
Fahrul keluar dari ruangan. Dengan malas, Denis bangun dari duduknya kemudian berjalan mengikuti Fahrul keluar ruangan. Arnav terlihat sedikit cemas, takut keduanya kembali berkelahi.
“Eh tuh kunyuk dua ngga bakalan ribut lagi kan?”
“Biarin aja. Udah gede berantem mulu,” Abe menarik sebuah kursi kemudian mendudukkan Sansan di sana. Sedang dirinya memilih duduk di kursi roda.
Fahrul berdiri di jendela besar yang terdapat di dekat ruang rawat Nick. Matanya menatap ke arah jalanan di bawah sana. Denis mendekati sahabatnya itu. Dia berdiri di samping Fahrul, seraya memasukkan tangan ke saku celana jeansnya.
“Di mana Mai?”
“Tinggalin Reisa, baru gue kasih tahu.”
“Mai masih istri gue.”
“Istri yang ngga dianggap, gitu maksud lo?”
“Ngga usah ikut campur urusan rumah tangga gue.”
“Sorry, ngga bisa. Mai yang minta tolong ama gue.”
Fahrul mulai kesal mendengar jawaban demi jawaban dari sahabatnya ini. Dia mengubah posisinya menghadap samping, begitu pula dengan Denis. Kedua sahabat itu berdiri berhadapan layaknya dua orang musuh.
“Gue ngga akan ninggalin Reisa. Gue cinta sama dia.”
“Kalau gitu lepasin Mai. Jangan egois lo. Nikah sama Mai tapi kawinnya sama Reisa.”
“Sampai kapan pun gue ngga akan ngelepas Mai.”
“Kalau gitu jangan harap lo bisa nemuin Mai. Gue bakal bantu dia supaya bisa lepas dari bajingan kaya lo.”
“Brengsek lo!”
Fahrul menarik kaos Denis dengan kedua tangannya. Raut wajahnya dipenuhi oleh amarah. Dengan tenang Denis memegang pergelangan tangan Fahrul kemudian melepaskan cekalan dari kaos yang dikenakannya.
“Lo yang brengsek, bukan gue. Lo pertahanin Mai demi keuntungan lo sendiri. Coba lo berpikir dari sisi Mai. Kalau lo yang digituin, gimana perasaan lo?”
“Ngga usah lebay lo. Ngga ada cinta antara gue sama Mai.”
“Ngga ada cinta bukan berarti dia ngga sakit hati.”
“Terserah lo mau ngomong apa. Gue ngga akan ninggalin Reisa. Dan soal Mai, gue akan cari sendiri sampai ketemu. Lo umpetin di lubang semut sekalipun, gue akan menemukannya.”
Fahrul menepuk rahang Denis dua kali, kemudian pergi meninggalkan sahabatnya itu. Tanpa berpamitan pada yang lain, Fahrul meninggalkan rumah sakit. Denis terus memandangi punggung Fahrul yang semakin menjauh.
“Lihat aja Rul, gue yang akan bikin lo ninggalin Reisa,” gumam Denis.
🍂🍂🍂
Iza baru saja selesai menyuapi Nick makan siang. Setelah merapihkan peralatan makan dan menaruhnya di atas nakas, Iza duduk di kursi yang berada di samping bed. Untuk sesaat keduanya terdiam, lalu terdengar suara Iza.
“Nick, aku boleh tanya sesuatu?”
“Soal apa?”
“Denis. Apa perempuan yang kemarin itu pacarnya?”
“Hmm... hubungan mereka memang dekat tapi bukan pacaran.”
“Ngga pacaran, tapi mereka sampai ciuman seperti itu.”
“Hubungan mereka itu hanya sekedar hubungan simbiosis mutualisme. Tante Tere membutuhkan perhatian dan juga kepuasan **** sedang Denis butuh uang.”
Iza menutup mulut dengan tangannya. Walau Nick tak menjelaskan secara gamblang, namun gadis itu sudah bisa menebak apa profesi Denis.
“Denis itu sama kaya aku, kami tumbuh tanpa figur seorang ayah. Papa Denis selingkuh dengan teman kerjanya dan memilih meninggalkan mama Denis, tapi dia masih membiayai sekolah Denis sampai tamat senior high school. Biar dia nakal dan liar, tapi dia sayang banget sama mamanya.
