
Suara dentuman musik memenuhi area cafe. Seorang DJ terus memainkan musik, membuat semua yang hadir bergoyang. Sansan duduk sendiri sambil memperhatikan keriuhan di sekitarnya. Vicky mengajaknya menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya di Golden cafe. Suasana cafe sudah disulap menyerupai klub malam. Ruangan dibuat redup dan hanya diberi pencahayaan dari lampu disco yang berkelap kelip, ditambah dengan suguhan musik yang cukup memekakkan telinga.
Vicky datang menghampiri lalu duduk di samping Sansan. Tangannya terentang kemudian meraih pundak Sansan. Gadis itu cukup terkejut dengan yang dilakukan Vicky, refleks dia melepaskan rangkulan pria itu. Vicky melihat sekilas ke arah Sansan. Sudah satu bulan lamanya dia resmi berpacaran dengan Sansan. Tapi gadis itu tak pernah bisa disentuhnya.
“San.. kita nge dance yuk.”
“Aku ngga bisa kak.”
“Aku ajarin.”
“Ngga ah. Aku di sini aja.”
“Yaah.. ngga seru dong. Ayo bentar doang.”
“Aku pulang aja deh kak. Kok aku berasa lagi ada di klub malem deh.”
“Makanya kamu lepas dulu nih kerudung. Biar kamu bisa menikmati pesta ini.”
“Ya ngga bisa dong kak. Rambutku itu aurat,” sewot Sansan.
“Aku kan pacar kamu.”
“Baru pacar, belum muhrim. Udah ah aku mau pulang aja,” Sansan segera berdiri dari duduknya namun secepat kilat Vicky menariknya untuk duduk kembali.
“Tunggu sebentar lagi. Kamu juga belum makan dan minum, aku ambilin minum dulu ya. Abis itu kita pulang.”
Tanpa menunggu jawaban, Vicky beranjak dari duduknya lalu menuju meja yang menyediakan aneka minuman. Dia mengambil segelas orange juice, kemudian tangannya mengambil sebotol vodka lalu menuangkannya sedikit ke dalam orange juice. Dia ingin membuat Sansan sedikit mabuk, supaya pria itu bisa bersenang-senang dengannya.
Vicky kembali ke tempat di mana Sansan duduk dengan minuman dan makanan di kedua tangannya. Dia menyodorkan gelas minuman ke arah Sansan. Gadis itu menerima gelas dari tangan Vicky, walau enggan, namun demi kesopanan dia bersedia menerimanya. Vicky terus meminta Sansan untuk meminumnya. Sedikit lagi gelas menyentuh bibirnya, tiba-tiba sebuah tangan merebutnya lalu membanting gelas ke lantai.
PRANG!!
“Eh siapa lo?!” kesal Vicky. Semua yang ada di sana langsung melihat ke arah Vicky juga Sansan.
“Kak Abe...” panggil Sansan.
“Ayo pulang San. Kamu ngga cocok ada di sini,” Abe menarik tangan Abe tapi Vicky menahannya.
BUGH
Sebuah pukulan mendarat di wajah Vicky, membuat pria itu jatuh tersungkur. Sansan menjerit melihatnya. Dia baru saja hendak membantu Vicky, namun Abe segera menarik tangannya dan menyeret gadis itu keluar dari cafe. Sesampainya di depan mobil, Abe melepaskan cengkeraman tangannya.
“Kak Abe kenapa sih? Dateng-dateng langsung buat keributan,” sembur Sansan.
“Harusnya kamu berterima kasih sama aku karena aku udah selamatin kamu. Asal kamu tahu, pacar bajingan kamu udah nambahin vodka ke dalam minuman kamu. Kalau kamu sampai mabok, dia bisa bebas ngelakuin apa aja sama kamu.”
“Bohong.. kak Abe bohong kan?”
“Ngapain aku bohong. Aku tahu siapa Vicky. Dia itu cuma laki-laki b*jingan yang kerjanya mabok dan nidurin sembarang cewek.”
“Kak Abe tau dari mana?”
“Aku bakal ceritain semuanya tapi masuk dulu ke mobil.”
Sansan terdiam sejenak, tapi kemudian dia mengikuti kemauan Abe. Gadis itu membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya. Tak lama Abe menyusul masuk lalu memacu kendaraannya meninggalkan area cafe.
Mobil yang dikendarai Abe berhenti di bahu jalan. Sejak dari cafe, Sansan terus saja memaksanya menceritakan soal Vicky. Dia melepas sabuk pengamannya lalu mengubah posisi duduknya menghadap Sansan.
“Di mana kakak kenal Vicky?”
