The Nick's Life

The Nick's Life
Hubungan Halal



Nick meminta Iza tetap bersamanya. Wanita itu tetap bertahan di tempat duduknya, sementara Nick melayani pengunjung yang mulai berdatangan di kedainya. Pria itu bersemangat membuatkan kopi pesanan sambil memandangi wajah cantik Iza.


Dari tempatnya duduk, Diah terus memandangi anaknya yang wajahnya tampak lebih bahagia. Senyum juga tak hilang dari wajahnya. Begtu pula dengan Bryan dan Edo. Kedua pria itu juga merasa senang dengan perubahan yang terjadi pada Nick.


Di tengah keasikannya memperhatikan Nick, Edo dikejutkan dengan deringan ponselnya. Melihat nama Rico yang tertera di layar ponsel, Edo berdiri kemudian melangkah keluar kedai. Untuk beberapa saat, pria itu berbicara dengan Rico. Tak lama kemudian dia mengakhiri panggilannya dan kembali ke tempatnya.


“Tadi Rico mengabarkan, kalau donor mata sudah siap untuk Iza.”


“Alahmdulillah,” seru Diah dan Bryan bersamaan.


“Aku perlu bicara dengan walinya Iza. Apa orang tuanya berada di Jakarta?”


“Kamu bicara saja pada kakaknya, Ridho. Sekarang dia yang bertanggung jawab atas Iza. Sebentar.”


Diah berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ridho dan memintanya ikut dengannya. Ridho bersama Meta beranjak dari duduknya lalu mengikuti Diah. Wanita itu memperkenalkan Ridho dan Meta pada Edo.


“Dho.. Edo ini adalah ayah biologis Nick. Dan dia sudah berhasil mendapatkan donor mata untuk Iza,” terang Diah.


“Benarkah? Alhamdulillah, terima kasih pak.”


“Prosedur pengangkatan mata dari pendonor sudah dilakukan dan akan langsung diberikan pada dokter Rega. Dia akan memeriksa apakah cocok untuk Iza.”


“Alhamdulillah. Ya Allah Iza, akhirnya bisa melihat lagi,” seru Meta bahagia.


“Mudah-mudahan donornya cocok kali ini.”


“Terima kasih sekali lagi pak.”


Ridho melihat ke arah Meta seraya menggenggam tangan istrinya itu. Sungguh kebahagiaan yang dirasakannya sekarang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Pertemuan Nick dengan Iza yang berjalan lancar dan berita soal donor mata untuk sang adik seperti jawaban atas doa-doanya selama ini. Dan juga buah kesabaran Iza tentunya.


“Sayang.. tolong cek sisa tabungan kita ada berapa. Aku harus mencari kekurangannya untuk biaya operasi Iza,” ujar Ridho dengan suara pelan namun bisa didengar oleh yang lain.


“Kamu tidak perlu memikirkan tentang biayanya, biar daddy yang tanggung semua,” seru Bryan.


“Tidak.. tidak.. biar aku yang menanggung biayanya,” sela Edo.


“Jangan.. terima kasih untuk tawarannya, tapi Iza adalah adikku. Dia tanggung jawabku,” jawab Ridho sungkan.


“Iza adalah menantuku. Biar aku yang menanggung biayanya. Tolong Bryan, sekali ini biarkan aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang ayah. Kamu sudah membiayai hidupnya dan sekolahnya. Dan sekarang, tolong berikan aku kesempatan,” mohon Edo.


“Baiklah. Ridho, daddy harap kamu juga tidak menolak niat baik papai Edo.”


“Baiklah. Terima kasih sebelumnya. Aku banyak berhutang budi padamu, pak.”


“Tidak ada yang namanya hutang budi dalam hubungan keluarga. Nick anakku dan Iza menantuku. Sudah kewajibanku melakukan ini semua. Dan kalau kamu berkenan, tolong panggil aku papai. Sama artinya seperti kamu memanggil Bryan, daddy.”


“Terima kasih sekali lagi, papai.”


