
“Mana Iza?”
“Iza?” tanya Diah bingung.
Rahardi tak menjawab pertanyaan Diah, dia memindai seluruh ruangan. Di tengah kebingungan, Diah melihat Rivan masuk. Wajah pemuda itu nampak kikuk bercampur malu atas kelakuan Rahardi.
“Maaf mommy,” Rivan mencium punggung tangan Diah.
“Rivan.. ada apa ini?”
“Ini abinya kak Iza. Kak Iza kabur dari rumah mom.”
“Hah? Ya ampun, kok bisa?”
“Ngga usah pura-pura. Nick pasti yang sudah membawa kabur Iza.”
Lagi-lagi Rahardi menuduh Nick. Diah yang kesal dengan tuduhan Rahardi ditambah sikapnya yang tak sopan menerobos kediamannya begitu saja, mulai terpancing emosinya. Dia menatap tajam ke arah Rahardi.
“Iza tidak ada di sini. Bukan Nick yang membawa Iza pergi. Nick sedang naik gunung sejak seminggu lalu.”
“Alasan! Siapa lagi kalau bukan Nick yang membawa kabur Iza. Iza itu anak yang baik, pasti Nick yang sudah mempengaruhinya.”
“Hey bung!!! Jaga bicaramu!!”
Diah mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Rahardi. Rivan menahan nafasnya melihat Diah yang mulai memanas. Dia hanya bisa diam memandang dua orang yang tengah emosi saling berhadapan.
“Kalau Iza sampai kabur harusnya sebelum menyalahkan orang lain, tanya dirimu dulu! Iza itu anak baik, dia juga sopan pada orang tua. Jika sampai dia pergi dan memberontak, berarti ANDA yang sudah membuatnya seperti itu!”
“Iza memberontak sejak bertemu dengan NICK!”
“Iza berontak karena sudah MUAK dengan ANDA!!”
“Tahu apa kamu soal Iza? Dasar perempuan simpanan!”
Baik Diah maupun Rivan terkejut mendengar ucapan Rahardi. Otaknya langsung bekerja cepat, kepergian Nick yang mendadak pasti ada hubungannya dengan Iza juga statusnya.
“Aku mungkin pernah menjadi perempuan simpanan. Tapi aku tidak pernah menyusahkanmu atau mempermalukan dirimu. Aku juga tahu bagaimana harus bersikap pada orang lain, tidak seperti dirimu. Mengaku berpendidikan, paham soal agama tapi minim akhlak, cih.”
Rahardi bertambah gusar mendengar penuturan Diah. Rivan yang awalnya tegang mulai menikmati pertengkaran mereka. Dalam hati dia tertawa melihat pamannya yang arogan dan otoriter dibuat mati kutu oleh Diah. Hatinya bersorak mendukung Diah untuk terus memojokkan pamannya.
“Katakan pada Nick untuk mengembalikan Iza dalam waktu 1x24 jam atau aku akan melaporkannya ke polisi.”
“Silahkan. Aku juga akan melaporkanmu atas penerobosan rumah, pencemaran nama baik dan perbuatan tak menyenangkan. Rivan... bawa laki-laki sombong ini pergi sebelum mommy memanggil satpam untuk menyeretnya.”
“Iya mom. Maaf mom. Ayo om, kita cari kak Iza di tempat lain.”
Rahardi melihat terlebih dulu pada Diah sebelum keluar dari unit apartemen tersebut. Rivan yang sudah keluar kembali masuk kemudian memanggil Diah.
“Mommy.. aku padamu mom. You’re the best.”
Rivan mengacungkan kedua jempolnya pada Diah kemudian kembali keluar. Diah hanya tersenyum melihat tingkah konyol Rivan. Wanita itu lalu bergegas menghubungi teman-teman Nick. Pantas saja perasaannya tidak enak saat Nick pamit pergi. Ternyata semua ini ada hubungannya dengan Iza.