“Aku ngga kenal, cuma tahu aja. Aku sering lihat dia di klub yang sering dia datengin.”
“Klub? Klub malam maksudnya?”
“Iya.”
“Kalian ngapain aja di sana?”
“Aku biasa ngumpul sama temanku di sana. Kita cuma ngobrol ngelepas kepenatan sambil minum-minum. Dan Vicky sering datang ke sana. Dia selalu bawa cewek berbeda setiap malamnya. Kalau aku dan teman-teman langsung pulang. Tapi dia sering lanjut ke kamar hotel. You know lah ngapain.”
“Kenapa kakak baru bilang sekarang?”
“Aku masih belum yakin apa itu benar Vicky yang sering kulihat. Dengar San, aku memang mau perjodohan ini berakhir tapi aku mau kalau kamu harus terjebak sama laki-laki brengsek itu.”
“Apa kakak yakin lebih baik dari dia?”
“San..”
“Aku mau pulang.”
Sansan menutup matanya seraya menyilangkan kedua tangan di dada. Abe memakai kembali sabuk pengamannya kemudian melajukan kendaraannya kembali. Sesekali diliriknya Sansan yang masih memejamkan mata. Dua puluh menit kemudian kendaraan miliknya sampai di depan rumah Sansan.
Abe menahan Sansan yang hendak turun, namun dengan cepat gadis itu menepis tangan Abe. Dia masih kesal karena Abe tak mengatakan yang sebenarnya tentang Vicky lebih cepat. Membiarkan dirinya tenggelam lebih jauh dalam perasaannya pada Vicky.
“Aku memang tidak lebih baik dari Vicky, tapi aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun.”
“Aku tidak peduli kakak pernah tidur dengan perempuan atau tidak. Bagiku kalian berdua sama brengseknya.”
“Iya aku memang brengsek. Makanya sejak awal aku menentang perjodohan kita. Kamu berhak mendapatkan lelaki baik.”
“Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi. Aku akan membatalkan perjodohan ini.”
Sansan membuka pintu mobil kemudian keluar dari dalamnya. Dengan gerakan kencang dia menutup pintu hingga terdengar bunyi berdebam. Abe menyandarkan punggungnya ke jok mobil seraya menghembuskan nafas panjang. Beberapa saat kemudian dia mulai melajukan kendaraannya.
🍂🍂🍂
Abe melempar asal kunci mobil di atas meja sesampainya di unit apartemennya. Dia menghempaskan tubuh ke atas kasur. Terngiang kembali ucapan Sansan tentang dirinya. Lalu Abe mengingat kembali perubahan yang terjadi dengan para sahabatnya. Nick yang berusaha menjadi lebih baik setelah bertemu Iza, Arnav yang telah berhenti berpetualang demi memantaskan diri bersama Meta, Fahrul yang telah menyadari kesalahannya dan berusaha untuk kembali bersama Maira. Bahkan kini Denis sudah mulai mempelajari ilmu agama agar hidupnya lebih berarti.
Untuk sesaat Abe masih bertahan dengan posisinya. Tak berapa lama kemudian dia bangun lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kurang dari lima belas menit Abe telah selesai mandi. Setelah berpakaian, dia mengambil sarung juga sajadah dari dalam lemari. Bau apek tercium saat pria itu mengenakan sarung. Sudah sangat lama kedua barang itu tersimpan rapih dalam lemarinya.
Tangan Abe bergerak menggelar sajadah. Pria itu memulai shalatnya, sesuatu yang tak pernah dia lakukan lagi sejak tujuh tahun lalu. Lidahnya agak terbata ketika melafalkan bacaan surat, namun memorinya masih bisa mengingat surat pendek yang dulu pernah dihafalnya. Airmata Abe hampir saja menetes saat keningnya menyentuh sajadah di bawahnya. Sesuatu dalam dirinya menyeruak keluar saat kembali menundukkan diri di hadapan Ilahi.
“Ya Allah.. ampunilah dosa-dosa hamba selama ini. Bimbinglah diri ini kembali ke jalan-Mu. Jangan biarkan hamba kembali tersesat. Pertemukanlah hamba dengan orang-orang yang bisa menjadikan diri hamba lebih baik lagi, aamiin.”
Kedua tangan Abe mengusap wajahnya setelah mengucap doa di akhir shalatnya. Seiring dengan itu buliran bening membasahi wajahnya. Terhitung malam ini, di berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi lebih baik dan kembali menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.