Edo menyunggingkan senyumnya. Kemudian pria itu pamit pergi karena masih ada yang harus diselesaikannya. Seperginya Edo, satu per satu sahabat Nick pun pamit. Denis harus kembali ke Jakarta, karena Azka harus sekolah besok. Abe dan Sansan masih mencari rumah untuk tempat mereka tinggal. Begitu juga Fahrul yang ingin mengajak Maira berbelanja untuk kebutuhan anak mereka. Hanya Arnav yang masih bertahan karena Bila belum juga beranjak dari kedai.


“Apa kamu tidak ada pekerjaan?” sindir Bila.


“Ada. Mengawasi dirimu.”


“Cih.. aku bukan anak TK yang perlu diawasi.”


“Tapi kamu adalah kucing yang setiap saat bisa mencuri ikan milik tetangga.”


Bila menatap Arnav dengan sengit. Pria di sebelahnya ini memang selalu bersikap menyebalkan sejak pertama mereka bertemu. Dengan kesal dia berdiri lalu menyambar tasnya yang ada di atas meja. Setelah berpamitan dengan Bryan dan Diah, gadis itu segera pergi dari kedai tanpa menoleh sedikit pun pada Arnav. Dia juga hanya melambaikan tangannya pada Nick.


Arnav menghela nafas panjang setelah kepergian Bila. Walau gadis itu tadi telah mengatakan tak ingin mengganggu Nick, namun dia tak bisa percaya begitu saja. Arnav merasa harus tetap waspada dan terus mengawasinya. Kemudian pandangannya beralih pada Ridho dan Meta. Hatinya kembali berdarah melihat kemesraan keduanya. Karena tak tahan, pria itu segera pamit dan meninggalkan kedai.


“Mom.. dad.. aku juga harus pulang. Sepertinya menunggui Iza bisa sampai malam. Nick ngga mau ditinggal Iza,” ujar Ridho.


“Iya, mommy sama daddy juga harus pulang.”


Keempat orang itu beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Nick yang baru saja menyelesaikan pesanan. Pria itu kini sudah berada di depan Iza lagi seraya memegangi tangannya.


“Nick.. mommy sama daddy pulang dulu ya,” ujar Diah.


“Iya mom.”


“Zi.. abang sama Meta mau pulang. Kamu mau di sini apa ikut pulang?” tanya Ridho.


“Bang.. boleh Izanya di sini dulu? Nanti aku yang antar pulang,” jawab Nick.


“Iya boleh. Tapi jangan lupa antarkan pulang nanti.”


“Tenang aja bang.”


Ridho mengusap puncak kepala Iza kemudian keluar dari kedai bersama dengan Meta. Diah dan Bryan sudah pulang lebih dulu. Nick keluar dari area kerjanya kemudian menghampiri Iza. Kali ini dia mengajak Iza duduk di dekat tempatnya bekerja. Dia juga berencana menutup kedai lebih awal. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan pria itu padanya.


🍂🍂🍂


Seperti rencananya tadi, Nick menutup kedai lebih awal. Kedua pegawainya pun sudah pulang setelah selesai membereskan kedai. Kini hanya tinggal Iza dan Nick saja. Pria itu kemudian membawa Iza duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


“Kedainya sudah tutup?”


“Iya.”


“Bukannya masih sore? Kenapa ditutup?”


“Ada banyak hal yang mau kubicarakan denganmu, Zi.”


Suasana hening sejenak. Iza harap-harap cemas menunggu apa yang ingin dibicarakan Nick. Pria itu berpindah tempat, yang awalnya duduk di hadapan Iza, kini berada di sebelahnya.


“Zi.. boleh aku bertanya sesuatu padamu? Aku harap kamu mau menjawab jujur pertanyaanku.”


“Soal apa?”


“Sebenarnya apa hubunganmu denganku? Aku tahu kamu adalah perempuan baik-baik. Kamu menutup auratmu dengan baik dan aku yakin pasti kamu juga menjaga dirimu dengan baik dari lelaki yang bukan muhrimmu. Tapi kenapa kamu membiarkanku menyentuhmu? Apa hubungan kita, Zi?”


Belum ada jawaban dari Iza. Wanita itu masih menutup mulutnya rapat. Selain takut akan reaksi Nick, tiba-tiba saja Iza merasa tak percaya diri mengatakan hubungan mereka yang sebenarnya dengan kondisinya saat ini. Wanita itu menundukkan kepalanya. Melihat kebungkaman Iza, Nick kembali berkata.


