The Nick's Life

The Nick's Life
Crash



“Aku.. masih mencintaimu, Diah. Setiap hari aku bukan hanya mendoakan kebaikan untukmu dan Nick. Tapi aku juga berdoa supaya kita bisa bersama suatu saat nanti. Maukah kamu menikah denganku lagi?”


“Itu ngga mungkin Bryan.”


“Kenapa? Apa yang ngga mungkin? Kita sama-sama sendiri dan masih saling mencintai. Apa yang salah?”


“Aku.. bukan perempuan yang pantas untukmu. Aku kotor.. tubuhku penuh noda. Aku ngga layak bersanding denganmu.”


Diah menutup wajah dengan kedua tangannya ketika cairan bening begitu saja keluar dari kedua matanya. Di satu sisi dia senang mengetahui Bryan masih mencintainya dan ingin bersamanya kembali. Namun di sisi lain, dia merasa tak pantas.


“Sudah kubilang itu semua hanyalah masa lalu. Aku juga bukan pria sempurna. Dulu aku juga sering menghabiskan waktu dengan beberapa wanita untuk menghilangkan rasa kecewaku karena tak bisa bersamamu lagi. Sampai akhirnya aku menemukan jalan terang, aku bertobat dan menjadi mualaf. Kita sama-sama pernah melakukan kesalahan dan mencoba memperbaiki kesalahan itu. Bukankah kita berhutang pada Nick? Karena keegoisan kita, dia kehilangan sebuah keluarga. Masih belum terlambat bukan kalau kita membangun keluarga kecil kita lagi, bersama dengan Nick, Iza dan calon cucu kita.”


Tangis Diah semakin kencang. Dirinya sungguh malu, Tuhan masih begitu baik menawarkan kebahagiaan untuknya di saat dia masih belum bisa melaksanakan kewajiban sebagai muslim dengan baik. Tapi hatinya juga tak dapat menampik kalau dia memiliki impian yang sama dengan Bryan.


“Diah..”


"Apa kamu yakin mau menikah denganku? Apa kamu tidak akan menyesalinya?"


"Aku akan menyesal kalau tidak melakukannya. Ayo kita menikah lagi, sah secara agama juga hukum."


“Kita temui Nick dulu. Kalau dia setuju, aku juga setuju.”


Seutas senyuman tergambar di wajah Bryan. Dia mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan syukur kemudian mengusapkan ke wajahnya. Dilihatnya Diah yang juga tersenyum di sela-sela tangisnya.


🍂🍂🍂


Bryan telah bersiap untuk pergi ke Jakarta. Rencananya hari ini dia akan menemui Nick dan meminta restu anak itu agar bisa menikahi Diah lagi. Dilihatnya jam di tangan yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Matanya tertuju pada kamar tamu yang masih tertutup rapat pintunya.


Pria itu kembali menolehkan kepalanya ke arah kamar tamu begitu terdengar suara pintu terbuka. Perlahan Diah muncul dari dalam kamar. Mata Bryan memandang Diah tak berkedip. Wanita di hadapannya nampak cantik dalam balutan Kaftan berwarna biru muda. Kepalanya pun sudah tertutup rapih oleh hijab instan yang menjuntai sampai ke perut. Dengan perasaan gugup, Diah menghampiri Bryan.


“Subhanallah.. aku baru tahu kalau semalam ada bidadari yang menginap di sini.”


Diah hanya tersenyum mendengar pujian Bryan yang terdengar seperti gombalan Deni Cagur di telinganya. Dia menggerakkan tangan di depan wajah Bryan, mengaburkan lamunan pria itu.


“Sudah siap nyonya Littrell?”


“Siap Mr. Littrell.”


Bryan tergelak mendengarnya. Dia berjalan lebih dulu menuju mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Diah. Sambil mengangkat sedikit pakaiannya, Diah naik ke atas mobil. Setelah menutup pintu, Bryan memutari bodi mobil kemudian masuk ke dalamnya. Tak lama, roda kendaraan berjenis SUV itu bergerak maju.


🍂🍂🍂


“Mas.. ini jam tangannya ketinggalan.”


Panggil Iza ketika Nick hampir saja menaiki mobilnya. Pria itu kembali menghampiri sang istri. Iza memakaikan arloji ke pergelangan tangan sang suami, kemudian memeluk pinggangnya.


“Mas ngga usah ke kedai ya hari ini,” ucap Iza manja.


“Maaf sayang. Aku harus ke kedai sekarang. Panji bilang ada yang mau merayakan ulang tahun di sana. Anak-anak pasti sibuk banget, jadi aku harus membantu.”


“Kalau gitu aku ikut ya.”


“Jangan.. nanti malah kamu kecapean. Kamu di rumah aja ya. Nanti begitu ulang tahunnya selesai, aku langsung pulang.”