Begitu tamat sekolah, mama Denis meninggal karena sakit. Sejak saat itu, Denis seperti kehilangan pegangan. Dia yang haus kasih sayang seorang ibu akhirnya bertemu dengan tante Tere. Tante Tere sendiri sedang galau karena suaminya ketahuan selingkuh. Awalnya hubungan mereka seperti anak dan ibunya. Tapi lama-lama tante Tere menginginkan hal lain. Akhirnya mereka bukan hanya berbagi kisah dan perhatian, tapi lanjut dengan berbagi ranjang juga.”
“Kalau Arnav dan Abe, apa mereka juga sering melakukan **** bebas juga?”
“Arnav ya, tapi Abe ngga.”
“Kamu?”
“Kan aku udah bilang kalau belum pernah tidur dengan siapapun.”
“Tapi kalau ciuman pernah kan?”
“Iya sih. Tapi.. you know, just a kiss, no feeling at all (kamu tahu, hanya ciuman, tanpa perasaan sama sekali).”
Iza terdiam sebentar. Tiba-tiba saja ingatan saat dirinya memergoki Denis dan Teresa berciuman, berkelebat di pikirannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikiran kotor dari kepalanya. Kemudian dia menatap Nick, pandangannya tertuju pada bibir Nick yang sedikit kehitaman, efek dari nikotin.
“Kenapa Zi?”
“Ngga apa-apa. Aku penasaran aja bagaimana rasanya ciuman.”
“Mau aku ajari?”
“Ish apaan sih.”
Nick terkekeh, tangannya kemudian terulur mengambil gelas di atas nakas. Setelah meneguk habis minumannya, Nick bermaksud menaruhnya kembali namun dia meletakkannya terlalu ke pinggir. Hampir saja gelas terjatuh, namun Iza menangkapnya dengan cepat bersamaan dengan Nick. Tangan keduanya bersentuhan, mata mereka saling memandang. Perlahan Nick menarik tengkuk Iza kemudian membenamkan bibirnya ke bibir Iza yang belum pernah tersentuh siapa pun.
“Nick.. Nick..” tak ada jawaban dari pria itu.
“Nick.. Nick..”
Iza mengguncang-guncangkan bahu Nick. Tak berapa lama mata pria itu terbuka. Dia memandang ke arah Iza yang berdiri di dekat bednya. Netranya memindai gadis di depannya dari atas sampai bawah. Keningnya berkerut melihat pakaian Iza berbeda dari yang dikenakannya tadi.
“Sh*t,” umpat Nick pelan.
“Kenapa Nick?”
“Ngga apa-apa.”
Nick bangun dari tidurnya, Iza menaikkan posisi bed, hingga Nick bisa menyandarkan punggungnya. Kemudian gadis itu menyiapkan makan siang yang diantarkan suster tadi. Nick mengusap tengkuknya menahan malu saat sadar kalau tadi dirinya hanya bermimpi ketika mencium Iza.
“Ayo makan dulu,” Iza menyuapkan bubur beserta lauknya pada Nick.
“Yang kemarin itu pacarnya Denis?”
“Tantenya Denis.”
“Tante ketemu gede maksudnya?”
“Ya gitu deh.”
Iza hanya manggut-manggut, tanpa Nick menjelaskan lebih lanjut, gadis itu sudah paham maksud pembicaraan pria itu. Dia terus menyuapkan makanan ke mulut Nick.
“Kalau Arnav dan Abe juga penganut **** bebas?”
“Arnav iya tapi Abe ngga.”
“Kalau kamu?”
“Ngga lah Zi,” Nick menerima suapan terakhir dari Iza.
“Tapi kalau ciuman pasti sering kan.”
Uhuk.. uhuk..
Nick langsung terbatuk mendengarnya. Iza mengambil gelas berisi air putih lalu memberikan pada pria itu. Setelah meminum setengah gelas, batuknya mulai mereda. Iza membereskan peralatan makan lalu menaruhnya di nakas. Tanpa Nick menjawabnya, gadis itu tahu kalau tebakannya benar dan membuatnya kesal.
“Zi.. marah ya.”
“Pikir aja sendiri!” ketus Iza.
“Itu sebelum ketemu kamu. Setelah ketemu kamu udah ngga kok. Lagian aku cuma ciuman aja, ngga ada perasaan.”
“Bisa ya kaya gitu.”
