
“Mai.. ayo makan dulu.”
Maira memalingkan wajahnya ketika Fahrul menyodorkan sendok berisi bubur padanya. Saat terbangun, wanita itu terkejut melihat Fahrul yang menemaninya di ruang rawat. Tak ada bu Sarni atau Denis, hanya ada suaminya.
“Mai..”
“Aku ngga laper.”
“Kamu harus makan. Kamu juga harus minum obat.”
“Nanti aku makan sendiri. Kamu pergi kerja aja.”
“Aku ngga akan ke kantor. Aku bakalan temenin kamu di sini.”
“Ngga usah sok peduli.”
Fahrul menghela nafas panjang. Sejak shubuh Maira selalu bersikap ketus padanya. Namun pria itu mencoba bersabar, wajar saja kalau Maira masih marah padanya. Dia terus membujuk istrinya agar mau makan.
Seorang suster masuk untuk mengecek keadaan Maira. Dia terkejut melihat peralatan mandi Maira yang masih di tempatnya. Begitu pula dengan sarapannya yang masih utuh. Setelah mengecek nadi, tensi dan infusan Maira, suster itu meminta Maira memakan sarapannya.
“Ibu sarapan dulu ya. Ada obat yang harus saya berikan tapi ibu harus makan dulu.”
“Iya sus.”
Perawat tersebut menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari kamar. Merasa mendapat dukungan dari sang suster, Fahrul mengambil kembali mangkok bubur kemudian berusaha menyuapi istrinya kembali.
“Ayo makan Mai.”
“Biar aku sendiri.”
Fahrul mengalah, dia menarik meja yang ada di sisi bed kemudian meletakkan mangkok ke atas meja. Pelan-pelan Maira mulai memakan buburnya. Fahrul bantu memasukkan lauk ke dalam mangkok. Maira jengah sendiri melihat sikap Fahrul padanya. Seandainya kasus perselingkuhan Fahrul dengan Reisa tidak pernah terjadi, mungkin dia akan senang menerima perlakuan manis suaminya itu.
Maira berhenti makan, hanya setengah mangkok bubur yang mampu dihabiskannya. Selain tak selera makan, rasa makanan yang hambar juga membuatnya tak menghabiskan makanan. Fahrul pun tak memaksanya lagi. Pria itu meletakkan nampan ke atas nakas dan melipat kembali meja.
“Kamu mau mandi?”
“Hmm..”
“Biar aku bantu.”
“Aku bisa sendiri.”
“Kamu masih belum boleh banyak gerak. Biar aku bantu, kamu mau di kamar mandi atau di sini? Aku akan bantu membasuh badanmu.”
Fahrul mengambil peralatan mandi yang sudah disiapkan perawat sejak dua jam lalu. Kemudian dia kembali mendekati bed Maira. Diraihnya tangan Maira, namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
“Jangan sentuh aku!”
“Aku mau bantu kamu mandi.”
“Kamu tidak usah bantu. Aku risih.”
“Tapi aku suamimu Mai. Ngga ada larangan buatku menyentuhmu atau melihat tubuhmu.”
“Tapi hatiku melarang. Aku ngga sudi disentuh oleh suami yang lebih memilih berbagi ranjang dengan selingkuhannya.”
Ucapan Maira walaupun dikatakan dengan nada pelan, tapi sukses membungkam mulut Fahrul. Namun bukan berarti pria itu menyerah. Dia terus berusaha menunjukkan kepeduliannya pada sang istri.
“Jadi kamu ngga mau mandi? Emang badanmu ngga lengket?”
“Nanti aja aku nunggu bu Sarni.”
“Bu Sarni ngga akan ke sini.”
“Kenapa?”
“Karena aku yang melarangnya. Selama kamu sakit, aku yang akan mengurusmu.”
“Hah.. sungguh mengharukan,” Maira menolehkan wajahnya ke arah lain. Sungguh muak melihat wajah Fahrul yang berusaha bersikap baik padanya.