Walau enggan, Iza mengurai pelukannya. Nick meraih dagu Iza kemudian me**mat bibir istrinya itu. Iza mengalungkan kedua tangannya ke leher Nick. Untuk sesaat keduanya hanyut dalam penyatuan bibir. Sampai akhirnya Nick mengakhiri ciumannya.


“Aku pergi ya, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Iza mencium punggung tangan Nick yang dibalas dengan kecupan di keningnya. Pria itu lalu masuk ke dalam mobil. Sambil melambaikan tangan ke arah sang istri, Nick memajukan kendaraannya.


Sepeninggal Nick, Iza menutup pintu tanpa menguncinya. Dia langsung kembali ke kamarnya. Awalnya wanita itu hanya berbaring saja di atas kasur, tapi kemudian Iza bangun lalu membuka pintu lemari. Dia mengambil beberapa pakaian muslim serta beberapa hijab instan dan juga kerudung segi empat.


Beberapa kali Iza mematut dirinya di depan cermin. Wanita itu mencoba semua pakaian muslim yang dibelikan sang suami untuknya. Iza ingat pernah berjanji akan mulai berhijab jika dirinya hamil. Kini Iza tengah mengandung dan dia ingin menepati janjinya itu. Iza melepas kembali pakaian muslim yang dikenakannya lalu menggantinya dengan baju yang tadi dipakainya.


“Pakainya nanti kalau mas pulang dari kedai. Dia pasti senang lihat aku pakai hijab.”


Iza bergumam pelan. Dia merapihkan kembali pakaian juga hijab dan kerudung yang dicobanya tadi lalu memasukkan kembali ke dalam lemari. Baru saja dia akan berbaring di kasur, ketika terdengar suara dari arah bawah. Iza melihat ke arah jam dinding. Baru dua jam berlalu, apa mungkin Nick sudah kembali. Wanita itu kemudian keluar dari kamarnya.


“Zi..”


Iza tersentak begitu mendengar suara Rahardi dari arah belakangnya. Wajahnya langsung memucat melihat pria yang belum ingin ditemuinya sudah berdiri di hadapannya. Kening Rahardi berkerut melihat Iza yang seperti melihat hantu saja. Pria itu berjalan mendekat. Namun tiba-tiba Iza berlari menuju kamar mandi.


HOEK


HOEK


Iza memuntahkan isi di perutnya. Bertemu dengan Rahardi tiba-tiba saja membuat perutnya mual. Padahal biasanya dia tak pernah merasakan mual apalagi sampai muntah. Khawatir dengan keadaan sang anak, Rahardi bergegas menuju ke kamar. dihampirinya Iza yang tengah berjongkok di depan toilet.


“Zi.. kamu kenapa? Sakit?”


Baru saja Iza merasa tenang, tiba-tiba perutnya terasa diaduk-aduk kembali. Wanita itu kembali memuntahkan isi perutnya. Rahardi memijit tengkuk sang putri pelan, namun hal tersebut semakin membuat mual di perut Iza semakin menjadi.


HOEK


HOEK


“Zi.. kamu kenapa?”


“Abi.. tolong keluar.”


“Tapi..”


“Tolong bi..”


HOEK


HOEK


Melihat Iza yang terus muntah, Rahardi memilih keluar. Dia mencari ponselnya yang tadi diletakkan di atas meja. Secepatnya dia harus menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Iza. Rahardi baru saja selesai menghubungi dokter kenalannya ketika Iza keluar dari kamar mandi.


“Kamu kenapa Zi?” tanya Rahardi sambil mendekati Iza. Namun langkahnya tertahan ketika Iza menghentikan langkahnya dengan gerakan tangan.


“Tolong jangan dekat-dekat. Aku mual setiap dekat dengan Abi.”


“Kenapa? Apa abi bau?”


Rahardi mengangkat tangannya kemudian menciumi ketiaknya. Walau tak bisa disebut wangi tapi tubuhnya juga tidak bau. Hanya bau keringat saja, karena dirinya baru saja menempuh perjalanan panjang dari Makassar. Kepulangan Rahardi dipercepat karena ada dosen lain yang menggantikan dirinya.


“Abi bawa oleh-oleh untukmu. Nanti Syehan abi suruh kemari untuk mengambil oleh-oleh.”


Kening Iza berkerut mendengar Rahardi menyebut nama Syehan. Sepertinya ayahnya itu belum mengetahui perihal pernikahan Syehan dengan Dita.


“Apa abi belum tahu?”


“Soal apa?”


“Calon yang abi banggakan itu sudah menikah dengan perempuan lain.”


“Kamu bohong kan Zi?”


