
Dua bulan berselang
Nurul keluar dari gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Wanita itu
terus melangkah menuju mobil yang terparkir di dekat pintu masuk utama rumah sakit. Edo melemparkan senyumnya ketika dokter kandungan menantunya itu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Nurul memasang sabuk pengaman dengan benar, pria itu segera melajukan kendaraannya.
“Maaf ya mas kalau nunggu lama. Ada sedikit masalah dengan pasien terakhirku,” Nurul membuka pembicaraan.
“Ngga apa-apa, lagian aku juga baru sampai. Oh iya, kalau Iza kapan perkiraan melahirkannya?"
“Kurang lebih dua minggu lagi.”
“Sebentar lagi, ya. Mudah-mudahan lancar.”
“Aamiin..”
“Mau langsung pulang atau mau mampir ke suatu tempat?”
“Syifa minta dibelikan kue yang lagi viral katanya mas.”
“Di mana?”
“Di kedainya Nick.”
Edo tertawa mendengarnya, pria itu lalu mengarahkan kendaraannya menuju kedai kopi milik anaknya. Zicko Coffee memang semakin terkenal saja. Apalagi sebulan yang lalu kedai kopi tersebut meluncurkan produk baru, kue dengan aroma kopi yang tidak terlalu manis namun terasa pas di lidah, cocok untuk orang yang sedang diet. Nick memberi nama Coffee Cake.
Mata Edo berkeliling mencari tempat yang kosong begitu memasuki kedai kopi. Karena lantai bawah sudah terisi, pria itu mengajak Nurul naik ke lantai dua. Sebelumnya dia memesan double espresso, cappuccino dan coffee cake untuk dibawa pulang. Ternyata suasana di lantai dua tak kalah ramainya. Akhirnya dia bisa mendapatkan meja di bagian sudut.
“Besok aku akan berangkat ke Rio.”
“Lama?”
“Paling lama seminggu. Hanya menjemput Leya, tapi menunggu surat-surat dari pihak sekolah yang memakan waktu. Mudah-mudahan aku sudah kembali sebelum Iza melahirkan.”
“Semoga semuanya lancar.”
Edo menyeruput perlahan espresso miliknya yang masih panas begitu pelayan mengantarkan minuman pesanannya. Sesekali matanya melihat ke arah Nurul. Selama dua bulan belakangan ini, hubungannya dengan dokter kandungan itu semakin dekat. Semakin mengenalnya, Edo semakin dibuat kagum oleh wanita itu. Dia heran saja kenapa suaminya sampai meninggalkannya dan memilih kembali pada mantan pacarnya.
Sejenak pria itu memandangi Nurul. Rencananya sebelum pergi ke Rio, dia ingin mengutarakan isi hatinya. Edo sadar dirinya bukan lagi ABG dan tentunya pacaran bukanlah pilihan. Tujuannya mendekati Nurul sudah pasti ingin menjalin hubungan serius dengan wanita itu.
“Nur.. kamu tahu, usiaku sudah tidak muda lagi. Kamu juga pasti tahu, apa tujuanku mendekatimu. Aku menyukaimu sejak kita bertemu. Aku senang bisa mengenalmu, dan berharap kamu juga membalas perasaanku. Kalau kamu berkenan, aku ingin membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius.”
Masih belum ada jawaban dari mulut Nurul. Wanita cantik itu memilih menikmati minumannya yang sudah mulai menghangat. Kemudian dia memberanikan diri menatap wajah Edo. Pria yang usianya berbeda 12 tahun darinya, namun masih tetap terlihat tampan dan gagah. Tak dapat dipungkiri Nurul pun memendam perasaan yang sama. Apalagi Syifa juga dekat dengannya.Hanya saja dia masih malu untuk menunjukkan secara terang-terangan.
“Kalau mas serius, silahkan datangi kedua orang tuaku,” akhirnya keluar juga jawaban dari mulut Nurul dan sukses membuat mata Edo berbinar.
“Aku akan menemui kedua orang tuamu sepulang dari Rio.”
“Tapi.. apa Leya setuju?”
