
“Dan tugas pertama yang diberikan bu Amelia pada saya adalah memecatmu.”
Nick terkejut mendengar penuturan pria di hadapannya. Melihat kebingungan yang melanda Nick, Hilman mengambil sebuah berkas kemudian memberikannya pada Nick. Masih dengan kebingungannya, Nick membuka berkas tersebut. Di sana tertera laporan keuangan tentang promosi hotel yang dilakukannya dua bulan lalu. Keningnya mengernyit melihat nominal pengeluaran yang tak sesuai dengan laporan yang dibuatnya.
“Ini maksudnya apa pak?”
“Itu adalah bukti kalau kamu sudah melakukan penyelewengan dana perusahaan. Kamu me-mark up budget promosi dan itu jelas merugikan perusahaan.”
“Tapi saya tidak melakukannya pak. Ini fitnah, saya tidak pernah membuat laporan seperti ini.”
“Tapi ini bukti kongkrit yang diberikan oleh nara sumber terpercaya.”
Nick terdiam, pikirannya langsung tertuju pada Ranti. Hanya Ranti yang tahu tentang laporan keuangan yang dibuatnya. Dan ada kemungkinan, wanita itu yang telah memanipulasi laporan tersebut.
“Secara pribadi, saya tidak percaya dengan laporan ini. Saya percaya kamu orang yang jujur dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Pendapat saya, hal ini terjadi mungkin karena ketidaksukaan ibu Amelia padamu. Gosip kalau dirimu adalah anak selingkuhan pak Sakurta sudah sampai ke telinganya.”
“Saya mengerti pak. Terima kasih sudah mempercayai saya.”
“Maaf saya tidak bisa menolongmu. Saya harap kamu bisa menerima keputusan ini dengan legowo. Saya sarankan tidak usah memperpanjang masalah ini. Saya takut bu Amelia akan lebih menyulitkanmu nantinya.”
“Baik pak. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas kepercayaan bapak selama ini dan senang bekerja sama dengan bapak.”
Nick berdiri dari duduknya kemudian menyalami Hilman. Tak lama pria itu keluar dari ruangan. Hilman hanya menghembuskan nafas panjang. Berat rasanya harus kehilangan karyawan sebaik Nick. Namun dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa, bukti palsu yang diberikan Ranti sukses membuat para petinggi meradang dan memutuskan untuk memecat Nick secara tidak hormat.
Nick kembali ke ruangannya. Terlihat Ranti ada di sana saat Nick masuk. Tanpa mempedulikan asistennya itu, Nick bergegas menuju meja kerjanya. Dia mulai membereskan barang-barang pribadinya lalu dimasukkan ke dalam kotak. Ranti mendekati Nick yang masih mengabaikannya.
“Perlu bantuan?”
“Tidak perlu. Barang-barangku sedikit, aku bisa membereskannya sendiri.”
“Maksudku apa perlu kubantu untuk mengembalikan nama baik dan juga jabatanmu?”
Perkataan Ranti sukses membuat Nick menoleh ke arah wanita tersebut. Nick menumpukan kedua tangannya di atas meja. Matanya menatap tajam ke arah Ranti yang berdiri tepat di depannya.
“Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu mengkhianatiku? Apa karena uang?”
“Bukan uang, tapi semua karena dirimu. Kamu terlalu angkuh, kamu selalu menjaga jarak dariku dan menolakku. Andai kamu bersikap lebih baik, aku tidak akan mengambil langkah ini. Tapi kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua. Menikahlah denganku, maka aku akan mengembalikan pekerjaan juga jabatanmu, aku akan membersihkan namamu, bahkan aku akan membantumu sampai ke puncak tertinggi di hotel ini.”
Nick tersenyum tipis, dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Semua barang pribadi miliknya kini sudah berpindah ke dalam kotak. Ditutupnya kotak persegi tersebut lalu pria itu melihat ke arah Ranti yang masih menunggu jawabannya.
“Aku tidak sudi menggadaikan hidupku hanya demi rupiah. Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan memulihkan nama baikku. Dan berada di puncak tertinggi di hotel ini sama sekali bukan impianku. Berhati-hatilah, tidak menutup kemungkinan orang yang kamu bantu tidak akan menusukmu dari belakang.”
