
Baru saja Fahrul hendak membuka pintu mobil ketika seseorang menghampirinya. Dia terkejut melihat Rahardi yang datang. Pria itu mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil.
“Fahrul?” tanya Rahardi.
“Iya, om.”
“Panggil saja abi.”
“Oh iya.”
“Boleh saya menjenguk istri dan anakmu?”
Fahrul terdiam sejenak. Dia bingung juga kenapa tiba-tiba ayahnya Iza ingin menjenguk Iza dan anaknya. Dia juga baru pertama kali bertemu dengan Rahardi. Apalagi hubungan Rahardi dan Nick dahulu tidaklah baik.
“Kamu kan sahabat Nick. Istrimu juga temannya Iza, jadi saya mau menjenguknya. Kalau boleh nanti saya akan coba bantu bicara dengan mertuamu. Maaf kalau tadi saya sempat mendengar perbincangan kalian.”
“Oh iya, abi. Silahkan.”
Fahrul membukakan pintu mobil untuk Rahardi. Pelan-pelan pria itu masuk ke dalam mobil. Fahrul bergegas masuk melalui pintu pengemudi. Tak lama pria itu mulai menjalankan kendaraannya.
Sepanjang perjalanan, Rahardi berbicara tentang penyesalannya karena sudah bersikap egois hingga menyebabkan anak dan menantunya menderita. Kesedihannya karena dijauhi orang-orang yang disayanginya. Bahkan Ridho dan Iza masih belum mau berbicara padanya. Hanya Nick saja yang berbaik hati mau berbicara dengannya.
Fahrul hanya diam mendengarkan. Di satu sisi, dia juga merasa iba. Sama seperti pria itu, Fahrul juga pernah melakukan kesalahan, sakit rasanya ketika mencoba memperbaiki diri namun tak ada yang menganggapnya. Seperti keadaannya sekarang. Sekeras apapun usahanya membuktikan diri untuk memperbaiki kesalahan yang lalu, Surya tetap bergeming.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Fahrul tiba di rumah sakit tempat anak dan istrinya dirawat. Jarak kedua rumah sakit itu memang tidak jauh. Bersama Rahardi, pria itu segera menuju lantai lima. Kedatangan Fahrul disambut dengan wajah masam Surya. Pria itu memilih keluar dari ruangan dan duduk di depan kamar rawat inap.
Maira terkejut begitu Fahrul mengenalkan pria yang datang bersamanya adalah ayah dari Iza. Tak banyak yang dikatakan oleh Rahardi, hanya nasehat dan doa saja. Meminta Maira dan Fahrul lebih bersabar dengan keadaan. Dia juga memotivasi Fahrul untuk tidak menyerah dan terus memperjuangkan pernikahannya.
“Saya keluar dulu.”
Rahardi keluar dari ruangan lalu mendudukkan diri di samping Surya. Tujuan utamanya datang ke rumah sakit memang untuk bertemu Surya. Mendengar permasalahan Fahrul, membuatnya ingin membantu. Semoga Tuhan mau mengampuni dosa-dosanya jika dia berbuat baik. Dan keluarganya bisa menerimanya lagi.
“Perkenalkan, saya Rahardi,” Rahardi mengulurkan tangannya ke arah Surya dan segera dibalas oleh pria itu.
“Saya ayah dari Iza, mertuanya Nick, sahabat Fahrul,” lanjut Rahardi dan Surya hanya menganggukkan kepalanya.
“Kondisi Maira sepertinya sudah baikan.”
“Alhamdulillah,” jawab Surya.
“Anak-anak, walaupun sudah besar tetap membuat orang tua cemas jika sedang sakit. Seperti anak saya, tadi pagi dia baru saja menjalani operasi.”
“Sakit apa?”
Surya yang sedari tadi hanya menanggapi seperlunya saja mulai memperhatikan ketikan Rahardi membahas tentang Iza.
“Anak saya mengalami kecelakaan bebarapa waktu lalu. Matanya cedera dan mengalami kebutaan. Alhamdillah, dia bisa mendapatkan donor mata dan menjalani operasi transplantasi mata.”
“Syukurlah. Apa dia bisa melihat lagi?”
“Masih belum tahu. Besok pagi baru perbannya dibuka.”