“Zi.. tolong jawab pertanyaanku. Jangan takut, aku baik-baik saja. Jawablah Zi. Selain perasaan kuat yang kumiliki padamu, kenapa aku selalu tak bisa menahan diri kalau ada di dekatmu? Aku selalu ingin menyentuhmu, memelukmu bahkan menciummu. Aku takut kalau semua yang kulakukan adalah sesuatu yang tak semestinya. Apa hubungan kita sudah halal?”


Iza mengangkat kepalanya. Matanya mencoba menatap wajah Nick yang entah ada di sebelah mana. Nick memegang pipi Iza lalu mengarahkan wajah ke arahnya. Tangan Iza terangkat memegang tangan Nick yang masih berada di pipinya.


“Apa hubungan kita sudah halal?” tanya Nick lagi.


Kepala Iza mengangguk pelan seiring dengan airmatanya yang luruh membasahi pipi. Kelegaan nampak terpancar dari wajah Nick. Pria itu merengkuh tubuh Iza ke dalam pelukannya.


“Jadi.. kamu adalah istriku?” bisik Nick di telinga Iza, dan wanita itu kembali menganggukkan kepalanya.


“Maafkan aku, Zi. Maafkan aku yang tidak mengingatmu. Maafkan aku yang terlambat menemuimu. Maaf sayang.”


Nick menciumi puncak kepala Iza berkali-kali. Semua ucapan suaminya semakin membuat airmata Iza bertambah deras keluar. Nick mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin kehilangan lagi sosok istri tercintanya. Walau ingatannya masih belum kembali, namun dia merasakan ikatan yang kuat pada wanita yang ada dalam pelukannya. Airmatanya pun mulai berjatuhan.


Setelah beberapa saat Nick mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata yang membasahi wajah cantik istrinya. Matanya menatap ke arah netra Iza yang nampak kosong.


“Apa sedari awal kamu tidak bisa melihat?” Iza menggelengkan kepalanya.


“Apa saat aku kecelakaan, kamu juga ada bersamaku?”


“Iya,” jawab Iza dengan suara tercekat.


“Apa kecelakaan kita yang menyebabkanmu seperti ini?” kali ini Iza mengangguk, tak sanggup rasanya menjawab dengan kata-kata. Hati Nick sendiri mencelos saat melihat gerakan kepala sang istri.


“A.. aku bukan perempuan yang sempurna lagi. Aku cacat, aku ikhlas kalau mas tidak ingin bersamaku lagi.


“Mas.. apa itu panggilanmu untukku?”


“Iya.”


“Aku suka.”


“Ssssttt.. jangan katakan apapun lagi. Kamu istriku, dulu, sekarang dan selamanya. Aku akan menjadi mata untukmu, menjadi penunjuk arah untukmu, menjadi cahaya untukmu. Yang harus kamu lakukan hanyalah berada di sisiku. Kita akan melewati ini dan belajar bersama-sama. Mengerti?”


Iza menganggukkan kepalanya. Nick mencium kening Iza dengan lembut. Kembali dipeluknya wanita yang ternyata adalah istri sahnya. Tangan Iza melingkari pinggang Nick. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa memeluk dan mencium aroma tubuh suaminya lagi.


“Bagaimana awal kita bertemu? Maaf aku tidak bisa mengingatnya.”


“Mas tidak perlu mengingatnya. Cukup aku yang mengingatnya. Aku akan menceritakan masa-masa yang kita lalui dulu.”


“Dan kita akan menciptakan kenangan baru yang lebih indah pastinya.”


Nick menguraikan pelukannya. Ditangkupnya wajah Iza dengan kedua tangannya. Matanya terus memandangi wajah cantik di depannya. Kemudian perlahan dia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Iza dengan penuh kemesraan sebentar lalu menyatukan kening mereka.


“I love you, Zi..”


“I love you, mas..”


Nick kembali membenamkan bibirnya, menyatukan bibir mereka kembali. Lewat pagutan lembutnya dia seakan ingin mencurahkan semua kerinduan yang dirasakan. Tangannya menarik pinggang Iza, hingga tubuh mereka merapat.


