The Nick's Life

The Nick's Life
Awal Baru



Sepulang Rahman dari kebun, Iza mengajak Nick berbicara dengan Rahman. Bersama dengan Ani, ketiga orang itu mulai berbicara serius. Awalnya Rahman terkejut dengan rencana yang diutarakan Iza, begitu pula dengan Nick. Namun gadis itu begitu kukuh dengan pendiriannya. Dia juga mengatakan alasan kuat melakukan hal tersebut dan kemungkinan apa yang akan dilakukan Rahardi untuk kembali memisahkan dirinya dengan Nick.


Mengerti dengan kondisi sang keponakan, Rahman menyetujui keinginan Iza, namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi keduanya. Nick yang awalnya keberatan mengikuti ide gila Iza, akhirnya memilih menurutinya. Rahman kemudian meminta Nick juga Denis bermalam di rumahnya.


Nick dan Denis tengah duduk berdua di saung sambil menikmati kopi dan menghirup batang bernikotin. Nick masih tenggelam memikirkan rencana yang diusulkan Iza dan juga syarat yang diberikan Rahman. Hatinya hanya bisa berdoa, semoga cara yang dipilihnya ini benar dan semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan mereka tiba.


“Lo serius mau jalanin rencana itu?”


“Iya, Iza ngotot maunya kaya gitu. Tapi jangan diobrolin dulu sama yang lain. Cukup lo aja dulu yang tahu.”


“Iya gue ngerti. Mudah-mudahan semuanya lancar ya dan lo bisa secepatnya dapet restu dari abinya Iza.”


“Aamiin.. sambil ngeyakinin abinya Iza, gue juga mau fokus buka usaha. Kursus gue udah selesai, gue tinggal siap-siap cari tempat dan hunting semua peralatan.”


“Tenang aja, kalau senggang, gue bakal bantu. Nanti soal promonya juga, serahin aja ke gue.”


“Thanks Den. By the way, gimana Rina? Nempel mulu nih,” goda Nick.


“Paan sih.. udah punya calon dia. Sorry ya gue ngga mau jadi penikung.”


“Kirain masih available,” Nick terkekeh.


“Lagian kalau dia masih kosong juga, gue ngga pede deketinnya. Lo tau sendiri, kehidupan gue kaya gimana, agama gue juga ngga jelas. Bisa-bisa ditendang duluan gue sama abahnya.”


Denis menertawakan dirinya sendiri, tak ayal Nick pun ikut tertawa. Sejak dulu, Denis memang tak pernah jelas keyakinannya. Jika menurut pada sang ayah, dia adalah seorang muslim. Sedang ibunya adalah penganut Budha. Denis sendiri tak tahu harus mengikuti siapa karena kedua orang tuanya tak pernah mengajarkan soal agama padanya.


“Lo harus mulai menata hidup lo kalau bener mau berubah. Tentukan keyakinan apa yang mau lo anut.”


“Menurut lo enaknya gue ngikut bokap apa nyokap?”


“Nanya gue, ya tanya diri lo sendiri. Lo lebih condong ke keyakinan yang mana?”


“Kalau gue ngikut nyokap, kepala gue ngga bakalan digundulin kan?”


Nick mengeplak kepala sahabatnya itu saat melontarkan pertanyaan yang tak masuk akal. Denis hanya tergelak saja, sebenarnya dia juga tidak tahu harus menganut keyakinan apa. Masih belum ada gambaran di pikirannya saat ini.


“Kalau lo mau jadi shaolin boleh aja dibotakin,” jawab Nick absurd.


“Gue bakalan kaya pak Ogah kalau digundulin, hahahaha...”


“Si tante Alfi bakalan pingsan ngga ya lihat lo plontos.”


“Langsung masuk IGD kayanya, dia kan ngga suka lihat cowok botak. Atau beneran gue gundulin aja ya nih rambut biar dia ilfil ama gue hahahaha..”


Nick hanya tergelak mendengar ucapan Denis yang semakin ngawur saja. Tawa kedua pria itu menarik perhatian Iza dan Rina yang tengah berbincang di dekat pintu taman belakang.


