
Iza duduk di kursi rodanya menikmati udara pagi yang masih terasa segar. Taman yang ada di bagian samping rumah sakit sudah mulai didatangi pasien rawat inap untuk menikmati udara pagi sekaligus berjemur. Walau tak dapat melihat, Iza dapat mendengar suara-suara di sekitarnya dan tahu kalau taman ini sudah mulai ramai.
“Halo, Noor.”
“Dokter Rega..”
Dokter Rega tersenyum kemudian mendudukkan diri di kursi yang ada di samping kursi roda Iza. Semenjak diminta menangani Iza, dokter tersebut selalu meluangkan waktu untuk berbincang bersama wanita itu. Sejak pernikahannya gagal tiga tahun lalu karena tunangannya meninggal dunia akibat kecelakaan, dokter Rega belum pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun sosok Iza berhasil menarik perhatiannya.
“Bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Sama saja seperti kemarin, buruk.”
“Tapi kamu masih hidup. Itu yang harus kamu syukuri. Karena di luar sana banyak orang yang berjuang untuk hidup di tengah penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya.”
“Aku juga tengah berjuang hidup di saat semangat dan keinginan hidupku telah hilang.”
Dokter Rega hanya tersenyum tipis. Dia memang mendengar kalau Iza baru saja kehilangan suaminya. Pria itu tahu betul apa yang dirasakan wanita tersebut. Itulah yang membuat dirinya semakin tertarik untuk mendekati dan mengenal Iza lebih jauh.
“Aku sudah mendaftarkanmu sebagai penerima donor mata. Aku juga sudah menghubungi beberapa teman dan kolegaku, siapa tahu mereka bisa memberikan informasi soal pendonor mata."
Tak ada tanggapan dari Iza. Jika awalnya dia begitu berharap bisa mendapatkan donor mata secepatnya, tapi tidak sekarang. Setelah mendengar kalau Nick telah pergi untuk selamanya, gairah hidupnya pun hilang. Hampir seminggu ini dia sudah seperti mayat hidup saja. Tak ada semangat hidup sama sekali. Terbang terbawa berita kematian Nick.
“Dok.. aku ingin pulang. Apa aku sudah boleh pulang? Aku ngga suka berada di rumah sakit.”
“Ngga ada orang yang suka berada di rumah sakit.”
“Apa aku sudah boleh pulang?” Iza mengulangi lagi pertanyaannya.
“Kalau kondisimu sudah normal, kamu boleh pulang.”
“Kapan aku bisa pulang?”
“Kita lihat hasil pemeriksaan siang ini. Kalau tidak ada masalah lagi dengan luka-lukamu, besok kamu sudah boleh pulang.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Apa kamu mau kembali ke kamar?”
“Iya.”
Dokter Rega berdiri dari duduknya, kemudian membuka rem yang menahan roda kursi. Tak lama tangannya bergerak mendorong kursi roda tersebut. Beberapa suster yang berpapasan dengannya menganggukkan kepalanya. Mereka cukup terkejut melihat dokter tampan itu memberikan perhatian lebih pada pasiennya. Biasanya pria itu hanya berinteraksi secukupnya saja pada para pasiennya.
Dari arah lift Ridho keluar kemudian bergegas menghampiri sang adik. Dia mengambil alih kursi roda dari tangan dokter Rega seraya mengucapkan terima kasih. Pria itu membiarkan Ridho meneruskan apa yang dilakukannya. Dia tak mau membuat Iza tak nyaman karena kehadirannya yang terlalu sering di sekitar wanita itu.
“Bang..”
“Hmm..”
“Kata dokter kalau kondisiku sudah baik, aku bisa pulang besok.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Bang..”
“Iya.”
“Aku ngga mau kembali ke rumah abi.”
Ridho berhenti mendorong kursi roda. Dia memutari kursi kemudian berjongkok di depan sang adik. Ridho meraih tangan Iza, dengan kedua tangannya dia memegang tangan adiknya itu.
