The Nick's Life

The Nick's Life
Cinta Lama Belum Kelar



“Aku tinggal dulu, uncle.”


Topan keluar dari ruangan meninggalkan kedua orang yang masih saja terpaku di tempatnya masing-masing. Bryan tak menyangka dapat bertemu secara langsung dengan Diah. Dua puluh tahun berlalu tetap tak bisa menghapus rasa cinta di hatinya untuk wanita itu.


Bryan memalingkan wajahnya ke arah lain seraya mengucapkan istighfar. Pria itu sadar telah menatap wajah wanita yang bukan muhrimnya terlalu lama. Dia lalu mempersilahkan Diah untuk duduk. Diah berjalan menuju sofa lalu mendudukkan diri di sana. Dirinya masih berusaha mengikis kegugupan yang mendera.


“Bagaimana kabarmu?” Bryan membuka percakapan.


“Baik.”


“Nick?”


“Dia juga baik. Nick sudah menikah dan sekarang istrinya sedang hamil.”


“Benarkah? Alhamdulillah. Aku senantiasa mendoakan dirimu juga Nick. Aku bersyukur doaku dikabulkan.”


Diah tersenyum tipis. Suasana hening kembali melanda keduanya. Diah membuka tasnya lalu mengambil ponsel dari dalamnya. Jarinya mengusap layar ponsel lalu membuka folder galeri. Dia mengetuk sebuah foto Nick bersama dengan Iza lalu menunjukkannya pada Bryan.


“Ini Nick dengan istrinya. Namanya Iza.”


“Cantik. Nick pintar memilih istri.”


“Iya. Selain cantik, dia juga perempuan solehah. Karenanya Nick bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.”


“Benarkah? Bisa kamu ceritakan tentang anak kita lebih banyak?”


Bryan mengusap wajah Nick yang terpampang di layar ponsel. Hati Diah bergetar saat Bryan menyebut kata anak kita. Mata Bryan terus memandangi foto Nick. Kerinduan yang begitu dalam nampak dari kedua bola matanya.


“Aku mohon Diah, ceritakan tentang Nick. Bagaimana dia akhirnya bisa menikah dengan Iza?”


Masih belum ada jawaban dari Diah. Wanita nampak menarik nafas dalam-dalam. Bukan hal mudah baginya menceritakan perihal perjalanan hidup Nick. Dibalik kebahagiaan yang dirasakan sang anak, ada kesedihan yang masih mengganjal. Dan sepak terjangnyalah yang menghambat kebahagian sang anak.


Bryan dengan seksama mendengar cerita dari mulut Diah. Bagaimana hidup Nick yang awalnya tak tentu arah, berangsur berubah ke arah yang lebih baik setelah bertemu Iza. Nick kembali mendalami ilmu agama demi bisa bersanding dengan sang pujaan hati. Wanita itu juga menuturkan bagaimana penolakan Rahardi pada sang anak yang akhirnya membuat kedua sejoli itu memutuskan untuk menikah secara sirri.


Mata Bryan berkaca-kaca mendengar kisah anak sambungnya. Dia menyusut genangan air di sudut matanya. Seandainya saja dirinya waktu itu mengabulkan keinginan Diah untuk tetap bersama wanita itu, mungkin Nick tidak harus menapaki jalan terjal untuk bisa bersama kekasih hatinya.


“Semua salahku. Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Aku bukanlah ibu yang bisa dibanggakan olehnya. Keberadaanku justru menjadi penghalang untuknya meraih kebahagiaan.”


“Jangan bicara seperti itu. Kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai ibunya,” Bryan menyodorkan tisu ke arah Diah.


“Terbaik? Menjadi wanita simpanan dan membuat anakku malu karenanya kamu bilang itu yang terbaik?” Diah menyusut airmatanya.


“Itu memang bukan perbuatan yang baik. Tapi kamu sudah bertobat bukan? Kamu sudah meninggalkan masa lalu yang kelam demi anakmu. Aku yakin, Nick bangga akan hal itu. Terima kasih sudah merawat Nick dengan baik. Hal yang tidak bisa kulakukan untuknya.”


“Dia anakku, sudah seharusnya aku melakukan hal itu. Nick bukan tanggung jawabmu, tapi tanggung jawabku.”


“Sejak kita menikah, aku sudah menganggap Nick sebagai anakku sendiri. Bahkan setelah kita berpisah, Nick tetap anakku, sampai kapan pun.”


Diah semakin terisak mendengar penuturan pria di hadapannya. Seandainya waktu bisa diputar, dia tidak akan melepaskan lelaki sebaik ini dari hidupnya. Walau tak mewariskan setetes darah pun pada Nick, namun Bryan benar-benar tulus menyayangi anaknya.


