
Sansan segera turun dari mobil begitu kendaraan yang dikemudikan Arnav berhenti di depan kedai kopi Nick yang baru. Tak lama, Arnav, Denis beserta anak dan istrinya menyusul turun. Kedatangan mereka disambut oleh Nick, Fahrul dan Abe yang sudah tiba sejak setengah jam lalu.
Abe yang memang sudah sangat merindukan istrinya langsung memeluk Sansan. Beberapa kali pria itu mendaratkan ciuman di kening dan juga puncak kepala sang istri. Wajah Sansan sampai memerah karena menahan malu.
“Susu kuda liar bisa bucin juga,” celetuk Fahrul.
“Iri bilang bos. Lo kan belum bisa balikan ama Mai. Kasihan si otong, karatan kagak?” balas Abe yang hanya dibalas dengan tepakan di kepalanya.
Semuanya masuk ke kedai kopi yang sedianya akan dibuka esok hari. Mereka segera menuju salah satu meja. Tanpa diminta, Nick langsung menuju area tempatnya bekerja dan membuatkan para sahabatnya kopi.
“Lo udah mulai kerja di Bandung?” tanya Fahrul pada Arnav.
“Iya, mulai minggu depan. Sekarang gue masih cuti. Dan lo tahu, Meta juga pindah ke Bandung sama Iza dan suaminya,” Arnav mengecilkan suaranya.
“Serius? Turut berduka cita ya bro.. makanya jangan kebanyakan dosa, lo. Jadinya balesannya makjleb hahaha..” Sansan mencubit lengan suaminya yang berbicara tanpa saringan.
“Be.. lo udah dapet rumah belum di sini?” tanya Denis.
“Belum. Lo pikir gampang cari rumah dengan kondisi duit pas-pasan. Kalo duit gue kaga berserie gampang aja. Sehari juga dapet rumah,” Abe terkekeh.
“Ya udah cari bareng gue ya.”
“Lo mau pindah juga ke sini?” tanya Fahrul.
“Iyalah. PEA lo semua pindah satu pindah semua. Gue ditinggal sendiri,” gerutu Denis.
“Lo tahu sendiri tahu alasan gue pindah, karena Mai.”
“Gue juga, mau usaha bareng si onta,” timpal Abe.
“Gue niat awalnya mau move on, eh malah kepentok mantan lagi di sini hadeuh.”
Arnav menepuk keningnya. Gelak tawa kembali terdengar dari meja mereka. Salah satu pegawai Nick yang tengah merapihkan biji kopi menengok ke arah mereka. Mengira-ngira apa yang dibicarakan sampai tertawa kencang seperti itu.
Arnav merogoh saku celananya ketika merasakan ponselnya bergetar. Keningnya berkerut melihat nomor tak dikenal yang menghubungi ponselnya. Arnav mengusap tombol hijau kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Halo.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Dengan Arnav?”
“Iya. Ini siapa?”
“Aku Ridho, kakaknya Zi. Bisa kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan.”
“Hmm.. boleh. Di mana?”
“Aku ada waktu luang jam 10. Bagaimana kalau bertemu di café dekat kampusku mengajar?”
“Boleh. Kirimkan saja lokasinya.”
“Ok, terima kasih untuk waktunya. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan berakhir. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk berisi lokasi pertemuan dengan Ridho. Arnav memasukkan kembali ponsel ke saku celananya. Denis yang tadi sempat mendengar pecakapan Arnav, mulai bertanya.
“Siapa Ar?”
“Ridho, kakaknya Zi. Dia ngajakin ketemu. Kayanya mau ngobrolin soal Nick.”
“Ngomongin soal Nick apa soal elo, calon suami gagalnya Meta,” Denis terkekeh.
“Lo butuh pendamping ngga? Gue temenin deh. Takutnya lo butuh bahu untuk bersandar, kali aja lo shock terus pingsan gitu ketemu penikung jodoh lo,” Abe tergelak mendengar ucapannya sendiri.
“Bangk*, lo! Urus aja urusan lo sendiri. Sono ke hotel, belah duren si Sansan tuh.”