“Menantumu itu.. apa dia orang yang baik? Maaf kalau saya lancang bertanya. Bapak bilang, menantumu adalah sahabat menantu saya.”
“Awal bertemu saya tidak menyukainya. Dengan terang-terangan dia mengakui kalau dirinya tidak pernah menjalankan kewajiban sebagai muslim. Saya langsung menilai buruk dirinya. Menganggapnya tidak layak bersanding dengan Iza. Tapi kemudian dia berubah, dia berusaha menjadi orang baik demi bisa bersama Iza. Harusnya saya bangga, Iza bisa membawanya ke jalan yang benar. Tapi saya malah egois dan keras kepala. Saya menentang hubungan mereka.”
Pandangan Rahardi menerawang, mengingat kembali sikapnya dulu. Kemudian pria itu melanjutkan ceritanya. Dengan seksama Surya mendengarkan semua penuturan lelaki di sebelahnya. Pria itu cukup tercengang mendengar apa yang telah dilakukan Rahardi untuk memisahkan anak dan menantunya.
“Puncak dari kesalahan saya adalah ketika saya mendengar anak saya hamil anak Nick. Harusnya saya bahagia, tapi saya malah tetap bersikeras memisahkan mereka. Padahal saya sendiri yang memberikan ijin mereka menikah lewat perantara kakak saya. Nick dan Iza mencoba pergi dari saya. Saya terus mengejar mereka, sampai akhirnya mereka mengalami kecelakaan. Iza keguguran dan kehilangan penglihatannya. Nick juga kehilangan ingatannya, bahkan sampai sekarang ingatannya belum kembali. Istri saya minta bercerai. Namu karena musibah yang saya alami, dia mengurungkan niatnya itu. Entah saya harus bersyukur atau apa atas musibah yang terjadi. Tapi sikapnya tetap dingin, begitu juga dengan kedua anak saya. Karena keegoisan saya, saya kehilangan keluarga dan membuat Iza menderita.”
Rahardi mengakhiri ceritanya. Tangannya menyusut genangan air di sudut matanya. Setiap mengingat kesalahan yang dilakukan, pria itu selalu menangis. Surya terdiam setelah mendengarkan kisah Rahardi. Apa yang terjadi dengan pria itu dulu, juga dialaminya sekarang. Hatinya mulai bertanya-tanya, apakah sikapnya sekarang sudah benar? Memisahkan Fahrul dan Maira adalah keputusan yang tepat?
“Fahrul.. dia sangat mencintai Maira. Saya tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukannya. Tapi memaafkan dan memberinya kesempatan adalah hal yang baik bukan? Maaf kalau saya terkesan menggurui, saya hanya ingin berbagi cerita dan pengalaman. Jangan sampai bapak mengalami apa yang saya alami. Menyesal kemudian tidak ada gunanya.”
Rahardi menepuk pelan pundak Surya. Sambil menekan tongkatnya ke lantai, pria itu berdiri kemudian masuk kembali ke dalam kamar.
“Saya pulang dulu.”
“Biar saya antar,” tawar Fahrul.
“Tidak usah. Saya bisa naik taksi online atau angkot. Jaraknya tidak jauh juga. Kamu di sini saja temani istrimu. Cepat sembuh ya, Mai. Saya harap kamu dan Fahrul bisa datang ke resepsi pernikahan Ridho dan Meta minggu depan.”
“Iya, abi.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rahardi berjalan keluar ruangan. Sebelum pergi, tak lupa dia juga berpamitan pada Surya yang masih termenung di tempatnya tadi. Sepeninggal Rahardi, Surya berdiri kemudian masuk ke kamar rawat Maira. Pria itu hanya berdiri memperhatikan Fahrul dan Maira yang sedang berbicara.
“Mai.. seandainya kita tidak bisa bersama lagi, aa harap kamu akan terus menjalani hidup dengan baik. In Syaa Allah, aa akan terus menjaga kalian walau tidak bisa bersama.”
“Kenapa aa ngomong gitu? Apa abah mengatakan sesuatu pada aa?”
“Ngga.”
“Apa aa mau ninggalin aku sama Nindya?”