“Ya bisa Zi. Jujur aja aku emang beberapa kali ciuman dengan perempuan, tapi jujur aku ngga ngerasain apa-apa selain itu...”
“Ya itu deh. Kamu kaya ngga ngerti aja.”
“Emang ngga ngerti.”
“Emang kamu belum pernah ciuman?”
Nick langsung diam begitu melihat tatapan horor Iza. Dalam hati dia merutuki dirinya yang salah bicara. Sudah tentu gadis itu tak pernah melakukannya. Jangankan berciuman, berpegangan tangan dengan lawan jenis pun belum pernah sepertinya.
“Gimana rasanya ciuman sama banyak perempuan? Pasti enak kan? Dasar buaya.”
“Rasanya biasa aja karena ngga ada cinta di hati. Aku belum pernah ciuman sama perempuan yang aku sayang. Karena perempuan pertama yang buat aku jatuh cinta ya cuma kamu, Zi. Mau test drive ngga? Biar aku tahu juga rasanya gimana.”
Iza mengambil tasnya kemudian memukulkannya ke tubuh Nick beberapa kali. Dia terus melakukannya tanpa mempedulikan teriakan ampun pria itu. Saking semangatnya memukul, tanpa sengaja Iza memukul bahu kiri Nick yang belum sepenuhnya pulih.
“Aduuhh!!!”
Sontak Iza menghentikan pukulannya saat melihat wajah Nick meringis menahan nyeri. Kini justru Iza yang terlihat panik dan merasa bersalah.
“Maaf Nick.. sakit banget ya. Aduh gimana ini, aku panggilin suster ya.”
“Ngga usah Zi, aku baik-baik aja kok.”
“Maaf ya.”
“Jangan marah lagi dong sayang. Aku tahu dulu aku tuh brengsek. Tapi aku mencoba untuk berubah, semua demi kamu Zi.”
“Tapi kamu ngga boleh cium-cium perempuan sembarangan lagi.”
“Ngga Zi, ngga.”
“Awas aja kalau...”
Ucapan Iza menggantung begitu saja ketika pintu kamar terbuka. Baik Nick maupun Iza langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Nampak Diah memasuki kamar bersama dengan Sakurta. Iza meraih tangan Diah kemudian mencium punggung tangannya. Sedangkan pada Sakurta, Iza hanya menangkupkan kedua tangannya tanda perkenalan sekaligus hormat.
“Bagaimana keadaanmu sayang?” Diah mencium pipi kanan dan kiri Nick.
“Alhamdulillah udah baikan mom.”
“Bahumu sudah membaik?” kini giliran Sakurta yang bertanya.
“Udah mendingan om.”
“Apa kamu sudah menemukan orang yang memukulimu? Apa perlu om bantu mencarinya?”
“Eeehh.. ngga usah mas. Teman Nick sedang melacak keberadaan mereka,” sela Diah.
“Iya om, ngga usah. Temanku sudah mengurusnya.”
“Baguslah. Tapi kalau butuh sesuatu katakan saja ya.”
“Iya om.”
“Hmm.. Zi, kamu belum ada rencana pulang kan?” tanya Diah.
“Belum mom.”
“Mommy titip Nick sebentar. Mommy laper, mau makan siang dulu.”
“Oh iya mom, silahkan.”
“Mommy tinggal dulu ya, Nick, Iza.”
Dia memeluk lengan Sakurta kemudian melangkah keluar kamar. Keduanya langsung menuju lift yang kebetulan sudah terbuka pintunya. Mereka masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dasar. Sesampainya di sana, Diah mengajak Sakurta makan siang di cafe yang terletak di seberang rumah sakit.
🍂🍂🍂
Diah menyalakan rokok usai makan siang, dia juga menyalakan untuk kekasihnya itu. Mereka memang memilih duduk di bagian smoking area. Diah menghembuskan asap dari rokok yang tadi dihisapnya. Sesekali matanya melirik ke arah Sakurta yang tengah menyesap batang nikotin itu dengan tenang.
Diah terus menyesap rokok yang terselip di antara kedua jarinya sampai hampir ke ujung. Kemudian dimatikannya rokok tersebut. Disambarnya gelas berisi air putih kemudian meneguknya sampai habis. Lalu wanita itu melihat ke arah Sakurta lekat-lekat.