Wajah Sansan memerah mendengar ucapan frontal Arnav. Ayura sampai menutup kedua telinga Azka, takut terkontaminasi ucapan para pria absurd di dekatnya. Denis menepak belakang kepala Arnav.
“Ada anak gue, oii. Lemes banget mulut, lo.”
“Jiaaahh.. si teh Tong Tji udah berubah jadi madu rasa, hahaha…”
Senyum Ayura terkulum mendengar celoteh-celotehan unfaedah dari keempat sahabat tersebut. Nick datang membawa enam gelas kopi dan susu untuk Azka. Diletakkannya satu per satu gelas berisi kopi di hadapan para tamunya. Denis, Fahrul, Abe dan Arnav saling berpandangan. Nick membuatkan minuman kesukaan mereka tanpa bertanya lebih dulu.
“Nick.. kok lo tahu kalo gue suka iced Americano?” tanya Fahrul.
“Insting aja. Percaya ngga percaya, gue bikin kopi buat kalian begitu aja. Kaya ada catatan di otak gue, minuman apa yang kalian suka.”
“Ya ampun Nick, segitu berartinya gue di hidup lo. Lope-lope deh,” Abe memeluk Nick. Dengan cepat didorongnya tubuh Abe.
“Najis, lo. Jauh-jauh sana. Gue masih normal ya. Sono peluk Sansan.”
“Tar ada yang nangis Bombay kalau gue peluk-peluk Sansan.”
“Siapa?”
“Noh si onta ama tuan Takur. Secara mereka ngga punya lawan huahahaha…”
“Kampret,” Fahrul menoyor kepala Abe.
“Bangk*,” Arnav menepak kepala Abe.
“Bengek,” timpal Denis.
“Yang sabar San, punya suami susu kuda liar model dia,” sambung Nick.
Tawa para sahabat Nick mereda, berubah jadi keharuan. Sedikit demi sedikit Nick bisa mengingat julukan mereka. Alam bawah sadar sahabatnya itu sudah mulai naik ke permukaan. Mereka berharap semoga ada keajaiban ingatan sahabatnya itu kembali.
“Gue cabut ya, mau ketemu Mai.”
“Gue juga, mau…”
“Mau main kuda-kudaan ama Sansan,” Fahrul menyambung ucapan Abe sambil terkekeh.
“Gue juga, ada janji sama temen,” seru Arnav.
“Emang lo udah punya temen di sini?” ledek Abe. Yang hanya dijawab dengan toyoran di kepala sahabatnya.
“Gue juga mau ajak jalan-jalan Azka sama Ayura.”
“Bareng gue aja, Den. Gue juga mau beli barang buat di kedai.”
“Boleh.”
Setelah menghabiskan kopinya, mereka bubar jalan, menuju tujuannya masing-masing. Satu per satu kendaraan roda empat yang terparkir di depan kedai kopi Nick mulai melaju. Tinggalah dua orang pegawai Nick membereskan peralatan kotor bekas minum mereka.
🍂🍂🍂
Tangan Meta merapihkan kerah kemeja yang dikenakan suaminya. Ridho menarik pinggang Meta hingga tubuh mereka tak berjarak. Wanita itu menundukkan pandangannya, dia masih belum terbiasa bertatapan lama dengan suaminya. Dengan jarinya Ridho mengangkat dagu sang istri hingga melihat ke arahnya.
“Hari ini, abang mau bertemu dengan Arnav. Membicarakan masalah Nick dan Iza. Kamu mau ikut?”
“Ngga bang. Aku mau ajak Iza jalan-jalan. Iza pasti bosan di rumah terus. Sekalian aku mau belanja kebutuhan rumah.”
“Hmm.. hati-hati. Uang yang abang kasih masih ada?”
“Masih bang.”
“Nanti kalau sudah gajian, kamu aja yang atur keuangan. Jangan lupa sisihkan untuk zakat dan tabungan. Kita harus mempersiapkan diri, siapa tahu Allah akan menitipkan buah hati untuk kita dalam waktu dekat.”