“Demi Allah, aku tidak mau meninggalkan kalian. Tapi terkadang apa yang kita inginkan tidak semuanya menjadi kenyataan. Kalau ternyata aa hanya jadi persinggahan sementara dalam hidupmu, aa minta maaf karena sudah memberikan luka terbesar dan terdalam untukmu. Aa hanya ingin melihatmu bahagia, tapi kalau ternyata bahagiamu bukan dengan aa, aa ikhlas. Mungkin di luar sana, ada pria yang lebih baik dari aa untukmu.”
Mata Maira mulai berkaca-kaca. Walau Fahrul tak mengatakannya, namun dia tahu pasti abahnya yang ada di belakang tindakan suaminya saat ini. Pantas saja sejak kemarin wajah Fahrul selalu terlihat muram. Walau dia mencoba tersenyum, namun kesedihan jelas tergambar di kedua matanya.
“Iya.. aa memang sudah melakukan kesalahan padaku. Aa sudah memberikan luka terbesar dan terdalam untukku. Karenanya aa harus bertanggung jawab, aa harus menutup dan menyembuhkan luka yang sudah aa beri. Aa harus bisa mengganti kesedihanku dulu dengan kebahagiaan. Aa harus menebus semua kesalahan dengan tetap bersamaku dan Nindya. Dia membutuhkan aa, begitu juga aku.”
Tangis Maira pecah, Fahrul berpindah duduk di atas bed lalu memeluk istrinya itu. Dia sendiri tak bisa menahan tangisnya. Airmatanya mengalir seiring dengan isakan Maira yang terasa nyeri di hatinya. Surya memilih keluar, dia kembali mendudukkan diri di kursi depan kamar inap Maira.
Pria itu masih duduk di sana sampai akhirnya Fahrul keluar lima belas menit kemudian. Melihat metuanya duduk sendirian, Fahrul menghampiri kemudian duduk di sebalahnya. Untuk sesaat suasana hening masih melingkupi keduanya. Sampai akhirnya Fahrul memutuskan untuk bicara lebih dulu.
“Abah.. kata dokter, kalau kondisi Mai sudah baikan, lusa dia sudah boleh pulang. Besok juga Nindya sudah bisa dipindahkan ke ruangan Mai. Boleh aku minta waktu tambahan? Kalau abah mengijinkan, aku ingin bersama dengan Nindya lebih lama lagi. Tolong ijinkan seminggu lagi, aku bersama dengan Mai dan Nindya. Setelah itu, aku akan melakukan apa yang abah inginkan.”
“Untuk apa kamu melakukan itu?”
“Aku mohon abah. Beri aku sedikit waktu lagi. Aku janji akan melepaskan Mai setelahnya.”
“Untuk apa kamu melepaskan Mai? Abah sadar, Mai membutuhkanmu, juga Nindya. Kalau kamu benar menyesal, lakukan seperti apa yang diminta Mai tadi. Kamu harus menyembuhkan lukanya, menebus semua kesalahan yang kamu lakukan dan membahagiakannya.”
“Abah..”
“Maafkan abah kalau sudah bersikap kejam padamu. Kamu memang salah, tapi sikap abah juga salah. Mari kita perbaiki kesalahan ini bersama.”
“Terima kasih abah.. terima kasih.”
Fahrul tak dapat menahan keharuannya mendengar ucapan ayah mertuanya. Hatinya tak henti mengucap syukur, kesabarannya akhirnya membuahkan hasil. Hati Surya melunak dan mau memaafkannya. Diraihnya tangan Surya lalu mencium punggung tangan pria itu dengan takzim. Surya menarik Fahrul ke dalam pelukannya. Untuk sesaat menantu dan mertua ini berpelukan, saling melepaskan penyesalan satu sama lain.
“Abah percayakan Mai padamu. Bahagiakanlah dia,” ujar Surya seraya menepuk pelan rahang Fahrul setelah pelukannya terurai.
“In Syaa Allah, abah.”
“Tapi abah minta sesuatu padamu.”
“Apa itu abah?”
“Berikan abah cucu yang banyak, ya. Jangan cuma satu,” Surya terkekeh setelahnya.
“Siap abah. Tapi aku tanya Mai dulu, sanggupnya berapa.”