“Dia setuju. Aku sudah cerita tentangmu dan mengirimkan fotomu juga Syifa padanya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.”
“Benarkah?”
Sebuah senyum lega nampak di wajah Nurul. Sebelumnya wanita itu merasa ragu kalau anak bungsu dari Edo mau menerima dirinya sebagai ibu sambung. Dia berharap keputusannya menerima Edo adalah pilihan yang tepat dan bisa mengobati luka hatinya akibat pengkhianatan mantan suaminya dulu.
“Tapi Nur.. kamu tidak keberatan kan dengan semua masa laluku? Aku bukanlah orang baik. Aku banyak melakukan tindak kejahatan, melakukan perbuatan dosa, memakan uang haram dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.”
“Itu semua masa lalu, mas. Yang penting mas sudah menyadari semua kesalahan mas, dan mau berubah menjadi lebih baik. Aku percaya, mas akan bisa menjadi imam yang baik untukku juga Syifa.”
“Terima kasih, Nur. Tapi sepertinya aku harus banyak belajar darimu. Aku masih belum bisa memimpin shalat, apalagi mengaji. Di umurku yang sudah tua ini, apa aku masih bisa belajar dengan cepat?”
Edo mengusap tengkuknya karena malu. Sejak menjadi mualaf ketika akan menikahi Diah, Edo memang tidak melepaskan keyakinannya lagi. Hanya saja pria itu tidak menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Namun setiap tahun dia selalu berqurban sapi dan tak jarang bersedekah dengan memberi sumbangan pada yayasan amal.
“Belajar pelan-pelan saja, mas. In Syaa Allah, pasti bisa. Aku akan membantu mas.”
“Terima kasih, Nur.”
Senyum mengembang di wajah Edo. Kebahagiaannya akan semakin lengkap setelah menikahi Nurul. Dia bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan untuknya menjalani hidup lebih baik lagi. Dan tentunya tidak akan disia-siakan kesempatan ini.
🍂🍂🍂
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Semua orang yang sedang berkumpul di kediaman Nick, tepatnya di ruang tengah langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Edo. Setelah seminggu lamanya pria itu berada di Rio, akhirnya dia bisa kembali dengan selamat. Nick tentu saja menyambut kedatangan ayahnya ini dengan senang.
Matanya langsung menangkap seorang gadis muda yang berdiri di belakang punggung lebar sang ayah. Menyadari arah pandangan Nick, Edo meraih tangan Leya lalu menarik gadis itu ke depan hingga berdiri sejajar dengannya. Semua sahabat Nick dan keluarga Iza terpana melihat adik satu ayah dari Nick yang begitu cantik.
“Nick.. kenalkan, ini Leya. Leya, ini kakakmu, Nick.”
Untuk sesaat kedua kakak beradik itu saling berpandangan dan sejurus kemudian Nick mendekat lalu menarik Leya ke dalam pelukannya. Walau baru pertama kali bertemu, tapi dia merasa sudah sangat dekat dengan adik perempuannya itu karena Edo selalu menceritakan tentang dirinya.
“Ternyata kamu lebih cantik aslinya daripada di foto.”
“Kakak juga lebih ganteng aslinya. Kalau papai ngga kasih tau kakak itu kakakku, bisa jadi kalau ketemu di jalan aku bakalan jatuh cinta,” seloroh Leya yang langsung disambut tawa Nick. Dia mengusak puncak kepala adiknya itu.
“Leya, kenalkan ini kakak iparmu, nama Iza.”
“Aku tahu, papai sudah cerita soal kak Iza. Hai kak.. kenalin aku Leya.”
“Hai Leya. Senang bisa bertemu denganmu.”
“Kenalkan ini mommy, ini daddy, ini ummi dan ini abi,” Nick memperkenalkan Leya pada kedua orang tua dan mertuanya. Leya menyalami satu per satu keluarga kakaknya itu.
“Dan ini kakak iparku,” Leya kembali menyalami Ridho dan Meta.