“Iya, bang.”
“Dan aku harap, hatimu sudah sepenuhnya milikku saat buah hati kita hadir.”
Ridho mengusap lembut pipi Meta seraya menatap dalam mata indah milik sang istri. Pandangan Meta mulai memburam, terhalang oleh genangan air yang memenuhi kedua matanya. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit posisi Arnav sudah tergeser dengan kehadiran Ridho. Sikap lemah lembut yang ditunjukkan suaminya, tanpa sadar sudah menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya.
“Apa abang percaya kalau aku bilang, abang sudah ada di hatiku?”
“Aku percaya. Karena Allah maha membolak-balikkan hati. Di sujud terakhir di setiap shalat, abang selalu meminta Allah mencondongkan hatimu untuk abang begitu juga sebaliknya.”
“Apa abang mencintaiku?”
Ridho menarik Meta lebih dekat lalu menyatukan bibir mereka. Kedua mata mereka terpejam saat pertautan bibir mereka semakin dalam. Tangan kekar Ridho memeluk erat pinggang sang istri dengan kedua tangan Meta berada di bahunya. Ridho menyesap bibir bawah Meta sedikit lama sebelum mengakhiri ciumannya.
“Apa ini menjawab pertanyaanmu?”
Dengan wajah bersemu merah, Meta menganggukkan kepalanya seraya menggigit bibirnya. Gemas melihat tingkah istrinya, Ridho kembali memagut bibir yang selalu sukses menggodanya dan membuatnya kehilangan akal.
“Jangan menggodaku, Met.”
“Siapa yang goda abang.”
Ridho terkekeh mendengarnya. Dikecupnya kening Meta lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Kalau tidak ingat masih punya kewajiban yang harus ditunaikan, ingin rasanya dia mengurung sang istri di dalam kamar. Pelukan Ridho terurai begitu melihat jam di dinding menunjukkan pukul Sembilan lebih dua puluh menit. Dia harus segera pergi. Sebelum mengajar, Ridho akan bertemu dengan Arnav lebih dulu.
Sambil memeluk pinggang Meta, Ridho keluar dari kamar. Pria itu menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyum tipis pada wanita yang tengah mengajarkan Iza huruf braile. Meta mengantarkan suaminya sampai ke dekat mobil.
“Nanti kalian pergi naik apa?”
“Naik taksi online, bang.”
“Hati-hati ya. Kalau sudah selesai, telepon abang. Siapa tahu abang sudah selesai mengajar.”
Meta meraih tangan Ridho lalu mencium punggung tangannya. Dengan penuh kelembutan, Ridho mencium kening Meta. Selanjutnya pria itu naik ke mobilnya. Kendaraan roda empat itu perlahan mulai melaju.
🍂🍂🍂
Ridho mengedarkan pandangannya ke sekeliling café. Arnav mengabarkan kalau dirinya sudah sampai. Pandangan Ridho terhenti pada seorang pria yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Dia segera mengarahkan langkahnya ke arah meja yang terletak di paling sudut. Tangan Ridho terulur ke arah Arnav yang langsung disambut pria itu.
“Ridho.”
“Arnav.”
Tangan Ridho menarik kursi di depan Arnav lalu mendudukkan diri di sana. Dipandanginya gelas berisi jus manga yang ada di hadapannya. Arnav sudah memesankan minuman untuknya. Minuman kesukaan sang istri.
“Maaf.. aku sudah memesankan minuman. Tapi kalau tidak suka, silahkan pesan yang lain.”
“Tidak usah. Ini sudah cukup. Terima kasih.”
Untuk sesaat suasana hening tercipta di antara mereka. Dengan wajah tenangnya Ridho mengamati pria yang duduk di hadapannya. Sebagai pria, dia mengakui ketampanan Arnav, yang wajahnya mirip aktor Bollywood. Begitu juga Arnav, diam-diam dia mengamati Ridho. Harus diakui, selain tampan, Ridho memiliki aura yang begitu kuat. Sepertinya tidak sulit bagi Meta berpaling pada pria itu.
“Pagi, pak.”