Nick mengangkat kotak dengan kedua tangannya kemudian beranjak meninggalkan Ranti yang meradang mendengar ucapannya barusan. Pria itu terus berjalan menyusuri koridor khusus keluar masuk karyawan. Terdengar bisik-bisik karyawan yang dilintasinya tengah membicarakan dirinya. Berita tentang pemecatan Nick berikut tindakan korupsinya sudah tersebar di group whats app dan juga terpampang di mading karyawan.
Tanpa mempedulikan kasak-kusuk di sekitarnya, Nick terus berjalan melewati karyawan yang menatapnya dengan berbagai pandangan. Seorang karyawan pria yang selama ini membantunya, menghampiri Nick begitu pria itu hampir mencapai pintu keluar.
“Biar saya bantu pak.”
“Ngga usah pak.”
“Tidak apa pak.”
Karyawan tersebut segera mengambil kotak di tangan Nick kemudian berjalan menuju mobil yang terparkir di basement hotel. Nick membukakan pintu dan pegawai tersebut meletakkan kotak di jok belakang.
“Terima kasih pak.”
“Sama-sama pak Nick. Saya percaya bapak tidak melakukan yang dituduhkan manajemen. Bapak adalah pekerja keras, dan berkat bapak hotel mengalami kemajuan pesat selama beberapa bulan terakhir. Saya doakan bapak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.”
“Aamiin.. terima kasih untuk doa dan juga kepercayaannya.”
Nick mengambil dompet dari saku belakang celananya. Kemudian dia mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah lalu memberikannya pada pria di hadapannya.
“Tidak usah pak.”
“Tolong diambil pak.”
“Saya ngga bantu apa-apa pak. Tolong jangan buat saya malu,” tolak pegawai itu sopan.
“Ambil saja pak. Ini rejeki bapak, saya memberikannya untuk anak-anak bapak.”
Pegawai itu melihat penuh haru pada Nick. Orang yang tak mengenal Nick, pasti banyak yang menganggap kalau pria itu adalah orang yang arogan karena Nick memang tidak banyak bicara. Tapi kenyataannya, Nick adalah pria yang hangat dan tak sungkan memberikan bantuan pada yang membutuhkan.
“Terima kasih pak, Alhamdulillah. Saya doakan bapak mendapat rejeki yang berlipat dari yang bapak berikan.”
“Aamiin.. saya pergi dulu pak. Maaf kalau selama di sini saya melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan bapak.”
“Saya juga minta maaf pak.”
Nick mengangguk kemudian masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian Honda CRV miliknya bergerak meninggalkan area basement. Pegawai itu kembali masuk, dia langsung diserbu berbagai pertanyaan seputar Nick. Namun pria itu tak menggubrisnya, dia terus berjalan menuju posnya bertugas. Pria itu yakin kebenaran tentang Nick akan muncul dengan sendirinya nanti.
🍂🍂🍂
Diah terkejut melihat Nick sudah pulang di saat hari masih siang. Pandangannya langsung tertuju pada kotak di tangan anaknya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Nick segera masuk ke dalam kamarnya. Didorong rasa penasaran, Diah mengikuti sang anak masuk ke dalam kamar.
“Nick.. kenapa sudah pulang? Itu kotak apa?”
Nick meletakkan kotak di atas meja kemudian dia mendudukkan diri di sisi ranjang. Diah membuka tutup kotak dan melihat berbagai barang Nick di sana. Masih bingung dengan semua, wanita itu ikut duduk di samping anaknya.
“Nick.. itu barang-barang apa?”
“Aku dipecat mom.”
“What??? Kok bisa? Kenapa?”
“Katanya aku melakukan korupsi.”
“Korupsi? No.. no.. no.. tuduhan itu pasti salah. Kamu ngga korupsi kan Nick?”
“Ya ngga lah mom. Mereka sengaja manipulasi kasus itu buat depak aku dari sana. Anak om Sakurta, sekarang direktur di sana. Sepertinya ini ulah dia, mom.”
“Kurang ajar!! Pasti wanita sialan itu yang sudah menyuruh anaknya memecatmu. Kamu tenang aja, mommy akan membuat perhitungan dengan wanita itu,” geram Diah.
