The Nick's Life

The Nick's Life
Solidarity



Mendengar kabar tentang Denis, Nick, Fahrul, Abe dan Arnav segera menuju rumah sakit. Rekan kerja Denis yang menemukan pria itu terkapar tak berdaya segera melarikannya ke rumah sakit terdekat dan mengabarkan pada Nick perihal Denis.


Secara bersamaan, keempat pria itu tiba di rumah sakit. Mereka segera menghampiri rekan Denis yang bernama Putra. Pria itu menerangkan bagaimana kondisi Denis saat ditemukan olehnya. Dia juga berinisiatif melihat rekaman cctv saat kejadian.


“Bisa kirimin ngga rekaman cctv-nya?” pinta Fahrul.


“Bisa. Aku balik ke kantor dulu, nanti aku kirim ke hp kamu.”


“Berapa nomernya?”


Fahrul segera mencatat nomor Putra, hatinya geram melihat sahabatnya disiksa habis-habisan oleh orang tak dikenal. Setelah menyerahkan urusan Denis pada para sahabatnya, Putra pamit pulang. Dia akan langsung menuju kantor agar bisa mengirimkan rekaman cctv.


Nick memperhatikan dokter di IGD yang masih menangani Denis. Sahabatnya itu harus menjalani serangkaian pemeriksaan karena luka-luka yang dideritanya cukup parah. Usai memeriksa keadaan Denis, dokter jaga tersebut keluar dari bilik pemeriksaan. Nick dan yang lain bergegas menghampiri.


“Gimana keadaan teman saya dok?” tanya Nick.


“Tulang punggungnya retak, dia juga mengalami luka dalam. Lambungnya memar dan beberapa lebam di bagian luar. Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Mohon diurus dulu administrasinya.”


“Iya dok, makasih.”


“Biar gue yang urus administrasinya,” Fahrul segera beranjak menuju administrasi.


Selesai dengan urusan administrasi, perawat segera memindahkan Denis ke ruang perawatan kelas 1 atas permintaan Fahrul. Keempat sahabatnya mengikuti bed yang yang membawa tubuh Denis. Pria itu masih belum sadarkan diri.


“Sus.. teman saya kapan sadarnya?” tanya Arnav.


“Mungkin sekitar dua atau tiga jam lagi.”


“Tapi ngga ada yang parah sama dia kan?” suara Abe terdengar cemas.


“Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dokter sudah memeriksa dan mengobati luka-lukanya. Hanya saja pasien masih harus beristirahat, jangan banyak bergerak karena kondisi tulang punggungnya masih cedera.”


“Makasih sus.”


“Sama-sama, saya permisi dulu.”


Sepeninggal sang suster, Nick dan yang lain duduk menunggu di sofa sambil membicarakan kemungkinan orang yang telah melukai Denis. Nick sendiri sedikit curiga pada Alfi. Tiga hari setelah Denis memutuskan hubungan, kejadian seperti ini menimpanya.


Iza yang mendapat kabar tentang Denis bergegas menuju rumah sakit bersama Meta. Dia juga mengabarkan Maira. Wanita itu tentu saja terkejut mendengarnya, sejak Maira sakit, dia belum bertemu dengan Denis lagi. Dengan diantar Ayura, wanita itu bergegas menuju rumah sakit. kedatangannya bersamaan dengan kedatangan Iza juga Meta.


Wajah Arnav nampak sumringah melihat kedatangan pujaan hatinya. Dia segera berdiri lalu mempersilahkan gadis itu duduk di sofa. Melihat apa yang dilakukan pria itu, Meta melayangkan senyum manisnya membuat Arnav semakin melayang. Berbeda dengan Fahrul yang terkejut melihat kedatangan Maira. Jujur saja, hatinya cemburu melihat Maira terlihat begitu cemas akan keadaan Denis.


“Denis kenapa?” tanya Maira pada Fahrul.


“Dia dipukuli orang-orang ngga dikenal.”


“Siapa? Kenapa?”


“Aku ngga tau Mai. Kamu kenapa ke sini?”


“Apa salah kalau aku mau melihat keadaan Denis? Dia yang selalu membantuku selama ini di saat suamiku tak peduli sama sekali. Apa sekarang aku harus tutup mata melihat keadaannya?”


“Ngga Mai, ngga salah. Terima kasih kamu sudah peduli padanya.”


Maira tak menanggapi ucapan Fahrul, dia memilih menghampiri Denis. Hati Maira miris melihat keadaan pria yang selalu menjadi penolongnya. Wajah Denis penuh dengan lebam, belum lagi luka dalam yang diderita pria itu, membuatnya semakin terlihat tak berdaya. Maira menarik kursi kemudian duduk di sisi bed. Dada Fahrul bergemuruh melihat pemandangan di depannya. Namun sebisa mungkin dia menahan emosinya.


