
“Halo.. Edo.”
Tamu yang ternyata adalah Edo, duduk tenang di hadapan pria yang usianya sudah mencapai setengah abad lebih. Awalnya mereka hanyalah pesaing bisnis saja, namun hubungan keduanya semakin memburuk ketika pria di hadapannya ini mengusik keluarganya, bahkan sang istri tercinta sampai meregang nyawa karena ulahnya. Dendam Edo pada pria bertubuh tambun ini tentu saja masih berkobar dalam dada.
“Joseph..”
Pria bernama Joseph itu hanya tersenyum miring melihat kedatangan Edo, pria yang sudah menjadi musuh bebuyutannya selama sepuluh tahun terakhir ini. Gara-gara Edo, bisnisnya sedikit terhambat karena beberapa kali pria itu menggagalkan transaksinya. Beberapa kliennya bahkan berpindah haluan dan memilih berbisnis dengan pria itu.
Selain pandai, Edo juga begitu licin. Sulit sekali mendapatkan pria itu. Beberapa anak buahnya yang ditugaskan untuk membunuhnya, justru kehilangan nyawa sebelum sempat menyentuh pria tersebut. Semua karena ulah anak buah Edo yang kini menjadi tawanannya. Dia yakin, malam ini nyawa Edo akan habis di tangannya.
“Punya nyali juga kamu datang sendiri.”
“Apa aku harus merasa takut padamu? Bebaskan anak buahku.”
“Dia pasti anak buah kesayanganmu, sampai kamu rela datang sendiri untuk membebaskannya.”
“Tentu saja, semua yang ada di lingkaranku, sudah kuanggap sebagai keluargaku. Jadi, sebelum kesabaranku habis, bebaskan dia.”
“Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Tapi ada harga yang harus kamu bayar.”
“Katakan.”
“Nyawamu,” pria bernama Joseph itu menodongkan pistol ke arah Edo.
Mata Joseph berkilat saat menodongkan senjata api ke arah kepala Edo. Sebentar lagi dia akan mengambil nyawa pria itu. Jarinya mulai bergerak itu menarik pelatuk, namun usahanya terhenti ketika merasakan sesuatu yang dingin di pelipisnya. Pengawal yang sedari tadi berdiri di sampingnya menodongkan pistol ke pelipisnya.
“Sebelum kamu menembaknya, peluru ini akan lebih dulu menembus kepalamu,” ujar pengawal tersebut. Dia lalu menoleh ke arah pengawal yang ada di belakang, memberi isyarat untuk melepaskan sanderanya.
Joseph nampak terhenyak mengetahui pengawal kepercayaannya berkhianat. Kini keadan berbalik, dirinya yang berada dalam tekanan. Pengawalnya yang satu lagi juga sudah tak berdaya. Sepertinya dia terlalu meremehkan Edo. Pantas saja pria itu berani datang seorang diri ke sarangnya.
“Kamu mencuri anak buahku!” geram Joseph.
“Aku tidak mencuri, dia sendiri yang datang padaku. Sudah kukatakan untuk memperlakukan orang-orang di lingkaranmu dengan baik, tapi kamu memperlakukan mereka seperti sampah. Jangan salahkan aku, jika mereka akhirnya memilih untuk berada di pihakku.”
“Apa maumu? Membunuhku? Lakukan saja, aku tidak takut!”
“Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darahmu. Tanpa aku harus membunuhmu, kamu juga akan mati. Aku hanya ingin melihatmu menderita, seperti aku.”
Edo memberi kode pada Paolo, anak buahnya yang tadi menjadi tawanan. Pria itu mengambil ponsel dari saku celananya lalu memperlihatkan sebuah video pada Joseph. Mata Joseph membulat melihat putri bungsunya berada dalam tawanan seseorang. Dia menelan ludah kelat begitu mengetahui siapa orang yang telah menawan anaknya.
“Katrina!” Joseph memanggil nama anaknya.
“Salahmu sudah mengusik Don Marco, sebagai balasannya dia mengambil putrimu. Tunggu saja apa yang akan dilakukan pria itu, karena kudengar dia adalah pria yang kejam, bahkan kekejamannya melebihi sang ayah.”
