The Nick's Life

The Nick's Life
Suamiku Masih Hidup



Buliran bening terus mengalir dari kedua mata Iza mendengar cerita dari Meta. Wanita itu terpaksa menceritakan tentang Nick lebih cepat dari rencana semula. Iza harus tahu kondisi Nick, takut jika mereka bertemu kembali secara tak terduga dan reaksi Iza bisa memperburuk kondisi pria itu.


“Jadi benar itu Nick? Dia masih hidup?”


“Iya, Zi.. maaf kalau kami menyembunyikannya selama ini. Kondisi Nick saat itu benar-benar drop. Mommy takut terjadi sesuatu pada Nick jika bertemu kamu.”


“Ummi.. apa ummi tahu?”


“Iya. Ummi awalnya ngga setuju tapi begitu melihat keadaan Nick, ummi berubah pikiran. Maaf Zi.. maaf..”


“Yang penting dia selamat. Suamiku masih hidup, itu sudah cukup.”


Meta tak dapat menahan airmatanya melihat Iza yang begitu tegar menerima semua. Bahkan wanita itu tak terlihat marah. Namun Meta tahu, jauh di lubuk hatinya, sahabatnya itu kecewa karena semua orang membohonginya.


Tak lama Ridho kembali, dia tak bisa menemukan keberadaan Nick di IGD. Bila memang sudah membawa Nick ke ruangan rawat sesuai instruksi dokter Reyhan. Pria itu berjongkok di hadapan sang adik yang tengah menangis. Diraihnya tangan Iza kemudian digenggamnya erat.


“Zi..”


“Nick.. bagaimana dengan Nick?”


“Ngga ketemu. Sepertinya dia dibawa ke ruangan. Tapi kamu tenang aja, abang akan cari terus sampai ketemu.”


Iza kembali menangis. Dia tak tahu apa yang dirasakannya saat ini, bahagiakah, sedikahkah, kecewakah atau marah. Yang jelas semua menghantamnya secara bersamaan. Dibalik kabar bahagia mengetahui lelaki yang dicintainya masih hidup, terselip perasaan kecewa sekaligus marah. Dengan teganya semua orang membohongi dirinya, menutupi kebaradaan Nick darinya.


Ridho memeluk Iza, membiarkan sang adik menangis dalam pelukannya. Meta menyusut matanya yang juga ikut membasah. Ridho mengurai pelukannya, saat sudut matanya menangkap sosok Arnav memasuki lobi rumah sakit. Pria itu bergegas menghampiri Arnav.


“Ar..” panggilnya.


“Eh.. lagi di sini juga.”


“Nick.. kamu pasti mau lihat Nick, kan?”


“Iya,” jawab Arnav bingung.


“Nick tadi ketemu Iza.”


“Apa?”


“Siapa Ar?” tanya Abe yang datang dari arah belakangnya disusul oleh Fahrul, Denis , Ayura juga Sansan.


“Ini Ridho, kakaknya Iza.”


Ridho menyalami para sahabat Nick satu per satu, dan menangkupkan kedua tangannya pada Ayura juga Sansan. Ayura yang melihat Iza dan Meta di ruang tunggu bergegas menghampiri, begitu pula dengan Sansan.


“Nick, kamu tahu dia di mana?” tanya Ridho pada Arnav.


“Dia dibawa ke ruang rawat inap. Sepertinya dokter Reyhan dan dokter Sudirman langsung memeriksanya.”


“Boleh aku ikut melihat Nick.”


“Ayo.”


Meta memperhatikan suaminya yang berjalan bersama para sahabat Nick. Baru saja para pria itu masuk ke dalam Nick, terlihat Diah dan Bryan memasuki gedung rumah sakit. Khawatir akan terjadi pertengkaran antara Ridho dan Diah, Meta memutuskan untuk menyusul.


“San.. Ayu… aku titip Iza sebentar.”


“Iya.”


Meta segera beranjak dari tempatnya duduk. Sambil mengubungi suaminya, wanita itu berlari memasuki lift.


🍂🍂🍂


Di depan ruang rawat Nick, dokter Sudirman tengah menjelaskan keadaan Nick pada para sahabatnya. Ridho mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter tersebut. Saat ini Nick tengah beristirahat setelah diberi obat pereda nyeri. Diah dan Bryan yang baru saja tiba segera bergabung. Keduanya terkejut mendengar Nick kembali pingsan.


“Ada apa dengan Nick?” tanya Diah.


“Sepertinya dia mengalami sesuatu yang mengejutkan. Kondisinya tidak siap dengan itu, makanya memicu kembali rasa sakit di kepalanya,” jelas dokter Sudriman.


“Kenapa bisa? Memang apa yang terjadi? Apa yang membuatnya terkejut?”


