The Nick's Life

The Nick's Life
Dalang Sebenarnya



Fahrul mengambil batu besar yang ada di sana. Dengan kedua tangan dia mengangkat batu tersebut. sekuat tenaga Fahrul mengayunkan batu di tangannya ke kepala Obet. Hanya tinggal beberapa detik lagi batu itu menghantam kepalanya, Obet berteriak kencang.


“ALEX!!!”


Pergerakan Fahrul terhenti, hanya tinggal sedikit lagi batu besar itu mengenai kepala Obet. Dengan santai dia membuang batu ke arah samping, lalu mencengkeram kaos Obet.


“Siapa lo bilang?”


“Alex.. dia yang udah nyuruh gue.”


“Siapa Alex?”


“Gue ngga tahu. Sumpah gue ngga tahu. Gue cuma tahu namanya Alex.”


Fahrul melepaskan cengkeramannya. Dengan kesal ditendangnya batu kecil yang ada di dekatnya. Walaupun sudah menghajar Obet, tetap saja mereka menemui jalan buntu. Nick mendekati Obet lalu berjongkok di dekatnya.


“Gimana awalnya si Alex nyuruh lo mukulin Denis?”


“Dia yang telepon gue. Dia awalnya cuma kasih foto Denis dan minta gue kasih pelajaran sama Denis. Tapi gue maksa ketemu sama dia dan akhirnya kita ketemuan sekali.”


“Kalau gitu telepon dia lagi, bilang kalau Denis koma dan lo minta bayaran tambahan ke dia. Bisa?” Nick menepuk-nepuk rahang Obet cukup kencang.


“Bi.. bisa.”


Sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, Obet mengambil ponsel dari saku celananya. Dia menghubungi nomor Alex yang sempat disimpannya. Setelah berbicara sebentar dengan Alex, pria itu mengakhiri panggilannya.


“Gimana?”


“Besok gue janjian ketemuan sama dia di Kota Tua.”


“Jam berapa?”


“Sorean katanya.”


“Bagus. Bawa dia ke tempat sepi, selanjutnya biar kita-kita yang urus,” Nick kembali menepuk rahang Obet.


“Awas aja lo berani kabur dan ngga bawa kita ketemu Alex. Gue bakal kejar lo sampe kemana pun,” ancam Fahrul.


“Iya bang, iya.”


Nick, Fahrul, Abe dan Arnav segera meninggalkan Obet dan kawan-kawannya yang masih terkapar. Selanjutnya anak buah Topan yang akan mengawasi Obet dan memberikan laporan pada mereka.


🍂🍂🍂


Teresa yang mendengar kabar tentang Denis, bergegas menuju rumah sakit. Walau telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan, namun wanita itu masih peduli pada mantan teman ranjangnya itu. Tanpa mengetuk pintu, Teresa segera masuk ke dalam ruangan. Dia terkejut saat melihat Diah tengah menunggui Denis yang sedang tertidur.


“Kamu siapa?” tanya Diah.


“Aku Teresa. Aku ke sini mau melihat Denis. Bagaimana keadaannya?”


“Tulang punggungnya memar, lambungnya juga terluka, di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat luka lebam. Dia harus istirahat total untuk memulihkan keadaannya,” jelas Diah.


Lemas tubuh Teresa mendengar penjelasan Diah. Hampir saja dia terjatuh kalau Diah tak langsung menangkap tubuhnya. Wanita itu kemudian membawa Teresa duduk di sofa. Dia sudah bisa menebak kalau wanita yang sedang bersamanya adalah salah satu orang yang menjadikan Denis peliharaannya.


“Apa hubunganmu dengan Denis?” tanya Teresa.


“Aku, Diah. Anakku, Nick adalah sahabatnya. Aku sudah menganggap Denis, anakku sendiri.”


“Ooh..”


Hanya itu saja yang keluar dari mulut Teresa. Dia malu sendiri karena sempat mengira kalau Diah adalah salah satu wanita yang menggunakan jasa Denis. Wanita itu kembali melihat ke arah Denis yang terbaring lemah.


“Siapa yang sudah membuatnya seperti ini?”


“Belum tahu. Anakku dan teman-temannya sedang mencari orang yang sudah memukulinya. Setahuku Denis itu ngga punya musuh.”


“Bisa jadi itu suruhan Alfi.”


“Alfi?”


“Iya.. dia.. sama sepertiku. Kamu tahu.. aku dan Denis..”


“Ya aku tahu maksudmu.”


“Denis bilang padaku kalau dia mau berubah. Dia mengakhiri hubungan denganku juga Alfi. Tapi sepertinya Alfi tidak bisa menerimanya. Ada kemungkinan, kalau Alfi yang mengirimkan orang untuk memukuli Denis.”


“Bisa jadi kamu juga kan?”