Nick menatap ke arah sang mommy yang terlihat gusar setelah mendengar ceritanya. Direngkuhnya bahu Diah kemudian dipeluknya wanita itu dari samping. Nick meletakkan dagunya di bahu sang mama.
“Udahlah mom.. ngga usah dipikirin. Biar itu jadi urusanku.”
“Ngga bisa Nick, mommy akan kasih pelajaran pada wanita itu. Dia ngga berhenti mengusik kamu. Kemarin dia mengirim orang suruhan untuk mencelakai kamu, sekarang anaknya memecatmu. Mommy ngga bisa tinggal diam.”
“Biarkan aja mom. Sikap buruk mereka ngga harus dibalas dengan keburukan juga kan.”
“Mommy sudah meninggalkan Sakurta untuknya tapi dia masih berani mengganggumu.”
“Mom.. please ngga usah diperpanjang. Ada hal yang lebih penting sekarang.”
“Apa?”
“Mommy lupa kalau malam ini aku akan bertemu dengan abinya Iza.”
“Oh iya.”
Diah menepuk keningnya, gara-gara emosi mendengar pemecatan sang anak, wanita itu lupa kalau malam ini Nick akan bertemu dengan calon mertuanya yang galak. Diah bangun dari duduknya kemudian mulai memilihkan pakaian yang akan dikenakan sang anak nantinya. Pilihannya jatuh pada kemeja berwarna biru muda yang dipadankan dengan celana chino hitam. Diah menaruh pakaian tersebut di atas kasur.
“Perlu mommy temani?”
“Ngga usah mom. Nanti kalau abi sudah setuju, baru mommy datang untuk melamar Iza secara resmi. Doakan aku ya mom.”
“Pasti mommy akan mendoakanmu sayang. Mudah-mudahan anj*ng herder itu berubah jadi anj*ng pudel.”
“Mom...”
Diah tertawa melihat raut wajah Nick yang protes atas julukannya untuk Rahardi. Dia mendekat lalu memeluk sang anak. Nick memeluk pinggang Diah, dalam hatinya terus berdoa agar nanti malam segalanya menjadi mudah untuknya.
🍂🍂🍂
Satu per satu jamaah mulai memasuki masjid. Nick melepas sepatunya kemudian berjalan menuju tempat wudhu. Di depan pintu, dia berpapasan dengan Rahardi. Pria paruh baya itu tampak terkejut melihat keberadaan Nick, namun dengan cepat dia merubah mimik wajahnya kemudian berlalu meninggalkan pemuda itu tanpa berkata sepatah kata pun.
Rahardi maju ke depan saat jamaah yang lain meminta dirinya untuk memimpin shalat. Pria itu berdiri di atas sajadah yang terletak di bagian paling depan. Tak lama terdengar salah seorang membacakan iqomah. Rahardi kembali terkejut saat tahu suara yang didengarnya tadi adalah suara Nick. Pria itu pun mulai memimpin jalannya shalat.
Usai menunaikan shalat isya, Rahardi memilih untuk bercengkrama sebentar dengan jamaah lain. Diliriknya beberapa orang yang masih berada di masjid, namun pria itu tak menemukan keberadaan Nick. Rahardi berbincang sebentar membahas perkembangan DKM yang baru saja melakukan perombakan kepemimpinan. Setelah itu, dia kembali ke rumahnya.
Rahardi kembali ke rumah dan melihat Nick sudah duduk di ruang tamu ditemani oleh anaknya. Tanpa menoleh ke arah pemuda itu, Rahardi terus berjalan masuk ke dalam kamar. Selesai berganti pakaian, Rahardi kembali keluar. Mina segera mengajak Iza juga Nick untuk menikmati makan malam.
Suasana hening meliputi acara makan malam kali ini. Hanya ada suara dentingan sendok saja yang terdengar. Sesekali Iza melirik ke arah sang ayah yang nampak serius menikmati makanannya, begitu pula dengan Nick. Bohong kalau pria itu tak merasa gugup, namun sebisa mungkin Nick tetap bersikap tenang.
Makan malam yang cukup menegangkan itu akhirnya berakhir. Mina mengajak yang lain duduk di ruang tamu. Wanita yang kerap dipanggil ummi itu tahu kalau ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Nick.