🍂🍂🍂


Sekitar pukul satu siang, Iza, Nick dan Denis meninggalkan kediaman Rahman. Mereka akan kembali ke Jakarta. Iza juga sudah siap kembali ke rumah, kepercayaan dirinya berhadapan dengan Rahardi semakin meningkat setelah mendapat dukungan Rahman.


Denis duduk sambil bersedekap di jok belakang. Sedari tadi dia hanya melihat dan mendengarkan obrolan pasangan di depannya. Raut bahagia serta canda tawa mengiringi perbicangan Nick juga Iza. Sedang Denis hanya dianggap penonton saja yang tengah menikmati kemesraan mereka berdua.


“Lama-lama gue berasa jadi kambing conge, sebentar lagi bakalan jadi kambing guling juga, syukur-syukur ngga dikerubutin laler,” sindir Denis.


Nick melihat ke arah sahabatnya itu dari kaca spion tengah. Senyumnya terk*lum melihat wajah bete pria yang kerap disangka artis Korea. Iza menoleh ke arah belakang, nampak Denis tengah merebahkan tubuhnya.


“Kalau udah sampe bangunin gue. Mendingan gue tidur dari pada dianggap pengharum mobil doang.”


“Nih mobil dianter kemana?” tanya Nick.


“Bawa aja ke apartemen lo. Motor gue juga masih di sana. Nanti anak buahnya Fahrul yang ambil nih mobil.”


“Lo laper ngga?”


“Ngga.. saat ini gue ngga butuh makanan. Gue cuma butuh cewek buat gue peluk.”


“Sono telpon tante Alfi.”


“Ogah. Gue pengen cari yang mengkel sekarang hahaha...”


Iza dan Nick pun ikut tertawa mendengar celotehan Denis. Tak lama Denis kembali menjadi obat nyamuk tak berasap karena Nick kembali meneruskan perbincangan dengan Iza.


Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Nick mulai memasuki kota Jakarta. Dia langsung mengarahkan kendaraan ke apartemennya. Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai di sana. Denis juga langsung pulang karena ini beristirahat di apartemennya. Nick mengajak Iza bertemu dengan Diah lebih dulu.


Diah menyambut kedatangan anak dan calon menantunya dengan wajah sumringah. Wanita itu juga telah menyiapkan hidangan makan malam untuk keduanya. Sambil menunggu waktu maghrib tiba, ketiganya berbincang di ruang tengah. Diah cukup terkejut mendengar keputusan Iza dan Nick menjalankan rencana nekadnya untuk mendapatkan restu dari Rahardi. Namun sebagai seorang ibu, Diah hanya bisa mendukung dan juga mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.


Usai makan malam, Iza pamit pulang. Nick bersiap mengantarkan kekasihnya itu pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di antara keduanya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya menerka-nerka apa reaksi Rahardi nanti melihat kepulangan Iza dengan Nick.


Toyota Avanza milik Nick berhenti di kediaman Rahardi. Nick menurunkan ransel Iza juga oleh-oleh hasil kebun yang dititipkan Rahman. Keduanya lalu masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Mina menyambut kedatangan anaknya. Dipeluknya Iza erat, dia bersyukur Iza tidak pergi jauh dan memutuskan untuk kembali ke rumah.


Rahardi menyambut kedatangan anaknya juga Nick dengan ekspresi yang sulit dilukiskan. Tanpa banyak bicara, dia mempersilahkan Nick untuk duduk. Semalam, Rahman telah berbicara dengannya panjang lebar. Mau tak mau sekarang dia harus menyetujui hubungan Iza dengan Nick jika tak ingin Iza berbuat nekad.


“Maaf om, kami pulangnya agak malam. Mommy mengajak makan malam dulu.”


“Hmm..”


“Ngga apa-apa Nick. Kamu bisa membujuk Iza pulang saja, ummi sudah senang. Terima kasih ya.”


“Sama-sama ummi.”


“Kata ibumu kamu pergi camping, tapi kenapa kamu bisa jemput Iza? Atau jangan-jangan kamu yang sudah mengantar Iza ke sana?”


“Ummi yang bilang ke Nick di mana Iza dan minta menjemputnya.”


“Jadi ummi sudah tahu kalau Iza aa di rumah kang Rahman?”


“Iya, kang Rahman langsung menghubungi ummi begitu Iza sampai.”


