
“Halo Diah..”
“Edo..”
“Long time no see. How are you?”
“Mau apa kamu ke sini?”
“Untuk bertemu anakku, Nick.”
Wajah Diah memucat, dipikirnya Edo tak tahu soal kehamilannya, karena pria itu kembali ke Brasil sebelum Diah mengetahui soal kehamilannya. Selama bertahun-tahun pria itu tak pernah muncul dan kini datang mengatakan soal Nick.
“Nick bukan anakmu. Dia anakku dengan Bryan.”
“Berbohonglah sesuka hatimu, Diah. Apa perlu aku melakukan tes DNA? Kamu mengakui atau tidak Nick tetap anakku.”
“Dia anakku! Aku yang mengandungnya, yang melahirkannya dan membesarkan dan merawatnya sampai sekarang. Dia anakku! Anakku!”
“Jadi itu yang membuatmu merasa berhak atas hidupnya? Karena itu kamu merasa paling berhak menentukan apa yang baik dan tidak untuknya? Memisahkan dia dari Iza?”
Diah kembali terhenyak, Edo tahu banyak tentang Nick. Wanita itu memandang lekat-lekat pria di hadapannya. Wajah Edo tidak banyak berubah, hanya saja rahangnya sudah banyak ditumbuhi jambang. Tatto-nya pun sudah banyak, dulu hanya satu tatto yang dimilikinya, di bagian punggung.
“Berhenti bersikap keras kepala. Jangan halangi Nick dengan Iza, apalagi sampai menikahkan Nick dengan perempuan lain. Aku tidak akan tinggal diam.”
“Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan. Iza dan ayahnya hanya membawa petaka dalam Nick.”
“Buka matamu, Iza yang telah menuntun Nick menuju kebaikan. Soal ayah Iza, aku setuju denganmu. Aku juga sudah memberikan pelajaran padanya. Kalau tidak ingat dia adalah ayah dari wanita yang dicintai Nick, aku mungkin sudah mengirimnya ke alam baka. Hanya kakinya saja yang kubuat pincang.”
Mata Diah membelalak mendengar penuturan Edo. Dia memang pernah mendengar dari Arnav kalau Rahardi mengalami kecelakaan. Rahardi mengalami kecelakaan di tempat yang sama Nick dan Iza mengalami kecelakaan dan dengan cara yang hampir sama. Ternyata itu semua adalah ulah Edo. Lelaki yang pernah menghuni hatinya ini rupanya sudah banyak berubah. Edo yang di hadapannya bukanlah Edo yang dulu menikahinya.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Terkejut? Aku bukanlah Edo yang dulu. Aku yang sekarang mampu membunuh orang tanpa berkedip. Dan tidak segan-segan menghabisimu kalau kamu berusaha menghalangi kebahagiaan anakku.”
“Lakukan saja, Nick akan membencimu seumur hidupnya.”
“Tidak masalah. Aku tidak peduli dia membenciku, asalkan dia bisa hidup bahagia. Kalau perlu, aku akan membunuh dokter kesayanganmu. Dia juga penghalang untuk Nick dan Iza.”
“Edo!”
“Aku bukanlah Bryan yang begitu sabar menghadapimu. Ayo bangun, ikutlah dengan Rico.”
“Mau kemana?”
“Tenanglah, aku masih belum ingin membunuhmu. Ada seseorang yang harus kamu temui dulu. Setelah itu baru kamu putuskan, mau mati secara cepat atau perlahan.”
Edo bangun dari duduknya kemudian keluar dari privat room tersebut. Rico segera masuk begitu Edo berlalu. Pria bertubuh jangkung itu segera membawa Diah keluar. Dengan mobilnya dia membawa Diah ke suatu tempat, sesuai arahan Edo.
🍂🍂🍂
Dengan tongkat di tangannya, Iza berjalan-jalan di halaman yayasan. Dia masih berada di sana, menunggu Linda menyelesaikan pekerjaannya. Untuk membunuh kebosanan, Iza memilih berjalan-jalan dengan diawasi salah satu staf yayasan. Saat tengah berjalan, ujung tongkatnya mengenai sesuatu, membuat Iza menghentikan langkahnya. Tangannya terulur ke depan. Wanita itu terkejut ketika tangannya menyentuh dada seseorang, refleks dia menarik tangannya.