Terdengar tawa kedua pria itu. Surya merangkul bahu Fahrul seraya menepuknya pelan. Reni dan Asti yang baru saja tiba, terkejut melihat interaksi kedua pria tersebut. Mereka tampak akrab dan berbicara santai. Darmono yang menyusul di belakang mereka tak kalah terkejutnya. Senyumnya terbit melihat sahabat sekaligus besannya sudah bisa memaafkan anaknya. Bergegas dia menghampiri dan disambut hangat oleh keduanya.
🍂🍂🍂
Jam sembilan pagi, semua yang berkepentingan sudah berkumpul di ruang rawat Iza. Mereka menunggu dokter Rega yang sebentar lagi akan membuka perban mata Iza. Nick terus berada di samping sang istri yang nampak tegang dan cemas. Ketegangan juga nampak di wajah Rahardi, Mina, Diah dan Bryan. Ridho tetap berusaha tenang, dalam hatinya terus berdoa semoga sang adik bisa melihat kembali.
Semua yang ada di ruangan langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Dokter Rega masuk beserta seorang suster yang membawa beberapa peralatan. Dengan senyum ramahnya, dokter muda itu menyapa semua orang.
“Selamat pagi semuanya.”
“Pagi dok.”
“Noor.. apa sudah siap?”
“Siap dok.”
“Suster Ida, silahkan.”
Dokter Rega memilih keluar dari kamar dan menunggu di ruangan depan. Untuk melepas perban, Iza harus membuka hijabnya lebih dulu, oleh karenanya dia meminta sang suster yang melakukannya. Rahardi dan Bryan juga memilih keluar, mereka berbincang dengan dokter Iza tentang operasi Iza.
Suster Ida membuka hijab yang dikenakan Iza. Kemudian dengan perlahan, perawat wanita itu membuka perban yang menutupi mata Iza. Sang suster meminta Iza tetap menutup matanya, menunggu instruksi dokter Rega. Setelah memakaikan kembali hijab Iza, suster Ida memanggil dokter Rega. Bersama dengan Rahardi dan Bryan, dokter tersebut masuk ke dalam kamar.
“Noor.. sekarang buka matamu perlahan.”
Pelan-pelan Iza membuka matanya. Awalnya semua masih nampak putih, namun perlahan dia mulai bisa melihat sekitar walau pandangannya masih buram. Dokter terus memberikan instruksi, memandu Iza agar bisa menyesuaikan sinar yang memasuki matanya. Perlahan penglihatan sedikit jelas.
“Noor.. coba kamu ikuti cahaya ini,” dokter Rega menggerak-gerakkan senter kecil di tangannya ke kiri dan kanan. Mata Iza mengikuti pergerakan senter yang diarahkan ke matanya.
“Sekarang, coba kamu lihat ini. Apa kamu tahu apa huruf ini?” dokter Rega membawa beberapa kertas di tangannya dan meminta Iza menyebutkan huruf yang tertera. Iza bisa menjawab semuanya dengan benar.
“Sekarang coba tutup mata kananmu dengan tangan. Coba lihat objek ini dengan sebelah mata. Katakan apa yang kamu lihat?”
“Gambar anak sedang menulis.”
“Gambar wanita sedang makan.”
“Alhamdulillah, kamu sudah bisa melihat kembali.”
“Tapi pandangan saya masih sedikit buram, dok.”
“Itu hal wajar. Kamu harus rajin meminum obat dan memakai obat tetes mata. Nanti pandanganmu sedikit demi sedikit akan jelas. Jangan mengusak matamu, jangan memaksakan matamu untuk melihat sesuatu, ok.”
“Iya, dok.”
Iza kemudian menoleh ke arah Nick yang tetap setia berada di sampingnya. Senyumnya mengembang melihat wajah suaminya lagi, tangan Iza bergerak mengusap rahang Nick yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Mas..”
“Iya, sayang. Ini aku, wajahku masih sama kan? Ngga berubah jadi dakocan?”
Iza tertawa kecil mendengar kelakaran suaminya. Kemudian dia melihat pada Mina dan Diah. Dua wanita yang selalu mendampinginya di saat susah dan senang.
“Ummi.. mommy..”
“Alhamdulillah, anak ummi sudah bisa melihat lagi,” Mina mendekat dan menciumi wajah Iza. Airmatanya mengalir karena terharu. Begitu pula dengan Diah, sambil mengusap buliran bening di pipinya, wanita itu mendekat lalu memeluk Iza.
