The Nick's Life

The Nick's Life
Biar Takdir Bicara



Semua terdiam mendengar penjelasan Diah tentang kondisi Nick. Denis meremat rambutnya dengan kasar. Setelah lolos dari masa kritis, kondisi Nick ternyata belum benar-benar aman. Jika diibaratkan gunung, maka Nick adalah gunung aktif yang sewaktu-waktu akan memuntahkan lahar panasnya.


“Mommy harap kalian tidak meminta Nick mengingat masa lalunya lagi. Mommy takut kalau dia memaksakan diri, keadaannya akan semakin buruk.”


“Iya mom. Kami ngerti. Buatku ngga masalah Nick ingat atau ngga, yang penting dia bertahan hidup. Itu udah cukup.”


“Iya mom. Aku setuju dengan Denis,” sahut Abe.


“Dia ingat atau ngga soal kita. Dia tetap sahabat kami mom,” sambung Fahrul.


“Coz we are family,” timpal Arnav.


Pria itu melihat ke arah Nick yang tengah tertidur. Sahabatnya itu baru saja menjalani serangkaian tes. Diah terdiam sebentar, selain mengabarkan perihal kondisi Nick, dia juga akan menyampaikan keputusan yang baru tadi diambilnya.


“Mommy juga mau minta sesuatu pada kalian.”


“Apa mom?”


“Tadi mommy bertemu dengan Rahardi. Mommy mengatakan padanya kalau Nick sudah meninggal.”


“Mom!”


Bukan hanya Denis, namun semua sahabat Nick terkejut dengan penuturan Diah. Baru saja Fahrul akan protes, namun Diah buru-buru mengangkat tangannya. Pria itu terdiam dan menunggu penjelasan Diah selanjutnya.


“Bukan tanpa alasan mommy mengatakan itu semua. Kalian tahu betapa besar arti Iza dalam hidup Nick. Tapi saat ini, Iza juga menjadi ancaman terbesar untuknya. Jika Nick bertemu dengan Iza, bukan tidak mungkin dia akan mencoba mengingat tentang Iza. Mommy tahu Nick seperti apa. Amnesia atau tidak, sifat keras kepala tidak akan hilang dari darinya. Nick itu selalu melakukan apa yang dianggapnya benar. Jika dia bertemu dengan Iza, dia pasti akan terus menggali ingatannya. Itu akan membahayakan hidupnya.”


“Tapi bagaimana dengan Iza, mom? Dia kehilangan calon anaknya dan sekarang dia harus kehilangan suaminya juga. Mommy pasti bisa bayangkan bagaimana perasaannya,” Fahrul masih belum bisa menerima keputusan Diah.


“Mommy tahu. Lalu mommy harus apa? Prioritas mommy kali ini adalah keselamatan Nick. Keadaan Iza juga ngga akan lebih baik jika bertemu dengan Nick. Bayangkan bagaimana perasaannya begitu tahu suaminya tidak mengingatnya sama sekali dan bahkan mungkin tidak akan pernah mengingatnya lagi.”


“Maksud mommy kalian, bukan memisahkan Nick dan Iza selamanya. Kita harus memberi waktu pada Nick menenangkan diri, menerima keadaan dirinya sambil melihat perkembangannya. Jika keadaan Nick sudah lebih baik dan tenang, Nick bisa bertemu kembali dengan Iza.”


Bryan mencoba memberikan penjelasan pada Fahrul dan Nick tentang keputusan Diah. Walau dirinya tak sepenuhnya setuju, tapi mungkin ini adalah keputusan yang terbaik. Melihat kondisi Nick sekarang, memang cukup riskan jika anaknya itu bertemu dengan Iza. Baik Diah maupun dirinya tak mau ambil resiko dengan nyawa Nick sebagai taruhannya.


“Mommy hanya menginginkan keselamatan Nick. Jika Nick bisa melewati ini dengan baik, Iza bisa bertemu lagi dengannya. Tapi kalau sesuatu terjadi dengan Nick saat mereka bertemu, Iza bisa kehilangan suaminya selamanya.”