Merasa tak percaya dengan penuturan Iza, Rahardi segera menghubungi temannya itu. Iza terus memperhatikan sang ayah yang tengah berbicara melalui sambungan telepon. Perlahan raut wajah Rahardi mulai berubah. Iza memilih kembali ke kamar, dia harus memberitahu Nick perihal kepulangan Rahardi.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Mas.. abi udah pulang.”


“Apa? Bukannya masih seminggu lagi?”


“Aku ngga tahu mas.”


“Aku pulang sekarang. Kamu di kamar aja.”


“Iya mas. Lagian aku mual kalau dekat-dekat abi. Sepertinya anak kita ngga suka dengan kakeknya.”


“Kamu ada-ada aja. Tunggu aku, sayang. Aku pulang sekarang, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Anak? Anak siapa yang kamu maksud?”


Iza terkesiap mendengar suara Rahardi sudah ada di belakangnya. Wanita itu membalikkan tubuhnya. Rahardi berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Pria itu segera menyusul Iza begitu selesai menghubungi Faisal dan sempat mendengar pembicaraan Iza dengan Nick.


“Anakku.”


“Anakmu?”


“Abi.. aku sudah melakukan kesalahan. Aku melanggar aturan agama, aku sudah berhubungan jauh dengan Nick. Dan sekarang aku hamil anaknya.”


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Iza. Wanita itu terkejut Rahardi berani berbuat kasar padanya. Mata Iza menatap tajam kepada sang ayah sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri.


“Abi menamparku..”


“Lalu aku harus bagaimana? Kamu sudah berbuat ZINA!! Dan sekarang kamu mengandung ANAK HARAM!!”


“Dia bukan anak haram!! Dia anakku dengan Nick. Dia buah cintaku, abi. Dia memiliki ayah dan ibu. Anakku bukan anak haram.”


Airmata Iza meluncur begitu saja saat mengatakan itu semua. Rasa sakit akibat tamparan tak seberapa dibanding rasa sakit saat Rahardi menyebut anak yang dikandungnya adalah anak haram.


“Di mana Nick? Di mana laki-laki brengsek itu!!”


“Dia bukan laki-laki brengsek. Dia lelaki pilihanku, ayah dari anakku. Harap abi menjaga kata-kata abi.”


“Dia itu lelaki brengsek. Kalau dia lelaki baik-baik, dia tidak mungkin menghamilimu sebelum kalian menikah!!”


“Aku yang memintanya!! Aku yang memintanya melakukan ini semua. Dan ini semua karena abi. Kalau perbuatan kami adalah sebuah dosa maka abi juga ikut menanggung dosa itu. Karena abi yang mendorong kami melakukannya!!”


Rahardi terhenyak mendengar penuturan putri semata wayangnya. Suasana di dalam kamar semakin panas, baik Rahardi maupun Iza sama-sama sudah dikuasi emosi. Iza terus berdoa dalam hati semoga Nick cepat datang dan membawanya pergi dari hadapan sang ayah.


“Apa ummi tahu kehamilanmu?”


“Ngga.. aku akan memberitahukannya kalau abi sudah tahu. Sekarang abi sudah tahu dan sepulang ummi dari Yogya, aku akan memberitahunya. Abi juga harus bersiap untuk menikahkanku dengan Nick.”


“Tidak akan. Kamu tahu sendiri, wanita yang sedang hamil tidak boleh menikah. Kamu akan abi kirim ke pesantren teman abi. Kamu tinggal di sana sampai melahirkan. Jika anakmu sudah lahir, abi akan menikahkanmu dengan salah satu santri di sana.”


Iza seperti tersambar petir mendengar ucapan Rahardi. Bahkan setelah dirinya melangkah sejauh ini, sang ayah masih bersikeras menolak kehadiran Nick. Sedih, kecewa sekaligus marah menghantamnya sekaligus. Sungguh laki-laki di hadapannya ini berhati batu.


“Abi mau memisahkan anak dari ayah kandungnya?”


“Itu demi kebaikannya. Abi takut anakmu nanti akan bersikap buruk seperti ayahnya.”


Iza tak dapat menahan dirinya lagi. Didorong perasaan marah, dia berteriak sembari maju ke arah Rahardi. Dengan kencang didorongnya tubuh sang ayah hingga jatuh terjengkang. Kemudian Iza bergegas menuruni tangga. Lebih baik dia pergi sekarang dari pada Rahardi mengurungnya lagi.


Dengan cepat Rahardi bangun kemudian berlari mengejar Iza. Dia harus menahan sang anak, jangan sampai kabur dari rumah. Pria itu menyusul Iza yang sudah mendekati pintu pagar. Hampir saja Rahardi berhasil menangkap tangan Iza, ketika sebuah Yamaha Vixion berhenti di depan rumahnya. Seorang pria muda turun dari atas motor kemudian menghampiri Rahardi seraya melepas helmnya.