Suasana hening di antara kedua pria itu terinterupsi oleh kedatangan dua orang gadis yang notabene adalah mahasiswi dari Ridho. Keduanya memang tengah menunggu Ridho untuk meminta tanda tangan persetujuan sidang outline. Kebetulan sekali keduanya bertemu di café.
“Maaf pak, mau minta tanda tangan buat sidang outline,” ujar salah satu gadis seraya menyodorkan lembaran kertas di tangannya. Ridho meraih lembaran kertas tersebut.
“Kapan sidang outlinenya?” tanya Ridho seraya membubuhkan tanda tangannya.
“Kalau ngga ada halangan, lusa pak.”
“Ini satu lagi pak.”
Arnav hanya memandangi Ridho yang tengah membubuhkan tanda tangannya. Sekali lihat, dia bisa tahu kalau kedua mahasiswi di dekatnya termasuk jajaran pengagum Ridho. Namun sayang, suami dari Meta itu terlihat begitu dingin dan tak tersentuh. Perasaan Arnav sedikit lega, setidaknya Meta mendapatkan pria baik sebagai pendampingnya.
“Maaf untuk gangguannya,” ujar Ridho setelah selesai dengan urusannya.
“Ngga masalah. Ada apa mau bertemu denganku?”
“Nick. Bagaimana keadaannya?”
“Secara fisik, keadaannya sudah membaik.Tapi dia masih belum mendapatkan ingatannya. Dia juga sudah memulai kembali usaha kedai kopinya. Lucunya dia memberikan nama yang sama seperti kedai kopinya dulu. Dan dia bilang nama itu didapatnya secara spontan.”
“Sepertinya alam bawah sadarnya yang menuntunnya.”
“Ya, itu yang dikatakan psikiater yang mendampinginya menjalani pemulihan.”
“Jadi, ada kemungkinan dia akan mengingat Iza.”
“Sebenarnya aku penasaran bagaimana reaksinya jika bertemu Iza. Terakhir hanya mendengar seseorang menyebut nama Azizah sudah memicu reaksinya.”
“Bagaimana reaksinya? Apa membahayakan untuknya.”
“Waktu itu dia sempat merasakan sakit di kepalanya. Itu karena mommy tidak mau mengatakan yang sebenarnya dan membuatnya berusaha mengingat hingga memicu sakit di kepalanya. Dokter Rafly bilang kita harus menjawab jujur semua pertanyaannya agar Nick tidak penasaran dan memaksa dirinya untuk terus mengingat dan berdampak buruk untuknya. Tapi aku ngga mengerti kenapa mommy terus berusaha menutupi soal Iza dari Nick.”
Arnav menyandarkan punggungnya ke kursi seraya melipat kedua tangannya. Mendengar apa yang dikatakan Arnav, Ridho mengurungkan niatnya bertemu dengan Diah. Bukannya mendapatkan ijin untuk mempertemukan Nick dengan adiknya, bisa jadi keduanya malah akan berahir dengan pertengkaran.
“Sepertinya kita harus mempertemukan Iza dan Nick dengan cara yang tidak disengaja, supaya mommy tidak curiga.”
“Hmm.. sepertinya itu ide yang baik.”
“Kita harus mempertemukan mereka di tempat umum. Riskan membawa Iza ke kedai, karena mommy pasti akan tahu.”
“Aku ikuti rencanamu. Terima kasih, Ar, sudah mau membantuku.”
“Nick adalah sahabatku, begitu juga Iza. Aku hanya ingin melihat sahabatku bahagia.”
Ridho menganggukkan kepalanya pelan. Pria itu menyeruput minumannya ketika Arnav mempersilahkan dengan isyarat tangannya. Diam-diam Ridho mengangumi sosok Arnav yang begitu tulus menyayangi Nick juga adiknya.
“Sekali lagi terima kasih untuk bantuanmu dan juga maaf.”
“Untuk?”
“Mengambil Meta darimu.”
Terlihat keterkejutan di wajah Arnav. Pria itu hanya tersenyum kikuk. Suasana yang tadinya sempat mencair, kini kembali canggung begitu Ridho menyinggung soal Meta.