“Kamu mau tinggal di mana?”
“Aku mau pindah, bang. Aku ngga mau tinggal di kota ini lagi.”
“Kamu mau pindah kemana?”
“Aku mau pindah ke Bandung.”
“Baiklah, kita pindah. Tapi tolong kasih abang waktu buat ngurus kepindahan kita. Abang harus menyiapkan rumah dulu di sana. Jadi, selama menunggu semuanya siap, ngga apa-apa kan kita tinggal di rumah dulu? Abang janji, abi ngga akan bisa mengganggumu lagi.”
“Iya bang. Makasih.”
“Kamu ngga perlu berterima kasih. Kamu itu adik abang satu-satunya. Sudah kewajiban abang melakukan ini semua untukmu.”
Mata Iza memanas mendengar ucapan Ridho. Kata-kata, sikap dan perhatian Ridho mengingatkannya akan Nick.
“Kenapa?”
“Nick juga selalu seperti itu, bang. Dia selalu melakukan apapun untuk membuatku bahagia.”
Ridho berdiri kemudian memeluk Iza. Hatinya sakit melihat adik tercintanya hidup menderita karena ulah sang ayah. Itulah sebabnya sejak datang, tak satu kata pun terlontar dari bibirnya untuk Rahardi. Kekecewaan dan kemarahan pada sang ayah sudah begitu besar. Hanya penyesalan yang ada di dalam hatinya. Menyesal kenapa dirinya tak bisa kembali lebih cepat.
🍂🍂🍂
Nick baru saja menjalani pemeriksaan. Beberapa hari ini, pria itu terus menjalani tes kognitif dan juga tes motorik, untuk melihat apakah dia mengalami kesulitan mengendalikan anggota tubuhnya atau tidak.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, sistem motorik tubuh Nick masih berjalan dengan baik. Begitu pula tes kognitif menunjukkan hasil yang baik pula. Dia tak mengalami kesulitan bicara, menulis atau mengingat peristiwa pasca kecelakaan. Hanya ingatan sebelum kecelakaan saja yang masih belum kembali.
Mulai hari ini juga, pria itu mulai menjalani konseling dengan seorang psikiater. Dokter Steven sudah menunjuk seorang psikiater senior yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Sudah banyak pasien yang berhasil melewati masa sulitnya setelah berkonsultasi dengan dokter tersebut.
Ditemani seorang suster, Nick berjalan menuju ruangan dokter Ridwan. Dia memang tidak mau menggunakan kursi roda karena ingin melatih otot-otot tubuhnya. Secara fisik, kondisinya sudah cukup membaik. Hanya saja rasa nyeri di kepala masih terus menyerangnya jika dia mencoba mengingat masa lalunya.
“Selamat pagi, Nick,” sapa dokter Ridwan.
“Selamat pagi, dok.”
“Ayo silahkan duduk.”
Dokter Ridwan mempersilahkan Nick untuk duduk di kursi khusus pasien. Sebuah kursi yang memungkinkan sang pasien merasa rileks. Kursi dengan posisi 70˚ itu, membuat tubuh Nick berada dalam posisi setengah berbaring. Dokter Ridwan menarik sebuah kursi dan menempatkannya di samping Nick.
“Bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Seperti biasa, kosong.. hampa..”
“Apa kamu masih mencoba mengingat masa lalumu?”
“Tentu saja.”
“Kamu tahu kalau itu berbahaya untukmu?”
“Aku tahu dok. Tapi kelebatan-kelebatan bayangan di kepalaku memaksaku untuk mengingat tentang masa laluku.”
“Itu hal yang wajar. Manusia memang memiliki rasa keingintahuan yang begitu tinggi. Dalam keadaanmu seperti sekarang ini, wajar saja kalau ingin segera mengetahui siapa dirimu. Yang harus kamu lakukan adalah mengendalikan itu semua. Sebuah ingatan kadang tidak akan muncul jika kita melakukannya dengan paksa. Tapi jika pikiran kita rileks, tenang, maka sedikit demi sedikit ingatan yang hilang bisa saja kembali. Kamu seorang muslim bukan?”