“Selamat siang pak. Saya Gunadi, mau bimbingan skripsi pak.”


Kedatangan Gunadi dimanfaatkan Iza untuk menjauh dari Rahardi. Dia segera membuka pintu pagar lalu bergegas keluar. Gunadi terlihat bingung melihat interaksi sang dosen dengan seorang wanita yang diduga adalah anaknya.


“Nanti saja bimbingannya.”


Rahardi menghalau tubuh Gunadi. Pria itu bermaksud mengejar Iza. Namun terlambat, Nick telah lebih dulu tiba. Dengan cepat Iza masuk ke dalam mobil.


“Jalan!!”


Nick segera melajukan kendaraannya kembali mendengar perintah Iza. Rahardi yang tak mau kehilangan sang anak bergegas kembali ke rumah. Dia berlari ke dalam untuk mengambil kunci mobil. Namun sebelumnya dia memberikan perintah pada Gunadi yang masih terpaku di tempatnya.


“Kejar mobil itu, cepat!!”


Masih dilanda kebingungan, Gunadi naik kembali ke atas motornya. Dengan cepat dia memakai helmnya kemudian menjalankan kendaraannya menyusul mobil Nick yang sudah hilang di belokan. Tak lama Rahardi keluar. Pria itu masuk ke dalam mobilnya lalu menyusul Gunadi.


Nick yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Apalagi Iza masih terus menangis. Dia bermaksud menepikan kendaraannya namun urung dilakukan saat melihat sebuah sepeda motor mengikutinya.


“Zi.. ada apa ini?”


“Abi udah tahu kalau aku hamil. Dia mau membawaku ke pesantren temannya. Aku harus tinggal di sana sampai melahirkan. Dan akan menikahkanku dengan salah satu santri di sana,” ujar Iza di sela-sela tangisnya.


“Astaghfirullah.”


Nick menekan pedal gas lebih dalam lagi melihat sepeda motor Gunadi semakin mendekat. Dari kaca spion dia juga melihat mobil Rahardi turut mengejar. Beberapa kali dia membunyikan klakson untuk menghalau kendaraan di depannya.


Iza berpegangan saat mobil yang dikendarai sang suami melaju begitu kencang. Sesekali dia juga melihat ke arah belakang. Gunadi dan Rahardi terus mengejar mereka. Dari kejauhan Nick melihat lampu merah di depannya. Pria itu melambatkan laju kendaraannya.


Menjelang beberapa meter mencapai lampu merah, ternyata lampu sudah berubah hijau. Nick kembali menekan pedal gas. Dia harus cepat sebelum lampu kembali berubah merah. Saat mobilnya melewati lampu merah, tiba-tiba dari arah kirinya muncul mobil box dengan kecepatan tinggi.


BAM!!!!


Tabrakan kencang tak dapat terelakkan. Kaca jendela di dekat Iza pecah, wanita itu menutupi mata dengan tangannya ketika serpihan kaca menerpa wajahnya. Sementara kepala Nick terbentur keras kaca jendela samping saat benturan keras terjadi. Untuk beberapa kali, kendaraan mereka berputar-putar hingga akhirnya berhenti setelah menabrak tiang billboard.


Gunadi mengerem kendaraannya melihat tabrakan tepat di depan matanya. Pemuda itu turun kemudian berlari mendekati lokasi tabrakan. Rahardi pun menekan pedal rem dalam-dalam demi menghentikan kendaraannya. Bergegas dia keluar dari dalam mobil kemudian berlari ke arah mobil Nick.


“IZA!!!!”


Kemacetan seketika melanda di lokasi kecelakaan. Orang-orang yang ada di dekatnya bergegas menghampiri kendaraan yang mengalami kecelakaan. Gunadi dibantu yang lain membantu mengeluarkan Iza juga Nick dari dalam mobil. Sedang beberapa orang yang lain mengeluarkan pengemudi box yang juga mengalami luka parah.


Rahardi berlari sekuat tenaga, kemudian menghalau orang-orang yang tengah berkerumun di dekat korban. Gunadi baru saja mengeluarkan Iza dari dalam mobil. Pemuda itu berteriak kencang meminta dipanggilkan ambulans. Salah seorang di sana segera menghubungi ambulans dengan ponselnya.


“Iza...”


Rahardi menghambur ke arah sang anak. Tubuhnya lunglai melihat sang anak yang bersimbah darah. Sambil menjatuhkan diri, Rahardi memeluk Iza yang tak sadarkan diri. Tangisnya pecah begitu saja.


“IZAAAAA!!!!”


🍂🍂🍂


**Gara² dirimu Rahardi..


Weh piala Thomas tayang, I'm coming🚴🚴🚴**