“Dia tadi berbicara dengan seorang perempuan. Perempuan itu yang menyebabkan Nick seperti ini. Semua karena dia,” seru Bila


“Jaga mulutmu! Perempuan itu adikku!” geram Ridho.


“Adikmu? Apa adikmu mengenal Nick?” tanya Diah pada Ridho.


“Tentu saja dia mengenalnya. Adikku itu Iza.”


Diah terkejut mendengar penuturan Ridho. Apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan, Nick bertemu dengan Iza. Dan prediksinya benar, pertemuan tersebut membuat kondisi Nick memburuk. Dia menatap nyalang ke arah Ridho.


“Jadi adikmu yang sudah membuatnya seperti ini? Sudah kubilang untuk tidak menemui Nick lagi, apa ibumu tidak mengatakannya padamu? Iza hanya mendatangkan keburukan untuk anakku!”


“Jaga perkataan anda, nyonya. Saya masih bersikap baik karena anda sudah menyembunyikan Nick dari Iza. Dan sekarang anda menyalahkan adik saya,” balas Ridho tak kalah geram.


“Tolong jangan buat keributan. Ada pasien yang harus dijaga ketenangannya. Silahkan selesaikan masalah kalian di tempat lain. Saya permisi.”


Dokter Sudirman memilih untuk menyingkir, dia tak ingin terlibat dalam urusan pribadi pasien. Suasana hening sejenak, semuanya berusaha menahan diri seperti apa yang dikatakan dokter Sudirman. Meta sampai di tempat mereka dan langsung menghampiri suaminya. Arnav hanya bisa melihat dengan tatapan sendu wanita yang masih menghuni sudut hatinya.


Kesunyian mereka berakhir, ketika suster yang baru saja masuk mengatakan kalau Nick sudah sadar. Ridho bermaksud masuk untuk melihat keadaan Nick, namun ditahan oleh Diah. Wanita itu berdiri menghalangi pintu.


“Lebih baik kamu pulang.”


“Saya tidak akan pernah meninggalkan tempat ini sebelum saya tahu bagaimana keadaannya.”


“Nick baik-baik saja. Selama ini kondisinya sudah lebih baik, keberadaan Iza hanya memperburuk kondisinya. Katakan pada Iza, lupakan Nick karena dia juga tidak mengingatnya sama sekali. Nick juga akan menikah dengan dokter Bila. Hubungan mereka sudah berakhir.”


“Keterlaluan!!”


Ridho tak dapat menahan emosinya lagi mendengar ucapan Diah. Tak ingin ada keributan yang akan membuat kondisi Nick semakin memburuk, Bryan dan Arnav mencoba menenangkan kedua orang yang tengah berselisih itu.


“Bagaimana pun caranya, saya akan tetap mempersatukan Iza dengan Nick.”


“Coba saja kalau kamu bisa! Adikmu juga ayahmu adalah hal terburuk yang pernah datang dalam hidup Nick!”


“Diah, cukup!” tegur Bryan.


“Apa kamu bilang?! Kamu pikir hanya anakmu yang menderita?! Kamu pikir adikku tidak menderita?! Ibu macam apa kamu?!”


“Aku tidak peduli dengan penderitaan adikmu! Karena dia penyebab semua ini!!”


Ridho melepaskan pegangan Arnav. Darahnya mendidih mendengar kata-kata Diah yang begitu menyudutkan sang adik. Meta segera menghalangi Ridho lalu memeluk pinggang suaminya itu. Arnav mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak sanggup melihat wanita yang dicintainya memeluk laki-laki lain di hadapannya.


“Bang.. aku mohon tenanglah. Jangan seperti ini, ingat Iza.”


Mendengar nama Iza, emosi Ridho menyurut. Dia membiarkan Diah berlalu darinya. Bryan menyusul masuk seraya menepuk pelan pundak Ridho. Pria itu terpaksa harus menahan diri karena kondisi Nick. Dia akan menyempatkan diri berbicara berdua dengan Ridho, nanti.


Tanpa mereka sadari, Iza mendengarkan semua perdebatan tadi. Dibantu Sansan dan Ayura, Iza bermaksud melihat keadaan Nick. Tapi hanya rasa sakit dan kecewa yang didapatnya. Hatinya hancur mendengar ucapan Diah. Di mata wanita itu, dirinya hanya dianggap pembawa sial dan karma buruk untuk Nick.


🍂🍂🍂


“Zi..”


Meta menghampiri Iza yang tengah duduk menyendiri di dalam kamar. Sejak pulang dari rumah sakit, wanita itu hanya mengurung diri di kamar. Airmatanya tak berhenti mengalir, membuat mata indahnya terlihat bengkak. Meta mendudukkan diri di samping adik iparnya itu.