DORR
Terdengar suara tembakan dari video yang tengah ditonton oleh Joseph. Pria itu terkejut ketika melihat putrinya terkapar dengan kepala bersimbah darah. Don Marco baru saja menembak kepala putrinya.
“TIDAK!!”
“Nikmatilah penderitaanmu, Joseph. Rasakanlah kesakitan yang kamu berikan padaku dulu. Walau bukan lewat tanganku, kamu sudah mendapatkan balasannya.”
Edo berdiri dari duduknya, kemudian meninggalkan ruangan bawah tanah itu bersama dua orang pengawalnya. Salah satu pengawal Joseph yang melihat Edo keluar dengan selamat, bergegas menuju ruang bawah tanah. Dia terkejut saat mendapati Joseph terkapar di lantai. Pria itu baru saja terkena serangan jantung. Dengan cepat pengawal tersebut meminta bantuan teman-temannya.
“Kita akan bertemu dengan Don Marco kapan?” tanya Paolo.
“Sekarang. Kita ke De Castille sekarang.”
Paolo menganggukkan kepalanya, kemudian membukakan pintu untuk Edo. Bersama dengan pengawal yang satu lagi, ketiganya pergi meninggalkan klub. Tujuannya kali ini adalah hotel bintang lima milik Don Marco. Edo akan menemui pria itu untuk memberikan hadiah yang sudah dijanjikannya, sebagai balasan pada pria itu karena sudah membalaskan dendamnya pada Joseph.
Mobil yang ditumpangi Edo memasuki area hotel De Castille kemudian berhenti di depan lobi. Bersama dengan Paolo, Edo memasuki hotel dan langsung menuju lantai teratas gedung ini. Mereka akan menemui Don Marco di kamarnya.
Setelah melalui pemeriksaan ketat, Edo diijinkan masuk. Hanya pria itu yang boleh masuk menemui Don Marco, sedang Paolo menunggu di luar. Seorang pria berusia tiga puluahan langsung menyambut kedatangan Edo. Don Marco adalah rekan bisnis Edo sejak dua tahun lalu. Dia menyukai gaya Edo yang tak banyak bicara namun cekatan dalam bekerja dan tidak seperti Joseph yang licik. Dengan gerakan tangan, dia mempersilahkan Edo untuk duduk.
“Bagaimana Joseph?”
“Shock pastinya. Bagaimana anaknya? Apa benar kamu membunuhnya?”
“Iya, aku tidak mau memelihara anak macan. Siapa yang tahu kalau suatu saat dia akan menggigitku.”
“Terima kasih karena sudah membantuku.”
“Aku memang berniat membunuhnya dan seluruh keluarganya. Kamu tidak perlu berterima kasih. Bagaimana dengan hadiah yang kamu janjikan?”
Edo mengambil ponsel dari saku celananya lalu mengirimkan pesan pada Rico yang memang sedari tadi mengikuti pria itu. Tak lama berselang, Rico datang dengan membawa tiga orang wanita. Don Marco memandangi satu per satu wanita yang dijanjikan Edo untuknya.
“Hmm.. cantik.. siapa nama mereka?”
“Yang sudah tua ini, Widya dan ini anaknya, Amelia. Lalu yang masih muda adalah Reisa. Mereka semua adalah hadiah yang aku janjikan.”
“Aku tidak butuh si tua ini,” menunjuk pada Widya.
“Kamu bisa menjadikannya pelayan,” jawab Edo santai.
“Hmm.. okelah. Aku suka yang muda ini,” Don Marco membelai pipi Reisa dengan punggung tangannya.
“Hati-hati, dia perempuan licik. Bahkan demi mempertahankan eksistensinya sebagai artis, dia rela menggugurkan kandungannya.”
“Wow.. Reisa.. kamu cantik, dan saya suka kamu. Tapi kalau kamu berani berkhianat, maka tubuhmu akan berakhir di tempat sampah dalam keadaan tak bernyawa.”
Reisa bergidik mendengar ancaman Don Marco, pria tampan namun memancarkan aura kegelapan yang begitu kental. Bukan hanya Reisa, tapi Widya dan Amelia juga merasakan ketakutan yang sama. Mereka bahkan tidak mengerti, mengapa Edo menculik dan membawa mereka ke sini.
“Urusanku sudah selesai. Boleh aku pergi?”
