
Nick terus mengikuti bed yang membawa tubuh Iza sampai ke depan pintu masuk ruang operasi. Suster tak langsung membawa pasiennya masuk, dia memberikan waktu untuk Nick berbicara dengan sang istri. Selain suaminya, semua keluarga juga ikut mengantar. Nick memegang tangan Iza dengan erat kemudian mencium punggung tangannya.
“Bismillah sayang. In Syaa Allah operasinya lancar.”
“Doakan aku, mas. Aku takut.”
“Tidak ada yang perlu kamu takuti. Aku akan menunggumu di sini dan akan jadi orang pertama yang akan kamu lihat nantinya. Jangan takut, sayang.”
Nick mencium kening Iza dengan penuh kelembutan dan kemesraan, membuat ketakutan Iza berangsur mereda. Tak lama setelahnya, sang suster membawa masuk Iza ke dalam ruang operasi. Ridho merangkul Nick kemudian mereka mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di sana.
Diah bersama Bryan mengambil tempat duduk di hadapan Nick. Begitu pula dengan Mina. Berbeda dengan Rahardi yang memilih duduk di tempat yang agak jauh. Takut kehadirannya tidak membuat nyaman semua orang. Melihat Rahardi yang duduk sendiri, Bryan menghampiri.
“Pak Rahardi,” tegur Bryan seraya mendaratkan bokongnya di kursi samping Rahardi.
“Sepertinya kita belum sempat berkenalan. Saya, Bryan, ayahnya Nick.”
Rahardi menyambut uluran tangan Bryan. Sejenak dipandanginya wajah pria di sampingnya ini. Pria berparas asing namun fasih berbahasa Indonesia, bahkan sikapnya pun sudah seperti orang Indonesia pada umumnya. Dia tak jarang menyebar senyuman pada orang-orang di sekelilingnya. Kesan ramah begitu kental pada diri pria tersebut.
“Akhirnya saya bisa bertemu dan berbicara dengan abi dari Iza,” lanjut Bryan karena Rahardi sedari tadi tak bersuara.
“Maafkan saya,” akhirnya terdengar juga suara Rahardi.
“Saya sudah mendengar apa yang terjadi antara bapak dengan Nick. Jujur, sebagai seorang ayah, saya merasa sakit hati anak saya diperlakukan seperti itu. Tapi.. itu semua sudah berlalu, saya yakin bapak juga sudah menyesalinya. Saya hanya berharap kita bisa melupakan masa lalu dan bisa berhubungan baik, demi anak-anak kita.”
“Terima kasih. Saya sungguh malu dan merasa berdosa, terutama pada Nick. Saya menyesal dengan semua tindakan saya dulu yang egois dan arogan. Tanpa alasan, saya membenci Nick, mencoba memisahkannya dengan Iza. Padahal saya tahu kalau Nick adalah kebahagiaan Iza.”
Rahardi tak sanggup meneruskan kata-katanya. Airmatanya mengalir begitu saja mengingat semua perbuatannya dahulu. Punggung tangannya mengusap buliran bening yang membasahi pipinya. Mina yang sedari tadi memperhatikan suaminya juga tak bisa menahan rasa haru. Dalam hatinya bersyukur, sang suami telah menyadari kesalahannya. Hanya tinggal menunggu kedua anak dan menantunya mau membukakan pintu maaf untuk pria tersebut.
“Diah.. tolong maafkan suamiku,” lirih Mina.
“Lupakan saja semua kejadian masa lalu. Yang penting sekarang Iza dan Nick sudah bersama kembali. Tidak baik juga kan menyimpan dendam. Lebih baik damai, demi anak-anak kita.”
“Kamu benar, terima kasih untuk kebesaran hatimu,” Mina menggenggam tangan Diah.
Perbincangan mereka terusik oleh deringan di ponsel Diah. Sejenak Diah hanya memandangi deretan nomor tak dikenal yang tertera di layar ponsel. Namun akhirnya tangannya bergerak mengusap ikon berwarna hijau.
“Halo.”
“Diah.. ini aku,” terdengar suara Edo dari seberang.
“Edo..”
“Iya. Bagaimana Iza?”