Perhatian Fahrul teralihkan ketika sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Putra baru saja mengirimkan sebuah video padanya. Ketiga sahabatnya segera mendekat untuk melihat rekaman cctv yang baru saja dikirimkan. Kening mereka berkerut saat menyaksikan video tersebut. Tak ada satu pun yang mereka kenali dari ketiga orang yang telah mengeroyok sahabatnya.


“Gue ngga tahu. Kayanya mereka orang suruhan,” ujar Fahrul.


“Preman pastinya,” sambung Abe.


“Coba telepon Topan. Siapa tahu dia kenal,” usul Nick.


“Ide bagus,” Arnav menjentikkan jarinya.


Arnav mengambil ponsel kemudian menghubungi Topan. Hidup Topan memang identik dengan dunia bebas dan keras. Dia banyak mengenal preman bahkan pembunuh bayaran. Lewat jaringannya, Topan bisa mendapatkan informasi yang diinginkan, tentu saja dengan membayar sejumlah uang.


“Gimana?”


“Tuh anak lagi di jalan, abis dari Serang. Dua jam lagi kayanya nyampe sini.”


Nick menganggukkan kepalanya saja. Dia lalu melihat ke arah Iza yang tengah duduk bersama Meta. Pria itu berjalan menghampiri kemudian berjongkok di depan gadis itu.


“Abi tahu kamu ke sini?”


“Iya.”


“Udah makan?”


“Belum.”


“Kalian mau makan ngga? Biar gue beliin,” tanya Nick pada yang lain.


“Wah bener, perut gue laper ini. Gue pengen nasi padang,” jawab Abe.


“Sama, gue juga mau,” sambar Arnav.


“Ya udah nasi padang aja. Semua mau kan?”


“Aku sama Ayura ngga usah. Kita udah makan tadi,” ucap Maira.


“Nyemil aja, mau ya?” tanya Fahrul namun tak dijawab oleh Maira.


Nick bersama Iza keluar dari ruangan untuk membelikan pesanan. Sedang yang lain menunggu di ruangan. Fahrul berjalan mendekati Maira. Dia menarik satu kursi lain ke dekat istrinya itu kemudian mendudukkan diri di sana. Pria itu mencoba mengajak Maira berbicara, namun sang istri hanya menjawab seperlunya saja. Sementara itu, dari arah sofa, Ayura terus memperhatikan interaksi keduanya.


🍂🍂🍂


Kelopak mata Denis bergerak-gerak, telinganya mulai menangkap suara-suara di sekitarnya. Bau disinfektan juga menyapa indra penciumannya. Perlahan matanya terbuka. Beberapa kali pria itu mengerjapkan matanya sebelum penglihatan mulai jelas. Maira yang tak pernah beranjak dari duduknya segera memanggil pria itu.


“Denis..”


Denis menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, tak lama para sahabat dan yang lainnya menghampiri. Bed dikelilingi orang-orang yang sedari menunggunya sadar. Abe segera memijit tombol untuk memanggil suster. Tak lama seorang perawat muncul dan memeriksa keadaan Denis.


“Gimana sus?”


“Kondisinya baik-baik saja. Sebentar lagi, akan diantarkan makanan, pastikan pasien memakan makanannya karena ada obat yang harus diminum.”


“Baik sus.”


“Den, gimana keadaan lo?”


“Badan gue remuk kaya abis ketabrak truk hehehe..”


“Masih ngelawak aja lo PEA. Ngga lihat apa kita cemas kaya gini,” kesal Abe.


“Lo tahu ngga siapa yang udah mukulin lo?”


“Yang pasti bukan temen atau penggemar gue,” Denis masih saja bercanda.


“Wah bener nih anak, kayanya kepalanya sempet kepukul terus ada sarafnya yang putus.”


Denis tertawa mendengar ucapan Abe, namun tak lama terdengar ringisannya saat merasakan sakit di bagian punggung dan perutnya.


“Mai.. kamu ke sini sama siapa?” Denis melihat ke arah Maira.


“Sama Ayura.”


“Udah malem, mending kamu pulang.”


“Kamu baik-baik aja kan?”


“Iya Mai. Lihat sendiri kan, aku masih hidup. Mending kamu pulang.”


“Ya udah, tapi tolong kasih kabar ya soal kondisi kamu.”


Denis hanya menganggukkan kepalanya. Hati Fahrul mencelos melihat perhatian Maira pada Denis. Dia membuang pandangannya ke arah lain agar perasaan cemburunya tak terus berkobar. Denis memberi kode pada Fahrul untuk mengantar Maira pulang. Dengan cepat Fahrul menghampiri istrinya.


“Ayo aku antar pulang.”


“Ngga usah, aku sama Ayu naik taksi online aja.”