Rahardi terdiam, hatinya kesal ternyata orang-orang di sekelilingnya bersekongkol menyembunyikan Iza darinya. Untung saja Faisal tak jadi datang akhir pekan kemarin karena harus menengok mertuanya yang sedang sakit.


“Iza.. masuk ke kamar. Ada hal yang mau abi bicarakan dengan Nick.”


“Kalau abi mau bicara dengan Nick, lakukan di depanku. Aku berhak tahu apa yang akan abi katakan. Dan aku berharap abi ngga terus menerus menyudutkan Nick apalagi menghina mommy-nya.”


Rahardi cukup terkejut dengan reaksi anaknya. Sepertinya pertemuan dengan Rahman memberikan efek luar biasa pada gadis itu. Rahardi berusaha menekan emosinya, dia takut Iza kembali meninggalkan rumah.


“Apa kamu sudah memulai usahamu?” suara Rahardi terdengar melunak.


“In Syaa Allah besok saya sudah mulai bersiap, om. Mohon doanya supaya semuanya berjalan lancar.”


“Aamiin.. ummi akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


“Makasih ummi.”


Rahardi berdehem kencang, menghentikan pembicaraan Mina dan Nick. Di rumah ini tak ada yang berpihak padanya, pria itu pun memilih mengikuti permainan. Dari pada membuang energi, Rahardi memilih untuk mendukung hubungan Iza dan Nick.


“Saya harap kamu dan Iza tidak sering bertemu dulu.”


“Abi....”


“Abi belum selesai bicara. Nick harus berkonsentrasi dengan usahanya. Kalau kalian selalu bertemu, bagaimana Nick bisa cepat memulai usahanya? Dan kamu, Nick, saya mau akhir bulan ini usahamu sudah berjalan. Saya tidak mungkin menyerahkan anak saya pada lelaki yang tidak berpenghasilan. Saya juga mau kamu terus memperdalam ajaran agama, kelak kamu akan menjadi imam jadi pengetahuanmu soal agama haruslah bagus. Kamu nantinya yang akan bertanggung jawab atas istrimu dunia akhirat.”


“Iya om, Ins Syaa Allah saya akan berusaha melakukannya sebaik mungkin.”


“Saya tunggu pembuktian ucapanmu.”


Nick menganggukkan kepalanya mantap. Dia kemudian menoleh ke arah Iza yang juga menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyuman. Mengingat waktu semakin malam, Nick pun berpamitan. Iza mengantar pria itu sampai di depan mobil.


“Aku pulang dulu.”


“Iya Nick, hati-hati di jalan. Kasih kabar kalau sudah sampai.”


“Iya sayang.”


Senyum malu-malu Iza mengembang, setiap kata sayang terucap dari bibir pria itu selalu saja membuatnya salah tingkah. Nick masuk ke dalam mobil kemudian menurunkan kaca jendela.


“Besok kamu kuliah?”


“Iya.”


“Ngga usah. Mending kamu fokus sama urusan kedai aja.”


“Ok. Aku pulang ya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Mobil yang dikendarai Nick melaju meninggalkan kediaman Rahardi. Setelah mobil Nick tak terlihat, barulah Iza masuk ke dalam rumah. Tanpa berbicara lagi dengan sang ayah, Iza segera naik ke atas lalu masuk ke kamarnya. Rahardi terus memperhatikan sang putri. Pria itu harus mengakui kekalannya kali ini tapi bukan berarti dia menyerah begitu saja. Dia akan menunggu kesempatan yang baik untuk memisahkan keduanya, karena baginya Nick tetap bukan sosok yang tepat untuk sang anak.


🍂🍂🍂


Sambil berlari kecil menembus rintik hujan, Denis berjalan memasuki restoran tempat biasa dirinya bertemu dengan Teresa. Seorang pelayan langsung memandunya menuju private room yang telah disewa wanita itu. Teresa menyambut kedatangan Denis dengan memeluk dan mengecup bibir pria itu. Lalu dia mengajak Denis duduk di sampingnya.


“Tumben kamu minta duluan ketemu. Ada hal yang penting?”


“Iya tan. Ada yang mau aku bicarakan.”


“Soal apa sayang?” Teresa memainkan rambut Denis.


“Tan.. ayo kita akhiri hubungan ini.”


