The Nick's Life

The Nick's Life
Berusaha & Berdoa



Meta menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya memasuki gedung sebuah showroom mobil. Hari ini dia akan melakukan sesi wawancara kerja. Lewat informasi yang diberikan Arnav, gadis itu melamar pekerjaan di kantor ini. Kedatangannya disambut salah satu pegawai marketing.


“Selamat pagi.. ada yang bisa dibantu?”


“Saya mau wawancara kerja mas. Saya diminta datang ke sini oleh pak Sugih.”


“Oh silahkan jalan sampai ke ujung terus belok ke kanan. Naik ke tangga, di lantai dua nanti tanyakan saja di mana ruangan pak Sugih.”


“Baik. Terima kasih mas.”


Sesuai arahan yang diberikan pria tadi, Meta terus berjalan hingga ke ujung kemudian berbelok ke kanan. Dia menaiki tangga yang ada di sudut ruangan. Sesampainya di lantai dua, dia langsung disuguhi kesibukan karyawan yang bekerja dibalik kubikelnya. Seorang wanita muda menghampirinya.


“Ada yang bisa dibantu?”


“Saya mau bertemu dengan pak Sugih.”


“Silahkan ikuti saya.”


Wanita muda itu membimbing Meta melewati jajaran kubikel kemudian berbelok ke kiri. Dia berhenti di depan ruangan yang bertuliskan Kabag HRD. Setelah mengetuk pintu dan terdengar jawaban dari dalam, wanita tersebut membuka pintu kemudian mempersilahkan Meta masuk.


Sugih, pria berkacamata yang usianya diperkirakan menjelang empat puluh tahun mempersilahkan Meta untuk duduk. Sejenak dipandanginya Meta yang mengenakan blazer dipadu dengan rok plisket dan hijab panjang yang menutup hingga ke dadanya. Dia sendiri sudah membaca berkas lamaran gadis tersebut dan kini akan mengetes apakah Meta cocok untuk mengisi posisi yang ditinggalkan salah satu bawahannya.


“Sudah sarapan?” tanya Sugih dengan ramah.


“Alhamdulillah sudah pak.”


“Ok kita mulai saja ya. Sebelum wawancara, saya akan memberikan tes tertulis dahulu,” Sugih menyerahkan sebuah map pada Meta.


“Kamu bisa menggunakan komputer?”


“Bisa pak?”


“Tahu bagaimana menggunakan program excel?”


“Tahu pak.”


“Bisa menggunakan software Odoo?”


“Pernah beberapa kali mencoba pak.”


“Bagus. Sekarang coba kamu susun laporan ini. Buat rinciannya menggunakan excel, kemudian masukkan ke dalam odoo. Saya mau lihat kemampuan kamu. Silahkan kerjakan di sini.”


Sugih membalik menunjuk laptop yang ada di depan Meta. Gadis itu segera melakukan apa yang diperintahkan pria itu. Sambil menunggu Meta mengerjakan apa yang dimintanya, Sugih kembali melanjutkan pekerjaannya.


Satu jam berlalu, walau awalnya merasa kesulitan, akhirnya Meta berhasil mengerjakan apa yang diperintahkan Sugih. Dia segera menyerahkan hasil kerjanya. Sugih memeriksa pekerjaan gadis itu dengan seksama. Meta dapat bernafas lega begitu melihat senyum pria itu.


“Hasil pekerjaanmu baik. Sepertinya kamu cocok bekerja di sini.”


“Alhamdulillah, terima kasih pak.”


“Kamu mau gaji berapa?”


“Sesuai UMK dan kebijakan perusahaan pak.”


“Baik. Saya rasa sesi wawancara tidak diperlukan lagi, secara kualitas kamu sudah memenuhi kualifikasi yang kami butuhkan. Pak Fahrul memang tak salah merekomendasikan orang.”


“Maaf, siapa pak?”


“Pak Fahrul pemilik dealer ini. Kamu adalah rekomendasi darinya dan meminta saya untuk mengetes kemampuanmu dan ternyata hasilnya memuaskan.”


Meta hanya menganggukkan kepalanya saja. Ternyata dealer mobil yang didatanginya adalah milik Fahrul. Berarti Arnav sengaja meminta Fahrul mencarikan pekerjaan untuknya.