“Ma.. maaf..”
“Saya yang harusnya minta maaf karena sudah menghalangi jalanmu,” ucap pria itu.
Pria itu mempersilahkan Iza untuk melanjutkan kegiatannya. Namun saat Iza melangkah, dia menjulurkan kakinya hingga Iza tersandung dan jatuh. Bergegas pria itu membantunya bangun.
Tak jauh dari mereka, dua orang tengah berdiri mengawasi interaksi Iza dengan seseorang yang ternyata adalah Rico. Edo sengaja membawa Diah melihat keadaan Iza yang sekarang. Para sahabat Nick masih belum membocorkan keadaan Iza atas permintaan Iza sendiri.
“Lihatlah keadaan menantumu sekarang. Bukan hanya Nick yang menderita, tapi Iza juga. Dia sudah kehilangan calon anaknya, kehilangan penglihatannya dan sekarang kamu akan membuatnya kehilangan Nick juga. Di mana hati nuranimu?”
“Sejak kapan Iza tidak bisa melihat? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
“Saat kecelakaan pecahan kaca mengenai matanya dan membuat kornea matanya rusak. Saat ini Iza tengah menunggu donor mata. Dia sendiri yang meminta pada Arnav untuk tidak mengatakan apapun padamu. Dia tak ingin membuatmu bersedih. Tanpa dia tahu, ibu mertua yang sangat disayanginya berusaha memisahkannya dari Nick.”
“Ba.. bagaimana kamu tahu semua ini?”
“Tentu saja aku menempatkan banyak mata untuk mengawasi Iza dan Nick. Satu hal yang kusesali, aku menarik semua anak buahku ketika mengetahui Nick dan Iza sudah menikah. Aku pikir dia sudah bahagia dan aku bisa melepasnya dengan tenang. Tapi ternyata aku salah. Salah satu anak buahku yang ada di sini melaporkan tentang kecelakaan yang menimpa Nick. Aku kembali ke sini untuk menyelidikinya.”
Airmata Diah berderai melihat keadaan Iza. Karena ketakutannya kehilangan Nick, dia sampai melakukan hal keji untuk memisahkan keduanya. Dengan menahan tangis, Diah berjalan menghampiri Iza. Wanita itu berdiri di depan menantu yang dulu begitu disayanginya. Menyadari ada orang di depannya, Iza menghentikan langkahnya.
“Maaf.. apa aku menghalangi jalanmu?” tanya Iza.
“Aku yang menghalangi jalanmu,” suara Diah terdengar bergetar.
“Mommy..”
“Iya.. ini mommy sayang. Anak mommy, apa yang terjadi padamu? Maafkan mommy.”
Diah tak bisa mengendalikan perasaannya lagi. Ditariknya Iza ke dalam pelukannya. Tangis Iza pun pecah dalam dekapan Diah. Untuk sesaat kedua wanita itu saling berpelukan sambil berderai airmata. Edo terus memperhatikan pemandangan haru di depannya. Ternyata masih tersisa sisi kemanusiaan di hati Diah. Rico berjalan mendekati Edo.
“Donor mata yang kemarin dikirim juga tidak cocok dengan kornea Iza.”
“Brengsek! Kenapa susah sekali mendapatkan donor mata untuk menantuku.”
“Apa kamu masih ingat ibu Jamilah?”
“Jamilah siapa?”
“Wanita yang kamu tolong beberapa tahun lalu. Wanita korban KDRT yang melarikan diri dari suaminya dengan tiga anaknya.”
“Oh Jamilah, ya.. ya aku ingat. Ada apa dengannya?”
“Anak keduanya mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan otak. Sudah hampir setahun anaknya koma, dan dokter sudah memvonisnya mati otak. Artinya, dia mungkin tidak akan hidup lagi. Selama ini hanya alat penunjang hidup saja yang membuatnya tetap bernafas. Bu Jamilah memutuskan untuk mencabut semua alat penunjang hidupnya. Dan dia bermaksud mendonorkan mata anaknya untuk Iza. Mudah-mudahan kornea matanya cocok.”
“Benarkah? Oh Tuhan, terima kasih.”
“Tapi dia minta waktu untuk melepas anaknya pergi. Dia masih menunggu anak pertamanya yang sedang berada di Arab Saudi.”