Gerakan tangan Teresa terhenti begitu mendengar ucapan pria itu. Netranya menatap lekat ke arah Denis yang sepertinya benar-benar serius dengan ucapannya.


“Apa tante melakukan kesalahan?”


“Ngga tan. Sama sekali ngga. Aku hanya ingin menjalani hidup baru. Aku ingin menata hidupku lagi. Bertemu dengan seorang perempuan, berumah tangga. That’s all, aku hanya ingin menjalani hidup seperti orang lain. Apa itu salah tan?”


“Ngga.. sama sekali ngga. Jujur, aku senang mendengarnya. Kamu masih muda, wajar kalau kamu mempunyai banyak impian dalam hidupmu. Kamu memang harus bertemu dengan wanita yang tulus mencintaimu, bisa memberikanmu keturunan. Tante mendukungmu. Kalau kamu ingin hubungan kita berakhir, walau berat tapi tante akan menerimanya.”


“Serius tan? Tante ngga marah?”


“Untuk apa aku marah? Aku sama sekali ngga berhak atas hidupmu. Hanya kamu yang berhak atas dirimu sendiri. Lakukan apapun yang mau kamu lakukan. Tante hanya bisa mendoakan yang terbaik saja.”


“Terima kasih tante.”


Denis langsung memeluk Teresa. Seperti perkiraannya, Teresa pasti akan menyetujui keputusannya. Teresa membalas pelukan Denis, ada kesedihan melanda hatinya. Bagaimana pun juga mereka telah sering menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita dan berbagi peluh. Denis dapat memenuhi kebutuhan s*ksnya di saat sang suami sibuk dengan selingkuhannya.


“Apa Alfi sudah tahu?” tanya Teresa setelah mengurai pelukannya.


“Aku baru mau ketemu sama dia, tan. Tante Alfi tuh lebih sulit, aku bahkan ngga bisa menebak reaksinya akan seperti apa nanti.”


“Sepertinya dia akan sulit menerima. Tapi lakukan saja apa yang menjadi keputusanmu. Jangan terpengaruh kata-katanya. Kalau kamu butuh bantuan tante, bilang saja.”


“Iya tan, makasih. Aku pergi ya tan.”


“Iya sayang. Take care.. ingat satu hal, walau hubungan kita berakhir tapi bukan berarti komunikasi kita terputus begitu saja. Katakan saja kapan pun kamu membutuhkan bantuan. Kalau aku bisa, aku akan membantumu.”


“Iya tante, makasih banyak.”


Keduanya kembali berpelukan sesaat. Denis meraih tengkuk Teresa kemudian memberikan ciuman perpisahan untuk wanita itu. Denis mengusap air di sudut mata Teresa.


“Aku pergi tante.”


“Iya.”


Teresa terus memegangi tangan Denis sampai pria itu berdiri. Perlahan pegangan tangannya terlepas ketika Denis melangkahkan kakinya. Airmata Teresa mengalir begitu tubuh Denis menghilang dibalik pintu. Walau berat, dia harus menerima keputusan Denis. Bagaimana pun juga pria itu harus menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dan orang itu jelas bukan dirinya.


🍂🍂🍂


Alfi turun dari ranjang tanpa mengenakan sehelai benang pun setelah percintaan panasnya dengan Denis. Wanita itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Denis yang telah selesai segera mengenakan pakaiannya kembali. Percintaan yang baru saja mereka lakukan merupakan percintaan terakhir sekaligus ucapan perpisahan pada wanita itu.


Denis berjalan menuju sofa kemudian mendudukkan diri di sana. Dia dengan sabar menanti Alfi selesai. Pria itu akan mengutarakan hal sama yang tadi dikatakannya pada Teresa. Lima belas menit berselang, Alfi keluar dari kamar mandi. Dengan santainya wanita itu melepas handuk yang menutupi tubuhnya.


Mata Denis terus memandangi Alfi yang tengah berpakaian. Tak ada gairah lagi saat melihat tubuh polos wanita itu. Dia memang sudah jenuh dan muak akan hubungannya dengan Alfi. Setelah berpakaian dan memoles wajahnya dengan make up tipis, Alfi menghampiri Denis kemudian duduk di sampingnya.


“Ada yang mau kamu bicarakan Den?”


“Iya tante.”


“Soal apa?”