“Zi.. apa kamu menjenguk Nick, besok?”


“Ngga, Met.”


“Zi.. aku tahu kamu pasti sedih bahkan marah mendengar semua perkataan mommy. Dia hanya takut kehilangan Nick, makanya mengatakan itu semua.”


“Aku tahu, Met. Aku ngga menyalahkan mommy. Kalau memang keberadaanku hanya membuat kondisi Nick dalam bahaya, aku ikhlas melepasnya, Met.”


“Zi.. jangan bilang begitu.”


“Zi.. jangan bilang seperti itu,” Meta terisak mendengar ucapan sahabatnya.


“Aku akan mengembalikan mahar darinya, supaya kami bisa berpisah dan dia bisa memulai kehidupan baru tanpaku. Dia masih hidup dan sehat, itu sudah cukup buatku."


“Zi..”


“Aku lelah, Met.”


Iza membaringkan tubuhnya kemudian berbalik membelakangi Meta. Tangannya meraih guling yang ada di dekatnya lalu mendekapnya erat. Meta terdiam sejenak memandangi Iza, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Iza. Setelah itu, dia meninggalkan kamar. Airmata Iza mengalir begitu terdengar suara pintu tertutup. Sambil membenamkan mulut ke guling dalam pelukannya, wanita itu menangis tersedu.


Dengan wajah tertunduk, Meta masuk ke dalam kamar. Ridho menghampiri sang istri yang nampak begitu bersedih. Diusapnya sisa airmata di wajah Meta. Mendapat perlakuan lembut dari suaminya, Meta kembali menangis.


“Kenapa?”


“Zi.. Zi..”


Meta tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia menghambur dalam pelukan Ridho. Mengeluarkan semua kesedihannya di dada suaminya. Ridho mengusap pelan punggung Meta, mencoba menenangkan perasaan istrinya itu, walau perasaannya pun sama buruknya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Abang akan lakukan apapun supaya mereka bisa bersama lagi."


Meta mengganggukkan kepala mendengar ucapan suaminya. Ridho mendaratkan ciuman di puncak kepala Meta. Matanya pun ikut berkaca-kaca.


🍂🍂🍂


Seorang pria mengenakan kemeja panjang yang lengannya digulung sampai ke siku, memperlihatkan tatto memenuhi kedua lengannya. Dia berdiri di depan jendela besar yang ada di kamar hotel. Matanya menatap lurus ke arah gedung pencakar langit yang berdiri menjulang. Kedua tangannya diselipkan di saku celana jeans yang sudah memudar warnanya.


Selain dirinya, ada pria lain yang hampir seusia dengannya. Pria yang mengenakan jas lengkap itu tengah duduk di sofa. Sedari tadi dia tak henti menerima panggilan dari ponselnya. Tak lama kemudian, pria berjas itu berdiri dan menghampiri pria bertatto.


“Bagaimana?” terdengar suara berat dengan logat asing pria beratto tersebut.


“Beres. Ketiga wanita itu sudah diamankan. Hanya tinggal menunggu perintahmu.”


“Bawa ketiga wanita itu, besok. Pastikan mereka menjalani hukumannya.”


“Baik.”


“Apa ada kabar baik dari Pedro?”


“Dia bilang sudah menemukannya dan akan segera mengirimkannya ke sini.”


“Baguslah. Lebih cepat lebih baik. Terima kasih, Rico. Kamu sudah membantuku sejauh ini.”


“Sudah kewajibanku. Lalu bagaimana dengan dia?”


“Aku akan menemuinya besok. Sudah waktunya aku bertemu dengannya.”


“Berhati-hatilah. Anak buah Joseph tengah mengintaimu. Aku akan mengalihkan perhatiannya.”


Pria beratto itu hanya menganggukkan kepalanya. Rico menepuk pelan pundak sahabat sekaligus atasannya itu lalu berjalan keluar dari kamar. Masih banyak hal yang harus dia lakukan sebelum meninggalkan negara ini.


🍂🍂🍂


“Bang.. aku mau ikut ibu Linda ke yayasan. Dia bilang aku bisa belajar banyak di sana. Bolehkan?”


“Tapi Meta ngga bisa ikut denganmu, dia lagi ngga enak badan.”


“Ngga apa-apa, bang. Bu Linda datang dengan anaknya. Dia yang akan nganter ke Yayasan.”


“Kamu hati-hati, ya.”


“Iya bang.”


“Zi.. soal Nick. Kapan kamu mau bertemu dengannya?”


“Nanti aja bang. Aku masih takut kalau pertemuan nanti membuatnya sakit lagi.”


“Kapan pun kamu mau bertemu, kasih tahu abang.”


