadar kalau tidak semestinya dia menyerah.


“Zi.. maaf soal ucapanku waktu itu.”


“Aku yang harusnya minta maaf karena abi sudah menyakiti perasaanmu. Aku ngga tahu abi dapat informasi dari mana, aku juga terkejut melihat reaksi abi. Sekali lagi aku minta maaf. Kamu benar, mungkin kita memang ngga berjodoh. Mulai sekarang kita jalani kehidupan masing-masing. Aku berharap kamu bertemu dengan seseorang yang mencintaimu dan keluarganya menerimamu juga mommy dengan baik.”


Jujur saja, perasaan Iza sakit saat mengatakan itu semua. Hatinya sebenarnya masih berharap bisa bersama dengan Nick, melanjutkan kembali impiannya membina rumah tangga bersama pria itu.


“Zi.. apa kamu menyerah?”


“Kamu yang menyerah, apa kamu lupa? Aku hanya mengikuti keinginanmu saja, aku juga ngga mau kamu terus dihina oleh abi. Seharusnya abi melihat perjuanganmu, bukan hanya sisi burukmu. Tapi ternyata itu hanya angan saja.”


“Zi.. ayo pulang. Ayo kita cari solusi ini sama-sama.”


“Aku ngga mau. Aku sudah tidak kuat menghadapi sikap otoriter abi. Lebih baik aku di sini sampai bang Ridho pulang.”


“Kalau kamu di sini, lalu aku bagaimana? Bagaimana aku meyakinkan abi kalau orang yang kuperjuangkan tidak ada.”


Iza menolehkan kepalanya ke arah Nick. Sejenak pandangan mereka bertemu dan saling mengunci.


“Maaf Zi.. kalau kemarin aku terbawa emosi. Maaf kalau sempat mengabaikanmu. Tapi aku hanya ingin menenangkan pikiran saja. Merenungkan kembali hubungan kita. Saat aku dengar kamu kabur dari rumah dan aku kehilangan jejakmu, aku sadar kalau aku ngga bisa mengakhiri semua ini. Aku ngga mau kehilangan kamu. Ayo kita berjuang lagi Zi. Aku akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan restu abimu. Kalau kita menyerah, abi pasti senang karena tujuannya berhasil untuk memisahkan kita. Ayo pulang Zi, tunjukkan pada abi kalau hubungan kita tak selemah yang dia kira. Kalau kita serius menjalani hubungan ini dan aku juga akan membuktikan kalau aku lebih dari layak untuk menjadi pendampingmu.”


“Tapi aku ngga mau abi melukai perasaanmu lagi.”


“Aku akan menahannya. Kali ini aku akan lebih bersabar. Perasaan cinta dan sayangku lebih dalam dari rasa sakit yang abi berikan padaku. Jadi aku mohon, ayo pulang. Ayo kita mulai lagi semuanya.”


“Apa kamu yakin Nick? Apa kamu ngga akan menyesal?”


“Aku akan menyesal kalau berhenti begitu saja.”


“Baik. aku akan pulang, ayo kita berjuang bersama lagi. Tapi kali ini lakukan dengan caraku, apa kamu setuju?”


“Cara apa?”


“Nanti setelah abah pulang dari kebun, aku akan mengatakannya padamu. Kita perlu senjata untuk menghadapi abi, dan aku sudah menemukan senjata yang pas untuk melawan abi. Kamu percaya aku kan?”


“Iya, aku percaya kamu.”


Iza tersenyum senang mendengar jawaban Nick. Senyum yang sempat hilang beberapa hari terakhir, akhirnya menghiasi wajah cantiknya kembali. Begitu pula dengan Nick, kebahagiaan dan semangatnya yang sempat hilang akhirnya kembali lagi.


“Zi.. I miss you.”


“Miss you too.”


“Jangan menghilang tanpa kabar lagi ya.”


“Kamu juga.”


“Iya sayang, maaf.”


BLUSH


Wajah Iza memerah mendengar kata sayang dari bibir Nick. Gadis itu menundukkan kepalanya. Tanpa keduanya sadari, Winny sedari tadi memperhatikan dari balik jendela dapur. Hati wanita itu senang melihat wajah kebahagiaan keduanya.


🍂🍂🍂🍂


**Mohon maaf baru bisa up, keenakan tidur😂🙏


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan**.