“Abang mana?”
“Ini abang, Zi.”
Ridho yang terhalang oleh dokter Rega segera mendekat. Dipeluknya adik tersayangnya ini seraya mendaratkan ciuman di keningnya. Di belakangnya menyusul Meta, sahabat sekaligus kakak ipar yang begitu menyayanginya. Untuk beberapa saat kedua wanita berpelukan cukup lama.
“Itu pasti daddy,” Iza menunjuk ke arah Bryan dan pria bersahaja itu mendekat lalu mengusap puncak kepala Iza.
Pandangan Iza kemudian tertuju pada Rahardi. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya hanya pandangan saja tak terputus. Rahardi menundukkan kepalanya, airmatanya jatuh ketika kepala pria itu menghadap ke bawah. Selanjutnya Iza melihat ke arah dokter Rega. Sesuai dugaannya, dokter Rega memang masih muda dan tampan.
“Dokter Rega.. terima kasih.”
“Sama-sama, Noor.”
Dokter tampan itu melemparkan senyuman pada Iza. Walau dirinya tak bisa mendapatkan Iza, tapi melihat wanita itu kembali mendapatkan cahaya di matanya sudah membuatnya bahagia.
“Kapan Iza boleh pulang, dok?” tanya Diah.
“Kalau tidak ada masalah dengan matanya, besok sudah boleh pulang. Tapi harus kontrol selama seminggu sekali selama dua bulan. Setelah itu kontrol sebulan sekali selama enam bulan. Jika baik, bisa kontrol setahun sekali untuk mengecek kondisi mata.”
“Iya, dok.”
“Selama masa pemulihan, selama seminggu usahakan untuk lebih banyak berbaring. Jangan melakukan aktivitas yang berat, tidak boleh mengangkat yang berat, makan yang bergizi, minum obatnya sampai habis, menjaga kesehatan mata, jangan lupa dengan obat tetesnya. Hindari cahaya yang menyilaukan ya.”
“Iya, dok.”
“Kalau olahraga boleh dok?” tanya Nick.
“Sebaiknya jangan dulu. Hindari aktivitas fisik yang berlebih selama masa pemulihan.”
“Tapi olahraga ranjang boleh kan, dok?”
“Mas.. iihh…”
Iza mencubit lengan suaminya yang berbicara tanpa saringan. Wajahnya langsung memerah mendengar ucapan sang suami. Dokter Rega hanya tersenyum saja. Diah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya.
“Silahkan kalau itu.”
“Nah.. boleh, Yang,” Nick kembali menggoda Iza, hingga pipinya semakin memerah.
“Saya permisi dulu. Jika ada keluhan silahkan sampaikan pada suster Ida, nanti saya akan langsung memeriksa.”
“Terima kasih, dok.”
Dokter Rega menjawab dengan senyuman disertai anggukan. Bersama dengan suster Ida, dia meninggalkan kamar rawat inap tersebut. Nick mendudukkan diri di sisi ranjang, tangannya memeluk bahu Iza lalu mencium pipinya.
“Nick.. Iza.. mommy dan daddy pergi dulu, ya. Kami harus membereskan rumah, besok kan kamu sudah boleh pulang,” tutur Diah.
“Iya, mommy.”
“Ummi.. kayanya kita juga pulang aja. Nih mantu ummi yang satu kayanya pengen berduaan aja sama istrinya,” seru Ridho.
“Abang iihh..”
“Ya udah ummi juga pulang dulu. Nick jagain Iza, ya.”
“Iya ummi.”
“Abang juga pulang ya,” Ridho mengusak puncak kepala Iza. Meta bercipika cipiki dengan Iza sebelum ikut keluar bersama suaminya. Nick menarik kursi di dekatnya lalu mendudukkan diri. Dia mengambil jeruk yang ada di atas nakas kemudian mengupas dan menyuapkannya pada Iza.
Rahardi yang memang sudah keluar ruangan lebih dulu, duduk di kursi yang ada di depan kamar rawat inap. Mina yang keluar bersama Ridho dan Meta menghampiri suaminya itu. Rahardi masih menundukkan kepalanya. Dia masih terlalu malu bersitatap dengan anak dan istrinya.
“Ummi ikut pulang ke rumah kan?” tanya Meta.