“Silahkan.”
Bersama dengan Rico, Edo keluar dari kamar milik Don Marco. Paolo juga ikut bergabung dengan keduanya dan beranjak pergi dari hotel mewah itu. Di luar, Edo memilih pergi bersama dengan Rico.
“Bagaimana Iza?”
“Operasinya lancar dan dia sudah bisa melihat lagi.”
“Syukurlah,” Edo menyandarkan punggungnya ke jok mobil.
“Apa kamu akan kembali ke Bandung?”
“Iya, tapi tidak sekarang. Aku masih harus waspada dengan Joseph. Dia bisa saja menggila karena kehilangan anaknya.”
“Sekarang kamu mau kemana?”
“Ke asrama. Aku mau menemui gadis nakalku.”
“Baiklah.”
Rico menekan pedal gas lebih dalam untuk menambah kecepatan mobilnya. Edo mulai memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan tubuh sejenak. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan putri semata wayangnya. Sudah pasti pria itu membutuhkan banyak energi untuk menghadapi putrinya.
🍂🍂🍂
Kendaraan Bryan terus melaju melewati deretan rumah mewah, lalu keluar melalui bagian belakang kompleks. Roda kendaraannya masih terus beputar, menyusuri jalan yang hanya bisa dilalui dua mobil saja hingga akhirnya Bryan membelokkan kereta besinya memasuki gerbang town house dan berhenti di depan rumah bercat abu muda.
Nick yang mengekor di belakangnya, menghentikan mobil tepat di belakang Bryan. Dengan ekspresi bingung, dia membantu istrinya turun. Bryan dan Diah masih belum mengatakan apapun, mereka hanya memberi tanda pada Nick dan Iza untuk masuk ke dalam rumah.
Pasangan suami istri tersebut terkejut ketika confetti menyambut kedatangan mereka. Di dalam ternyata sudah ada seluruh keluarga Iza dan juga para sahabat Nick, minus Fahrul. Mereka sengaja diminta Diah untuk membantu memberikan kejutan pada anak dan menantunya.
Abe, Denis dan Arnav memeluk Nick bergantian. Mereka bahagia, akhirnya sang sahabat bisa menemukan kebahagiaannya lagi. Walau pria itu tak sepenuhnya tahu penderitaan seperti apa yang pernah dialami untuk bisa bersama dengan wanita tercintanya. Sansan dan Ayura pun ikut memeluk Iza, turut berbahagia karena Iza sudah mendapatkan penglihatannya lagi.
“Fahrul mana?”
“Dia ngga bisa ikut karena hari ini juga Mai sama bayinya sudah boleh pulang,” jelas Abe.
“Dan kabar baiknya lagi, abahnya Mai udah maafin dia, mereka ngga jadi pisah,” sambung Denis.
“Alhamdulillah,” jawab Nick dan Iza bersamaan.
“Dan itu semua berkat abi kamu, Zi,” ujar Arnav.
“Abi?”
“Iya, abi bertemu dengan abah Mai. Mereka bicara panjang lebar sampai akhirnya abah berubah pikiran dan mengijinkan Fahrul bersama Mai lagi.”
Iza melihat ke arah Rahardi yang tengah membantu Mina menata makanan di meja makan. Dengan langkah pelan, Iza menghampiri abinya itu. Melihat sang anak mendekatinya, Rahardi menghentikan pekerjaan sejenak.
“Abi..”
“Iya, Zi. Kenapa? Kamu perlu sesuatu?”
“Makasih, abi sudah membantu Fahrul dan Maira.”
“Abi hanya berbicara saja dengan orang tuanya Maira. Allah yang sudah melunakkan hatinya. Abi bersyukur dia mau berubah dan abi juga bersyukur kamu mau memaafkan abi.”
“Aku sayang abi.”
“Abi juga.”
Rahardi merengkuh tubuh Iza kemudian memeluknya. Tak ada keinginan lain dari pria itu selain bisa berkumpul kembali bersama keluarganya dan melihat kebahagiaan anak-anaknya. Mina menatap haru pada keduanya, doa-doanya selama ini akhirnya terkabul juga, sang suami sudah kembali seperti dulu saat dia baru mengenalnya.