Setelah berpamitan dengan yang lain, Maira keluar dari ruang rawat bersama dengan Ayura. Fahrul bergegas menyusul kedua wanita itu. Maira dan Ayura tengah menunggu lift saat Fahrul mendekat.


“Mai.. ayo aku antar pulang.”


“Ngga usah.”


“Mai.. please.. Ini udah malam, biar aku antar ya.”


TING


Pintu lift terbuka, dari dalamnya keluar Topan bersama dengan temannya, Billy. Topan langsung bertanya pada Fahrul tentang keadaan Denis.


“Gimana Denis?”


“Baru sadar.”


“Ayo, gue pengen tahu siapa yang udah mukulin dia.”


“Lo duluan, gue mau anter istri gue dulu.”


“Ngga usah. Kamu lebih baik temukan orang yang sudah memukuli Denis. Aku pulang sendiri aja.”


“Tapi Mai..”


“Menemukan pelakunya lebih penting. Jangan sampai mereka keburu kabur.”


Fahrul bimbang, antara mengantar Maira atau memastikan apakah Topan mengetahui sang pelaku pemukulan. Dia lalu melihat ke arah Billy.


“Bil.. tolong anterin istri gue sama temannya ya. Nih lo bawa mobil gue,” Fahrul menyerahkan kunci pada Billy.


“Kamu diantar Billy ya.”


Maira hanya mengangguk pelan. Tak ada alasan untuk menolaknya karena memang waktu sudah semakin malam. Riskan juga dirinya dan Ayura pulang berdua saja. Billy kembali masuk ke dalam lift untuk mengantar istri temannya pulang. Sedangkan Fahrul dan Topan segera menuju ke ruang inap.


Topan mengamati video di ponsel Fahrul, matanya nampak memicing, otaknya mulai bekerja mengingat orang yang dilihatnya. Berulang kali dia memutar video berdurasi pendek itu. Kemudian terdengar jentikan jarinya.


“Gue inget. Ini bang Obet. Dia itu kerjaannya emang tukang pukul bayaran.”


“Lo tahu di mana dia?”


“Bentar gue telpon dulu temen gue. Dia suka pindah-pindah soalnya.”


“Gue anterin Iza sama Meta dulu. Kalau udah tahu lokasinya dia, langsung kabarin gue,” ujar Nick.


“Meta biar gue aja yang anter biar cepet,” usul Arnav yang hanya diangguki oleh Nick.


“Tar kalau kita semua cabut, noh si kunyuk sama siapa?” tanya Abe sambil menunjuk Denis.


“Biar mommy yang jaga dia.”


Semua yang ada di dalam ruangan langsung melihat ke arah pintu. Nampak Diah baru saja datang. Iza segera menghampiri Diah lalu mencium punggung tangannya, begitu pula dengan yang lain.


“Mommy tahu dari mana?” tanya Nick.


“Dari Rivan.”


“Maaf mom, aku ngga kasih tahu. Takutnya mommy panik.”


“Sudah ketemu pelakunya?”


“Kita udah tahu mom. Tapi masih ngelacak keberadaannya.”


“Mom... aku antar Iza pulang dulu ya.”


“Iya. Biar mommy yang jaga Denis.”


Diah berjalan mengahampiri Denis, kemudian mendudukkan diri di samping bed. Hatinya miris melihat keadaan salah satu anak kesayangannya. Nick, Iza, Meta dan Arnav keluar dari ruangan. Sedang yang lain masih bertahan, menunggu Topan yang tengah melacak keberadaan Obet.


🍂🍂🍂


Kendaraan Nick baru saja berhenti di depan kediaman Rahardi ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Topan sudah berhasil melacak keberadaan Obet. Fahrul, Abe juga Topan tengah menuju lokasi. Arnav pun sudah dikabari dan akan langsung menyusul setelah mengantar Meta.


“Udah ketemu?” tanya Iza.


“Hmm.. aku langsung ke sana ya.”


“Nick..”


“Ngga usah takut.”


“Apa ngga sebaiknya lapor aja ke polisi?”


“Kalau lapor polisi, kasus akan berhenti di mereka. Kita ngga akan pernah tahu siapa dalangnya.”


“Aku takut kamu terluka.”


“In Syaa Allah, aku akan baik-baik aja. Aku ngga sendiri, ada yang lain ikut bersamaku.”


“Begitu urusannya selesai, kamu langsung kabari aku ya.”


“Iya sayang.”


Iza memandangi Nick sejenak. Dengan berat hati, gadis itu turun dari mobil. Nick kembali menjalankan kendaraannya, menyusul Abe dan Fahrul yang telah lebih dulu pergi. Sekali lagi dilihatnya alamat yang dikirimkan Fahrul padanya. Pria itu menambah laju kecepatan mobilnya.