“Kalau yang ini, sahabatku beserta istrinya masing-masing. Itu Fahrul, istrinya Mai. Itu Abe, istrinya Sansan. Yang mirip aktor India itu, Arnav dan Rina istrinya. Nah yang kaya oppa-oppa Korea, namanya Denis, istrinya Ayura,” Nick memperkenalkan sahabatnya satu per satu. Leya menyalami mereka seraya melemparkan senyuman.
“Nah yang paling bontot itu namanya Rivan, dia jomblo akut. Ngga laku di mana-mana, padahal udah diskon 70% plus dikasih bonus buy one get three,” Nick terkekeh melihat wajah kesal Rivan.
“Mana ada yang mau sama kut*l tyrex model dia,” sembur Arnav.
“Plus ember bocor,” sambung Abe.
“Mukanya juga pas-pasan,” sahut Denis.
“”Udah gitu timbangan otaknya kurang setengah ons,” tutup Fahrul.
“Terooosss.. teroossss… lanjut aja bang, mumpung orangnya lagi liburan ke Dubai,” seru Rivan.
“Ngapain lo ke Dubai? Ngangon onta? Hahahaha…” ucapan Arnav langsung disambut gelak tawa lainnya. Tapi kepercayaan diri Rivan tidak runtuh karena ledekan para lelaki durjana itu. Dengan gaya tengilnya dia bersalaman dengan Leya seraya mengedipkan mata ke arah gadis itu.
“Kenapa kedap-kedip? Cacingan?” ledek Nick.
“Ini bekerja otomatis bang. Kalau lihat cewek cantik pasti langsung ngedip.”
“Heleh lihat Tarjo didandanin ala Syahrini juga lo langsung ngedip bin klepek-klepek,” ledek Arnav.
Rivan langsung menggetar-getarkan badannya mendengar ucapan Arnav. Membayangkan tukang kebun yang biasa membersihkan taman di rumah Bryan berdandan cetar membahana lengkap dengan bulu mata andi badai ala Syahrini kemudian berbicara dengan suara mendesah mengucapkan kata ‘maju mundur cantik, seperti itu’ membuatnya merinding sendiri.
“Neng bahasa Indonesianya lancar kan?” tanya Rivan.
“Edo!!!”
Edo tergelak mendengar teriakan Diah. Mantan istrinya itu menatap dirinya dengan sorot mata lasernya. Bryan yang duduk di samping istrinya hanya terpingkal. Sudah bukan rahasia lagi kalau bertemu Edo dan Dyah sudah seperti kucing dan tikus saja.
“Kak Iza sudah berapa bulan? Perutnya udah besar gitu.”
“Sembilan bulan lebih. Sebentar lagi mau melahirkan, In Syaa Allah,” jawab Iza.
“Iiihh aku gemes deh lihat pipinya kak Iza, berasa pengen nyubit, gemoy.”
“Buset.. bule tau juga kata gemoy,” celetuk Rivan.
“Aku kan bule gaol kak.”
“Hahaha..”
Kediaman Nick semakin bertambah ramai dengan kedatangan Leya. Gadis berusia enam belas tahun itu memang supel, dan mudah membaur dengan lingkungan baru. Ditambah lagi dirinya yang fasih berbahasa Indonesia, membuatnya tak kesulitan untuk cepat akrab dengan yang lain.
🍂🍂🍂
Edo memandangi bayi mungil yang baru saja dilahirkan ke dunia dua jam yang lalu. Bayi seberat 3,4 kilogram dan tinggi 51 cm itu dilahirkan secara normal oleh Iza pagi tadi. Edo bersyukur sehari setelah kepulangannya, sang menantu baru melahirkan. Jadi dia bisa menungguinya secara langsung.
Kamar perawatan VVIP yang sengaja dipilihnya sudah dipenuhi oleh keluarga dan juga para sahabat Nick. Mereka juga ingin melihat bayi tampan hasil kerja keras sahabatnya. Nick yang berdiri di samping Edo juga tak berhenti menatap buah hatinya yang tengah tertidur pulas. Rasanya tak percaya, dirinya sudah menjadi seorang ayah.
“Apa kamu sudah punya nama untuknya?” tanya Edo.