“Tidak masalah. Terus awasi dia. Bayarkan semua biaya perawatan rumah sakit dan berikan apapun yang dimintanya.”
“Dia tidak mau apa-apa. Ini adalah balas budinya untukmu.”
“Tetap saja tawarkan sesuatu padanya. Kalau memang kornea anaknya cocok, ini akan jadi hadiah indah untuk anak dan menantuku.”
Rico hanya menganggukkan kepalanya. Edo kembali memperhatikan dua wanita di depannya yang masih asik mengobrol sambil sesekali menyeka airmata di wajah mereka. Senyum Edo mengembang melihatnya. Senyum yang jarang dia tampilkan. Pria itu lebih banyak memasang wajah dingin dan sangarnya.
“Zi.. apa kamu mau bertemu Nick?”
“Apa boleh mommy?"
“Tentu saja, kamu adalah istrinya. Maafkan keegoisan mommy yang mencoba memisahkanmu dengannya.”
“Aku mengerti mommy. Pasti mommy mengkhawatirkan keadaan Nick. Apa sekarang keadaannya baik-baik saja?”
“Iya. Dia sudah keluar dari rumah sakit. Bahkan sudah bekerja kembali. Dia membuka kedai kopi di sini dan menamakannya sama dengan kedai yang dulu, Zicko Coffie. Katanya nama itu melintas saja di pikirannya.”
Iza tersenyum bahagia. Ternyata secara tak sadar Nick masih mengingat kenangan mereka. Alasan Nick memakai nama Zicko sebagai nama kedainya. Diah menggenggam tangan Iza.
“Apa kamu mau bertemu dengan Nick?”
“Apa tidak akan membahayakan untuknya?”
“Mungkin dia akan mengalami sakit lagi, tapi mommy yakin dia bisa mengatasinya. Dia sudah melewati masa kritisnya dua kali, mommy yakin dia kuat. Ada kamu yang bisa menguatkannya. Apa kamu mau?”
“Iya mom, aku mau.”
“Kalau begitu datanglah ke kedai kopi bersama Meta. Buatlah seolah kalian mengalami pertemuan tidak sengaja lagi. Kalau mommy yang membawamu ke hadapannya, mommy takut dia tidak akan percaya. Karena mommy pernah membohonginya, memanipulasi ingatannya. Maaf Zi.”
“Harus berapa kali mommy mengucapkan maaf? Aku sudah memaafkan mommy.”
“Terima kasih, sayang. Terima kasih,” Diah kembali memeluk Iza. Keinginannya yang dulu ingin memisahkan Iza dengan Nick, kini sudah berganti haluan. Sekarang dia ingin menyatukan anak dan menantunya kembali.
“Urusanmu sudah selesai di sini? Ayo mommy antar kamu pulang. Mommy juga ingin meminta maaf pada kakakmu.”
“Ayo mom, kita pulang.”
Diah membantu Iza berdiri. Keduanya lalu menuju kantor yayasan untuk berpamitan pada Linda. Melihat Diah dan Iza yang bersiap pulang, Rico segera menghampiri. Dia akan mengantarkan kedua wanita tersebut. Sedang Edo sudah lebih dulu pergi. Dia tak bisa berlama-lama bersama dengan Diah dan Iza, demi keselamatan mereka.
🍂🍂🍂
Mobil milik Ridho berhenti di depan rumahnya. Telinganya menangkap suara-suara yang tengah berbincang. Dengan cepat pria itu memasuki rumah seraya mengucapkan salam. Ridho terkejut melihat Diah ada di rumahnya.
“Mau apa anda ke sini?”
“Abang.. mommy tadi yang mengantarku pulang dari yayasan.”
“Abang..”
Diah mengusap tangan Iza dengan lembut. Baginya wajar Ridho bersikap kasar padanya, karena sikapnya di rumah sakit sudah keterlaluan saat itu. Pasti Ridho sangat tersinggung dan marah padanya.
“Untuk apa anda ke sini?”
“Aku ingin meminta maaf padamu juga Meta. Maaf atas sikapku waktu itu.”
“Apa kamu pikir sudah cukup bagimu meminta maaf? Anda sudah menghina adikku, menganggapnya pembawa sial dalam hidup anakmu. Apa anda pikir satu kata maaf bisa menghapus segalanya?”