“Bagaimana dengan dirimu? Kenapa kamu kembali ke Indonesia? Bagaimana dengan Angela?”


“Aku pikir setelah kembali ke Chicago aku akan baik-baik saja, tapi nyatanya tidak. Setiap hari aku merindukan kalian. Hidupku terasa hampa tanpa kehadiran kalian. Hubunganku dengan Angela semakin hambar seiring berjalannya waktu. Dua tahun berlalu, aku baru tahu kalau selama kami berjauhan, Angela juga menjalin hubungan dengan lelaki lain. Aku tidak bisa menyalahkannya karena aku pun melakukan hal yang sama. Akhirnya demi kebahagiaan bersama, kami memutuskan untuk bercerai.”


Diah menundukkan kepalanya. Segala penyesalan bertubi-tubi menyerangnya. Kata seandainya terus berputar di kepalanya. Seandainya dia mau mengikuti Bryan saat itu. Seandainya dia mau menunggu. Seandainya dia tak memilih jalan salah untuk bertahan hidup. Lamunan Diah terhenti ketika mendengar kalimat-kalimat Bryan selanjutnya.


“Setelah bercerai, aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku menjual semua asetku dan mengajukan visa bekerja lagi di Indonesia. Harapanku begitu besar agar bisa bersamamu lagi. Tapi ketika aku kembali, ternyata kamu sudah menikah dengan seorang ustadz. Tak ingin mengganggu kebahagiaanmu, aku memutuskan untuk mundur. Aku kemudian ikut temanku pergi ke Kalimantan untuk membantunya mengurus perkebunan kelapa sawit.


Tiga tahun aku tinggal di sana kemudian memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Aku terkejut saat mendengar suamimu meninggal. Aku sangat ingin menemuimu juga Nick, tapi aku tak berani karena keadaanku tak memungkinkan saat itu. Temanku mengalami musibah, hasil panennya gagal, dia ditipu temannya dan harus membayar hutang ke bank. Demi teman, aku memberikan sebagian uang yang kupunya untuk membantunya. Hampir setahun aku hidup berpindah-pindah tempat dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.”


“Tapi kamu selalu mengirimkan uang untuk biaya sekolah Nick.”


“Uang yang kukirimkan untuk Nick adalah sisa uang yang kumiliki dari bekerja di perkebunan. Aku tidak berani memakainya karena takut tak bisa mengirimkan uang untukmu juga Nick. Apalagi saat itu kamu sudah menjadi janda. Aku tidak mau Nick putus sekolah hanya karena biaya.”


“Bryan...”


Diah tak bisa melanjutkan kata-katanya, tangisnya pecah begitu saja mendengar cerita pria itu. Dia rela hidup susah demi bisa terus membiayai Nick. Bryan memandangi Diah yang masih menangis. Seandainya bisa, dia ingin merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Namun sayang, kini Diah bukan istrinya lagi dan dirinya sudah tak berhak menyentuhnya lagi.


🍂🍂🍂


Sudah hampir satu jam Topan menunggu Diah. Pria itu baru saja pulang setelah berkeliling kebun, melihat para pekerja yang tengah memanen sayuran. Tahu kalau Diah dan Bryan belum selesai berbicara, Topan memilih menunggu di teras sambil menikmati semilir angin. Baru saja dirinya hendak memejamkan mata ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


Bryan dan Diah keluar dari kantor begitu Topan selesai berbicara dengan ponselnya. Sejenak dia melihat ke arah Diah. Mata wanita itu tampak memerah dan sedikit bengkak. Topan menghampiri Diah.


“Mom.. urusannya sudah selesai?”


“Kenapa Pan?”


“Mendadak aku ada urusan mom. Tapi kalau mommy belum selesai, aku bisa nunggu kok.”


“Kamu pergi saja. Nanti biar saya yang mengantar Diah pulang,” sahut Bryan.


“Beneran mom?”


“Iya, kamu pulang aja. Soal pembayaran nanti mommy transfer.”


“Ok mom. Uncle.. aku pulang dulu.”


Bryan menganggukkan kepalanya. Topan bergegas menuju mobilnya. Dia harus secepatnya pulang ke Jakarta. Salah satu anak buahnya mengabarkan kalau bar tempatnya bekerja sebagai tim keamanan baru saja terbakar. Topan membunyikan klakson sebelum melajukan kendaraan.


“Kamu mau berkeliling kebun? Aku mau mengecek beberapa hal di sana.”


“Boleh.”


Diah mengikuti langkah Bryan menyusuri jalan setapak yang dipasangi paving block. Tak lama keduanya sampai di perkebunan milik Bryan. Mata Diah memandangi beberapa pekerja yang tengah memanen hasil kebun. Ada mentimun, wortel, kentang, brokoli, kembang kol, tomat dan cabai merah serta rawit merah.