Diah tak kuasa menahan tangisnya. Bukan hal mudah baginya mengambil keputusan ini. Dirinya pun sangat menyayangi Iza. Tapi jika dihadapkan pada keadaan harus memilih, maka dia akan memilih Nick. Anak yang dikandungnya selama sembilan bulan dan dibesarkan dengan susah payah.


“Aku ngerti, mom. Aku akan menerima dan mendukung keputusan mommy,” tutur Abe.


“Aku juga mom,” timpal Denis.


“Maaf mom, kalau aku menyinggung perasaan mommy. Aku akan mendukung keputusan mommy, kalau itu memang terbaik untuk Nick.”


Fahrul memilih untuk mengalah. Pria itu juga tahu, tak mudah bagi Diah melakukan ini semua. Dia hanya berharap kondisi Nick bisa cepat pulih dan sahabatnya itu bisa kembali bersama dengan Iza. Fahrul tahu betul bagaimana rasanya terpisah dengan orang yang dicintai. Itulah yang membuatnya menentang keputusan Diah tadi.


Kini semua pandangan tertuju pada Arnav. Sedari tadi pria itu tak mengeluarkan suaranya. Bukan hanya Diah, Arnav pun merasa dilema dengan keadaan ini. Jika dia mendukung Diah, itu artinya dia harus menutupi perihal Nick dari Meta. Tapi di sisi lain, dia juga tak mau sesuatu terjadi pada sahabatnya.


“Ar, mommy tahu ini hal sulit untukmu. Mommy akan sangat berterima kasih kalau kamu mau mendukung keputusan mommy. Tapi kalau kamu menolak, mommy tidak akan memaksa. Mommy persilahkan kamu menceritakan semua pada Meta.”


Arnav masih terdiam. Dia tahu kalau antara Meta dan Iza tak ada rahasia yang terpendam. Kedekatan mereka begitu erat, masing-masing selalu mendukung satu sama lain. Jika dia mengatakan semuanya pada Meta, maka gadis itu akan berada dalam dilema juga. Dia harus merahasiakan hal besar dari sahabatnya dan pasti akan menjadi beban mental untuknya.


“Aku akan mendukung mommy,” akhirnya Arnav membuka suaranya.


“Terima kasih Ar, terima kasih.”


“Aku akan meminta bagian administrasi menutup akses untuk menjenguk Nick,” seru Bryan. Dan semua setuju dengan pendapatnya.


“Lalu bagaimana dengan kalian? Kapan kalian akan menikah? Maaf mom, bisa saja nanti Nick mempertanyakan hubungan kalian karena daddy sudah membuka jati dirinya di depan Nick,” Arnav kembali berbicara.


“Mommy sudah memikirkannya. Ayo kita menikah,” Diah melihat pada Bryan.


“Ayo kita tebus kesalahan kita pada Nick. Jangan sampai dia mengingat masa laluku yang kelam. Sudah waktunya kita memberikan kebahagiaan untuknya. Aku akan menelpon bapak untuk menikahkan kita. Aku juga belum memberi tahu mereka tentang Nick.”


“Baiklah.. ayo kita menikah.”


Segurat senyum tipis tercetak di wajah Diah. Dia siap mengawali babak baru hidupnya bersama dengan Bryan, pria yang begitu dicintainya. Wanita itu juga berharap keputusannya ini akan membantu mempercepat kepulihan Nick. Semoga saja sang anak bisa mendapatkan ingatannya kembali.


🍂🍂🍂


“Bohong! Kamu pasti bohong!”


Mina tak mempercayai ucapan suaminya saat mengatakan perihal Nick. Rahardi yang mempercayai ucapan Diah terus berusaha meyakinkan Mina dan membuat sang istri menerima kenyataan kalau suami dari anak bungsunya telah tiada.


“Aku akan menemui Diah.”


“Mereka berangkat ke Bandung hari ini. Rencananya Nick akan dimakamkan di sana.”


“Walau mereka pergi ke ujung dunia sekali pun, aku akan tetap mencarinya. Aku percaya, menantuku masih hidup.”


Mina berdiri dari duduknya kemudian pergi meninggalkan Rahardi. Dia harus memastikan sendiri berita yang disampaikan suaminya. Hati kecilnya mengatakan kalau Nick masih hidup. Mungkin saja kebencian Diah pada Rahardi yang mendorong wanita itu mengatakan hal tersebut.