“Aku sudah tahu siapa orang yang ingin mencelakai Nick.”
“Oh ya? Siapa?”
“Mereka hanya orang suruhan saja. Aku sudah bertemu dengan dalangnya.”
“Benarkah? Siapa?”
“Istrimu.”
Sakurta langsung terbatuk mendengarnya. Buru-buru dimatikan rokok di tangannya lalu membuangnya. Dia memandang Diah dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa kaget? Istrimu itu sudah mengetahui hubungan kita. Bukan hanya mengancamku, dia juga sudah berani mencelakai Nick. Nick-ku masuk ke rumah sakit karena ulah istrimu!”
“Maafkan aku sayang. Maafkan juga istriku.”
“Dia memintaku untuk meninggalkanmu.”
Sakurta hanya mampu menggelengkan kepalanya. Selama setahun terakhir ini, dia sudah terbiasa menerima pelayanan Diah. Bukan hanya itu, Sakurta juga telah jatuh hati pada wanita di sampingnya ini. Berbeda dengan Diah yang melakukannya hanya demi uang.
“Please jangan dengarkan dia. Aku ngga berani membayangkan kalau hidup tanpamu.”
“Tapi dia sudah berani menyentuh anakku. Aku tidak bisa menerima perbuatannya.”
“Lalu apa maumu sayang?”
“Kita akhiri saja hubungan ini.”
“Jangan... aku ngga mau.”
Sakurta memegang tangan Diah kemudian mengecup punggung tangannya. Sakurta yang sudah tak memiliki gairah lagi pada sang istri, terus memohon agar Diah tak meninggalkannya.
“Kalau kamu tidak mau kehilanganku, kamu harus menikahiku.”
Sakurta tercengang mendengarnya. Netranya menatap manik hitam Diah, sepertinya wanita itu sungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun Sakurta belum bisa mengabulkan keinginan wanita yang kerap berbagi keringat dengannya.
“Maaf Diah, untuk sekarang aku belum bisa mengabulkan keinginanmu. Aku akan bicara dengan Widya. Akan kupastikan, dia tidak akan mengganggumu atau Nick lagi.”
“Entahlah, aku ngga yakin. Dia menyewa seseorang untuk mengawaski kita. Aku juga yakin kebersamaan kita saat ini pun pasti tengah diawasi oleh anak buahnya.”
Sakurta sontak melayangkan pandangan ke segala arah, mencoba mencari sosok yang tadi dikatakan oleh Diah. Namun lelaki itu tak menemukan hal yang mencurigakan.
“Kalau begitu kita berpisah saja,” kembali terdengar suara Diah.
“Tolong sayang, jangan seperti ini. Aku akan memperingatkannya.”
“Keputusanku sudah bulat. Kita pisah atau menikah.”
“Ok kita akan menikah. Tapi aku hanya bisa melakukannya secara sirri.”
“Bukan pernikahan sirri yang kuinginkan. Aku ingin menjadi istri sahmu yang diakui agama juga negara. Dan aku juga tidak sudi menjadi madu. Kalau kamu mau menikahiku secara resmi, maka ceraikan dulu istrimu.”
JEDER!!
Sakurta seperti tersambar petir mendengarnya. Dirinya seperti memakan buah simalakama saja. Walau pun dirinya sudah tak mencintai sang istri lagi. Namun kalau mereka sampai bercerai, maka posisinya di perusahaan akan terancam. Sang istri memiliki saham di Ambrossia Hills lebih banyak dari dirinya. Bisa saja istrinya itu melengserkan dirinya dari posisi dewan komisaris.
“Sayang.. tolong jangan seperti ini. Ayo kita cari solusi lain.”
“Keputusanku ngga berubah. Pisah tau menikah.”
Diah mengambil tasnya kemudian berdiri. Dilihatnya Sakurta sebentar yang masih terlihat bingung. Kemudian dengan santai, Diah melenggang pergi tanpa mempedulikan panggilan Sakurta. Dengan kesal Sakurta menggebrak meja dengan kencang, mengejutkan beberapa pengunjung yang ada di dekatnya. Dengan kesal sakurta bangun dari duduknya kemudian menyusul Diah keluar dari cafe.
🍂🍂🍂
Akhirnya bisa up juga euy...
Buat yg suka cerita Nick dan kawan², tolong promosiin ke temen²nya ya🙏