“Ayo mandi dulu Mai.”
“Biar aku sendiri aja.”
“Jangan keras kepala Mai. Tubuh kamu masih lemah, kamu ngga mungkin ke kamar mandi sendiri. Aku temenin atau kamu basuh tubuh di sini aja.”
“Aku ngga mau.”
“Biar aku yang bantu.”
Fahrul dan Maira menolehkan wajahnya ke arah datangnya suara. Nampak Ayura berdiri di dekat pintu. Perlahan, teman dari Maira itu menghampiri keduanya. Wajah Maira nampak berseri melihat kedatangan temannya.
“Kamu siapa?” tanya Fahrul.
“Aku Ayura, temannya Maira.”
“Kok aku baru lihat,” selidik Fahrul.
“Bukannya baru lihat tapi kamu yang ngga peduli sama istrimu sampai-sampai ngga tahu siapa saja temannya. Aku ini rekan kerjanya. Kamu pasti ngga tahu kan di mana Maira kerja.”
Ucapan sinis Ayura sukses membungkam mulut Fahrul. Walau kesal, pria itu tak mampu membalas kata-kata Ayura. Diam-diam Maira tersenyum tipis melihat bagaimana temannya membuat sang suami mati kutu. Ayura memang tipikal orang yang bicaranya blak-blakkan. Dia tak sungkan menunjukkan ketidaksukaannya pada orang yang menurutnya menyebalkan. Salah satunya adalah Fahrul.
Ayura meletakkan tasnya di sofa, kemudian menarik kursi roda dan mendorongnya ke dekat bed. Dia membantu Maira turun dari bed lalu duduk di atas kursi roda. Tak lama, dia mulai mendorong kursi roda menuju kamar mandi. Fahrul hanya mampu memandangi kedua wanita itu. Dia kemudian menuju sofa dan merebahkan dirinya di sana. Menunggui Maira semalam, membuatnya tak enak tidur.
🍂🍂🍂
Seminggu sudah Maira dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Fahrul selalu menungguinya. Pria itu juga melarang bu Sarni atau Denis datang menjenguk. Awalnya dia juga meminta Ayura tidak datang lagi ke rumah sakit. Tapi janda satu anak itu malah melawannya balik dan tetap datang menjenguk temannya.
Hari ini pun Ayura sengaja ijin mengajar demi menemani Maira pulang. Dia takut kalau Fahrul memaksa temannya itu pulang ke apartemen. Fahrul yang telah menyelesaikan administrasi dan pembayaran, terkejut melihat Ayura sudah ada di kamar rawat. Wanita itu baru saja selesai mengepak barang-barang Maira.
“Ngapain kamu di sini?”
“Jemput Mai pulang. Kenapa? ngga suka?”
Fahrul hanya melengos, malas sekali berdebat dengan Ayura. Wanita itu tidak mudah ditundukkan. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya juga sudah seperti cabe setan saja, pedas dan membuat hati panas.
Ayura menyerahkan tas pakaian Maira pada Fahrul, kemudian dia membantu Maira turun dari bed. Keduanya berjalan pelan keluar dari kamar inap. Dengan hati dongkol, Fahrul mengikuti dari belakang. Pria itu meminta Maira juga Ayura menunggu di lobi, sedang dirinya bergegas mengambil mobil.
Perasaan Fahrul bertambah dongkol ketika Ayura meminta Maira duduk di kursi belakang bersamanya. Dalam hatinya menggerutu kesal diperlakukan seperti pengemudi taksi online oleh teman istrinya itu. Sesekali dia melirik Maira dari spion tengah. Melihat Maira begitu tak acuh membuatnya semakin kesal.
“Dia pulang ke apartemen. Di sana tempat seharusnya berada.”
“Aku ngga mau. Antar ke rumah Denis,” jawab Maira.
“Aku ngga ngijinin, aku ini suamimu. Aku berhak melarangmu.”
“Cih.. jalankan dulu kewajibanmu baru menuntut hak. Apa selama ini kamu sudah menjalankan kewajiban dengan baik?”
“Jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Tahu apa kamu soal aku.”
“Aku tahu banyak soal kamu. Laki-laki brengsek yang menyia-nyiakan istrinya dan malah lebih menghabiskan waktu sama selingkuhannya. Cih.. nikah sama siapa kawinnya sama siapa.”
Fahrul menoleh ke arah kursi belakang. Pria itu cukup terkejut mendengar kalau Ayura mengetahui soal perselingkuhannya. Matanya menatap tajam ke arah Maira yang masih diam. Wanita itu tetap terlihat santai melihat wajah Fahrul yang nampak kesal.
“Kamu cerita soal masalah kita sama orang lain?"
“Kenapa? Ngga boleh? Maira perlu mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di kepala juga hatinya. Kalau ngga, bisa-bisa kepalanya meledak. Kamu lihat bagaimana dia sakit karena memikirkan masalah rumah tangga kalian. Kalau dia memendamnya sendirian, dia bisa depresi bahkan gila punya suami kaya kamu.”
Fahrul baru saja akan membalas cerocosan Ayura ketika terdengar suara klakson dari arah belakang. Ternyata lampu telah berganti hijau, dengan kesal lelaki itu menjalankan kendaraannya.
Tak ingin berdebat dan mendengar cerocosan Ayura yang panjang dan pedas, Fahrul akhirnya membawa Maira pulang ke rumah Denis. Kedatangan Maira segera disambut oleh bu Sarni. Wanita itu juga telah menyiapkan makanan untuk Maira. Dia menuntun Maira masuk ke dalam kamar. Fahrul menerobos masuk kemudian duduk di sisi ranjang.
“Kamu butuh sesuatu Mai?” tanya Fahrul.
“Surat cerai!!” ketus Ayura yang langsung dibalas tatapan maut Fahrul. Namun Ayura tak mempedulikannya.
“Aku mau istirahat. Tolong tinggalkan aku sendiri.”
Walau enggan, akhirnya Fahrul menuruti keinginan Maira. Dia, Ayura juga bu Sarni keluar dari kamar. Ayura berpamitan pada bu Sarni, dia harus menjemput anaknya di sekolah. Wanita itu juga berpesan untuk tidak meninggalkan Maira berdua saja dengan Fahrul. Kemudian tanpa berpamitan pada Fahrul, Ayura pergi dari kediaman Denis.
🍂🍂🍂
“Amel!”
Langkah kaki Amelia terhenti begitu mendengar suara sang papa memanggilnya. Gadis itu berjalan menghampiri Sakurta yang tengah duduk di ruang tengah bersama istrinya. Amelia mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan papanya.
“Ada apa pa?”
“Bagaimana keadaan hotel?”
“Baik pa.”
“Baik? Kalau baik kenapa papa mendapatkan laporan kalau ada banyak klien yang membatalkan perjanjian dengan hotel kita. Papa dengar juga kalau pemasukan hotel menurun sampai 30%. Apa saja kerjamu sampai hotel mengalami hal seperti ini?”
“Ini semua gara-gara Nick. Dia yang sudah membuat keadaan kacau.”
“Nick yang membawa ketiga klien kembali. Tapi klien yang baru saja membatalkan perjanjian adalah klien baru hasil kerja tim marketing di bawah kepemimpinan manager yang baru. Jadi, itu bukan salah Nick. Pemasukan hotel juga berkurang bukan karena Nick, tapi karena kalian tidak bisa bekerja dengan baik.”
“Terus aja bela anak selingkuhan papa,” Widya yang sedari tadi diam akhirnya mulai berbicara.
“Ini ngga ada hubungannya dengan Diah. Nick memang bekerja dengan baik selama di hotel sehingga pemasukan hotel meningkat. Kehilangan seorang Nick, merupakan kehilangan besar di perusahaan. Seharusnya kamu tahu soal ini, Mel. Jangan mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi.”
“Maaf pa. Tapi Amel janji akan mencari solusi secepatnya.”