“Iya dok.”
“Latihlah konsentrasi dan pengendalian emosimu dengan shalat. Pada saat shalat, keadaan kita harus tenang bukan? Dengan begitu, kita bisa melafalkan bacaan surat atau gerakan shalat dengan benar. Tanpa perlu mengingat, kita bisa tahu berapa jumlah rakaat yang telah kita lakukan jika kita khusyu’. Benar begitu?”
“Iya dok.”
“Mulai sekarang kamu harus menerapkan itu dalam keseharian. Jika sebuah stimulus datang padamu, sebisa mungkin tetaplah tenang, dan kendalikan dirimu. Jangan mendesak dan memaksa otakmu bekerja untuk mengingat. Apa kamu bisa menerapkannya sedikit demi sedikit?”
“Ok.. sesi konseling hari ini, cukup. Jangan lupa untuk terus mengkonsumsi vitamin dan nutrisi untuk penyembuhan saraf-sarafmu.”
“Iya dok, terima kasih.”
Nick bangun dari duduknya, kemudian keluar dari ruangan dokter tersebut. Pria itu tak langsung kembali ke kamarnya melainkan menuju taman yang ada di bagian atas gedung. Sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia, Nick menikmati semilir angin yang memberi sedikit kesejukan di hari yang mulai beranjak siang.
“Siapa aku? Bagaimana hidupku selama ini? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa ada yang hilang dalam hatiku.”
Nick menepuk dadanya pelan. Bukan hanya ingatannya yang kosong tapi hatinya juga terasa hampa. Seperti ada yang hilang dari dalam hatinya, entah apa. Yang jelas, dia merasa sesuatu yang hilang itu adalah hal berharga dalam hidupnya.
🍂🍂🍂
Hari ini Iza sudah diperbolehkan pulang, Anton meminjamkan kendaraannya pada Ridho untuk menjemput Iza. Pria itu benar-benar tidak ingin berhubungan dengan Rahardi lagi. Jika saja Ridho sudah memiliki tempat tinggal lain, maka dirinya tidak akan membawa Iza pulang ke kediaman Rahardi. Tapi saat ini, dia tak mempunyai pilihan. Tak mungkin Ridho membawa Iza ke hotel. Dia juga tak mau merepotkan Anton jika Iza tinggal di sana.
Dibantu Meta, Iza turun dari mobil kemudian membimbingnya masuk ke dalam rumah. Di belakangnya Ridho menyusul sambi membawa tas berisi pakaian Iza. Mina segera menyambut kedatangan putrinya. Dia sengaja tak ikut menjemput karena menyiapkan makanan kesenangan Iza.
Rahardi sendiri masih berada di kampus karena ada beberapa mahasiswa bimbingannya yang mengikuti sidang skripsi juga tesis. Selain karena pekerjaan, pria itu juga kerap menghindar dari anggota keluarganya. Dia sadar kalau anak dan istrinya tak menginginkan kehadirannya. Saat ini Rahardi hanya bisa bersabar menerima perlakuan keluarganya.
Baru saja Meta akan mengajak Iza naik ke lantai dua menuju kamarnya, ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tak berapa lama kemudian, Rahman, Ani bersama anak mereka, Rina masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Kang Rahman,” sambut Mina.
“Abah..”
“Iza.. ya Allah.. bagaimana keadaanmu nak?”
Rahman menghampiri Iza kemudian memeluknya. Dia baru bisa datang menjenguk karena baru kemarin kembali dari tanah suci untuk umroh. Mendengar keponakannya mengalami kecelakaan, tanpa mempedulikan rasa lelah, pria itu segera berangkat ke Bandung beserta istri dan anak bungsunya.
“Bagaimana keadaan Nick?”