🍂🍂🍂
Denis berbaring di sofa sambil membaca buku tentang tata cara shalat dan bacaannya. Telinganya tesumpal earphone yang tengah memutar bacaan shalat. Dia masih kesulitan untuk melafalkan bacaan shalat. Oleh karenanya sudah seminggu ini dia tinggal di apartemen Arnav. Sahabatnya itulah yang membantunya mempelajari tata shalat dan bacaannya.
Terdengar suara pintu terbuka, Arnav masuk ke dalamnya. Pria itu baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dia menghempaskan bokong di sofa seraya mengambil brosur yang ada di meja. Denis melepaskan earphonenya kemudian menegakkan tubuhnya.
“Udah lo putusin mau disunat di mana?”
“Belum.”
“Di klinik ini aja. Ini bagus, gue denger banyak juga calon mualaf yang sunat di sini.”
“Nanti dulu. Pelajaran gue aja masih belum kelar.”
“Sunat aja dulu terus kita ketemu sama papanya Rivan. Soal bacaan shalat lo bisa sambil belajar nantinya, learning by doing.”
“Okelah. Tapi abis pemotretan ya. Gue ada job besok di luar kota.”
“Ok.”
Arnav meletakkan kembali brosur di atas meja, kemudian beranjak dari duduknya. Namun belum sempat pria itu masuk ke dalam kamar, dia kembali menemui Denis. Ada hal mengganjal yang ingin ditanyakannya pada pria itu.
“Eh.. gue tadi ketemu Fahrul. Mai hamil..”
“Syukur deh. Jadi dia punya alasan buat ngga cerai kan.”
“Dia bilang waktu di rumah sakit ketemu Reisa. Katanya tuh cewek hamil juga. Dia hamil dua bulan dan Fahrul udah ngga berhubungan sama dia selama empat bulan.”
“So?”
“Itu bukan anak lo kan?”
“Gila lo, ya bukanlah. Gue kan kalau main selalu pake pengaman. Lagian itu udah lama, ada kali tiga bulanan.”
“Ya syukur deh kalau bukan elo. Gue takut aja itu anak lo,” Arnav terkekeh.
“Palingan itu anak pacarnya atau produser sinetronnya dia.”
“Gila juga ya tuh anak. Mau aja dicelup sana sini.”
“Yang bego temen kita. Mau aja nyelup ke wadah sampah.”
“Termasuk elo, PEA.”
Arnav menoyor kepala Denis kemudian bergegas kembali ke kamarnya. Denis mendengus kesal, tidur dengan Reisa bukan rencananya. Hanya saja adik kecilnya yang tak tahu diri bangun saat sedang bersama perempuan itu. Denis kembali memasang earphone ke telingnya kemudian membaringkan tubuhnya lagi. Tangannya membuka buku yang tadi dibacanya, dia masih ingin mengulang pelajarannya.
🍂🍂🍂
Tengah malam Maira terbangun saat tangannya menyentuh ruang kosong di sebelahnya. Matanya memicing melihat jam yang terpajang di dinding. Waktu menunjukkan pukul dua pagi dan Fahrul tak ada di sampingnya.
Baru saja wanita itu akan bangun ketika pintu kamar terbuka. Maira kembali membaringkan tubuh dan menutup matanya kembali ketika melihat Fahrul masuk ke dalam kamar. Pria itu meraih sajadah dan sarung yang tersampir di atas kursi. Setelah memakai sarung dan kopeah, dia memulai shalat malamnya.
Maira masih menutup matanya. Sayup-sayup dia mendengar Fahrul yang tengah menunaikan shalat tahajud. Pelan-pelan wanita itu membuka matanya sedikit. Terlihat Fahrul sudah berada di akhir shalatnya. Tak lama kepala pria itu menoleh ke kanan dan kiri setelah menyelesaikan bacaan tahiyatnya. Maira kembali memejamkan matanya.
Fahrul melihat sekilas ke arah sang istri yang masih tertidur. Kemudian dia kembali khusyu di atas sajadahnya. Mulutnya mulai mengucapkan kalimat dzikir, hal yang sudah lama sekali tak dilakukannya. Usai itu, dia mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.
“Ya Allah, ya Rabbi. Hamba sadar sudah banyak melakukan kesalahan. Hamba sudah terlalu lama meninggalkan jalan-Mu. Tapi hamba mohon, ampunilah semua dosa-dosa hamba. Berikan hamba waktu dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ya Allah, engkaulah sang pemilik hati. Engkau pula yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Hamba mohon lembutkanlah hati istri hamba. Bukakanlah pintu maafnya untuk hamba. Hamba akan berusaha menebus semua kesalahan dan akan menjadi suami yang baik untuknya dan ayah yang baik untuk anak hamba. Kabulkanlah permohonan hamba-Mu ini ya Allah. Hanya kepada-Mu lah tempat meminta, aamiin yaa rabbal’aalamiin.”