Diam-diam Mina pergi ke rumah sakit ke tempat Nick dirawat. Dalam hatinya terus berharap kalau apa yang dikatakan Rahardi adalah kebohongan. Dengan menggunakan taksi online, wanita itu menuju rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Mina nampak frustrasi saat bagian administrasi tak mau memberi informasi apapun seputar pasien kecelakaan yang dipindahkan dari rumah sakit Mitra Harapan. Seberapa keras wanita itu mencoba, namun mereka tetap tak memberikan informasi. Ini adalah bentuk pelayanan yang diberikan rumah sakit untuk pasien VIP. Rupanya Bryan bergerak cepat meminta rumah sakit menutup informasi tentang Nick.


Dengan langkah gontai, wanita itu meninggalkan meja bagian administrasi. Dia mendudukkan diri di kursi tunggu yang ada di lobi rumah sakit. Melihat pihak rumah sakit tak memberikan informasi tentang Nick, kecurigaan Mina semakin besar. Dirinya yakin kalau Nick masih hidup.


Mina mengambil ponselnya kemudian menghubungi Diah, namun panggilannya terhubung pada kotak suara. Kemudian dia mencoba menghubungi Arnav, salah seorang sahabat Nick yang cukup dekat dengannya. Tapi pria itu tak menjawab panggilannya. Mina bangun, wanita itu tak mau menyerah. Kalau pihak rumah sakit tak mau memberinya informasi, maka dia akan mencarinya sendiri. Kalau perlu dia akan mendatangi satu per satu kamar rawat inap yang ada di rumah sakit ini.


Sudah hampir dua jam Mina terus mengelilingi rumah sakit besar ini. Dia menyusuri lantai demi lantai untuk menemukan keberadaan Nick. Total sudah ada empat lantai yang disusurinya. Wanita itu melewatkan lantai khusus bagian kandungan, lantai perawatan anak, dan tentu saja lantai tempat dokter praktek. Masih ada lima lantai lagi yang harus dia datangi.


Sambi memijit betisnya yang terasa pegal, Mina beristirahat di salah satu ruang tunggu yang ada di lantai sembilan. Beberapa kali Ridho menghubungi dan menanyakan keberadaannya. Mina hanya mengatakan masih ada hal yang harus diselesaikan pada anak lelakinya itu.


Setelah melepas lelah, Mina bermaksud melanjutkan pencariannya. Dia berjalan menuju lift yang ada di bagian kanannya. Tangannya memijit tombol dengan tanda panah menghadap ke atas. Tujuannya kali ini adalah lantai 10. Dengan sabar wanita itu menunggu kotak besi berhenti di lantainya.


TING


Terdengar suara dentingan ketika lift berhenti di lantai 9. Perlahan pintu lift mulai terbuka. Beberapa orang keluar dari kotak besi tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, Mina masuk ke dalam lift. Matanya membulat melihat Diah tengah berdiri di sudut dengan kepala tertunduk.


“Diah..”


Kepala wanita itu terangkat. Diah nampak terkejut melihat Mina ada di hadapannya. Untuk sesaat kedua wanita itu hanya terpaku di tempatnya masing-masing. Mina berinisiatif mendekati Diah. Hanya ada mereka berdua di kotak besi ini.


“Mau apa kamu ke sini? Apa suamimu tak mengatakan perihal Nick?”


Diah tak menjawab pertanyaan Mina. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mina tak mau menyerah. Sebuah keberuntungan dia bisa bertemu dengan Diah di saat dirinya hampir menemui jalan buntu. Dia juga percaya kalau ini adalah jalan yang diberikan Tuhan untuknya.


“Diah.. tolong.. jujurlah. Demi hubungan baik kita, demi anak-anak kita,” Mina terus berusaha membujuk Diah.


“Pulanglah..”


Diah langsung keluar di lantai sepuluh begitu pintu lift terbuka. Buru-buru Mina menyusulnya. Karena tak berhati-hati, sepatu yang dikenakannya tersandung sela-sela lantai dan pintu lift hingga membuatnya terjatuh.