🍂🍂🍂
Mendapat panggilan dari Diah, semua sahabat segera mendatangi unit apartemen Diah sepulang kerja. Abe, Arnav, Denis termasuk Fahrul sudah berkumpul. Walau tengah bersitegang, namun baik Denis maupun Fahrul memilih mengenyampingkan urusan mereka dan fokus untuk membantu Diah. Begitulah persahabatan mereka selama ini, kepentingan kelompok selalu di atas kepentingan pribadi.
“Apa kalian sudah mendapat kabar soal Nick?”
“Nick naik gunung sama anak MAPALA kampus mom. Tapi mereka udah turun gunung dua hari lalu. Dan Nick katanya ngga ikut pulang sama mereka,” terang Abe.
Nick dan Abe semasa kuliah memang bergabung dengan unit pecinta alam. Dari sana Abe mendapat informasi tentang sahabatnya itu.
“Terus di mana Nick sekarang?”
“Kayanya dia nyangkut di vila deh mom. Kalau abis naik gunung, kita suka stay dulu di vila.”
“Kamu tahu vilanya?”
“Tahulah mom. Kita semua tahu kok, soalnya kita sering nginep di sana.”
“Antar mommy ke sana.”
“Ngga usah mom, biar aku aja yang jemput Nick,” sela Denis.
Semua menyetujui usulan Denis, di antara mereka berempat, memang hanya Denis yang jam kerjanya fleksibel. Kebetulan juga, minggu ini dia tidak ada jadwal pemotretan. Diah pun mengikuti keputusan Denis.
“Kapan lo mau berangkat?”
“Sekarang lah.”
“Pake mobil gue aja,” seru Abe.
“Kalau dia pake mobil lo? Lo pake apa ke kantor?” tanya Fahrul.
“Ya pake motor dia.”
“Udah lo ikut gue ke showroom, pake mobil operasional aja,” usul Fahrul.
Denis menyetujui usulan Fahrul. Keduanya langsung berpamitan, sedang Abe dan Arnav masih berdiam di sana. Keduanya memutuskan menemani Diah sampai mendapat kabar soal Nick.
“Den.. sorry soal yang kemarin. Thanks lo udah buka mata gue soal Reisa,” ujar Fahrul ketika mereka masuk ke dalam lift.
“Gue juga minta maaf. Jujur, gue cuma mau bantu lo sama Mai aja. Ngga ada niatan gue nidurin Reisa, tapi namanya kucing disuguhi ikan ya gue caplok,” Denis terkekeh.
“Ngga apa-apa Den, anggap bonus,” Fahrul ikut terkekeh.
“Nick kepikiran soal lo sama Mai sebenernya. Dia merasa bersalah karena udah kasih saran ngga bener sama elo.”
“Bukan salah Nick. Dia kasih gue tiga pilihan dan gue ambil pillihan yang salah.”
Kedua pria yang berseteru itu akhirnya bisa berdamai juga. Denis dan Fahrul menyandarkan punggungnya ke dinding lift.
“Masalah Nick kayanya berat juga ya,” ujar Fahrul.
“Hmm.. kendala utama Nick sama Iza tuh ada di bokapnya Iza. Gue juga ngga tahu sih seperti apa bokapnya Iza, Arnav yang udah pernah ketemu.”
TING
Pintu lift terbuka, keduanya keluar dari kotak besi tersebut. Mereka menuju mobil Fahrul yang terparkir basement. Tak lama kereta besi itu keluar dari area basement, tujuannya adalah show room Fahrul.
🍂🍂🍂
Iza terus memandang keluar jendela. Pikirannya masih saja berkelana tak tentu arah seiring laju bis yang ditumpanginya. Berulang kali dia melihat ponselnya, memastikan apakah pesannya telah terbaca oleh Nick. Namun nyatanya centang abu masih belum berubah warnanya.
Gadis itu segera bersiap ketika mobil sudah memasuki daerah Cisarua. Dia berdiri kemudian berjalan menghampiri kernet. Laju kendaraan mulai melambat kemudian berhenti di tempat yang tadi Iza katakan. Setelah kernet membukakan pintu, dia segera turun dari mobil.