Setengah jam kemudian, Nick sampai di lokasi yang dikirimkan Fahrul. Tak lama berselang Arnav juga sampai. Topan nampak tengah menghampiri seseorang, mereka berbicara sebentar kemudian Topan kembali pada mereka.


“Mana Obet?”


“Dia lagi nongkrong di dekat jembatan di depan sana. Hati-hati, kayanya dia lagi ngumpul sama temen-temennya. Tunggu bentar, temen gue lagi ngecek mereka dulu.”


Baru saja Topan selesai bicara, seorang pria muda datang menghampiri sambil berlari. Dia langsung melaporkan hasil pengamatannya pada Topan.


“Bang Obet lagi mabuk-mabukkan di sana. Ada sekitar tujuh orang yang lagi sama mereka. Tapi bang Ahim juga ada di sekitaran sini, bisa bahaya kalau bang Ahim bawa anak buahnya buat bantuin bang Obet.”


“Tenang aja. Lo bisa kan tanganin Obet? Biar gue yang tahan bang Ahim,” ujar Topan.


“Tujuh orang kan? Siap guys?’ tanya Fahrul.


Abe dan Arnav hanya mengangguk saja, sedang Nick langsung berjalan mendahului mereka. Ketiga sahabatnya segera menyusul begitu pula dengan Topan dan temannya tadi. Hanya saja di dekat jembatan, Topan memilih berbelok ke kiri. Dia akan menahan Ahim supaya tidak mengerahkan anak buahnya membantu Obet.


Nick dan yang lainnya berhenti tak jauh dari tempat Obet dan teman-temannya berkumpul. Nampak pria itu tengah asih menenggak minuman keras dari botolnya langsung. Memang benar, Obet adalah orang yang ada di rekaman cctv. Selain dia, dua orang lainnya juga ada di sana.


“Bagus.. tiga-tiganya ada di sini,” ujar Fahrul.


Nick berjalan mendekati Obet kemudian merebut botol minuman keras dari tangan pria itu. Terkejut dengan yang dilakukan Nick, dia melihat ke arah pria berwajah blasteran itu.


“Siapa lo??!!”


“Gue temen orang yang lo pukulin tadi. Siapa yang nyuruh lo?”


“Ngga ada yang nyuruh! Gue ngga suka lihat temen lo yang mukanya kaya artis Korea itu hahahaha...”


Tawa Obet langsung disambut tawa teman-temannya. Nick melempar botol di tangannya ke arah jembatan, membuat botol tersebut hancur berkeping-keping dan serpihannya mengenai teman-teman Obet. Dengan kesal Obet berdiri lalu mencengkeram kaos yang dikenakan Nick.


“Cari mati lo!!!”


“Elo yang cari mati kalau ngga mau buka mulut.”


“Brengsek!!”


Obet melayangkan tinjunya ke arah Nick namun berhasil ditahan oleh pria itu. Dia lalu menendang perut Obet hingga mundur beberapa langkah ke depan. Melihat itu, semua teman Obet langsung menghampiri Nick, begitu pula dengan Arnav, Abe dan Fahrul. Perkelahian pun tak dapat terelakkan.


Baku hantam terus terjadi. Nick terus mengincar Obet dan kedua orang yang telah menyerang Denis. Pukulan dan tendangan terus ditujukan pada ketiga pria itu, wajah mereka sudah bersimbah darah. Demikian juga keempat temannya yang lain, baik Abe, Arnav dan Fahrul tak berhenti menghajarnya.


Sebuah tendangan keras mendarat di perut Obet membuat tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang dan punggungnya menghantam tumpukan drum. Obet mengerang kesakitan, mulutnya juga sudah mengeluarkan darah. Nick berjalan mendekat lalu menarik kaos pria itu.


“Bilang siapa yang udah nyuruh lo!!!”


“Ngga ada,” jawab Obet sambil menyeringai.


“Bangs*t nih orang. Minggir Nick, kepala nih orang perlu dihajar biar ingatannya balik.”


Fahrul mengambil batu besar yang ada di sana. Dengan kedua tangan dia mengangkat batu tersebut. Sekuat tenaga Fahrul mengayunkan batu di tangannya ke kepala Obet. Hanya tinggal beberapa detik lagi batu itu menghantam kepalanya, Obet berteriak kencang.


“ALEX!!!”


Pergerakan Fahrul terhenti, hanya tinggal sedikit lagi batu besar itu mengenai kepala Obet. Dengan santai dia membuang batu ke arah samping, lalu mencengkeram kaos Obet.


“Siapa lo bilang?”


“Alex.. dia yang udah nyuruh gue.”


🍂🍂🍂


Mohon mangap, tebakan kalian salah ye. Ayo yang ngerasa namanya Alex, ngaku!!!