“Aku tidak bermaksud merebut Meta darimu, hanya saja takdir yang membuat jalan kita seperti ini. Aku tahu ini sulit untukmu juga Meta. Kamu menutupi keberadaan Nick demi keselamatannya. Dan Meta memilih berpisah darimu demi Iza. Tapi sebenarnya ada alasan lain yang mendasari keputusannya. Dia mendapatkan jawaban dari doa-doanya dan kamu bukanlah jawaban yang dia cari.”
Arnav tersenyum getir mendengarnya. Mengapa justru perkataan Ridho lebih terasa menyakitkan untuknya. Dia lebih rela Meta memilih Ridho demi Iza daripada mengatahui kalau dirinya ternyata dianggap tak cukup baik untuk memiliki pendamping seperti Meta.
“Aku harap kamu tidak membencinya. Ini juga keputusan yang sulit untuknya. Dia seperti membenahi sebuah rumah yang tidak terurus. Dia membersihkan halaman rumah yang penuh dengan rumput liar, merenovasi bagian rumah yang rusak dan mengecat ulang agar terlihat indah. Tapi setelah rumah itu telah bersih, indah dan cantik, ternyata bukan dia yang diminta untuk tinggal di sana. Dia yang bekerja, tapi orang lain yang menikmatinya. Rumah itu adalah dirimu.”
Arnav tergugu merenungi semua ucapan Ridho. Entah apa karena pria itu pandai merangkai kata atau analogi yang digunakannya begitu mudah dipahami, Arnav mengerti apa yang dirasakan Meta. Selama ini dia selalu merasa yang paling tersakiti, yang paling banyak berkorban, menuduh Meta egois, tanpa dia sadari kalau wanita itu jauh lebih terluka darinya.
“Kalau kamu ingin bertemu dengan Meta, aku tidak akan melarang. Siapa tahu kalian perlu berbicara agar masalah di antara kalian tuntas.”
“Terima kasih. Tapi aku belum berani bertemu dengannya dalam waktu dekat. Aku takut tidak bisa menahan perasaanku. Bagaimana pun juga dia sekarang adalah wanita bersuami. Dia sudah menjadi istrimu, kakak ipar dari sahabatku. Tapi mungkin nanti aku akan menagih janjimu, mengijinkanku bertemu dengan Meta di saat hati ini sudah siap untuk bertemu.”
“Kamu boleh menagih janjiku kapan saja kamu siap.”
“Boleh aku minta sesuatu?”
“Katakan saja.”
“Tolong bahagiakan Meta. Dia berhak untuk bahagia, karena dia perempuan baik.”
“Tanpa kamu meminta, aku akan melakukannya, karena dia istriku.”
Arnav tersenyum getir mendengar Ridho mengucap kata istriku. Perkataan itu seolah menamparnya dan membuatnya sadar kalau sudah waktunya dia berhenti memikirkan Meta. Sudah ada laki-laki yang bertanggung jawab untuknya. Laki-laki yang lebih baik darinya.
“Terima kasih atas waktumu. Maaf aku harus kembali ke kampus.”
“Sama-sama. Bagaimana kalau kita bertemu lagi di kedai kopi milik Nick. Kita lihat apa dia mengenalimu.”
“Ide yang bagus. Kabarkan saja kapan aku harus ke sana.”
Ridho bangun dari duduknya kemudian menyalami Arnav. Setelah itu dia pergi meninggalkan café. Arnav masih bertahan di tempatnya, di sela-sela kepedihan yang dirasakannya, terselip kebahagiaan mengetahui Meta telah menikahi lelaki yang tepat.
🍂🍂🍂
“Den, gue tinggal bentar ya. Gue mau keliling dulu cari barang,” seru Nick ketika mereka baru saja sampai di arena bermain di salah satu mall.
“Mau gue temenin ngga?”
“Ngga usah.”
Nick segera meninggalkan arena bermain yang terletak di lantai lima. Dia harus kembali ke lantai dasar, di mana toko yang menjual peralatan yang diperlukannya berada. Pria itu segera menuju eskalator yang terletak di sisi kiri area sisi taman bermain.