“Bagaimana keadaanmu Nick?” tanya Mina membuka percakapan.
“Alhamdulillah baik ummi.”
Mina tersenyum mendengar jawaban Nick. Dalam hatinya cukup senang melihat perubahan pria yang dicintai oleh anaknya itu. Wanita tersebut bisa melihat kesungguhan Nick untuk mendapatkan Iza. Berbeda dengan Rahardi yang terlihat tak peduli. Di matanya Nick tetaplah bukan pria yang tepat untuk mendampingi putrinya.
“Ada keperluan apa kamu ingin bertemu dengan saya?” akhirnya suara Rahardi terdengar juga.
“Maaf sebelumnya om, kalau saya terkesan lancang. Tapi kedatangan saya ke sini untuk meminta ijin om juga ummi, ijinkan saya untuk menunjukkan keseriusan saya pada Iza. Jika om mengijinkan, saya akan membawa mommy untuk melamar Iza secara resmi.”
Rahardi tak langsung menjawab, ditatapnya pria yang duduk berhadapan di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dada Iza berdebar menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulut abinya.
“Apa yang kamu punya sampai kamu berani melamar Iza?”
“Maksud om?”
“Saya masih ingat betul perkataanmu saat kita pertama bertemu. Dari situ saya bisa menilai siapa dirimu. Kamu pikir hanya karena kamu sudah ikut shalat berjamaah, otomatis menjadikan dirimu baik dan layak bersanding dengan Iza?”
“Abi...”
Rahardi mengangkat tangannya ketika mendengar Iza memanggilnya. Mina memegang tangan Iza kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita itu masih ingin mendengar apa yang dikatakan suaminya.
“Saya tidak pernah mengatakan kalau saya pria baik. Tapi saya berusaha untuk menjadi baik. Saya juga sadar kalau belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang om inginkan. Tapi saya akan terus berusaha memantaskan diri untuk bisa bersama Iza.”
“Apa kamu masih bekerja di hotel?”
“Saya sudah tidak bekerja di sana, om.”
“Mengundurkan diri atau dipecat.”
“Dipecat om.”
Iza terkejut mendengar jawaban Nick, sontak gadis itu melihat ke arah pria itu. Nick memang belum mengatakan perihal pemecatannya pada Iza karena tak ingin membuat gadis itu khawatir.
“Atas alasan apa kamu dipecat?”
“Maaf om, apa hubungannya pemecatan saya dengan hubungan saya dengan Iza?”
“Tentu saja ada hubungannya. Kamu meminta anak gadis yang begitu saya sayangi, tentu saja saya harus tahu semua tentang dirimu.”
“Saya dipecat atas tuduhan korupsi.”
Mata Iza membulat mendengarnya, lagi-lagi gadis itu dibuat terkejut. Rahardi tertawa sumbang, dalam hatinya bersorak senang bisa menemukan kelemahan Nick. Penilaiannya akan pria itu semakin buruk saja.
“Tidak punya dasar agama yang kuat, tidak memiliki pekerjaan dan juga melakukan tindakan korupsi.. berani sekali kamu meminta anakku dengan kondisimu yang seperti itu.”
“Maaf om, saya memang dipecat atas tuduhan korupsi tapi bukan berarti saya melakukan perbuatan itu. Saya tegaskan kalau saya tidak melakukan perbuatan kotor itu. Dan soal pekerjaan, om tidak usah khawatir, sebelum saya menikahi Iza, saya akan pastikan sudah memiliki penghasilan tetap agar bisa menghidupinya. Tentang ilmu agama yang saya miliki, saya akui masih sedikit yang saya tahu. Tapi saya akan terus belajar memperdalam ilmu agama seraya memperbaiki diri. Saya juga ingin menjadi suami yang bisa membimbing istrinya.”
Mina memandang penuh kekaguman pada Nick. Tak salah penilaiannya selama ini pada pemuda tersebut. Nick adalah anak baik, dia juga berpendirian teguh serta bertanggung jawab. Mina yakin, Nick akan bisa menjadi imam yang baik untuk Iza.