🍂🍂🍂


Mobil yang dikendarai Nick berhenti di depan rumah bercat biru muda. Pria itu keluar dari mobil lalu membantu Iza untuk turun. Sambil menuntun sang istri, Nick memasuki pekarangan rumah Ridho. Tak lama setelah mereka mengucapkan salam, pintu rumah terbuka. Dari dalamnya muncul Ridho yang menyambut kedatangan mereka dengan senang.


“Mas.. aku ke kamar dulu,” ujar Iza.


“Iya.”


Dibantu oleh Meta, Iza masuk ke dalam kamarnya. Mata Nick terus mengikuti sang istri sampai menghilang dibalik pintu. Ridho juga memandangi Nick. Setelah bertemu langsung dengan suami dari adiknya itu, dia tahu betapa Nick sangat mencintai Iza. Semua terpancar dari tatapan mata dan bahasa tubuh pria itu.


“Apa sudah berbicara dengan Iza tentang hubungan kalian?”


“Iya. Maaf bang, karena sudah merepotkanmu. Harusnya aku yang mengurus Iza. Tapi abang mengambil alih semua tanggung jawabku. Maaf dan terima kasih.”


“Tidak usah meminta maaf atau berterima kasih. Aku adalah kakaknya, sudah kewajibanku mengurus Iza. Melihat kalian kembali bersama, itu sudah membuatku senang. Terima kasih sudah kembali untuknya.”


Nick mengulum senyum mendengar jawaban Ridho. Walau baru pertama kali bertemu, namun sikap Ridho yang ramah dan begitu terbuka padanya, membuatnya merasa nyaman.


“Apa kamu mau menginap di sini?”


“Apa boleh?”


“Tentu saja. Kamu adalah suaminya.”


“Terima kasih, bang. Tadinya aku mau membawanya menginap di rumah mommy. Tapi dengan keadaannya sekarang, aku takut Iza ngga nyaman kalau harus menyesuaikan diri di tempat baru. Sampai aku mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk Iza, bolehkah aku ikut tinggal di sini?”


“Silahkan saja.”


“Terima kasih, bang.”


“Oh iya, besok bisakah kamu mengantar Iza ke rumah sakit. Tadi dokter Rega, dokter yang menangani Iza mengatakan ada donor yang cocok untuknya. Dia harus menjalani pemeriksaan dan operasinya akan dilakukan secepatnya.”


“Benar bang? Alhamdulillah.. iya, tentu saja aku akan mengantarnya.”


“Dan satu lagi..”


“Apa bang?”


“Jaga Iza baik-baik, karena dokter Rega menyukainya.”


“Apa?!”


Ridho hanya mengulum senyum saja melihat wajah Nick yang terlihat terkejut sekaligus cemburu. Begitu melihat Meta keluar dari kamar Iza, pria itu berpamitan pada Ridho lalu masuk ke dalam kamar. Meta memilih menghampiri suaminya. Dia cukup bingung melihat tingkah Nick.


“Nick kenapa?” tanya Meta seraya mendudukkan diri.


“Cemburu sepertinya.”


“Cemburu kenapa? Sama siapa?”


“Sama dokter Rega. Tadi abang bilang ke dia kalau dokter Rega suka sama Iza.”


“Ish abang… mereka kan baru ketemu, masa udah dikasih kabar ngga enak.”


“Sengaja, biar Nick tahu kalau ada lelaki yang menginginkan istrinya. Jadi dia harus menjaga Iza baik-baik kalau tidak mau kehilangannya.”


Tak ada tanggapan dari Meta, hanya senyuman saja yang tercetak di bibirnya. Namun senyum itu hilang ketika dirinya mengingat Arnav. Meta sadar, selama di kedai tadi, Arnav kerap mencuri pandang ke arahnya.


“Abang juga harus menjagamu dengan baik. Karena sepertinya mantan terindahmu masih belum sepenuhnya mengikhlaskanmu.”