“Sudah. Namanya Rafardhan Edzard Palermo.”
Edo tersenyum bahagia mendengar Nick menyematkan nama belakangnya di nama sang cucu. Nick sendiri sampai saat ini masih menggunakan kata Littrell di belakang namanya. Sebagai ungkapan terima kasih atas kasih sayang dan perhatian Bryan padanya dan Edo sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Terima kasih Nick, sudah menyematkan nama Palermo.”
“Papai itu kakeknya. Tentu saja dia akan memakai nama papai.”
“Wah anaknya kakak ganteng, fix bakal nyaingin bapaknya,” celetuk Leya yang baru saja tiba setelah diantar melihat sekolah baru oleh Rivan.
“Namanya siapa bang?” tanya Rivan.
“Rafardhan Edzard Palermo.”
“Bagus namanya.”
“Jauh-jauh, lo. Tar si Rafa ketularan somplaknya,” seru Arnav yang tengah duduk di sofa bersama dengan Rina.
“Weh bang hati-hati tuh mulut. Teh Rina lagi hamil, gue doain anaknya lebih somplak dari gue.”
“Amit-amit jabang bayi,” Arnav mengetuk meja dan kepalanya bergantian.
“Udah ganti bang, sekarang amit-amit jabang onye hahahaha..”
“Kenapa onye?” tanya Rina bingung.
“Kan tuan Takur banyak bulunya kaya onye huahaha.. kabooorrrr..”
Rivan langsung bersembunyi di belakang Edo melihat Arnav yang bersiap menimpuk dirinya dengan sandal. Rina hanya bisa tertawa melihat perdebatan suaminya dan Rivan. Keduanya sebenarnya saling menyayangi hanya menunjukkan dengan cara seperti itu. Saling meledek dan menertawakan.
“Be.. tuh cebong lo masih belum netes juga?” celetuk Fahrul.
“Lo ribet amat nanyain cebong gue mulu. Mau netesnya kapan suka-suka dialah,” sewot Abe.
“Masalahnya tuh si tuan Takur udah bisa bikin si Rina kembung. Giliran elo kapan, PEA!” sembur Denis.
“Nanti juga bakalan netes. Udah gue eremin tiap hari.”
“Jangan cuman dieremin, kasih penunjuk arah juga biar ngga nyasar,” timpal Nick.
“Hahaha.. cebong lo harus dikasih privat dulu kayanya biar cepet netes,” lanjut Denis.
“Bisa jadi emang sengaja ngga mau netes, malu punya bapak model dia hahaha.”
Sebuah tepakan mendarat di kepala Arnav. Tak mau kalah, Arnav mengambil roti yang ada di meja, tanpa membuka plastik pembungkusnya, dia langsung memasukkannya ke mulut Abe.
“Be.. gue doain lo punya anak cewek ya. Yang cantik kaya Sansan, tapi mulut ama kelakuannya jangan sampe kaya emaknya hahaha..”
Sansan menjulurkan lidahnya ke arah Fahrul. Di antara istri para sahabat suaminya, dirinya memang yang paling muda dan paling sering terkena bully-an dari para suami. Untung saja wanita itu sudah paham dengan jalan pikiran para pria yang tingkat kewarasannya di bawah rata-rata jadi hanya menganggap candaan mereka seperti angin lalu.
🍂🍂🍂
“Saya terima nikah dan kawinnya Nurul Hidayah binti Muhammad Rajiman dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah!!”
Edo mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah berhasil mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lancar. Satu bulan setelah cucu pertamanya lahir, Edo langsung meminang Nurul dan melangsungkan pernikahan seminggu setelah acara lamaran. Tak ada kemeriahan pesta, hanya ada syukuran sederhana yang dihadiri keluarga dan tetangga dekat.
Leya merangkul bahu Syifa. Kini gadis berusia 10 tahun itu sudah resmi menjadi adik tirinya. Hubungan mereka memang dekat. Leya yang supel dengan cepat bisa menarik hati Syifa, hingga hubungan mereka dekat seperti saudara kandung saja.