“Astaghfirullah..”


Mina menahan tubuh dengan kedua tangannya agar tidak jatuh tersungkur. Diah yang terkejut refleks mendekati besannya itu kemudian membantunya berdiri. Dibantu Diah, wanita itu duduk di kursi tunggu yang ada di lantai ini.


“Kamu ngga apa-apa?”


“Aku baik-baik aja,” Mina menepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel di telapak tangannya.


“Bagaimana Iza?”


“Alhamdulillah, dia sudah sadar. Nick?”


“Dia juga sudah sadar. Tapi Nick kehilangan ingatannya.”


Dengan cepat Mina menolehkan kepalanya ke arah Diah. Wajah wanita itu nampak begitu sendu. Mina meraih tangan Diah kemudian menggenggamnya. Dia tahu betul bagaimana perasaan Diah saat ini. Anak-anak mereka dalam keadaan tidak baik. Nick kehilangan ingatannya dan Iza kehilangan penglihatannya.


“Nick.. cedera di kepalanya cukup parah. Dia kehilangan ingatannya, bahkan dokter memprediksi kalau ingatannya tidak akan kembali. Setelah sadar, dia pingsan beberapa kali saat mencoba mengingat tentang dirinya. Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan kalau ada sarafnya yang terhimpit akibat benturan yang terjadi. Jika dia terus memaksakan untuk mengingat, maka saraf yang terhimpit bisa meradang dan pecah. Jika itu terjadi, nyawa Nick dalam bahaya. Dia bisa saja meninggal.”


Mina hanya mampu terdiam mendengar penjelasan Diah. Wanita itu langsung teringat akan putrinya. Setelah kehilangan anak, kehilangan penglihatan kini sang suami juga kehilangan ingatannya. Tak terasa airmatanya mengalir mengingat nasib tragis anaknya.


“Nick.. saat ini belum bisa bertemu dengan Iza. Aku takut jika mereka bertemu, Nick akan memaksakan diri untuk mengingatnya. Aku tidak mau ambil resiko dengan nyawa Nick sebagai taruhannya. Aku tahu mungkin ini terkesan kejam untukmu, tapi anggap saja Nick sudah mati. Tak ada jaminan ingatannya akan kembali. Jadi, lebih baik mereka berpisah untuk saat ini. Kita serahkan semuanya pada takdir. Kalau mereka masih berjodoh, mereka pasti akan bisa bersama lagi bagaimana pun caranya.”


Tak ada jawaban dari Mina. Wanita itu masih setia menutup mulutnya. Batinnya terus berperang antara mengikuti atau menentang keputusan Diah. Melihat masih belum ada tanggapan dari Mina, Diah meraih tangan Mina.


“Mina.. aku tahu ini tak adil untuk Iza. Tapi aku mohon, jangan beritahu apapun soal Nick padanya.”


“Ijinkan aku bertemu dengan Nick. Aku akan memberikan keputusanku setelah bertemu dengannya.”


Diah menganggukkan kepalanya. Dia berdiri kemudian mengajak Mina masuk kembali ke dalam lift, jarinya memijit tombol yang menunjukkan angka 12. Perlahan kotak besi bergerak membawa mereka naik.


Lantai tempat di mana ruangan VIP berada nampak lengang. Memang tak sembarang orang bisa memasuki lantai ini. Mina terus mengikuti langkah Diah menuju kamar yang terletak di bagian ujung.


Kedatangan Mina tentu saja mengejutkan Arnav yang tengah berbincang dengan Bryan. Dia mengusap tengkuknya, mencoba menutupi rasa gugupnya. Pria itu merasa tak enak hati telah mengabaikan panggilan wanita itu beberapa kali. Diah terus membawa Mina masuk ke ruang rawat. Di sana Nick tengah berbincang santai dengan Abe.


“Nick..” panggil Diah.


Nick langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Namun sedetik kemudian matanya terarah pada Mina. Hati wanita itu mencelos ketika Nick melihatnya seperti orang asing. Sadar pandangan Nick terarah pada Mina, Diah buru-buru mengenalkannya.