Teresa cukup terkejut mendengar tuduhan Diah padanya. Diah hanya tersenyum tipis melihat reaksi Teresa.


“Maaf kalau ucapanku menginggungmu. Saat ini semua orang yang pernah dekat dengan Denis bisa menjadi tersangka. Aku juga tidak mau menebak-nebak. Sebentar lagi kita akan tahu siapa pelaku sebenarnya. Dan kalau ternyata memang Alfi yang ada di belakang ini semua, maka dia harus siap berhadapan denganku. Hal yang sama juga aku sampaikan padamu. Kalau ternyata dirimu yang menyebabkan Denis seperti ini, aku juga tidak akan melepaskanmu.”


Teresa menelan ludahnya kelat. Kata-kata Diah yang penuh penekanan serta tatapannya yang penuh intimidasi tak ayal membuat wanita itu tak enak hati juga. Setelah melihat keadaan Denis, Teresa pun pamit pulang.


🍂🍂🍂


Jam lima sore, Nick dan yang lainnya sudah berkumpul di Kota Tua. Mereka segera menuju lokasi yang telah diberikan oleh Obet. Sesuai permintaan, Obet mengajak bertemu Alex di tempat yang jauh dari keramaian. Mereka menunggu beberapa meter dari tempat Obet menunggu Alex.


Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya target incaran mereka datang juga. Nampak seorang pria seumuran mereka berjalan mendekati Obet. Dari pakaian yang dikenakan pria itu, jelas terlihat kalau Alex berasal dari keluarga kaya. Namun tak ada satu pun dari keempat sahabat Denis yang mengenali Alex.


Alex tiba di dekat Obet. Dilepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya. Dia cukup terkejut melihat wajah Obet yang babak belur. Obet meminta Alex untuk duduk di sampingnya.


“Yakin lo kalau si Denis koma?” tanya Alex.


“Kalau ngga percaya, lihat aja sendiri ke rumah sakit.”


“Berapa yang lo mau buat bonusnya? By the way, kenapa muka lo?”


“Gue ngga butuh uang lo. Gue cuma mau ketemu lo doang. Dan muka gue, temen-temennya Denis yang udah buat gue begini. Hati-hati bro, gue cuma mau bilang itu aja.”


Obet menepuk pundak Alex kemudian beranjak dari duduknya. Seketika wajah Alex menjadi tegang, dia mulai waspada. Pandangannya mulai mengedar ke sekeliling. Melihat mangsanya hendak kabur, Nick dan yang lainnya segera mendekat.


Langkah Alex terhenti ketika empat orang pria yang tak dikenalnya menghalangi langkahnya. Pria itu terkurung di tengah-tengah karena Nick dan yang lainnya tak memberi celah sedikit pun untuk pria itu kabur.


“Siapa kalian?”


“Harusnya gue yang tanya. Ada dendam apa lo sama Denis sampe nyuruh orang buat mukulin dia?” tanya Abe.


“Oh.. lo temennya b*jingan itu.”


“Siapa yang lo panggil bajingan hah??!!”


Fahrul yang sudah tak bisa menahan emosinya segera melayangkan pukulan ke wajah Alex, membuat pria itu tersungkur. Dia hendak menghajarnya lagi, namun Nick menahannya. Alex segera berdiri sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


“Apa lo tahu kalau sahabat yang lo bela itu ngga lebih sekedar gig*lo yang menumpang hidup dari wanita yang sudah berkeluarga!!” nada Alex terdengar emosi.


“Rese nih orang, bener-bener minta dihajar!!” Fahrul hendak merangsek maju, namun lagi-lagi Nick menahannya.


“Lo anaknya tante Tere, bener kan?” tebak Nick.


“Bravo.. bravo..” Alex bertepuk tangan.


“Lo bisa tahu gue berarti lo tahu profesi sahabat lo itu apa. Apa jangan-jangan kalian seprofesi hahahaha...” lanjutnya.


“Denger.. sebelum lo nyalahin orang, lebih baik lo tanya nyokap lo. Dia yang udah merubah Denis jadi pelayan s*ksnya. Dia juga yang selalu datang dan mencari kepuasan karena bokap lo udah ngga bisa muasin dia lagi.”


Alex langsung emosi mendengar perkataan Nick. Dia merangsek maju lalu melayangkan pukulannya ke arah pria itu. Nick segera mengelak kemudian melayangkan pukulan balasan. Tubuh Alex kembali terjatuh.


“Jadi enaknya diapain nih orang?” tanya Arnav.


“Buat dia ngerasain apa yang Denis rasain,” jawan Nick dingin.