“Soal hubungan kita. Aku mau ini semua berakhir tante.”


Alfi terdiam, matanya menatap dalam ke arah Denis. Untuk sesaat suasana hening di antara mereka. Hingga akhirnya Alfi bereaksi.


“Hahahaha... kamu bercanda kan?”


“Aku serius tante.”


“Hahaha.. udah dong, kamu ngga usah nge prank aku.”


Kesal karena Alfi terus menganggapnya bercanda, Denis memegang kedua bahu Alfi. Dengan mimik serius dia melihat ke arah Alfi.


“Aku serius tante. Aku ingin semua ini berakhir. Percintaan tadi adalah yang terakhir untuk kita.”


“Kamu ngga usah bercanda, Den. Kamu tuh ngga bisa hidup tanpa uang. Dan aku itu ladang uang buatmu. Kamu juga harus ingat, keberhasilanmu selama ini karena campur tanganku juga.”


“Aku akui, aku banyak terbantu dalam karier karena tante yang mempunyai banyak koneksi. Tapi apa yang kucapai selama ini murni karena kemampuanku. Dan soal uang, aku tetap bisa menghasilkan uang walau ngga bersama tante lagi.”


“Apa kamu punya pacar?”


“Ngga. Aku hanya ingin menjalani hidup baru.”


“Hidup baru.. hahaha..” tawa Alfi terdengar sumbang.


“Iya tante, hidup baru. Hidup yang lebih baik, lebih terarah, lebih berarti. Aku juga ingin menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku.”


“Kalau begitu kita menikah saja.”


Denis tentu saja terkejut mendengar ucapan Alfi. Wanita itu sepertinya benar-benar tergila-gila padanya. Alfi memegang tangan Denis dengan erat. Matanya memancarkan keseriusan.


“Ayo kita menikah. Aku akan bercerai dengan suamiku lalu menikah denganmu.”


“Ngga tante. Bukan tante yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku.”


“Aku mencintaimu Denis. Aku rela memberikan apapun untukmu.”


“Tapi aku ngga mencintai tante. Aku.. hanya mencintaimu uangmu.”


Bohong kalau Alfi tak sakit hati mendengar ucapan pria yang usianya jauh berada di bawahnya. Tak dapat dipungkiri kalau dia sudah mulai bermain hati dengan Denis. Pengakuan jujur Denis jelas melukai hati dan harga dirinya.


“Maaf tante, keputusanku sudah bulat. Kita akhiri hubungan ini. Silahkan tante cari penggantiku.”


“Bagaimana kalau aku tidak mau? Bagaimana kalau aku masih ingin bersamamu?”


“Itu urusan tante. Yang jelas aku akan mengakhiri hubungan ini, tante terima atau tidak. Terima kasih atas semua yang telah tante berikan untukku. Aku doakan semoga tante bisa mendapatkan kebahagiaan lagi. Aku pergi tante.”


Denis mengambil tasnya kemudian keluar dari kamar hotel tanpa mempedulikan teriakan Alfi yang terus memanggil namanya dan memohon jangan pergi. Keputusannya untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik sudah bulat. Dengan langkah mantap pria itu berjalan menjauh dari kamar yang kerap digunakannya bertemu dengan Alfi.


🍂🍂🍂


Sambil bersiul Denis keluar dari lift yang membawanya turun dari lantai teratas gedung tempatnya bekerja. Hatinya senang karena atasannya baru saja memberikan bonus atas pekerjaannya bulan lalu. Dia segera menuju motornya yang terparkir di basement gedung. Baru saja Denis akan mengenakan helmnya ketika tiba-tiba


BUGH


Tubuh Denis seketika tersungkur ketika seorang pria memukul punggungnya dengan sebilah balok. Tak lama datang dua orang lain yang ikut memukuli dan menendang pria itu. Denis yang mendapat serangan mendadak tak berdaya untuk melawan. Ketiga orang yang menyerangnya baru berhenti memukul ketika tubuhnya tak bergerak lagi. Setelahnya orang-orang tersebut meninggalkan Denis yang terkapar di parkiran.


🍂🍂🍂


Ada yang bisa nebak siapa yang udah ngirim orang buat mukulin Denis?


Yang bisa jawab benar dapet ucapan selamat dari gue🤣