“Abi doakan kamu dan Nick cepat memperoleh anak lagi,” ujar Rahardi setelah melepaskan pelukannya.
“Nick masih belum tahu soal keguguran yang kualami. Lebih baik dia tidak usah tahu, tolong jangan katakan apapun padanya.”
“Iya sayang, iya,” Mina membelai lembut puncak kepala Iza.
Suasana bahagia begitu terasa di rumah ini. Perbincangan, tawa dan canda mengiringi kebersamaan mreka. Sambil menikmati hidangan, semuanya asik berbincang. Ridho sudah mulai bisa berbaur dengan para sahabat Nick. Walau awalnya dia dibuat terkejut dengan mulut bocor mereka.
Para wanita juga asik berkumpul sambil membicarakan suami mereka masing-masing. Kadang tawa mereka pecah saat mendengar kisah absurd rumah tangga yang mereka jalani. Meta yang juga ikut berbincang, sesekali matanya melihat ke arah sang suami. Antara Ridho dan Arnav sudah tidak terlihat kecanggungan lagi, keduanya bisa berbicara dengan santai.
Meta bersyukur Arnav memiliki kebesaran hati menerima hubungan mereka yang tak bisa berlanjut hingga jenjang pernikahan. Dia juga bersyukur Ridho tetap bisa bersikap baik pada pria yang pernah menjadi bagian hidupnya dan hampir menjadi masa depannya. Wanita itu hanya berharap Arnav akan segera menemukan jodohnya.
Menjelang sore, para sahabat Nick berpamitan pulang. Tak lama Ridho dan Meta menyusul, Rahardi dan Mina juga ikut pulang bersama dengan anak lelakinya. Kini hanya tinggal Bryan serta Diah saja yang masih bertahan. Mereka masih membereskan rumah yang sedikit berantakan. Nick juga ikut membantu, sedang Iza diminta tetap beristirahat karena kondisinya masih belum sepenuhnya pulih.
Beres dengan urusan rumah, Diah mengajak Nick dan Iza berbicara di ruang tengah. Dia dan Bryan sudah memutuskan untuk mengatakan perihal Edo. Nick harus tahu tentang ayah kandungnya. Tanpa harus menunggu pria itu yang entah kapan akan datang kembali.
“Mom.. ini rumah siapa?” akhirnya keluar juga pertanyaan yang sedari tadi memenuhi kepala Nick.
“Ini rumah kalian, hadiah dari ayahmu,” jawab Diah.
“Daddy?” tanya Nick.
“Bukan daddy, tapi ayah kandungmu, Nick,” terang Bryan. Baik Nick maupun Iza cukup terkejut mendengarnya. Terlebih Iza, karena Nick pernah menceritakan kalau ayah kandungnya menghilang entah kemana saat dirinya masih berada di dalam kandungan.
“Ayah kandungku?”
“Iya, ayah kandungmu. Namanya Eduardo Palermo, dia biasa dipanggil Edo. Awalnya mommy menyangka dia pergi meninggalkan mommy kembali ke negaranya dan tak pernah kembali karena dia sudah menemukan perempuan lain di sana. Tapi nyatanya bukan seperti itu. Sama seperti halnya daddy Bryan, sebenarnya Edo juga ada di sekitarmu. Dia mengawasi dan menjagamu dari kejauhan.”
Nick tercenung mendengarkan cerita Diah tentang Edo, ayah kandungnya. Dalam hatinya terharu mendengar perjuangan dan pengorbanan Edo untuk dirinya juga Diah. Menahan kerinduan demi keselamatan sang buah hati dan istri tercinta pasti tidaklah mudah. Ditambah dengan kehidupan keras dan gelap yang dijalaninya.
“Apa Edo yang mommy maksud adalah orang yang dikenalkan daddy padaku sebagai temannya? Orang yang berkunjung ke kedai kopi?”
“Iya.”
Nick terdiam, pantas saja saat bertemu dengan Edo, dia merasakan sesuatu yang lain dari pria itu. Walau terasa asing, tapi Nick merasakan adanya ikatan batin dengannya. Itu pula yang membuatnya cepat akrab dengan Edo.