Fahrul yang sudah gatal ingin menghajar Alex, segera mendekat lalu menarik Alex yang masih belum berdiri. Sebuah pukulan kembali diterima oleh pria itu. Abe dan Arnav pun ikutan menghajar Alex. Sedang Nick hanya duduk memperhatikan ketiga sahabatnya memukuli Alex bergantian.


“Udah guys.. nanti dia mati,” peringat Nick. Ketiga sahabatnya langsung berhenti memukuli.


Alex terkapar tak berdaya, wajahnya sudah bersimbah darah. Sekujur tubuhnya juga dipenuhi memar karena pukulan beruntun yang diberikan Fahrul, Abe juga Arnav. Nick mengambil ponselnya lalu menghubungi ambulans untuk membawa Aleex ke rumah sakit. Setelah memberikan lokasi pada petugas medis, dia dan yang lainnya meninggalkan Alex yang terkapar tak berdaya.


🍂🍂🍂


Sambil berlari Teresa memasuki gedung rumah sakit. Dia baru saja mendapat kabar kalau Alex masuk ke rumah sakit sehabis dipukuli orang. Kedatangannya disambut oleh supirnya yang mengantar Alex ke Kota Tua sore tadi. Pria itu segera mengantar Alex ke ruang perawatan VIP.


Teresa menutup mulut dengan tangannya saat melihat kondisi sang anak. Di wajah tampannya terdapat banyak luka lebam, mirip seperti keadaan Denis. Wanita mendudukkan diri di samping bed. Diraihnya tangan anaknya yang masih belum bangun.


“Tante..”


Teresa terjengit ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Dia semakin terkejut saat tahu Nick yang datang. Selain Nick, ada juga Fahrul, Abe dan Arnav. Setelah menghubungi ambulans, keempat pria itu mengikuti Alex sampai ke rumah sakit. Nick juga yang telah memberitahu supir Alex ketika pria itu menghubungi ponsel majikannya.


“Bisa kita bicara tante?”


Walau masih bingung dengan keberadaan Nick dan teman-temannya, tak ayal Teresa berdiri kemudian mengikuti Nick duduk di sofa. Semua sahabat Denis itu melihatnya dengan tatapan sinis.


“Sebelumnya atas pribadi dan teman-teman, saya minta maaf karena sudah membuat Alex seperti ini.”


“Kalian?? Tapi kenapa? Apa salah Alex sama kalian? Dia baru seminggu yang lalu pulang dari Los Angeles.”


“Karena orang yang sudah menyuruh para preman memukuli Denis adalah Alex,” jawab Fahrul dengan nada geram.


“Ngga mungkin, ini fitnah. Alex ngga kenal Denis, dia juga ngga tahu soal hubungan tante dengan Denis.”


“Tapi itu kenyataannya. Kami melihat langsung pertemuan Alex dengan preman yang sudah memukuli Denis.”


“Tapi kenapa? Bagaimana Alex bisa tahu soal Denis?”


“Makanya kami kemari. Tolong tante tanyakan pada Alex, dari mana dia tahu soal Denis.”


“Iya, tante akan tanyakan. Tante mohon, lepaskan Alex, jangan ganggu dia lagi.”


“Tergantung tante. Kalau dia ngga ganggu Denis, kita juga akan anggap masalah ini selesai. Tapi kalau dia masih ganggu Denis. Saya akan pastiin kondisinya akan lebih parah dari ini,” ucap Fahrul dengan nada penuh ancaman.


Setelah tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Nick dan yang lainnya pergi meninggalkan ruang rawat Alex. Teresa masih termenung di tempatnya, rasanya masih tak percaya kalau orang yang sudah mencelakakan Denis adalah anaknya sendiri. Wanita itu terjaga dari lamunannya begitu mendengar suara erangan sang anak. Teresa segera menghampiri Alex.


“Alex.. kamu baik-baik aja?”


“Mama... kenapa mama ada di sini?”


“Pak Rano yang hubungi mama. Kenapa kamu bisa jadi begini? Apa yang kamu lakukan?”


Alex mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya masih kesal dan kecewa ketika mengetahui mama yang begitu disayangi dan dihormatinya ternyata menjalin hubungan terlarang dengan laki-laki seusia dirinya.


“Lex..”


“Mending mama pergi.”


“Kenapa Lex? Kamu marah sama mama? Kamu jijik sama mama? Kalau begitu lampiaskan saja kemarahanmu pada mama, jangan pada Denis.”


Mendengar nama Denis, Alex menolehkan wajahnya ke arah sang mama. Nampak gurat kekewaan tergambar jelas di kedua matanya. Teresa masih saja peduli pada Denis dan itu semakin membuat Alex membenci pria itu.


“Jangan sebut nama laki-laki yang sudah membuat mama mengkhianati papa!!”


Teresa terkejut melihat reaksi sang anak. Belum pernah Alex berbicara dengan nada tinggi dan melihat kepadanya dengan tatapan penuh kebencian. Wanita itu memejamkan matanya, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.