“Nick.. sudah pergi abah.. dia udah pergi lebih dulu ninggalin Iza..”
Rahman mengeratkan pelukannya di tubuh Iza. Matanya juga nampak berkaca-kaca. Baru sebulan yang lalu keponakannya itu mengabarkan tentang kehamilannya dan sekarang justru kabar duka yang diterimanya. Mina menundukkan kepalanya, hatinya terasa perih dan terus dihantam perasaan bersalah jika sang anak terus membahas tentang Nick.
“Yang sabar Zi.. abah percaya kamu bisa melalui semua ini dengan baik. Allah memberikan cobaan padamu seberat ini karena kamu mampu, nak. Ingatlah, masih ada ummi, Ridho, abah, ambu dan yang lain yang akan terus mendukungmu.”
Iza hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu masih belum melepaskan diri dari pelukan Rahman. Harusnya Rahardi lah yang berada di sampingnya, memberinya kekuatan menghadapi semua musibah yang menimpa. Namun sayangnya, pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru orang yang telah menyebabkan musibah ini terjadi.
“Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Abah antar ke kamar.”
Iza melepaskan pelukannya di pinggang Rahman. Sambil merangkul Iza, Rahman membantu keponakannya itu naik ke lantai atas. Meta dengan setia mengikuti sahabatnya itu sampai ke kamar. Sejak Iza sadar, dia memang selalu berada di samping sahabatnya. Terlebih ketika mendengar berita kematian Nick. Meta tahu betapa terpukulnya sang sahabat.
Kemarin dia baru saja mengundurkan diri dari kantor tempatnya bekerja. Setelah Fahrul menjual dealer dan kepemilikan serta manajemen berubah, gadis itu memutuskan mengundurkan diri karena merasa tak bisa beradaptasi dengan kebijakan yang dikeluarkan pemilik baru.
Gadis itu membantu Iza berbaring di kasur. Rahman mendudukkan diri di sisi ranjang. Tangannya terus menggenggam tangan Iza. Baginya, Iza dan Ridho bukan hanya keponkaan, tapi sudah seperti anaknya sendiri. Hatinya juga sakit melihat keadaan Iza saat ini. Namun dia berusaha tak memperlihatkan kesedihannya demi memberi kekuatan pada keponakannya itu.
“Kamu istirahat saja. Abah ke bawah dulu.”
“Iya abah.”
Rahman mengusap puncak kepala Iza kemudian keluar dari kamar. Dengan langkah pelan dia menuruni anak tangga. Melihat ayahnya turun, Rina bergegas menuju lantai atas. Gadis itu juga ingin memberikan dukungan moral pada adik sepupunya. Rahman mendudukkan diri di ruang tengah. Anton, kakak Rahardi juga sudah datang bersama dengan istrinya. Ridho memang meminta pamannya datang untuk membahas rencana kepindahannya bersama dengan Iza.
“Ada apa kamu meminta om datang?” tanya Anton membuka pembicaraan.
“Begini om.. Iza bilang padaku kalau dia ingin pindah. Dia ngga mau tinggal di sini lagi.”
“Ya sudah pindah saja. Dengan keadaannya sekarang memang lebih baik kalau dia tidak tinggal satu atap dulu dengan abimu,” jawab Anton.
“Kalau Iza mau, tinggal saja bersama abah.”
“Iza mau pindah ke Bandung.”
“Bandung?” tanya Anton dan Rahman bersamaan.
Ridho menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mulai mengutarakan rencananya untuk memenuhi keinginan sang adik. Mina yang memang sudah bertekad bercerai dari Rahardi, sudah pasti akan mengikuti kemana Ridho dan Iza pergi.
“Aku sudah meminta bantuan beberapa teman mencarikanku pekerjaan di Bandung. Alhamdulillah ada kampus yang membutuhkan dosen dan kebetulan sesuai dengan bidangku. Beberapa hari ini aku akan pergi ke Bandung untuk mengurus semua keperluan, termasuk menyiapkan rumah untuk kami di sana.”