Diah hanya tertunduk, tak ada bantahan atau pembelaan darinya. Wanita itu sadar telah melukai hati Iza juga Ridho. Meta pun tidak bisa berbuat apa-apa, sifat suaminya memang keras. Jangankan terhadap Diah, pada Rahardi pun dia bisa bersikap kejam.
“Abang.. mommy ke sini untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Mommy juga akan mempertemukanku dengan Nick. Tapi semua aku serahkan pada abang. Selama ini abang yang selalu ada untukku, abang yang merawatku, menjagaku dan memberikan semangat untukku. Kalau abang tidak menginginkanku kembali pada Nick, In Syaa Allah, aku ikhlas bang.”
Ridho terkesiap mendengar kata-kata Iza. Dia mengusap wajahnya seraya mengucap istighfar. Untuk sesaat setan telah menguasai dirinya. Pria itu menghampiri Iza dan berjongkok di depannya. Digenggamnya tangan sang adik.
“Maafkan abang, Zi. Maaf abang terbawa emosi. Bagaimana mungkin abang tega memisahkanmu dengan Nick. Hanya dia yang bisa membuatmu bahagia. Tentu saja abang mengijinkanmu. Itu adalah keinginanmu, abang akan mendukungmu.”
“Makasih abang. Aku sayang abang.”
“Abang juga.”
Ridho memeluk Iza, sedikit bebannya bisa berkurang mengetahui Iza bisa bertemu dengan Nick. Meta mengusap air di sudut matanya, begitu pula dengan Diah yang terharu melihat kasih sayang kakak beradik itu. Ridho mengurai pelukannya lalu melihat ke arah Diah.
“Maafkan saya tante, kalau sudah kasar dan tidak sopan.”
“Bisa kamu panggil mommy saja? Kamu adalah kakak Iza, dia menantu mommy dan artinya kamu juga anak mommy. Apa kamu mau mempunyai ibu yang keras kepala dan menyebalkan ini?”
“Apa mommy mau punya anak yang katanya jarang tersenyum dan mukanya kaku sepertiku?”
“Hahahaha.. berarti kita cocok,” Diah mengusak puncak kepala Ridho.
“Ok.. bagaimana kalau sekarang kita bicarakan tentang pertemuan Nick dengan Iza?”
“Boleh mom.”
Ridho, Meta, Iza dan Diah mulai membicarakan bagaimana cara mempertemukan Iza dan Nick dengan cara yang aman. Meta mengusulkan untuk mengulang kejadian di masa lalu, menciptakan keadaan yang sama saat Iza dan Nick bersama. Mungkin saja hal tersebut bisa memicu ingatan Nick. Ridho dan Diah setuju, mereka sepakat akan memulai rencana tersebut besok. Lebih cepat lebih baik untuk mereka bertemu.
Di tengah pembicaraan, mereka terkejut dengan kedatangan Bryan. Diah memang meminta suaminya menjemputnya di kediaman Ridho. Untuk sesaat Bryan dan Iza terdiam ketika Diah mengenalkan mereka. Dulu Nick kerap bercerita tentang Bryan dan mengatakan betapa rindunya Nick pada sosok Bryan.
“Apa ini daddy Bryan yang sering Nick ceritakan?”
“Dia sering menceritakan tentangku?”
“Iya dad..”
“Anakku ternyata sangat menyayangiku,” bangga Bryan.
“Dia itu anakku,” sahut Diah.
“Sekali lagi kamu bilang Nick anakmu, aku akan membawanya pergi darimu.”
Semua terdiam sejenak namun kemudian terdengar tawa mereka semua. Ridho memperhatikan wajah Iza yang begitu sumringah. Ini pertama kali dia melihat senyum bahagia sang adik setelah kecelakaan yang menimpanya.
🍂🍂🍂
Di sebuah private room restoran bintang lima, Diah dan Bryan tengah menunggu kedatangan Edo. Diah menceritakan pertemuannya dengan Edo dan Bryan sangat ingin bertemu dengan ayah biologis Nick tersebut. Tak berapa lama pintu terbuka, orang yang ditunggunya akhirnya datang juga.