Meta terjengit mendengar ucapan suaminya. Refleks dia menolehkan wajah ke arah suaminya itu. Ridho menatap netra Meta dalam. Melihat bagaimana tadi Arnav terus mencuri pandang pada istrinya, tak ayal membuatnya cemburu juga. Apalagi Meta juga sesekali melihat ke arah pria itu.


“Apa kamu masih mencintainya?”


“Kenapa abang menanyakan hal itu?”


“Hanya ingin tahu saja. Kalau memang masih, maka abang harus lebih bekerja keras untuk membuatmu jatuh cinta pada abang.”


“Aku cinta sama abang.”


CUP


Meta mendaratkan ciuman di pipi Ridho, kemudian secepat kilat wanita itu berlari dan masuk ke dalam kamar. Untuk sesaat Ridho masih mematung. Pria itu cukup terkejut dengan manuver yang dilakukan sang istri tadi. Setelah kesadarannya kembali, dia segera menyusul masuk ke dalam kamar.


🍂🍂🍂


Dengan kantong belanjaan di tangannya, Fahrul menuntut Maira memasuki halaman rumah kediaman orang tua Maira. Sepulang dari kedai, Fahrul mengajak istrinya jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan calon anak mereka. Fahrul mengakhiri kencan mereka dengan makan malam di tempat romantis yang telah disiapkan sebelumnya.


Hari ini Fahrul memang leluasa membawa Maira pergi, karena ayah Maira tengah berada di luar kota. Reni yang memang telah memaafkan dan mendukungnya untuk kembali bersama Maira, mengijinkannya mengajak Maira pergi. Seraya mengucapkan salam, Maira membuka pintu rumah.


Baik Meta maupun Fahrul terkesiap melihat Surya yang tengah duduk menunggu kepulangan mereka di ruang tamu. Kilat matanya menunjukkan ketidaksukaan. Tangannya mengepal erat, seirama dengan rahangnya yang mengeras.


“Dari mana?” tanya surya dengan nada suara penuh penekanan.


“Habis jalan-jalan beli keperluan bayi,” jawab Maira tenang.


“Apa ucapanku tempo hari kamu anggap angin lalu? Saya tidak mau melihatmu mendekati Mai lagi. Sebentar lagi Mai akan melahirkan, kamu harus mempersiapkan diri untuk berpisah dengannya. Sekarang lebih baik kamu pulang!”


“Abah..” protes Maira.


“Masuk kamar!”


Fahrul menganggukkan kepalanya pada Maira. Lagi, pria itu rela mengalah demi ketenangan sang istri. Reni yang baru saja muncul, tak bisa berbuat apapun melihat sikap keras kepala suaminya.


“Saya pulang dulu abah, ummi,” pamit Fahrul.


“Tunggu. Bawa ini kembali. Saya masih mampu membelikan semua kebutuhan cucu saya.”


Surya membereskan semua barang belanjaan yang tadi dibawa Fahrul dan mengembalikannya pada pria itu. Walau kecewa, sebisa mungkin Fahrul menahan emosinya. Diambilnya barang belanjaan dari tangan Surya lalu keluar dari rumah.


“Abah keterlaluan!” seru Reni.


“Cucuku tidak membutuhkan apapun dari laki-laki brengsek itu.”


Tanpa mempedulikan tatapan menusuk sang istri, Surya segera berlalu menuju kamarnya. Sementara itu di dalam kamar, Maira bisa mendengar apa yang tadi terjadi, karena wanita itu sengaja tak menutup rapat pintu kamarnya. Tangisnya pecah mendengar apa yang dikatakan sang ayah. Tapi kemudian tangisannya berubah menjadi ringisan ketika merasakan sakit di perutnya.


Dengan susah payah Maira menuju ranjangnya, kemudian membaringkan diri. Berulang kali dia menarik dan menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan diri dan demi mengurangi rasa sakit yang menderanya. Dokter sudah mewanti-wantinya untuk tidak banyak memikirkan hal-hal yang membuatnya sedih karena bisa berpengaruh pada kandungannya yang lemah. Namun kekecewaan mendalam yang dirasakannya pada Surya, kembali membuat wanita itu menangis.


🍂🍂🍂


Nick - Iza menuju uwu


Fahrul - Maira masih kena badai