Udara sejuk pegunungan terasa begitu dirinya keluar dari bis ber-AC itu. Iza berjalan menuju tempat mangkal ojeg. Dia memilih kendaraan roda dua itu agar lebih cepat sampai ke tujuan, tak apa membayar sedikit mahal.
Dari atas motor, Iza menikmati pemandangan di kanan kirinya. Sudah setahun lamanya, dia tak menjejakkan kaki di daerah ini. Iza sengaja memilih kediaman Rahman, kakak dari Rahradi untuk bersembunyi. Dia yakin, uwanya itu tidak akan membocorkan keberadaannya pada sang ayah.
Motor yang dikendarainya memasuki daerah Cilember. Rumah Rahman memang dekat dengan objek wisata Cilember. Kendaraan roda dua itu terus melaju mengikuti arahannya. Tak berapa lama, Iza meminta berhenti di depan rumah bertingkat dua dan berhalaman luas. Setelah membayar ongkos ojeg, Iza melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikusalam.”
Terdengar suara wanita menjawab salamnya. Iza yakin kalau wanita itu adalah Ani, istri dari Rahman. Benar saja, Ani yang keluar dari rumah. Wanita itu terkejut melihat kehadiran Iza.
“Ya Allah Iza. Ayo masuk sayang. Abah.. abah.. ieu aya Iza (ini ada Iza).”
Mendengar panggilan istrinya, Rahman yang tengah berada di halaman belakang bergegas menghampiri sang istri. Seperti halnya Ani, Rahman juga terkejut melihat kedatangan keponakannya. Iza segera mencium punggung tangan Rahman.
“Sendiri abah.”
“Loh kok sendiri. Abi kamu tahu kamu ke sini?”
Iza hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu menundukkan pandangannya. Tanpa diberi tahu, Rahman sudah bisa menebak kalau tengah terjadi perselisihan antara adik dengan keponakannya. Pria itu tahu betul bagaimana keras kepalanya sang adik.
Rahman dan Rahardi adalah dua bersaudara, namun keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Jika Rahardi keras kepala, berbeda dengan Rahman yang lebih fleksibel dan berpikiran terbuka. Tak jarang mereka kerap berselisih paham, namun sebagai kakak, Rahman tak sungkan untuk mengalah.
Rahman memilih tinggal di desa sambil mengelola lahan warisan orang tuanya. Berbeda dengan Rahardi yang memilih berkarir sebagai dosen. Namun setiap habis panen, Rahman selalu memberikan bagian Rahardi, walau adiknya itu menolak. Karena terus dipaksa, Rahardi menerimanya. Sebagian untuk tabungan anak-anak, sebagian disumbangkan ke masjid atau panti asuhan.
Rahardi memang keras kepala dan terkadang menyebalkan, namun dia bukanlah orang yang pelit. Pria itu sering berbagi dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan sering juga membantu mahasiswanya yang kesulitan finansial. Begitulah manusia, selalu ada sisi baiknya dibalik sisi buruknya, begitu pula sebaliknya.
“Kamu ada masalah dengan abimu?”
“Iya abah.”
“Sudah-sudah nanti saja bicaranya. Iza, taruh tas kamu di kamar ya. Kamu pasti belum makan kan? Kebetulan ambu udah selesai masak, ayo kita makan. Ayo abah.”
“Teh Rina mana ambu?”
“Biasa, lagi nganter tamu dari Jakarta. Mereka kayanya sih lagi ke curug.”
Nina menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Ani ke halaman belakang. Mereka makan di saung yang ada di sana. Nasi merah, tumis kangkung, sambel, tempe goreng, ayam goreng dan lalapan sudah tersedia di meja. Perut Iza langsung berbunyi melihat hidangan di depannya. Ketiganya langsung memulai makan siangnya.
“Kamu berangkat jam berapa dari rumah?” tanya Ani.
“Abis shubuh ambu.”