“Dia baru saja masuk ruang operasi.”
“Syukurlah. Maaf, mungkin untuk sementara waktu, aku tidak akan bisa melihat kalian. Aku sudah kembali ke Rio tadi malam.”
Diah beranjak dari duduknya. Dia berjalan menjauh dari kursi tunggu. Suara mantan suaminya itu terdengar aneh, Diah curiga ada sesuatu hal terjadi padanya. Setelah berada di tempat yang jauh dari orang-orang, wanita itu melanjutkan pembicaraan.
“Ada apa Edo? Apa terjadi sesuatu padamu.”
“I’m okay.”
“Jangan bohong. Suaramu terdengar aneh.”
“Joseph.. dia menahan salah satu anak buah terbaikku. Aku harus membebaskannya, aku berhutang budi padanya. Aku tidak bisa kembali ke Bandung untuk beberapa waktu, keadaan masih genting dan aku tidak mau membuat Nick juga yang lain dalam bahaya. Sampaikan salamku untuk Nick juga Iza. Begitu masalah di sini selesai, aku akan menemui kalian secepatnya. Jika butuh sesuatu hubungi saja Topan. Aku sudah merekrutnya ke dalam tim. Dia dan beberapa anak buahku akan menjaga keselamatan kalian.”
“Hati-hati, Edo. Kamu harus selamat, ada Nick yang menunggumu. Kamu harus kembali ke sini dan mengatakan siapa dirimu sebenarnya. Dia berhak tahu soal dirimu.”
“Tentu saja aku akan kembali. Tolong jaga anak dan menantuku. Jangan menghubungi nomor ini lagi. Jika ada yang menanyakan tentang diriku, jangan bilang kamu mengenalku. Ini demi kebaikan kalian.”
“Baiklah. Terima kasih, Edo. Berhati-hatilah.”
Selesai Diah berbicara, sambungan langsung terputus. Untuk sesaat wanita itu masih termenung di tempatnya. Ada kekhawatiran merasuki dirinya. Kehidupan Edo yang keras dan penuh bahaya bisa saja membuat pria itu kehilangan nyawa kapan saja. Bryan yang melihat sang istri nampak cemas, bergegas menghampiri.
“Ada apa?”
“Edo, tadi dia telpon. Dia sudah kembali ke Rio. Anak buahnya tertangkap oleh musuh, dan dia sedang berusaha membebaskannya. Aku khawatir, takut terjadi sesuatu padanya sebelum Nick tahu siapa dia sebenarnya.”
“Semoga Edo baik-baik saja. Dia adalah orang yang kuat, aku yakin dia akan baik-baik saja. Hidupnya keras dan selama ini dapat bertahan dengan baik. Edo pasti baik-baik saja.”
Bryan mencoba menenangkan Diah yang nampak cemas. Pandangannya lalu beralih pada Nick yang tengah berbincang dengan Ridho. Anaknya itu belum tahu siapa Edo sebenarnya. Dirinya berharap kondisi Edo baik-baik saja dan bisa bertemu dengan Nick lagi.
Waktu operasi sudah lewat dari satu jam dan belum ada tanda-tanda operasi akan berakhir. Abe dan Denis datang bersama para istri. Mereka menghampiri Nick yang masih duduk menunggu.
“Belum selesai operasinya?” tanya Denis.
“Belum. Gimana Mai?”
“Alhamdulillah udah lahiran. Tapi anaknya masih di NICU, lahir prematur.”
“Fahrul?”
“Ya gitu deh. Bokapnya Mai masih ngotot nyuruh mereka cerai.”
“Dasar egois, persis kaya mertua lo,” gumam Abe pelan, namun Ridho yang duduk di dekat mereka masih bisa mendengar ucapannya.
“Arnav mana?”
“Kerjalah.. dia kan masih jadi kacung bukan bos hahaha,” Abe tergelak sendiri.
“Dasar, temen sendiri dikatain kacung. Bahasanya lemes dikitlah,” ujar Nick.
“Apa dong?”
“Jongos.”
“Hahahaha… astaga lo beneran masih amnesia? Ngga percaya gue. Tuh sebutan jongos sering lo kasih ke si Arnav dari dulu,” Denis terpingkal sendiri.