“Iya.. mama memang salah. Mama sudah menjalin hubungan terlarang dengan Denis. Tapi kamu harus tahu apa alasan mama melakukan itu semua. Mama bukan ingin membela diri dan membenarkan perbuatan mama. Tapi mama melakukan semua ini karena kecewa pada papamu. Papamu yang lebih dulu mengkhianati, dia berselingkuh dengan wanita lain.”


“Mama bohong.”


“Buat apa mama bohong. Kalau kamu ngga percaya, mama bisa kasih alamat apartemen di mana papa kamu menyembunyikan selingkuhannya. Bukan Denis yang menyebabkan rumah tangga kami hancur, tapi papamu sendiri. Kalau bukan karena Denis, mungkin mama sudah mati dua tahun yang lalu. Dia yang sudah menyelamatkan mama saat mencoba bunuh diri.”


Tangis Teresa pecah mengingat masa terberatnya saat mengetahui perselingkuhan suaminya. Dunianya hancur lebur begitu mengetahui suaminya telah berselingkuh dengan perempuan yang usianya jauh berada di bawahnya. Di tengah kekecewaan dan rasa sakit hatinya, wanita itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari roof top apartemen. Di saat itulah dia bertemu Denis yang menariknya saat dirinya hendak meloncat. Sejak saat itu hubungannya dengan Denis terjalin.


“Harusnya mama bilang padaku, bukan menjalin hubungan dengan Denis.”


“Mama akui mama salah, mama khilaf membalas pengkhianatan papamu dengan perselingkuhan juga. Tapi sekarang hubungan mama dan Denis sudah berakhir. Tepatnya dia yang memutuskan mengakhiri hubungan ini. Waktu kamu menyuruh orang untuk memukulinya, kami sudah tidak punya hubungan lagi. Jadi, berhenti menyakiti Denis, mama mohon.”


“Apa rencana mama selanjutnya?”


“Mama ngga tau, kalau mama ngga kuat bertahan dengan semua ini, mama akan bercerai dengan papamu.”


“Maafin aku ma..”


Teresa memeluk Alex, tangisnya kembali pecah. Alex memeluk erat punggung mamanya, matanya pun ikut berkaca-kaca. Teresa mengurai pelukannya saat terdengar ringisan Alex saat dirinya memeluk sang anak sedikit erat.


“Dari mana kamu tahu soal Denis?”


“Ada perempuan yang menemuiku. Dia hampir seumuran dengan mama, dia yang kasih foto-foto mama dengan Denis dan bilang di mana Denis bekerja. Dia juga bilang kalau Denis adalah selingkuhan sekaligus simpanan mama. Dia menggantungkan hidupnya pada mama dan hanya ingin menguras harta mama saja.”


“Apa perempuan itu bernama Alfi?”


“Aku ngga tahu ma. Aku juga ngga nanya namanya.”


Teresa mengambil ponselnya kemudian mencari foto Alfi di laman IG-nya. Dia dan Alfi memang tergabung di klub elite khusus kaum hawa. Mereka kerap memposting foto-foto saat ada kegiatan klub. Alfi mengenal Denis juga lewat dirinya. Teresa menunjukkan foto Alfi pada Alex.


“Apa dia orangnya?”


“Iya ma.”


“Dasar perempuan gila. Dia ngga terima ditinggalkan Denis dan membalasnya seperti ini,” geram Teresa.


“Di mana Alfi?”


Baik Teresa juga Alex terkejut ketika seseorang menginterupsi pembicaraan mereka. Diah yang sudah datang sedari tadi dan sempat mendengar pembicaraan ibu dan anak itu melangkah mendekati bed Alex.


“Alfi.. di mana aku bisa menemukannya?”


“Dia biasa berkumpul di Golden Club yang ada di daerah Tebet.”


“Alfi biar menjadi urusanku. Aku minta kamu tidak usah menemui Denis lagi. Hubungan kalian sudah berakhir, biarkan dia menjalani hidup yang lebih baik. Dan kamu.. kalau kamu masih berani menyakitinya, maka aku akan membuat hidupmu menderita.”


“Maaf Diah, aku akan pastikan Alex tidak akan mengganggu dan menyakiti Denis lagi.”


“Aku pegang ucapanmu.”


Merasa tak ada yang perlu disampaikan lagi, Diah keluar dari rawat inap Alex. Teresa hanya menghembuskan nafas panjang melihat kepergian Diah, walau berat, dia memang harus melepaskan Denis, demi kebaikan Denis dan juga dirinya.


🍂🍂🍂


**Jadi pada intinya tebakan kalian bener sih tapi gue buat muter dulu wakakakak..


Kira² Alfi bakal diapain sama mommy Diah ya🤔**