“Loh kok baru nyampe sekarang? Kamu kemana dulu?”
“Bisnya ngetem lama banget ambu. Mana jalannya kaya siput, soalnya sambil nyari penumpang juga.”
“Pantes.”
“Kabar kang Zaki sama kang Hafiz gimana kabarnya ambu?”
Rahman dan Ani dikaruniai tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Kedua anak lelakinya sudah menikah, sedang yang bungsu berbeda setahun dengan Iza, Rina namanya. Sehari-hari Rina membantu ayahnya mengurus administrasi dan keuangan hasil kebun, kadang dia juga menjadi tour guide tamu dari luar kota atau luar negeri yang berwisata ke daerah Cilember.
“Alhamdulillah baik. Zaki kemarin baru dapet anak kedua. Kalau Hafiz dipindah kerja ke Jepang, jadi anak istrinya diboyong ke sana. Ridho kapan rencana nikah?”
“Ngga tahu ambu. Orang jutek model bang Ridho emang ada yang mau?”
“Hahaha...”
Rahman dan Ani tertawa mendengarnya. Ridho, kakak dari Iza memang tipikal lelaki yang tidak banyak bicara. Sikapnya dingin dan sedikit ketus pada perempuan. Seumur hidupnya dia belum pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Waktunya dihabiskan hanya untuk belajar dan bekerja saja.
Usai makan siang, Rahman mengajak Iza berjalan-jalan di kebun miliknya. Lahan warisan kakek Iza memang cukup luas. Rahman menanaminya dengan sayuran juga buah. Kini Rahman sudah mempunyai 20 orang pekerja di kebunnya. Hasil kebun bukan hanya dijual ke pasar induk tapi juga dikirim ke restoran langganan. Setiap selesai panen, Rahman juga selalu menyediakan gerobak rejeki untuk masyarakat sekitar. Mereka bebas mengambil hasil panen tanpa membayar.
“Sebenarnya ada masalah apa kamu dengan abimu?”
“Abi tuh keras kepala banget. Aku kesel abi juga selalu memaksakan keinginannya. Rencananya hari ini abi mau jodohin aku sama anak temannya.”
“Memang ada yang salah dengan perjodohan? Kalau orangnya baik dan bertanggung jawab, kenapa ngga. Atau kamu sudah punya pilihan sendiri?”
Iza melirik ke arah Rahman lalu menundukkan pandangannya. Pria itu tersenyum melihatnya. Tebakannya tepat, yang membuat keponakannya menolak perjodohan pasti karena sudah mempunyai pilihan. Dan sudah pasti Rahardi, adik keras kepalanya itu menentang Iza dengan lelaki pilihannya.
“Abah yakin, kamu kabur ke sini bukan cuma mau menghindari perjodohan. Ada apa Iza? Kalau kamu ngga cerita bagaimana abah bisa bantu kamu.”
Rahman mengajak Iza menuju saung tempat para pekerja biasa beristirahat. Keduanya duduk sambil menyender ke tiang saung. Semilir angin yang berhembus sedikit menghilangkan rasa gerah akibat teriknya matahari.
Iza mulai menceritakan masalah yang menimpanya. Cerita tentang Nick, kegundahannya, sikap Rahardi, keputusan Nick sampai rencana Ridho membawanya pergi dan memintanya bertahan sampai kakaknya itu pulang. Rahman menarik nafas panjang mendengarkan itu semua.
“Apa kamu masih berkomunikasi dengan Nick?”
“Ngga abah. Bahkan pesanku pun belum dibaca sama dia. Kayanya dia serius mau mengakhiri semuanya,” raut Iza nampak sedih.
“Hmm.. abah penasaran sama yang namanya Nick. Pasti dia itu laki-laki spesial.”
“Kok abah bisa bilang gitu?”
“Ya karena dia sudah berhasil buat keponakan abah galau tingkat dewa hahaha..”
“Iih abah ngomongnya gaol,” Iza terkikik.