“Heran gue, buat hal ngga penting gue bisa inget kenapa yang penting malah ngga inget.”
“Tapi lo masih inget kan cara buat anak?”
Toyoran berturut mendarat di kepala Denis, namun pria itu hanya terpingkal saja. Ayura mencubit pinggang suaminya yang kadang kalau bercanda tidak memakai filter sama sekali. Tapi celotehan absurd Denis dan Abe justru merubah suasana yang tadinya tegang jadi lebih santai. Nick pun mulai bisa tersenyum, begitu pula Ridho.
Empat puluh menit kemudian layar yang menunjukkan ruang operasi Iza berganti status menjadi selesai. Semua yang ada di sana menunggu dokter Rega dengan harap-harap cemas. Tak lama sosok yang ditunggu muncul juga. Nick segera mendekati dokter tersebut, begitu pula Diah dan Mina.
“Bagaimana dok?”
“Alhamdulillah operasinya berhasil. Sebentar lagi Noor akan dipindahkan ke kamar. Tapi dia masih dalam pengaruh obat bius, jadi belum sadar.”
“Apakah dia bisa melihat lagi?”
“Kita tunggu besok, bu. Besok saya akan membuka perbannya, hasilnya akan diketahui besok. Mudah-mudahan hasilnya sesuai yang diharapkan. Saya permisi dulu.”
Rega berpamitan dan segera meninggalkan ruang tunggu operasi. Setengah jam lagi, dia jam praktenya dimulai. Sudah banyak pasien yang mendaftar untuk diperiksa hari ini. Nick dapat bernafas dengan lega mendengar keterangan dari dokter Rega. Semoga saja istrinya bisa melihat kembali.
Sepuluh menit berselang, pintu masuk ruang operasi terbuka. Dua orang suster mendorong keluar bed Iza. Nick segera mensejajarkan diri mengikuti bed tersebut bergerak. Mata Iza masih tertutup perban dan masih belum sadarkan diri. Yang lain pun mengikuti dari belakang.
🍂🍂🍂
Mobil yang dikendarai Arnav memasuki area parkir Ibnu Sina Hospital. Setelah berkeliling, akhirnya pria itu mendapatkan tempat yang kosong. Usai memarkirkan kendaraannya, Arnav turun lalu menuju lobi rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya sekarang.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju ke arahnya dengan keadaan mundur. Arnav bergegas menghindar, namun matanya menangkap seseorang yang tengah berbicara dengan ponselnya dan tak menyadari bahaya yang mengancam. Arnav bergerak cepat menarik tubuh orang tersebut. Namun karena kurang berhati-hati, dirinya hampir terjatuh. Dengan cepat Arnav berpegangan pada palang kecil yang ada di dekatnya. Pria itu tidak terjatuh, namun telapak tangannya terluka terkena ujung palang yang lancip.
Beberapa security yang melihat pergerakan mobil tidak semestinya, berhasil menghentikannya. pengemudi ternyata salah memindahkan gigi saat menyalakan mesin mobil. Saking gugupnya dia malah menekan pedal gas, bukan rem. Orang yang diselamatkan Arnav, yang ternyata adalah Bila terkejut melihat tangan Arnav yang berlumuran darah.
“Tangan kamu luka,” serunya.
Arnav memandangi telapak tangan kanannya yang terluka. Sepertinya lukanya cukup dalam hingga darah yang keluarpun cukup banyak. Saat masih memandangi tangannya yang berdarah, Bila langsung menarik tangan Arnav. Dengan langkah panjang dia membawa pria itu menuju IGD. Bila menuju bilik pemeriksaan yang kosong lalu meminta Arnav duduk di atas blankar. Gadis itu lalu pergi meninggalkannya.
Tak berapa lama Bila kembali dengan beberapa peralatan di tangannya. Dia menaruh peralatan di atas nakas yang ada di dekat blankar lalu menarik tangan Arnav yang terluka. Pelan-pelan dia mulai membersihkan darah dengan kain kasa agar dia dapat melihat berapa besar dan dalam lukanya.