Bryan berjongkok memeriksa wortel yang baru saja dipanen yang dikumpulkan di dalam keranjang bambu. Kemudian dia juga memeriksa hasil panen tanaman lain. Diah terus mengikuti kemana langkah Bryan pergi. Diam-diam Diah berharap dirinya bisa kembali bersama Bryan. Namun segera ditepis angan muluknya itu. Dirinya yang bersimbah lumpur tak pantas rasanya bersanding dengan Bryan.


“Sekarang kamu mau kemana?” tanya Bryan membuyarkan lamunan Diah.


“Pekerjaanmu sudah selesai?”


“Sudah. Nanti sisanya biar pak Tatang yang mengurusnya. Kamu mau kemana?”


“Ngga tahu.”


“Bagaimana kalau ke tempatku? Jaraknya ngga terlalu jauh. Ayo.”


Diah menuruti keinginan pria itu. Dia juga tak ingin kebersamaannya dengan Bryan berakhir dengan cepat. Bryan membukakan pintu mobil untuk Diah kemudian dirinya menyusul naik ke belakang kemudi.


Seperti yang dikatakannya tadi, jarak tempat yang dituju memang tidak terlalu jauh. Dalam waktu sepuluh menit, mereka telah sampai. Diah turun dari mobil, matanya terus memandangi bangunan bercat putih di depannya.


“Ini rumahmu?”


“Vila lebih tepatnya. Sebenarnya aku punya rumah di Bandung. Tapi aku lebih sering menghabiskan waktu di sini. Bagaimana kalau malam ini kamu menginap di sini. sepertinya masih banyak hal yang harus kita bicarakan.”


“Tenang saja, aku tidak tinggal sendiri. Aku tinggal bersama sepasang suami istri yang bertugas menjaga dan mengurus vilaku.”


Diah tersenyum lega, dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Tapi kemudian langkahnya terhenti sebelum kakinya memasuki bagian dalam vila. Bryan pun ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


“Aku ngga bawa baju ganti.”


“Itu gampang. Nanti aku bisa minta bu Ratna membeli kebutuhanmu di pasar dekat sini. Kalau pakaian untukmu sebenarnya aku ada, masih baru karena ngga mungkin aku memakainya,” Bryan tertawa kecil.


Pria itu kemudian mengajak Diah masuk. Dipanggilnya Ratna beserta suaminya, Aep. Tak lama sepasang suami istri yang usianya masih di angka tiga puluhan datang menghadap. Ratna cukup terkejut melihat Diah. Sebagai pengurus vila, dia bertugas membersihkan semua ruangan di vila ini termasuk kamar Bryan. Di sana terpajang foto Diah berukuran cukup besar.


“Aep, Ratna.. kenalkan ini bu Diah.”


Aep dan Ratna menyalami Diah bergantian. Diah cukup risih karena Ratna terus memandangi wajahnya. Dia sampai meraba wajahnya takut ada yang salah dengannya.


“Apa kamu sudah masak?” tanya Bryan pada Ratna.


“Belum pak.”


“Kalau begitu tolong masakan untuk tamu saya ya.”


“Hmm.. sebentar. Bagaimana kalau aku yang masak? Kamu ngga keberatan kan?”


“Tentu saja. Ratna tolong bantu bu Diah ya. Nanti selesai masak, tolong ke pasar untuk membelikan beberapa keperluan pribadi bu Diah.”


“Baik pak. Mari bu.”


Ratna mengajak Diah menuju dapur. Bryan terus memandangi wanita yang masih dicintainya itu sampai menghilang di balik dinding. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar. Pria itu bermaksud membersihkan dirinya. Entah mengapa, dia ingin terlihat rapih dan wangi di hadapan wanita itu.


Sementara itu di dapur, Diah langsung berkutat dengan bahan serta alat-alat memasak. Ratna tercengang melihat cara memasak Diah yang sudah seperti chef profesional saja. Tak banyak yang bisa dilakukannya, karena hampir semua pekerjaan dilakukan oleh Diah.


“Ibu itu chef ya?”


“Saya? Hahaha.. bisa aja kamu. Saya ini cuma ibu rumah tangga biasa aja.”


“Ibu pasti teman dekatnya bapak ya.”


“Kok kamu nebaknya gitu.”


“Soalnya ada foto ibu dipajang di kamar bapak.”


“Masa?”


“Iya bu. Sebesar ini.”


Ratna menggerakkan tangannya membentuk kotak untuk menggambarkan besarnya figura yang dimaksud. Diam-diam Diah mengulum senyum, mungkinkah masih ada cinta untuknya di hati Bryan.


“Ini tinggal masak aja. Biar saya yang kerjakan. Kalau boleh saya minta tolong belikan beberapa barang untuk saya.”