“Ummi di sini saja,” Rahardi mengangkat kepalanya begitu mendengar jawaban sang istri.
“Kamu ikut pulang saja dengan Ridho dan Meta. Kamu belum pernah berkunjung ke rumahnya,” ujar Rahardi.
“Abi juga ikut. Apa abi ngga mau berkunjung ke rumahku?”
Mata Rahardi berkaca-kaca mendengar ucapan Ridho. Ini pertama kalinya sang putra mau berbicara lagi dengannya sejak kecelakaan yang menimpa Iza. Pria itu berdiri lalu mendekat padanya.
“Maafkan abi, Dho. Maafkan abi.”
“Maafkan aku juga, abi. Maaf kalau aku sudah berkata dan bersikap kasar pada abi.”
“Abi ikhlas, nak. Ikhlas.”
Rahardi memeluk tubuh putra sulungnya itu. Airmata kembali menetes dari kedua matanya. Kebahagiaan yang dirasakan saat ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di tengah keharuan, Nick keluar dari kamar.
“Abi.. Iza mau bertemu.”
Pria itu mengurai pelukannya, lalu mengikuti Nick masuk ke dalam kamar. dengan langkah pelan, dia mendekati bed Iza. Mata Iza sudah berkaca-kaca melihat ayahnya mendekat.
“Abi..”
“Zi.. maafkan abi, nak. Maaf karena sudah membuatmu menderita.”
“Abi.. apa abi merestui pernikahanku dengan Nick?”
“Iya nak. Abi merestui kalian. Abi doakan kalian bahagia dan dikaruniai anak-anak yang solehah.”
“Terima kasih, abi.”
Rahardi memeluk Iza dan Nick bergantian. Pria itu sudah menyesali semua perbuatannya. Dia berjanji akan menjadi orang tua yang lebih baik lagi untuk anak dan menantunya. Tangannya mengusap airmata yang membasahi wajah anaknya.
“Jangan menangis, Zi.. kamu baru dioperasi, nanti matamu sakit lagi. Mulai sekarang, abi hanya ingin melihatmu tersenyum.”
Tangan Iza memeluk pinggang Rahardi. Keharuan menyeruak dalam hatinya, mendengar abinya berbicara selembut itu padanya. Nick yang juga terharu, mengusap airmatanya yang mengalir sambil memperhatikan istri dan mertuanya yang masih berpelukan.
🍂🍂🍂
Pingiran kota Rio de Janeiro
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di sebuah jalan sempit yang minim penerangan. Seorang pria turun dari dalamnya. Sejenak dia memperhatikan keadaan sekitar yang nampak sepi. Hanya ada beberapa wanita penjaja s**s saja yang mangkal di jalan ini. Pria itu kemudian memasuki sebuah klub malam yang ada di sana.
Suasana di dalam klub berbanding terbalik dengan keadaan di luar. Hingar bingar musik langsung menyapa indra pendengaran pria itu. Beberapa aktivitas pengunjung langsung tertangkap oleh matanya. Ada yang tengah menari mengikuti irama DJ, ada yang tengah berpesta minuman, ada pula yang sedang mengkonsumsi nark*ba.
Seorang pria bertubuh kekar menghampiri, kemudian membawa pria itu masuk ke bagian dalam bar. Pria itu tersebut mempersilahkan tamunya untuk menuruni tangga yang ada di sana. Dengan tenang sang tamu turun menuju ruang basement di sana. Nampak seorang pria yang usianya lebih tua darinya tengah duduk menanti kedatangannya.
Di sampingnya berdiri pengawalnya dan di belakangnya pengawal yang lain berdiri sambil menodongkan pistol ke pria yang menjadi sanderanya. Dengan tenang tamu itu menarik kursi lalu mendudukinya.
“Halo.. Edo.”
“Joseph..”
“Punya nyali juga kamu datang sendiri.”
“Bebaskan anak buahku.”
“Dia pasti anak buah kesayanganmu, sampai kamu rela datang sendiri untuk membebaskannya.”
“Bebaskan dia.”
“Ada harga yang harus kamu bayar.”
“Katakan.”
“Nyawamu,” pria bernama Joseph itu menodongkan pistol ke arah Edo.
🍂🍂🍂
Bersambung yak🏃🏃🏃