“Luka kamu dalam juga. Sebentar aku bersihkan dulu.”
“Bentar-bentar.. susternya mana?”
“Ngga usah pake suster, biar aku aja.”
Bila mengambil cairan infus normal saline lalu membersihkan luka Arnav menggunakan cairan tersebut. Luka yang didapat pria itu memang cukup dalam. Dengan cepat Bila menghentikan pendarahan, kemudian dia mengambil benang dan jarum. Luka robekan itu harus segera dijahit. Baru saja Bila akan menjahit luka Arnav, pria itu tiba-tiba menarik tangannya.
“Mau ngapain?” tanya Arnav.
“Luka kamu dalam, jadi harus dijahit.”
“Dokternya mana?”
“Aku dokternya.”
“Ngga mau! Aku ngga percaya ya sama kamu. Kamu tuh psikiater, bukan dokter.”
Dengan kesal Bila menjitak kepala Arnav, sontak saja pria itu membelalakkan matanya. Bila menarik tangan Arnav, namun pria itu malah menahannya. Terjadilah acara tarik menarik tangan.
“Kamu tuh mau diobatin ngga sih?” kesal Bila.
“Sama dokter jaga aja jangan sama kamu. Kamu tuh cuma psikiater, ngga percaya aku kamu bisa jahit.”
“Aku emang dokter residen jurusan kejiawaan. Tapi sebelum ambil residen, aku kuliah dokter umum dulu. Menangani luka seperti ini sudah aku pelajari sebelumnya, mengerti?”
“Ooh…”
Bila menarik salah satu kursi yang ada di sana lalu mendudukkan diri di hadapan Arnav, gadis itu sudah siap dengan jarum jahit di tangannya. Tapi saat dia akan memulai, lagi-lagi Arnav menarik tangannya.
“Apalagi?”
“Ngga dikasih obat bius dulu gitu?”
Hembusan nafas kasar Bila terdengar, gadis itu benar-benar kesal dengan Arnav. Kalau tidak ingat dia yang telah menyelamatkannya tadi, tak sudi rasanya repot-repot mengurusi pria bawel ini. Bila mengambil gulungan kasa.
“Buat ap.. mmpphh,” Bila menyelipkan gulungan kasa di antara bibir Arnav.
“Gigit itu! Dan jangan banyak gerak!”
Arnav berteriak tertahan saat Bila mulai menjahit lukanya. Pria itu menggigit kasa kuat-kuat menahan rasa nyeri akibat jahitan yang dilakukan Bila. Ketika jahitannya selesai, seorang suster menghampiri mereka.
“Dok.. ini bius lokalnya.”
“Ngga usah,” jawab Bila dengan santainya dan sukses membuat mata Arnav melotot. Akhirnya jahitannya selesai sudah. Bila menggunting sisa benang kemudian menaruh kembali peralatan ke tempat semula.
“Itu obat biusnya ada, kenapa ngga dipake?”
“Cuma tiga jahitan, ngga perlu.”
“Iya ngga perlu karena bukan kamu yang dijahit! Dasar dokter gila!” umpat Arnav.
Tanpa mempedulikan umpatan Arnav, Bila keluar dari bilik. Tak berapa lama dia kembali dengan jarum suntik di tangannya. Arnav yang masih merasakan nyeri di telapak tangannya terkejut saat Bila tiba-tiba saja menyuntikkan cairan ke lengannya.
“Apaan tuh tadi?”
“Obat anti tetanus. Tadi aku lihat plangnya ada sedikit karat. Aku takut kamu kena tetanus.”
“Kasar banget sih jadi dokter,” gerutu Arnav.
“Harus, buat pasien bawel kaya kamu. Badan aja gede, tapi takut sama jarum jahit. By the way, makasih udah nolongin aku tadi. Pengobatan ini gratis, kamu ngga usah bayar.”
Bila mengambil tasnya kemudian berlalu meninggalkan Arnav. Dengan kesal Arnav turun dari blankar lalu keluar dari bilik pemeriksaan. Dilihatnya Bila sudah tidak ada di IGD. Pria itu lalu melanjutkan perjalanannya menuju lantai sebelas, tempat di mana ruangan Iza berada.