“Ummi kagum dengan pemikiranmu. Buktikan kalau dirimu tidak bersalah. Kamu harus bisa memulihkan nama baikmu, walau ummi percaya kebenaran cepat lambat akan terungkap. Tapi ada orang yang harus melihat bukti kebenaran itu secara nyata, apa kamu bisa melakukannya Nick?”
Mina melirik ke arah sang suami ketika mengatakan itu semua. Hatinya sedikit kesal melihat sikap keras kepala Rahardi yang masih belum mau membuka hatinya untuk Nick. Rahardi sendiri tak acuh dengan penuturan sang istri. Dirinya masih yakin kalau Nick tak layak untuk mendampingi Iza.
“Lebih baik kamu mundur saja. Saya sudah mempunyai calon yang baik untuk Iza.”
“Abi...” protes Iza.
“Kalau begitu berikan juga kesempatan yang sama untuk saya. Biarkan saya dan calon yang om inginkan bersaing secara sehat untuk mendapatkan Iza. Apapun keputusan om nanti, saya akan menghargainya. Saya hanya meminta kesempatan untuk membuktikan kalau saya layak mendapatkan Iza. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kan om?”
Rahardi berdehem mendengar penuturan Nick. Satu hal lagi yang tak disukainya dari pemuda itu. Nick selalu saja bisa membalas kata-katanya. Pria berwajah indo itu juga tidak mudah terintimidasin denga sikap dan kata-katanya.
“Baiklah.. saya berikan kamu waktu satu bulan untuk membuktikan diri. Kalau kamu mengecewakan, maka kamu harus menjauhi Iza selamanya.”
Rahardi terpaksa memberikan kesempatan pada Nick sambil dirinya akan terus mencari cara untuk memisahkan Nick dari Iza. Mina sedikit tak percaya mendengar ucapan Rahardi, namun dia berusaha berprasangka baik pada suaminya itu. Iza juga cukup lega mendengar keputusan Rahardi.
“Masih ada yang ingin dibicarakan?”
“Tidak ada om.”
“Kalau begitu silahkan pulang.”
Rahardi berdiri dari duduknya kemudian pria itu berjalan meninggalkan semua orang yang ada di ruang tamu. Kakinya melangkah menuju lantai dua, di mana perpustakaan pribadinya berada. Mina hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. Dia memilih pindah ke ruang tengah untuk memberikan waktu pada anaknya juga Nick berbicara.
“Nick, kamu beneran dipecat?”
“Hmm..”
“Kok bisa? Maksudku tuduhan korupsi itu.”
“Ranti, asistenku yang sudah membuat laporan palsu.”
“Alasannya?”
“Dia hanya menjalankan perintah. Dalangnya adalah Amelia, anak dari om Sakurta. Sekarang dia menjabat direktur di tempat kerjaku. Sepertinya dia sengaja memecatku karena skandal mommy.”
“Terus rencanamu apa sekarang?”
“Hmm.. belum kepikiran juga. Soalnya yang dari tadi kupikirkan bagaimana cara menghadapi abimu.”
Nick tersenyum setelah mengatakan itu. Iza menggelengkan kepalanya, bisa-bisa Nick bercanda tentang kondisinya sekarang.
“Ternyata susah ya Zi berubah menjadi orang baik. Selalu ada ujian untuk mencapai predikat itu.”
“Itu ujian buatmu Nick. Allah ingin menguji apakah kamu istiqomah dengan perubahanmu. Dan aku percaya kamu bisa melalui ini semua.”
“In Syaa Allah Zi.. asalkan kamu selalu menyemangatiku dan mengingatkanku.”
“Aku akan selalu di sisimu dan mendukungmu.”
“Thank you my wife.”
“Ish apaan sih..”
“Diaminin dong.”
“Iya aamiin..”
Wajah Iza bersemu merah saat mengucapkannya. Nick tersenyum melihat pipi Iza yang kemerahan. Gadis itu semakin terlihat menggemaskan di matanya. Kepenatan di hari ini terbayar sudah setelah melihat senyum manis kekasih hatinya.
🍂🍂🍂
Pak Rahardi belum pernah nyobain pepes rudal squad ya? Tar gue bikinin ya om, biar tuh rudal meledak di mulut lo😤