“Masa ABG aja yang boleh gaul. Abah juga bisa gaul. Kan abah masih muda kalau kumpul sama aki Sarmin dan aki Jajang hahaha...”
Tawa Iza kembali pecah mendengar guyonan Rahman. Andai saja Rahardi bisa bersikap sesantai dan sehangat ini padanya, mungkin dia akan sangat bahagia. Tawa Rahman terhenti, raut wajahnya kembali terlihat serius.
“Zi.. apa kamu percaya sama abah?”
“Iya abah.”
“In Syaa Allah, abah akan bantu kamu. Coba hubungi lagi Nick, minta dia ke sini. Kalau dia serius padamu, dia pasti akan mencarimu dan menjemputmu ke sini. Abah juga akan memberitahu ummi juga Ridho kalau kamu di sini, supaya mereka tidak cemas. Biarkan saja abimu yang kelimpungan sendiri. Abah juga gemas sama abimu.”
“Iya abah, Iza nurut aja.”
Rahman tersenyum kemudian mengusak puncak kelapa keponakannya itu. pembicaraan kembali berlanjut, namun kini topiknya berubah. Pria itu menceritakan tentang perkembangan kebunnya, juga apa saja yang ada di sana. Iza manggut-manggut saja walau tak terlalu paham tentang tumbuh-tumbuhan. Tapi menghabiskan waktu dengan Rahman adalah hal yang menyenangkan.
🍂🍂🍂
Mobil yang dikendarai Denis berhenti di depan vila yang keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu. Bentuk vila seperti rumah panggung, yang hanya menyediakan tiga kamar, ruangan berkumpul, dapur dan dua kamar mandi. Di sana, dirinya beserta para sahabatnya sering menghabiskan waktu saat liburan. Udara pegunungan yang sejuk membuat mereka senang berlibur ke sini.
Denis segera menaiki anak tangga. Dari jendela dia bisa melihat Nick tengah duduk santai di balkon sambil menikmati pemandangan malam. Dugaannya tak salah, Nick memang memilih menyendiri di sini untuk menenangkan pikiran. Denis membuka pintu yang memang tidak terkunci.
Nick masih asik dengan rokok dan kopinya. Pandangan menatap lurus ke depan, sedang pikirannya entah kemana. Pria itu tak menyadari kedatangan sahabatnya saking sibuknya melamun. Dia terjengit ketika merasakan tepukan di bahunya.
“Liburan sendirian aja.”
“Gila lo, ngagetin aja. Dateng ngga ada suaranya, kaya maling aja.”
Denis terkekeh mendengar gerutuan Nick. Pria itu menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya di sana. Untuk sejenak dia menyandarkan punggung untuk merilekskan tubuhnya setelah berkendara hampir empat jam lamanya untuk bisa sampai ke sini.
“Mommy nanyain elo,” Denis membuka percakapan.
“Kan gue udah bilang sama mommy kalau mau camping.”
“Iya sih. Tapi ada satu orang lagi yang nyariin elo.”
“Siapa?”
“Lo pikir aja siapa.”
Nick terdiam, pikirannya langsung menerka itu adalah Iza. Denis memperhatikan perubahan suasana pada wajah sahabatnya itu. Tebakannya sekali lagi benar, tengah ada masalah antara Nick dengan Iza.
“Iza tahu lo di sini?”
“Ngga.”
“Lo ada masalah sama Iza?”
Nick hanya menghela nafas panjang. Mengingat peristiwa malam terakhir saat terakhir kalinya mereka bertemu. Dadanya kembali terasa sesak. Kemarahannya pada Rahardi dan kesedihannya harus mengakhiri hubungannya dengan Iza.
“Gue ngga tahu apa masalah lo sama Iza. Tapi tadi pagi bokapnya Iza dateng ke apartemen dan ketemu mommy.”
“Ngapain?”
“Nyari Iza. Iza kabur dari rumah.”
🍂🍂🍂
Iza kabur noh, lo sih kelamaan nyungsep di gunung. Buruan cari, kalo ngga gue tikung ya si Iza wakakakak...