Bryan berdiri untuk menyambut kedatangan Edo lalu menjabat tangannya. Untuk sesaat kedua itu saling melayangkan tatapan. Seolah keduanya tengah menilai satu sama lain. Bryan yang mengenakan kemeja lengan panjang yang dilinting hingga ke siku, memperlihatkan tangannya yang putih bersih. Berbeda dengan Edo yang mengenakan pakaian casual, celana jeans dan kaos press body yang memperlihatkan otot tubuhnya plus tatto yang memenuhi kedua tangannya.
“Jadi.. kamu adalah ayah biologis, Nick.”
“Dan kamu ayah sambungnya dan sialnya Nick sangat menyayangimu.”
Bryan terkekeh mendengar ucapan Edo. Begitu pula dengan Edo. Tak disangka dirinya bisa cemburu karena sang anak lebih menyayangi pria di hadapannya. Tapi wajar saja, karena sejak dalam kandungan hingga sebesar ini, Edo tak pernah menampakkan batang hidungnya di depan Nick.
“Edo.. selain ingin mengenalkanmu dengan Bryan. Aku juga ingin meminta tolong padamu.”
“Apa itu?”
“Walau kamu tidak mengatakannya tapi aku yakin kamu orang yang cukup berpengaruh dan berkuasa. Bisakah kamu membantu mencarikan donor mata untuk Iza?”
“Untuk apa aku melakukan itu?”
“C’mon Edo!” kesal Diah.
“Bryan.. bagaimana kamu bisa tahan dengan wanita pemarah ini?”
“Hahaha… justru itulah daya tariknya, pemarah dan keras kepala.”
“Yaa.. dua hal itu yang membuatku jatuh cinta padanya, dulu. Kalau sekarang aku bisa dengan mudah mendapatkan gadis cantik, seksi dan muda. Tidak sepertimu yang masih menginginkannya. Ibarat mobil, dia itu sudah turun mesin."
Dengan kesal Diah menendang kaki Edo tapi dengan cepat pria itu berkelit. Dia sudah paham betul jurus tendangan maut mantan istrinya. Pria itu terkekeh melihat wajah Diah yang memerah menahan marah.
“Kamu tenang saja, sebentar lagi Iza akan mendapatkan donor mata. Mudah-mudahan yang ini cocok untuknya. Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengirimkan donor mata ke rumah sakit tempat Iza dirawat, sayang tidak ada yang cocok. Mungkin Tuhan tidak mengijinkanku memberinya donor mata dengan cara yang salah. Tapi yang sekarang aku melakukannya dengan benar dan legal. Semoga saja berhasil.”
“Jangan bilang kamu..”
“Aku memang mendapatkannya dari musuh yang mencoba membunuhku. Aku membunuhnya lebih dulu dan mengeluarkan matanya untuk Iza.”
“Kamu gila.”
“Ya.. aku memang gila. Inilah kehidupanku, Diah. Alasanku kenapa tak pernah bisa kembali padamu juga Nick.”
“Kenapa kamu dulu meninggalkanku? Katakan. Setidaknya aku harus tau alasanmu, supaya aku bisa menjawabnya jika Nick bertanya.”
“Apakah itu penting?”
“Ya.. kami harus tahu. Nick juga harus tahu soal ayah kandungnya. Tolong ceritakan,” pinta Bryan.
Edo menarik nafas dalam-dalam, kemudian menyesap teh yang tersedia untuknya. Mungkin memang Diah harus tahu alasan sebenarnya meninggalkan anak dan istrinya. Masa lalunya yang kelam yang membuatnya tak bisa berada dekat dengan anaknya, sampai sekarang. Pria itu menatap Bryan dan Diah bergantian lalu mulai bercerita.
Eduardo Palermo, lelaki keturunan Brasil yang lahir dari keluarga sederhana. Saat usianya 23 tahun, dia mendapat tawaran bekerja di Indonesia. Awalnya karirnya lancar sampai dia bertemu dengan Diah. Pria itu jatuh cinta pada gadis parahyangan itu. Setelah pendekatan beberapa bulan, Edo memberanikan diri mengajak Diah berpacaran dan akhirnya menikah.
Karena dirinya adalah warga negara asing dan cukup rumit mengurus ijin menikah beda negara, akhirnya pria itu memutuskan menikahi Diah secara sirri. Sebelumnya dia berganti keyakinan, mengikuti keyakinan Diah. Setelah menjadi mualaf, keduanya menikah secara agama. Awalnya pernikahan mereka baik-baik saja, namun menginjak bulan ketiga terjadi masalah di kantornya. Terjadi kasus korupsi besar-besaran dan dirinya dijadikan kambing hitam. Setelah dipecat secara tidak hormat, pria itu juga dideportasi dari Indonesia.