Iza menganggukkan kepalanya. Ridho memeluk sebentar adiknya itu kemudian mengurai pelukannya seraya mendaratkan ciuman di keningnya. Tak lama terdengar suara kendaraannya meninggalkan rumah. Iza juga bersiap menunggu kedatangan Linda, wanita yang mengajarinya huruf braile.


Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Linda masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Dia segera menuntun Iza keluar dari rumah. Tak lupa Iza berpamitan pada Meta yang masih di dalam kamar. Setelah menutup pintu depan, Linda membantu Iza masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat itu segera meluncur pergi.


Linda membuka kaca jendela mobil, membiarkan udara pagi masuk memenuhi seisi mobil. Iza mendekatkan kepalanya ke jendela, menikmati semilir angin yang memainkan hijab yang dikenakannya. Telinganya mendengarkan suara Linda yang menjelaskan apa saja yang dilalui oleh mereka.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di yayasan tempat Linda bekerja. Kembali, dia membantu Iza untuk turun. Dia menuntun Iza ke dekat bangunan yayasan, sementara dirinya mengambil tas dan perlengkapan mengajar dari dalam mobil.


BRUK


Seorang pria menyenggol bahu Iza, membuat tas yang dibawanya terjatuh. Dengan cepat pria itu mengambilkan tas tersebut lalu memberikannya pada Iza.


“Maaf, saya tidak sengaja,” terdengar suara beratnya serta logatnya yang bukan asli Indonesia.


“Ngga apa-apa. Terima kasih.”


Lama pria itu memandangi Iza yang tengah menyampirkan tas ke bahu. Wanita yang cantik juga sopan, itu yang ada dalam pikirannya. Lamunannya terhenti ketika mendengar ponselnya berdering. Pria itu segera berlalu meninggalkan Iza. Linda memandangi pria yang lengannya dipenuhi oleh tattoo. Baru pertama kali dia melihat pria itu di sini.


🍂🍂🍂


Diah melangkahkan kakinya memasuki mall. Hari ini dia bermaksud membelikan seragam untuk pegawai di kedai Nick. Sepertinya anaknya melupakan hal tersebut ketika menyiapkan pembukaan kedai. Dia langsung menuju toko yang menjual pakaian pria. Diambilnya enam kaos berjenis polo dengan tiga warna berbeda. Setelah membayarnya, wanita itu menuju salah satu booth yang menyediakan jasa bordir.


Sambil menunggu bordiran selesai, Diah membeli minuman dingin untuk membasahi kerongkongannya. Kemudian dia mendudukkan diri di kursi yang ada di dekat booth jasa bordir. Saat tengah menikmati minumannya, seorang pria berjas rapih duduk di sampingnya.


“Halo nyonya Littrell.”


Diah terkejut mendengar pria di sebelahnya memanggil dirinya dengan sebutan nama belakang sang suami. Sontak dia melihat pria di sebelahnya. Keningnya berkerut menatap sosok asik yang tengah duduk tenang di sampingnya.


“Siapa kamu?”


“Tidak penting siapa saya. Ada yang ingin bertemu denganmu.”


“Siapa?”


“Silahkan ikuti saya.”


“Kalau saya tidak mau?”


“Kamu pasti mau. Kalau kamu mau anakmu selamat.”


Diah menggeram mendengar ucapan pria itu. Dia berdiri kemudian berjalan menuju booth. Setelah membayar biaya bordir, Diah berjalan mengikuti pria arogan tadi yang telah berjalan mendahuluinya.


Pria itu terus berjalan memasuki sebuah restoran mewah yang ada di mall tersebut. Seorang pelayan langsung memandu mereka menuju privat room. Pelayan tersebut membuka pintu lalu mempersilahkan kedua pengunjungnya untuk masuk. Pria yang ternyata adalah Rico, mempersilahkan Diah untuk masuk sedang dirinya berjaga di depan pintu.


Dengan langkah pelan Diah memasuki private room. Nampak seorang pria tengah berdiri membelakanginya. Wanita itu terkejut setengah mati ketika pria di hadapannya berbalik. Matanya tak berkedip melihat pria yang sudah 26 tahun lamanya tak dilihatnya. Dengan langkah pelan pria itu berjalan mendekati Diah lalu berhenti tak jauh darinya.


“Halo Diah..”


“Edo..”


“Long time no see. How are you? (lama tidak bertemu. bagaimana keadaanmu?).”


“Mau apa kamu ke sini?”


“Untuk bertemu anakku, Nick.”


🍂🍂🍂


**Nah loh babe aslinya Nick dateng.


Yang nungguin Nick mohon maaf. Ada trouble dengan laptop. Yang satu panas dingin, yang satu lagi diajak jalan², jadi ngetiknya puasa dulu. Maafkeun si ganteng ini🙏**