Sementara itu, Meta dan Iza baru saja selesai berbelanja kebutuhan rumah. Keduanya tengah beristirahat di salah satu kursi yang ada di sana. Meta mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya. Ridho mengatakan lima belas menit lagi kelasnya usai dan meminta Meta menunggunya.
“Zi.. nanti bang Ridho jemput. Kita disuruh nunggu.”
“Ok.”
“Aku mau ke toilet dulu ya. Kamu tunggu di sini, ngga apa-apa?”
“Iya, ngga apa-apa.”
“Jangan kemana-mana, nanti nyasar.”
“Iya, bawel. Udah sana.”
Meta merapihkan dulu barang belanjaannya yang diletakkan di atas kursi kemudian bergegas menuju toilet yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya berada. Iza duduk menunggu di kursi. Telinganya menangkap suara-suara di sekitarnya, teriakan anak kecil, suara sales yang tengah menawarkan produknya, derap kaki. Iza membayangkan sendiri bagaimana situasi di dekatnya. Tiba-tiba dia mendengar sebuah suara yang menyerupai roda yang tengah melaju kencang.
BRUK
Barang belanjaannya seketika jatuh berhamburan saat sesuatu menabraknya dengan kencang. Pelaku penabrakan adalah anak lelaki yang tengah menaiki skuter matic sewaan. Dia tak bisa mengendalikan laju skuter dan menabrak kursi yang diduduki Iza. Sambil menggerak-gerakkan tongkatnya, Iza mencoba mencari barang-barang yang jatuh.
Nick yang tengah melintas di dekatnya, bergegas menghampiri. Dia membantu Iza yang kesulitan memunguti barang-barang yang berceceran. Nick bantu memasukkan barang-barang ke dalam kantong belanjaan kemudian menaruhnya kembali di atas kursi. Selanjutnya Nick membantu Iza berdiri.
Sejenak Nick tertegun melihat wanita di depannya. Tanpa dapat dihentikan, jantungnya berdegup dengan cepat, ketika tangan keduanya bersentuhan. Begitu pula dengan Iza, dia merasakan sentuhan tangan orang yang membantunya tidak asing. Nick mendudukkan Iza di kursi sambil terus menatap wajahnya.
“Terima kasih,” ucap Iza.
Nick terkesiap mendengar suara Iza. Suara, wajah, sentuhan dan situasi di antara mereka terasa tidak asing. Pria itu terpaku di tempatnya, mencoba mencerna apa yang tengah dirasakannya.
“Halo.. apa kamu masih di sini?”
“I.. iya.. sama-sama.”
DEG
Jantung Iza seakan berhenti berdetak mendengar suara yang begitu dikenalnya. Kepala Iza menoleh ke kanan dan kiri, tangannya juga terentang mencari keberadaan orang yang baru saja membantunya. Dia ingin kembali mendengar suara itu.
“Aaarrgghh..”
Nick mengerang saat merasakan sakit di kepalanya. Dia pergi meninggalkan Iza begitu saja. Dengan cepat dia masuk ke dalam toilet. Kedua tangannya bertumpu ke wastafel, matanya terpejam, berusaha mengatur nafasnya dan menenangkan pikirannya. Perlahan dia membuka matanya.
“Siapa dia? Kenapa perasaan ini begitu kuat padanya? Apa dia Azizah?”gumam Nick pelan.
Bergegas pria itu keluar dari toilet dan kembali ke tempatnya semula, namun wanita yang tadi dilihatnya sudah tidak ada. Matanya berkeliling mencari keberadaan Iza, namun nihil. Banyaknya lalu lalang orang membuatnya kesulitan menemukannya. Sementara sosok yang dicarinya tengah dibantu Meta masuk ke dalam mobil, Ridho telah menjemput mereka. Tak lama kendaraan Ridho melaju tepat ketika Nick keluar dari lobi mall.
🍂🍂🍂
Pertemuannya segitu dulu ya, nyicil🤣