Sedih harus berpisah dengan sang istri, Edo berusaha keras kembali ke Indonesia. Dia melakukan banyak pekerjaan demi bisa kembali bersama Diah. Apalagi setelah temannya yang masih berada di Indonesia mengabarkan kalau Diah tengah mengandung anaknya. Edo semakin bersemangat mengumpulkan uang.
Tapi nasib baik belum berpihak padanya. Tergiur dengan bujukan teman, dia menginvestasikan semua uang miliknya dengan harapan mendapatkan keuntungan besar, hingga dia bisa kembali ke Indonesia dan memulai usaha sendiri di sana, sekaligus melegalkan pernikahan mereka. Namun ternyata, temannya kabur membawa semua uangnya.
Selama dua tahun hidup Edo terlunta-lunta, jangankan menabung, untuk sehari-hari saja kadang pria itu harus menahan lapar. Tinggalnya juga tak menentu berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Hingga satu malam yang mengubah seluruh hidupnya.
Edo tengah menghangatkan diri bersama beberapa orang lain. Tiba-tiba terjadi kegaduhan di tempat mereka berkumpul. Dua gangster terbesar yang ada di Brasil saling baku tembak saat melakukan transaksi senjata ilegal. Semua orang yang tengah bersamanya langsung menyingkir, termasuk Edo. Tapi dia terpaksa kembali begitu melihat seseorang terluka. Dengan susah payah dia membawa pria itu pergi dan berhasil menyelamatkan nyawanya.
Siapa sangka kalau pria yang diselamatkannya adalah salah satu orang penting di Nd*angh*ta. Nd*angh*ta adalah salah satu sindikat mafia terbesar di Italia. Sindikat tersebut memiliki jaringan luas di berbagai negara, termasuk Brasil. Mateo, nama orang itu, dia membawa Edo bersama dengannya. Darinya Edo belajar banyak hal, terutama belajar bertahan hidup dan membunuh.
Kehidupan Edo mulai berubah saat itu. Uang bukan lagi masalah untuknya. Hidup sengsaranya seketika berubah menjadi berkecukupan bahkan bisa dibilang bergelimang harta. Lewat transaksi nark*ba dan senjata ilegal, dia mendapat banyak keuntungan. Namun itu semua harus dibayar dengan kehidupan pribadinya. Edo tak bisa kembali bersama keluarganya karena takut keselamatan mereka terancam. Banyak musuh yang mengincar nyawanya dan orang-orang di sekelilingnya.
Saat Nick kuliah, Edo datang ke Indoensia, namun dia hanya bisa melihat putranya dari kejauhan. Waktu itu dia baru saja kehilangan Emilia, istri keduanya yang mati dibunuh oleh salah satu musuhnya. Beruntung putri semata wayangnya selamat dan disembunyikan Edo di suatu tempat. Khawatir dengan keadaan Nick, dia kembali ke Indonesia. pria itu merekrut anggota di negara ini untuk menjaga anaknya dan melaporkan semua yang terjadi pada Nick.
“Hatiku tenang saat melihat Nick menikah dan hidup bahagia. Tapi ternyata musibah terjadi setelah aku menarik anak buahku. Aku hanya ingin dia menjalani hidup secara normal. Tapi ternyata musibah menghampirinya saat aku tak bersamanya lagi,” Edo mengakhiri ceritanya.”
“Itu adalah takdir,” sahut Bryan.
“Ya dan aku ingin merubah takdir anakku. Aku tak ingin dia menderita seperti diriku.”
“Aku akan membantumu. Karena dia juga anakku.”
“Terima kasih, Bryan.”
Diah hanya terdiam melihat kedua pria di depannya. Dua pria hebat yang begitu menyayangi anaknya. Seandainya Nick tahu pengorbanan ayah kandungnya, mungkin dia akan merasa bangga pada Edo. Suatu hari, Diah berjanji akan menceritakan pada Nick tentang ayah kandungnya.
🍂🍂🍂
Nih penampakan papai Edo
Babe aslinya Nick