“Donor mata yang Iza dapatkan, itu juga hasil perjuangan Edo. Berkat kebaikan yang pernah dilakukannya, dia bisa mendapatkan donor mata itu. Begitu juga dengan rumah ini, ini adalah pemberiannya untuk kalian. Sebenarnya dia melarang mommy dan daddy mengatakan ini semua. Dia bilang nanti akan ada waktu untuknya mengakui siapa dirinya padamu. Tapi mommy pikir akan lebih baik kalau kamu tahu lebih cepat.”
“Nick, daddy tahu kamu mungkin terkejut mendengar tentangnya. Tapi seburuk apapun dirinya, sehitam dan sekeras apapun kehidupan yang dijalaninya, dia tetap ayah kandungmu. Biar pun Edo tak mengatakan apapun, tapi daddy tahu dia pun ingin dipanggil dengan sebutan papai olehmu.”
“Sekarang di mana papai Edo?” tanya Iza yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
“Dia sudah kembali ke Rio sebelum kamu dioperasi. Mommy juga belum tahu kabarnya saat ini. Dia hanya bilang sedang mengurus sesuatu dan melarang mommy menghubunginya.”
“Tapi papai Edo baik-baik aja kan?” tanya Iza.
“Mudah-mudahan Zi. Doakan saja tidak terjadi sesuatu padanya.”
Suasana menjadi hening. Nick masih belum bersuara, sepertinya dia masih terkejut mendengar tentang ayah kandungnya. Iza memeluk lengan suaminya, mengusap punggungnya pelan. Dia tahu kalau Nick masih membutuhkan waktu untuk menerima semua ini.
🍂🍂🍂
Suasana rumah Nick terlihat sepi. Bryan dan Diah sudah pulang ke rumahnya. Kini hanya Nick berdua saja dengan Iza yang tinggal di rumah bergaya minimalis ini. Nick nampak termenung di balkon kamar sambil menikmati semilir angin malam. Iza melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah satu jam lebih suaminya itu termenung di sana. Iza mendekat lalu memeluk suaminya dari belakang.
“Sudah malam mas. Ayo masuk.”
Nick melepaskan pelukan sang istri kemudian membalikkan tubuhnya kemudian menarik Iza ke dalam pelukannya. Untuk sesaat kepalanya terbenam di ceruk leher sang istri, menghirup aroma tubuh yang bisa membuatnya tenang di saat kegundahan yang melanda hatinya saat ini.
Setelah beberapa saat Nick melepas pelukannya, lalu mengajak Iza masuk. Ditutupnya pintu yang menghubungkan kamar ke balkon kemudian keduanya naik ke atas ranjang. Nick membaringkan tubuh seraya menelusupkan kepalanya di dada sang istri. Untuk sesaat saja dia ingin bermanja dalam dekapan Iza. Sejak pembicaraan dengan Diah siang tadi, Nick terus memikirkan Edo. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan papa kandungnya.
“Apa yang mas pikirkan? Apa tentang papai?”
“Iya.”
“Apa mas masih belum bisa menerimanya?”
“Bukan. Aku hanya khawatir. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Aku takut tidak sempat bertemu dan memanggilnya papai.”
Suara Nick terdengar tercekat. Akhirnya dia bisa juga mengatakan apa yang membebaninya sedari tadi. Iza mengeratkan pelukannya, saat merasakan punggung suaminya bergetar. Nick bukanlah pria yang mudah menangis, jika dia melakukannya berarti pia itu sudah tak sanggup menahan kesedihannya lagi.
“In Syaa Allah papai akan baik-baik saja. Dia akan kembali ke sini dan bertemu denganmu. Papai sangat menyayangimu mas, dia pasti akan kembali. Bagaimana pun caranya dia pasti akan kembali karena dia ingin mendengarmu memanggilnya papai.”
Tak ada jawaban dari Nick, hanya tangannya saja yang semakin erat memeluk pinggang Iza. Dalam hatinya mengamini apa yang dikatakan istrinya barusan. Bukan hanya Edo yang ingin mendengar kata papai. Tapi dirinya juga ingin segera memanggil pria itu dengan sebutan papai dan memeluknya erat. Semoga saja Tuhan mengabulkan keinginannya.
🍂🍂🍂
Udah tinggal part happy nya aja ya. Eh masih ada Arnav yang masih jomblo🤣