🍂🍂🍂
Abe memandangi perban yang membalut telapak tangan Arnav. Dia terkejut saat melihat Arnav datang dengan tangan diperban. Denis ikutan melihat luka sahabatnya itu dan tanpa sengaja menekan daerah sekita luka membuat Arnav menjerit kesakitan.
“Adaw.. sakit, Nyet!”
“Lo kenapa bisa luka kaya gini?” tanya Abe.
“Gue luka kaya gini karena abis nolongin orang songong. Udah gitu dokternya yang jahit luka gue, gila!”
Arnav melihat sengit ke arah Bila yang juga tengah menjenguk Iza. Namun dokter muda itu nampak tak mempedulikannya. Dia terus saja mengajak bicara Iza. Abe dan Denis yang mengikuti arah pandang Arnav, sadar siapa orang yang dibicarakan oleh sahabatnya ini.
“Maksud lo, dokter Bila yang udah ngerawat luka lo?”
“Hem..”
“Harusnya lo terima kasih dong bukannya ngatain dokter gila,” Abe mulai mengompori.
“Dia itu jahit luka gue tanpa dibius dulu, dasar gila!” Arnav masih kesal pada Bila.
“Kalau pasiennya edan kaya kamu, ya ngga usah dibius. Cuma tiga jahitan aja, manja banget. Apa kabarnya sama ibu yang abis melahirkan. Ada yang dijahit juga tanpa dibius tapi ngga rewel kaya kamu.”
“Lo tuh bener-bener ya!”
“Woii.. ini kamar rumah sakit, harap tenang,” Abe mencoba melerai pertengkaran.
“Ribut mulu, gue nikahin juga nih!” seru Denis.
“Najis!” jawab Arnav dan Bila bersamaan.
“Kompak bener. Jodoh ini.”
Gelak tawa langsung terdengar menyambut ucapan Abe. Arnav hanya mendengus kesal, Bila memalingkan wajahnya ke arah lain. Berhadapan dengan Arnav selalu membuatnya naik darah. Nick dan Iza yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia saja juga tak bisa menahan tawanya. Abe dan Denis semakin bersemangat meledek Arnav dan Bila.
Keseruan mereka terinterupsi ketika Fahrul datang. Wajah muram Fahrul membuat suasana ceria berganti menjadi serius. Pria segera menghampiri Nick. Denis memberikan kursi yang didudukinya untuk Fahrul.
“Gimana keadaan kamu, Zi?”
“Fahrul ya?” tebak Iza.
“Iya.”
“Alhamdulillah operasinya lancar. Besok perbannya bisa dibuka. Gimana Mai?”
“Alhamdulillah, keadaannya udah baikan.”
“Anak kamu?”
“Masih di NICU.”
“Sabar ya, bro,” Nick menepuk pelan pundak sahabatnya.
“Sorry, Rul.. gue belum bisa jenguk Mai sama baby, lo,” lanjut Nick.
“Ngga apa-apa. Iza lebih butuh lo di sini.”
“Gimana mertua lo?”
Terdengar helaan nafas panjang Fahrul ketika Nick menanyakan mertuanya. Sampai saat ini sikap Surya masih belum berubah padanya. Pria itu tetap bersikap sinis. Janji Fahrul akan melepaskan Maira yang membuat Surya mengijinkan Fahrul terus berada di sisi istrinya.
Pintu ruangan terbuka, Rahardi masuk dengan kantong belanjaan di tangannya. Dia meletakkan camilan dan minuman yang dibelinya di atas meja kemudian menuju ruang di mana bed Iza berada.
“Zi.. Nick.. abi mau kembali ke kamar. Kalau kalian butuh apa-apa, bilang saja.”
“Iya bi, makasih,” jawab Nick.
Rahardi melemparkan senyum tipis. Dia beruntung Nick mau bersikap baik padanya. Semua sahabat Nick terbengong melihat interaksi Nick dengan Rahardi. Situasi mereka kini sudah berubah. Rahardi sepertinya benar-benar menyesali tindakannya dulu dan telah menerima Nick sebagai menantunya.
“Nick.. mertua lo baik bener,” celetuk Abe.