“Mulai besok kamu sudah mulai bekerja di sini. Jam kerja dimulai dari pukul sembilan sampai lima sore. Istirahat selama 1 jam. Dan jika bekerja di luar jam yang ditentukan akan diberikan uang lembur. Gaji kotor kamu 5 juta rupiah belum dipotong pajak, BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan. Ada yang mau ditanyakan?”


“Ngga pak.”


“Ok.. selamat bergabung, saya tunggu kedatangannya besok.”


Sugih mengulurkan tangannya, Meta menangkupkan kedua tangannya. Sugih tersenyum melihatnya kemudian ikut menangkupkan kedua tangannya. Setelah membaca dan menandatangani surat perjanjian kerja, Meta keluar dari ruangan. Senyum bahagia tercetak di wajahnya.


“Meta..”


Meta menoleh saat seseorang memanggil namanya, ternyata Fahrul yang memanggilnya. Pria itu baru saja keluar dari ruangannya. Gadis itu tetap berada di tempatnya, menunggu Fahrul yang tengah berjalan ke arahnya.


“Sudah selesai wawancaranya?”


“Sudah pak.”


“Bagaimana? Lolos?”


“Alhamdulillah.. terima kasih pak sudah merekomendasikan saya.”


Meta memanggil Fahrul dengan embel-embel pak di depan namanya. Biar bagaimana pun Fahrul adalah atasannya sekarang. Dia harus bersikap sopan pada pria ini. Fahrul sendiri hanya tertawa kecil mendengar panggilan Meta untuknya.


“Mau ikut saya makan siang?”


“Hmm..”


“Ada Arnav dan yang lainnya juga. Sebenarnya saya diminta ngajak kamu sama Arnav.”


“Iya boleh pak, makasih.”


Meta tersenyum tipis, dia canggung juga berbicara dengan Fahrul di hadapan karyawan lain yang melihat ke arahnya dengan sorot mata penuh tanda tanya. Dia bergegas mengikuti Fahrul yang telah lebih dulu berjalan.


🍂🍂🍂


Acara makan siang dilakukan di kedai kopi Nick yang masih dalam tahap persiapan. Nick telah memesan beberapa hidangan untuk para sahabatnya. Empat buah meja persegi dijadikan satu. Dibantu oleh Iza, dia menyusun makanan di atas meja. Tak berapa lama, satu per satu sahabatnya datang.


Iza terkejut melihat Meta datang bersama Fahrul. Dia tambah terkejut sekaligus senang begitu mengetahui Meta telah diterima bekerja di dealer milik Fahrul. Arnav pun tak kalah senang, kini dia memiliki nilai plus tambahan di hadapan Meta. Semangatnya untuk mendapatkan gadis itu semakin berkobar saja.


Pembicaraan terus bergulir di sepanjang acara makan siang. Denis yang sudah mulai beraktivitas kembali banyak bercerita tentang proyek film terbarunya. Begitu pula dengan Abe yang meminta pendapat para sahabatnya soal Sansan. Dia masih memikirkan perihal Vicky.


“Menurut lo, gue harus gimana?”


“Ya kasih tahu si Sansan lah. Kasihan kalau dia sampe kena jeratan si Vicky,” jawab Nick.


“Tapi tar gue disangka cemburu. Bisa besar kepala dia, disangkanya gue cinta sama dia.”


“Emang ngga?” tanya Denis cuek. Abe reflek menoyor kepala sahabatnya.


“Emang kamu beneran ngga ada rasa sama Sansan? Dia cantik loh, baik lagi. Cocok kok sama kamu,” sambung Iza.


“Bawelnya itu loh naudzubillah.”


“Cocok sama elo,” sambar Arnav.


Acara makan siang yang diselingi pembicaraan ringan dan gelak tawa, tiba-tiba saja dikejutkan dengan kedatangan Ayura. Wanita itu datang dengan wajah tak bersahabat. Dia langsung menuju Fahrul.


“Fahrul!! Brengsek lo!!”


Semua terkejut melihat Ayura yang datang langsung memaki sahabatnya. Fahrul hanya diam saja mendengar teriakan Ayura. Pasti Maira telah menceritakan apa yang dilakukannya pada wanita itu.