“Lakukan apapun untuk menaikkan kembali pemasukan hotel. Atau papa tidak akan bisa membantumu jika para pemegang saham menginginkan pemecatan dirimu.”
Sakurta bangun dari duduknya kemudian beranjak menuju ke kamar. Widya berpindah duduk ke sisi anaknya kemudian memeluknya. Hatinya geram suaminya begitu membanggakan Nick yang notabene adalah anak dari selingkuhannya. Dendamnya pada Diah juga Nick semakin berkobar saja. Dia akan membuat perhitungan dan membuat ibu dan anak itu menyesal.
🍂🍂🍂
Amelia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Kali ini dia sedang berada di cafe tempat Nick belajar menjadi barista. Setelah mencari info ke sana sini, Amelia mengetahui kalau Nick tengah menimba ilmu di cafe ini. Sekali lagi wanita itu harus merendahkan dirinya di hadapan Nick, demi menyelamatkan hotel juga jabatannya.
Nick terlihat enggan menghampiri Amelia, namun dia juga tak bisa membiarkan wanita itu terus menunggu. Dengan langkah pelan Nick menghampiri kemudian menarik kursi di depannya. Sejenak Amelia memandangi wajah tampan Nick. Entah mengapa dirinya merasa tertarik pada anak dari selingkuhan papanya.
“Ada apa?”
“Aku butuh bantuamu.”
“Soal?”
“Klien.”
“Aku bukan pegawaimu lagi. Lebih baik kamu diskusikan masalah ini dengan manager marketingmu bukan denganku. Silahkan pergi.”
Nick bangun duduknya kemudian meninggalkan Amelia. Wanita itu segera bangun lalu mengejar Nick. Ditariknya tangan pria itu hingga membuat langkah Nick terhenti. Dengan cepat Nick melepaskan pegangan Amelia di lengannya.
“Apa lagi?”
“Tolong aku. Kondisi hotel dalam keadaan tidak baik. Banyak klien yang membatalkan perjanjian, pemasukan hotel pun menurun drastis. Para pemegang saham menekanku. Kalau aku tidak bisa mencari jalan keluar, aku bisa dipecat.”
“Itu masalahmu, bukan urusanku.”
Nick membalikkan tubuhnya kemudian kembali melangkahkan kakinya. Lagi-lagi Amelia mengejarnya. Saat wanita itu meraih bahu Nick, kakinya terpeleset dan hampir terjatuh. Dengan sigap Nick menangkap tubuhnya. Amelia berpeganan pada bahu Nick, untuk sesaat mata mereka saling memandang. Nick buru-buru melepaskan diri dari Amelia.
“Nick.. tolong aku.”
“Nanti aku akan merekomendasikan orang yang bisa membantumu. Tunggu saja, aku akan menghubungi pak Hilman nanti.”
“Ngga usah ke pak Hilman, langsung aja hubungi aku.”
“Aku ngga punya nomermu.”
“Aku kasih sekarang.”
“Ngga perlu. Aku akan hubungi pak Hilman nanti. Sekarang pergilah, jangan mengganggu waktuku."
Dengan cepat Nick meninggalkan Amelia, dia kembali ke tempatnya semula dan meneruskan pelajarannya tadi. Amelia menghampiri kemudian menaruh kartu namanya di atas meja, setelah itu berlalu pergi. Nick mengambil kartu tersebut, meremasnya kemudian membuang ke tong sampah.
🍂🍂🍂
**Haaiii I'm back..
Waduh maaf ya sudah berabad² ngga up. Nih Ilham ngga tau pergi kmn. Tadi disuguhin kopi item, kembang 7 rupa, sama ayam cemani baru balik tuh si Ilham. Nih othor apa dukun ya🤔🤣🤣🤣
Mohon maaf deh buat semuanya kalau ngga bisa up tiap hari. Kesibukan melanda jadi agak susah bagi waktu. Makasih ya udah setia nunggu babang Nick, love u all**.