Edo menyematkan cincin pernikahan di jari manis Nurul. Dikecupnya dengan penuh kelembutan kening wanita cantik di depannya yang sudah sah menyandang status sebagai istrinya. Senyum Nurul mengembang, wanita itu juga bahagia bisa dipersunting oleh Edo. Terlebih keluarganya juga menerima Edo apa adanya, termasuk segala kekurangan dan masa lalunya.
Mantan suami Nurul yang juga hadir ikut merasakan kebahagiaan mantan istrinya itu. Melihat Nurul bahagia, setidaknya mengurangi perasaan bersalahnya karena sudah mengkhianati wanita itu. Dia sungguh berharap Nur bisa kembali merasakan bahagia di pernikahan keduanya.
Di ruangan lain, nampak sepasang suami istri tengah duduk bersama di sofa. Setelah akad nikah selesai, mereka memilih menepi di ruangan lain. Nick memeluk bahu sang istri yang tengah menggendong Rafa. Kebahagiaannya benar-benar terasa lengkap sekarang. Memiliki seorang istri yang sholehah, kakak ipar yang baik, mertua yang menyayanginya, seorang ibu yang rela berkorban apapun untuknya, dua orang ayah yang begitu mencintainya, adik perempuan yang manis, para sahabat setia dan anak lelaki yang tampan.
Tak ada penyesalan dalam diri Nick akan hidup yang dilaluinya. Walau pun hingga kini ingatannya belum kembali, namun bukan berarti kehidupan dan kebahagiaannya terhenti. Jika diminta memilih, maka dia akan tetap memilih kehidupan yang sama seperti yang dilaluinya saat ini. Karena dia percaya, sesudah kesulitan akan ada kebahagiaan. Sesudah airmata akan ada tawa menjelang. Seperti dirinya sekarang, yang tengah merasakan kebahagiaan setelah serangkaian kesedihan yang menerpanya.
Nick sadar kalau tak selamanya kehidupan berjalan mulus dan indah. Pasti akan ada badai yang menanti di depan sana. Namun dia percaya akan bisa menghadapinya, selama ada orang-orang yang dicintainya di sisinya.
Nick memandangi wajah cantik istrinya. Iza datang di tengah kehampaan hidupnya. Wanita itu memberikan arti baru dan semangat baru untuknya menjalani hidup. Bersamanya, dia bisa melewati semua ujian hidup yang menerpa. Hingga akhirnya kesedihan menepi dan kebahagiaan menyapa. Nick mendekatkan wajahnya, meraih dagu istrinya kemudian memberikan kecupan lembut di bibirnya.
“I love you, Zi..”
“I love you too, mas...”
“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Melengkapi hidupku yang tak sempurna dan memberikan malaikat tampan ini untukku.”
“Hidupku juga indah karena dirimu, mas. Jangan berhenti mencintaiku.”
“Te amare por siempre (aku mencintaimu selamanya).”
Nick kembali mencium bibir Iza. Mel*matnya dengan lembut, kemudian mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening. Pria itu tak lupa mendaratkan ciuman di kening Rafardhan yang tengah tertidur. Senyum tercetak di wajahnya, menggambarkan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
Happily ever after for you, Nick and Iza . After all your tears fallen, the smile finally come. May your love last forever until your last breath. And your happiness spread to those who read your story.
(Bahagia selamanya untuk kalian, Nick dan Iza. Setelah semua airmata yang mengalir, akhirnya kebahagiaan menjelma. Semoga cinta kalian bertahan selamanya sampai helaan nafas terakhir. Dan kebahagiaan kalian menyebar pada siapa saja yang membaca kisah kalian).
🍂🍂🍂 THE END 🍂🍂🍂
Akhirnya kisah ini sampai juga ke ujungnya. Terima kasih untuk pembaca setia yang terus mengikuti kisah Nick & Iza sampai selesai. Tapi jangan di unfav dulu ya, akan ada BONCHAP untuk kalian. Keseruan Nick dan para sahabatnya sama jodoh Rivan nanti akan hadir di BONCHAP, termasuk kisah Leya. Sampai ketemu di BONCHAP, Muchisimas gracias🤗