“Ay.. kamu kenapa? Dateng-dateng langsung ngegas,” tegur Denis.


“Kamu tanya sama sahabat kamu ini, apa yang sudah dia lakuin,” Ayura menunjuk ke arah Fahrul, membuat semua bertambah bingung.


“Kamu pikir dengan melakukan itu bisa membuat Mai kembali padamu? Gila kamu!! Sudah menyakiti hatinya sekarang kamu tambah lagi dengan perbuatan bejatmu,” imbuh Ayura.


“Dia istriku,” jawab Fahrul dengan suara pelan.


“Tapi bukan berarti kamu bisa melakukannya dengan paksa!!”


“Bentar-bentar.. ada apa ini sebenarnya. Ayu.. ayo duduk dulu, kita bicarakan ini baik-baik,” Nick berusaha menengahi.


“Ngga perlu! Aku peringatin sama kamu. Sekali lagi kamu melakukan itu pada Maira, aku akan membuatmu menyesal.”


Ayura segera pergi setelah puas meluapkan kekesalannya pada Fahrul. Dia kesal saat Maira memberitahunya apa yang telah dilakukan pria tersebut pada sahabatnya.


Sepeninggal Ayura, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Fahrul yang masih saja diam seraya menundukkan kepalanya.


“Rul.. ada apa sebenarnya?” tanya Nick.


“Lo berantem lagi sama Mai? Lo mukul dia?” cecar Denis. Fahrul hanya menggeleng.


“Terus lo ngapain?! Ngga mungkin Ayu marah-marah kaya tadi kalau lo ngga ngelakuin sesuatu sama Mai,” nada suara Denis sudah terdengar emosi. Abe langsung menenangkan sahabatnya itu.


Fahrul mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah sahabatnya satu per satu. Dia memejamkan matanya sejenak sebelum menceritakan semua yang sudah dilakukannya pada Maira. Iza dan Meta hanya mampu terdiam, walau kesal pada perbuatan Fahrul tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun juga, Fahrul dan Maira masih berstatus suami istri.


“Lo gila Rul. Lo pikir dengan melakukan itu bisa menyelesaikan masalah? Yang ada Mai bakal tambah benci sama lo,” Denis yang pertama berkomentar setelah Fahrul selesai bercerita.


“Pikiran gue buntu. Gue ngga tahu harus gimana lagi. Gue terpaksa melakukan itu, yang ada di kepala gue gimana caranya biar Mai ngga terus meminta berpisah. Dan satu-satunya cara yang terpikirkan sama gue adalah buat dia hamil.”


“Terus lo pikir hanya dalam satu kali percobaan Mai bisa hamil gitu?” tanya Arnav.


“Gue ngga tau. Gue hanya berharap Maira hamil. Gue ngga mau pisah sama dia. Kalau perlu gue bakal bilang ke orang tua gue soal perbuatan gue asal gue bisa mendapatkan maaf darinya dan kasih kesempatan buat nebus semua kesalahan gue. Gue ngga mau kehilangan dia. Gue sayang Mai.”


Fahrul kembali menundukkan kepalanya. Punggungnya nampak bergetar ketika dirinya mulai menangis. Semua hanya diam memandangi Fahrul yang nampak putus asa. Nick menepuk pelan punggung sahabatnya ini.


“Kalau lo sayang Mai, maka lo harus berjuang untuk mendapatkannya kembali,” ujar Nick.


“Tunjukkin kalau lo benar-benar menyesal,” lanjut Abe.


“Gue akan selalu dukung elo,” Arnav menepuk pundak sahabatnya.


“Untuk sementara lo pulang dulu ke apartemen. Biarkan Mai nenangin diri dulu. Takutnya dia tambah benci sama elo kalau lo masih satu atap sama dia,” saran Denis.


“Jangan lupa berdoa. Minta pada Allah untuk melembutkan hati Mai. Karena hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati,” nasehat Iza.


Fahrul hanya menganggukkan kepalanya menanggapi semua ucapan sahabatnya. Dengan kasar diusapnya airmata yang terus saja mengalir. Setelah perbuatannya pada Maira, dia tak henti menyesali dan merutuki kebodohannya itu. Hatinya sungguh berharap Maira mau membukakan pintu maaf untuknya.