Fahrul mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tangannya lalu bergerak melipat sajadah dan melepaskan sarung serta kopeah dari kepalanya. Setelah meletakkan semua kembali ke tempatnya, Fahrul merangkak naik ke atas kasur. Maira mengubah posisi tidurnya yang semula telentang menjadi miring membelakangi sang suami.
Mata Maira terbuka dan seketika buliran bening yang tadi ditahannya mengalir membasahi pipinya. Kemudian wanita itu merasakan pelukan tangan Fahrul di perutnya. Pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri, diciumnya pelan puncak kepala Maira beberapa kali.
“Maafkan aku Mai. Aku akan melakukan apapun demi bisa mendapatkan maaf darimu. Tolong beri aku kesempatan menebus semua kesalahanku. Jika kamu tidak mau melakukannya demiku, maka lakukan demi anak kita. Dia memang hadir karena keegoisanku tapi aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuknya.”
Fahrul mengeratkan pelukannya seraya meletakkan dagunya di ceruk leher sang istri. Airmatanya mengalir membasahi bahu Maira. Maira menutup mulut dengan tangannya, sebisa mungkin menahan suara tangisnya.
🍂🍂🍂
Iza turun dari mobil Syehan lalu bergegas masuk ke dalam kedai. Di belakangnya, Syehan dan Dita menyusul masuk. Melihat tak ada Nick di tempat biasanya berada, Iza segera menanyakan pada salah satu pegawai. Dia lalu bergegas menuju lantai atas. Sang pegawai mengatakan kalau Nick sedang ada di kamar untuk berganti pakaian. Tadi kaosnya terkena tumpahan kopi.
Tanpa mengetuk Iza segera masuk ke dalam kamar. Kedatangannya disambut senyum bahagia sang suami. Wanita itu mendekat lalu mencium bibir Nick. Sudah beberapa hari ini Iza selalu merindukan suaminya dan ingin selalu berada di dekatnya, memeluk dan menciumnya.
Nick menyambut ciuman istrinya. Tangannya melingkari pinggang Iza kemudian membalas ciuman Iza dengan intens. Untuk sesaat keduanya tenggelam dalam ciuman yang memabukkan, sebelum akhirnya Nick mengakhiri sebelum dirinya menerkam sang istri.
“Ke sini sama siapa?”
“Syehan dan Dita, siapa lagi. Ngga mungkin sama abi kan?”
“Aku malah berharap kamu ke sini sama abi. Jadi aku bisa buatkan kopi untuknya.”
“Abi pasti suka kopi buatan mas.”
“Semoga aja.”
Iza memeluk leher Nick kemudian kembali menyatukan bibir mereka. Wanita itu tak membiarkan Nick mengakhiri ciuman mereka lagi. Pagutan dan lu**tannya sukses membuai Nick dan membuat sang suami memperdalam ciumannya. Iza melepaskan tautan bibirnya kemudian menciumi leher Nick, menyesapnya sedikit kencang hingga terdengar erangan pria itu.
“Sa..yang.. stop, please.”
“Mas ngga suka?” Iza menatap tajam ke arah Nick.
“Suka sayang. Tapi sekarang bukan waktu yang pas. Kedai masih buka. Sabar ya..” Nick mencium kening Iza.
Walau berat hati, Iza menuruti juga perkataan suaminya. Nick menggandeng tangan Iza kemudian keduanya turun ke bawah. Mata Iza memandang sekeliling namun tak menemukan keberadaan Syehan dan istrinya.
“Ras.. pak Syehan kemana?” tanya Nick pada salah satu pegawainya yang bernama Rasyid.
“Tadi pak Syehan buru-buru pergi. istrinya tiba-tiba mules, kayanya mau melahirkan.”
“Hah? Dia bilang ngga mau ke rumah sakit mana?”
“Hmm.. apa ya tadi bilangnya Medika.. Medika apa gitu.”
“Mitra Medika kali mas. Kan Dita periksa kehamilannya di sana.”
“Ya udah kita ke sana sekarang.”
Sambil berlari Nick naik ke lantai dua untuk mengambil kunci mobilnya. Tak lama kemudian dia kembali. Setelah menitipkan kedai pada Rasyid, Nick dan Iza segera masuk ke dalam mobil. Kendaraan roda empat itu segera melaju pergi.
🍂🍂🍂
Wah temennya Nick pada ikutan tobat juga ya. BTW kapan ya cebongnya Nick launching?