“Kalau memang itu keputusanmu dan itu yang terbaik untuk Iza, abah hanya bisa mendukung dan mendoakan kalian.”
“Om juga.”
Sebuah senyum tipis terbit di wajah Ridho. Di saat pelik seperti ini, masih ada dua orang yang bisa menggantikan sosok Rahardi bagi dirinya. Rahman menepuk pelan pundak Ridho. Dia tahu betul beban berat yang dipikul pria itu saat ini. Bukan hanya menjaga Iza, tapi Ridho juga harus bisa membangkitkan semangat hidup adiknya lagi.
“Di mana Hadi?” tanya Rahman. Sedari tadi pria itu belum melihat batang hidung adiknya.
“Masih di kampus sepertinya,” jawab Mina.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panjang umur, orang yang baru saja ditanyakan sudah datang. Rahardi segera bergabung dengan yang lain di ruang tengah. Ridho memilih menjauh dari sang ayah. Dia mendudukkan diri di anak tangga sambil terus memperhatikan mereka.
“Kapan pulangnya kang?” tanya Rahardi berbasa-basi.
“Kemarin.”
Rahardi hanya menganggukkan kepalanya saja. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya. Akhir-akhir ini dia memang lebih banyak diam. Rahman memandangi adik satu-satunya ini. Sorot kekecewaan terpancar di kedua matanya.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Iza? Bagaimana dia sampai kecelakaan?”
Tak ada jawaban dari Rahardi, pria itu malah menundukkan pandangannya. Mina terus memperhatikan sang suami, menunggu pria itu mau membuka mulutnya. Beberapa saat berlalu, Rahman mulai kesal karena tak ada yang mau menjawab pertanyaannya.
“Di, Mina, Ridho... kenapa tak ada yang mau menjawab pertanyaanku? Haruskah aku bertanya pada Iza?”
Mina menatap kesal pada suaminya. Akhirnya wanita itu memilih menjawab pertanyaan kakak iparnya. Kalimat demi kalimat keluar dari bibir Mina menceritakan apa yang terjadi pada Iza, sesuai yang Rahardi katakan padanya. Wajah Rahman memerah, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal erat. Matanya menatap tajam kepada sang adik yang masih tertunduk.
“Ada apa sebenarnya denganmu, Di! Setan apa yang telah merasukimu!!”
Ani mengusap punggung Rahman, mencoba menenangkannya. Suaminya ini bukanlah orang yang mudah emosi. Sejatinya Rahman adalah pria yang tenang dan tidak mudah terpancing emosinya. Namun dia tak dapat menahan amarahnya begitu mendengar apa yang sudah dilakukan adiknya itu.
“Di mana otakmu, Di! Apa begitu seharusnya sikap seorang ayah terhadap putrinya!!”
Suara keras Rahman terdengar sampai ke lantai atas. Iza yang terkejut meminta Meta dan Rina membantunya keluar kamar. Dia ingin tahu apa yang sudah membuat kakak dari abinya itu begitu marah.
“Bagaimana bisa kamu berpikir untuk memisahkan Iza dari suaminya. Kamu tahu kalau Iza sudah menikah dengan Nick. Kamu sendiri yang memberiku ijin untuk menikahkan Iza dengan Nick, apa kamu lupa??!!”
Ridho yang sedari tadi hanya menunduk langsung mengangkat kepalanya. Begitu juga Mina, wanita itu terkejut sang suami ternyata sudah mengetahui pernikahan Iza dan Nick. Dia melihat ke arah Rahman.
“Apa maksud akang? Maksudmu dia tahu kalau Iza dan Nick sudah menikah?”
“Iya,” jawab Rahman pelan. Mina memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
🍂🍂🍂
Maaf ya kalau up The Nick agak lambat. Ngga tau kenapa, MT selalu lambat kalau review novel. Bisa makan waktu 4 sampai 5 jam.