🍂🍂🍂


Suasana hening melingkupi kedua insan yang tengah berada dalam perjalanan. Arnav berinisiatif mengantar Meta pulang, kebetulan sekali dia ada tugas di luar kantor. Sesekali dia melirik ke arah gadis yang masih asik melihat kepadatan lalu lintas di depannya.


“Met..”


“Ar..” terdengar keduanya berbicara bersamaan.


“Ladie’s first,” lanjut Arnav.


“Makasih ya soal kerjaan di tempat Fahrul.”


“Kamu diterima?”


“Iya, Alhamdulillah.”


“Kamu ambil kan kerjaannya?”


“Iya, kok kamu gitu nanyanya.”


“Ya kali aja kamu berubah pikiran begitu dengar soal masalah tadi,” Arnav mengusap tengkuknya.


“Ya ngga lah. Itu kan dua hal berbeda.”


Arnav tersenyum lega, dia takut kalau Meta mengurungkan niatnya bekerja di dealer Fahrul karena kejadian tadi. Dia kembali melihat ke arah Meta. Ada hal yang sedari tadi ingin ditanyakannya pada gadis itu.


“Hmm.. Met, aku boleh tanya pendapat kamu ngga?”


“Soal apa?”


“Begini.. aku punya temen, dia lagi naksir cewek. Tapi ceweknya tuh alim banget, kaya kamu gitu. Sedangkan temanku tuh orangnya brengsek banget. Dia sering mabuk-mabukkan, gonta-ganti cewek, bahkan sering tidur bareng juga sama sembarang cewek. Tapi setelah ketemu sama cewek itu, semuanya dia stop. Dia fokus mau perbaiki diri demi bisa bersama cewek itu. Menurut kamu gimana?’


“Ya bagus dong, berarti perempuan itu memberi pengaruh positif buat temanmu.”


“Hmm... seandainya cewek itu kamu. Apa kamu mau nerima temenku yang brengsek itu?”


“Temen yang kamu maksud itu kamu sendiri kan Ar?”


Arnav cukup terkejut mendengarnya. Sambil tersenyum kikuk dia menganggukkan kepalanya. Meta hanya tersenyum simpul melihat kegugupan Arnav. Meta memang sedikit banyak tahu sepak terjang kelima sahabat itu. Namun dia tak mau menghakimi perbuatan buruk mereka, karena belum tentu dirinya lebih baik dibanding mereka.


“Hmm.. kalau menurutku, ketika memutuskan bersama seseorang, maka aku harus menerima semua kelebihan dan kekurangan dia termasuk masa lalunya. Ketika aku memutuskan untuk menikah, berarti aku bermaksud membangun masa depan bersamanya. Masa lalu buruk cukup dijadikan pelajaran dan peringatan supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Seburuk apapun masa lalu seseorang, jika memang dia benar-benar bertobat, maka dia berhak mendapatkan kesempatan kedua.”


“Bagaimana kalau perempuan itu kamu? Apa kamu mau terima keadaanku plus masa laluku yg buruk?”


“Kenapa ngga? Seperti yang kubilang, kita hidup untuk masa depan bukan berkutat dengan masa lalu. Tapi kita ngga tahu akan berjodoh dengan siapa nantinya. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu baik di mata Allah. Jika kita berjodoh, alhamdulillah. Tapi kalau tidak, aku harap kamu tidak kembali pada masa lalumu. Tetaplah berproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Siapa tahu kamu akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku.”


“Aamiin.. aku akan ingat nasehatmu. Jadi.. aku punya kesempatan kan buat mendapatkanmu?”


“Iya, Ar.”


“YESS!!”


Arnav berteriak kencang seraya mengepalkan tangannya ke udara. Rona kebahagiaan jelas terpancar dari wajah pria berdarah Pakistan itu. Semangatnya semakin berkobar saja. Dia akan berusaha keras menjadi lelaki yang layak untuk wanita pujaannya ini.


🍂🍂🍂


Selamat berjuang Arnav.. gue dukung dari belakang aja ya. Tar kalo nemu lubang tinggal gue jorokin🤣


Buat Fahrul... serah deh lo mau apa, puyeng gue ama masalah hidup lo😝