“Ini teman mommy. Kebetulan kami bertemu di lobi. Mendengar kamu sakit, dia mau menjengukmu.”


“Bagaimana keadaanmu?”


“Alhamdulillah baik. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Kalau mendengar cerita tentangmu sudah sering tapi kalau bertemu, ini pertama kalinya.”


Mina menekan perasaannya kuat-kuat. Rasa sesak seketika menyergapnya ketika membayangkan Iza yang ada di posisinya saat ini. Nick terus memandangi wajah Mina, dia merasa tak asing dengan wajah wanita di depannya. Tanpa sadar, pria itu berusaha mengingat, di mana dia pernah bertemu dengan Mina.


“Aaarrgghh..”


Diah, Abe juga Mina dikejutkan dengan suara erangan Nick. Pria itu mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Abe dengan cepat menekan bel untuk memanggil suster. Diah menghampiri Nick kemudian memeluknya. Nick terus mengerang kesakitan seperti ada ribuan jarum menghujam kepalanya.


Seorang suster datang memeriksa keadaan Nick. Karena pria itu tak berhenti mengerang kesakitan, suster tersebut terpaksa memberikan suntikan pereda nyeri. Perlahan namun pasti, rasa nyeri di kepalanya berkurang seiring dengan matanya yang memberat. Diah membaringkan kepala Nick ke bantal.


Mina hampir saja kehilangan keseimbangannya ketika memutuskan untuk keluar dari ruang perawatan Nick. Dia cukup shock melihat keadaan Nick barusan. Wanita itu bersandar di dinding yang ada di belakangnya. Melihat Mina yang tak ada di kamar, Diah bergegas menyusulnya.


“Bagaimana Nick?”


“Dia sudah tenang sekarang.”


“Syukurlah.”


“Kamu lihat sendiri bagaimana keadaan Nick. Jika terus menerus seperti itu, dia bisa saja kehilangan nyawanya.”


Diah menutup mulut dengan tangannya. Beberapa kali wanita itu menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Mina memejamkan matanya, ini pun hal yang berat untuknya. Dia hanya bisa berdoa kalau keputusan yang diambilnya ini benar. Dirinya yakin kalau Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan umat-Nya. Jika sang anak diberikan ujian ini, dia yakin Iza mampu melewatinya.


Perlahan Mina membuka matanya. Dilihatnya Diah masih menunggu jawaban darinya dengan wajah penuh harap. Mina menarik nafas panjang seraya mengucapkan basmallah dalam hati.


“Aku akan mengikuti keinginanmu. Mari kita serahkan semuanya pada takdir. Jika mereka masih berjodoh, mereka pasti akan bersama lagi.”


“Terima kasih, Mina. Terima kasih..”


Diah menggenggam erat tangan besannya ini. Airmata keluar dari kedua matanya tanpa dapat dibendung. Dia tahu, ini juga keputusan berat untuk Mina. Dirinya hanya bisa berdoa, mereka semua bisa melalui semua cobaan ini dengan baik. Dan terus berbaik sangka dengan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan.


🍂🍂🍂


“Ummi..”


Terdengar suara Iza memanggilnya begitu wanita itu kembali ke rumah sakit di mana anaknya dirawat. Iza menjulurkan kedua tangannya, mencoba mencari keberadaan ibunya. Mina mendekat lalu meraih tangan Iza.


“Ummi dari mana? Apa ummi habis menengok Nick? Bagaimana keadaannya ummi? Apa dia sudah sadar?”


Bukan jawaban yang didengar Iza, melainkan isak tangis yang keluar dari mulut sang ibunda. Bukan hanya Iza, Ridho pun cukup bingung melihat reaksi ibunya. Rahardi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Melihat istrinya menangis, dia yakin kalau Nick benar-benar telah tiada.


“Ummi...”


“Yang sabar sayang. Nick.. dia sudah pergi.”


Iza seperti tersambar petir mendengar berita kematian suaminya. Tak ada reaksi apapun darinya. Wanita itu hanya diam layaknya patung. Matanya menatap kosong ke arah depan. Sedetik kemudian tubuhnya jatuh terkulai.


“IZA!!”


🍂🍂🍂


Tenang Zi, masih ada gue😎