“Alhamdulillah. Abi emang baik sama gue, kenapa?”
“Ngga apa-apa, syukur deh kalau mertua lo udah baik. Tinggal mertua si bahlul noh, masih keras kepala.”
“Sabar, Rul. By the way lo beneran mau pisah sama Mai?”
“Gue harus gimana Nick? Gue ngga mau bikin Mai tertekan karena konflik gue sama abah. Salah satu dari kita harus ngalah. Karena abah tetap ngga mau nerima gue lagi, ya gue yang harus ngalah.”
“Tuh orang tua kepala batu banget. Mertus si Nick insyaf, mertua si bahlul bengek. Buset drama banget hidup kalian berdua.”
“Nah ini nih yang bikin gue ngga mau nikah sama laki-laki, mereka keras kepala,” celetuk Arnav.
“Dasar PEA!” pekik Abe.
Rahardi tercenung mendengar percakapan sahabat Nick. Pria itu memang belum pergi, semua pembicaraan tadi tertangkap telinganya. Dengan langkah pelan Rahardi meninggalkan ruangan Nick.
“Nick.. Iza.. aku pergi dulu, ya. Biasa, harus bikin laporan dulu,” cetus Bila.
“Makasih ya, Bila,” ujar Iza.
“Sama-sama, Zi. Aku pergi ya.”
Bila melemparkan senyuman pada semua orang kecuali Arnav lalu meninggalkan ruang rawat inap VVIP tersebut. Sepeninggal Bila, ledekan Abe dan Denis kembali terdengar untuk Arnav. Fahrul yang sedari tadi muram bisa tersenyum juga mendengar perdebatan Arnav mematahkan semua kata-kata Abe dan Denis.
“Jangan terlalu benci, Ar. Karena antara benci dan cinta itu tipis banget batasnya,” ujar Fahrul.
“Bener tuh, denger nasehat dari pakarnya langsung. Dulu benci ama Mai, sekarang..." Denis menjeda kalimatnya.
"Bucin!" seru Abe dan Arnav bersamaan yang susul gelak keduanya.
“Sue lo!” Fahrul menepak kepala Abe dan Arnav bergantian. Tak lama pria itu berdirk.
“Gue cabut dulu, Nick. Gue janji ngga lama sama Mai.”
“Salam ya buat Mai.”
“Iya, Zi. Gue balik ya, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sepeninggal Fahrul, Abe juga mengajak Sansan pulang. Mereka baru saja mendapatkan rumah tinggal. Abe memutuskan membeli rumah di perumahan yang baru saja selesai dibangun. Denis juga ikutan membeli rumah di sana, hanya berselang empat rumah saja. Hari ini rencananya Abe dan Sansan berbelanja barang-barang untuk rumah mereka.
Denis juga tak mau ketinggalan, bersama dengan Ayura, dia juga hendak berbelanja kebutuhan untuk rumah barunya. Yang terpenting membeli ranjang dan kasurnya dulu karena rencananya mulai malam ini, mereka akan tinggal di rumah baru. Kini hanya tinggal Arnav saja yang ada di sana.
“Lo mau nginep di sini apa pulang?” tanya Nick.
“Ngusir lo?”
“Gue mau pacaran ama Iza. Udah sono balik.”
“Dasar temen ngga ada akhlak. Udah gue bela-belain dateng ke sini malah disuruh pulang,” gerutu Arnav.
“Ar.. mending kamu kencan aja sama dokter Bila,” celetuk Iza.
“Ngga usah ikut-ikutan gila kaya Abe sama Denis ya, Zi. Udah ah gue cabut. Awas Nick, jangan macem-macem lo, ini rumah sakit.”
“Emang gue mau ngapain?”
“Ya kali lo mau main kuda-kudaan,” Arnav terkekeh.
“Balik sono!”
Nick menendang bokong Arnav namun pria itu berhasil menghindar. Sambil terus tertawa Arnav keluar dari ruangan.
🍂🍂🍂
Yang kemarin² nungguin Nick, mohon maaf yang sebesar²nya. Kendala laptop masih jadi trouble. Maafkan daku yang ganteng ini.