“Boleh bu. Ibu mau beli apa aja?”


Diah mengambil kertas serta pulpen dari dalam tasnya kemudian mencatat barang yang hendak dibelinya. Tak banyak hanya sikat gigi beberapa pakaian dalam dan tentu saja pakaian kebesarannya, daster. Tak lupa dia menuliskan ukurannya. Diah memberikan kertas tersebut lalu mengambil dompetnya.


“Ini uangnya.”


“Ngga usah bu. Setiap bulan, pak Bryan selalu memberi uang untuk membeli semua kebutuhan vila. Kebetulan uangnya masih sisa banyak. Biar saya pakai uang itu saja. Saya permisi bu.”


Ratna bergegas pergi untuk membelikan pesanan teman majikannya. Diah memasukkan kembali uang ke dalam dompet. Kemudian dia mulai memasak semua bahan yang sudah disiapkannya.


Diah memandang puas masakan yang telah dibuatnya. Semua makanan telah diletakkan di atas meja makan. Bryan datang menghampiri Diah dengan paper bag di tangannya. Senyumnya mengembang melihat makanan yang tersaji di meja adalah kesukaannya.


“Kamu masih ingat makanan kesukaanku?”


“Hmm.. aku harap kamu masih menyukainya.”


“Tentu saja. Apalagi kalau kamu yang membuatnya.”


“Aku mau mandi dulu ya.”


“Ratna sudah membelikan keperluanmu?”


“Sudah.”


“Ini pakaian untukmu. Mudah-mudahan kamu suka.”


Bryan menyodorkan paper bag di tangannya. diah mengambil paper bag dari tangan Bryan kemudian masuk ke kamar tamu yang telah disiapkan Ratna. Wanita itu meletakkan paper bag di atas kasur sedang dirinya langsung menuju kamar mandi.


Usai mandi Diah mengambil bungkusan berisi pesanannya. Tiga pasang pakaian dalam dan dua daster tangan panjang dibelikan Ratna untuknya. Dengan cepat Diah memakai pakaiannya. Kemudian matanya tertuju pada paper bag yang tergeletak di atas kasur. Diraihnya tas kertas tersebut lalu mengeluarkan isinya.


Diah tercenung melihat sebuah pakaian muslim dengan model kaftan berwarna biru terang lengkap dengan hijab instan dengan warna senada. Untuk sesaat dia membolak-balik pakaian tersebut. Nick juga sudah membelikan beberapa pakaian muslim untuknya, namun hati wanita itu belum tergerak untuk menutup auratnya.


Lamunan Diah buyar saat mendengar ketukan di pintu disusul suara Ratna yang memanggilnya untuk makan malam. Setelah memastikan penampilannya sudah cukup rapih, Diah keluar dari kamar. Di ruang makan nampak Bryan sudah menunggunya. Untuk sejenak Bryan terpaku melihat Diah yang tetap terlihat cantik walau dalam balutan daster sederhana.


Tak ada pembicaraan selama makan malam berlangsung. Keduanya dengan tenang menikmati makan malam. Lebih tepatnya kecanggungan dan kegugupan meliputi keduanya. Mereka seperti terlempar ke masa lalu saat keduanya membina biduk rumah tangga.


Selesai makan malam, Bryan mengajak Diah ke teras. Ada hal yang ingin dibicarakan oleh pria itu, demikian juga dengan Diah. Mereka lalu mendudukkan diri di kursi yang terbuat dari rotan. Untuk sesaat kesunyian masih meliputi keduanya sampai akhirnya suara Diah memecah kebisuan.


“Kamu kamu mau bertemu dengan Nick?”


“Apa boleh?”


“Tentu saja. Bagi Nick, dulu atau sekarang kamu adalah daddy-nya. Pastinya dia akan senang kalau bertemu denganmu. Dia selalu menanyakan dirimu, tapi aku selalu menghindar.”


“Kenapa? Apa kamu membenciku?”


“Bukan.. bukan itu. Aku hanya.. takut membicarakan dirimu. Aku takut tak bisa melupakanmu.”


“Apa kamu masih mencintaiku?”


Pertanyaan Bryan seperti anak panah yang menghujam jantungnya. Lidah Diah langsung terasa kelu. Jantungnya juga berdetak semakin kencang saja. Apalagi ketika Bryan menatapnya dalam.


“Aku.. masih mencintaimu, Diah. Setiap hari aku bukan hanya mendoakan kebaikan untukmu dan Nick. Tapi aku juga berdoa supaya kita bisa bersama suatu saat nanti. Maukah kamu menikah denganku lagi?”


🍂🍂🍂


**Beuh daddy Bryan to the point yeee..


Ayo kira² mommy jawab apa???


Nih penampakan daddy Bryan versi ogut**